26 Jul 2012

Tarekat Menuju Maqam Ma'rifatullah


Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat beserta salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga tercurah atas muslimin dan muslimat.

A. Apa Arti Tarekat ?

Tarekat, demikian serapan bahasa Indonesia-nya dari kata bahasa Arab "Thariqat" ( طرىقه ). Kata ini dalam kamus Al Munawwir diterjemahkan sebagai jalan, cara atau metode yang ditempuh dalam mencapai tempat yang dituju. Belakangan istilah ini lebih dikenal sebagai jalan bagi calon sufi untuk mencapai maqam ma'rifatullah. Penggunaan istilah ini tidak sepenuhnya benar, banyak kesalahpahaman yang terjadi dalam memaknai arti kata ini. Demi meng-eliminasi kesalahpahaman itu hendaklah kita merujuk kepada Al Quran, bagaimana Allah "menterjemahkan" kata ini.

Berikut ayat-ayat Al Quran yang menerangkan tentang "Thariqat":

1. QS Al-Jinn/ 72:16

Artinya: "Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( الطَّرِيقَةِ ), benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya "jalan kebena­ran dan keadilan". (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XVI, hal. 5950).

2. QS Al-Ahqaaf/ 46:30

Artinya: "Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami men­dengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus ( طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ )."

Kata "thariqin" dalam ayat ini artinya ialah "Dien Al Islam" (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XV hal. 94).

3. QS An-Nisaa/ 4:168-169

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan ( طَرِيقًا ) kepada mereka. Kecuali jalan ( طَرِيقَ ) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah".

Kata "thariqon" dalam 168 artinya ialah "satu jalan menuju surga". Sedangkan dalam ayat 169 artinya ialah "jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam" (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).

4. QS Thaha/ 20:104

Artinya: "Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya ( طَرِيقَةً ) di antara mereka!" Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan sehari saja."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya ialah "jalan" (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan "jalan yang lurus" di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

5. QS Thaha/ 20:77

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka bikinlah untuk mereka jalan ( طَرِيقًا ) yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)."

Kata "thoriqon" dalam ayat ini berarti "Allah menger­ingkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).

6. QS Thaha/ 20:63

Artinya: "Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu ( بِطَرِيقَتِكُمُ ) yang utama."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini ada yang mengartikannya dengan "keyakinan (agama)" (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan "Bani Israel". (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).

7. QS Al-Mu'minuun/ 23:17

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan ( طَرَائِقَ ); dan Kami tidaklah lengah terha­dap ciptaan (Kami)".

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "lan­git", thoroiq kata jama' dari thoriqoh, karena dia adalah jalan-jalan malaikat." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).

8. QS Al-Jinn/ 72:11

Artinya: "Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan ( طَرَائِقَ ) yang berbeda-beda."

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "Golongan yang berbeda pendapat di kalangan muslimin dan kafir." (ibid, hal. 240).

Demikian firman Allah menyinggung makna thariqat. Dari rangkaian ayat-ayat diatas, dapat kita ambil kesimpulan makna thariqat sebagai berikut:"Sebuah jalan yang merupakan metode pencapaian tujuan yang didalamnya berisi konsep integral yang mencakup paradigma, sikap, perkataan maupun tindakan, lahir dan barthin.

B. Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam

Thariqat yang dilalui oleh manusia secara global terbagi menjadi dua, yaitu Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam. Thariq Al Mustaqim adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan kepada Allah, yaitu jalan yang lurus yang sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah. Sedangkan Thariqa Jahannam adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan tidak kepada Allah, yaitu jalan yang menyimpang yang tidak sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah.

Pada hakekatnya, semua manusia menginginkan yang terbaik sebagai tujuan akhir hidupnya, tapi dikarenakan keengganannya untuk mempelajari apa yang benar-benar baik buat dirinya maka dengan sendirinya ia menjadi salah paham, apa yang disangkanya baik ternyata tidak baik. Sehingga banyak manusia yang tanpa sadar telah menapaki Thariqa Jahannam, tetapi merasa sedang menapaki Thariq Al Mustaqim. Selain keterbatasan ilmu karena enggan belajar, hal ini juga bisa terjadi dikarenakan ketidakberdayaannya dalam melawan hawa nafsu.

C. Tarekat = Syare'at + Hakekat

Jalan untuk sampai kepada Allah haruslah mengikuti rute yang ditentukan, dan untuk mengetahui detail tentang rute itu haruslah memahami petunjuknya, dan petunjuk jalan itu tidak lain adalah Al Quran. Perjalanan mengikuti petunjuk Al Quran sebenarnya mudah sekali, mengapa saya katakan mudah? dikarenakan sebelum kita sudah ada orang yang menapaki jalan itu dan telah sampai ke tujuan, dialah Rasulullah Muhammad SAW. Maka ikutilah panduan Al Quran dengan melihat jejak langkah Rasulullah dalam menelusuri rute yang diarahkan oleh Al Quran, Insya Allah kita tidak akan tersesat.

Dalam setiap perjalanan pasti ada aturan mainnya, rambu-rambunya. Aturan ini meliputi seluruh aspek kehidupan, bersifat lahir maupun bathin. Aturan yang dimaksud adalah Syare'at, demikian orang Indonesia menyebutnya yang merupakan serapan dari bahasa Arab, Syari'at (pakai huruf i) ( شرىعه ). Allah sebagai pemilik jalan telah menetapkan aturan bagi siapa saja yang hendak menapaki jalan menuju-Nya. Dan aturan (syari'at) itu sendiri juga tercantum lengkap di dalam Al Quran yang merupakan petunjuk dalam perjalanan.

QS. Asy-Syura/ 42:13

Artinya: "Dia telah men-syari'at-kan untuk kamu bagian dari Al Dien, yaitu apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Al Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik Al Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Al Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

Manna al-Qathan (ahli fiqih dari Mesir) mendefinisikan syari'at sebagai segala ketentuan Allah SWT bagi hamba-Nya yang meliputi masalah 'aqidah, ibadah, akhlak dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

QS. Al Jatsiyah/ 45:18

Artinya: "Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari'at dari setiap urusan. Maka ikutilah ia dan jangan mengikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui."

Ibnu Abbas berkata, "Makna mengikuti syari'at pada ayat di atas maksudnya mengikuti petunjuk dan tuntunan dalam Al Dien."

Qatadah berkata, "Yang dimaksud dengan syar'iat adalah perintah dan larangan, serta sejumlah hukum dan kewajiban."

Jadi, syari'at adalah sejumlah perintah dan ketentuan ilahi yang menata kehidupan setiap muslim dalam seluruh aspek. Selain mencakup hukum yang bersifat pribadi ('ain), ia juga berisi kaidah politik, hukum, ekonomi, budaya etika, adab, dan perilaku sehari-hari (kifayah).

Di dalam syari'at tersimpan hakekat. Hakekat (demikian serapan bahasa Indonesia dari kata bahasa Arab Haqiqat / حقىقه) artinya kebenaran atau fakta. Kata Haqiqat sendiri merupakan salah satu dari asma Allah yaitu Al Haqq yang artinya "the absolute one" atau Yang Maha Mutlak Kebenarannya.

Dalam Al Quran, banyak sekali disebut kata ini, diantaranya dalam ayat berikut:

QS. Al Baqarah (2):42

Artinya: "Dan janganlah kamu campur adukkan yang Al Haq dengan yang Al Bathil dan janganlah kamu sembunyikan Al Haq itu, sedang kamu mengetahui"

Dalam ayat diatas, kata Al Haq adalah antonim dari kata Al Bathil. Maka kalau Al Bathil itu artinya hilang, rugi, rusak, sia-sia, berarti Al Haq adalah sesuatu yang tidak akan hilang, tidak akan rusak, dan tidak akan percuma namun pasti bermanfaat.

QS. Ali 'Imraan (3):60

Artinya: "Al Haq adalah yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu."

Dalam ayat ini jelas disebutkan dalam kalimat yang tegas bahwa Al Haq adalah yang datangnya dari Allah sebagai Rabb kita. Dengan penyebutan “predikat” Allah sebagai Rabb ini maka pengertian Al Haq dalam ayat ini merujuk kepada Rububiyatullah yang tak lain adalah Al Quran. Al Quran adalah kalamullah yang berisi ajaran Allah tentang haqiqat kehidupan manusia.

Kalam yang merupakan sesuatu yang abstrak itu membutuhkan “wadah” agar ia bisa “terakses” oleh ‘aqal manusia yang juga merupakan wadah. ‘Aqal yang terdiri dari mata, telinga, hati dan otak adalah wadah bagi sifat melihat, mendengar, merasakan (memahami) dan memikirkan, yang mana sifat-sifat tersebut hakikatnya adalah sifat Ilahiyah (ruh) yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini:

QS. Al Sajdah (32):9

Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya sebagian dari ruh-Nya (مِنْ رُوحِهِ ) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan af`idah (perasaan dan pemikiran), tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (membuka pendengaran, penglihatan, perasaan dan pemikiran itu / open mind)”

Hal ini sejalan dengan Al Quran, ia hakikatnya adalah Ruh Allah (QS. 42:52) yang berisi nilai-nilai kebenaran yang mutlak (Al Haq), yang dengannya manusia akan dapat memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya. Namun, Ruh agar bisa mewujud dalam realitas kehidupan manusia, maka ia mengharuskan adanya wadah. Wadah tersebut adalah ‘Aqal manusia. Manusia diharuskan memasukkan Ruh Allah (Al Quran) itu kedalam ‘Aqalnya sehingga pandangannya adalah pandangan Al Quran, pendengarannya adalah pendengaran Al Quran, pemikirannya adalah pemikiran Al Quran, perasaannya (pemahamannya) adalah perasaan Al Quran. Meski secara wujud ia adalah manusia, tapi hakikatnya ia adalah Al Quran.

Pertanyaannya, apakah semua manusia bisa seperti itu? Jawabannya, BISA, karena dalam diri manusia telah tertanam sesuatu yang disebut fitrah, fitrah itu adalah kecenderungan jiwa (nafsi) manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya Rabb dalam kehidupannya. Kecenderungan ini disebabkan karena nafsi pernah mengikat janji setia dengan Allah ketika nafsi belum terlahir ke dunia, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah berikut ini:

QS. Al A’raaf (7):172

Artinya: “Dan ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (nafsi) mereka: "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka (nafsi-nafsi itu) menjawab: "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)".

Dengan janji itu maka nafsi manusia menjadi terikat dengan Allah, terikat untuk selalu menerima setiap ketentuan Allah, dan terikat untuk mengisi nafsinya dengan Ruh Allah (nilai-nilai kebenaran Al Quran). Namun, kecenderungan ini bisa juga dikalahkan oleh kecenderungan lain yang juga ada dalam nafsi manusia, yaitu kecenderungan kepada keindahan dunia yang amat terasa nikmat dan membuat tubuh manusia kecanduan untuk selalu melahapnya. Inilah dua sisi manusia, kecenderungan nafsi kepada Ruh Allah yang akan membawanya kepada derajat kesucian, dan kecenderungan nafsi mengikuti hawa yang akan membawanya kepada derajat kekotoran.

QS. Al Syams (91):7-10

Artinya: “dan nafsi (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Ini dilemanya, tubuh manusia secara fakta butuh akan dunia, ia butuh makan, butuh minum, butuh energi, butuh seks, butuh berkembang biak, butuh sehat, butuh berhias, butuh mendapat perlindungan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan inilah yang terkadang membuat manusia terlupa akan bagian lain dalam dirinya yaitu nafsi (jiwa) yang juga punya kebutuhan, yaitu kebutuhan kepada Ruh Allah. Jiwa akan cenderung digerakkan kepada hawa, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh dan lupa akan kebutuhannya sendiri terhadap Ruh Allah. Keadaan ini yang berbahaya, jiwa tidak akan sampai kepada derajat suci malah justru sebaliknya kepada derajat kotor.

Maka, Allah yang Maha Penyayang membuatkan solusi atas dilema ini, Dia dengan Ilmu-Nya menciptakan sebuah cara agar manusia tetap bisa memenuhi kebutuhan tubuhnya akan dunia, tapi sekaligus juga dapat memenuhi kebutuhan jiwanya akan Ruh Allah (Al Quran). Solusi tersebut adalah diturunkannya Syari’at. Dalam pemenuhan kebutuhan tubuh, syari’at mengaturnya sedemikian rupa, sehingga tidak sampai membuat tubuh menjadi serakah akan dunia. Maka haqiqat-nya, syari’at adalah kasih sayang Allah yang diturunkan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri.

Tubuh akan cenderung malas dan berleha-leha menikmati irama waktu yang terus berjalan, maka untuk melatihnya agar disiplin, Allah men-syari’atkan kepada tubuh untuk shalat 5 waktu sehari semalam. Tubuh akan menjadi serakah dan tak akan pernah puas dalam bergelimang harta benda, mata silau ketika melihat warna-warni uang, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa mata itu harus diarahkan untuk melihat ayat-ayat Allah. Telinga akan terlena mendengar gemercik perhiasan, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa telinga itu harus diarahkan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Hati kita akan mabuk kepayang dan otak kita pun melayang-layang membayangkan senyum manis seonggok tubuh sang kekasih pujaan hati, sehingga membuat jiwa kita lupa bahwa seharusnya hati dan otak kita diarahkan untuk merasakan dan memikirkan ayat-ayat Allah. Untuk melatih tubuh kita agar tidak jatuh cinta kepada harta dunia, maka Allah mensyari’atkan kepada tubuh untuk berzakat. Telinga kita terbiasa mendengar bisik-bisik tetangga, mulut kita terbiasa menghisap rokok, lidah kita terbiasa mengecap kopi, sampai-sampai kebiasaan itu memperbudaknya. Maka agar manusia tidak terjebak menjadi budak kebiasaan, Allah mensyari’atkan puasa. Kalau tidak disyari’atkan hudud, tangan kita ini latah mengambil barang milik orang lain. Kalau tidak disyari’atkan qishash, kaki kita akan main tending saja bokong orang. Kalau tidak disyari’atkan rajam (jild), kemaluan kita ini akan masuk kemana saja ia suka. Kalau tidak disyari’atkan hukum waris, tawuran sekeluarga akan sering terjadi. Kalau tudak disyari’atkan hukuman bagi riba, akan semakin banyak orang yang bertindak sewenang-wenang. Kalau tidak disyari’atkan ini, maka akan itu, begini, begitu, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya.

Syari’at adalah hal yang tidak boleh terpisahkan dari Haqiqat, karena jiwa kita sedang berjalan menempuh THARIQAT MENUJU MA’RIFATLLAH, maka tidak mungkin ia mampu berjalan tanpa kendaraan, kendaraan itu ialah tubuh. Setelah ada kendarannya, tak mungkin ia bisa sampai kepada tujuan tanpa petunjuk jalan, petunjuk jalan itu ialah Ruh Allah (Al Quran). Tubuh diberi bahan bakar berupa SYARI’AT dan Ruh Allah dibaca dengan HAQIQAT.

Demikian tulisan yang serba singkat ini, semoga memberi manfaat kepada kita semua. Penjelasan tambahan bisa kita uraikan lebih lanjut dalam komentar.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin.


Sumber : SKI Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar