27 Jul 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 3)


Post artikel ini adalah artikel ke  3 dari seri Mengenal dan Memahami Manusia di dalam Agama/Dien Islam. Artikel ini bersumber dari blog  http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-3.html .Silahkan dibaca, semoga memberi manfaat buat anda.

===============================
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan kepada Muslimin Muslimat

Potensi Dasar Manusia

Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi external (yaitu potensi disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawabnya.
Oleh karena itu, ia harus diolah dan didaya-gunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat memunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.

A. Potensi Internal

Potensi internal ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri:

1. Potensi Fitriyah.

Manusia diberikan oleh Allah potensi fitriyah. Makna fitrah ialah al-Islam.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang lurus, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”, al-Rum:30.
'Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw: “Tiada bayi yang dilahirkan kecuali lahir dalam keadaan fitrah. Maka ayah bundanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. Sebagai lahirnya binatang yang lengkap sempurna. Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya?" Kemudian Abu Hurairah ra membaca: ”Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus”, HR. Mutafaqun ‘alaih.
Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (Dien Allah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (cek 7:172).

2. Potensi Ruhiyah

Potensi ruhiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan.

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan" al-Syams:7-8.
Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Dari kemampuan ini.

“Wabishah bin Ma’bab ra. berkata: 'Saya datang kepada Nabi saw untuk bertanya tentag bakti (al-birri). Maka sebelum saya bertanya, Nabi bertanya: 'Kau datang untuk bertanya tentang bakti?' Jawabku: Ya. Bersabda Nabi saw: “Tanyakan pada hatimu. Bakti itu ialah semua perbuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa, itu semua perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mendapat fatwa dari orang-orang”. HR. Ahmad dan Darimi.Hadits ini menunjukkan bahwa potensi inilah yang menentukan arah kehidupan manusia.

3. Potensi Aqliyah

Potensi aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a, bashar, fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah, tentang “kekuasaan” Allah. Serta dengan potensi ini, ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang bermanfaat baginya yang tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya dan tentu harus dihindarkan.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”, al-An'am:78. 
Potensi inilah yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. 
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu miliki ilmu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban”, al-Isro:36.

Manusia yang tidak mempergunakan potensi ini, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan kelelebihan dan keutamaan yang Allah berikan, sehingga ia tidak pantas mendapat fadhal disisi Allah, tetapi ia sama dengan makhluk yang terendah yaitu binatang ternak, bahkan lebih hina lagi.

"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”, al-A'rof:179.

4. Potensi Jasmaniyah

Potensi jasmaniyah yaitu kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan”, al-Tin:5.
“Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembalimu”, al-Taghabun:3.
Potensi jasmaniyah ini adalah merupakan basthoh fil khalqi (fil jism). Sebagai modal utama untuk melaksanakan tugasnya.


Alhamdulillah Rabb al-'Alamin


Bersambung ....... Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar