HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muallaf. Tampilkan semua postingan

2 Jun 2013

Muallaf luar biasa - Yulio Muslim da Costa

Yulio da Costa Freitas adalah nama lahir Yulio Muslim da Costa, seorang Muallaf dari Timor-timur yang luar biasa. Memeluk Islam pada usia 16 tahun, kini ia telah hafal 30 Juz atau keseluruhan isi Al Quran. Al Quran yang bisa di hafal oleh siapapun adalah salah satu sisi istimewa nya Islam sebagai panduan hidup. Dan bagi yang sanggup menghafal isi Al Quran, tentu mereka adalah orang-orang Istimewa, bahkan lebih istimewa dibanding ketua PBB sekalipun.

Yulio Muslim da Costa adalah muallaf yang di lahirkan di Dusun Baruwali, Lautem, Timor Timur, kini menjadi Timor Leste pada tanggal 5 Januari 1977. Beliau terlahir dari keluarga yang sederhana. Sebelum menganut Islam, Yulio da Costa Freitas adalah seorang penganut Katolik yang aktif. Kala itu ia kerap dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan gereja.

Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa
Muallaf Luar Biasa - Yulio Muslim da Costa


Yulio mengaku sering mendapati para temannya berbincang yang mulai ragu akan agama katolik yang dipeluknya, padahal saat itu ia sudah 3 tahun aktif membantu sang pastor. Perbincangan para rekannya, rupanya membekas di hatinya dan sejak itu ia aktif mengikuti siraman rohani Islam dari televisi nasional (saat itu masih Timor-timur masih menjadi bagian dari Indonesia). Seperti gayung bersambut, Allah SWT mempertemukan ia kepada salah seorang pamannya yang telah lebih dulu menjadi Muallaf, suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, seorang dai di Lautem mulai mendekat dan mengajaknya masuk Islam. Dan Allah SWT pula yang memiliki maha kekuatan memilih hamba-hamba yang taat, Kalimat bijak yang banyak dihapal muslimin pun akhirnya menjadi sebuah ke istimewaan bagi Yulio Muslim Da Costa, Man Jadda Wajada yang berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pastilah ia berhasil. Dan inilah dasar beliau mampu menghafal 30 Juz isi Al Quran.

Yulio bersyahadat di kota Bau-bau saat perjalanan bersama Ustadz Zakaria sang paman ketika sedang menuju ke Kota Dili. Peristiwa yang amat penting bagi Yulio itu terjadi pada tanggal 28 Juni 1993 saat sebelum maghrib. Sejak bersyahadat ia hanya mau di panggil dengan nama Muslimnya yaitu Muslim, dan itu mengindikasikan suatu kecintaan yang luar biasa akan ke Islam annya.

Keberadaannya di Kota Dili adalah juga merupakan persinggahan sebelum beliau meneruskan perjalannya kembali ke Pulau Jawa. Beliau tinggal di Dili sekitar 2 minggu. Muslim sempat gelisah karena teman-temannya dari Kabupaten Moro banyak berdatangan dan belum ada satu pun di antara mereka yang tahu kalau ia telah pindah keyakinan. Di Pulau Jawa Ia tinggal di sebuah Pondok Pesantren Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu.

Di Paciran, Muslim mempelajari Islam sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo. Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab.

Kehebatan dan luar biasanya Muslim adalah beliau mampu menghafal dan menamatkan bacaan Iqra dalam 3 pekan (minggu). Kemudian, sedikit demi sedikit ia mulai menghafal surat-surat pendek. Dengan ketekunannya, hafalan Al quran nya berbuah manis. Selama di pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, ia telah mampu menghafal 9 juz Alquran. Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa dan jarang terjadi. KH Umar Budihargo menindaklanjuti dengan mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan. Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP, dan beliaupun lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah.

Suatu saat, tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan memberanikan diri berbincang-bincang secara langsung dengan salah seorang syekh penguji dari Madinah. Dengan bahasa Arab sebisanya, Muslim menceritakan sebagian kisah hidupnya. Mendengar pengalamannya, Syekh tersebut sangat tertarik, Syaikh tersebut meminta Muslim membawa ijazah dan ingin mengujinya di hadapannya. Sambil menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberikan amanah kepada Yulio Muslim mengurus dan memegang pondok pesantren di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogyakarta pada tahun 1997.

Setahun kemudian, beliau telah menjadi salah seorang peserta untuk bersekolah di Kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, beliau menyempatkan diri pulang ke Tanah Air termasuk menjemput orang tua dan adik-adiknya yang saat itu sedang mengungsi di Kupang beberapa waktu setelah referendum Timor-timur. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT, Saat itu, keluarganya tidak merespons dakwahnya untuk memeluk Islam dan kembali ke Yogyakarta dengan sedikit kecewa. Namun beliau tidak menyerah, dan selalu mendoakan keluarganya. Pada tahun 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta, dan pada pertengahan taun itu pula, Allah SWT meng ijabah do'a beliau, kedua orang tua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.

Setelah 7 tahun menimba ilmu dan menjadi sarjana syariah di Madinah ( 1998 - 2005 ). Dengan ilmu-ilmu yang ditimba di Madinah menjadi bekal dalam ber dakwah Islam. Hingga kini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya belajar di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya, dan mengajak kenalannya untuk memeluk Islam.

Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo memegang pondok tahfiz putra dan taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini Muslim tinggal di Kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarganya yang selalu mendukung setiap langkahnya sampai sekarang. Pada tahun 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang pondok tahfiz putra dan studi bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani, Bogor, Jawa Barat. Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat.

Kini Yulio muslim Da Costa telah memililki tiga putra: mereka adalah Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta, dan Saad Muslim Dacosta. Yulio muslim da Costa tetap berkeinginan  mengembangkan dakwah di Timor Leste dengan mendirikan pesantren tahfidz.
''Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memudahkan jalan. Sehingga semakin banyak yang mempelajari Alquran,'' ungkapnya kepada Republika penuh optimisme.


Lanjutkan Membaca ...

4 Okt 2012

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim menguap. "Inilah kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana aku berubah," kata Ibrahim Killington. Ketertarikannya membaca isi Al Quran berawal dari perkenalannya dengan Baba Ali yang santun dan humoris. Ia begitu terkejut, ternyata ada Muslim yang humoris dan santun.

Ia mulai membaca Alquran. Ia pikir, ia telah mendapatkan kesempatan untuk membaca kitab yang menjadi rujukan teroris. Awalnya, ia takut terpengaruh. Nyatanya, ia begitu terkejut dengan isi Alquran.

Ibrahim Killington, Sebelum menjadi Muslim, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, Menenggak minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. "Saya bergaul dengan orang yang sama seperti saya. Dengan harapan, kesenangan dan kebahagian itu tak pernah berakhir," kenang dia.

Pemberitaan negatif baik cetak maupun elektronik yang semakin gencar juga mempengaruhi pandangannya terhadap Islam dan Muslim. Pemberitaan itu menanamkan padanya bahwa setiap Muslim melakukan kekejaman di seluruh dunia. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim mulai tumbuh. Ia merasa negaranya sudah diacak-acak oleh Islam dan Muslim. "Mereka itu penjahat berbahaya di dunia," kata dia.

Satu hari, ia mendengar siaran radio tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dari sebuah program 'Terror Talk'. Radio itu mempertanyakan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan studi banding prilaku terorisme di seluruh dunia. "Saya mulai mempertanyakan apa yang diyakini umat Islam pada waktu itu. Kebetulan saya tengah mencari kebenaran," kata dia. Peristiwa ini juga memicunya untuk mengenal lebih dalam tentang kebenaran dalam Islam baik dari bacaan-bacaan maupun dari dunia maya.

Dengan ayat-ayat Al Qur'an, kebenicannya terhadap Islam terus menguap. Untuk dapat berubah, Pertama yang ia lakukan adalah pergi ke masjid. Ia habiskan waktu sepanjang hari untuk banyak membaca literatur tentang Islam. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia tengah berada di masjid. Mendengar itu, ibunya sontak berteriak. "Tidak, anda tidak bisa berada di masjid. Anda adalah seorang Kristen," kata ibunya.

"Banyak cerita tentang bagaimana kisah orang yang memeluk Islam. Mereka merasa kembali ke rumah setelah sekian lama pergi. Itulah yang aku rasakan," kenang dia.

"Ketika anda ingin mencari tahu tentang Islam dan Muslim, ada baiknya anda pergi ke masjid. Di sana, anda akan mendapatkan informasi sebenar-benarnya. Jangan takut akan apa yang keluarga anda pikirkan. Islam itu lahir untuk kita, umat manusia," paparnya lagi.

Sumber: Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...

22 Sep 2012

Biography Malcolm X mengantarkan Ahmed ke Islam


Biography dari Malcolm X mengubah hidup Ahmed James (nama muslimnya kini)kepada Islam, meski tidak serta-merta membuatnya berkeputusan menjadi muallaf, tapi setidaknya, buku tersebut menjadi berkas sinar yang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya hingga ia teguh untuk mengkonversi agamanya dari Katolik ke Islam.

Sejak SMA, Ahmed membaca banyak bacaan dari berbagai agama-agama untuk memperbandingkan agama sebagaimana yang ditugaskan sekolah. Dari berbagai sumber bacaan ini, saat itu ia belum tertarik untuk mendalami agama tertentu dan hanya sekedar sebagai bahan pembelajara, dan pada saat itu ia belum memfokuskan diri untuk mengenal Islam lebih dalam. Dan rupanya, buku Biography Malcolm X malah benar-benar berarti bagi kehidupannya.

Ahmed James lahir dan besar di Seattle, Washington. Ia tumbuh dalam keluarga yang kurang perduli terhadap agamanya (kristen) sebagaimana keluarga lain di Amerika, tidak benar-benar mempraktekkan keyakinan mereka dan pergi ke gereja hanya beberapa kali dalam setahun. Ahmed tertarik dengan agama sewaktu ia duduk di SMA Katolik.

Sebagaimana perjuangan Malcolm X yang menentang rasisme di Amerika, Ahmed James adalah orang yang yakin bahwa hanya Islam yang dapat menyembuhkan Rasisme dari Amerika. Dan peristiwa kecelakaan tabrakan mobil yang telah membuatnya hampir meninggal sangat membekas, sehingga ia selalu terngiang pertanyaan tentang "Apa yang terjadi ketika aku mati? Apa tujuan hidup?. Jawaban-jawaban tersebut ia dapatkan hanya dalam Al Quran.

Baginya, Al Quran adalah pengingat terhebat, karena Al Quran selalu mengingatkan tentang kematian dan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia ini hanyalah sebuah perjalanan ujian, dan bagi james, pengingat ini adalah sebuah perspektif yang indah. Namun ia juga melihat bahwa banyak muslimin yang telah ditarik menjauh dari Islam dan benar-benar terpikat oleh kehidupan materi (dunia).

Video Kisah Perjalanan Ahmed James menjadi Muallaf.


Lanjutkan Membaca ...

20 Sep 2012

Jonathan -Jono- Armstrong - Menjadi Mualaf sejak Okt 2000


Jonathan Armstrong atau Jono, selebritis yang kian menanjak di Indonesia Menjadi Muallaf sejak Oktober 2000, awalnya ia dikenal sebagai bassist band Gugun Blues Shelter. Namun saat ini, wajahnya sangat sering mondar-mandir di berbagai stasiun televisi.

Ia lahir dari keluarga Kristen yang taat. Ayahnya adalah seorang pendeta. Meski begitu, sang ayah samasekali tidak menghalangi Jono untuk pindah keyakinan. Jono bercerita tentang awal ketertarikannya memeluk Islam yang mulai timbul sejak ia bertandang ke Aceh. Pada kunjungan pertama ke Aceh, ia tinggal selama tiga bulan, dan ia berkelana ke berbagai daerah di Aceh, terutama Sabang.

"Awalnya, saya berpikir soal Islam yang neatif-negatif saja, tapi saat saya menginjkkan kaki di Aceh, Islam terasa beda di sana," ujar jono.

Jono adalah pria kelahiran Inggris, sebelumnya ia memang tidak pernah mengenal soal Islam. Ia beranggapan, Islam identik dengan jihad, terorisme, bom bunuh diri, hingga poligami. Tapi, ketika berada di Aceh, hal negatif soal Islam yang ada di pikirannya seolah sirna.

"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, orang-orang Islam di Aceh itu 180 derajat jauh beda dengan yang ada di pikiran saya. Nggak ada itu yang namanya pukul-pukul istri dan lain-lain yang negatif. Orang Islam di sana ramah, kekeluargaannya masih kuat, nggak ada yang negatif-negatif," kisahnya.

Dari situ, Jono mulai tertarik belajar lebih dalam soal Islam. Jono pun merasa tak kesulitan mempelajari Islam lebih dalam. Setelah perjalanannya mengarungi Aceh usai, ia sempat pulang ke Australia dan kembali rindu pada Aceh. Akhirnya, ia kembali. Kedatangannya yang kedua di Tanah Rencong mempertemukannya pada wanita Aceh bernama Fauziah yang kini menjadi istrinya. Fauziah berusaha membantu Jono belajar mengenal Islam lebih dekat. Sebagai kekasih, Fauziah lekas bertanya pada Jono, apakah ia, benar-benar tertarik memeluk agama Islam, Jono pun menyatakan yakin, ingin berpindah menjadi seorang muslim.

Karena yakin dengan keputusannya, ia lantas pulang ke negara asalnya, Inggris, meminta izin pada orangtuanya, untuk memeluk Islam. Ia merasa bersyukur, izinnya disambut baik sang ayah. Meski sempat sang ayah mempelajari dan mencari tahu soal Islam lebih jauh, tapi akhirnya, kata setuju terucap.

"Saya bilang sama bapak saya, saya mau masuk Islam. Terus dia bilang, bagus itu, nggak apa-apa. Karena bapak saya sudah belajar juga, dia punya Al Quran dalam bahasa Inggris, jadi dia tahu bagaimana Islam."

"Waktu masuk Islam, prosesnya nggak lama. Waktu itu saya konsultasi sama Ketua MUI di Aceh namanya Yusni Sabi, saya konsultasi sama dia, dan kata dia, 'oke, dua hari lagi kita bikin acara kecil di Masjid Raya Aceh Baitturahman', dan saya di Islamkan di tempat itu," ceritanya.

"Waktu itu saya belum menikah dengan Fauziah. Dan saya sempat pulang ke Inggris, kembali lagi ke Aceh, bulan Desember saya menikah," katanya.

Puasa adalah yang paling sulit dijalani

Menjadi mualaf, tak lantas membuat Jono menjadi muslim yang taat. Ia masih terus belajar memperdalam keyakinannya pada Islam. Fauziah, katanya sebagai istri yang sabar menuntunnya belajar. Mulai dari salat, mengaji hingga memberi contoh yang baik termasuk saat menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Baginya, berpuasa mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi dan amarah. Sulit bagi Jono menjalani kewajiban umat muslim satu ini. Bahkan, tak jarang, puasanya batal karena tak bisa menahan haus.

"Saya masih terus berusaha memperdalam keislaman saya. Sejauh ini, puasa saya juga masih banyak yang bolong, tapi bersyukur, istri saya selalu sabar menuntun," katanya.

Cobaan setelah menjadi Muslim

Menjadi keluarga yang menganut ajaran Islam, cobaan juga sempat mampir padanya. "Waktu itu , kalau tidak salah pas saya punya anak kedua, Tobi, itu cobaan berat sekali. Keluarga Fauziah kena tsunami, dan saya waktu itu belum punya pekerjaan tetap. Keluarga Fauziah banyak yang hilang, dan akhirnya kami sempat pulang ke Inggris," kisahnya.

Setelah cobaan bertubi-tubi menghampirinya, tahun 2004, Jono mulai merasakan nikmat berkah sang Maha Kuasa. Di tahun itu, Jono diajak bergabung, masuk dalam grup band Gugun Blues Shelter hingga akhirnya nama band itu populer. Jono mulai full bekerja di musik, dan mulai mendapatkan tawaran job dari berbagai stasiun televisi.

"Waktu itu, saya ngisi acara Belajar Indonesia di Trans TV, jadi host dan tampil 8 episode. Setelah itu, tampil di Dahsyat dan jadwal manggung Gugun Blues Shelter makin padat. Pokoknya rezeki ada terus setelah cobaan itu, " katanya.

Tahun lalu, Jono juga mulai mengisi acara sahur di RCTI. Setelah kontraknya habis, ia ditawari untuk tampil di acara Canda Bule dan tahun ini, Jono kembali memeriahkan acara sahur di 'Waktunya Kita Sahur' yang tayang di Trans TV.

"Selama saya masuk Islam, saya banyak dapat berkah. Rezeki mengalir, apalagi sekarang saya mengisi acara sahur, saya bisa menghibur banyak orang di bulan puasa."

"Meskipun saya bukan orang Indonesia, tapi mereka merasa senang bisa terhibur. Dan saya juga senang bisa menghibur mereka. Ini merupakan berkah buat saya," tegasnya.


sumber : dakwahdiriku.blogspot.com
Lanjutkan Membaca ...

18 Sep 2012

Steven Byers: Seseorang Penting Mempelajari Islam

Siapakah Steven Byers ? Ia adalah seorang Mahasiswa Sains berkewarga negaraan Kanada. Ia berpendapat adalah penting bagi seseorang untuk mempelajari Islam meski sekecil mungkin. Ia kemudian memutuskan memeluk Islam setelah meyakini bahwa Islam adalah sistem keyakinan yang kecocokannya sempurna dengan pemikiran logisnya.

Lima tahun yang lalu, Byers tidak memiliki sistem Keyakinan yang ia ikuti, meskipun ia di besarkan dalam keyakinan kristen, namun banyak hal buruk yang terjadi pada kehidupannya. "Saya selalu bertanya, mengapa Tuhan memperlakukan saya seperti itu, terhadap keluarga saya, atau teman-teman saya? Itu semua tidak masuk akal bagi saya. Dan kemudian membuat saya marah karenanya. Saat itu rasa amat marah disebabkan banyak peristiwa.".

Menemukan Kedamaian

Pada musim semi yang lalu, ia dianjurkan oleh beberapa temannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dan apa yang dia temukan adalah sebuah sistem keyakinan yang sempurna bagi pikiran logis. Kemudian pada musim panas, Byers memutuskan untuk menyatakan Syahadat (testimony of faith).

"Saat anda menyatakan Syahadat yang datang dari kejujuran hati anda, maka anda adalah seorang Muslim".

Abdullah Hamza, seorang profesor sains pada University of New Brunswick yang juga menjabat Presiden Fredericton Islamic Association mengatakan sebuah alasan mengapa orang tertarik ke Islam adalah karena disana ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereaka yang ingin mereka isi. Profesor juga mengatakan bahwa mereka harus menjauh dari dunia materi dalam rangka menemukan kedamaian dalam kehidupannya.

"Islam menyeru anda untuk Shalat 5 waktu per hari, sehingga anda harus memutus diri anda dari hiruk pikuk kehidupan materi."

Tugas utama muslim yang diperlukan dalam Islam yang dapat memperkuat komitmen seorang muslim kepada Allah bagi perdamaian, yaitu sholat lima kali sehari dan membaca wahyu Allah (Al-Qur'an), berpuasa selama bulan lunar Ramadhan, bersedekah, dan jika Anda memiliki uang, ber haji ke kota suci Makkah yang setidaknya dilakukan sekali dalam hidup Anda. Byers belum pernah ke Mekah, tapi ia mengambil bagian dalam puasa Ramadhan untuk pertama kalinya.

“Tidak makan dalam periode hari-hari itu mengajarkan anda disiplin dan mengetuk hati anda untuk merasakan seperti apa orang-orang yang tidak bisa makan".

Ini adalah salah satu dari sekian banyak pengalaman pertama bagi Byers. Namun dia mengatakan
yang masih mudah untuk menyesuaikan pada sistem keyakinan ini karena ia merasakan nilai yang fundamental bagi perdamaian, kasih-sayang dan niat baik yang kini menjadi bagian karakternya.

"Islam selalu bersama anda. Anda lahir didalam Islam, dalam bahasa Arab, kita menyebutnya sebagai FITRAH. Fitrah adalah bagian dari anda. Mereka mulai berjalan bersama ketika mereka sudah siap untuknya."

Byers juga mengatakan adalah penting bagi setiap orang untuk mempelajari Islam meski sedikit, setidaknya untuk menghilangkan kesalahpahaman bahwa Islam adalah agama terror. Byers juga mengatakan jika seseorang menggabungkan tujuannya dan tujuan Islam ke dalam kehidupan mereka, seperti dia, mereka mungkin menemukan kedamaian yang mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang mencarinya.


Sumber : www.onislam.net
Lanjutkan Membaca ...

13 Sep 2012

Jamie - Mantan Model : Saya Akhirnya punya Tujuan Hidup

Sebelum saya menjadi muslimah, Saya bukanlah orang yang konservative, saya bukanlah orang yang sangat baik. Saya menjadi model  sekitar 5 tahun dan selama waktu tersebut, Saya menggunakan obat-obatan (drugs) dan  saya berfikir saya dapat menggunakannya dan tidak akan kecanduan sebab saya menggunakannya hanya untuk membantu mengurangi kegemukan. Saya hanya akan mengkonsumsinya saat saya ingin tetap makan banyak makanan.

Begitulahn, Saya pikir saya cukup kuat untuk tidak kecanduan obat-obatan dan pada dasarnya setiap pengguna sebenarnya telah kecanduan.

Saya memulainya dengan perhitungan dan ingin mencobanya beberapa minggu dan kemudian saya benar-benar kecanduan dan saya menggunakannya  setiap hari selama lima tahun. Dan hal itu telah menjatuhkan saya ketempat terbawah. Saya dan suami pada waktu itu menggunakan secara bersama dan dia mulai melakukan kekerasan terhadap diri saya dan saya menakuti kehidupanku sendiri.

Kemudian saya memutuskan untuk keluar, dan tidak menginginkan hal itu kembali terjadi pada kehidupan saya, dan saya katakan kepada suamiku "Saya katakan, saya Ingin berhenti", yang disambut dengan tawaan suamiku dan ia mengatakan "Ya, betul, Kamu tidak akan pernah bisa berhenti" dan saya jawab"Kamu tahu apa, saya akan berhent". Pada hari itu saya benar-benar berhenti dan tidak pernah lagi menolehnya. Saya tidak memiliki waktu untuk rehabilitasi, tidak ada bantuan dari luar ataupun sistem yang mendukung. Saya hanya memiliki tawaan suami dan ia merayu agar saya kembali mengkonsumsi.

Setelah itu saya mengarahkan fokus perubahan hidup pada anak laki kecilku yang membutuhkan ibu yang baik dan saya sangat mencintainya. Saya ingin merubah segalanya untuk fokus kepadanya.


Back in the day, I could do anything I wanted. I was very involved in basically the Hollywood scene that anybody would want to be involved in. A lot of people are surprised that I gave that up in order to become a Muslim, but the funny thing is when I said my shahadah the desire to do all those things was completely taken away from me. I used to drink, did drugs, and all that stuff. I don’t want to do them anymore. It is amazing to me, I really enjoy and feel peaceful in my heart about being a Muslim.

I was born and raised non-denominational charismatic born-again Christian, and I didn’t find answers for what I was looking for, for 31 years as a Christian, I never really felt God. I tried this as hard as I could. I really did and I never felt Him. The whole thing that started leading me to Islam was that I got married to an Iranian man who was a very devout born-again charismatic non-denominational Christian, and he was mentally and emotionally abusive to me, not to mention that fact that he was poisoning me, just so that he could control me, to keep me at home not being able to leave the house just to know where I would be all the times. So I left him, and that kind started me on a whole new journey to see what was really going on in the world.

Researching Islam and Finding Peace

I think the main thing that I liked about Islam was the respect for women
I researched Islam for a while before I chose to convert. Basically, I wanted to know why people hated Muslims so much because I saw what I saw in the news. I saw oppression and violence and I wanted to know what really existed, and if that was the way that Islam was.

So I started researching it, and the more and more I researched it, the deeper I got into it, I saw the truth in it. I think the main thing that I liked about Islam was the respect for women. There is a large amount of respect for women and the things we do as women. Our lives aren’t easy. We have a lot of things that we have to think and worry about; our families, our husbands, our children and we have to bear children. That’s really a very hard thing to go through.

And you know, a lot of us have to cook, clean, raise children and take care of the house and the husband. It’s a difficult job. And the fact that Islam respects women for that, and they separate us at mosques so that the men are not distracted by us because Islam understands the power that we have behind, I guess you could say, our sexuality. The way we look is really powerful to men, and they are affected by it. Islam respects that. Once I realized that, it grabbed the hold of me, and that’s when I knew I wanted to become a Muslim.

Converting to Islam made me feel different. It made me feel absolutely peaceful. I felt unstable before. I felt like a lot of things in my life were just up and down because they hadn’t been decided on. There was no goal in my mind. There was no reasoning for me being here. I didn’t know why I should be here, and converting to Islam gave me that peace and security and the balance that I needed in my life that made everything make sense to me; that made everything real. And it made everything worth being here for, because I finally have a purpose and I understand what it is.

We don’t always have the opportunity to meet people that we essentially need to meet in order to understand them. So I started going to a mosque in order to really get close to the people and understand them. And the more I got involved in the mosque, the more the women just surrounded me and took me in, and they really showed me the kindness that is Islam.

I want to wear Hijab because I want people to know that I’m Muslim
I never ever in my life would have ever thought that I would become a Muslim. Never ever! My perception of Muslims was so misconceived that I didn’t like them because I believed media and I thought they were bad, and never in a million years would I have thought one day I would be one of them. But now that I’m, I’m so proud and happy. I want to wear Hijab because I want people to know that I’m Muslim, even if they hate me, I don’t care. I want to show them that Allah exists in any kind of person, not just Middle Easterners.

I played drums before I was Muslim, and just because I became a Muslim doesn’t mean I have to stop doing the things that I enjoy. I do a lot of sports; snowboarding, water skiing and I still can be a good Muslim and still wear Hijab.

Dad's Reaction

My dad never really knew about my past with the drugs and playboy modeling and all that stuff. He and I didn’t speak for 8 years. He kicked me out of the house when I was 17 years old and I lived under a freeway overpass for a week. I was homeless. And all I had with me was what I could fit in my back bag and my guitar case.

So we didn’t speak for 8 years after that and he didn’t understand I wouldn’t have understood is that these are experiences I needed to have on my own. I needed to have the pain on my own, and I needed to have the recovery on my own.

The only reason why I started speaking to him again was because I got pregnant with my son, and I figured that my son needed a grandfather. When I did come back and started speaking to him again, we had a beautiful conversation together and we discussed what had happened before and we both apologized to each other and promised we will never do it again. So, ... this is my daddy. And he is my best friend in the whole wide world. And it’s something I never thought it was going to happen. But now that it has, I love him so much.

The first time my dad learned about my conversion, I was on my way home from Sacramento. I had just gone to a mosque up there and converted. I was driving home and I was too afraid to call him because I knew he was going to be really mad. So I texted him on the phone and I said “Dad, could you please try to start having an open mind about Muslims? Can you please just stop being so judgmental and believing all you see about Muslims on the news?” He texted me back and said “Why?” So I said “Well, dad, I’m Muslim!”

My father wasn’t too pleased when he found out that I converted to Islam. He was quite unhappy to the point where I feared that I was going to have to leave. We live in the same home. And we work at the same job, and I haven’t gone back to the job since, but living at home has been very tense...

Sumber: http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/457874-jamie-converts-to-islam.html
Lanjutkan Membaca ...

Kisah Melinda Baily Menjadi Muallaf

Hi. namaku adalah Melinda Baily. Saya menjadi muallaf ( memeluk Islam) sejak 3 tahun yang lalu, dan saya ingin menjawab beberapa pertanyaan umum yang diajukan kesaya tentang bagaimana saya menemukan Islam.

Sebenarnya, setelah saya pindah ke South Carolina dari Buffalo, New York, Kakek dan nenek saya telah tinggal disana (South Carolina) dan mereka adalah penganut katolik. Kedua orang tua saya lahir sebagai katolik, ayah saya seorang keturunan Polandia (polish) dan ibu saya adalah keturunan Italia, Namun pada akhirnya kedua orang tua saya pindah keyakinan menjadi seorang Kristen dari gereja non-denominasi di Buffalo dan kemudian kami ke North Carolina sekitar 8 tahun yang lalu.

Kisah Kakakku

Saat itu kami masih pergi ke gereaja dan kemudain kakak saya bertemu seseorang dan dia mengatakan bahw pria tersebut adalah seorang Muslim. Hubungan mereka menjadi hubungan yang serius. Saat itu saya tidak mengerti sedikitpun tentang Islam. Kami sangat mendedikasikan hidup ke Kristen. Kemudian kakak saya mulai mempelajari Islam dan kami menerima pria tersebut dengan hagat dan tangan yang terbuka. Kami sangat serius untuk belajar tentang pandangan-pandangannya, agama nya dan beberapa hal lainnya. Dan kemudian kakak ku akhirnya menikah dengannya.

Dengan pernikahannya, kakak ku ini kemudian memutuskan keinginannnya untuk mempelajari lebih dalam agama sebelum mereka memiliki anak. Dia ingin membuat keputusan bagaimana dia membesarkan anak-anaknya sebab ia tidak ingin mengenalkan anak-anaknya kepada agama yang ia tidak meyakininya. Dia ingin mereka mendukung sesuatu yang dia yakin tentangnya. Dia mempelajari Islam sekitar 2 tahun dan kemudian memutuskan memeluk (konversi) ke Islam, dan dia mengatakan kepada keluarga kami bahwa dia tidak lagi meyakini ajaran trinitas dan mengatakan bahwa ia telah mempelajari banyak hal dalam Islam.  Keputusan ini awalnya menakutkan bagi kami karena banyaknya miskonsepsi tentang Islam dan juga perubahan-perubahan besar pada dirinya; yaitu system keyakinannya, bagaimana dia bertingkah laku dan bagaimana cara dia berpakaian.
Bagi saya saat itu saya tidak begitu tertarik kepada Islam, dan saya hanya ingin melakukan penelitian untuk diri pribadi dan memutuskan apa yang saya yakini dan apa yang menurut saya benar. Namun ternyata hal ini berdampak pada keluarga saya yang akhirnya berhenti mengunjungi gereja meski tetap mempraktekkan dan meyakini ajaran kristen. Saat itu saya masih terlalu muda dan baru saja melalui masa SMA, dan membuat saya menjadi bingung tentang apa yang saya yakini. Orang tua saya mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kakak saya katakan. Hal itulah yang memicu saya untuk mempelajari lebih dalam dan memutuskan apa yang saya yakini dan apa yang menurut saya benar dan tidak hanya sekedar menerima keyakinan yang saya anut sejak lahir. Saya percaya, pencarian saya akan memperkuat saya dalam kristen atau memperkuat saya jika saya beralih ke Islam.  Itulah tujuan dari rencana yang harus saya dapatkan. Then my sister had moved oversees, and every time she came back to visit us like for the summer time she was a lot more religious and a lot more strict in religion. It was very scary to see these changes. Then she introduced me to somebody that was also a Muslim, and I started a relationship with him. Before we got serious, we decided that we were going to separate and not see each other, and that I was really going to research about religion and then decide what I really wanted to believe before I started a serious relationship with this person.

Researching Islam

So then I started to research the religion. My motivation was to decide whether I am going to continue the relationship with this person and have a serious relationship with him because that was a big step. We are having somebody from a different religion in a cross-cultural marriage that is difficult enough as having two people marrying who were practicing different religions. I really wanted to research before I made a decision. When I started researching, the first thing I researched was women’s rights in Islam. The truth is that I had heard a lot of rumors. We used to see a lot of things in the media and I had a lot of misconceptions that I wanted to find out what the religion actually practices. So I had a lot of misconceptions about what the rights of women were in Islam. I thought before that women were forced to cover, they had to walk behind their husband or something out of respect, and they have to sit at the backseat of the car, and such kinds of common misconceptions. When I actually started researching, I found a lot of things that I was really surprised, that there was a lot of rights that I agreed with in the religion, and a lot of rights they had given women. For instance a woman has the right to hold her own property and have her own business, and be in charge of her own money and make business deals and stuff without any male influence from her husband who doesn’t have any right to her money, any right to her inheritance and her father doesn’t. She is able to hold property and make business and stuff on her own. That was something I was really surprised to hear about because they were some of the misconceptions that people normally have. So I kind of agreed with a lot of points. So I continued researching about what the religion was actually saying. One of the big things was what Muslims worshipped. I didn’t really know what they actually believed in. I thought maybe they worshipped Muhammad and they didn’t believe in Jesus and didn’t believe in God. When I actually researched I found out that they do believe in Jesus and they do believe in God, but they don’t believe in the trinity. We have stories about Abraham, Moses and Noah and so many things are exactly the same. But the thing that was different was the trinity Some of the stories in Quran made it very easy to research Islam because I was so used to many of the ideas and many of the stories because there were so many similarities between Christianity and Islam, especially that I was born and raised Christian I used to hear similar stories and they were the same ones. We have the same prophets. We have stories about Abraham, Moses and Noah and so many things are exactly the same. But the thing that was different was the trinity.

Jesus in Islam

Muslims don’t worship Muhammad (peace be upon him) but Muhammad was a prophet and he was the last prophet. Their relationship with Jesus is that they believed he was one of the most well-respected prophets, but didn’t believe he actually is God but believe he is a man and a prophet of God and he told people to worship God as One. A common thing which was a big debate between Muslims and Christians was that the Muslim standpoint is that worshiping Jesus as a God in place of the father is considered as associating partners with God. So when I started to research the ideas of Jesus in Islam, a lot of things made a lot of sense, because when I researched what the trinity really was I realized, personally to me, that it didn’t make 100% sense to me. It was something I was used to practice and believe in but I didn’t really question because I thought it was wrong to question things about my religion. So I had the idea that it was really wrong to look for something else or have any reasons to do so. I was comfortable with my beliefs and practicing Christianity. I found also that they believe in the virgin birth. And a lot of points I was researching like the difference between the points that the Christians made about Jesus is that Jesus is the son of God and that he is God, compared to what the Muslims said that Jesus is a prophet of God but he is not God himself and that you have to worship God and tell people to worship God only and he didn’t ask people to worship him. So researching the whole different points that Muslims had made and points that Christians had made, and doing it open-mindedly and freely. One of the things I had liked about Islam was that it is OK to ask questions and research if something doesn’t make sense, and it should scientifically, historically or logically make sense. That was really one of the things I enjoyed about Islam, that there is a lot of the scientific points in the religion that were proven to be true. There are a lot of common grounds that the most closely related religion to Islam is Christianity. But one of the points when I did my research that really had personally hindered me when I really thought that Muslims had valid points and that this was a good belief system they had, what I heard about in the media and what I heard about from different cultures. There are so many different Muslim countries and each of them have their own cultural influences in their practices, that is not the actual religious practicing. Islam is a religion that’s almost 1500 year old. Countries have been introduced to the religion, but they changed some of its practices through their cultural habits. Then which of the favours of your Lord will ye deny? Qur'an 55:13 Sumber : http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/454836-my-sisters-future-husband-introduced-me-to-islam.html
Lanjutkan Membaca ...

10 Sep 2012

30 pesepak-bola terkenal Muslim di Liga Eropa

30 pesepak-bola terkenal Muslim di Liga Eropa, Pengen tahu tentang siapa aja ? Sering iseng-iseng searching tentang kisah para muallaf dan akhirnya tertarik juga sekedar untuk tahu tentang keyakinan para pesepak-bola yang sering berlaga di berbagai liga di benua eropa. Meski, saya paham, hal ini sama sekali tidak berpengaruh penting dalam dunia olahraga, namun setidaknya hal ini bisa memberikan mereka (non muslim) gambaran tentang Islam, dan bagaimana keyakinan mereka mempengaruhi effort mereka.

Saya tidak ragu, di sana lebih dari 100 pesepak-bola baik terkenal ataupun kurang dikenal, tapi artikel ini hanya akan menampilkan 30 pemain yang sering kita dengar namanya. Dalam daftar list ini, saya tidak menyertakan 2 nama yang keyakinan mereka masih dipertanyakan, seperti Ibrahimovic dan Robin Van Persie. Seperti kita tahu, Ibrahimovic , seorang keturunan muslim Bosnia yang tinggal dan dewasa di Swedia. Sedangkan Robin Van Persie di isyu kan telah mengkonversi ke Islam karena menikahi wanita maroko.

Berikut ini adalah nama-nama mereka :

1. Samir Nasri
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Manchester City

2. Franc Ribery
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Fc Bayern Munich

3. Mesut Ozil
Kewarga-negaraan : Jerman
Klub : Real Madrid

4. Nicolas Bilal Anelka
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : formerly of Chelsea

5. Lassana Diarra
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Real Madrid

6. Mohamadou Diarra
Kewarga-negaraan : Malian
Klub : Fulham

7. Frederic Oumar Kanoute
Kewarga-negaraan : Mali
Klub : Seville

8. Eric Abidal
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : FC Barcelona

9. Edin Dzeko
Kewarga-negaraan : Bosnia
Klub : Manchester City

10. Islam Feruz
Kewarga-negaraan : Scotlandia
Klub : Chelsea

11. Armand Traore
Kewarga-negaraan : Senegal
Klub : Queens Park Rangers (QPR)

12. Hatim Ben Arfa
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Newcastle

13. Solomon Kalou
Kewarga-negaraan : Pantai Gading
Klub : Chelsea

14. Yaya Toure
Kewarga-negaraan : Pantai Gading
Klub : Manchester City

15. Kolo Toure
Kewarga-negaraan : Pantai Gading
Klub : Manchester City

16. Abou Diaby
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Arsenal

17. Ibrahim Afellay
Kewarga-negaraan : Belanda
Klub : Barcelona

18. Bacary Sagna
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Arsenal

19. Maroune Chamakh
Kewarga-negaraan : Maroko
Klub : Arsenal

20. Karim Benzema
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Real Madrid

21. Sami Khedira
Kewarga-negaraan : Jerman
Klub : Real Madrid

22. Nuri Sahin
Kewarga-negaraan : Turki
Klub : Real Madrid

23. Hamit Altintop
Kewarga-negaraan : Turki
Klub : Real Madrid

24. Papiss Cisse
Kewarga-negaraan : Senegal
Klub : Newcastle

25. Demba Ba
Kewarga-negaraan : Senegal
Klub : Newcastle

26. Sulley Ali Muntari
Kewarga-negaraan : Ghana
Klub : AC Milan

27. Adil Rami
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Valencia

28. Aly Cissokho
Kewarga-negaraan : Perancis
Klub : Olympique Lyonnais

29. Khalid Boulahrouz
Kewarga-negaraan : Belanda
Klub : PSV

30. Andrea Ayew
Kewarga-negaraan : Ghana
Klub : Marseille


Sumber : thoughtswriter.hubpages.com
Lanjutkan Membaca ...

2 Sep 2012

Kisah Perjalanan Fuad - Fuk Meng - menjadi Muallaf

Nama Islamnya kini adalah Fuad Qawwam dan raihan gelar Lc pada belakang namanya, menunjukkan bahwa beliau kini adalah seorang sarjana agama Islam lulusan mesir. Fuad Qawwam bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga muslim, beliau adalah seorang keturunan china yang menganut konfuchu (kong hu cu), dan bernama asli Fuk Meng dan biasa dipanggil dengan sebutan AFU. Afu lahir di kecamatan Wajo, Makassar, anak ke lima dari 7 bersaudara dan anak laki-laki satu-satunya dari kelurga tersebut.

Awal afu mengenal Islam adalah saat ia mengenal seorang temannya yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan sebagaimana teman afu yang lain lakukan. Berikut ini adalah cerita lengkap kisah perjalanannya menjadi muallaf dan konsistensinya dalam mengimani Islam sebagaimana di sajikan dalam blog fuadbatam.blogspot.com.

Nama saya Fuk Meng dan nama panggilan Afu, lahir di Makassar tepatnya di jalan Buru kecamatan Wajo (kemudian selalu berpindah-pindah) pada tanggal 21 juli 1977 dari orang tua yang mengikuti aliran konfuchu. Kami 7 bersaudara dengan saya sebagai anak kelima dan anak tunggal laki-laki. Keadaan saya persis seperti yang beliau saw sabdakan “Setiap anak lahir diatas fitrahnya, tetapi dua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau nashrani atu majusi”. 
Hari-hari kecil hampir seharian terisi dengan kegiatan bermain di luar rumah disebabkan kesibukan bapak menjahit dan ibu jaga toko, mereka bukan dari keluarga yang memperhatikan dunia pendidikan, sedangkan teman-teman ada yang dari keluarga muslim dan mayoritas dari keluarga non muslim. 
Memasuki umur 6 tahun saya disekolahkan di SDN Irian, Makassar. Untuk pelajaran agama saya mengikuti ajaran agama budha sebagaimana orang-orang china lainnya, karena konfuchu tidak diakui di Indonesia sebagai agama dan karena keserupaan antara dua kepercayaan ini. 
Lalu saat kelas 5 SD kami pindah ke jalan Sibula Dalam kecamatan Bontoala di lingkungan yang mayoritas muslim namun masih perlu banyak perbaikan dalam amalan keislaman. 
Setelah tamat dari SD saya masuk ke SMP Hang Tuah bersama dengan pindahan lagi walau di jalan yang sama, lalu karena bidang studi agama yang tersedia di Hang Tuah hanya Islam dan nashrani maka saya mengikuti pelajaran agama nashrani supaya tetap mendapatkan nilai, juga karena tidak adanya pengingkaran berarti dari pendeta terhadap aliran orang tua saya. 
Selama tinggal di jalan Sibula Dalam saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak muslim, apalagi di usia SMP, namun mereka masih jauh dari nilai-nilai keislaman; jarang shalat, terbiasa berjudi, minum khamar, senang berkelahi,……. bahkan pernah mencuri ayam saya (teman mereka sendiri) lalu setelah itu mereka bayar. 

Awal Hidayah 

Di usia remaja ini pergaulan saya boleh dikatakan dengan anak-anak nakal, namun alhamdulillah saya dikenal mereka dengan seorang yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan yang mereka lakukan. 
Base champ kami di sebuah tempat pencucian mobil berjarak 5 rumah dari rumah saya. Tempat pencucian mobil ini sekaligus menjadi lahan mendapatkan kebutuhan ma’isyah teman-teman. Ia milik seorang bapak haji yang selalu shalat di awal waktu, lalu khusus ba’da zhuhur ia duduk mendengarkan siaran radio ceramah KH. Zainuddin MZ yang saat itu baru populer. 
Semuanya berjalan tanpa sengaja, keadaan ini memberikan bias pada jiwa saya.
Setelah bias cahaya itu semakin membesar saya pun sering mencari gelombang siaran dakwah lewat radio itu dan mendengarnya di rumah, bapak-ibu setengah heran dengan apa yang saya buat, tapi mereka tidak menanggapi dengan serius karena bagi mereka asalkan tidak masuk Islam saja. 

Tapi tidak lama waktu berlalu, secara diam-diam saya mempelajari Islam lewat buku dan saya sering memperhatikan Pesantren An Nahdlah yang tidak jauh dari tempat kami. 
Di kelas III SMP menjelang ebtanas Allah memudahkan lisanku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di kamar yang hanya Dia-lah menjadi saksinya. 
Kemudian untuk formalnya saya mendatangi rumah Pimpinan Pesantren itu (Drs. KH. Muh. Haritsah AS) menyatakan mau dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Kiyai takjub dengan usiaku saat itu yang baru 14 tahun lantas berani mengambil keputusan sendiri. Setelah menanyakan kepadaku beberapa hal, maka beliau pun menuntunku mengucapkan kalimat kunci keislaman lalu membuatkan surat pernyataan masuk Islam dengan saksi Bapak Abdul Majid Abdullah yang selain telah lama mengenaliku dengan nama Afu juga beliau salah seorang guru di pesantren tersebut. 

Mendengar beliau memanggilku Afu maka Pimpinan Pesantren memberikan nama Islamku: Fuad. Cukup dengan membalikkan nama yang sudah ada seiring telah berbalikku dari agama kafir kepada keimanan.

Kisahku Mengerjakan shalat 

Sebagaimana yang lalu saya ceritakan bahwa sebelum datang ke Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar saya telah mengucapkan dua kalimat syahadat sendiri dengan Allah Al Ahad (Yang Maha Esa) sebagai saksinya. Ini saya lakukan dengan membaca lafazh latin dari syahadatain dari buku tuntunan shalat. Buku itu saya sembunyikan di lemari diantara pakaian milikku. 
Saya pun senantiasa menelaah buku tersebut secara bersembunyi, sampai saya mengetahui bahwasanya hukum shalat lima waktu adalah wajib, berpahala bagi yang melakukannya dan berdosa / mengundang murka Allah bagi siapa yang meninggalkannya, shalat mempunyai syarat sah, rukun, wajib, dan sunnah. Saya pun mengetahui melalui melihat kebiasaan kaum muslimin dan melalui buku ini bahwa sebelum mengerjakan shalat kita diwajibkan berwudhu sebagai syarat sah shalat, demikian juga wajib sucinya pakaian dan tempat sebagai syarat sah shalat.
Waktu shalat tiba, saya berwudhu di rumah orang tua tanpa sepengetahuan mereka, saya sangat menjaga diri dari najis, khususnya bekas-bekas babi yang merupakan makanan istimewa orang tua yang tiada pekan tanpa makan babi. Setelah berwudhu saya masuk kamar kakak sebab saya sendiri tidak punya kamar khusus, menguncinya lalu mengerjakan shalat. Saya shalat sesekali dengan membaca tulisan latin dari bahasa arabnya, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, membaca terjemahan yang ada dibawah bacaan arabnya. 

