HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

4 Okt 2012

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim menguap. "Inilah kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana aku berubah," kata Ibrahim Killington. Ketertarikannya membaca isi Al Quran berawal dari perkenalannya dengan Baba Ali yang santun dan humoris. Ia begitu terkejut, ternyata ada Muslim yang humoris dan santun.

Ia mulai membaca Alquran. Ia pikir, ia telah mendapatkan kesempatan untuk membaca kitab yang menjadi rujukan teroris. Awalnya, ia takut terpengaruh. Nyatanya, ia begitu terkejut dengan isi Alquran.

Ibrahim Killington, Sebelum menjadi Muslim, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, Menenggak minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. "Saya bergaul dengan orang yang sama seperti saya. Dengan harapan, kesenangan dan kebahagian itu tak pernah berakhir," kenang dia.

Pemberitaan negatif baik cetak maupun elektronik yang semakin gencar juga mempengaruhi pandangannya terhadap Islam dan Muslim. Pemberitaan itu menanamkan padanya bahwa setiap Muslim melakukan kekejaman di seluruh dunia. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim mulai tumbuh. Ia merasa negaranya sudah diacak-acak oleh Islam dan Muslim. "Mereka itu penjahat berbahaya di dunia," kata dia.

Satu hari, ia mendengar siaran radio tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dari sebuah program 'Terror Talk'. Radio itu mempertanyakan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan studi banding prilaku terorisme di seluruh dunia. "Saya mulai mempertanyakan apa yang diyakini umat Islam pada waktu itu. Kebetulan saya tengah mencari kebenaran," kata dia. Peristiwa ini juga memicunya untuk mengenal lebih dalam tentang kebenaran dalam Islam baik dari bacaan-bacaan maupun dari dunia maya.

Dengan ayat-ayat Al Qur'an, kebenicannya terhadap Islam terus menguap. Untuk dapat berubah, Pertama yang ia lakukan adalah pergi ke masjid. Ia habiskan waktu sepanjang hari untuk banyak membaca literatur tentang Islam. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia tengah berada di masjid. Mendengar itu, ibunya sontak berteriak. "Tidak, anda tidak bisa berada di masjid. Anda adalah seorang Kristen," kata ibunya.

"Banyak cerita tentang bagaimana kisah orang yang memeluk Islam. Mereka merasa kembali ke rumah setelah sekian lama pergi. Itulah yang aku rasakan," kenang dia.

"Ketika anda ingin mencari tahu tentang Islam dan Muslim, ada baiknya anda pergi ke masjid. Di sana, anda akan mendapatkan informasi sebenar-benarnya. Jangan takut akan apa yang keluarga anda pikirkan. Islam itu lahir untuk kita, umat manusia," paparnya lagi.

Sumber: Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...

29 Nov 2011

Khalifah Umar RA dan Seorang Nenek

Post kedua tentang kisah Khalifah Umar RA, yang pada kali bertemu dengan seorang nenek yang berkeluh kesah kepadanya. Sebagaimana kebiasaan amirul mukminin ini, Ia menjumpai nenek ini pada sebuah pondok miliknya.

Pada suatu hari Khalifah Umar Al-Khatab baru saja pulang dari mengunjungi negeri Seria. Seperti biasa Umar akan berjalan-jalan dan meninjau sekitar kawasan untuk melihat kondisi rakyat untuk mengetahui sendiri akan penderitaan mereka. Pada kali ini Umar menuju ke sebuah pondok buruk yang didiami oleh seorang nenek tua.

Umar pergi ke rumah nenek tersebut dengan menyamar sebagai orang biasa. Sudah menjadi kebiasaan pada Umar menyamar menjadi rakyat biasa karena ia ingin melihat sendiri akan penderitaan yang di alami oleh rakyatnya dan ingin mendapat informasi atau pandangan rakyat terhadapnya.

Saat tiba di rumah nenek tersebut Khalifah memberi salam dan berkata. "Apakah nenek mendengar apa-apa berita tentang Umar?".

Jawab nenek tua itu "Kabarnya Umar baru saja pulang dari Seria dengan selamat".

Kata khalifah lagi "Bagaimana pendapat bapak tentang khalifah kita itu".

Jawab nenek "Semoga Allah tidak memberi imbalan baik kepadanya".

Umar bertanya lagi "Mengapa nenek berkata begitu?".

Jawab nenek "Ia sangat jauh dari rakyatnya. Sejak menjadi khalifah dia belum pernah menjenguk pondok aku ini apalagi memberi uang".

Umar menjawab "Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui kondisi nenek sedangkan tempat ini jauh terpencil"

Nenek mengeluh dan berkata "Subhanallah! Tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui kondisi rakyatnya walau dimana mereka berada".

Mendengar kata-kata tadi Umar tersentak lalu berkata didalam hatinya "Celakalah aku karena semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku". Umar menyesal sambil meneteskan air mata.

Umar berkata lagi: "Wahai nenek, berapakah kamu ingin menjual kezaliman Umar terhadap nenek ?. Saya kasihan kalau Umar mati nanti akan masuk neraka. Itu pun kalau nenek mau menjualnya".

Kata nenek "Jangan engkau berguaru dengan aku yang sudah tua ini". Sambung Umar lagi "Saya tidak bergurau, saya benar-benar nek, berapakah nenek akan menjualnya. Saya akan menebus dosanya, maukah nenek menerima uang sebanyak 25 dinar sebagai harga kezalimanya terhadap nenek" sambil menyerahkan uang tersebut kepada nenek.

"Terima kasih nak, baik benar budi mu" kata nenek sambil mengambil uang tersebut.

Sementara itu Ali Abu Thalib bersama Abdullah bin Mas'ud melewati di daerah itu. Melihat Umar berada disitu, mereka pun memberi salam.

"Assalamualaikum ya Amirul Mukminin".

Mendengar salam tersebut, tahulah nenek bahwa tamu yang berbicara denganya barusan adalah Khalifah Umar Al-Khatab. Dengan perasaan takut dan gemetar nenek berkata "Masya Allah, celakalah aku dan ampunilah nenek atas kelancangan nenek tadi ya Amirul Mukminin. Nenek telah memaki Umar dihadapan tuan sendiri". Rantapan nenek telah menyadarkan Umar.

"Tak mengapa nek, mudah-mudah Allah memberi restu kepada nenek" kata Umar. Ketika itu juga Khalifah Umar telah membuka bajunya dan menulis keterangan berikut diatas bajunya.

"Bismillahirrahmanirrahim,

Dengan ini Umar telah menebus dosanya pada kezalimannya terhadap seorang nenek yang merasa dirinya dizalimi oleh Umar, sejak menjadi khalifah sehingga ditebusnya dosa itu dengan 25 dinar. Dengan ini jika perempuan itu mengklaim Umar di hari Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tidak bersangkutan lagi ".

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Ali bin Abu Thalib dan di saksikan oleh Abdullah bin Mas'ud.

Baju tersebut diserahkan kepada Abdullah bin Mas'ud serya berkata "Simpahlah baju ini dan jika aku mati masukkan kedalam kain kafanku untuk dibawa menghadap Allah Subhanahu Wataala nanti".


Sumber : http:// linputra. blogspot . com
Lanjutkan Membaca ...

Kisah Khalifah Umar dan Ibu Pemasak Batu

Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, bahkan beliau hidup bersama rakyat dalam kesehariannya. Beliau juga sering berjalan melihat kondisi rakyatnya saat malam hari, kadang sendiri dan kadang ditemani oleh sahabat yang lain. Berikut ini adalah penggalan kisahnya yang bertemu dengan seorang Ibu yang memasak batu demi menenangkan hati anaknya.

Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku.

Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika

waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk

membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
Lanjutkan Membaca ...