HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label mengenal dan memahami manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal dan memahami manusia. Tampilkan semua postingan

9 Jan 2012

Menjadi MU'MIN yang HAQ Berdasar QS At Taubah 9:111-112

Untuk menjadi MU'MIN yang HAQ ternyata memang tidak mudah jika kita merujuk pada Al Quran Surat At Taubah (9) ayat 111 - 112. Iman bukan hanya sekedar percaya, Iman juga bukan hanya sekedar yakin. Berikut ini adalah informasi dari Allah SWT yang memberikan ke ilmuan bagi manusia dengan menurunkan Al Quran sebagai petunjuk hidup manusia terhadap siapa saja yang masuk dalam kategori Mu'min yang HAQ itu :

إِنَّ اللَّهَ اشتَرىٰ مِنَ المُؤمِنينَ أَنفُسَهُم وَأَموٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ ۚ يُقٰتِلونَ فى سَبيلِ اللَّهِ فَيَقتُلونَ وَيُقتَلونَ ۖ وَعدًا عَلَيهِ حَقًّا فِى لتَّورىٰةِ وَالإِنجيلِ لقُرءانِ ۚ وَمَن أَوفىٰ بِعَهدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاستَبشِروا بِبَيعِكُمُ الَّذى بايَعتُم بِهِ ۚ وَذٰلِكَ هُوَ الفَوزُ العَظيمُ  

(111) "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."
Berdasarkan pada ayat diatas, Orang-orang yang dikategorikan mu'min adalah orang-orang yang telah "menjual" diri dan harta mereka , dan Allah membelinya dengan Jannah (Surga).

Bagaimanakah Tahapan Menuju Mu'min yang Haq itu ?

Tahapan-tahapan yang harus di lalui untuk menjadi Mu'min/Mu'minat adalah sebagaimana di ungkapkan pada ayat selanjutnya.

التّٰئِبونَ العٰبِدونَ الحٰمِدونَ السّٰئِحونَ الرّٰكِعونَ السّٰجِدونَ الءامِرونَ بِالمَعروفِ وَالنّاهونَ عَنِ المُنكَرِ وَالحٰفِظونَ لِحُدودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ المُؤمِنينَ
(112) Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.

Berdasarkan ayat diatas, untuk menjadi MU'MIN yang HAQ, paling tidak ada 8 langkah yang harus kita lakukan.

1. التَّائِبُونَ

Taubat secara bahasa adalah kembali, kembali kepada sebenar-benarnya INSAN. Insan diciptakan oleh ALLAH untuk beribadah (51:56). Insan diberikan MAQOM (pangkat/jabatan) yang terbaik (95:4) yaitu sebagai khalifah (duta/mandataris) Allah untuk memakmurkan bumi (11:61) dengan menerapkan Ad-Dienul Islam. Kelengkapan dari tujuan, tugas dan fungsi Insan telah ditetapkan oleh Allah dan telah disepakati oleh NAFSI (7:172), inilah LEGAL CONTRACT antara INSAN dengan ROBB-nya.

Seiring dengan perjalanan INSAN pasca kelahirannya ke bumi, masuklah berbagai doktrin dan informasi-informasi baru (bid'ah) baik itu dari orang tua, lingkungan, pendidikan (2:36). Informasi baru inilah yang menyebabkan manusia terlupa akan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Maka Allah, dengan kasih sayangnya mengingatkan kembali kepada Insan akan LEGAL CONTRACT yang telah di tanda-tanganinya dahulu. Allah menurunkan Al-Dzikr (pengingat, 7:2) dan mengutus Rasul-Nya sebagai pemberi peringatan (51:50).

Insan yang menerima Kitab-Nya dan mengikuti Rasul-Nya maka ia akan teringat akan tujuan, tugas, fungsi ia berada di dunia ini. Bukti akan adanya kejadian "teringat kembali" ini adalah dengan bergetarnya qalbu (8:2) dan bergetarnya kulit (39:23) "seolah hal ini telah saya nantikan sejak lama". Maka bercucuranlah air mata dengan penuh keharuan (5:83) dan seketika itu juga ia bersujud (17:107) sebagai tanda bahwa mulai hari ini ia akan kembali menjadi Insan yang seutuhnya. LEGAL CONTRACT yang telah terlupakan kini diperbaharui kembali dengan sebuah iqrar syahadat (3:52).

