26 Jul 2012

Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi


Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambungkan kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas Muslimin dan Muslimat.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Artinya: "Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)"

Sedari kecil mungkin kita sudah dikenalkan dengan istilah "bulan suci" yang dijadikan istilah resmi bagi bulan Ramadhan. Namun apakah kita memahami, apa sih yang membuat bulan ini dikatakan sebagai "bulan suci"? Nah, pada kesempatan ini mari kita coba urai bersama-sama agar kita bisa mengambil pelajaran daripadanya.

Untuk mengawalinya, mari kita lirik firman Allah berikut ini:

Al Baqarah (2) : 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Maka, siapa saja di antara kamu menyaksikan datangnya bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..."

Ternyata, hal yang menjadi penyebab bulan Ramadhan dikatakan "bulan suci" adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) "kitab suci" yaitu Al Quran. Jadi, kalau kita mengharapkan mendapat manfaat dengan kehadiran kita pada bulan ini, maka terimalah Al Quran itu menjadi petunjuk dalam hidup kita, penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika tidak seperti itu, maka sia-sialah kehadiran kita pada bulan ini. Dengan kata lain, kesucian Ramadhan tidak menular kepada jiwa kita.

Ini yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita pada bulan ini. Jadi, harus ada paradigma yang dirubah. Kalau selama ini, yang ada di benak kita ketika menyambut Ramadhan adalah berpuasa, maka hari ini itu harus dirubah, yang harus kita jadikan misi utama dalam bulan ini adalah "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita".

Lalu, apakah puasa tidak penting lagi, jika masih penting dimanakah letak urgensitas puasa pada bulan ini? Perhatikan ayat berikut ini:

Al Waaqi'ah (56) : 77-80,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِيكِتَابٍ مَكْنُونٍ لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : "Sesungguhnya ini adalah Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta alam."

Al Quran adalah kitab suci, maka untuk menyentuhnya juga diharuskan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran. Jadi, bagaimana mau menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jika kita berharap ingin menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, maka kita harus mau mensucikan jiwa kita. Orang yang tidak mau mensucikan jiwanya berarti ia merasa sudah suci, dan Allah melarang kita sok suci.

Al Najm (53) : 32,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: "Yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."

Lalu, bagaimana caranya kita mensucikan jiwa kita? Ya, seperti kita mensucikan baju aja sih, yaitu dengan cara membuang semua kotoran-kotoran yang menempel padanya, maka begitu juga jika kita ingin mensucikan jiwa kita, buang semua kotoran-kotoran jiwa yang menempel. Apa sajakah kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan itu?

Yang pertama adalah syirk. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 28,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis..."

Yang kedua adalah nifaq. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 95,

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: "...Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka (merujuk ke ayat-ayat sebelumnya, mereka yang dimaksud adalah munafiqin) itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

Yang ketiga adalah perbudakan kepada selain Allah (berhala), sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Hajj (22) : 30,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."

Itulah diantara sebagian diantara kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan, disamping masih banyak kotoran-kotoran jiwa lainnya yang juga harus dihilangkan, diantaranya hasad, riya, takabbur, sum'ah, 'ujub, dan lain-lain.

Nah, puasa adalah media pelatihan bagi kita untuk menghilangkan kotoran-kotoran jiwa itu. Bagaimana penjelasannya, bukti konkretnya, atau aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dikatakan bahwa puasa adalah media pensucian jiwa?

Perhatikan, ketika kita berpuasa kita dilarang makan, minum, berhubungan badan dengan pasangan. Apa hubungannya makan minum dengan syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala? Ketika kita makan minum apa yang kita jadikan motivasi, apakah Allah atau hawa nafsu kita? Jika yang kita jadikan motivasi makan minum kita adalah Allah tentunya kita hanya akan makan ketika kita lapar dan hanya akan minum ketika kita haus. Karena makan minum kita adalah semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan tubuh akan energi agar dapat digunakan secara optimal untuk mengabdi kepada Allah. Dan jika energi yang dibutuhkan itu sudah masuk kedalam tubuh, maka ia akan berhenti tanpa menunggu sampai bener-bener kenyang.

Sebaliknya, makan minum yang hanya dengan motivasi menyenangkan hawa nafsu dan "tidak disebut nama Allah" didalamnya cenderung tidak beraturan, mau lapar atau tidak kalau lidah sudah ngiler karena aroma soto ayam, pasti langsung dilahap. Bahkan ada yang pikirannya sampai terkuras memikirkan, "nanti sore enaknya makan apa ya?" Ada juga yang sampai melalaikan diri dari mengingat Allah demi memenuhi kebutuhan perutnya. Bahkan ada yang dengan sengaja melabrak batas-batas (hukum) yang Allah tentukan karena takut tidak makan. Kalau sudah begitu, maka hakikatnya bukan saja syirk, nifaq atau pengabdian kepada berhala, tapi ketiga-tiganya sudah layak disematkan kedalam jiwanya. Na'udzubillah min dzalik.

Maka, dengan puasa inilah kita melatih jiwa kita agar terhindar dari hal-hal pengotor jiwa. Yang adalah pengotor jiwa itu sebenarnya merupakan dinding yang akan menutupi jiwa kita dari Al Quran, sehingga ajaran-ajaran Allah yang suci didalam Al Quran tidak sampai masuk kerelung jiwa dan mewujud kedalam sikap, ucap dan tindak sehari-hari. Dengan puasa inilah kita diperintahkan membuka lebar-lebar jiwa kita untuk menerima wahyu Allah yaitu Al Quran, dan menutupnya rapat-rapat dari bisikan syethan terkutuk.

Al Isra (17) : 45,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

Artinya: "Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat (wujud kekafiran kepada hari akhir adalah dengan membiarkan dirinya terkungkung dalam lembah syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala), suatu dinding yang tertutup."

bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.


Sumber : SKI Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar