25 Des 2010

Kisah Generasi Muda Muslim di Rusia


Batal Minum-minum, Spontan, Rustam Sarachev Malah Kunjungi Masjid.

> REPUBLIKA.CO.ID, ALMETYEVSK, RUSSIA--Pada saat menginjakkan kaki pertama kali di masjid agung di kota itu, Rustam Sarachev seharusnya bersenang-senang. Ia ingin menghadiri hingar-bingar pesta di sebuah klub malam, namun alih-alih ia malah mengirimkan dirinya ke jalan menuju Islam.
Awalnya seorang teman mengolok-olok karena ia berpikir tentang mengunjungi masjid. Marah, Rustam pun meninggalkan teman-temannya dan mereka berangkat minum-minum tanpa dirinya.


Begitu menyesali pikirannya yang 'jernih', dengan 500 rubel--yang seharusnya digunakan untuk membeli vodka--masih utuh di dompet, ia melangkah menuju sebuah masjid berwarna jingga salmon. Warna itu mendominasi satu sudut timur di sebuah kota minyak kecil, Volga. Saat itu akhir September 2006, awal bulan Ramadan.


Dibangun pada 1990-an dengan dukungan dana Arab Saudi, masjid itu menghadirkan pernyataan kuat di lingkungan setempat. Di dalam Sarachev menjumpai interior dengan aksen pahatan kayu memesona, paduan karpet warna merah dan hijau terlihat kontras saat disandingkan dengan ubin biru bermotif mosaik.


Pada hari libur para jamaah tetap membuka layanan. Selama ibadah sore, ashar menjelang maghrib, dengan arah bangunan menuju barat daya, Mekah, sebuah jendela di sisi kanan memasukan sekilas pemandangan langit megah berwarna merah muda, seperti dunia lain. Bahkan terlihat sorotan sinar menerpa lima kubah emas gereja Ortodok di seberang jalan.


"Saya sungguh terkejut," kenang Sarachev. "Saya tidak bisa memahami di mana saya berada. Saat itu didalam hanya ada orang-orang muda. Mereka memperlakukan saya begitu baik. Saya tidak pernah sebelumnya disambut seperti itu," tutur Sarachev.


Dalam aula masjid ia melihat wajah yang akrab. Seorang teman, Almas Tikhonov, yang selama ini dikenal tukang pesta berkepribadian kasar. Ia di sana, sedang berdoa. Ia terkesan dengan cara Almas melihat, ada ketenangan menarik dalam dirinya.


Hari-hari berikut, gambaran-gambaran itu terus berkutat dan tak bisa lepas di pikiran Sarachev. Ia pun memutuskan kembali ke masjid, lagi, lagi dan lagi. Ia harus menanggung cibiran teman-teman lamanya--dan ia akui itu berat--namun sekaligus, yang membuat tekadnya kian kuat.
Lama-kelamaan ia mulai melihat kawan-kawannya dengan cara pandang baru dan cahaya baru. Itu membuat ia mudah meninggalkan minum-minuman, pesta dan nongkrong di sudut-sudut jalan, atau mengendap-endap di sebuah desa di mana mereka dapat berpesta semalaman penuh, jauh dari pantauan orang tua.


Ketika ia menoleh kembali ke belakang, ia sendiri tak yakin apa yang membuat ia mendatangi masjid dan apa yang ia harapkan dari kunjungan itu. Berusia 17 tahun, kala itu ia merasa kehilangan diri. Sarachev melabeli dirinya holigan, pembuat onar dengn kepribadian yang dikeraskan oleh kehidupan. Namun, ia juga mengingat sangat rapuh dengan hinaan dan merasa sakit ketika menemui dirinya sebagai pemuda tanpa masa depan.


Mata Sarachev terbuka. Ia akhirnya menyadari bahwa dunia penuh dengan kejahatan. Tugas seorang Muslim yang baik adalah mengatasi dan mengalahkan semua kejahatan itu. Dan sesuatu di sana, ia tahu, meski ia mengaku masih memproses dalam pikirannya, terletak pengertian Jihad. "Itu adalah perjuangan terhadap mereka yang tidak meyakini," ujarnya "Itu bukan sekedar ujian. Jihad adalah perang."

Tantangan Rustam Sarachev justru dari Orang Tuanya Sendiri.

Sarachev adalah keturunan Tatar. Nenek moyangnya beralih memeluk Islam pada abad ke-9, ketika Tatarstan masih menjadi negara kuat yang memiliki hak-haknya sendiri. Di masa silam, selama 450 tahun kaum Tatar di bawah dominasi Rusia, bangga dengan warisan leluhur. Mereka menganggap diri mereka pemimpin alami Muslim Rusia berjumlah 30 juta orang.
Namun nenek moyang Sarachev tidak mempraktekan Islam dalam cara yang ia pahami saat ini. Selama satu milenium, Tatar mengembangkan teologi yang kaya namun juga rumit. Konsep itu nyaman sejalan dengan pemikiran yang dibutuhkan untuk hidup berdampingan bersama Kristen Rusia. Di Kazan, ibu kota Tatarzan, budaya koeksistensi hasil pemikiran masa lalu itu masih bisa dijumpai hingga kini.


Hanya saja, sikap Soviet yang memusuhi dan membenci agama membuat sebagian Tatar saat ini cenderung acuh tak acuh dengan warisan Islam sendiri, bahkan sebagian cenderung tak beragama Ketika tumbuh besar, Sarachev mengingat, agama berarti para kakek dan nenek serta libur hari raya. Ia sendiri tak pernah menjalankan ibadah Islam.
Ketika Soviet jatuh, pendakwah Arab masuk ke Tatarstan. Mereka berkotbah tentang Islam, sebagai agama yang lebih dingin, kaku, sederhana dan lebih puritan. Ajaran itu malah berakar di kawasan itu dan terlihat menguasai kaum muda. Keruntuhan Soviet pula yang membuat rakyat Tatar yang sebelumnya Islam beralih ke Kristen, kembali lagi ke memeluk Islam.
Penerimaan yang Lambat
Almetyevsk, sebuah kota berpenghuni 150 ribu orang yang didirikan pada 1955. Bukan kemiskinan materi yang mendorong pemuda Tatar kepada Islam. Pasalnya keberadaan minyak dan gas membawa kesejahteraan mencolok. Adalah kemiskinan spiritual negara itu, di mana setiap insitusi mulai sekolah, rumah sakit hingga polisi dijerat dengan sinisme dan korupsi yang membuat penduduknya tertarik dengan agama.
Orang tua Sarachev bercerai ketika ia masih sangat muda. Ibunya bekerja di pabrik pipa. Sarachev kini juga bekerja di sana, sebagai operator pompa hidrolik. Ia masih tinggal di apartemen ibunya.


Ketika ia mulai bersungguh-sungguh memeluk Islam, ia belajar bahwa setiap orang lahir dengan iman dari dalam dan orangtualah yang menjauhkan anak-anak mereka dari agama. "Tidak berarti orangtua kita langsung," imbuhnya. "Itu bisa juga metafora dari masyarakat."
Namun sedikit mengherankan ketika ibu dan ayahnya ternyata tidak suka dengan kesadarannya barunya dalam beragama--bila tak bisa dibilang keyakinan baru. Mereka juga tak suka dengan penolakan Sarachev terhadap budaya yang mereka jalani selama ini.
"Mereka tidak paham," tuturnya. "Mereka bertengkar dan berdebat. Mereka, tentu selalu sangat marah ketika saya pulang ke rumah larut dan mabuk, tapi ini mengherankan" kata Sarachev.
Begitu mereka melihat putranya menghentikan kebiasaan buruk, mereka mulai memperhatikan dan bertanya-tanya. Kini, ketika ibunya melihat Sarchev shalat di rumah, ia akan menutup pintu kamarnya dengan sikap tak peduli. Sang ibu juga menolak tegas diwawancarai dalam cerita ini.


Namun, tahun ini pada 2010, adalah pertama kali mereka memberi Sarachev uang untuk membeli domba bagi hari raya kurban, Idul Adha. Domba-domba, lebih dari 600 ekor, diikat di tiang-tiang kayu sekitar masjid. Setiap hewan yang disembelih dikuliti dan dagingnya dibagi menjadi tiga bagian yang sama, satu untuk pihak yang berkurban, satu untuk kerabat dan satu bagian lagi disumbangkan bagi kaum papa.


Mereka yang memotong dan mencabik Muslim menjadi tiga bagian jauh lebih buruk dari mereka yang memotong domba menjadi tiga bagian," demikian ujar Imam masjid, Nail Bin Ahmad Sakhibzyanov, dalam kotbah yang sempat didengar Sarachev. Ia pun pulang dengan gembira dan bangga dengan keyakinannya. Itu adalah pemotongan hewan kurban terbesar yang pernah ada di Almetyvsk.


Sumber : Republika.co.id Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar