HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Ramadhan. Tampilkan semua postingan

15 Agu 2012

Mutiara Ramadhan - Bag 3 - Puasa - Pembebasan Menuju Kemenangan.

Mutiara Ramadhan - Bagian ke 3 - Puasa Pembebasan Menuju Kemenangan adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 yang di post pada tanggal 03 Agustus 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Tulisan ini adalah seri ketiga dari serial Kultum Ramadhan SKI. Pada seri pertama kita telah bersama membahas tentang apa sih yang harus dijadikan misi utama kita pada bulan ini?. Dan telah sama-sama kita temukan jawabannya dari Al Quran, yaitu "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup". Cara untuk mencapainya adalah dengan berpuasa, yakni mensucikan jiwa kita dari kotoran-kotoran jiwa seperti syirk, nifaq dan ketergantungan kepada selain Allah, karena hanya jiwa yang suci sajalah yang akan bisa menyentuh ajaran Al Quran - laa yamassu-hu illa l muthahharuun. Pada seri kedua kita telah membahas keterkaitan antara Al Quran dan ketaqwaan, yang mana ketaqwaan adalah target dari puasa. Disamping itu juga kita telah ketahui bersama bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, baik fardiyah maupun jam'iyah, baik 'ain maupun kifayah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah, individual dan sosial.

Untuk lebih menguatkan pemahaman kita tentang hal ini, ada baiknya kita melirik kepada uswah kita yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana beliau menyelenggarakan Ramadhan bersama rakyatnya?

Perintah berpuasa pada bulan Ramadhan, yakni surat Al Baqarah ayat 183 diturunkan pada 10 Sya’ban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Yatsrib dan membangun Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekah.

QS. Al Baqarah (2): 144.
قَد نَرىٰ تَقَلُّبَ وَجهِكَ فِى السَّماءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبلَةً تَرضىٰها ۚ فَوَلِّ وَجهَكَ شَطرَ المَسجِدِ الحَرامِ ۚ وَحَيثُ ما كُنتُم فَوَلّوا وُجوهَكُم شَطرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ لَيَعلَمونَ أَنَّهُ الحَقُّ مِن رَبِّهِم ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا يَعمَلونَ ﴿١٤٤﴾


Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah "wajahmu" ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah "wajahmu" ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

Pengalihan kiblat dari Darussalam (Palestina) ke Masjidi l Haram (Mekkah) oleh sebagian kalangan hanya dipahami sebagai pengalihan arah menghadap ketika shalat (ritual). Pemahaman ini benar, tapi belum cukup mewakili makna yang sebenarnya. Kiblat (serapan bahasa Indonesia dari bahasa Al Quran QIBLAT) adalah sebuah tempat dimana seluruh umat menghadapkan wajahnya kesana untuk mengadukan setiap persoalan. Dimana seluruh umat menjadikannya sebagai sentral kegiatan pelaksanaan ibadah, mereka thawaf (berjalan dalam ikatan orbit pemimpinnya), mereka wukuf (menerima arahan pemimpinnya), mereka i'tikaf (fokus melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai umat), dan lain-lain. Intinya, kiblat adalah sebuah tempat yang dijadikan pusat pemerintahan dalam sebuah komunitas kehidupan dari komunitas terkecil yaitu nafsi sampai komunitas terbesar seluruh bumi yaitu khilafah fil ardh. Kiblat bagi nafsi adalah qalbu, dimana disitu bersemayam ruh Allah. Kiblat bagi keluarga adalah rumah, dimana ke tempat itulah seluruh anggota keluarga pulang. Kiblat bagi sebuah desa adalah kantor kelurahan, kecamatan adalah kantor camat, negara adalah istana negara, dan seterusnya.

QS. Yunus (10): 87.
وَأَوحَينا إِلىٰ موسىٰ وَأَخيهِ أَن تَبَوَّءا لِقَومِكُما بِمِصرَ بُيوتًا وَاجعَلوا بُيوتَكُم قِبلَةً وَأَقيمُوا الصَّلوٰةَ ۗ وَبَشِّرِ المُؤمِنينَ 
Artinya: "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu kiblat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman."

Pasca tegaknya Madinah di tanah Yatsrib, Rasulullah amat dirisaukan dengan kenyataan bahwa tempat yang akan dijadikan pusat pemerintahan jika Madinah sudah berhasil mendirikan khilafah fil ardh (kepemimpinan Islam seluruh dunia) adalah Yerusalem. Rasulullah menginginkan jika nanti khilafah fil ardh itu ber-ibukota ke Masjidi l Haram yang merupakan warisan dari "the founding father" Islam, Nabi Ibrahim AS.

Disamping itu, naluri kaum musliminpun berbicara, yakni nostalgia - rindu kampung halaman, kampung halaman tempat mereka dilahirkan, tempat mereka dibesarkan. Dengan bumi ini, dengan tanahnya yang lapang, gunungnya, airnya, dengan semua itulah pertama kali mereka bicara, pertama kali mereka bersahabat. Diatas secercah tanah inilah mereka dipupuk tatkala mereka masih kecil dan di sana pula tempat-tinggal mereka sesudah mereka besar. Kesana hati orang dan perasaannya terikat, dan untuk itu pula dengan segala kekuatan dan hartanya ia pertahankan. Dikorbankannya semua tenaga dan hidupnya. Sesudah mati, di tempat itu harapannya akan dikuburkan. Ia mau kembali kedalam tanah tempat ia dijadikan itu.

Naluri inilah yang lebih keras mendorong hati kaum Muhajirin daripada motif-motif lain. Selalu terpikir oleh mereka bagaimana seharusnya sikap mereka itu menghadapi Quraisy. Tetapi yang sudah terang, sikap itu bukanlah sikap menyerah atau sikap menghambakan diri. Sudah cukup sabar mereka selama tiga belas tahun terus-menerus menanggung penderitaan. Islam tidak membenarkan adanya sikap lemah, putus asa atau menyerah bagi mereka yang sudah menanggung penderitaan dan sampai hijrah karenanya.

Apabila sikap permusuhan itu memang dibenci dan tidak dibenarkan, sebaliknya yang diperkuat dan dianjurkan adalah sikap persaudaraan, tapi di samping itu yang juga diharuskan ialah membela diri, membela kehormatan, membela kebebasan ber-dien dan membela tanah air. Untuk membela inilah Muhammad mengadakan Ikrar 'Aqaba yang kedua dengan penduduk Yathrib. Tetapi bagaimanakah kaum Muhajirin itu akan menunaikan kewajibannya kepada Allah, tanggung jawab kepada "Rumah Suci" warisan Ibrahim, kepada tanah air, Mekah yang mereka cintai itu? Kearah inilah politik Muhammad dan kaum Muslimin itu ditujukan, sampai selesai ia kelak menaklukkan Mekah, dan Dien Allah serta seruan kebenaranpun akan terjunjung tinggi.

Maka dengan turunnya ayat tentang pemindahan kiblat ke Masjidi l Haram menjadi jelaslah visi dan misi perjuangan Rasulullah ke depan, yaitu Pembebasan Mekkah dari kekuasaan Jahiliyyah suku Quraisy. Tidak mengherankan jika selanjutnya program-program yang dicanangkan dalam perjuangan Rasulullah adalah menuju kepada satu titik yaitu merebut kembali Masjidi l Haram dari orang-orang kafir Quraisy.

QS. Al Tawbah (9):17.
ما كانَ لِلمُشرِكينَ أَن يَعمُروا مَسٰجِدَ اللَّهِ شٰهِدينَ عَلىٰ أَنفُسِهِم بِالكُفرِ ۚ أُولٰئِكَ حَبِطَت أَعمٰلُهُم وَفِى النّارِ هُم خٰلِدونَ 
Artinya: "Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka."

Usaha untuk "mengusir" kafir Quraisy dari Masjidi l Haram inipun dimulai, yang pertama adalah upaya pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan. Peristiwa pencegatan inilah yang mengawali terjadinya perang badr.

Tapi, modal apa yang harus disiapkan untuk menghadapi negara kaya seperti Mekah, suku yang kuat seperti Quraisy? Sementara keadaan kaum muslimin di Yatsrib juga belumlah bisa dikatakan stabil. Umat Islam masih dijerat banyak persoalan, diantaranya persoalan ekonomi. Bagaimana bisa mengalahkan Mekah? Bagaimana caranya menandingi kekuatan ekonomi Mekah? Bagaimana pula caranya menandingi semangat juang tentara Mekah yang berjumlah ribuan orang. Belum lagi tantangan dari internal Madinah sendiri, tingkah polah Yahudi dan Munafiqin amat mengganggu stabilitas Madinah. Realitas-realitas inilah yang membuat seolah-olah cita-cita mengalahkan Mekah hanya akan menjadi tamanny (harapan kosong) belaka.

Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan yang meragukan itulah, maka turun perintah Allah kepada Umat Islam untuk berpuasa. Ya, puasa Ramadhan, sebuah Pembebasan Diri.

Bagaimana bisa membebaskan Mekah, kalau diri sendiri saja masih terpenjara oleh ketergantungan kepada selain Allah. Dengan puasa inilah mentalitas Umat Islam dipupuk, bahwa kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir itu haruslah diraih jika kita menghendaki sebuah kemenangan melawan musuh-musuh Islam. Bagaimana bisa menang dalam medan pertempuran kalau kemauannya untuk totalitas menyerahkan semua kepada Allah masih terbelenggu? Bagaimana bisa mengalahkan musuh-musuh yang kuat kalau pikirannya masih terkuras oleh persoalan-persoalan pribadi berkaitan tentang masalah ekonomi? Untuk bisa mengalahkan kekuatan yang besar, maka yang harus dilakukan adalah feel free, tanpa beban. Lepaskan semua jeratan-jeratan duniawi dalam pikiran kita, serahkan semua kepada Allah.

Lalu, apa hubungannya puasa dengan pembebasan kemauan dan pembebasan berpikir? Mari kita simak uraian berikut ini:

Kalau tujuan puasa itu supaya tubuh tidak terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma kita jangan terlalu menekan sifat kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah itu hanyut dalam berpuas-puas dalam kesenangan, berarti ia sudah mengalihkan tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam memuaskan diri itu sudah sangat merusak, apalagi kalau orang berpuasa, sepanjang hari ia menahan diri dari segala makanan, minuman dan segala kesenangan, dan bilamana sudah lewat waktunya ia lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang di waktu siang ia tak dapat menikmatinya!

Kalau begitu Allah jugalah yang menyaksikan, bahwa puasanya bukan untuk membersihkan diri, mempertinggi sifat kemanusiaannya, juga ia berpuasa bukan atas kehendak sendiri karena percaya bahwa puasa itu memberi faedah kedalam rohaninya, tapi ia puasa karena menunaikan suatu kewajiban, tidak disadari oleh pikirannya sendiri akan perlunya puasa itu. Ia melihatnya sebagai suatu kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia adalah suatu tanggapan yang salah samasekali, yang akhirnya akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya tempat lagi. Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang sebenarnya kepada Allah.

Seolah tampak aneh apa yang saya katakan itu, bahwa dengan puasa kita dapat memperoleh kembali kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir. Ini memang tampak aneh, karena dalam bayangan kita bentuk kebebasan ini telah dirusak oleh pikiran modern, bilamana batas-batas rohani dan mental itu dihancurkan, kemudian batas-batas kebendaannya dipertahankan, yang oleh seorang prajurit dapat dilaksanakan dengan pedang undang-undang. Menurut pikiran modern, manusia tidak bebas dalam hal ia melanda harta atau pribadi orang lain. Akan tetapi ia bebas terhadap dirinya sendiri sekalipun hal ini sudah melampaui batas-batas segala yang dapat diterima akal atau dibenarkan oleh kaidah-kaidah moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukanlah demikian.

Kenyataannya, manusia adalah budak kebiasaannya. Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu sore. Kalau dikatakan kepadanya: "makan pagi dan sore sajalah", maka ini akan dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Orang yang sudah biasa merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya itu, lalu dikatakan kepadanya: "sehari ini kamu jangan merokok", maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu tertentu lalu dikatakan kepadanya: "gantilah waktu-waktu itu dengan waktu yang lain", maka pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan, merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya yang sesungguhnya.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh kesadaran bahwa perintah Allah tak mungkin bertentangan dengan cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap dirinya sendiri - dengan kehendak Allah - mengenai batas-batas rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat iman yang paling tinggi itu.

Maka hasil dari pelaksanaan puasa ini adalah Kemenangan. Kemenangan Diri karena telah berhasil membebaskannya dari segala bentuk lekatan-lekatan duniawi. Kemenangan diri adalah modal bagi Kemenangan Ekonomi, karena dengan puasa Umat Islam akhirnya memiliki pandangan berbeda tentang harta, bahwa harta bukanlah segala-galanya dan amat sangat tidak pantas untuk diagungkan dan dipikirkan terus menerus. Alirkan saja harta itu untuk membangun kekuatan Islam, kekuatan Madinah sebagai modal mengalahkan kekuatan musuh-musuh Allah, Mekah.

Dan puncak dari rentetan kemenangan ini adalah Kemenangan Islam. Siapa juga yang mampu mengalahkan orang yang sudah siap untuk meninggalkan raga ini? Siapa juga yang akan mampu membendung jiwa-jiwa yang suci yang sudah sangat merindukan bertemu dengan Sang Maha Suci? Siapa juga yang sanggup merobohkan benteng-benteng hati yang sudah membaca dengan pembakaran yang sempurna? Tak ada yang mampu mengalahkan mereka. Mereka yang sudah ikhlash tentang apapun yang akan terjadi, mereka sudah mengatakan TERSERAH ALLAH.

bersambung...

Al Hamdu li Allah, Rabb Al 'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

3 Agu 2012

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi yang di post pada tanggal 26 juli 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Pada tulisan sebelumnya, kita telah sama-sama mengurai bahwa kesucian Ramadhan adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) Al Quran. Maka yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita dalam bulan ini adalah menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita. Tapi karena Al Quran itu adalah ajaran yang suci dari Allah Yang Maha Suci, maka untuk menyentuhnya pun diharuskan dengan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran, apa lagi menjadikannya sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jiwa kita harus disucikan, harus dibersihkan dari segala macam-macam kotoran jiwa. Proses pensucian jiwa itulah yang dinamakan dengan puasa (shaum). Dan proses ini tidak hanya dilakukan pada bulan ke 9 pada hitungan tahun hijriyah saja. Akan tetapi Ramadhan itu hendaknya dihadirkan setiap saat dalam kehidupan kita. Puasa itu hendaknya dilakukan setiap saat dimanapun kapanpun kita berada. Sehingga benar-benar kita bisa memasukkan nilai-nilai kebenaran Al Quran kedalam jiwa kita, dan merealisasikannya dalam setiap gerak langkah kita sehari-hari. Bukankah "wadah" sebenarnya bagi Al Quran itu adalah "diri" kita, bukannya kertas atau mushhaf.

Pada tulisan ini, mari kita urai lebih dalam lagi tentang makna Ramadhan.

Ramadhan berasal dari kata ar-ramdhu yang berarti bakar, membakar, pembakaran, jadi makna Ramadhan merupakan bulan yang membakar kotoran-kotoran jiwa. Jika jiwa kita diibaratkan seperti besi, maka kotoran-kotoran jiwa itu adalah karat-karatnya. Besi yang penuh dengan karat akan susah dibentuk dan diwarnai, ia hanya akan menjadi sampah dipojokan gudang, dan secara perlahan akan merapuh dan hancur menjadi debu.

Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Hanya saja, yang dimaksud sekadar menahan makan dan minum, tidak melakukan judi, tidak bertengkar, tidak menggunjing, atau aktivitas lain yang sifatnya moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian, berarti telah terjadi penyempitan makna dari pengertian menundukkan hawa nafsu itu sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat-ayat berikut :

Al Najm (53) : 3-4,

Artinya: "Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya"

Al Anbiya (21) : 45,

Artinya: "Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya Aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.”

Dalam ayat di atas, Allah secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu adalah saling bertolak belakang. Artinya, hawa nafsu bertentangan dengan wahyu. Kalau wahyu diartikan sebagai segala sesuatu yang datang dari Allah, maka hawa nafsu adalah sebaliknya, yaitu segala sesuatu yang datang dari manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas yang salah saja, tetapi juga seluruh aktivitas yang keliru yang bersumber dari diri manusia sendiri.

Karena itu, ketika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan menundukkan hawa nafsu, maka yang seharusnya terbayang dalam benak kita adalah kita menundukkan hawa nafsu kita pada kehendak wahyu sehingga kita tidak akan melakukan seluruh aktivitas (bukan sekadar aspek moralitas semata) yang dilarang oleh wahyu (Al Quran dan Sunnah Rasul). Artinya, selain kita meninggalkan judi, kita juga harus meninggalkan aktivitas menghalang-halangi atau bahkan menekan dakwah Islam. Selain kita meninggalkan mengunjing orang lain, kita juga harus meninggalkan upaya mempropagandakan sekularisme, nasionalisme, paham kebebasan, penyamaan agama, kapitalisme, sosialisme, komunisme, demokrasi, dan pahampaham sesat lainnya yang bertentangan dengan paham Islam. Kita pun berusaha untuk tidak melakukan praktik riba, bermuamalah ekonomi secara kapitalis, berpolitik secara machiavelis, bernegara tanpa undang-undang Al Quran dan Al Hadits, mempertahankan hukum kufur, berinteraksi dalam masyarakat tanpa patokan-patokan sistem sosial kemasyarakatan secara islami, serta menjalani seluruh kehidupan tanpa berdasarkan syariat Islam.

Ali 'Imran (3): 85,

Artinya: "Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dien (sistem penataan hidup, keyakinan, ideologi) maka tidak akan diterima apa pun darinya dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi"

Al Maidah (5): 50,

Artinya: "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah?"

Dari dua ayat di atas, tampak jelas bahwa kita diminta untuk berhukum hanya pada apa yang telah diwahyukan oleh Allah seluruhnya, bukan sepotong-sepotong. Itulah hakikat sebenarnya dari upaya menundukkan hawa nafsu.

Apabila kita telah melaksanakan aktivitas tersebut, insya Allah kita akan terkategori sebagai manusia yang benar-benar bertaqwa sebagaimana firman Allah:

Al Baqarah (2): 183,

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa"

Hubungan Ketaqwaan dengan Al Quran

Bulan Ramadhan adalah bulan taqwa dan bulan turunnya Al Quran. Siapa pun yang mengkaji Al Quran dengan baik akan menyimpulkan bahwa orang yang bertaqwa hidupnya akan senantiasa dipimpin oleh syariat Allah (Al Quran). Allah berfirman:

Al Baqarah (2): 1-2,

Artinya: "Alif lam mim. Inilah Kitab (Al Quran), tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"

Berdasarkan ayat ini, orang yang bertaqwa akan selalu menjadikan Al Quran sebagai cahaya dan way of life (petunjuk hidup) dalam menyelesaikan problematika hidupnya dan manusia sekitarnya.

Dalam ayat lain, Allah mewahyukan:

Al An’am (6): 155,

Artinya: "Al Quran itu adalah kitab yang diberkati yang Kami turunkan. Karena itu, ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat"

Dalam ayat di atas, Allah lebih mempertegas penjelasannya, betapa mereka yang bertaqwa akan senantiasa mengikuti apa saja yang diwahyukan oleh Allah dalam Al Quran maupun Sunnah Rasul-Nya.

Bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.
Lanjutkan Membaca ...

26 Jul 2012

Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambungkan kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas Muslimin dan Muslimat.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Artinya: "Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)"

Sedari kecil mungkin kita sudah dikenalkan dengan istilah "bulan suci" yang dijadikan istilah resmi bagi bulan Ramadhan. Namun apakah kita memahami, apa sih yang membuat bulan ini dikatakan sebagai "bulan suci"? Nah, pada kesempatan ini mari kita coba urai bersama-sama agar kita bisa mengambil pelajaran daripadanya.

Untuk mengawalinya, mari kita lirik firman Allah berikut ini:

Al Baqarah (2) : 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Maka, siapa saja di antara kamu menyaksikan datangnya bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..."

Ternyata, hal yang menjadi penyebab bulan Ramadhan dikatakan "bulan suci" adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) "kitab suci" yaitu Al Quran. Jadi, kalau kita mengharapkan mendapat manfaat dengan kehadiran kita pada bulan ini, maka terimalah Al Quran itu menjadi petunjuk dalam hidup kita, penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika tidak seperti itu, maka sia-sialah kehadiran kita pada bulan ini. Dengan kata lain, kesucian Ramadhan tidak menular kepada jiwa kita.

Ini yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita pada bulan ini. Jadi, harus ada paradigma yang dirubah. Kalau selama ini, yang ada di benak kita ketika menyambut Ramadhan adalah berpuasa, maka hari ini itu harus dirubah, yang harus kita jadikan misi utama dalam bulan ini adalah "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita".

Lalu, apakah puasa tidak penting lagi, jika masih penting dimanakah letak urgensitas puasa pada bulan ini? Perhatikan ayat berikut ini:

Al Waaqi'ah (56) : 77-80,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِيكِتَابٍ مَكْنُونٍ لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : "Sesungguhnya ini adalah Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta alam."

Al Quran adalah kitab suci, maka untuk menyentuhnya juga diharuskan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran. Jadi, bagaimana mau menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jika kita berharap ingin menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, maka kita harus mau mensucikan jiwa kita. Orang yang tidak mau mensucikan jiwanya berarti ia merasa sudah suci, dan Allah melarang kita sok suci.

Al Najm (53) : 32,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: "Yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."

Lalu, bagaimana caranya kita mensucikan jiwa kita? Ya, seperti kita mensucikan baju aja sih, yaitu dengan cara membuang semua kotoran-kotoran yang menempel padanya, maka begitu juga jika kita ingin mensucikan jiwa kita, buang semua kotoran-kotoran jiwa yang menempel. Apa sajakah kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan itu?

Yang pertama adalah syirk. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 28,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis..."

Yang kedua adalah nifaq. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 95,

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: "...Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka (merujuk ke ayat-ayat sebelumnya, mereka yang dimaksud adalah munafiqin) itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

Yang ketiga adalah perbudakan kepada selain Allah (berhala), sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Hajj (22) : 30,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."

Itulah diantara sebagian diantara kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan, disamping masih banyak kotoran-kotoran jiwa lainnya yang juga harus dihilangkan, diantaranya hasad, riya, takabbur, sum'ah, 'ujub, dan lain-lain.

Nah, puasa adalah media pelatihan bagi kita untuk menghilangkan kotoran-kotoran jiwa itu. Bagaimana penjelasannya, bukti konkretnya, atau aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dikatakan bahwa puasa adalah media pensucian jiwa?

Perhatikan, ketika kita berpuasa kita dilarang makan, minum, berhubungan badan dengan pasangan. Apa hubungannya makan minum dengan syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala? Ketika kita makan minum apa yang kita jadikan motivasi, apakah Allah atau hawa nafsu kita? Jika yang kita jadikan motivasi makan minum kita adalah Allah tentunya kita hanya akan makan ketika kita lapar dan hanya akan minum ketika kita haus. Karena makan minum kita adalah semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan tubuh akan energi agar dapat digunakan secara optimal untuk mengabdi kepada Allah. Dan jika energi yang dibutuhkan itu sudah masuk kedalam tubuh, maka ia akan berhenti tanpa menunggu sampai bener-bener kenyang.

Sebaliknya, makan minum yang hanya dengan motivasi menyenangkan hawa nafsu dan "tidak disebut nama Allah" didalamnya cenderung tidak beraturan, mau lapar atau tidak kalau lidah sudah ngiler karena aroma soto ayam, pasti langsung dilahap. Bahkan ada yang pikirannya sampai terkuras memikirkan, "nanti sore enaknya makan apa ya?" Ada juga yang sampai melalaikan diri dari mengingat Allah demi memenuhi kebutuhan perutnya. Bahkan ada yang dengan sengaja melabrak batas-batas (hukum) yang Allah tentukan karena takut tidak makan. Kalau sudah begitu, maka hakikatnya bukan saja syirk, nifaq atau pengabdian kepada berhala, tapi ketiga-tiganya sudah layak disematkan kedalam jiwanya. Na'udzubillah min dzalik.

Maka, dengan puasa inilah kita melatih jiwa kita agar terhindar dari hal-hal pengotor jiwa. Yang adalah pengotor jiwa itu sebenarnya merupakan dinding yang akan menutupi jiwa kita dari Al Quran, sehingga ajaran-ajaran Allah yang suci didalam Al Quran tidak sampai masuk kerelung jiwa dan mewujud kedalam sikap, ucap dan tindak sehari-hari. Dengan puasa inilah kita diperintahkan membuka lebar-lebar jiwa kita untuk menerima wahyu Allah yaitu Al Quran, dan menutupnya rapat-rapat dari bisikan syethan terkutuk.

Al Isra (17) : 45,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

Artinya: "Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat (wujud kekafiran kepada hari akhir adalah dengan membiarkan dirinya terkungkung dalam lembah syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala), suatu dinding yang tertutup."

bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.


Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...