14 Jan 2012

URGENSI BERKORBAN | "Harta, Kemanakah Kau Habiskan?"


Secara syakhsiyyah maupun jama’ah, tujuan hidup manusia menurut Al-qur’an adalah mencari mardhotillah/pengakuan dari Allah[1]. Mardhotillah berarti Maghfiroh, berarti pula fasilitas surga kepunyaan Allah adalah menjadi haknya.

Ibadah adalah tugas satu-satunya manusia dilahirkan ke alam dunia[2]. Bentuk konkrit ibadahnya adalah menegakkan Dienullah / Kalimatillah dengan mengikuti pola, metode, dan sunnah Rasulullah dengan segala konsekuensinya.

Konsekuensi dalam mengemban tugas untuk mencapai tujuan manusia adalah adanya pengorbanan yang berupa tenaga, waktu, pikiran, dan harta kekayaan (amwal dan anfus). Besarnya pengorbanan yang diberikan menunjukkan kualitas manusia tersebut sekaligus menjadi barometer seberapa jauh tujuan hidupnya akan dapat tercapai.

Pentingnya melakukan tazkiyah khususnya tazkiyah maliyah sebagai wahana penyucian diri dan harta agar terpelihara baik sehingga tumbuh menjadi baik[3] bersih aqidahnya, tumbuh dengan baik keinginan (himmah) dan aktifitas (amaliyah) Islamiyyah-nya, jauh dari godaan syaithan yang pada gilirannya sanggup dan senantiasa membenarkan syahadah-nya/shadiqin[4].

Jadi di satu sisi, Islam telah jelas menekankan keharusan ummat ikut serta dalam menyisihkan hartanya untuk menderaskan dan melancarkan pelaksanaan dakwah Islamiyyah. Sudah jelas kiranya bagaimana dalam lembaran-lembaran sirah diceritakan pengorbanan Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya secara totalitas menggunakan harta kekayaannya demi tegaknya Islam.

Di sisi lain implikasi dari pengorbanan ini dirasakan sendiri oleh pelaku baik secara langsung maupun tidak, Kondisi ekonomi yang tidak membaik, kesejahteraan yang tidak pernah tercapai bukan mustahil akibat dari manusia yang mengabaikan konsep tazkiyah maliyah ini[5]. Sebaliknya ada yang terus menerus mendapatkan rizki yang melimpah dan senantiasa berkecukupan padahal setiap saat hartanya ia sisihkan dan korbankan. Semakin besar yang ia korbankan maka semakin besar pula yang akan ia dapatkan karena besar kecilnya nikmat Allah dalam bidang ekonomi tergantung besar kecilnya harta yang dikorbankan dalam perjuangan Islam.

Selain akan meningkatkan kondisi perekonomian pelaku, dengan mengorbankan sebagian hartanya maka pelaku tidak akan dilanda kesedihan dan ketakutan bahkan akan merasa tenang dan tenteram[6].

SETIAP UPAYA UNTUK MENCAPAI TUJUAN MEMERLUKAN PENGORBANAN

Islam mengajarkan bahwa dalam setiap upaya pencapaian tujuan maka diperlukan pengorbanan, baik berupa tenaga, waktu, harta, jiwa dan raga (amwal dan anfus). Kedua bentuk pengorbanan ini merefleksikan wujud pengorbanan yang seutuhnya yang mampu menghantarkan pelakunya lebih dekat kepada tujuan yang diharapkan yakni Mardhotillah. Tidak bisa hanya mengorbankan atau berjihad didalam satu bentuk saja amwal atau anfus. Keduanya harus seiring sejalan. Karenanya Allah senantiasa sandingkan jihad amwal dengan anfus.[7]
Rasulullah SAW juga menugaskan dalam ucapan beliau tentang jihad harta;

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, nyawa dan lisan kalian.”(HR Abu Dawud).
“Siapa yang memberangkatkan (mendanai) orang yang berperang di jalan Allah, berarti dia juga ikut berperang.”(HR Bukhari)

Jadi bukan hal yang aneh lagi jika profesi seorang penegak kalimatillah sarat dengan pengorbanan disetiap langkahnya dan tindakannya. Seorang Mujahid yakin bahwa segala sesuatunya tercatat dan akan mendapatkan balasan. Balasan yang kuantitas dan kualitasnya jauh lebih baik dari apa yang sudah dikorbankan. Mujahid sadar bahwa kebaikan itu akan dibalas dengan balasan sepuluh kali lipat atau bahkan tujuh ratus kali lipat. Oleh karenanya Mujahid tidak takut untuk mengorbankan segala sesuatu yang ada pada diri karena tentu akan mendapatkan balasan yang lebih!

Setiap Perbuatan diperoleh dengan pengorbanan. Para Rasulullah tidaklah ragu untuk mengorbankan apapun yang dicintai untuk taqarrubilallah dan membuktikan kecintaan terhadap Allah. Bagaimana Nuh as tetap ta’at kepada Allah ketika diperintah untuk tidak menyelamatkan anaknya Kan'an dikarenakan anaknya ini termasuk golongan penentang Jama'ah. Begitu juga Ibrahim as, selaku pelanjut Nuh as, telah mampu tampil sebagai uswah hasanah dalam pengejewantahan nilai-nilai tauhid secara paripurna. Karena hampir setiap sisi kehidupannya dipenuhi pengorbanan demi terpeliharanya tauhid. Isma'il as dengan penuh kesabaran dan berserah diri kepada Allah secara utuh menerima perintah meskipun jiwa, raga dan nyawa yang harus dikorbankan. Demikian pula Ishaq as menjadi pelanjut risalah tauhid yang dibawa oleh bapaknya. Musa as demi keutuhan tauhid meninggalkan berbagai kesenangan duniawi yang terdapat dalam istana Fir'aun. Dengan ditemani Harun as, Musa as secara sadar menghadapi bahaya yang mengancam hidupnya ketika mendatangi Fir'aun guna menyerukan tauhid. Ilyas as dengan berani menghadapi kaumnya untuk menyerukan kembali kepada ajaran tauhid. Luth as sanggup meninggalkan istrinya ketika menolak diajak untuk bergabung kedalam Jama'ah. Yunus as dengan penuh kerinduan kepada Allah, menjalankan rangkaian ketetapan Allah dengan penuh kesabaran.

Dengan kuantitas dan kualitas ujian berbeda yang diterima oleh para rasulullah seperti yang disebutkan di atas, pada gilirannya membuahkan turunnya tolong dan karunia Allah kepada mereka. Ini disebabkan para rasulullah dalam menghadapi berbagai ujian senantiasa ta'at dan menjaga keikhlasan.

Pengakuan bahwa setiap upaya membutuhkan pengorbanan ini sudah ada di kalangan umum bahkan dikalangan orang-orang kafir. Adanya slogan ”tidak ada yang gratis di dunia ini” menunjukkan bahwa segala perbuatan dengan tujuan yang baik ataupun yang buruk merupakan kemustian harus diperoleh dengan pengorbanan, apakah pengorbanan harta, waktu, tenaga, perasaan bahkan nyawa.

Raja Fir’aun berani mengorbankan istrinya, rakyatnya, hartanya dan terakhir nyawanya demi mempertahankan keyakinannya bahwa hanya dirinyalah yang maha berkuasa[8]. Abu Jahal (Abu Lahab) seorang pakar hukum negara Mekkah dengan gigihnya mempertahankan keyakinan kebenaran hukum positifnya dibantu istrinya membendung arus berkembangnya kebenaran ajaran Al-Qur’an sebagai pandangan hidup umat Muhammad, dia rela berkorban dengan mengabdikan dirinya dan seluruh harta kekayaan bahkan bisnisnya demi mempertahankan keyakinan aturan hukum jahiliyah sampai dia menemui ajalnya[9].

Kaum Yahudi sampai hari ini terus mengumpulkan dana dari berbagai sumber yang akan mereka korbankan demi eksistensi kaumnya dan menghapus keberadaan musuh-musuh mereka. Di antara lembaga Yahudi yang sangat giat menjalankan proyek Zionisme adalah Jewish Agency (Agen Yahudi) dan Jewish National Fund (Lembaga Keuangan Nasional Yahudi). Lembaga ini menerima sumbangan dari seluruh orang Yahudi di dunia. Mereka mendapat dukungan penuh dari kelompok Kristen-Zionis yang saat ini lebih dikenal dalam jajaran pemeritahan Amerika Serikat dengan kelompok Konservatif Baru (neo-conservative). Dan, salah satu tokoh utamanya adalah mantan presiden Amerika sendiri, George W Bush.

Menjadi ironis apabila seorang muslim yang sudah mengikatkan dirinya, menjual harta dan dirinya kepada Allah SWT dengan jaminan kebahagiaan jannah yang abadi[10], tetapi dalam kenyataannya masih mencintai, menguasai harta dan dirinya yang sudah dijual itu untuk digunakan diluar kepentingan pembelinya yakni Allah SWT, Rasulullah dan Jihad untuk meninggikan Dien-Nya. Mereka merasa berat mengeluarkan sebagian hartanya, takut ditinggal keluarganya, sibuk dan lupa karena urusan bisnisnya, malas keluar rumah untuk berda’wah menyebarkan kebenaran Rabb-Nya[11]

ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH

Zakat berasal dari kata “zakaa” berarti tumbuh, berkembang, digunakan untuk harta berarti mensucikan.
Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti ‘mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu’
Shodaqoh, satu akar kata dengan “Shidiq” berarti benar, jujur.
Karena mengeluarkan zakat menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya harta sesuai dalil bahwa ”harta tidak berkurang karena sedekah”.
Karena zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan dosa-dosa.
Karena shodaqoh, seorang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya terbuktikan kebenaran keimanannya.

_________________
Referensi:
[1]QS. AlBaqoroh [2]:207-208
[2]QS. Adz-Dzariyat[]:56
[3]QS. At Taubah [9]:103
[4]QS. Al Lail [92]:18, QS. Al Hujuraat [49]:15
[5]QS. Al Baqoroh [2]:261, 265
[6]QS. At Taubah [9]:60, 103, QS. Al Baqoroh [2]:274
[7]QS. Ash Shaff [61]:11; QS. Al Hujuraat[49]:15; QS. Al Anfaal [8]:72; QS.An Nissa[4]:95;QS. At Taubah [9]:88, 44, 41
[8] QS. Al Qashash [28]:38
[9] QS. Al Lahab [111]:1-5
[10] QS. At Taubah [9]:111
[11] QS. At Taubah [9]:38-42


Sumber : Studi Komprehensif ISLAM Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar