HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

27 Jan 2012

AQIQAH : MAKNA ~ HUKUM ~ PELAKSANAAN ~ DOA

Artikel tentang AQIQAH : Makna ~ Hukum ~ Kapan Pelaksanaan ~ Do'a dan hal-hal yang terkait apa yang harus dilakukan setelah bayi lahir. Artikel ini saya ambil dari sebuah grup facebook yang nampaknya bersumber dari sebuah milis di yahoogroup. Pengertian Aqiqah dalam kitab Nailul Authaar NA:224 dijelaskan bahwa: “Aqiqah ialah hewan yang disembelih karena bayi yang dilahirkan”.

1-MAKNA AQIQAH


Aqiqah adalah, menyembelih kambing untuk anak yang baru lahir, dicukur dan diberi nama akan anak itu, pada hari ketujuh setelah kelahirannya. sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan.


2-HUKUM AQIQAH


A. Hukum aqiqah adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w. baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan.

B. Dalil Aqiqah didasarkan kepada Hadits-hadits yang shahih sebagai berikut:

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu tergadai dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhari (HSB). No.1637

Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah s.a.w. perintahkan mereka (sahabat-sahabat) supaya di-aqiqahkan buat anak laki-laki dua kambing yang bersamaan (umurnya) dan buat anak perempuan satu kambing. Diriwayatkan dia oleh Tirmizi dan ia sahkan dia. Hadits Bulughul Maram. (HBM).No.1383

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi s.a.w. ‘aqiqahkan buat Hasan dan Husain, masing-masing satu kibasy. Hadis Bulughul Maram (HBM). No.1381

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w., telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Empat”, dan disahkan dia oleh Tirmizi. Hadits Bulughul Maram (HBM).No. 1385

Hadits dari Ali r.a.Rasulullah s.a.w.menyembelih ‘aqiqah Hasan se-ekor domba dan bersabda: “Hai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya, maka timbangannya sama dengan satu dirham atau setengah dirham”.

KETERANGAN:Dari Hadis HBM.No.1383 dan Hadits-hadits lain-lainnya bisa difahami bahwa ‘aqiqah buat anak yang baru dilahirkan itu, satu perintah sunnah muakkad lantaran:

(a)-Ada Hadits yang Rasulullh s.a.w., bersabda padanya: “Barangsiapa mau ‘aqiqahkan anaknya, bolehlah ia berbuat” berarti ‘aqiqah itu diserahkan kepada kemauan seseorang; jadi tidak wajib. (Sunnah muakkad hukumnya).

(b)-Ada Hadis yang menerangkan bahwa ketika seorang bertanya: Adakah lain dari zakat itu sesuatu kewajiban harta atas saya? Rasulullah s.a.w. jawab: “Tidak ada”; ini berarti bahwa ‘aqiqah itu jika wajib tentu Rasulullah s.a.w. terangkan kepadanya. Berarti hukumnya Sunnah.

C. SIAPAKAH AQIQAH ITU?

Kewajiban mengaqiqahi bagi si anak yang baru lahir adalah tanggung jawab orang tua bayi yang baru dilahirkan, yang memikul nafkah si anak. Namun demikian dapat ditunaikan oleh orang lain atas kehendaknya sendiri. (Kakeknya, atau neneknya, atau pamannya, atau buliknya, atau keluarga yang terdekat dengan dasar atas kemauan sendiri dan ikhlas).

DASAR HUKUMNYA MENGACU KEPADA:“Rasulullah s.a.w. menyembelih ‘aqiqah untuk Hasan dan Husen (cucunya Rasulullah s.a.w.), masing-masing dua ekor Kibasy / Domba”. Hadits Riwayat Nasa’i.

4.-KAPAN PELAKSANAANNYA AQIQAH?


Pelaksanaannya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi.

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih (Aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwatkan dia oleh Ahmad dan “Empat” dan disahkan dia oleh Tirmidzi. Hadits Bulughul Maram No.1385

Pelaksanaannya sebaiknya, sunnahnya, utamanya dilakukan sendiri oleh orang tua si bayi, apabila mampu..

5-JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN ‘AQIQAH.


Syarat hewan yang boleh disembelih sebagai Aqiqah sama dengan syarat hewan qurban. Jelasnya jika hewan tersebut boleh dan sah dijadikan Qurban maka sah pulalah dijadikan Aqiqah; syarat itu adalah bahwa tidak boleh disembelih hewan cacat, yang kurus, yang sakit, dan yang patah kakinya atau yang cacat..

Mengenai jenisnya apakah jantan ataukah betina? . . .jangan memberatkan apakah domba itu jantan atau betina”. Hadits Riwayat Ahmad.

6-AQIQAH TIDAK BOLEH DIGANTIKAN DENGAN UANG.


Aqiqah atau qurban, yang menjadi tujuan utamanya adalah ibadah sembelihan itu sendiri dan menumpahkan darahnya, bukan membagi-bagikan daging tersebut kepada fakir-miskin. Karena hampir dalam setiap agama ada yang namanya ibadah sembelihan.

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Setiap milah atau agama memiliki ibadah shalat dan sesembelihan tersendiri, yang tidak dapat digantikan dengan hal-hal lainnya. Oleh karena itu kalau seseorang membayar Dam haji Tamattu’ atau Haji Qiran dengan nilai uang yang berlipat-lipat jumlahnya, hal tersebut tidak akan dapat menggantikannya. Demikian pula halnya sembelihan yang lainnya seperti Qurban dan Aqiqah” (Ath-Thiflu Wa Ahkamuhu 193).

7.-PENYEMBELIHAN DAN JUMLAH KAMBING YANG AKAN DISEMBELIH.


Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan. Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing bagi bayi perempuan.

Dari Ummi Kurz Al-Ka’biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (HR. Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516)

Catatan:
Seandainya tidak sanggup menyembelih dua ekor domba / kambing untuk anak laki-laki (benar-benar tidak sanggup), maka dibolehkan menyembelih ‘aqiqah dengan seekor domba / kambing saja.

8.-DOA YANG HARUS DIUCAPKAN KETIKA MENYEMBELIH KAMBING UNTUK AQIQAH.


Dalam riwayat Imam Baihaqy disebutkan bahwa orang yang akan melaksanakan aqiqah disunakan membaca do’a ketika akan menyembelih kambing aqiqah. Adapun lafadz do’anya adalah: “Allahumma minka wa ilaika aqiiqoh fulan bin fulan” artinya “Ya Allah dari-Mu dan kembali pada-Mu aqiqah si fulan bin fulan (sebutkan nama anak yang di-aqiqahi).

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah melaksanakan aqiqah bagi Hasan dab Husain. Dan beliau pun bersabda: “katakanlah oleh kalian “Bismillahi Allahumma laka wa ilaika ‘aqiiqatu fullan bin fulan”

9-PEMBAGIAN DAGING AQIQAH.


Daging aqiqah itu dapat dibagi tiga: (1)-Dimakan sendiri, (2)-Disedekahkan kepada fakir miskin, (3)-Dihadiahkan kepada jiran / tetangga, kerabat, sanak saudara dan sebagainya.

Catatan:
Sebaiknya daging aqiqah / kambing dipotong-potong, dimasak dahulu, setelah masak dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, anak-anak yatim, kaum kerabat, tetangga terdekat yang muslim, dimasak dahulu dengan maksud untuk mempermudah membagi-bagikannya.

Mengirim daging aqiqah yang sudah dimasak kepada fakir miskin itu, lebih baik daripada kita mengundang mereka datang makan dan minum ke rumah kita, karena lebih menjaga kehormatan mereka, dan tidak menimbulkan unsur Riya’. Kecuali kita undang mereka dengan tujuan supaya mereka mendengarkan nasehat ceramah agama.

Akan tetapi, sebagaimana sunah Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetanga baik itu yang miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang melaksanakannya, serta mudah-mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut.. (At-thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad bin Ahmad Al-‘Isawiy, hal 197).

Secara ketentuan, daging aqiqah disunnah dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap. Sedangkan daging hewan qurban disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah.

10.-MENCUKUR RAMBUT


Mencukur rambut bayi merupakan sunnah, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan yang pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. Hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhary (HSB). No.1637

Mengenai faedah dari mencukur rambut bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi” (Athiflu Wa Ahkamuhu, hal 203-204)

Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak (seharga emas atau perak, seberat timbangan rambut si bayi). sesuai dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW kepada puterinya Fatimah RA: “Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin.” (HR Tirmidzi 1519 dan Al-Hakim 4/237)

Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz’u, yaitu mecukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhari Muslim). Ada sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz’u tersebut:

(a)-Mencukur rambut secara acak di sana-sini tak beraturan. (b)-Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. (c-Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya (d)-Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakan atau sebaliknya.

Untuk pencukuran disunahkan sampai habis / botak, kalau sulit dikhawatirkan melukai kulit si bayi yang masih lembut, boleh ditipiskan saja. Disunahkan mencukurnya dimulai dari sisi kanan, karena setiap pekerjaan baik hendaknya dimulai dari kanan.

11.- PEMBERIAN NAMA


Kapan pemberian nama yang tepat kepada si bayi?

Berkaitan dengan kapan sa’at yang tepat untuk pemberian nama bagi bari yang baru lahir, para ulama menyatakan hal tersebut sebaiknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah dan pencukuran rambut. Namun juga pemberian nama tersebut boleh dilakukan sebelumnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Nama bagi seseorang sangatlah penting. Ia bukan hanya merupakan indentitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. RasulullAh SAW menegaskan bahwa suatu nama (al-ism) sangatlah identik dengan orang yang diberinama (al-musamma)

Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhari 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadis di bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merubah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya” (HR. Bukhari 5836) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-‘Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak kita. Antara lain:

Dari Ibnu Umar r.a ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim 2132)

Dari Jabir r.a dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku.” (HR. Bukhari 2014 dan Muslim 2133)

Anak hendaknya diberi nama yang baik sesuai sabda Rasulullah s.a.w. Memberikan nama yang baik diharapkan akan mempengaruhi kepada yang punya nama. “Sesungguhnya kamu akan dipanggil nanti” di hari kiamat dengan namamu dan nama bapakmu, sebab itu baguskanlah namanya. HR.Ahmad dan Abu Daud.

Contoh nama yang baik seperti nama-nama yang mempunyai hubungan dengan Allah, seperti Abdul Malik, Abdul Latif, dsb. Baik juga mengambil nama-nama dari Al Qur’an yang sesuai dengan kebaikan yang kita inginkan.

Perlu dicatat, Nama menjadi indentitas diri, karena itu gunakan nama yang mencerminkan indentitas Islam dengan jelas. Karena diharapkan dengan mengenal namanya saja, orang sudah mengetahui dan maklum bahwa orang itu adalah muslim / muslimah..

Sebaiknya jangan memberi nama dengan nama asing, aneh dan tidak dikenal dengan pasti apakah muslim atau non muslim.

Pemberian nama sebelum domba aqiqah disembelih, karena dalam penyembelihan namanya akan disebut.

12 Syukuran 40 hari / aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40

,

Aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40hanya mengikuti adat. Tidak mengikuti Sunnah Rasul.

Berkaitan dengan perayaan 40 hari setelah kelahirann jabang bayi, kami berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebagaimana diatas. Kalau memang ingin memperkenalkan bayi kepada para tetangga, kenapa hal tersebut tidak dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah? Berarti tidak mengikuti sunnah Rasul, berarti tidak ada nilai ibadahnya (amal salehnya).

Kami kira, adat atau kebiasaan perayaan tersebut merupakan “warisan masa lalu” yang masih banyak dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat kita. Tentunya ini adalah tugas kita untuk menyampaikan yang sebenarnya kepada mereka berkaitan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam pelaksanaan aqiqah.

Anda dapat menyampaikan kepada mereka yang masih mengikuti adat bahwa pelaksanaan aqiqah merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah atas kelahiran bayi. Disamping itu, dalam pelaksanaannya kita juga bisa mengundang para tetangga dalam syukuran aqiqahan ini atau membagi-bagikan daging aqiqah yang sudah masak kepada mereka. Dengan sendirinya ini juga merupakan proses memperkenalkan jabang bayi yang baru lahir kepada tetangga.

Ikutilah agama Allah, tinggalkan adat kebiasaan, atau akan diahzab dan dibinasakan oleh Allah. Qs. 26:135-139

Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di "azab". Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Qs.Asy Syu’araa (26): 135 s/d 139

13.-FAEDAHNYA AQIQAH


(a)-Sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang anak dengan melaksanakan salah-satu syi’ar agama.
(b)-Aqiqah merupakan wasilah untuk taqorrub kepada Allah SWT khususnya bagi si anak yang baru lahir ke dunia.

14.-TIDAK BOLEH MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI.


Pertanyaan: Saya sewaktu kecil orang tua tidak mampu, sekarang saya sudah bekerja dan mampu mengaqiqahi diri sendiri apa bisa?

Namun demikian Imam Malik dalam At-Tamhid menyatakan bahwa: “Tidak dilaksanakan aqiqah bagi mereka yang sudah dewasa dan tidak dilaksanakan aqiqah bagi bayi yang dilahirkan kecuali pada hari ke tujuh dan jika melebihi hari ketujuh maka tidak perlu dilaksanakan aqiqah” (At-Tamhid 4/312)

Pelaksanaan aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang disunnahkan atau tidaknya pelaksanaan aqiqah oleh diri sendiri bagi mereka yang belum sempat diaqiqahi oleh orang tuanya..

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny menyatakan: Jika seseorang belum diaqiqahi, kemudian tumbuh dewasa dan mencari nafkah sendiri maka tidak ada aqiqah baginya.

Imam Ahmad ketika ditanya tentang aqiqah untuk diri sendiri, beliau menjawab: Aqiqah itu kewajiban orang tua dan tidak dibolehkan mengaqiqahi diri sendiri karena sunnahnya dilakukan oleh orang lain.

Sewaktu kecil orang tua tidak mampu meng-aqiqahi anaknya, setelah dewasa anak itu dan sudah mampu meng-aqiqahi dirinya sendiri, maka sunnah muakkad aqiqah gugur, karena orang tua tidak mampu. Sekarang anak itu mampu, hukumnya bukan aqiqah lagi, melainkan disunnahkan “Berqurban”, memotong hewan qurban pada Hari Raya Idhul Adha (Hari Raya Kurban).

15-TIDAK BOLEH MENJUAL DAGING AQIQAH.


Hukum daging aqiqah sama dengan daging qurban, yakni tidak boleh menjual kepada orang lain. Karena syariatnya adalah dengan dibagikan.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" Qs.Al Fushshilat (41): 33

Semoga bermanfaat bagi yang membaca dan yang mengamalkannya.Semoga Allah SWT selalu memberi petunjuk dan hidayah-Nya, kepada saya sekeluarga,dan para pembaca artikel ini semua, amin.


Sumber bacaan:
Al Qur’an dan terjemahnya.
Hadits Shahih Muslim,
Shahih Bukhari,
Bulughul Marom dan H
adits-hadits yang lainnya.

Sumber : Studi Komprehensif Islam
Lanjutkan Membaca ...

25 Jan 2012

Meraih Taqwa berbahan Baku Iman dan Diproses dengan Puasa

Untuk Meraih derajat taqwa, seorang mu'minin harus memproses IMAN sebagai bahan baku dan memprosesnya dengan Puasa. Simak artikel post ini, bagaimana harus men-duduk-kan , mendefinisikan, dan kesinambungan proses Iman sebagai bahan baku dari taqwa dan bagaimana peranan "PUASA" sebagai suatu proses penghasil keTAQWAan yang bersumber dari ke-imanan. Untuk dapat memahami pembahasan ini, perlu bagi anda untuk merubah "PARADIGMA" anda. Sumber artikel ini saya ambil dari sebuah page di facebook http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=217240628367171&id=211239248967309 . Semoga bermanfaat

Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahiim

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin muslimat.

Al-Baqarah : 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Ayat diatas mengandung rumus pasti matematis dan logis, yaitu:

IMAN + PUASA = TAQWA

IMAN (BAHAN BAKU) + PUASA (PROSES) = TAQWA (HASIL)
Benarkah rumus tersebut? pada realitas kehidupan masyarakat muslim khususnya di indonesia, rumus tersebut agaknya tidak selalu benar. Banyak yang telah melewatkan ramadhan dengan berpuasa selama satu bulan penuh namun pada bulan syawal ternyata derajat muttaqin itu tak menempel di dadanya. Lalu, apanya yang salah? apakah rumusnya yang salah atau apanya? mari kita kaji lebih jauh lagi.

Berdasarkan rumus diatas, TAQWA merupakan produk dari proses produksi PUASA dengan bahan bakunya yaitu IMAN. Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka diperlukan bahan baku yang baik pula, namun bahan baku yang baik jika tidak diproses dengan baik maka hasilnyapun tak akan baik. Jadi, antara bahan baku dan proses produksi harus sama-sama baik, demi mendapat hasil produksi yang baik pula. Untuk memulainya, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memilih bahan baku terbaik diantara yang terbaik.

IMAN

Definisi Iman Menurut Bahasa

ايمان adalah isim mashdar (kata benda bentukan) dari kata kerja آمَنُ (alif panjang satu harkat). آمَنُ dengan alif panjang satu harkat merupakan pentashrifan dari kata امن (alif normal). امن memiliki arti aman, percaya. آمَنُ (alif panjang satu harkat) memiliki arti mengupayakan aman, mengupayakan percaya.

امن = aman, percaya.

آمَنُ = mengupayakan aman, mengupayakan percaya.

ايمان = upaya menjaga keamanan, upaya menjaga kepercayaan.

Pak Mu'min memiliki usaha garmen dengan asset lebih dari 2 trilyun rupiah, dengan usahanya itu Pak Mu'min berhasil memiliki 5 rumah dengan nilai total 10 milyar, 3 mobil dengan nilai total 3 milyar. Dengan assetnya yang begitu banyak, pak Mu'min hidup dengan penuh tekanan karena selalu terpikirkan bagaimana mengamankan kekayaannya tersebut. Tekanan pikiran ini selalu dirasakan oleh pak Mu'min sampai suatu hari dia menemukan sebuah perusahaan asuransi yang sangat terpercaya. Perusahaan asuransi tersebut bernama PT. Al-Amin. Akhirnya setelah mempelajari dengan begitu seksama, pak Mu'min mengambil keputusan untuk mengasuransikan semua kekayaannya kepada perusahaan asuransi Al-Amin tersebut. Dan sejak saat itu akhirnya pak Mu'min terbebas dari tekanan pikiran yang selama ini dideritanya. Pak Mu'min sudah bisa tertidur pulas, karena meskipun kekayaannya hilang maka perusahaan asuransi siap menggantinya. Kepercayaan Pak Mu'min kepada PT. Al-Amin menghasilkan rasa aman didalam dirinya. Kredibilitas PT. Al-Amin berhasil menarik hati pak Mu'min untuk mempercayainya.

Definisi Iman Menurut Terminologi Al-Quran

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 2 الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 3 أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." Al-Anfaal : 2-3.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. " Al-Hujuraat : 15.

Sebetulnya banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menerangkan tentang Iman, namun pada bahasan ini kiranya ayat-ayat diatas dapat kita jadikan rujukan tentang apa itu Iman.

Berdasarkan ayat diatas, Iman adalah kepercayaan yang sungguh-sungguh telah merasuk kedalam qalbu, tak ada keraguan sedikitpun, dan dengan kepercayaannya yang begitu dalam maka ia menyerahkan semuanya kepada Allah, dan berjuang sengan segenap daya upaya dengan harta dan jiwa untuk menjaga kepercayaannya itu.

Definisi Iman Menurut Terminologi Al-Hadits

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :

“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] [1]

Definisi Iman Menurut Terminologi Ulama

Iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, mengamalkan dengan perbuatan.

Kesimpulan Definisi Iman

Definisi Iman adalah keyakinan yang teguh yang tak ada keraguan sedikitpun kepada Allah dan segenap kekuasaan-Nya, Lantas dengan keyakinannya itu dia mengikrarkan janji setia untuk menyerahkan semuanya kepada Allah, Dan dengan mentaati semua prosedurnya dia mendapatkan rasa aman dalam keyakinannya itu.

Keimanan yang benar adalah keimanan yang berdasarkan ilmu, artinya dia telah membuktikan dengan pengetahuannya bahwa hanya Allah saja yang dapat dipercaya untuk menjaga hidupnya.

Orang yang beriman kepada Allah berarti ia telah yakin dengan sepenuhnya bahwa hanya Allah saja yang pantas untuk ia bergantung kepada-Nya, Hanya Allah saja yang pantas ia berlindung dibawah kekuasaan-Nya, Hanya Allah saja yang pantas ia mengabdi kepada-Nya.

Dengan keteguhan keyakinannya itu maka ia serahkan semua yang ada padanya kepada Allah, maka berarti orang yang beriman adalah orang yang sudah tidak merasa memiliki apa yang ada padanya dan menganggap bahwa semua yang ada padanya adalah amanah dari Allah untuk ia jaga dan ia gunakan sesuai dengan kehendak yang pemberi amanah yaitu Allah.

PUASA

Banyak yang beranggapan bahwa puasa adalah menahan atau mengekang diri dari kebebasan hawa nafsu, anggapan ini kiranya masih perlu kita kaji lagi tentang kebenarannya. Karena jika puasa diartikan sebagai pengekangan dari kebebasan maka begitu kebebasan itu berakhir pada malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia adalah suatu tanggapan yang salah sama-sekali, yang akhirnya akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya tempat lagi.

Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang sebenarnya kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah berikut ini:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Beberapa hari sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan, maka dapat diperhitungkan pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang sangat berat menjalankannya, hendaknya ia membayar fid-yah dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat dia; dan bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu,kalau kamu mengerti." (al-Baqarah(2): 184)

Puasa adalah pembebasan diri dari segala bentuk perbudakan. Kenyataannya manusia adalah budak kebiasaannya. Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore sajalah, maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya, kalau benar ungkapan demikian ini. Orang yang sudah biasa merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok, maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu tertentu lalu dikatakan kepadanya: gantilah waktu-waktu itu dengan waktu yang lain, maka pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan, merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya yang sesungguhnya.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh kesadaran bahwa perintah Allah tak mungkin bertentangan dengan cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap dirinya sendiri - dengan kehendak Allah - mengenai batas-batas rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam iman belum dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa.

TAQWA

Definisi Taqwa Menurut Bahasa

Sulit sekali mendefinisikan taqwa, karena padanan kata taqwa dalam bahasa lain tidak ditemukan. Taqwa tidak ada padanan katanya dalam bahasa inggris, juga bahasa indonesia. Namun ada satu ilmu yang merupakan cabang dari ilmu nahwu dan sharraf yaitu ilmu qawa'id-ul-i'lal (kaidah-kaidah kata yang mengandung huruf 'illat).

Berdasarkan ilmu qawa'id-ul-i'laal, kata taqwa berasal dari kata dasar yaitu Qowaya (قوي) yang memiliki makna dasar yaitu kuat dan terjaga. Bahasan ini sebetulnya adalah bahasan ilmiyah yang mengatakan bahwa sesuatu akan menjadi kuat jika ia terjaga dari segala bentuk penyakit.

Definisi Taqwa Menurut Terminologi Al-Quran

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ 2 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 3 وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ 4 أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." Al-Baqarah : 2 - 5.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 133 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 134 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 135 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 136 أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." Ali 'Imraan : 133 - 136.

Taqwa adalah keimanan yang kuat yang telah terjaga dari penyakit pengotor jiwa, terjaga dari masuknya penyakit karena ia hanya mengkonsumsi nutrisi yang sehat yaitu al-Quran, terjaga dari sifat malas, lalai, dan perbuatan yang tidak berguna karena ia selalu online kepada mengingat Allah dengan shalat, terjaga dari sifat sombong, dengki, dan dendam karena ia selalu memaafkan kesalahan orang lain dan dapat mengelola amarahnya, terjaga dari bergelimang dosa karena ia segera memohon ampun dan tak mengulanginya lagi.

Definisi Taqwa Menurut Terminologi Ulama

Taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.

IMAN (BAHAN BAKU) + PUASA (PROSES) = TAQWA (HASIL)


Keimananan kepada Allah harus selalu di update agar selalu tumbuh dan berkembang menjadi keimanan yang kuat yang takkan tergoyahkan lagi, Keimanan seperti inilah yang dimiliki oleh pribadi Muttaqin. Update keimanan ini dilakukan dengan selalu memberikan nutrisi yang sehat berupa ayat-ayat Allah. Namun keimanan kepada Allah juga dapat melemah bahkan menjadi hilang dikarenakan masuknya penyakit berupa kotoran-kotoran jiwa seperti kemusyrikan, kemunafikan dan ketergantungan kepada selain Allah.

Puasa adalah proses pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran sumber penyakit. Dengan berpuasa maka seseorang sedang berupaya segenap jiwanya untuk membebaskan dirinya dari kotoran-kotoran jiwa tersebut. Dengan jiwa yang bersih dan terbebas dari penyakit maka update keimanan akan berjalan dengan mulus sehingga keimanan semakin kuat dan tak tergoyahkan lagi. Derajat keimanan inilah yang disebut dengan taqwa.

Demikianlah, kiranya benarlah rumus yang Allah jelaskan diatas. Shodaq-Allahu-l-'Adziim, Maha Benar Allah dan Maha Agung.

Terima kasih, al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

24 Jan 2012

Transportasi Umum Non Busway | Terminal Kampung Rambutan

Posting ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya tentang Transportasi Umum Non Busway dari Terminal Blok M, Semoga informasi transportasi umum mobil/bus non TRANSJAKARTA/BUSWAY yang berasal dari Terminal Kampung Rambutan maupun yang hanya melewati terminal ini bermanfaat untuk anda. Anda dapat mencocokkan tujuan anda berdasarkan wilayah tujuan seperti tujuan ke Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta selatan, Jakarta Timur, Bekasi, Cikarang, Depok, Bogor, dan Tangerang.

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Utara


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
MUARA ANGKE
MAYASARI
P 6B
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo – UKI Cawang - Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Jl. S. Parman - Latumeten - Jembatan 2 - Jembatan 3 - Pluit Putra - Pluit Indah - Muara Karang – Muara Angke
KAMPUNG RAMBUTAN –
MUARA ANGKE
PPD AC
PAC 13
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. DR. Latumeten – Jembatan 2 – Jembatan 3 – Pluit Putra - Jl. Muara Karang - Muara Angke 
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
MAYASARI
P 17
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - Ahmad Yani - Suprapto - Galur - Kemayoran - Gunung Sahari - Pangeran Jayakarta - Pintu Besar Utara - Jl.Bank - Pintu Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
MAYASARI
P 17A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani - Suprapto - Senen Raya - DR. Wahidin - Gunung Sahari - Mangga Dua Raya - Jembatan Batu - Kali Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 2
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Dewi Sartika - Otista Raya - Matraman Raya - Salemba Raya - Kramat Raya - Senen Raya - Pejambon - Merdeka Timur - Merdeka Utara - Gajah Mada - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 3
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Dewi Sartika - Otista - Jatinegara Barat - Matraman Raya - Salemba Raya - Kramat Raya - Senen Raya - DR. Wahidin - Gunung Sahari – Kampung Bandan - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 11
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi - Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Jl. MT. Haryono - Gatot Subroto - HR. Rasuna Said - Imam Bonjol - MH. Thamrin - Majapahit - Gajah Mada - Jl. Kunir - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 41
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – ?? - Jl. DR. Sahardjo - Sultan Agung - Cik Ditiro - Menteng Raya - Merdeka Timur - Merdeka Utara - Majapahit - Gajah Mada - Pintu Besar Selatan - Kali Besar Selatan - Kali Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD AC
PAC 09
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Pramuka - Salemba Raya - Kramat Raya - Pejambon - Majapahit - Gajah Mada - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD AC
PAC 79
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – MT. Haryono - Tol Dalam Kota - Rasuna Said - Imam Bonjol - Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Gajah Mada - Pintu Besar Selatan - Pintu Besar Utara - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
ANCOL
PPD
P 31
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani - Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano - Jl. RE. Martadinata - Ancol
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
P 8
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano – Terminal Tanjung Priok
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
P 8A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano - Terminal Tanjung Priok
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
AC PAC 07
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – DI. Panjaitan - Ahmad Yani - Yos Sudarso - Jl. Enggano – Terminal Tanjung Priok

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Pusat


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
KOPAJA
T 502
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi - Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Dewi Sartika - Otista - Matraman Raya - Matraman Dalam - Pegangsaan Timur - Moh. Yamin - Ridwan Rais - Merdeka Selatan - Kebon Sirih – Fachrudin – Tanah Abang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
MAYASARI
P 16
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto - Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. MH. Thamrin – Jl. Kebon Sirih – Jl. Fachrudin – Jl. Kebon Jati – Tanah Abang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
MAYASARI
AC PAC 70
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. MH. Thamrin – Jl. Kebon Sirih – Jl. Jatibaru – Jl. Fachrudin – Tanah Abang

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Barat dan Tangerang


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
PPD
BIS JEPANG
46
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Semanggi - Bunderan Slipi – Jl. S. Parman - Slipi Jaya – Tomang – Citraland – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
MAYASARI
P 6
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Tol Kota – Semanggi - Bunderan Slipi – Jl. S. Parman - Slipi Jaya – Tomang – Citraland – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
PPD AC
PAC 10A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Tol TMII - Tol Dalam Kota – Jl. Gatot Subroto - Semanggi - Jl. Sudirman – JL. MH. Thamrin - Merdeka Barat – Jl. Gajah Mada – Jl. Hasyim Ashari – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
MAYASARI
AC PAC 43
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
KALIDERES
MAYASARI
P 6A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. Daan Mogot – Terminal Kalideres
KAMPUNG
RAMBUTAN –
KALIDERES
MAYASARI
AC PAC 02
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi - Jl. S. Parman – Jl. Daan Mogot – Terminal Kalideres
KAMPUNG
RAMBUTAN - CIPUTAT
KOANTAS BIMA
510
Terminal Kampung Rambutan - Ciputat
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIPUTAT?
PPD AC
PAC14
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Jl. Tendean - Wolter Monginsidi - Trunojoyo - Panglima Polim - Raya Fatmawati - Raya Lebak Bulus - Ciputat Raya
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIPUTAT
MAYASARI
P 15A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Semanggi - Jl. Sudirman – Jl. Sisimangaraja – Jl. Kyai Maja - Velbak – Jl. Arteri Pondok Indah – Terminal Lebak Bulus – Jl. Ciputat Raya – Terminal Ciputat
KAMPUNG RAMBUTAN –
CILEDUG?
MAYASARI P19B Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto - Jl. Tendean - Wolter Monginsidi - Trunojoyo - Kyai Maja - Gandaria - Arteri Pondok Pinang - Kebayoran Lama - Jl. Raya Ciledug
KAMPUNG RAMBUTAN –
CILEDUG
MAYASARI
AC PAC 73
Terminal Kampung Rambutan - Jl. TB. Simatupang - Pondok Indah - Arteri Pondok Indah - Kebayoran Lama – Jl. Raya Ciledug – Terminal Ciledug
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANGERANG/ CIMONE
PPD AC
PAC 74
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Raya Pondok Gede - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono - Tol Dalam Kota – Bunderan Slipi - Jl. S. Parman - Tol Tangerang/Karawaci - Terminal Poris Tangerang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANGERANG/
PPD AC
AC 74A
Terminal Kampung Rambutan - Tol Kebon Nanas - Terminal Poris Tangerang

TUJUAN JAKARTA SELATAN


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
METROMINI
S 76
Terminal Kampung Rambutan - TB. Simatupang – Jl. Fatmawati - RS. Fatmawati - Cipete - Jl. Panglima Polim - Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
KOPAJA
S 605
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang - Cilandak - Ampera Raya - Jl. Bangka Raya - Jl. A. Tolib - Jl. H. A. Majid - RS. Fatmawati – Jl. Fatmawati – Cipete - Jl. Panglima Polim – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
KOPAJA
S 57
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Terminal Cililitan - PGC - Jl. Dewi Sartika – Jl. Kalibata - Jl. Pahlawan Kalibata – Jl. Pasar Minggu Raya – Jl. Duren Tiga – Jl. Mampang Prapatan – Jl. Kapten Tendean – Jl. Wolter Monginsidi – Jl. Hassanudin – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
PPD
BIS JEPANG
45
(Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo) - PGC - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Jl. Kapten Tendean – Jl. Wolter Monginsidi – Jl. Hassanudin - Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M?
PPD AC
PAC 80
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Tol Dalam Kota - Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. Sisimangaraja – Jl. Kyai Maja – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M?
STEADY SAFE
P 129
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Dewi Sartika - Kalibata – Jl. Raya Pasar Minggu - Gatot Subroto - Jl. Kapten Tendean - Wolter Monginsidi – Jl. Kyai Maja – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN –
SENAYAN
PPD AC
PAC 10
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Balai Sidang Senayan - Gerbang Pemuda - Asia Afrika - Gelora Senayan - Plaza Senayan - Bunderan Senayan – Jl. Sudirman
KAMPUNG
RAMBUTAN - LEBAK BULUS
KOANTAS BIMA
509
Kampung Rambutan - TB. Simatupang - CIlandak - Fatmawati - Lebak Bulus

TUJUAN JAKARTA Timur, Bekasi dan Cikarang


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
KAMPUNG MELAYU
METROMINI
T 53
Terminal Kampung Rambutan - TB. Simatupang – Jl. Raya Condet - Dewi Sartika - Otista - Jatinegara Timur - Matraman Raya - Jatinegara Barat – Terminal Kampung Melayu
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULO GEBANG
KOPAJA
T 48
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Kramat Jati – Jl. Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - Cipinang Besar - Cipinang Muara - Pahlawan Revolusi - Jl. SS - Perum Klender - Kantor Walikota Jakarta Timur
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULOGADUNG
KOPAJA
T 501
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Kramat Jati – Jl. Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - RS. Persahabatan - Balap Sepeda – Jl. Perintis Kemerdekaan – Terminal Pulogadung
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULOGADUNG
MAYASARI
P 98
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Raya Pondok Gede - Tol TMII - Tol Layang - Turun Pintu Tol Rawamangun - Pemuda – Jl. Raya Bekasi – Terminal Pulogadung
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 06
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Kampung Serdang - Kampung Tengah – Jl. Bogor Raya – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 08
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Kampung Duku – Jl. Bogor Raya – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 12
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Manunggal - Jl. Bungur - Jl. Pengantin Ali – Ciracas – Jl. H. Baping – Jl. Suci – Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN –
BULAK RINGIN
APK/KWK
T 18
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Manunggal - Jl. Bungur - Jl. Pengantin Ali – Jl. Muhidin – Kelapa Dua Wetan – Cibubur I II III – SMP 258 - Bulak Dukuh – Bulak Ringin
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIKARANG
MAYASARI
P 9B
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Tol Cawang - Bekasi - Tol Cibitung – Cikarang

Transportasi Umum yang Melewati Terminal Kampung Rambutan

TRAYEK ANGKUTAN RUTE
UJUNG ASPAL – TERMINAL CILILITAN APK/KWK
T 04
Jl. Raya Hankam - Pagularang - Bambu Apus - Mabes Hankam - Terminal Kampung Rambutan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. Cililitan - Terminal Cililitan

Sumber : Transportasiumum.com
Lanjutkan Membaca ...

Air Laut Dalam Potensial untuk Dikonsumsi ~ Ungkap Peneliti IPB

Air Laut Dalam Potensial untuk Dikonsumsi, demikian diungkap Peneliti Institut Pertanian Bogor. Para peneliti menyatakan bahwa air laut dalam berpotensi menjadi sumber air yang layak dikonsumsi.

Tim peneliti ini terdiri dari tiga peneliti yaitu, Prof Bonar P Pasaribu, Dr Djisman M, dan Dr Jonson L Gaol yang merupakan peneliti dalam eksplorasi dan eksploitasi air laut dalam (ALD) di Indonesia menyatakan penelitian yang mereka lakukan bisa dijadikan sebagai alternatif sumber-sumber air layak konsumsi selain di darat.

Dalam presentasinya, Jonson L Gaol menjelaskan bahwa air laut dalam (ALD) dengan kandungan mineralnya sangat penting dan bermanfaat setelah diolah dengan baik, sebagai pasokan air minum bagi kelangsungan hidup dan kesehatan tubuh manusia.

"Penyediaan air mineral laut dalam ini juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat strategis untuk mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih di masa mendatang," katanya.
Ia mengatakan, ALD setelah melalui proses desalinasi, juga memberi hasil sampingan, yaitu garam berkualitas tinggi.

Di samping itu ALD dapat diaplikasikan untuk berbagai kegunaan, yaitu untuk budi daya perikanan, pertanian, bahan kosmetik, obat-obatan, spa dan sebagai pendingin ruangan. Menurut dia, salah satu kelebihan ALD ini adalah mengandung mineral yang sangat kaya dan dibutuhkan oleh tubuh manusia. Berbeda dengan air murni dalam kemasan yang tidak mengandung mineral.

Karena manfaatnya yang sangat baik, maka industri ALD telah berkembang di Hawaii dan Jepang sejak sekitar 20 tahun silam, dan sejak sekitar lima tahun lalu Korea Selatan, Taiwan, dan India juga telah mengembangkan industri ini.

"Di Jepang sendiri terdapat 13 merek air mineral laut dalam sebagai air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di pasaran hingga sekarang," katanya.

Ia menjelaskan, ALD disedot dari kedalaman lebih dari 300 meter. Lapisan ini berada di bawah lapisan termoklin dan juga di bawah lapisan eufotik. Air di kedalaman sekitar 300 meter ini suhunya berkisar 10 derajat Celcius, bersih, kaya nutrient, kaya mineral, dan stabil.

Kondisi ALD ini berbeda dengan air laut di permukaan (di lapisan zona eufotik) yang sangat dipengaruhi proses yang terjadi di lapisan permukaan seperti fotosintesis, pencemaran, suspense sedimen dan blooming alga. Dengan demikian, katanya, ALD sangat layak untuk dijadikan sebagai sumber air minum.

"Setelah hampir dua tahun melakukan kajian, maka tahun ketiga telah mulai dibangun industri ALD di Bali," katanya. Industri yang dibangun, kata dia, masih dalam skala laboratorium untuk menghasilkan seribu liter air mineral laut dalam per hari.
Lanjutkan Membaca ...

Hadits tentang Madinah dan Keutamaannya Riwayat Muslim

Madinah adalah suatu negeri yang dibangun dan dibina oleh Rasulullah SAW, para Sahabat Beliau, Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar sebagai penduduk asli dari negeri (kota) Yathrib. Banyak hadits mengkisahkan tentang keutamaan negeri ini yang bersumber dari para periwayat Hadits, namun untuk posting kali ini, saya akan kumpulkan Hadits terkait Madinah yang sumber periwayatannya berdasarkan dari riwayat Muslim.

2. Kitab Iman

Bab 10. Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mati dalam keadaan menetapi tauhid, niscaya akan masuk surga

Hadis riwayat Itban bin Malik ra.: Dari Mahmud bin Rabi` ia berkata: Aku datang ke Madinah dan bertemu Itban. Dan aku berkata: Aku mendengar cerita tentang engkau. Itban berkata: Mataku terkena suatu penyakit. Lalu aku menyuruh orang menghadap Rasulullah saw. untuk mengatakan kepada beliau bahwa aku ingin engkau (Rasulullah saw.) datang dan mengerjakan salat di rumahku, sehingga aku dapat menjadikannya sebagai mushalla. Nabi pun datang bersama beberapa orang sahabat beliau. Beliau masuk dan mengerjakan salat di rumahku. Sementara itu para sahabat saling berbincang di antara mereka. Mereka umumnya sedang membicarakan Malik bin Dukhsyum (artinya, mereka membicarakan sikap orang-orang munafik yang buruk, di antaranya Malik). Mereka ingin Rasulullah saw. berdoa agar Malik mendapat celaka. Mereka ingin ia tertimpa malapetaka. Ketika Rasulullah saw. selesai salat, beliau bertanya: Bukankah ia bersaksi: Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Para sahabat menjawab: Memang benar ia mengucapkan itu, tetapi itu tidak ada dalam hatinya. Rasulullah saw. bersabda: Seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidak akan masuk neraka atau dimakan api neraka.( HR.MUSLIM No:48 )

Bab 52. Menjelaskan bahwa Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, bahwa Islam berlindung di antara mesjid-mesjid

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah, sebagaimana ular berkumpul di sarangnya.( HR.MUSLIM No:210 )

3. Kitab Thaharah

Bab 6. Wajib membasuh kedua kaki dengan sempurna

Hadis riwayat Abdullah bin Umru ra., ia berkata: Bersama Rasulullah saw. kami kembali dari Mekah menuju Madinah. Ketika kami berada pada sebuah oase di tengah jalan, beberapa orang tergesa-gesa menunaikan salat Asar. Mereka berwudu dengan tergesa-gesa. Lalu kami dekati mereka, tampak tumit mereka tidak terkena air, maka Rasulullah saw. bersabda: Siksa neraka bagi (pemilik) tumit itu. Sempurnakanlah wudu kalian.( HR.MUSLIM No:354 )

4. Kitab Haid

Bab 24. Dalil bahwa orang Islam tidak najis

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Abu Rafi` dari Abu Hurairah bahwa ia ditemui Nabi saw. dalam keadaan junub di salah satu jalan di Madinah. Ia menyelinap pelan-pelan dan pergi mandi. Rasulullah saw. kehilangannya. Ketika ia datang beliau bertanya: Ke mana engkau, hai Abu Hurairah? Ia menjawab: Wahai Rasulullah, baginda bertemu saya, sedangkan saya dalam keadaan junub. Saya tidak senang menemani Anda sebelum saya mandi. Rasulullah saw. bersabda: Maha Suci Allah! Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.( HR.MUSLIM No:556 )

5. Kitab Shalat

Bab 1. Permulaan azan

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Dahulu, orang-orang Islam ketika tiba di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkirakan waktu salat. Tidak ada seorang pun yang menyeru untuk salat. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata: Gunakanlah lonceng seperti lonceng orang Kristen. Sebagian yang lain berkata: Gunakanlah terompet seperti terompet orang Yahudi. Kemudian Umar berkata: Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang agar berseru untuk salat? Rasulullah saw. bersabda: Hai Bilal, bangunlah dan serulah untuk salat.( HR.MUSLIM No:568 )

Bab 36. Pembatas orang yang salat

Hadis riwayat Abu Juhaifah ra., ia berkata: Aku menemui Nabi saw. di Mekah. Saat itu beliau berada di Abthah (nama tempat) di dalam kemah yang terbuat dari kulit samakan milik beliau. Kemudian Bilal keluar membawa air wudu beliau. Ada orang yang mendapat air itu sedikit dan ada pula yang hanya diperciki oleh lainnya. Nabi saw. keluar dengan memakai pakaian merah, nampaknya aku dapat melihat betis beliau yang putih. Beliau berwudu dan Bilal mengumandangkan azan. Aku memperhatikan mulutnya bergerak kesana kemari ke kanan dan ke kiri, ia membaca: "Hayya `alas shalah, hayya `alal falah", (Marilah mengerjakan salat, marilah menuju kemenangan). Sebatang tombak pendek ditancapkan untuk Nabi. Beliau melangkah maju dan mengerjakan salat Zuhur (diqasar) dua rakaat. Keledai dan anjing lewat di depan beliau tanpa dicegah. Selanjutnya beliau mengerjakan salat Asar (diqasar) dua rakaat. Demikian kemudian beliau tak henti-hentinya mengerjakan salat dua rakaat hingga kembali ke Madinah.( HR.MUSLIM No:777 )

6. Kitab Masjid dan tempat-tempat shalat

Bab 1. Pembangunan Mesjid Nabawi

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Bahwa Rasulullah saw. tiba di Madinah. Beliau singgah di Madinah Atas, suatu daerah yang dikenal dengan Bani Amru bin Auf dan tinggal bersama mereka selama empat belas malam. (Suatu saat) beliau menyuruh untuk memanggil tokoh Bani Najar. Lalu mereka pun datang sambil menyandang pedangnya masing-masing. Nampaknya aku melihat Rasulullah saw. berada di atas hewan kendaraannya dan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan tokoh-tokoh Bani Najar mengelilingi beliau sampai tiba di halaman rumah milik Abu Ayyub. Rasulullah selalu salat di mana saja waktu salat ditemuinya. Pernah beliau salat di kandang kambing. Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun sebuah mesjid. Selanjutnya beliau memangil tokoh-tokoh Bani Najar, dan mereka pun datang. Beliau bersabda: Wahai Bani Najar, tentukan padaku harga kebun kalian ini. Mereka menjawab: Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menuntut harganya kecuali kepada Allah. Anas ra. berkata lagi: Di kebun itu ada pohon kurma, kuburan orang-orang musyrik, dan puing-puing reruntuhan. Rasulullah saw. lantas memerintahkan untuk memotong pohon kurma, menggali kuburan orang-orang musyrik dan meratakan puing. Mereka mendirikan (bekas-bekas) pohon kurma sebagai petunjuk kiblat, dan membuat pintu gerbang dari sebuah batu besar. Mereka melakukan semua itu sambil menyanyikan lagu-lagu yang dapat membangkitkan semangat dan Rasulullah saw. ikut bersama mereka. Mereka berkata: Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kebaikan selain di akhirat, tolonglah orang-orang Ansar dan orang-orang muhajirin.( HR.MUSLIM No:816 )

Bab 20. Sunat memohon perlindungan dari siksa kubur

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Dua orang nenek Yahudi Madinah datang kepadaku. Keduanya berkata: Penghuni kubur akan disiksa di dalam kuburnya. Aku pun menganggap keduanya tidak benar. Aku terlintas untuk membenarkan perkataan keduanya, kemudian keduanya keluar. Kemudian Rasulullah saw. datang menemuiku dan aku berkata: Wahai Rasulullah, dua orang nenek Yahudi Madinah datang kepadaku, mereka meyakini bahwa penghuni kubur akan disiksa di dalam kuburnya. Beliau menjawab: Mereka benar. Sesungguhnya penghuni kubur akan disiksa dengan siksaan yang dapat didengar oleh hewan ternak. Setelah itu aku lihat beliau selalu mohon perlindungan dari siksa kubur setiap salat.( HR.MUSLIM No:922 )

Bab 30. Sunat salat Asar tepat pada waktu

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan salat Asar ketika matahari masih tinggi dan masih berwarna putih menyilaukan. Kemudian seseorang pergi ke desa sekitar Madinah dan ketika sampai di desa tersebut, matahari masih tinggi (belum sampai waktu Magrib).( HR.MUSLIM No:984 )

Bab 35. Waktu Isyak dan mengakhirkan salat Isyak

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Aku dan beberapa orang sahabat yang datang di perahu bersamaku singgah di wilayah Buth-han. Saat itu, Rasulullah saw. berada di Madinah. Rasulullah saw. menggilir beberapa orang dari mereka untuk salat Isyak. Kata Abu Musa: Saat itu aku dan beberapa orang sahabatku mendapati Rasulullah saw. sedang disibukkan oleh urusannya. Jadi, beliau mengakhirkan salat sampai tengah malam. Kemudian Rasulullah saw. keluar dan salat bersama mereka. Selesai salat beliau bersabda kepada para sahabat: Tenanglah. Aku akan memberitahu dan memberikan kabar gembira kepada kalian bahwa di antara nikmat Allah yang diberikan kepada kalian ialah bahwa sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang salat di saat seperti ini selain kalian atau (kata beliau) tidak ada seorang pun yang salat selain kalian. Kami tidak tahu kata yang mana yang beliau ucapkan. Abu Musa berkata: Lalu kami pulang dengan perasaan gembira karena berita yang kami dengar dari Rasulullah.( HR.MUSLIM No:1014 )

Bab 36. Sunat melakukan salat subuh sedini mungkin dan menjelaskan kadar bacaannya

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.: Dari Muhammad bin Amru bin Hasan bin Ali, ia berkata: Ketika Hajjaj tiba di Madinah, kami bertanya kepada Jabir bin Abdullah. Dia menjawab: Rasulullah saw. menunaikan salat Zuhur di tengah siang hari yang sangat panas, salat Asar saat matahari masih nampak bersinar terang, salat Magrib saat matahari telah terbenam, salat Isyak kadang di akhirkan dan kadang di awal waktu. Apabila beliau melihat para sahabat telah berkumpul, beliau segera melaksanakan salat Isyak dan bila melihat mereka terlambat (kumpul) beliau mengakhirkannya. Nabi menunaikan salat Subuh pada dini hari.( HR.MUSLIM No:1023 )

Hadis riwayat Abu Barzah ra.: Dari Sayyar bin Salamah, ia berkata: Aku mendengar bapakku bertanya kepada Abu Barzah tentang salat Rasulullah saw. Dia jawab: Rasulullah saw. tidak peduli kadang-kadang melakukan salat Isyak di tengah malam. Beliau tidak tidur sebelumnya dan tidak bercakap-cakap setelahnya. Syu`bah berkata: Kemudian aku menjumpainya dan aku menanyakannya. Dia menjawab: Beliau melakukan salat Zuhur saat matahari tergelincir (condong ke barat), salat Asar saat seseorang melakukan perjalanan ke batas kota Madinah sedang matahari masih bersinar terang. Mengenai salat Magrib, saya tidak mengerti waktu yang telah dijelaskannya. Pada kesempatan lain Abu Barzah mengatakan: Beliau melakukan salat Subuh saat hari masih reman-remang. Dan biasanya beliau membaca enam puluh sampai seratus ayat.( HR.MUSLIM No:1024 )

7. Kitab Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar

Bab 1. Shalat orang yang bepergian dan qasar shalat

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Kami pergi dari Madinah ke Mekah bersama Rasulullah saw. Beliau selalu salat dua rakaat sampai beliau kembali (ke Madinah). Aku bertanya: Berapa lama baginda akan tinggal di Mekah? Beliau menjawab: Sepuluh hari.( HR.MUSLIM No:1118 )

Hadis riwayat Anas ra.: Bahwa Rasulullah saw. menunaikan salat Zuhur di Madinah sebanyak empat rakaat dan di Dzul Hulaifah sebanyak dua rakaat.( HR.MUSLIM No:1114 )

Bab 16. Salat malam dan orang yang tertidur atau sakit sehingga tidak dapat melakukannya

Hadis riwayat Aisyah ra.: Dari Zurarah, bahwa Saad bin Hisyam bin Amir ingin berperang di jalan Allah. Ketika datang ke Madinah, ia bertemu dengan beberapa orang dari penduduk Madinah. Mereka melarang Saad bin Hisyam melaksanakan keinginannya tersebut dan mereka mengabarkannya bahwa pada masa Nabi saw. ada enam orang sahabat bermaksud seperti itu tetapi Rasulullah saw. melarang mereka dan beliau bersabda: Bukankah aku adalah suri teladan bagi kalian semua? Mendengar cerita mereka itu Saad lalu merujuk istrinya yang sudah diceraikan serta mengambil saksi atas rujuknya itu. Setelah itu ia menemui Ibnu Abbas dan bertanya tentang salat witir Rasulullah saw. Ibnu Abbas berkata: Maukah engkau aku tunjukkan seseorang yang paling tahu witirnya Rasulullah? Saad menjawab: Siapakah ia? Ibnu Abbas menjawab: Aisyah ra. Temui dan bertanyalah kepadanya. Setelah itu datanglah kepadaku dan kabarkan apa jawabannya. Kemudian aku berangkat menemuinya. Di perjalanan aku bertemu dengan Hakim bin Aflah. Aku minta ditemani untuk menemuinya (Aisyah). Lalu ia (Hakim) berkata: Aku bukan kerabatnya dan aku pernah melarangnya berbicara sesuatu tentang (sengketa) dua golongan itu, tetapi ia enggan dan terus pada sikapnya. Kemudian aku yakinkan dengan bersumpah di hadapannya (Hakim). Kami pun akhirnya berangkat menemui Aisyah. Kami minta izin kepadanya dan dipersilakan. Kami masuk ke rumahnya. Aisyah bertanya: Apakah ini Hakim? Ia mengenalnya, maka ia (Hakim) menjawab: Benar. Ia (Aisyah) bertanya lagi: Siapa yang bersamamu? Hakim menjawab: Saad bin Hisyam. Aisyah bertanya lagi: Hisyam siapa? Hakim menjawab: Hisyam bin Amir. Aisyah lalu berdoa semoga Allah memberi rahmat kepada Amir serta mengatakan hal-hal yang baik tentangnya. Qatadah berkata bahwa ia luka-luka ketika perang Uhud. Aku bertanya: Wahai Ummul Mukminin! Terangkan kepadaku mengenai akhlak Rasulullah saw. Aisyah menjawab: Bukankah engkau membaca Alquran? Aku menjawab: Tentu. Aisyah berkata: Sesungguhnya akhlak Nabi saw. adalah Alquran. Waktu itu aku hendak berdiri untuk pamitan dan aku sudah bertekad untuk tidak bertanya kepada siapa pun tentang sesuatu apapun sampai aku meninggal dunia. Namun mendadak aku teringat sesuatu, maka aku bertanya: Terangkan kepadaku tentang salat malam Rasulullah saw. Ia (Aisyah) menjawab: Bukankah engkau pernah membaca firman Allah: "Wahai orang yang berselimut?" Aku menjawab: Benar. Ia (Aisyah) berkata: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung telah mewajibkan salat malam pada awal surat tersebut. Dan selama satu tahun Nabi saw. adn para sahabat melaksanakan kewajiban itu. Selama dua belas bulan, kelanjutan ayat tersebut ditahan Allah di langit, sampai pada bagian akhir surat tersebut akhirnya diturunkan Allah yang berisi keringanan. Sejak saat itu hukum salat malam menjadi sunat, tidak wajib. Aku berkata lagi: Wahai Ummul Mukminin! Terangkan kepadaku mengenai salat witir Rasulullah saw. Aisyah menjawab: Saya biasa menyediakan alat siwak dan air untuk wudu beliau. Atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari. Setelah bersiwak dan berwudu, beliau melakukan salat sebanyak sembilan rakaat dan hanya duduk pada rakaat yang kedelapan. Setelah berzikir, memuji dan berdoa kepada Allah, beliau bangkit dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri meneruskan rakaat yang kesembilan. Lalu duduk seraya berzikir kepada Allah, menuju dan berdoa kepada-Nya, kemudian mengucapkan salam yang terdengar olehku. Sesudah salam masih dalam keadaan duduk, beliau melakukan salat dua rakaat lagi. Jadi semuanya berjumlah sebelas rakaat. Namun ketika Nabi saw. berusia lanjut dan kian gemuk, beliau hanya melakukan salat sunat witir sebanyak tujuh rakaat saja. Beliau lakukan di dalam kedua rakaat itu seperti yang beliau lakukan pada yang pertama. Jadi jumlahnya sembilan. Nabi saw. jika melakukan salat, maka beliau suka untuk terus melestarikannya. Apabila beliau berhalangan, misalnya tertidur atau sakit sehingga tidak dapat malakukan salat malam, maka beliau akan melakukan di siang hari sebanyak dua belas rakaat. Aku tidak pernah menjumpai Nabi saw. membaca Alquran seluruhnya dalam satu malam dan aku juga tidak pernah menjumpai Nabi saw. melakukan salat semalaman sampai Subuh atau melakukan puasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Setelah mendengar jawaban dari Aisyah tersebut, aku menemui Ibnu Abbas dan menceritakannya kembali kepadanya. Kata Ibnu Abbas: Aisyah benar. Seandainya aku dekat atau boleh menemuinya, niscaya akan aku datangi sendiri ia sehingga ia bercerita langsung kepadaku. Aku berkata: Kalau aku tahu engkau tidak boleh menemuinya, aku tidak akan menceritakan kepadamu ceritanya tersebut.( HR.MUSLIM No:1233 )

Bab 41. Sunat salat dua rakaat sebelum salat Magrib

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Kami sedang berada di Madinah ketika muazin mengumandangkan azan untuk salat Magrib, orang-orang berlomba ke tiang-tiang mesjid untuk melakukan salat sunat dua rakaat sebelum Magrib, sampai-sampai seseorang yang masuk mesjid mengira bahwa salat Magrib telah dilaksanakan karena banyaknya orang yang melakukannya.( HR.MUSLIM No:1383 )

8. Kitab Jumat

Bab 1. Kewajiban mandi Jumat atas setiap lelaki dewasa dan keterangan tentang beberapa hal yang dianjurkan

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Biasanya kaum muslimin berangkat untuk melaksanakan salat Jumat dari rumah-rumah mereka dari desa-desa sekitar Madinah dengan memakai abaya (sejenis jubah). Debu-debu mengenai mereka, sehingga mengeluarkan bau tubuh. Lalu seseorang di antara mereka mendatangi Rasulullah saw. yang berada di dekatku. Rasulullah saw. bersabda: Sepatutnya kalian mandi untuk menyambut hari ini.( HR.MUSLIM No:1398 )

13. Kitab Zakat

Bab 7. Tentang orang yang menimbun harta dan kecaman keras terhadap mereka

Hadis riwayat Abu Zar ra.: Dari Ahnaf bin Qais, ia berkata: Aku datang ke Madinah. Ketika sampai di suatu halaqah (majlis taklim), di dalamnya terdapat beberapa pemuka Quraisy, tiba-tiba datang seorang lelaki yang kasar pakaiannya, kasar badannya dan buruk wajahnya, ia berhenti pada mereka dan berkata: Kabarkan kepada orang-orang yang menimbun harta (dan tidak mau mengeluarkan zakat) dengan batu bara yang akan dipanaskan di dalam neraka Jahanam, lalu diletakkan pada puting buah dada salah seorang di antara mereka kemudian menembus sampai tulang rawan di ujung kedua bahunya dan diletakkan pada tulang rawan di ujung kedua bahunya hingga tembus sampai puting buah dadanya sambil bergetar-getar. Ia (Ahnaf) berkata: Maka mereka semua tertunduk malu (karena ucapan tersebut). Aku tidak melihat seorang pun di antara mereka yang memandangnya kembali. Lalu orang itu pergi. Aku mengikutinya sampai ia berhenti pada sebuah rombongan. Aku berkata: Aku tidak melihat pada mereka, kecuali ketidaksukaan terhadap apa yang engkau katakan kepada mereka. Orang itu berkata: Orang-orang itu tidak tahu apa-apa. Dahulu orang yang kucintai, Abul Qasim (Rasulullah) saw. memanggilku, lalu aku memenuhi panggilannya. Beliau bertanya: Apakah engkau melihat gunung Uhud? Aku (orang itu) memandang matahari yang menyengatku, aku menyangka bahwa beliau (Rasulullah saw.) akan mengutusku untuk suatu keperluan. Aku menjawab: Aku melihatnya. Rasulullah saw. bersabda: Tidak membuat aku senang seandainya aku mempunyai emas sebesar (gunung Uhud) itu yang aku belanjakan seluruhnya, kecuali tiga dinar. Kemudian orang-orang itu mengumpulkan dunia, mereka tidak memikirkan apa-apa. Katanya (Ahnaf): Aku bertanya: Ada masalah apa antara engkau dengan saudara-saudaramu dari Quraisy? Kenapa engkau tidak mendatangi dan meminta kepada mereka lalu engkau mendapatkan bagian dari mereka? Orang itu berkata: Tidak, demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia kepada mereka dan tidak akan meminta fatwa agama kepada mereka sampai aku bertemu Allah dan Rasul-Nya.( HR.MUSLIM No:1656 )

Bab 10. Keutamaan nafkah dan sedekah kepada kaum kerabat, istri, anak-anak dan kedua orang tua meskipun mereka adalah orang-orang musyrik

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Abu Thalhah adalah seorang sahabat Ansar yang paling banyak harta di Madinah. Dan harta yang paling ia sukai adalah kebun Bairaha. Kebun itu menghadap ke mesjid Nabawi. Rasulullah saw. biasa masuk ke kebun itu untuk minum airnya yang tawar. Anas berkata: Ketika turun ayat ini: Sekali-kali kalian tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Allah telah berfirman dalam kitab-Nya: Sekali-kali kalian tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai, sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha, maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebaikan dan simpanannya (pahalanya di akhirat) di sisi Allah. Oleh sebab itu, pergunakanlah kebun itu, wahai Rasulullah, sekehendakmu. Rasulullah saw. bersabda: Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan mengenai kebun itu. Dan aku berpendapat, hendaknya kebun itu engkau berikan kepada kaum kerabatmu. Lalu Abu Thalhah membagi-bagi kebun itu dan memberikannya kepada kaum kerabat dan anak-anak pamannya.( HR.MUSLIM No:1664 )

14. Kitab Puasa

Bab 17. Puasa pada hari Asyura'

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura' dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, beliau bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya.( HR.MUSLIM No:1897 )

Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.: Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berpidato di Madinah pada hari Asyura' ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Ia bertanya: Di manakah ulama-ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang hari ini. Hari ini adalah hari Asyura' dan Allah tidak mewajibkan kalian melaksanakan puasa pada hari ini, tetapi aku berpuasa. Maka barang siapa di antara kalian ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa di antara kalian ingin berbuka, maka silakan tidak puasa.( HR.MUSLIM No:1909 )

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura'. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa.( HR.MUSLIM No:1910 )

Bab 18. Barang siapa makan pada siang hari Asyura', maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya

Hadis riwayat Rubayyi` binti Muawwidz bin Afra' ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengirim surat ke kampung-kampung Ansar di sekitar Madinah yang isinya: Barang siapa yang pada pagi hari ini dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya itu. Barang siapa yang pada pagi hari ini tidak berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya. Setelah itu kami berpuasa, bahkan kami menyuruh anak-anak kami yang masih kecil untuk ikut berpuasa bersama kami atas izin Allah. Sehingga ketika kami berangkat ke mesjid, kami membuatkan untuk mereka (anak-anak kami) mainan dari bulu kambing kibasy. Jika di antara mereka ada yang menangis minta makan, maka kami (hiburnya) dengan memberikan mainan tersebut. Demikian yang kami lakukan sampai kami semua boleh berbuka.( HR.MUSLIM No:1919 )

16. Kitab Haji

Bab 2. Mikat haji dan umrah

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. menetapkan mikat-mikat berikut: untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam adalah Juhfah, untuk penduduk Najed adalah Qarnul Manazil dan untuk penduduk Yaman adalah Yalamlam. Mikat-mikat itu adalah untuk penduduk daerah-daerah tersebut dan selain penduduk tersebut yang datang melewatinya untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Adapun untuk penduduk daerah sebelum mikat-mikat tersebut, maka mikat mereka adalah dari rumah mereka dan seterusnya sampai penduduk Mekah, mereka niat ihram dari rumah-rumah mereka.( HR.MUSLIM No:2022 )

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Penduduk Madinah berniat ihram dari (mikat) Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, sedangkan penduduk Najed dari Qarnul Manazil. Abdullah bin Umar berkata: Aku diberitahu bahwa Rasulullah saw. bersabda: Penduduk Yaman berniat ihram dari (mikat) Yalamlam.( HR.MUSLIM No:2024 )

Bab 52. Sunah mengirimkan hewan kurban ke Tanah Haram (Mekah) bagi orang yang tidak ingin pergi ke sana dan sunah mengalunginya serta memintal tali kalungnya dan bahwa pengirimnya tidak menjadi seorang yang berihram sehingga tidak ada yang diharamkan atasnya

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengirim hewan kurban dari Madinah sehingga akulah yang memintal tali kalung hewan kurbannya itu kemudian beliau tidak menjauhi apapun yang dijauhi oleh orang yang berihram.( HR.MUSLIM No:2331 )

Bab 60. Doa ketika pulang dari perjalanan menunaikan ibadah haji atau yang lainnya

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Kami pernah berangkat pulang bersama Rasulullah, Abu Thalhah dan Shafiah yang dibonceng di belakang unta beliau sampai ketika kami telah menjelang Madinah, beliau berdoa: Kami pulang, bertobat, mengabdi dan kami memuji kepada Tuhan kami. Beliau selalu membaca doa itu sampai kami tiba di Madinah.( HR.MUSLIM No:2395 )

Bab 68. Keutamaan Madinah, doa Nabi saw. agar kota itu diberkahi, penjelasan tentang pengharaman kota itu berikut hewan buruan serta pohonnya dan penjelasan tentang batas-batasnya

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Dari `Ashim ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Rasulullah saw. telah mengharamkan Madinah? Anas menjawab: Ya, yaitu antara gunung ini sampai gunung ini, maka barang siapa yang berbuat bidah di Madinah. Ia melanjutkan: Kemudian ia berkata lagi kepadaku: Ini adalah ancaman, barang siapa yang berbuat bidah, maka ia akan terkutuk oleh laknat Allah, para malaikat serta seluruh manusia dan Allah tidak akan menerima tobat dan tebusan darinya pada hari kiamat.( HR.MUSLIM No:2429 )

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. berdoa: Ya Allah! Jadikanlah keberkahan Madinah dua kali lipat dari keberkahan Mekah.( HR.MUSLIM No:2432 )

Hadis riwayat Abdullah bin Zaid bin `Ashim ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Mekah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku pun mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Mekah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Mekah.( HR.MUSLIM No:2422 )

Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.: Dari Yazid bin Syarik bin Thariq, ia berkata: Ali bin Abu Thalib berpidato di hadapan kami, ia berkata: Barang siapa yang beranggapan bahwa kita mempunyai sesuatu yang kita baca selain Alquran dan shahifah ini, (yaitu shahifah yang tergantung pada sarung pedangnya), maka ia telah berdusta. Di dalamnya terdapat beberapa masalah tentang gigi unta dan luka serta sabda Nabi saw.: Madinah adalah tanah haram, dari gunung `Air sampai gunung Tsaur, maka barang siapa yang berbuat bidah di dalamnya atau melindungi seorang pembidah, maka ia akan dikutuk dengan laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia dan Allah tidak akan menerima tobat dan tebusannya pada hari kiamat. Tanggung jawab kaum muslimin itu satu yang turut diemban oleh orang yang paling rendah (derajat) di antara mereka. Barang siapa yang dinasabkan kepada selain bapaknya atau berloyalitas kepada selain tuannya, maka ia akan dikutuk dengan laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia dan Allah tidak akan menerima tobat serta tebusannya pada hari kiamat nanti.( HR.MUSLIM No:2433 )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw. beliau bersabda: Madinah itu adalah tanah haram. Barang siapa yang berbuat bidah di dalamnya atau melindungi seorang pembidah, maka ia akan terkutuk dengan laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia dan Allah tidak akan menerima tobat serta tebusannya pada hari kiamat.( HR.MUSLIM No:2434 )

Bab 69. Anjuran menetap di Madinah dan bersabar atas penderitaan yang terjadi di kota itu

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Kami tiba di Madinah, ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu. Ketika Rasulullah saw. menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa: Ya Allah, jadikanlah kami sebagai pecinta Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Mekah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkahilah untuk kami dalam setiap sha` serta mudnya dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah.( HR.MUSLIM No:2444 )

Bab 70. Tentang kota Madinah terlindung dari taun dan Dajjal

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Di setiap jalan-jalan Madinah itu terdapat malaikat (yang menjaga) agar tidak dimasuki wabah penyakit dan Dajjal.( HR.MUSLIM No:2449 )

Bab 71. Tentang orang-orang kafir dan munafik akan terusir dari Madinah

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Akan datang suatu zaman di mana seorang lelaki mengajak saudara sepupunya atau kerabatnya yang lain: Marilah bersenang-senang! Marilah bersenang-senang! Padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, setiap orang dari mereka yang meninggalkan Madinah karena tidak menyukainya, maka Allah akan menggantikan dengan orang yang lebih baik daripadanya. Ketahuilah, sesungguhnya Madinah itu seperti alat peniup api yang akan mengeluarkan segala yang kotor (orang kafir dan munafik). Kiamat tidak akan terjadi sebelum Madinah mengeluarkan orang-orang jahat yang berada di dalamnya seperti alat peniup api yang menyisihkan kotoran besi.

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.: Bahwa seorang Arab badui membaiat Rasulullah saw. kemudian ia terserang penyakit demam yang hebat sekali di Madinah sehingga datanglah ia menghadap Nabi saw. kembali dan berkata: Wahai Muhammad, batalkanlah baiatku! Rasulullah saw. menolak. Kemudian ia menemui beliau lagi dan berkata: Batalkanlah baiatku! Rasulullah saw. menolak kembali. Kemudian ia datang lagi kepada beliau dan berkata: Batalkanlah baiatku! Dan Rasulullah saw. tetap menolak sehingga keluarlah orang badui itu lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Madinah itu seperti alat peniup api yang akan mengeluarkan segala kemaksiatan dan memurnikan segala kebaikan yang ada di dalamnya.( HR.MUSLIM No:2453 )

Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra.: Dari Nabi saw. beliau bersabda: Sesungguhnya ia adalah negeri yang baik sekali yaitu Madinah, sesungguhnya ia akan mengeluarkan segala kotoran seperti api mengeluarkan kotoran perak.( HR.MUSLIM No:2454 )

Bab 72. Tentang siapa yang bermaksud jahat kepada penduduk Madinah, maka Allah akan menghancurkannya

Hadis riwayat Sa`ad bin Abu Waqqash ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang bermaksud jahat terhadap penduduk Madinah, maka Allah akan melarutkannya (membinasakannya) seperti garam yang larut di dalam air.( HR.MUSLIM No:2458 )

Bab 73. Anjuran mencintai Madinah setelah penaklukan beberapa kota lain

Hadis riwayat Sufyan bin Abu Zuhair ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda: Kota Syam ditaklukkan, lalu keluarlah orang-orang bersama keluarga mereka dari Madinah sambil mempengaruhi yang lain untuk ikut keluar (pindah). Padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahui. Kemudian kota Yaman ditaklukkan, lalu keluarlah orang-orang bersama keluarga mereka dari Madinah sambil mempengaruhi yang lain untuk ikut keluar. Padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahui. Kemudian kota Irak ditaklukkan juga, lalu keluarlah orang-orang bersama keluarga mereka dari Madinah sambil mempengaruhi yang lain untuk ikut keluar. Padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahui.( HR.MUSLIM No:2459 )

Bab 74. Tentang kota Madinah ketika ditinggalkan penduduknya

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Madinah: Kota Madinah itu akan ditinggalkan oleh penduduknya dan ia akan tetap baik seperti sebelumnya meskipun hanya dihuni oleh awafi, yaitu binatang buas dan burung.( HR.MUSLIM No:2461 )

Bab 76. Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita cintai

Hadis riwayat Abu Humaid ra., ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk kemudian kami datang sampai tiba di Wadil Qura lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku akan bergegas dan barang siapa yang ingin, maka bergegaslah ia bersamaku dan barang siapa yang ingin menetap maka silakan ia menetap! Lalu kami pun keluar sampai mendekati Madinah, Rasulullah saw. bersabda: Ini adalah Thabah dan itu adalah Uhud, bukit yang kita cintai dan mencintai kita.( HR.MUSLIM No:2466 )

17. Kitab Nikah

Bab 9. Tentang seorang ayah yang menikahkan anak gadisnya yang masih kecil

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. menikahiku pada saat aku berusia enam tahun dan beliau menggauliku saat berusia sembilan tahun. Aisyah ra. melanjutkan: Ketika kami tiba di Madinah, aku terserang penyakit demam selama sebulan setelah itu rambutku tumbuh lebat sepanjang pundak. Kemudian Ummu Ruman datang menemuiku waktu aku sedang bermain ayunan bersama beberapa orang teman perempuanku. Ia berteriak memanggilku, lalu aku mendatanginya sedangkan aku tidak mengetahui apa yang diinginkan dariku. Kemudian ia segera menarik tanganku dan dituntun sampai di muka pintu. Aku berkata: Huh.. huh.. hingga nafasku lega. Kemudian Ummu Ruman dan aku memasuki sebuah rumah yang di sana telah banyak wanita Ansar. Mereka mengucapkan selamat dan berkah dan atas nasib yang baik. Ummu Ruman menyerahkanku kepada mereka sehingga mereka lalu memandikanku dan meriasku, dan tidak ada yang membuatku terkejut kecuali ketika Rasulullah saw. datang dan mereka meyerahkanku kepada beliau.( HR.MUSLIM No:2547 )

22. Kitab Pengairan

Bab 31. Larangan menjual perak dengan emas dalam bentuk utang

Hadis riwayat Barra` bin Azib ra.: Dari Abul Minhal ia berkata: Seorang kawan berserikatku menjual perak dengan cara kredit sampai musim haji lalu ia datang menemuiku dan memberitahukan hal itu. Aku berkata: Itu adalah perkara yang tidak baik. Ia berkata: Tetapi aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Maka aku (Abul Minhal) mendatangi Barra` bin `Azib dan menanyakan hal itu. Ia berkata: Nabi saw. tiba di Madinah sementara kami biasa melakukan jual beli seperti itu, lalu beliau bersabda: Selama dengan serah-terima secara langsung, maka tidak apa-apa. Adapun yang dengan cara kredit maka termasuk riba. Temuilah Zaid bin Arqam, karena ia memiliki barang dagangan yang lebih banyak dariku. Aku lalu menemuinya dan menanyakan hal itu. Ia menjawab seperti jawaban Barra`.( HR.MUSLIM No:2975 )

Bab 36. Jual-beli salam (pemesanan)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Nabi saw. tiba di Madinah sedang penduduknya biasa melakukan pemesanan buah-buahan dengan harga kontan selama satu sampai dua tahun. Maka beliau bersabda: Barang siapa yang membeli kurma dengan cara memesan, hendaklah ia memesan dalam takaran yang diketahui atau timbangan yang diketahui serta batas waktu yang diketahui pula.( HR.MUSLIM No:3010 )

28. Kitab Qusamah, pemberontak, qishah dan diyat

Bab 2. Hukum kelompok penyamun dan orang-orang murtad

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Bahwa beberapa orang dari Urainah tiba di Madinah untuk menghadap Rasulullah saw. lalu mereka terserang penyakit perut yang parah. Kepada mereka Rasulullah saw. menganjurkan: Kalau kamu sekalian ingin, kamu dapat keluar mencari unta sedekah lalu kalian meminum susu dan air kencingnya. Kemudian mereka melakukan anjuran itu sehingga sembuhlah mereka. Tetapi kemudian mereka menyerang para penggembala dan membunuh mereka semua bahkan mereka juga murtad dari Islam serta menggiring (merampas) unta-unta milik Rasulullah saw. Sampailah berita itu kepada Rasulullah saw. lalu beliau mengutus pasukan untuk mengejar dan menangkap mereka. Mereka lalu dihadapkan kepada Rasulullah, kemudian beliau memotong tangan dan kaki mereka serta mencukil mata mereka. Kemudian beliau membiarkan mereka di Harrah sampai meninggal dunia.( HR.MUSLIM No:3162 )

32. Kitab Jihad dan ekspedisi

Bab 16. Mengusir orang-orang Yahudi dari Hijaz

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa kaum Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidhah selalu memerangi Rasulullah saw., sehingga Rasulullah pun lalu mengusir Bani Nadhir dan membiarkan Bani Quraidhah sekaligus membebaskan mereka. Namun setelah itu Bani Quraidhah juga ikut memerangi, maka beliau pun lalu membunuh kaum lelaki mereka serta membagikan kaum wanita, anak-anak kecil berikut harta benda mereka di antara kaum muslimin. Kecuali mereka yang meminta perlindungan kepada Rasulullah saw., maka beliau pun memberikan keamanan kepada mereka sehingga berimanlah mereka. Rasulullah saw. juga mengusir orang-orang Yahudi Madinah seluruhnya, yaitu; Bani Qainuqa` (kaum Abdullah bin Salam), Yahudi Bani Haritsah dan setiap orang Yahudi yang berada di Madinah.( HR.MUSLIM No:3312 )

Bab 19. Kaum Muhajirin mengembalikan lagi kepada kaum Ansar pemberian mereka berupa pohon dan buah-buahan ketika mereka sudah merasa cukup dengan hasil penaklukan beberapa negeri

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah dari Mekah, di mana mereka tiba tanpa memiliki sesuatu apa pun sementara kaum Ansar adalah kaum yang memiliki tanah serta perkebunan kurma. Lalu kaum Ansar membagikan kepada mereka atas dasar kaum Muhajirin akan mereka berikan setengah dari hasil buah-buahan milik mereka setiap tahun serta nafkah secukupnya agar mereka tidak perlu lagi bekerja dan biaya. Ummu Anas bin Malik atau yang biasa dipanggil Ummu Sulaim dan Ummu Abdullah bin Abu Thalhah adalah saudara Anas seibu. Ummu Anas bin Malik tersebut pernah memberikan buah kurma kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. memberikan kurma tersebut kepada Ummu Aiman, budak perempuannya, yaitu ibu Usamah bin Zaid. Ibnu Syihab mengatakan: Aku pernah mendapat cerita dari Anas bin Malik: Sesungguhnya Rasulullah saw. ketika selesai melakukan pertempuran dengan penduduk Khaibar, lalu kembali ke Madinah, beliau melihat orang-orang Muhajirin mengembalikan pemberian-pemberian yang pernah mereka terima dari kaum Ansar. Demikian pula apa yang pernah diberikan oleh ibuku kepada Rasulullah juga dikembalikan lagi dan Ummu Aiman diganti dengan kebun Rasulullah saw.( HR.MUSLIM No:3318 )

Bab 25. Perdamaian Hudaibiah di Hudaibiah

Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.: Dari Abu Wail ra. ia berkata: Pada perang Shiffin, Sahal bin Hunaif berdiri dan berkata: Wahai manusia! Tuduhlah diri kamu sekalian, kita telah bersama Rasulullah saw. pada hari perjanjian Hudaibiah. Seandainya kita memilih berperang, niscaya kita akan berperang. Peristiwa itu terjadi pada waktu perjanjian damai antara Rasulullah saw. dengan kaum musyrikin. Lalu datanglah Umar bin Khathab menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil? Rasulullah saw. menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh berada di surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh berada di neraka? Rasulullah saw. kembali menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Kalau begitu, mengapa kita memberikan kehinaan bagi agama kita lalu kembali pulang padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka? Rasulullah saw. bersabda: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya. Lalu Umar bertolak kembali dalam keadaan tidak sabar dan emosi menemui Abu Bakar dan berkata: Wahai Abu Bakar! Bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka itu di pihak yang batil? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh akan masuk surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh akan masuk neraka? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya lagi: Kalau demikian, mengapa kita harus memberikan kehinaan kepada agama kita dan kembali pulang (Madinah) padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka. Abu Bakar menjawab: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya beliau itu adalah utusan Allah. Percayalah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan beliau. Selanjutnya turunlah ayat Alquran atas Rasulullah saw. membawa berita kemenangan lalu beliau mengutus seseorang menemui Umar untuk membacakan ayat itu kepadanya. Umar bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ini tanda kemenangan? Beliau menjawab: Ya. Kemudian legalah hati Umar dan ia pun segera berlalu.( HR.MUSLIM No:3338 )

Bab 29. Doa Nabi saw. dan kesabaran beliau menanggung siksaan orang-orang munafik

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.: Bahwa Nabi saw. pernah menunggangi seekor keledai berpelana yang di bawahnya terdapat sepotong selimut tua buatan Fadak sambil membonceng Usamah di belakangnya untuk menjenguk Sa`ad bin Ubadah di perkampungan Bani Harits bin Khazraj sebelum perang Badar. Hingga lewatlah beliau di hadapan sekelompok orang-orang campuran terdiri dari kaum muslimin, kaum musyrikin penyembah berhala dan orang-orang Yahudi. Di antara mereka terdapat Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Rawahah. Ketika sekumpulan orang itu (majelis) telah penuh diselubungi debu bekas gerak tapak kaki binatang, menutuplah Abdullah bin Tuhanmu hidungnya dengan kain serban sambil berucap: Janganlah kamu sekalian menerbangkan debu-debu ke sekeliling kita! Kemudian Nabi saw. segera mengucapkan salam kepada mereka lalu berhenti menuruni keledainya untuk mengajak mereka beriman kepada Allah serta membacakan kepada mereka ayat-ayat Alquran. Berkatalah Abdullah bin Ubay: Hai, tidak adakah yang lebih baik dari ini! Jika benar apa yang kamu katakan, maka janganlah kamu mengganggu kami dalam majelis ini, serta kembalilah ke rumahmu dan jika ada dari kami yang datang kepadamu, maka ceritakanlah kepadanya. Abdullah bin Rawahah lalu berkata: Datanglah dalam majelis kami ini, karena kami menyukai hal itu. Setelah itu kaum muslimin, kaum musyrikin serta orang-orang Yahudi saling mencaci-maki hingga mereka hampir saling berbaku-hantam sedangkan Nabi saw. terus berusaha menenangkan mereka. Kemudian beliau segera menunggangi keledainya sampai tiba di tempat Sa`ad bin Ubadah. Lalu beliau berkata: Wahai Sa`ad, apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Hubab (yang beliau maksud adalah Abdullah bin Ubay). Ia berkata begini dan begini? Sa`ad menjawab: Maafkanlah ia, wahai Rasulullah! Sekali lagi maafkanlah! Demi Allah, Allah telah memberikan kepada engkau apa yang telah Ia berikan. Sesungguhnya penduduk Madinah ini sudah sepakat untuk memberikannya mahkota kepemimpinan serta mengangkatnya sebagai raja. Lalu ketika Allah menghalangi hal itu dengan misi kebenaran yang telah diberikan-Nya kepadamu, menjadi bencilah ia sehingga ia melakukan apa yang telah engkau saksikan. Nabi pun lalu memaafkannya.( HR.MUSLIM No:3356 )

Bab 34. Perang Dzu Qarad dan lainnya

Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata: Sebelum azan Subuh dikumandangkan, aku keluar rumah sementara unta Rasulullah saw. masih bergembala di Dzu Qarad. Lalu seorang budak lelaki Abdurrahman bin Auf yang masih muda belia bertemu denganku dan berkata: Unta Rasulullah saw. telah dicuri! Aku bertanya: Siapakah yang telah mencurinya? Ia menjawab: Bani Ghathafan. Aku pun segera berteriak tiga kali: Tolong, tolong, tolong! Aku berharap suaraku itu dapat didengar oleh seluruh penduduk Madinah. Dengan cepat aku meluncur hingga berhasil mengejar mereka di Dzu Qarad. Mereka rupanya sedang mengambil air di sana. Mulailah aku melempari mereka dengan anak panah sambil bersyair: Aku adalah putra Akwa`, hari ini adalah hari kebinasaan bagi orang yang hina. Aku terus bersenandung hingga aku berhasil merebut kembali unta Rasulullah serta merampas dari mereka sebanyak tiga puluh pakaian. Lalu datanglah Nabi saw. bersama beberapa orang. Aku berkata kepada beliau: Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku telah berhasil melindungi air itu dari mereka di saat mereka kehausan. Sekarang utuslah kepada mereka! Nabi saw. lalu bersabda: Wahai putra Akwa`, kamu telah berhasil mengalahkan mereka, maka tetaplah berlaku lembut! Kemudian kami semua kembali sedangkan dibonceng oleh Rasulullah saw. menunggangi unta beliau sampai kami memasuki Madinah.( HR.MUSLIM No:3371 )

34. Kitab Buruan, sembelihan, dan hewan-hewan yang dimakan

Bab 4. Mubahnya bangkai binatang laut

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengutus kami dan mengangkat Abu Ubaidah ra. sebagai pemimpin untuk mencegat kafilah dagang Quraisy. Beliau membekali kami dengan sekarung kurma karena tidak menemukan bekal lain lalu Abu Ubaidah ra. pun memberikan kepada masing-masing kami sebuah kurma. Kemudian aku bertanya: Apakah yang kamu sekalian perbuat dengan sebuah kurma itu? Ia menjawab: Kami mengisapnya seperti anak kecil mengisap kemudian kami meminum air yang ada di dalamnya hingga cukuplah bagi kami dari siang sampai malam. Kemudian kami memukulkan tongkat-tongkat kami ke daun-daunan lalu kami basahi dengan air untuk kami minum. Selanjutnya kami menuju tepi laut, di sana tampaklah oleh kami seperti bukit pasir yang besar sekali. Lalu kami pun segera mendatanginya dan ternyata ia adalah seekor binatang laut yang disebut ikan paus. Abu Ubaidah ra. berkata: Ikan ini sudah jadi bangkai (kita tidak dapat memakannya). Kemudian ia berkata lagi: Tidak apa-apa, kita adalah utusan Rasulullah saw. di jalan Allah sedangkan kamu sekalian dalam keadaan terpaksa, maka makanlah! Kami yang berjumlah 300 orang lalu menetap di sana selama sebulan hingga kami pun menjadi gemuk. Ia berkata: Aku telah menyaksikan sendiri, kami menampung dengan tempat air minyak ikan yang keluar dari lubang matanya serta memotong-motong dagingnya sebesar kijang atau banteng. Lalu Abu Ubaidah ra. mengambil 13 orang di antara kami diperintahkan khusus untuk melubangi matanya dan ia juga mengambil salah satu tulang rusuk ikan itu. Kemudian ia membebani unta yang paling besar yang ada pada kami untuk mengangkutnya dan ia pun berjalan di bawahnya (sambil menuntun) serta kami dapat berbekal dengan dagingnya yang telah direbus setengah matang. Ketika tiba di Madinah, kami segera menemui Rasulullah saw. untuk menceritakan kejadian itu kepada beliau. Lalu beliau menjawab: Itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepada kamu sekalian. Apakah masih ada sisa dagingnya pada kamu sekalian untuk diberikan kepada kami? Lalu kami pun mengirimkan sebagian dagingnya kepada Rasulullah saw. kemudian beliau memakannya.( HR.MUSLIM No:3576 )

Bab 5. Haram memakan daging keledai piaraan

Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa ra.: Dari Syaibani ia berkata: Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa tentang daging keledai piaraan lalu ia menjawab: Musibah kelaparan menimpa kami bersama Rasulullah saw. pada hari perang Khaibar padahal kami telah berhasil menangkap beberapa ekor keledai kaum mereka yang keluar dari Madinah lalu kami pun segera menyembelihnya. Ketika periuk-periuk kami yang berisi daging binatang tersebut sedang mendidih, tiba-tiba berserulah seorang penyampai seruan Rasulullah saw.: Tumpahkanlah periuk-periuk tersebut dan janganlah memakan daging keledai itu sedikit pun! Apakah maksud pengharaman beliau ini? Lalu kami pun saling membicarakannya di antara kami sehingga kami berkesimpulan beliau mengharamkannya untuk selamanya dan pasti dan beliau juga mengharamkan itu karena tidak bisa dibagi seperlima.( HR.MUSLIM No:3585 )

36. Kitab Minuman

Bab 1. Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat memabukkan

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.( HR.MUSLIM No:3662 )

Bab 7. Boleh minum susu

Hadis riwayat Abu Bakar As-Sidik ra., ia berkata: Pada waktu kami keluar bersama Rasulullah saw. dari Mekah menuju Madinah, kami melewati seorang penggembala kambing. Ketika itu Rasulullah saw. benar-benar merasa haus. Lalu aku memerahkan sedikit susu untuk beliau. Susu itu aku bawa kepada beliau dan beliau meminumnya hingga aku merasa puas.( HR.MUSLIM No:3749 )

Bab 9. Perintah menutup wadah, mengikat gereba, menutup pintu dan menyebut nama Allah ketika melakukan semua itu, mematikan lampu dan api ketika hendak tidur, serta menahan anak-anak dan ternak sesudah Magrib

Hadis riwayat Abu Musa ra. beliau berkata: Sebuah rumah berikut penghuninya terbakar di Madinah pada suatu malam. Ketika keadaan mereka diceritakan kepada Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya api ini merupakan musuh kalian karena itu apabila kalian hendak tidur, maka matikanlah api tersebut.( HR.MUSLIM No:3760 )

Bab 21. Keutamaan kurma Madinah

Hadis riwayat Saad ra.: Bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Barang siapa makan tujuh buah kurma di antara dua tanah tak berpasir Madinah pada waktu pagi, maka racun tidak akan membahayakannya sampai sore hari.

37. Kitab Pakaian dan perhiasan

Bab 21. Haram menyambung rambut dengan rambut orang lain dan meminta disambungkan rambutnya dengan rambut orang lain, membuat tato dan minta dibuatkan tato, menghilangkan rambut pada wajah dan meminta dihilangkan rambut pada wajahnya, merenggangkan gigi dan mengubah ciptaan Allah

Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.: Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar dari Muawiyah bin Abu Sufyan pada musim haji yang sedang berdiri di atas mimbar dan menerima potongan rambut dari seorang pengawalnya, berkata: Wahai rakyat Madinah. Mana ulama kalian? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. melarang hal semacam ini (jambul rambut), beliau bersabda: Sesungguhnya Bani Israel mengalami kebinasaan adalah ketika para wanita mereka melakukan hal ini itu.( HR.MUSLIM No:3968 )

38. Kitab Adab

Bab 6. Meminta izin

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa ra. datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali.( HR.MUSLIM No:4006 )

42. Kitab Mimpi

Bab 3. Mimpi Nabi saw.

Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Aku pernah bermimpi seolah-olah berhijrah dari kota Mekah menuju ke suatu daerah yang banyak pohon kurma. Aku yakin itu adalah daerah Yamamah atau daerah Hajar, namun ternyata adalah daerah Madinah yang dahulu disebut Yatsrib. Dalam mimpiku ini aku seakan-akan menghunus sebilah pedang tiba-tiba matanya menjadi tumpul. Ternyata mimpi itu adalah musibah bagi orang-orang mukmin pada perang Uhud. Kemudian aku ayunkan sekali lagi dan ternyata pedang itu kembali baik seperti semula. Ternyata itu adalah kemenangan yang diberikan oleh Allah dan bersatunya orang-orang mukmin. Dalam mimpi itu aku juga melihat seekor sapi, Allah adalah Zat yang baik. Ternyata itu adalah (isyarat) sekumpulan orang-orang mukmin pada perang Uhud. Namun kebaikan Allah datangnya masih nanti. Balasan sebuah keyakinan yang diberikan oleh Allah setelah perang Badar.( HR.MUSLIM No:4217 )

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Pada suatu hari Musailimah Al-Kadzab datang ke Madinah pada zaman Nabi saw. dan berkata: Jika Muhammad menyerahkan kepemimpinan kepadaku sepeniggalnya niscaya aku mau menjadi pengikutnya. Lalu Musailimah datang lagi (ke Madinah) bersama beberapa orang dari kaumnya kemudian Nabi saw. dengan Tsabit bin Qais bin syammas berangkat menemuinya sambil membawa sepotong pelepah kurma sampai beliau berdiri di hadapan Musailimah beserta teman-temannya lalu bersabda: Sekalipun kamu meminta kepadaku sepotong kayu ini, tidak akan aku berikan kepadamu dan aku tidak akan melanggar perintah Allah dalam berurusan denganmu. Jika kamu berpaling, niscaya Allah akan membinasakanmu. Sesungguhnya aku telah memimpikan kamu dan kamu telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpi itu. Dan ini Tsabit bin Qais yang akan memberikan jawaban kepadamu. Kemudian beliau beranjak pergi meninggalkan Musailimah. Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya tentang sabda Nabi saw.: Sesungguhnya aku telah memimpikan kamu dan kamu telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpi itu. Lalu Abu Hurairah mengabarkan kepadaku bahwa Nabi saw. bersabda: Ketika sedang tidur aku bermimpi melihat sepasang gelang emas berada di tanganku. Sepasang gelang tersebut sangat menarik perhatianku. Dalam tidur aku mendapat wahyu supaya meniup sepasang gelang tersebut. Setelah aku tiup ternyata sepasang gelang tersebut terbang. Aku tafsirkan mimpi itu dengan akan munculnya dua pembohong sepeninggalku pertama adalah Unsi dari daerah Shan`a dan kedua adalah Musailimah dari daerah Yamamah.( HR.MUSLIM No:4218 )

43. Kitab Keutamaan

Bab 5. Tentang adanya telaga Nabi saw. dan sifat-sifatnya

Hadis riwayat Haritsah ra.: Bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda: (Luas) Telaga itu adalah seluas antara kota Shan`a dengan kota Madinah.( HR.MUSLIM No:4251 )

Bab 7. Keberanian dan keunggulan Nabi saw. dalam berperang

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. adalah orang yang paling berbudi tinggi, dermawan dan pemberani. Pernah pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut. Rasulullah saw. bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda: Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut. Ia berkata: Kami mendapatkan kuda tersebut cepat larinya padahal sebelumnya adalah kuda yang lambat berlari.( HR.MUSLIM No:4266 )

Bab 22. Sifat dan usia Nabi saw. ketika diangkat menjadi rasul

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. adalah bukan orang yang tinggi sekali dan tidak pula pendek dan tidak juga putih sekali dan tidak berwarna coklat serta tidak pula berambut terlalu keriting dan tidak terlalu lurus. Beliau diutus Allah ketika berusia empat puluh tahun dan menetap di Mekah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun. Beliau wafat ketika berusia enam puluh tahun sementara di rambut kepala dan janggut beliau tidak lebih dari dua puluh helai uban.( HR.MUSLIM No:4330 )

44. Kitab Keutamaan sahabat

Bab 3. Di antara keutamaan Usman Bin Affan ra.

Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra., ia berkata: Tatkala Rasulullah saw. berada dalam salah satu kebun Madinah sedang bersandar dengan menancapkan sebatang kayu antara air dan tanah tiba-tiba datang seseorang yang ingin menemui Rasulullah saw. Beliau bersabda kepada pelayan: Bukakanlah pintu dan sampaikan kepadanya kabar gembira dengan memasuki surga. Orang tersebut ternyata adalah Abu Bakar. Aku pun membukakannya dan menyampaikan kabar gembira tentang surga. Tak lama kemudian datang lagi seseorang minta dibukakan. Rasulullah saw. bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikan kabar gembira kepadanya mengenai surga. Aku beranjak dan ternyata orang tersebut adalah Umar. Aku pun membukakannya dan menyampaikan kabar gembira tentang surga. Kemudian datang lagi seseorang yang juga ingin dibukakan. Kemudian Rasulullah saw. duduk dan bersabda: Bukakanlah pintu dan sampaikanlah kabar gembira tentang surga dengan musibah yang akan menimpa. Aku pun pergi menemui orang itu, ternyata dia adalah Usman bin Affan. Aku bukakan pintu untuknya dan menyampaikan kepadanya berita gembira tentang surga. Usman lalu berkata: Ya Allah, (berilah) kesabaran atau Allah-lah Yang Maha Penolong.( HR.MUSLIM No:4416 )

Bab 10. Di antara keutamaan Abdullah bin Jakfar ra.

Hadis riwayat Abdullah bin Jakfar ra., ia berkata: Apabila Rasulullah saw. kembali dari suatu perjalanan, beliau biasa disambut oleh anak-anak anggota keluarganya. Satu hari beliau pulang dari bepergian dan aku lebih dahulu menyambut beliau, lalu aku digendong beliau. Kemudian salah seorang anak Fatimah menyambutnya, dia pun digendong di belakang. Kemudian kami bertiga memasuki kota Madinah di atas binatang tunggangan.( HR.MUSLIM No:4455 )

Bab 23. Di antara keutamaan Abu Zar ra.

Hadis riwayat Abu Zar ra., ia berkata: Kami meninggalkan kaum kami, Ghifar, karena mereka menghalalkan bulan haram. Aku keluar bersama saudara lelakiku yang bernama Unais dan ibuku kemudian kami singgah ke rumah paman kami. Dia sangat menghormati kami dan memperlakukan kami dengan baik sekali sehingga kaum pamanku merasa dengki dengan kami. Mereka berkata kepada pamanku: Sesungguhnya kamu jika keluar dari keluargamu, maka Unais akan kembali kepada mereka. Pamanku datang dan mengatakan apa yang telah dikatakan kepadanya. Aku katakan: Kamu sungguh telah merusak kebaikanmu yang telah berlalu dan setelah ini tidak ada lagi kompromi denganmu. Lalu kami menghampiri unta kami dan segera menungganginya sedang paman kami dengan bertutupkan pakaian tampak mulai menangis. Kemudian kami berangkat pergi sampai tiba di Mekah. Kemudian Unais segera menggadaikan beberapa ekor unta milik kami dan beberapa ekor lain sejenisnya, keduanya datang menemui seorang dukun yang memberikan pilihan kepada Unais. Unais kemudian menemui kami kembali dengan beberapa ekor unta kami beserta yang sejenisnya. Kemudian katanya melanjutkan: Wahai anak saudaraku, aku sungguh telah salat terlebih dahulu selama tiga tahun sebelum menemui Rasulullah saw. Aku bertanya: Untuk siapa? Dia menjawab: Untuk Allah. Aku bertanya lagi: Ke mana kamu menghadap? Dia menjawab: Aku menghadap ke arah yang ditunjuki Tuhanku. Pernah aku salat Isyak sampai akhir waktu malam, aku terlempar seolah-olah aku selembar kain hingga matahari tepat berada di atasku. Saudaraku Unais berkata: Sesungguhnya aku mempunyai keperluan di Mekah, maka lindungilah aku. Berangkatlah Unais sampai ia tiba di Mekah dan telah lama tidak menemuiku. Kemudian dia datang dan aku langsung bertanya: Apa yang telah kamu lakukan? Unais menjawab: Di Mekah, aku bertemu seorang lelaki yang seagama denganmu, dia mengaku bahwa Allah telah mengangkatnya sebagai rasul. Aku bertanya: Lantas apa yang dikatakan orang-orang? Dia menjawab: Mereka mengatakan bahwa lelaki tersebut adalah seorang penyair, dukun serta penyihir. Padahal Unais juga salah seorang penyair. Selanjutnya Unais berkata: Sesungguhnya aku pernah mendengar ucapan para dukun, namun dia bukan seperti ucapan mereka, dan aku telah membandingkan perkataannya dengan bermacam-macam syair namun tidak ada yang sesuai dengan omongan seorang pun sesudahku bahwa dia termasuk syair. Demi Allah, dia benar-benar seorang yang jujur dan merekalah orang yang pendusta. Dia berkata melanjutkan: Aku berkata: Maka lindungilah aku sehingga aku dapat pergi ke sana untuk melihat. Dia berkata melanjutkan: Lalu aku pergi mengunjungi kota Mekah dan mencari-cari seorang lelaki yang paling lemah di antara mereka untuk aku tanyakan: Di manakah orang itu yang kamu tuduh sebagai yang telah keluar dari agama nenek-moyangnya (shabii)? Lalu orang itu malah menunjuk ke arahku sambil berseru: Shabii! Maka menyerbulah penduduk lembah itu ke arahku dengan melemparkan tanah kering dan tulang-belulang sehingga aku jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan. Ia berkata melanjutkan: Ketika aku bangkit, aku merasa seperti sebuah patung yang berlumuran darah. Ia berkata lagi: Lalu aku mendatangi sumur zam-zam untuk membersihkan darah dari segenap tubuhku serta meminum airnya. Dan di dekat sumur itulah aku tinggal selama tiga puluh hari, wahai putra saudaraku, siang dan malam hari aku tidak mempunyai makanan kecuali dari air Zamzam sampai aku menjadi gemuk hingga terlihat lekuk-lekuk lemak di perutku (tanda gemuk) dan aku tidak menemukan lagi di dalam hatiku perasaan kurus karena kelaparan. Ia berkata lagi melanjutkan: Ketika penduduk Mekah berada di suatu malam purnama yang terang-benderang, lalu mereka pun tertidur lelap. Tidak ada yang bertawaf di Baitulharam kecuali seorang lelaki dan dua perempuan yang terlihat sedang berdoa menyebut Isaf dan Nailah (nama berhala). Dia berkata: Kemudian keduanya datang menghampiriku di dalam tawaf dan aku berkata: Kawinkanlah mereka berdua! Dia berkata lagi: Mereka berdua tidak saling melarang ucapan mereka. Dia berkata: Kemudian mereka berdua mendatangiku lagi dan aku berkata: Mereka itu seperti kayu namun aku tidak menutup-nutupi maksudku. Setelah itu mereka berdua beranjak pergi sambil meratap dan berkata: Kalau seandainya di sini ada salah seorang dari kaum kita. Tidak lama kemudian Rasulullah saw. dan Abu Bakar yang sedang turun menjumpai mereka berdua serta segera menanyakan: Apa yang terjadi dengan kalian? Mereka menjawab: Orang shabii itu berada di sekitar Kakbah dan tirai penutupnya. Rasulullah saw. bertanya: Apa yang dia katakan kepada kalian? Mereka menjawab: Dia mengucapkan kata-kata kotor kepada kami. Rasulullah saw. dan Abu Bakar kemudian datang untuk mencium Hajar Aswad dan bertawaf di Baitullah serta diteruskan dengan salat. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan salatnya, Abu Zar berkata: Akulah orang yang pertama mengucapkan salam Islam kepada beliau. Dia melanjutkan: Lalu aku mengucapkan: Assalamu`alaika ya Rasulullah! Kemudian beliau membalas: Wa `alaika wa rahmatullahi. Kemudian beliau bertanya: Siapakah kamu? Aku menjawab: Aku adalah seorang dari suku Ghifar. Lalu Rasulullah menarik tangannya lalu meletakkan jari-jarinya ke atas dahi. Aku pun berkata dalam hatiku: Beliau tampaknya tidak senang aku mengaku dari suku Ghifar. Aku pun bangkit hendak memegang tangan beliau, tetapi ditahan oleh Abu Bakar sedang ia lebih mengetahui tentang itu daripadaku. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bertanya: Sejak kapan kamu berada di sini? Aku menjawab: Aku di sini sejak tiga puluh hari yang lalu. Dia bertanya lagi: Siapakah yang memberimu makan? Aku menjawab: Aku tidak mempunyai makanan lain kecuali air Zamzam hingga aku menjadi gemuk dan tampak lekuk-lekuk lemak di perutku (tanda gemuk) serta tidak menemukan lagi di dalam hatiku perasaan kurus karena kelaparan. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya (air Zamzam) itu penuh berkah dan sebaik-baik makanan. Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, izinkanlah aku menjamunya malam ini! Rasulullah saw. dan Abu Bakar kemudian meninggalkan tempat tersebut dan aku pun mengikuti mereka. Lalu Abu Bakar membuka sebuah pintu rumah untuk mengambilkan kami kismis (anggur kering) Thaif. Itulah makanan yang pertama kali aku makan di Mekah. Kemudian aku menetap beberapa lama dan datang menemui Rasulullah saw. lalu beliau bersabda: Sesungguhnya sebuah negeri yang banyak menghasilkan korma telah ditunjukkan kepadaku yang tidak lain adalah kota Yatsrib, maka bersediakah kamu menyampaikan kepada kaummu tentang misi kerasulanku, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka melalui kamu serta memberikan pahala kepadamu karena mereka? Aku kemudian pulang untuk menemui Unais. Dia bertanya padaku: Apa yang telah kamu lakukan di sana? Aku menjawab: Aku telah memeluk Islam dan beriman. Unais berkata: Aku tidak membenci agamamu dan aku pun telah memeluk Islam serta beriman. Lalu kami berdua mendatangi ibu kami, ia pun berkata: Aku tidak membenci agama kamu berdua dan aku pun telah memeluk Islam serta beriman. Kami lalu menunggangi unta untuk mendatangi kaum kami Ghifar sehingga masuklah setengah dari mereka ke dalam agama Islam di bawah pimpinan Aima` bin Rahadhah Al-Ghifari, seorang kepala suku mereka. Sedangkan yang setengah lagi mengatakan: Kalau Rasulullah saw. telah tiba di Madinah, maka kami akan masuk Islam. Lalu tibalah Rasulullah saw. di Madinah, sehingga sisa mereka yang setengah pun masuk Islam. Selanjutnya datanglah suku Aslam dan mereka berkata: Wahai Rasulullah! Mereka itu adalah saudara-saudara kami, maka kami pun masuk Islam seperti mereka. Akhirnya semua mereka memeluk Islam. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Suku Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka dan suku Aslam, mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan bagi mereka.( HR.MUSLIM No:4520 )

Bab 28. Di antara keutamaan Abdullah bin Salam ra..

Hadis riwayat Abdullah bin Salam ra.: Dari Qais bin Ubbad ia berkata: Aku berada di Madinah dan berkumpul dengan banyak orang, di antara mereka terdapat beberapa sahabat Nabi saw. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang dari raut wajahnya terlihat tanda kekhusyuan. Lalu beberapa orang di antara mereka mengatakan: Lelaki ini termasuk ahli surga, lelaki ini termasuk ahli surga. Kemudian lelaki itu melakukan salat dua rakaat dengan membaca surat pendek dan segera keluar lagi. Aku mengikutinya sampai dia memasuki rumahnya dan aku pun meminta izin masuk menemuinya. Kami lalu saling bercakap-cakap. Ketika dia telah merasa lebih akrab, aku katakan padanya: Sesungguhnya ketika kamu memasuki (mesjid) tadi, ada orang yang berbicara begini begitu. Lelaki itu berkata: Maha Suci Allah, tidak pantas seseorang mengatakan apa yang belum diketahuinya. Akan aku ceritakan kepadamu mengapa begitu. Pada zaman Rasulullah saw. aku pernah bermimpi dan telah aku ceritakan mimpiku itu kepada beliau. Dalam mimpi itu aku seperti melihat diriku berada di sebuah taman yang luas, asri dan hijau. Di tengah-tengah taman itu terdapat sebuah tiang dari besi di mana ujung bawahnya menancap ke bumi dan ujung atasnya menjulang tinggi ke langit di sana terdapat tali pegangan. Lalu dikatakan kepadaku: Naiklah! Aku jawab: Aku tidak bisa. Tiba-tiba muncul seorang pelayan (minshaf). Berkata Ibnul Aun: Minshaf adalah pelayan. Lalu ia menarik bajuku dari arah belakang untuk membantuku, sehingga aku dapat naik ke atas tiang tersebut. Aku lalu memegang tali pegangan itu. Dikatakan padaku: Peganglah erat-erat! Seketika aku terbangun dan tali itu benar-benar berada di tanganku. Aku pun menceritakan hal itu kepada Nabi saw., beliau bersabda: Taman itu adalah Islam, tiang itu juga tiang Islam dan tali pegangan itu ialah urwatul wutsqa kuat. Kamu akan tetap memeluk Islam sampai mati. Kata perawi: Lelaki itu adalah Abdullah bin Salam ra.( HR.MUSLIM No:4536 )

Bab 32. Di antara keutamaan Abu Musa Al-Asy`ari ra. dan Abu Amir Al-Asy`ari ra.

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Aku sedang bersama Nabi saw. ketika beliau dan Bilal singgah di Ji`ranah antara Mekah dan Madinah. Kemudian Rasulullah saw. didatangi seorang lelaki badui dan berkata: Apakah kamu tidak akan memenuhi apa yang pernah kamu janjikan kepadaku, wahai Muhammad? Rasulullah saw. berkata kepadanya: Bergembiralah! Lelaki badui itu menjawab: Kamu telah sering mengatakan kepadaku "bergembiralah!" Kemudian Rasulullah saw. menghampiri Abu Musa dan Bilal dalam keadaan marah lalu berkata: Orang ini telah menolak kabar gembira, maka terimalah kalian berdua kabar gembira itu. Kedua sahabat itu berkata: Kami telah menerimanya, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw. meminta supaya diambilkan bejana berisikan air lalu membasuh kedua tangan dan wajahnya serta meludahkan air ke dalamnya lalu berkata: Minumlah kamu berdua dan basuhkanlah ke muka serta leher kamu dan bergembiralah! Kedua sahabat itu segera mengambil bejana tersebut kemudian melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. kepada mereka. Tiba-tiba Ummu Sulamah berseru kepada mereka dari balik tirai: Sisakan untuk ibu kalian air yang ada dalam bejana itu. Lalu mereka menyisakan sebagiannya.( HR.MUSLIM No:4553 )

Bab 33. Di antara keutamaan orang-orang Asy`ari ra.

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang-orang Asy`ari apabila mereka kehabisan bekal dalam suatu peperangan atau bekal makanan keluarga mereka di Madinah hanya sedikit, maka mereka akan mengumpulkan apa yang masih ada pada mereka dalam selembar kain. Kemudian mereka bagikan di antara mereka dalam satu bejana secara rata dan aku adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dariku.( HR.MUSLIM No:4556 )

46. Kitab Takdir

Bab 1. Proses penciptaan manusia dalam perut ibunya dan penentuan rezeki, ajal dan amalnya serta nasibnya sengsara ataukah bahagia

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.( HR.MUSLIM No:4786 )

49. Kitab Taubat

Bab 7. Tentang berita bohong dan diterima taubat orang yang menuduh

Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak keluar dalam suatu perjalanan selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah saw. akan berangkat bersamanya. Aisyah berkata: Lalu Rasulullah saw. mengundi di antara kami untuk menentukan siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi setelah diturunkan ayat hijab (Al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami. Pada suatu malam ketika Rasulullah saw. selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara. Seusai melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri unta tungganganku namun saat meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara Zifar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada di dalamnya. Ia menambahkan: Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta. Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun segera menggerakkan unta itu dan berangkat. Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat perhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana. Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga aku pun tertidur. Ternyata ada Shafwan bin Muaththal As-Sulami Az-Dzakwani yang tertinggal di belakang pasukan sehingga baru dapat berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku. Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, "inna lillaahi wa inna ilaihi raji`uun" pada saat dia mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapan "inna lillahi wa inna ilaihi raji`uun". Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak kakinya, sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun unta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas. Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling besar berperan ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Sampai kami tiba di Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Yang membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah saw. yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah saw. hanya masuk menemuiku, mengucapkan salam, kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu? Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana pada malam hari sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat rumah kami. Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhum bin Muthalib bin Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakher bin Amir, bibi Abu Bakar Sidik. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhum langsung menuju ke arah rumahku sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah terpeleset dalam pakaian yang menutupi tubuhnya sehingga terucaplah dari mulutnya kalimat: Celakalah Misthah! Aku berkata kepadanya: Alangkah buruknya apa yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah ikut serta dalam perang Badar? Ummu Misthah berkata: Wahai junjunganku, tidakkah engkau mendengar apa yang dia katakan? Aku menjawab: Memangnya apa yang dia katakan? Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para pembuat cerita bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah. Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah saw. masuk menemuiku, beliau mengucapkan salam kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu? Aku berkata: Apakah engkau mengizinkan aku mendatangi kedua orang tuaku? Pada saat itu aku ingin meyakinkan kabar itu dari kedua orang tuaku. Begitu Rasulullah saw. memberiku izin, aku pun segera pergi ke rumah orang tuaku. Sesampai di sana, aku bertanya kepada ibu: Wahai ibuku, apakah yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku? Ibu menjawab: Wahai anakku, tenanglah! Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor dilontarkan kepadanya. Aku berkata: Maha suci Allah! Apakah setega itu orang-orang membicarakanku? Aku menangis malam itu sampai pagi air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pada pagi harinya, aku masih saja menangis. Beberapa waktu kemudian Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya ketika wahyu tidak kunjung turun. Usamah bin Zaid memberikan pertimbangan kepada Rasulullah saw. sesuai dengan yang ia ketahui tentang kebersihan istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan kecintaan dalam dirinya yang ia ketahui terhadap keluarga Nabi saw. Ia berkata: Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali kebaikan. Sedangkan Ali bin Abu Thalib berkata: Semoga Allah tidak menyesakkan hatimu karena perkara ini, banyak wanita selain dia (Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu (pembantu rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu keterangan yang benar. Lalu Rasulullah saw. memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan bertanya: Hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang membuatmu ragu tentang Aisyah? Barirah menjawab: Demi Zat yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Tidak ada perkara buruk yang aku lihat dari dirinya kecuali bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang masih muda belia, yang biasa tidur di samping adonan roti keluarga lalu datanglah hewan-hewan ternak memakani adonan itu. Kemudian Rasulullah saw. berdiri di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah saw. bersabda: Wahai kaum muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai hati melukai hati keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku hanyalah kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki yang kuketahui baik. Dia tidak pernah masuk menemui keluargaku (istriku) kecuali bersamaku. Maka berdirilah Saad bin Muaz Al-Anshari seraya berkata: Aku yang akan menolongmu dari orang itu, wahai Rasulullah. Jika dia dari golongan Aus, aku akan memenggal lehernya dan kalau dia termasuk saudara kami dari golongan Khazraj, maka engkau dapat memerintahkanku dan aku akan melaksanakan perintahmu. Mendengar itu, berdirilah Saad bin Ubadah. Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan seorang lelaki yang baik tetapi amarahnya bangkit karena rasa fanatik golongan. Dia berkata tertuju kepada Saad bin Muaz: Engkau salah! Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu untuk membunuhnya! Lalu Usaid bin Hudhair saudara sepupu Saad bin Muaz, berdiri dan berkata kepada Saad bin Ubadah: Engkau salah! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya! Engkau adalah orang munafik yang berdebat untuk membela orang-orang munafik. Bangkitlah amarah kedua golongan yaitu Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir saling berbaku-hantam dan Rasulullah saw. masih berdiri di atas mimbar terus berusaha meredahkan emosi mereka mereka hingga mereka diam dan Rasulullah saw. diam. Sementara itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti mengalir dan aku pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja menangis pada malam berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan juga tidak merasa enak tidur. Kedua orang tuaku mengira bahwa tangisku itu akan membelah jantungku. Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di sisiku yang masih menangis, datanglah seorang perempuan Ansar meminta izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia pun duduk sambil menangis. Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah saw. masuk. Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku. Rasulullah saw. mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda: Selanjutnya. Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu Allah akan menerima tobatnya. Ketika Rasulullah saw. selesai berbicara, air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun terjatuh. Lalu aku berkata kepada ayahku: Jawablah untukku kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang beliau katakan. Ayahku menyahut: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw. Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jawablah untukku kepada Rasulullah saw.! Ibuku juga berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah saw. Maka aku pun berkata: Aku adalah seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak banyak membaca Alquran. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar semua ini, hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu bahwa aku bersih, mungkin kalian tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu di hadapan kalian, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan. Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan kebersihanku. Tetapi, sungguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan Allah Taala dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku berharap Rasulullah saw. akan bermimpi bahwa Allah membersihkan diriku dari fitnah itu. Rasulullah saw. belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah saw. merasa kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga bertetesan keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya firman yang diturunkan kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah hilang dari Rasulullah saw. (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa perkataan yang pertama kali beliau ucapkan adalah: Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan. Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangunlah! Sambutlah beliau! Aku menjawab: Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat Alquran yang menyatakan kebersihanku. Allah Taala menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga, dan sepuluh ayat berikutnya. Allah menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan kebersihanku. Abu Bakar yang semula selalu memberikan nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan nafkah kepadanya sedikitpun selamanya, sesudah apa yang dia katakan terhadap Aisyah. Sebagai teguran atas ucapan itu, Allah menurunkan ayat selanjutnya ayat: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka, orang-orang miskin sampai pada firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian. (Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin Mubarak berkata: Ini adalah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab Allah). Maka berkatalah Abu Bakar: Demi Allah, tentu saja aku sangat menginginkan ampunan Allah. Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakala dan berkata: Aku tidak akan berhenti memberikannya nafkah untuk selamanya. Aisyah meneruskan: Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy, istri Nabi saw. tentang persoalanku: Apa yang kamu ketahui? Atau apa pendapatmu? Zainab menjawab: Wahai Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku (dari hal-hal yang tidak layak). Demi Allah, yang kuketahui hanyalah kebaikan. Aisyah berkata: Padahal dialah yang menyaingi kecantikanku dari antara para istri Nabi saw. Allah menganugerahinya dengan sikap warak (menjauhkan diri dari maksiat dan perkara meragukan) lalu mulailah saudara perempuannya, yaitu Hamnah binti Jahsy, membelanya dengan rasa fanatik (yakni ikut menyebarkan apa yang dikatakan oleh pembuat cerita bohong). Maka celakalah ia bersama orang-orang yang celaka.( HR.MUSLIM No:4974 )

50. Kitab Sifat munafik dan hukumnya

Bab 1. Sifat Orang Munafik Dan Hukum Tentang Mereka

Hadis riwayat Zaid bin Arqam ra., ia berkata: Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan di mana orang-orang banyak yang tertimpa musibah. Lalu Abdullah bin Ubay berkata kepada para pengikutnya: Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang Muhajirin yang ada di sisi Rasulullah saw. supaya mereka bubar meninggalkan Rasulullah saw. dari sekitarnya Zuhair berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. Kata Zaid bin Arqam selanjutnya: Lalu aku datang melaporkan kepada Nabi saw. tentang ucapan Abdullah bin Ubay itu. Rasulullah saw. memanggil Abdullah bin Ubay untuk menanyakan hal itu. Tetapi, Abdullah bersumpah tidak pernah berkata demikian. Dia berkata: Zaid berbohong kepada Rasulullah saw. Aku merasa sangat susah mendengar perkataan itu, sampai Allah menurunkan ayat yang menyatakan kebenaranku: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. Kemudian Nabi saw. memanggil mereka (Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya) untuk dimintakan ampun, tetapi mereka membuang muka (menolak dan berpaling), Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandarkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bertubuh bagus.( HR.MUSLIM No:4976 )

Kitab ke 53 tentang Fitnah dan tanda kiamat

Bab 3. Turunnya fitnah bagaikan turunnya air hujan

Hadis riwayat Usamah ra.: Bahwa Nabi saw. menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah, kemudian beliau bersabda: Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di antara rumah-rumahmu bagaikan tempat turunnya air hujan.( HR.MUSLIM No:5135 )

Bab 11. Tentang Ibnu Shayyad

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Aku menemani Ibnu Shaid pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: Aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Dajjal itu tidak mempunyai anak. Aku jawab: Ya! Ia berkata lagi: Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah kamu telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Dajjal itu tidak akan memasuki Madinah dan Mekah. Aku menjawab: Ya! Ia berkata lagi: Dan aku telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah. Kemudian di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku: Demi Allah, sesungguhnya aku tahu waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia. Ia berkata: Ia telah mengaburkanku tentang perkara itu.( HR.MUSLIM No:5209 )

Bab 13. Ciri-ciri Dajjal, ia tidak dapat memasuki Madinah, ia mematikan dan menghidupkan seorang beriman

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata: Suatu hari Rasulullah saw. pernah bercerita kepada kami suatu cerita panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: Ia akan datang tetapi ia diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah, kemudian ia tiba di tanah lapang tandus yang berada di dekat Madinah. Lalu pada hari itu keluarlah seorang lelaki yang terbaik di antara manusia atau termasuk manusia terbaik menemuinya dan berkata: Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah saw. kepada kami. Dajjal berkata: Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya lagi, apakah kamu masih meragukan perihalku? Mereka berkata: Tidak! Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika telah dihidupkan, lelaki itu berkata: Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang dirimu dari sebelumnya. Maka Dajjal itu hendak membunuhnya kembali, namun ia tidak kuasa melakukannya.( HR.MUSLIM No:5229 )

Bab 15. Kisah mata-mata Dajjal

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal.( HR.MUSLIM No:5236 )

54. Kitab Zuhud dan kelembutan hati

Bab 1. Kitab Zuhud Dan Kelembutan Hati

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat.( HR.MUSLIM No:5274 )


Lanjutkan Membaca ...