2 Jun 2013

Muallaf luar biasa - Yulio Muslim da Costa


Yulio da Costa Freitas adalah nama lahir Yulio Muslim da Costa, seorang Muallaf dari Timor-timur yang luar biasa. Memeluk Islam pada usia 16 tahun, kini ia telah hafal 30 Juz atau keseluruhan isi Al Quran. Al Quran yang bisa di hafal oleh siapapun adalah salah satu sisi istimewa nya Islam sebagai panduan hidup. Dan bagi yang sanggup menghafal isi Al Quran, tentu mereka adalah orang-orang Istimewa, bahkan lebih istimewa dibanding ketua PBB sekalipun.

Yulio Muslim da Costa adalah muallaf yang di lahirkan di Dusun Baruwali, Lautem, Timor Timur, kini menjadi Timor Leste pada tanggal 5 Januari 1977. Beliau terlahir dari keluarga yang sederhana. Sebelum menganut Islam, Yulio da Costa Freitas adalah seorang penganut Katolik yang aktif. Kala itu ia kerap dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan gereja.

Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa
Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa


Yulio mengaku sering mendapati para temannya berbincang yang mulai ragu akan agama katolik yang dipeluknya, padahal saat itu ia sudah 3 tahun aktif membantu sang pastor. Perbincangan para rekannya, rupanya membekas di hatinya dan sejak itu ia aktif mengikuti siraman rohani Islam dari televisi nasional (saat itu masih Timor-timur masih menjadi bagian dari Indonesia). Seperti gayung bersambut, Allah SWT mempertemukan ia kepada salah seorang pamannya yang telah lebih dulu menjadi Muallaf, suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, seorang dai di Lautem mulai mendekat dan mengajaknya masuk Islam. Dan Allah SWT pula yang memiliki maha kekuatan memilih hamba-hamba yang taat, Kalimat bijak yang banyak dihapal muslimin pun akhirnya menjadi sebuah ke istimewaan bagi Yulio Muslim Da Costa, Man Jadda Wajada yang berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pastilah ia berhasil. Dan inilah dasar beliau mampu menghafal 30 Juz isi Al Quran.

Yulio bersyahadat di kota Bau-bau saat perjalanan bersama Ustadz Zakaria sang paman ketika sedang menuju ke Kota Dili. Peristiwa yang amat penting bagi Yulio itu terjadi pada tanggal 28 Juni 1993 saat sebelum maghrib. Sejak bersyahadat ia hanya mau di panggil dengan nama Muslimnya yaitu Muslim, dan itu mengindikasikan suatu kecintaan yang luar biasa akan ke Islam annya.

Keberadaannya di Kota Dili adalah juga merupakan persinggahan sebelum beliau meneruskan perjalannya kembali ke Pulau Jawa. Beliau tinggal di Dili sekitar 2 minggu. Muslim sempat gelisah karena teman-temannya dari Kabupaten Moro banyak berdatangan dan belum ada satu pun di antara mereka yang tahu kalau ia telah pindah keyakinan. Di Pulau Jawa Ia tinggal di sebuah Pondok Pesantren Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu.

Di Paciran, Muslim mempelajari Islam sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo. Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab.

Kehebatan dan luar biasanya Muslim adalah beliau mampu menghafal dan menamatkan bacaan Iqra dalam 3 pekan (minggu). Kemudian, sedikit demi sedikit ia mulai menghafal surat-surat pendek. Dengan ketekunannya, hafalan Al quran nya berbuah manis. Selama di pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, ia telah mampu menghafal 9 juz Alquran. Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa dan jarang terjadi. KH Umar Budihargo menindaklanjuti dengan mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan. Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP, dan beliaupun lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah.

Suatu saat, tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan memberanikan diri berbincang-bincang secara langsung dengan salah seorang syekh penguji dari Madinah. Dengan bahasa Arab sebisanya, Muslim menceritakan sebagian kisah hidupnya. Mendengar pengalamannya, Syekh tersebut sangat tertarik, Syaikh tersebut meminta Muslim membawa ijazah dan ingin mengujinya di hadapannya. Sambil menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberikan amanah kepada Yulio Muslim mengurus dan memegang pondok pesantren di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogyakarta pada tahun 1997.

Setahun kemudian, beliau telah menjadi salah seorang peserta untuk bersekolah di Kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, beliau menyempatkan diri pulang ke Tanah Air termasuk menjemput orang tua dan adik-adiknya yang saat itu sedang mengungsi di Kupang beberapa waktu setelah referendum Timor-timur. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT, Saat itu, keluarganya tidak merespons dakwahnya untuk memeluk Islam dan kembali ke Yogyakarta dengan sedikit kecewa. Namun beliau tidak menyerah, dan selalu mendoakan keluarganya. Pada tahun 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta, dan pada pertengahan taun itu pula, Allah SWT meng ijabah do'a beliau, kedua orang tua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.

Setelah 7 tahun menimba ilmu dan menjadi sarjana syariah di Madinah ( 1998 - 2005 ). Dengan ilmu-ilmu yang ditimba di Madinah menjadi bekal dalam ber dakwah Islam. Hingga kini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya belajar di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya, dan mengajak kenalannya untuk memeluk Islam.

Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo memegang pondok tahfiz putra dan taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini Muslim tinggal di Kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarganya yang selalu mendukung setiap langkahnya sampai sekarang. Pada tahun 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang pondok tahfiz putra dan studi bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani, Bogor, Jawa Barat. Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat.

Kini Yulio muslim Da Costa telah memililki tiga putra: mereka adalah Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta, dan Saad Muslim Dacosta. Yulio muslim da Costa tetap berkeinginan  mengembangkan dakwah di Timor Leste dengan mendirikan pesantren tahfidz.
''Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memudahkan jalan. Sehingga semakin banyak yang mempelajari Alquran,'' ungkapnya kepada Republika penuh optimisme.


Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar