HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label Muallaf Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muallaf Indonesia. Tampilkan semua postingan

2 Jun 2013

Muallaf luar biasa - Yulio Muslim da Costa

Yulio da Costa Freitas adalah nama lahir Yulio Muslim da Costa, seorang Muallaf dari Timor-timur yang luar biasa. Memeluk Islam pada usia 16 tahun, kini ia telah hafal 30 Juz atau keseluruhan isi Al Quran. Al Quran yang bisa di hafal oleh siapapun adalah salah satu sisi istimewa nya Islam sebagai panduan hidup. Dan bagi yang sanggup menghafal isi Al Quran, tentu mereka adalah orang-orang Istimewa, bahkan lebih istimewa dibanding ketua PBB sekalipun.

Yulio Muslim da Costa adalah muallaf yang di lahirkan di Dusun Baruwali, Lautem, Timor Timur, kini menjadi Timor Leste pada tanggal 5 Januari 1977. Beliau terlahir dari keluarga yang sederhana. Sebelum menganut Islam, Yulio da Costa Freitas adalah seorang penganut Katolik yang aktif. Kala itu ia kerap dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan gereja.

Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa
Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa


Yulio mengaku sering mendapati para temannya berbincang yang mulai ragu akan agama katolik yang dipeluknya, padahal saat itu ia sudah 3 tahun aktif membantu sang pastor. Perbincangan para rekannya, rupanya membekas di hatinya dan sejak itu ia aktif mengikuti siraman rohani Islam dari televisi nasional (saat itu masih Timor-timur masih menjadi bagian dari Indonesia). Seperti gayung bersambut, Allah SWT mempertemukan ia kepada salah seorang pamannya yang telah lebih dulu menjadi Muallaf, suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, seorang dai di Lautem mulai mendekat dan mengajaknya masuk Islam. Dan Allah SWT pula yang memiliki maha kekuatan memilih hamba-hamba yang taat, Kalimat bijak yang banyak dihapal muslimin pun akhirnya menjadi sebuah ke istimewaan bagi Yulio Muslim Da Costa, Man Jadda Wajada yang berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pastilah ia berhasil. Dan inilah dasar beliau mampu menghafal 30 Juz isi Al Quran.

Yulio bersyahadat di kota Bau-bau saat perjalanan bersama Ustadz Zakaria sang paman ketika sedang menuju ke Kota Dili. Peristiwa yang amat penting bagi Yulio itu terjadi pada tanggal 28 Juni 1993 saat sebelum maghrib. Sejak bersyahadat ia hanya mau di panggil dengan nama Muslimnya yaitu Muslim, dan itu mengindikasikan suatu kecintaan yang luar biasa akan ke Islam annya.

Keberadaannya di Kota Dili adalah juga merupakan persinggahan sebelum beliau meneruskan perjalannya kembali ke Pulau Jawa. Beliau tinggal di Dili sekitar 2 minggu. Muslim sempat gelisah karena teman-temannya dari Kabupaten Moro banyak berdatangan dan belum ada satu pun di antara mereka yang tahu kalau ia telah pindah keyakinan. Di Pulau Jawa Ia tinggal di sebuah Pondok Pesantren Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu.

Di Paciran, Muslim mempelajari Islam sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo. Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab.

Kehebatan dan luar biasanya Muslim adalah beliau mampu menghafal dan menamatkan bacaan Iqra dalam 3 pekan (minggu). Kemudian, sedikit demi sedikit ia mulai menghafal surat-surat pendek. Dengan ketekunannya, hafalan Al quran nya berbuah manis. Selama di pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, ia telah mampu menghafal 9 juz Alquran. Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa dan jarang terjadi. KH Umar Budihargo menindaklanjuti dengan mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan. Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP, dan beliaupun lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah.

Suatu saat, tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan memberanikan diri berbincang-bincang secara langsung dengan salah seorang syekh penguji dari Madinah. Dengan bahasa Arab sebisanya, Muslim menceritakan sebagian kisah hidupnya. Mendengar pengalamannya, Syekh tersebut sangat tertarik, Syaikh tersebut meminta Muslim membawa ijazah dan ingin mengujinya di hadapannya. Sambil menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberikan amanah kepada Yulio Muslim mengurus dan memegang pondok pesantren di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogyakarta pada tahun 1997.

Setahun kemudian, beliau telah menjadi salah seorang peserta untuk bersekolah di Kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, beliau menyempatkan diri pulang ke Tanah Air termasuk menjemput orang tua dan adik-adiknya yang saat itu sedang mengungsi di Kupang beberapa waktu setelah referendum Timor-timur. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT, Saat itu, keluarganya tidak merespons dakwahnya untuk memeluk Islam dan kembali ke Yogyakarta dengan sedikit kecewa. Namun beliau tidak menyerah, dan selalu mendoakan keluarganya. Pada tahun 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta, dan pada pertengahan taun itu pula, Allah SWT meng ijabah do'a beliau, kedua orang tua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.

Setelah 7 tahun menimba ilmu dan menjadi sarjana syariah di Madinah ( 1998 - 2005 ). Dengan ilmu-ilmu yang ditimba di Madinah menjadi bekal dalam ber dakwah Islam. Hingga kini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya belajar di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya, dan mengajak kenalannya untuk memeluk Islam.

Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo memegang pondok tahfiz putra dan taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini Muslim tinggal di Kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarganya yang selalu mendukung setiap langkahnya sampai sekarang. Pada tahun 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang pondok tahfiz putra dan studi bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani, Bogor, Jawa Barat. Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat.

Kini Yulio muslim Da Costa telah memililki tiga putra: mereka adalah Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta, dan Saad Muslim Dacosta. Yulio muslim da Costa tetap berkeinginan  mengembangkan dakwah di Timor Leste dengan mendirikan pesantren tahfidz.
''Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memudahkan jalan. Sehingga semakin banyak yang mempelajari Alquran,'' ungkapnya kepada Republika penuh optimisme.


Lanjutkan Membaca ...

20 Sep 2012

Jonathan -Jono- Armstrong - Menjadi Mualaf sejak Okt 2000


Jonathan Armstrong atau Jono, selebritis yang kian menanjak di Indonesia Menjadi Muallaf sejak Oktober 2000, awalnya ia dikenal sebagai bassist band Gugun Blues Shelter. Namun saat ini, wajahnya sangat sering mondar-mandir di berbagai stasiun televisi.

Ia lahir dari keluarga Kristen yang taat. Ayahnya adalah seorang pendeta. Meski begitu, sang ayah samasekali tidak menghalangi Jono untuk pindah keyakinan. Jono bercerita tentang awal ketertarikannya memeluk Islam yang mulai timbul sejak ia bertandang ke Aceh. Pada kunjungan pertama ke Aceh, ia tinggal selama tiga bulan, dan ia berkelana ke berbagai daerah di Aceh, terutama Sabang.

"Awalnya, saya berpikir soal Islam yang neatif-negatif saja, tapi saat saya menginjkkan kaki di Aceh, Islam terasa beda di sana," ujar jono.

Jono adalah pria kelahiran Inggris, sebelumnya ia memang tidak pernah mengenal soal Islam. Ia beranggapan, Islam identik dengan jihad, terorisme, bom bunuh diri, hingga poligami. Tapi, ketika berada di Aceh, hal negatif soal Islam yang ada di pikirannya seolah sirna.

"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, orang-orang Islam di Aceh itu 180 derajat jauh beda dengan yang ada di pikiran saya. Nggak ada itu yang namanya pukul-pukul istri dan lain-lain yang negatif. Orang Islam di sana ramah, kekeluargaannya masih kuat, nggak ada yang negatif-negatif," kisahnya.

Dari situ, Jono mulai tertarik belajar lebih dalam soal Islam. Jono pun merasa tak kesulitan mempelajari Islam lebih dalam. Setelah perjalanannya mengarungi Aceh usai, ia sempat pulang ke Australia dan kembali rindu pada Aceh. Akhirnya, ia kembali. Kedatangannya yang kedua di Tanah Rencong mempertemukannya pada wanita Aceh bernama Fauziah yang kini menjadi istrinya. Fauziah berusaha membantu Jono belajar mengenal Islam lebih dekat. Sebagai kekasih, Fauziah lekas bertanya pada Jono, apakah ia, benar-benar tertarik memeluk agama Islam, Jono pun menyatakan yakin, ingin berpindah menjadi seorang muslim.

Karena yakin dengan keputusannya, ia lantas pulang ke negara asalnya, Inggris, meminta izin pada orangtuanya, untuk memeluk Islam. Ia merasa bersyukur, izinnya disambut baik sang ayah. Meski sempat sang ayah mempelajari dan mencari tahu soal Islam lebih jauh, tapi akhirnya, kata setuju terucap.

"Saya bilang sama bapak saya, saya mau masuk Islam. Terus dia bilang, bagus itu, nggak apa-apa. Karena bapak saya sudah belajar juga, dia punya Al Quran dalam bahasa Inggris, jadi dia tahu bagaimana Islam."

"Waktu masuk Islam, prosesnya nggak lama. Waktu itu saya konsultasi sama Ketua MUI di Aceh namanya Yusni Sabi, saya konsultasi sama dia, dan kata dia, 'oke, dua hari lagi kita bikin acara kecil di Masjid Raya Aceh Baitturahman', dan saya di Islamkan di tempat itu," ceritanya.

"Waktu itu saya belum menikah dengan Fauziah. Dan saya sempat pulang ke Inggris, kembali lagi ke Aceh, bulan Desember saya menikah," katanya.

Puasa adalah yang paling sulit dijalani

Menjadi mualaf, tak lantas membuat Jono menjadi muslim yang taat. Ia masih terus belajar memperdalam keyakinannya pada Islam. Fauziah, katanya sebagai istri yang sabar menuntunnya belajar. Mulai dari salat, mengaji hingga memberi contoh yang baik termasuk saat menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Baginya, berpuasa mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi dan amarah. Sulit bagi Jono menjalani kewajiban umat muslim satu ini. Bahkan, tak jarang, puasanya batal karena tak bisa menahan haus.

"Saya masih terus berusaha memperdalam keislaman saya. Sejauh ini, puasa saya juga masih banyak yang bolong, tapi bersyukur, istri saya selalu sabar menuntun," katanya.

Cobaan setelah menjadi Muslim

Menjadi keluarga yang menganut ajaran Islam, cobaan juga sempat mampir padanya. "Waktu itu , kalau tidak salah pas saya punya anak kedua, Tobi, itu cobaan berat sekali. Keluarga Fauziah kena tsunami, dan saya waktu itu belum punya pekerjaan tetap. Keluarga Fauziah banyak yang hilang, dan akhirnya kami sempat pulang ke Inggris," kisahnya.

Setelah cobaan bertubi-tubi menghampirinya, tahun 2004, Jono mulai merasakan nikmat berkah sang Maha Kuasa. Di tahun itu, Jono diajak bergabung, masuk dalam grup band Gugun Blues Shelter hingga akhirnya nama band itu populer. Jono mulai full bekerja di musik, dan mulai mendapatkan tawaran job dari berbagai stasiun televisi.

"Waktu itu, saya ngisi acara Belajar Indonesia di Trans TV, jadi host dan tampil 8 episode. Setelah itu, tampil di Dahsyat dan jadwal manggung Gugun Blues Shelter makin padat. Pokoknya rezeki ada terus setelah cobaan itu, " katanya.

Tahun lalu, Jono juga mulai mengisi acara sahur di RCTI. Setelah kontraknya habis, ia ditawari untuk tampil di acara Canda Bule dan tahun ini, Jono kembali memeriahkan acara sahur di 'Waktunya Kita Sahur' yang tayang di Trans TV.

"Selama saya masuk Islam, saya banyak dapat berkah. Rezeki mengalir, apalagi sekarang saya mengisi acara sahur, saya bisa menghibur banyak orang di bulan puasa."

"Meskipun saya bukan orang Indonesia, tapi mereka merasa senang bisa terhibur. Dan saya juga senang bisa menghibur mereka. Ini merupakan berkah buat saya," tegasnya.


sumber : dakwahdiriku.blogspot.com
Lanjutkan Membaca ...

2 Sep 2012

Kisah Perjalanan Fuad - Fuk Meng - menjadi Muallaf

Nama Islamnya kini adalah Fuad Qawwam dan raihan gelar Lc pada belakang namanya, menunjukkan bahwa beliau kini adalah seorang sarjana agama Islam lulusan mesir. Fuad Qawwam bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga muslim, beliau adalah seorang keturunan china yang menganut konfuchu (kong hu cu), dan bernama asli Fuk Meng dan biasa dipanggil dengan sebutan AFU. Afu lahir di kecamatan Wajo, Makassar, anak ke lima dari 7 bersaudara dan anak laki-laki satu-satunya dari kelurga tersebut.

Awal afu mengenal Islam adalah saat ia mengenal seorang temannya yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan sebagaimana teman afu yang lain lakukan. Berikut ini adalah cerita lengkap kisah perjalanannya menjadi muallaf dan konsistensinya dalam mengimani Islam sebagaimana di sajikan dalam blog fuadbatam.blogspot.com.

Nama saya Fuk Meng dan nama panggilan Afu, lahir di Makassar tepatnya di jalan Buru kecamatan Wajo (kemudian selalu berpindah-pindah) pada tanggal 21 juli 1977 dari orang tua yang mengikuti aliran konfuchu. Kami 7 bersaudara dengan saya sebagai anak kelima dan anak tunggal laki-laki. Keadaan saya persis seperti yang beliau saw sabdakan “Setiap anak lahir diatas fitrahnya, tetapi dua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau nashrani atu majusi”. 
Hari-hari kecil hampir seharian terisi dengan kegiatan bermain di luar rumah disebabkan kesibukan bapak menjahit dan ibu jaga toko, mereka bukan dari keluarga yang memperhatikan dunia pendidikan, sedangkan teman-teman ada yang dari keluarga muslim dan mayoritas dari keluarga non muslim. 
Memasuki umur 6 tahun saya disekolahkan di SDN Irian, Makassar. Untuk pelajaran agama saya mengikuti ajaran agama budha sebagaimana orang-orang china lainnya, karena konfuchu tidak diakui di Indonesia sebagai agama dan karena keserupaan antara dua kepercayaan ini. 
Lalu saat kelas 5 SD kami pindah ke jalan Sibula Dalam kecamatan Bontoala di lingkungan yang mayoritas muslim namun masih perlu banyak perbaikan dalam amalan keislaman. 
Setelah tamat dari SD saya masuk ke SMP Hang Tuah bersama dengan pindahan lagi walau di jalan yang sama, lalu karena bidang studi agama yang tersedia di Hang Tuah hanya Islam dan nashrani maka saya mengikuti pelajaran agama nashrani supaya tetap mendapatkan nilai, juga karena tidak adanya pengingkaran berarti dari pendeta terhadap aliran orang tua saya. 
Selama tinggal di jalan Sibula Dalam saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak muslim, apalagi di usia SMP, namun mereka masih jauh dari nilai-nilai keislaman; jarang shalat, terbiasa berjudi, minum khamar, senang berkelahi,……. bahkan pernah mencuri ayam saya (teman mereka sendiri) lalu setelah itu mereka bayar. 

Awal Hidayah 

Di usia remaja ini pergaulan saya boleh dikatakan dengan anak-anak nakal, namun alhamdulillah saya dikenal mereka dengan seorang yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan yang mereka lakukan. 
Base champ kami di sebuah tempat pencucian mobil berjarak 5 rumah dari rumah saya. Tempat pencucian mobil ini sekaligus menjadi lahan mendapatkan kebutuhan ma’isyah teman-teman. Ia milik seorang bapak haji yang selalu shalat di awal waktu, lalu khusus ba’da zhuhur ia duduk mendengarkan siaran radio ceramah KH. Zainuddin MZ yang saat itu baru populer. 
Semuanya berjalan tanpa sengaja, keadaan ini memberikan bias pada jiwa saya.
Setelah bias cahaya itu semakin membesar saya pun sering mencari gelombang siaran dakwah lewat radio itu dan mendengarnya di rumah, bapak-ibu setengah heran dengan apa yang saya buat, tapi mereka tidak menanggapi dengan serius karena bagi mereka asalkan tidak masuk Islam saja. 

Tapi tidak lama waktu berlalu, secara diam-diam saya mempelajari Islam lewat buku dan saya sering memperhatikan Pesantren An Nahdlah yang tidak jauh dari tempat kami. 
Di kelas III SMP menjelang ebtanas Allah memudahkan lisanku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di kamar yang hanya Dia-lah menjadi saksinya. 
Kemudian untuk formalnya saya mendatangi rumah Pimpinan Pesantren itu (Drs. KH. Muh. Haritsah AS) menyatakan mau dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Kiyai takjub dengan usiaku saat itu yang baru 14 tahun lantas berani mengambil keputusan sendiri. Setelah menanyakan kepadaku beberapa hal, maka beliau pun menuntunku mengucapkan kalimat kunci keislaman lalu membuatkan surat pernyataan masuk Islam dengan saksi Bapak Abdul Majid Abdullah yang selain telah lama mengenaliku dengan nama Afu juga beliau salah seorang guru di pesantren tersebut. 

Mendengar beliau memanggilku Afu maka Pimpinan Pesantren memberikan nama Islamku: Fuad. Cukup dengan membalikkan nama yang sudah ada seiring telah berbalikku dari agama kafir kepada keimanan.

Kisahku Mengerjakan shalat 

Sebagaimana yang lalu saya ceritakan bahwa sebelum datang ke Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar saya telah mengucapkan dua kalimat syahadat sendiri dengan Allah Al Ahad (Yang Maha Esa) sebagai saksinya. Ini saya lakukan dengan membaca lafazh latin dari syahadatain dari buku tuntunan shalat. Buku itu saya sembunyikan di lemari diantara pakaian milikku. 
Saya pun senantiasa menelaah buku tersebut secara bersembunyi, sampai saya mengetahui bahwasanya hukum shalat lima waktu adalah wajib, berpahala bagi yang melakukannya dan berdosa / mengundang murka Allah bagi siapa yang meninggalkannya, shalat mempunyai syarat sah, rukun, wajib, dan sunnah. Saya pun mengetahui melalui melihat kebiasaan kaum muslimin dan melalui buku ini bahwa sebelum mengerjakan shalat kita diwajibkan berwudhu sebagai syarat sah shalat, demikian juga wajib sucinya pakaian dan tempat sebagai syarat sah shalat.
Waktu shalat tiba, saya berwudhu di rumah orang tua tanpa sepengetahuan mereka, saya sangat menjaga diri dari najis, khususnya bekas-bekas babi yang merupakan makanan istimewa orang tua yang tiada pekan tanpa makan babi. Setelah berwudhu saya masuk kamar kakak sebab saya sendiri tidak punya kamar khusus, menguncinya lalu mengerjakan shalat. Saya shalat sesekali dengan membaca tulisan latin dari bahasa arabnya, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, membaca terjemahan yang ada dibawah bacaan arabnya. 

Diganggu jin 

Hal yang baru pertama kali menjadi pengalaman hidupku, saat saya sedang shalat dalam kamar badan saya dibelokkan dari arah kiblat, itu di semua posisi shalat selain rukuk dan sujud. Saya ingin mengembalikan ke posisi yang benar tetapi tulang dalam tubuh terasa sakit, semakin saya berusaha untuk mengembalikan ke arah kiblat semakin sakit. Sedangkan saya mengetahui bahwa diantara syarat sah shalat harus menghadap kiblat. Mendapatkan keadaan begitu saya selalu mengulangi shalat karena anggapan shalat saya tidak sah sebab tidak menghadap kiblat, baik saat berdiri baca Al Fatihah (terjemahan), I’tidal, duduk diantara dua sujud, maupun tasyahhud. 
Terus saya ulangi, sampai saya berkeyakinan bahwasanya Allah Maha Pemurah tidak akan membebaniku lebih dari kemampuanku. Sejak saat itu jikalau dalam shalat terjadi hal yang sama, bahkan seringkali dalam posisi tasyahhud badan berputar 80 derajat, tapi saya tetap teruskan. 
Keadaanku ini saat itu tidak saya ceritakan kepada siapapun karena khawatir ketahuan masuk Islam. 
Beberapa hari kemudian, seringkali ketika sedang berkumpul dengan teman-teman tiba-tiba saya menjadi pincang dalam berjalan, terutama menjelang maghrib, lalu normal kembali. Kalau saya sampaikan kepada seseorang yang saya harapkan bisa mengobati, malah leher saya dipermainkan oleh jin. Keadaan ini saya alami dua pekan sampai akhirnya berlalu dengan seizin Allah. 

Awal terlihat sholat oleh manusia 

Teman-teman yang muslim mengetahui saya shalat berawal dari saya membaca dari buku yang sama hukum shalat jum’at yang fardhu ‘ain dan hukuman Allah mengunci hati siapa yang meninggalkannya. Ini berarti orang lain akan tahu kalau saya mengerjakan shalat. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa harus mengambil resiko dibandingkan celaka di kehidupan yang kekal nanti. Sebisa mungkin saya memilih teman yang nampak taat melakukan shalat jum’at dan sekiranya bisa menjaga rahasia ini. Namun sesuai taqdir Allah sangat mudah ketahuan, karena teman ini membawa sajadah membonceng saya dengan motornya. Akhirnya pembicaraan dari mulut ke mulut mulai beredar. 

Ketahuan Orang Tua 

Seiring perjalanan waktu sesuai dengan taqdir Allah tanpa saya sadari ternyata orang tua sudah mulai curiga, mengawasi, sehingga akhirnya menangkap basah saya yang sedang shalat di kamar dengan mereka manjat dan mengintip dari lobang angin kemudian meneriakiku. 
Saat itu masa-masa pertikaian antara saya dengan keluarga. Setelah sempat beberapa hari meninggalkan rumah orang tua menyuruh balik, namun keadaan sulit menghindari najis di rumah sangat berat maka saya memilih lebih banyak di masjid. 

Mendapatkan kawan di masjid 

Selama 1 tahun saya makan, minum, dan tidur tanpa menentu. Sesuai dengan rencana Allah saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik di masjid; Muhammad Nur Maulana (sekarang aktif di kajian subuh TransTV), Burhanuddin, dan Amir Arafah. Muhammad Nur sempat mengajariku Iqra kira-kira 3 hari, sedangkan bersama Amir dan Burhanuddin saya sering bermalam di masjid. 

Was-was Akibat Ketidak-fahaman 

Saya telah membaca di buku itu tentang pentingnya niat sebagai penentu shalat, niat bentuknya kalimat yang dilafazhkan dalam hati, serta niat adalah rukun shalat. Dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan di tengah jama’ah shalat di masjid seringkali saya mengulangi takbiratul ihram sampai dalam jumlah yang tidak terhitung lagi bahkan beberapa shalat saya melakukan takbiratul ihram dari awal waktu masuknya shalat sampai dengan masuk waktu shalat berikutnya masih saja saya ulang-ulangi. 
Sebabnya karena rasa takut yang begitu extreme akan kesalahan hati dalam melafazhkan niat menyebabkan was-was atau keraguan yang begitu besar dalam hatiku, saya selalu ragu apakah lafazhnya sudah sempurna atau belum, saya takut rukun niat ini tidak terpenuhi maka akibatnya shalat tidak sah dan akibatnya berbahaya di akherat. 
Was-was senantiasa berbisik kepadaku bahwa kebenaran niat meragukan, selanjutnya bisikan ragu apakah melanjutkan shalat atau mengulangi takbiratul ihram, selanjutnya keraguan ini digambarkan kepadaku sebagai keinginan untuk membatalkan shalat dengan mengulanginya, sedangkan telah diketahui bahwa niat membatalkan shalat termasuk pembatal shalat. 
Was-was ini telah membawaku kepada kebodohan yang sangat memalukan. Namun akhirnya Allah menyelamatkanku dari was-was ini, diantaranya dengan pengetahuan bahwasanya niat itu bukanlah berbentuk lafazh layaknya kalimat yang disebutkan oleh lisan. 

Perkembangan Keilmuan Islam-ku 

Sudah kusebutkan bahwa masuk Islamku menjelang ebtanas SMP. Di masa libur panjang itu saya belajar Iqra sekitar 1 minggu dengan dua guru (Muh. Nur Maulana dan Sangkala) setelah itu saya belajar sendiri sampai akhirnya bisa dan menghafal Al Qur’an yang saya hadapkan juz-juz awal kepada Ust. Yahya, Ust. Abdul Aziz, dan KH. Utsman Arif (semoga Allah merahmati mereka semua).
Pengalaman yang begitu indah ketika Allah memberi saya kesempatan menghafal juz I hanya dalam 3 hari dan juz II dalam 4 hari dengan hafalan yang matang, lalu semakin bertambah hafalan semakin membutuhkan waktu yang panjang demi memuraja'ah yang sudah terhafal agar tetap terjaga. 
Ketika tiba masa pendaftaran sekolah, Allah pun mentaqdirkan saya bertemu dengan bagian tata usaha Pesantren An Nahdlah (Ir. Kadir Kasse) sampai beliau menyuruhku mendaftar tanpa biaya pendaftaran maupun spp. 
Ringkasnya, saya masuk tingkat aliyah. Masa awal yang membuat saya setiap hari terliputi rasa malu, karena bahkan bacaan Al Qur’an saya masih terputus-putus sedangkan di pesantren sangat banyak pelajaran yang menggunakan bahasa Arab. 
Akhirnya semester I tiba dan hasil ujian semester keluar dengan saya mendapatkan rangking 2 dari belakang (23 dari 24 siswa). Namun alhamdulillah Allah senantiasa membimbingku, di semester II saya mendapatkan peringkat 18 dari 24 siswa. 
Di kelas 2 aliyah, sesuai taqdir Allah di jalan setapak masjid tempat kegiatan belajar mengajar Pesantren An Nahdlah saya bertemu dengan pimpinan pesantrennya, beliau menanyakan makan, minum, dan tidurku, setelah mengetahui keadaanku maka beliau menyuruhku tinggal di rumahnya. Saya pun tinggal di rumah beliau sekitar 4 tahun. Jasa sangat besar yang tidak sanggup saya balas dan hanya Allah yang kuasa membalasnya, semoga Allah membalasi kebajikan beliau dengan sempurna. 
Saya kembali, di kelas 2 aliyah, semester I saya di peringkat 12 dari 24 siswa, semester II di peringkat 8. Prestasi belajarku terus menanjak. Ada santri yang mengaku bahwa dirinya ditugaskan salah seorang guru untuk memantau saya dalam ujian apakah nyontek buku, tapi katanya ternyata tidak. Naik kelas 3 aliyah, semester I saya mendapatkan rangking 5, di semester terakhir mendapatkan rangking 2. 
Selesai dari pesantren dengan ijazah MAN itu tahun 1995 saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar atas saran KH. Muh. Haritsah yang sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Satu tahun kuliah di fakultas Tafsir-Hadits kemudian saya ikut tes untuk mendapatkan beasiswa Universitas Al Azhar Cairo tahun 1996. Untuk wilayah propinsi Sul-Sel tes diadakan di IAIN Alauddin Makassar dengan jumlah peserta 80 orang.
Ringkasnya, setelah berlalu beberapa lama saya mendapatkan info kalau pengumuman hasil tes sudah keluar, saya ke IAIN dengan Drs. Amirullah Amri. Masuk ke ruang Tata Usaha IAIN saya pun bertanya, “Hasil tes sudah keluar?” Katanya, “Siapa namamu?” Jawab saya, “Fuk Meng”, kata dia, “Yang benar! Kok tidak putih?!”…….. Sambil sedikit mencandai akhirnya dia pun memberitahukan kelulusanku dengan nilai rata-rata 9,5 untuk 5 materi tes, menduduki rangking 1 diantara 10 orang yang dinyatakan lulus. Berita ini jadi heboh sampai ke tingkat kanwil, karena untuk pertama kalinya ada nama ‘aneh’ yang lulus bahkan di urutan 1. 
Hatiku sangat senang Allah membukakan jalan thalabul ilmi, namun kemudian saya harus mendapatkan masalah besar karena status saya masih sebagai WNA (warga Negara asing) maka saya tidak diberikan pasport walau segala usaha yang kira-kira mampu saya lakukan telah saya tempuh. Saya sangat sedih, tapi tidak berputus asa. Saya urus kewarga-negaraan hingga akhirnya berhasil, tetapi telah terlambat 1 minggu dari tutupnya pendaftaran di Cairo. 
Atas kemudahan dari Allah dan bantuan yang sangat besar dari Prof. DR. Abdurrahman Basalamah (Ketua Yayasan UMI, semoga Allah merahmati dan mensucikan rohnya) di tahun 1997 saya diizinkan ikut rombongan mahasiswa utusan ke Cairo tanpa tes lagi. 

Aktifitas Menuntut ilmuku selama di Mesir 

Secara formal saya kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah, sedangkan thalabul ilmi non formal saya lakukan dengan menimba ilmu dari Syaikh Usamah Al Qushi, Majdi Arafah, dan para syaikh Ansharussunnah Mesir. Mereka murid-murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Bin Baz, Al Albani, maupun Muqbil, semoga Allah merahmati mereka semua. 
Kebiasaan saya setelah muqarrar (diktat) yang ditentukan dosen setiap materi telah keluar, saya membelinya, meringkas tidak lebih dari 10 halaman, kemudian lebih mengarahkan aktifitas kepada materi-materi lain di luar mata pelajaran kuliah. Sampai ujian tiba saya tidak tegang sebagaimana teman-teman, saya cukup menelaah kembali ringkasan yang dulu saya buat. 
Alhamdulillah, setiap tahun saya naik ke tingkat selanjutnya. Di tingkat terakhir saya mengalami tashfiyah, yaitu harus mengulangi 2 materi, disebabkan jawaban saya menyelisihi pendapat dosen. Tapi alhamdulillah ujian susulan bisa saya selesaikan dengan baik. Saya lulus dari S1 Al Azhar dengan nilai jayyid pada tahun 2002. 

Aktifitas setelah pulang ke Indonesia 

Disebabkan kondisi, awal pulang dari Mesir saya sempat mengajar di beberapa tempat di Makassar dalam waktu yang hanya sebentar. Kemudian saya ke kampung isteri (Magelang) lalu mengajar di pondok pesantren/ma’had Darul Atsar Kedu Temanggung selama 3 tahun (alhamdulillah angkatan mereka saat ini telah menjadi para pengajar baik di pondok Darul Atsar sendiri maupun lainnya). Sambil mengajar di ma'had dengan jadwal yang cukup padat alhamdulillah Allah memudahkanku menerjemahkan sekitar 30 judul kitab berbahasa Arab yang diterbitkan oleh beberapa penerbit Salafiyyah. 
Sekarang sudah lebih 4 tahun saya berada di Batam, selain aktifitas dakwah, berupa ceramah dan khutbah di masjid-masjid, saya membina yayasan Fursanul Haq yang memiliki kegiatan Home Schooling untuk setingkat TK, Tahfizhul Qur’an untuk remaja (insya Allah segera akan diasramakan diatas rumah saya), dan Pengkaderan Dai untuk dewasa. Semuanya ini saya dan keluarga tercinta jalankan di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami yang sederhana dengan ukuran hanya 102 m2.

Keluargaku

Isteri : Endang Widyastutik (STAN, Mengajar TK dan Tahfizh)
Anak-anak :
Aisyah (14 tahun, hafal 20 juz, ngajar ngaji dan TK)
Fatimah (11 tahun, hafal 10 juz, ngajar ngaji dan TK)
Ismail (8 tahun, hafal 3 ½ juz), Nafisah (5 tahun), dan Mulaikah (2 tahun). 

Penutup 

Alhamdulillah yang telah memberikan kita hidayah, tanpa hidayah-Nya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alhamdulillah yang semata dengan nikmat-Nya amal shaleh bisa sempurna. 
Saya berterima kasih kepada semua yang telah berjasa padaku, khususnya orang tua saya (Chan Kok Ang dan Tjie A Beng), Drs. KH. Muhammad Haritsah beserta keluarga, Prof. DR. Abd. Rahman Basalamah, dan para syaikh Ahlussunnah. Semoga Allah memberikan hidayah Islam untuk dua orang tuaku dan kaum kerabatku yang hampir semuanya masih mempersekutukan Allah dengan aliran konfuchunya. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan para guruku, mengumpulkan kami di surganya yang tertinggi bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Semoga Allah merahmati kaum muslimin seluruhnya dan mengangkat kembali kaum muslimin dari keterjatuhannya.
Lanjutkan Membaca ...

15 Sep 2011

Syamsul Arifin Nababan Memeluk Islam Berawal dari Buku

Syamsul Arifin Nababan dilahirkan di Sumatra Utara. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahnya merupakan pimpinan gereja di kampung halamannya. Ibunya adalah ketua kelompok lagu kerohanian di gereja yang sama dengan suaminya.
Sebagai anak pemuka agama, Syamsul diajarkan ajaran agama sesuai keyakinan orangtuanya. Namun, di tengah ketatnya pengawasan orangtua, ia masih diberikan kebebasan untuk memilih dan melakukan sesuatu. "Keluarga saya sangat demokratis," ujar Syamsul.
Hobinya yang membaca buku, membawa dirinya bergelut pada pembahasan perbandingan agama. Semua buku yang membahas tentang agama habis ia lalap.
Dari semua buku tentang agama, ia menganggap Islam sebagai agama yang berbeda. "Ketentraman batin saya temukan dalam Islam," ungkap Syamsul.
Setelah hampir tiga tahun mempelajari ilmu perbandingan agama, kemudian pada 1991, ia memutuskan memeluk Islam di sebuah pondok pesantren bernama Raudhatul Ullum di Jember, Jawa Timur. Kyai Khotib Umar pemimpin pondok itulah yang membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat.
Dengan sedikit terbata-bata, syhadat ia lafazkan. Saat itu pula ia resmi mengganti nama lahirnya. "Saat kecil, saya bernama Bernard Nababan. Perintah Kyai yang mengislamkan saya, akhirnya saya berganti nama menjadi Syamsul Arifin Nababan," cerita Syamsul, mengenang.
"Ini dimaksudkan agar saya menutup lembaran kisah masa lalu saya. Namun nama Nababan tetap saya pakai karena marga," katanya menambahkan.
Di pesantren itu, kata dia, menjadi tempat pertamanya mempelajari Islam. Mulai dari mengaji hingga pelajaran mengenai tuntunan shalat. "Alhamdulillah dalam satu minggu saya sudah mampu shalat sendiri dan bisa membaca Alquran," tuturnya.
Merasa memiliki bekal agama yang cukup, tiga tahun kemudian ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dengan maksud mematangkan ilmu Islamnya. Di Jakarta, ia berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan disebuah kampus bahasa di bilangan Jakarta Selatan.
Keberuntunggan tak habis sampai di situ. Pada 1997 ia diundang oleh kerajaan Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. Ketika kembali pulang ke kampung halaman, usai menunaikan rukun islam yang kelima, ia memutuskan untuk menyiarkan agama yang ia yakini kebenarannya itu. "Dua adik saya berhasil saya Islamkan," ungkap Syamsul.
Berbekal ilmu yang ia pelajari, dan pengalaman mengislamkan adiknya, la memutuskan untuk terus melakukan dakwah. "Di Jakarta saya mulai berceramah dari masjid ke masjid hinga kantor ke kantor," tuturnya.
Niat tulus tanpa tendensi, kata dia, maka Allah akan memberikan kemudahan dan jalan pada orang yang melakukannya. "Jika kamu menolong agamamu, maka Allah akan menolong kamu," jelas Syamsul, meminjam sebuah ayat dalam Alquran.
Pada peruntungan lain, ia berkesempatan untuk melakukan syiar tak hanya di bumi pertiwi. Negeri Paman Sam hingga Negeri Kanguru, pernah ia sambangi. Kesempatan ini, kata dia, adalah hasil kesungguh-sungguhan dalam menolong agama. "Seperti janji Allah," kata dia.
Syamsul Arifin Nababan merupakan pendiri Pondok Pesantren Annaba' Center yang terletak di Kawan Binato, Tangerang Selatan. Ponpes tersebut merupakan pondok yang dikhususkan bagi para Mualaf. Ponpes tersebut kini dihuni sekitar 60 mualaf yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sumber : Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...