2. الْعَابِدُونَ

'Abid secara bahasa adalah budak atau pekerja (16:75). Setelah ia memahami akan tujuan, fungsi, tugas ia diciptakan kemudian ia kembali untuk bertekad menjalankannya (41:30) dan dengan sebuah penanda-tanganan kembali kontrak kerja (3:52) maka sejak saat itulah Insan tersebut resmi menjadi pekerja Allah ('abdu Allah/hamba Allah).

3. الْحَامِدُونَ

Hamid secara bahasa adalah yang memuji. Memuji Allah adalah memahami betul akan segala keagungan Allah (29:63). Insan yang memuji Allah adalah Insan yang sadar betul akan keberadaan Allah sebagai pencipta dan pengatur seluruh jagat (45:36). Insan yang memuji tidak akan pernah sekalipun protest akan segala peraturan yang telah ditetapkan oleh boss-nya (39:75). Tak ada pilihan lain baginya selain bekerja keras, cerdas dan ikhlash menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pekerja Allah (40:65). Bukan semata-mata memuji dengan kata-kata indah tapi memuji adalah menyerahkan segala ketundukan dan pengabdian hanya kepada Allah, boss-nya (28:70).

4. السَّائِحُونَ

Saaih secara bahasa adalah yang bepergian atau melawat (kunjung-mengunjungi). Pekerja Allah yang telah menyerahkan ketundukan dan pengabdiannya kepada Allah saja tidak akan diam terpaku. Ia akan bergerak membelah bumi untuk berdakwah mengajak manusia kepada Jalan Robb-nya (16:125)

5. الرَّاكِعُونَ dan 6. السَّاجِدُونَ

Raki’ secara bahasa adalah yang ruku’. Sajid secara bahasa adalah yang sujud. Ruku’ adalah bentuk nyata dari sebuah ketundukan akan hukum-hukum Allah. Dan sujud adalah bentuk nyata dari sebuah dukungan penuh akan terlaksananya hukum-hukum tersebut di muka bumi. Aktifitas ruku’ dan sujud baru dapat terlaksana setelah aktifitas saaih, artinya bahwa bicara ruku’ dan sujud adalah bicara sistem kerja bersama di antara pekerja-pekerja Allah (2:43). Membangun sebuah sistem kerja yang rapih dan terorganisir dengan baik dalam upaya mentegakkan hukum-hukum Allah (2:125).

7. الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dengan terwujudnya ke 6 hal yang tersebut diatas, maka akan terlahir sebuah generasi ummat terbaik yang terlahir untuk seluruh manusia di bumi (3:110). Dari merekalah segala tumpuan harapan akan terwujudnya rahmat di muka bumi (22:41). Merekalah yang disebut JAMA’AH yang senantiasa bahu membahu dalam mewujudkan wahdaniyat Allah.

8. وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ

Di tangan merekalah hukum-hukum Allah terpelihara. Merekalah mu’min yang sebenar-benarnya yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk bekerja kepada Allah.

KONKLUSi :  Al Quran surat Al Anfal ayat 74 adalah arah bagi yang dituju berkenaan dengan pembahasan ayat diatas.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.

Sumber : http://www.facebook.com/groups/265538080123749/permalink/332373100106913/
Lanjutkan Membaca ...

7 Agu 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 8) Penutup

Post artikel ini adalah artikel ke 8 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-terakhir.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.


========================


Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat

Pola Hidup Manusia Sepanjang Sejarah

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; adayang bersyukur dan ada pula yang kafir”, al-Insan:2-3.
Di dalam menyikapi nikmat yang Allah berikan kepadanya. manusia terpecah menjadi dua: ada yang bersyukur dan ada yang kafir. Orang-orang yang bersyukur itu adalah mu’min muttaqin. Mereka mempergunakan nikmat-nikmat itu untuk menunjang terpenuhinya kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya.
Sedangkan manusia yang ingkar adalah orang-orang kafir. Orang yang kafir ini terbagi menjadi dua, yaitu (1) yang dengan jelas dan terang-terangan menyatakan kafir kepada Allah. Dan (2) yang menampakkan keimanan sedang dalam hatinya ingkar, mereka adalah orang-orang munafik.

1. Pola Hidup Orang Mu’min-Mutaqin

Mereka berjalan di atas petunjuk Allah shirathal mustaqim. Senantiasa melaksanakan dan menjaga syariat-syariat Allah, menegakkan shalat, menginfakkan hartanya di jalan Allah, mengimani kitab-kitab-Nya dan mengimani hari akhirat. Allah membimbing golongan ini karena ketaqwaannya di atas petunjuk-Nya dan memasukkannya ke dalam surga-Nya.
“Inilah al-Kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menginfaqkan sebagian rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya. dan mereka beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan kehidupan akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung”, al-Baqoroh:2-5.
Orang-orang mu’min mutaqin rela mengorbankan seluruh hidupnya (baik harta dan jiwa) untuk mencari keridhaan Allah.
“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan jiwanya untuk mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”, al-Baqoroh:207.

2. Pola Hidup Orang Kafir

Orang-orang kafir menjalani hidupnya dengan menolak wahyu (petunjuk) Allah dan lebih memilih ideologi sesatnya, fastahabbul ‘amma ‘alal huda (41:17). Mereka adalah orang yang tuli, pekak dan bisu tidak mau mendengar peringatan.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka di tutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”, al-Baqoroh:6-7.


Mereka mengikuti jejak para penentang kebenaran, Iblis la’natullah, Namrud, Fira’un, Romawi, Abu Jahal, USA dan lain-lain dengan menyombongkan diri, menolak wahyu Allah dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka senantiasa menentang Allah dengan membuat tandingan-tandingan yang mereka sembah (agung-agungkan) dengan penuh kecintaan. Karena kekafirannya itu, Allah menutup hati mereka, membutakan mata mereka, menggiring mereka di atas jalan yang sesat dan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, satu tempat kembali yang sangat buruk.


“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah. Dan jika orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa pada hari kiamat, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan Allah amat berat siksaannya (niscaya mereka menyesal), al-Baqoroh:165.

3. Pola Hidup Orang Munafik

Orang-orang munafik secara lahiriyah beriman kepada Allah, rasul-Nya dan hari akhirat. Keimanannya ia persaksikan dengan sebenar-benarnya, tetapi mereka bukanlah orang yang beriman. Golongan ini, hidup ditengah-tengah kaum mu’minin, Mereka jua mendengar wahyu-wahyu Allah disampaikan, namun karena hatinya berpenyakit, wahyu itu tidak bermanfaat sedikitpun. 
Orang-orang munafik ini tidak memiliki komitmen dan loyalitas yang jelas kepada Islam, sehingga mereka rela menukar hidayah Allah dengan kesesatan. Mereka tetap loyal kepada setan-setan mereka (musuh-musuh Islam), mengadakan makar untuk menghancurkan Islam. Pola hidup munafik ini dengan jelas diterangkan dalam Surah Al-Baqoroh, sebagai berikut:
“Di antara manusia ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman; padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati merka ada penyakit, lalu di tambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang membuat perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang yang telah beriman: “mereka menjawab: “Akan berimankan kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak sadar. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Allah akan membalas olok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah yang memberi kesesatan dengan petunjuk, maka tidak beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”, al-Baqoroh:8-16.
Allah telah memberikan perumpamaan tantang pola hidup mereka itu, dalam ayat yang sangat indah:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka,dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar. Atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai dengan gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinga dengan jari mereka, karena mendengar suara petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat telah mnyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”, al-Baqoroh:17-20.
Betapa orang-orang munafik tidak dapat mengambil manfaat dari wahyu-wahyu Allah (hujan) yang senantiasa diturunkan, karena keragu-raguan yang ada dalam hatinya., Yang mereka tangkap hanyalah kerasnya suara guntur yang memekakkan telinganya dan kilatan petir yang seakan membutakan matanya, ia menutup telinga dengan telunjuknya, sehinggga tuli dan tidak mendengar peringatan Allah yang terkandung di dalamnya.


Golongan ini, beribadah kepada Allah berada di tepian, bergerak sesuai dengan situasi dan kondisi. Sekiranya menguntungkan, maka ia tetap dalam kondisi itu, tetapi manakala ia pandang merugikan dirinya, maka ia mundur kebelakang. Mereka teronbang-ombing dalam keragu-raguan dan Allah masukkan mereka ke dalam neraka jahannam.


“Di antara menusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika dia memperoleh kebajikan tetaplah mereka adalah keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh sesuatu bencana berbaliklah ia kebelakang, Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”, al-Hajj11.
Alhamdulillah Rabb al-'Alamin
Lanjutkan Membaca ...

30 Jul 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 7)

Post artikel ini adalah artikel ke 3 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-7.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.
========


Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat

Musuh Besar Dan Teman Sejati Manusia

1. Musuh Manusia

Musuh besar manusia adalah syaithan (iblis la’natullah) dan golongannya yaitu orang-orang yang mengikuti jalan kesesatan. Mereka senantiasa meniupkan bisikan jahat (yuwaswisu fi shudurinnas) ke dalam dada manusia. Al-Quran telah mempertegas: syaitan itu adalah musuh yang harus benar-benar dijadikan musuh. Karena setan itu akan menggiring orang-orang yang mengikutinya ke dalam api neraka.
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar; maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaithan yang pandai menipu, memperdayakan kamu. Sesungguhya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai mushmu, karena syaithan itu hanya mengajak golongannya (kelompoknya) supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”, Fathir:5-6.
Pernyataan permusuhan syaithan (iblis) itu telah ia proklamirkan di hadapan Allah ketika ia terusir dari surga.
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada Malaikat: 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis, Dia berkata: 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'. Iblis berkata: 'Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil'”, al-Isro:60-62.
Orang-orang yang sesat dan mengikuti bujuk rayu syaithan mereka adalah hizb al-syaithan/golongan syaithan/partai syaithan. Mereka sangat giat menyuarakan kebatilan dan menghalangi tegaknya kebenaran. Mereka adalah manusia yang merugi di dunia dan di akhirat akan dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.
"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itu hizb al-syaitan. Ketahuilah, bahwa hizb al-syaitan itu, itulah golongan yang rugi", al-Mujadilah:19.
“Barang siapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang layak”, al-Isro:63.

2. Teman Sejati Manusia

Adapun teman sejati manusia adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang melaksanakan syari'ah-Nya. Yang konsisten menegakkan kebenaran. Mereka adalah Hizb Allah dan hanya hizb Allah lah yang akan meraih kemenangan.
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saling berkasih sayang terhadap orang-orang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun puas terhadap limpahan rahmat-Nya. Mereka itulah Hizb Allah. Ketahuilah bahwa Hizb Allah itulah yang akan menang”, al-Mujadilah:22.
Dengan demikian, jelas siapa yang harus dijadikan kawan dan siapa yang harus dijadikan lawan. Maka hendaknya manusia mengambil kawan yang layak dijadikan kawan dan menjadikan lawan siapa yang layak dijadikan lawan. Dengan tegas Rasulullah saw telah memperingatkan kepada kita bila hendak mengambil kawan. Sebagaimana sabdanya:
“Seseorang itu mengikuti dien temannya, maka hendaknya ia memperhatikan siapa yang menemaninya”, Abu Dawud dan Tarmidzi.
Sabda Nabi tersebut menerangkan, bahwa: seseorang itu akan mengikuti agama, kebiasaan, adat istiadat, tabiat temannya. Hal ini, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh teman dalam membentuk dan mewarnai perilaku manusia, baik pengaruh kepada kebaikan dan kepada keburukan. Karena sangat stretegisnya teman ini, maka apabila manusia ingin senantiasa berada dalam kebaikan, maka harus memilih teman yang baik yaitu mu’min sejati.


Alhamdulillah Rabb al-'Alamin



Lanjutkan Membaca ...

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 6)

Post artikel ini adalah artikel ke 6 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-6.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.


Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat


Sifat Dasar Manusia Dan Cara Mengatasinya

Manusia diciptakan disertai sifat-sifat dasar yang negatif, yang apabila tidak diarahkan ke arah yang positif, maka akan menjatuhkan dirinya ke dalam kerugian.
“Demi Masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran (haq) dan kesabaran”, al-'Ashr:1-3.
Hal ini, merupakan masalah yang sangat serius, karena bila manusia tetap pada tabiat dasar itu, maka ia berada dalam kerugian yang nyata. Oleh karena itu, manusia harus berjuang untuk mengatasinya. Secara umum cara mengatasinya adalah dengan beriman kepada Allah dan melaksanakan amal shaleh, serta saling menasihati untuk tetap dalam haq dan kesabaran. Untuk itu marilah kita mengenali sifat-sifat dasar itu dan cara mengatasinya.

1. Keluh Kesah dan Kikir.

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat halu’ yaitu keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”, al-Ma'arij: 19-21.
Keluh kesah dan kikir timbul karena tidak adanya rasa syukur atas karunia yang Allah berikan dan tidak sabar atas cobaan-Nya, sehingga ia senantiasa merasa kurang dan tidak cukup dalam segala hal dan tidak sabar atas musibah-musibah yang menimpanya. Apabila sifat ini dituruti, maka manusia akan terombang-ambing dalam keragu-raguan, dan sikap syu’udzan kepada Allah, sehingga mengingkari nikmat yang telah Allah berikan. Untuk itu, sifat ini harus diluruskan, dan diarahkan kepada arah yang benar, yaitu dengan mengerjakan shalat dan amalan-amalan shaleh lainnya.


Sedangkan untuk mengatasi sifat kikir yaitu dengan menginfakkan harta kepada fakir miskin.
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat, dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa, dan orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang yang takut terhadap hari pembalasan, Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman dari kedatanganya, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela, barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melewati batas, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara syahadatnya, dan orang yang memelihara shalatnya, Mereka itu kekal di dalam surga lagi dimuliakan”, al-Ma'arij: 22-35.

2. Lemah

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu. Dan manusia diciptakan dengan sifat lemah", al-Nisa':28.
Dengan tabiat kelemahan manusia itu, Allah memberikan keringanan dan kemudahan baginya. Untuk mengatasi kelemahannya itu manusia harus menerima kemudahan dan keringan yang Allah berikan. Bagi manusia memadai apa yang telah ia usahakan sesuai dengan keadaannya.
“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakan”, al-Najm:39.

3. Susah Payah

Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat berat, yaitu adanya berbagai halangan dan rintangan yang harus dihadapinya.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah”, al-Balad:4.
Cara mengatasinya adalah dengan mengadakan perjuangan untuk membebaskan perbudakan manusia atas manusia. Apabila manusia enggan mengadakan perjuangan, maka ia akan senantiasa di dalam kesusahpayahan itu. Oleh karena itu, ia harus bangkit mempergunakan potensi yang ada dan menyusun kekuatan bersama-sama untuk perjuangan pembebasan tersebut.
"Tahukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu melepaskan budak dari perbudakan, dan memberi makanan pada hari kelaparan kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat dan orang miskin yang teramat miskin dan dia termasuk orang yang beriman dan saling berpesan bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka itu adalah golongan kanan”, al-Balad:10-18.

4. Tergesa-gesa

“Dan adalah menusia bersifat tergesa-gesa”, al-Isro:11.
Tergesa-gesa ialah ingin mendapatkan/mencapai sesuatu dengan segera tanpa memelalui proses yang seharusnya. Karena ketergesa-gesaannya itu, maka manusia sering terjerembab ke jalan yang salah, sehingga hanya menghasilkan kekecewaan. Karena tergesa-gesa adalah merupakan sifat negatif, maka ia harus ditundukkan dan diarahkan ke jalan yang benar.


Cara mengatasinya adalah dengan bersabar, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman-Nya.
“Bersabarlah kamu seperti sabarnya ulu al-'azmi min al-rasul dan janganlah kamu minta disegerakan siksa kepada mereka”, al-Ahqaf:35.


Alhamdulillah Rabb al-'Alamin.


Bersambung.......
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 5)

Post artikel ini adalah artikel ke 4 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-4.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.
==============


Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat


Tujuan Penciptaan Manusia

Allah SWT telah menegaskan bahwa, Ia menciptakan manusia tidaklah dengan main-main tetapi dengan tujuan yang hak. Dengan diberi tugas dan kewajiban yang akan dimintai pertanggung jawaban.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”, al-Mu'minun:115.
Tujuan penciptaan manusia adalah mengabdi kepada-Nya, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai manusia.
"Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”, al-Dzariyat:56.

1. Fungsi Manusia Di Bumi

Fungsi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi.


"Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia di muka bumi sebagai khalifah”, al-Baqoroh:30.


Arti khalifah fil ardhi adalah mandataris Allah untuk melaksanakan hukum-hukum dan merealisasikan kehendak-Nya di muka bumi. Manusia telah dipilih Allah sebagai khalifah-Nya.


Untuk melaksanakan fungsinya itu, Allah mengajarkan manusia ilmu (Asma kullaha).

2. Tugas Manusia

Tugas manusia adalah memelihara amanah yang Allah pikulkan kepadanya, setelah langit, bumi dan gunung enggan memikulnya.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”, al-Ahzab:72.


Amanat Allah itu adalah berupa tanggung jawab memakmurkan bumi dengan melaksanakan hukum-Nya dalam kehidupan manusia di bumi ini.
“Hai Daud, sesungguhnya Kami telah mengangkatmu sebagai khalifah di bumi, maka hukumilah manusia dengan haq (wahyu Allah) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu yang menyebabkan kamu tersesat dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang sesat dari jalan Allah akan mendapat siksa yang berat akibat mereka melupakan hari pembalasan”, Shaad:26.


Untuk menunaikan tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya ini, manusia harus mengerahkan segala potensi (baik internal dan ekternal) yang ada pada dirinya, dan harus sanggup berkorban dengan jiwa dan hartanya. Dengan pengerahan potensi dan kesanggupan berkurban, maka tugas dan peran manusia untuk mewujudkan kekhalifahan dan menegakkan hukum-Nya pasti akan dapat terwujud.


Adapun manusia yang tidak mau melaksanakan tugas, enggan merealisasikan
tugas dan perannya, maka ia adalah manusia yang jahil (bodoh) dan dzalim.


Alhamdulillah Rabb al-'Alamin


Bersambung...
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 4)

Post artikel ini adalah artikel ke 4 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-4.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.
======================================


Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat


Potensi Dasar Manusia

B. Potensi Eksternal

Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga menyertakan potensi external sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi external ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.

1. Potensi Huda

Yaitu petunjuk Allah yang mempertagas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus.
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur”, al-Insan:3.
“....Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati”, al-Baqoroh:38.

2. Potensi Alam

Alam semesta adalah merupakan potensi external kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi 'uli al-albab', yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring; dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb Kami, tidalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia", ali Imron:190-191.
“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan (tempat berpijak) bagimu dan langit sebagai atap, dan menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”, al-Baqoroh:21-22.


Semua potensi yang Allah berikan kepada kita, bukanlah hal yang main-main dan terjadi dengan sendirinya tanpa maksud tertentu. Akan tetapi, potensi itu merupakan modal dasar yang Allah berikan agar kita sukses menjalankan tugas dalam perjalanan ini.


Dengan pemahaman yang baik akan keberadaan kita, seharusnya kita menyadari tentang diri kita yang sebenarnya. Kita tidak sedang bermain-main disini, kita tidak sedang senda gurau disini, tapi kita sedang bertugas untuk menjalankan kepemimpinan Allah atas bumi ini. Sebuah tugas yang maha berat yang hanya akan berhasil apabila kita mengoptimalkan segenap potensi yang ada pada kita.



Alhamdulillah Rabb al-'Alamin.


Bersambung
Lanjutkan Membaca ...

27 Jul 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 3)

Post artikel ini adalah artikel ke  3 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog  http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-3.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.

===============================
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan kepada Muslimin Muslimat

Potensi Dasar Manusia

Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi external (yaitu potensi disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, ia harus diolah dan didaya-gunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat memunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.

A. Potensi Internal

Potensi internal ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri:

1. Potensi Fitriyah.

Manusia diberikan oleh Allah potensi fitriyah. Makna fitrah ialah al-Islam.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang lurus, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”, al-Rum:30.
'Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw: “Tiada bayi yang dilahirkan kecuali lahir dalam keadaan fitrah. Maka ayah bundanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. Sebagai lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya?" Kemudian Abu Hurairah ra membaca: ”Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus”, HR. Mutafaqun ‘alaih.
Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (Dien Allah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (cek 7:172).

2. Potensi Ruhiyah

Potensi ruhiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan.

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan" al-Syams:7-8.
Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Dari kemampuan ini.

“Wabishah bin Ma’bab ra. berkata: 'Saya datang kepada Nabi saw untuk bertanya tentag bakti (al-birri). Maka sebelum saya bertanya, Nabi bertanya: 'Kau datang untuk bertanya tentang bakti?' Jawabku: Ya. Bersabda Nabi saw: “Tanyakan pada hatimu. Bakti itu ialah semua perbuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa, itu semua perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mendapat fatwa dari orang-orang”. HR. Ahmad dan Darimi.Hadits ini menunjukkan bahwa potensi inilah yang menentukan arah kehidupan manusia.

3. Potensi Aqliyah

Potensi aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a, bashar, fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah, tentang “kekuasaan” Allah. Serta dengan potensi ini, ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang bermanfaat baginya yang tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya dan tentu harus dihindarkan.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”, al-An'am:78. 
Potensi inilah yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. 
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu miliki ilmu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban”, al-Isro:36.

Manusia yang tidak mempergunakan potensi ini, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan kelelebihan dan keutamaan yang Allah berikan, sehingga ia tidak pantas mendapat fadhal disisi Allah, tetapi ia sama dengan makhluk yang terendah yaitu binatang ternak, bahkan lebih hina lagi.

"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”, al-A'rof:179.

4. Potensi Jasmaniyah

Potensi jasmaniyah yaitu kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan”, al-Tin:5.
“Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembalimu”, al-Taghabun:3.
Potensi jasmaniyah ini adalah merupakan basthoh fil khalqi (fil jism). Sebagai modal utama untuk melaksanakan tugasnya.


Alhamdulillah Rabb al-'Alamin


Bersambung .......
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 2)

Post kali ini adalah kelanjutan dari materi pembahasan tentang Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 1). Sumber artikel ini berasal dari http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-2.html . Semoga post artikel ini dapat mempertebal keimanan para pembacanya.
=================================
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.


Dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang prinsip dan proses penciptaan manusia. Pembahasan itu menggugah kesadaran kita bahwa sebelum kita menjadi seperti sekarang ini dahulunya kita tidak ada dan bukan apa-apa. Maka segala sesuatu yang ada pada kita hari ini adalah pemberian Allah yang patut kita syukuri.


Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang bahan dasar penciptaan manusia. Hal ini kita pelajari agar kita memahami siapa kita dan akan kemana kita.

A. Bahan Dasar (Bentuk Dan Isi) Manusia.

1. Bentuk Dasar.

Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagaimana diterangkan dalam ayat di bawah ini:
"Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)”, Al-Sajdah:7-8.
Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan dan cantik rupawan hanyalah berbahan dasar tanah liat/tanah tembikar yang merupakan bahan terendah yang kurang berharga. Bila kita perhatikan asal kejadian diri kita ini, maka kita tidak akan suka menyombongkan diri menentang dan mendurhakai Allah pencipta kita. Akan tetapi kita akan tunduk merendahkan diri kita kepada Allah, karena hanya atas karunia-Nyalah kita menjadi ada.

2. Isi Dasar

Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut di atas, kemudian Allah mengisinya dengan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh-Nya. Sebagaiamana firman-Nya:
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya ruh ciptaan-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”, al-Sajdah:9.
Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia diberi ruh-Nya. Dari dua asal yang sangat berbeda ini menunjukkan adanya dua hal yang berbeda. Jasad kita yang diciptakan dari bahan dasar tanah maka ia memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada tanah atau segala hal yang berasal dari tanah, sebagaimana firman Allah:
"dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diingini, yaitu: wanita, anak, harta yang melimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan (kendaraan), binatang ternak dan sawah ladang...", Ali Imron:14.
Sedangkan ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah yaitu al-Din, jalan menuju taqwa.
"katakanlah: inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Robb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai". Ali Imron:15.
Dari pemahaman diatas kita dituntut untuk merubah paradigma kita tentang hidup. Berfikir jauh kedepan bahwa kita ini lebih dari hanya sekedar materi yang akan hancur seiring berjalannya waktu. Kita adalah ruh yang diturunkan dari langit yang mengemban suatu amanah besar dari Allah yaitu al-Din al-Islam untuk diterapkan dimuka bumi sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jangan lupa! Amanah tersebut nanti di hari kemudian akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Alhamdulillah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

26 Jul 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 1)

Artikel dalam post ini bersumber dari http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/blog-post.html, jika, anda memiliki komentar, pertanyaan atau hal-hal lain berkaitan dengan artikel ini, silahkan anda kunjungi link diatas.


Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, sejahtera kepada Muslimin Muslimat.
Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, biasanya orang tua itu akan mengatakan: 'dasar kamu anak yang tidak tahu diri,...'. Maka dari itu agar kita tidak dikatakan sebagai orang yang tidak tahu diri, marilah kita bersama-sama kenali diri kita.

A. Prinsip Penciptaan Manusia‏

"Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut", Al-Insan:1
“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”, Maryam:67.
Kedua ayat di atas dimulai dengan kalimat istifham (pertanyaan) yang menuntut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan itu ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini sesuai dengan fungsi dan tujuan penciptaannya. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Pada mulanya ia bukanlah apa-apa, tidak ada, tidak berwujud dan tidak berbentuk. Kemudian atas kehendak-Nya, ia diciptakan.

Ihwal penciptaan manusia ini, menunjukkan KeMaha Kuasaan Allah. Hal ini harusnya menjadi renungan manusia, betapa tanpa kekuasaan-Nya, dirinya bukanlah apa-apa.

B. Proses Penciptaan Manusia

1. Proses Azali

Proses azali adalah proses dimana peran ke Maha-'Kunfayakun'-an Allah terjadi, tidak ada sedikitpun campur tangan manusia. Seperti dalam penciptaan Adam yang diciptakan dari tanah liat yang dibentuk. Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dan Isa Al-Masih yang diciptakan tanpa seorang ayah.
Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut:
'dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering yang diberi bentuk', Al-Hijr:26.
'Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu', An-Nisa:1‏
'Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman: “Jadilah”, maka jadilah dia', Ali Imron:59.

‏2. Proses Alami

Proses alami adalah proses kejadian manusia setelah Adam dan Hawa terkecuali Isa as, yaitu harus adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan, bertemunya sel sperma dan indung telur di dalam rahim perempuan. Dalam rahim seorang ibu ia dibentuk dengan melalui beberapa tahapan dan dalam waktu yang telah ditetapkan. Kemudian setelah sempurna kejadiannya, ia dilahirkan ke atas dunia sebagai seorang bayi, lalu Allah tumbuhkan ia menjadi dewasa danmenjadi tua, kemudian Allah wafatkan.

Sebagaimana firman Allah di bawah ini:

'Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian saripati itu Kami jadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu bener-benar akan mati. Kemudian kamu akan dibangkitkan di hari kiamat', Al-Mu'minun:12-16.
Dari pemahaman tersebut dapat diambil pelajaran bahwa dengan kekuasaan-Nya, Allah mampu untuk mengabulkan setiap doa-doa kita. Namun, kita sebagai manusia di perintahkan untuk setia menjalani setiap tahapan dari proses mewujudkan keinginan-keinginan tersebut.

Alhamdulillah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...