Diganggu jin 

Hal yang baru pertama kali menjadi pengalaman hidupku, saat saya sedang shalat dalam kamar badan saya dibelokkan dari arah kiblat, itu di semua posisi shalat selain rukuk dan sujud. Saya ingin mengembalikan ke posisi yang benar tetapi tulang dalam tubuh terasa sakit, semakin saya berusaha untuk mengembalikan ke arah kiblat semakin sakit. Sedangkan saya mengetahui bahwa diantara syarat sah shalat harus menghadap kiblat. Mendapatkan keadaan begitu saya selalu mengulangi shalat karena anggapan shalat saya tidak sah sebab tidak menghadap kiblat, baik saat berdiri baca Al Fatihah (terjemahan), I’tidal, duduk diantara dua sujud, maupun tasyahhud. 
Terus saya ulangi, sampai saya berkeyakinan bahwasanya Allah Maha Pemurah tidak akan membebaniku lebih dari kemampuanku. Sejak saat itu jikalau dalam shalat terjadi hal yang sama, bahkan seringkali dalam posisi tasyahhud badan berputar 80 derajat, tapi saya tetap teruskan. 
Keadaanku ini saat itu tidak saya ceritakan kepada siapapun karena khawatir ketahuan masuk Islam. 
Beberapa hari kemudian, seringkali ketika sedang berkumpul dengan teman-teman tiba-tiba saya menjadi pincang dalam berjalan, terutama menjelang maghrib, lalu normal kembali. Kalau saya sampaikan kepada seseorang yang saya harapkan bisa mengobati, malah leher saya dipermainkan oleh jin. Keadaan ini saya alami dua pekan sampai akhirnya berlalu dengan seizin Allah. 

Awal terlihat sholat oleh manusia 

Teman-teman yang muslim mengetahui saya shalat berawal dari saya membaca dari buku yang sama hukum shalat jum’at yang fardhu ‘ain dan hukuman Allah mengunci hati siapa yang meninggalkannya. Ini berarti orang lain akan tahu kalau saya mengerjakan shalat. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa harus mengambil resiko dibandingkan celaka di kehidupan yang kekal nanti. Sebisa mungkin saya memilih teman yang nampak taat melakukan shalat jum’at dan sekiranya bisa menjaga rahasia ini. Namun sesuai taqdir Allah sangat mudah ketahuan, karena teman ini membawa sajadah membonceng saya dengan motornya. Akhirnya pembicaraan dari mulut ke mulut mulai beredar. 

Ketahuan Orang Tua 

Seiring perjalanan waktu sesuai dengan taqdir Allah tanpa saya sadari ternyata orang tua sudah mulai curiga, mengawasi, sehingga akhirnya menangkap basah saya yang sedang shalat di kamar dengan mereka manjat dan mengintip dari lobang angin kemudian meneriakiku. 
Saat itu masa-masa pertikaian antara saya dengan keluarga. Setelah sempat beberapa hari meninggalkan rumah orang tua menyuruh balik, namun keadaan sulit menghindari najis di rumah sangat berat maka saya memilih lebih banyak di masjid. 

Mendapatkan kawan di masjid 

Selama 1 tahun saya makan, minum, dan tidur tanpa menentu. Sesuai dengan rencana Allah saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik di masjid; Muhammad Nur Maulana (sekarang aktif di kajian subuh TransTV), Burhanuddin, dan Amir Arafah. Muhammad Nur sempat mengajariku Iqra kira-kira 3 hari, sedangkan bersama Amir dan Burhanuddin saya sering bermalam di masjid. 

Was-was Akibat Ketidak-fahaman 

Saya telah membaca di buku itu tentang pentingnya niat sebagai penentu shalat, niat bentuknya kalimat yang dilafazhkan dalam hati, serta niat adalah rukun shalat. Dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan di tengah jama’ah shalat di masjid seringkali saya mengulangi takbiratul ihram sampai dalam jumlah yang tidak terhitung lagi bahkan beberapa shalat saya melakukan takbiratul ihram dari awal waktu masuknya shalat sampai dengan masuk waktu shalat berikutnya masih saja saya ulang-ulangi. 
Sebabnya karena rasa takut yang begitu extreme akan kesalahan hati dalam melafazhkan niat menyebabkan was-was atau keraguan yang begitu besar dalam hatiku, saya selalu ragu apakah lafazhnya sudah sempurna atau belum, saya takut rukun niat ini tidak terpenuhi maka akibatnya shalat tidak sah dan akibatnya berbahaya di akherat. 
Was-was senantiasa berbisik kepadaku bahwa kebenaran niat meragukan, selanjutnya bisikan ragu apakah melanjutkan shalat atau mengulangi takbiratul ihram, selanjutnya keraguan ini digambarkan kepadaku sebagai keinginan untuk membatalkan shalat dengan mengulanginya, sedangkan telah diketahui bahwa niat membatalkan shalat termasuk pembatal shalat. 
Was-was ini telah membawaku kepada kebodohan yang sangat memalukan. Namun akhirnya Allah menyelamatkanku dari was-was ini, diantaranya dengan pengetahuan bahwasanya niat itu bukanlah berbentuk lafazh layaknya kalimat yang disebutkan oleh lisan. 

Perkembangan Keilmuan Islam-ku 

Sudah kusebutkan bahwa masuk Islamku menjelang ebtanas SMP. Di masa libur panjang itu saya belajar Iqra sekitar 1 minggu dengan dua guru (Muh. Nur Maulana dan Sangkala) setelah itu saya belajar sendiri sampai akhirnya bisa dan menghafal Al Qur’an yang saya hadapkan juz-juz awal kepada Ust. Yahya, Ust. Abdul Aziz, dan KH. Utsman Arif (semoga Allah merahmati mereka semua).
Pengalaman yang begitu indah ketika Allah memberi saya kesempatan menghafal juz I hanya dalam 3 hari dan juz II dalam 4 hari dengan hafalan yang matang, lalu semakin bertambah hafalan semakin membutuhkan waktu yang panjang demi memuraja'ah yang sudah terhafal agar tetap terjaga. 
Ketika tiba masa pendaftaran sekolah, Allah pun mentaqdirkan saya bertemu dengan bagian tata usaha Pesantren An Nahdlah (Ir. Kadir Kasse) sampai beliau menyuruhku mendaftar tanpa biaya pendaftaran maupun spp. 
Ringkasnya, saya masuk tingkat aliyah. Masa awal yang membuat saya setiap hari terliputi rasa malu, karena bahkan bacaan Al Qur’an saya masih terputus-putus sedangkan di pesantren sangat banyak pelajaran yang menggunakan bahasa Arab. 
Akhirnya semester I tiba dan hasil ujian semester keluar dengan saya mendapatkan rangking 2 dari belakang (23 dari 24 siswa). Namun alhamdulillah Allah senantiasa membimbingku, di semester II saya mendapatkan peringkat 18 dari 24 siswa. 
Di kelas 2 aliyah, sesuai taqdir Allah di jalan setapak masjid tempat kegiatan belajar mengajar Pesantren An Nahdlah saya bertemu dengan pimpinan pesantrennya, beliau menanyakan makan, minum, dan tidurku, setelah mengetahui keadaanku maka beliau menyuruhku tinggal di rumahnya. Saya pun tinggal di rumah beliau sekitar 4 tahun. Jasa sangat besar yang tidak sanggup saya balas dan hanya Allah yang kuasa membalasnya, semoga Allah membalasi kebajikan beliau dengan sempurna. 
Saya kembali, di kelas 2 aliyah, semester I saya di peringkat 12 dari 24 siswa, semester II di peringkat 8. Prestasi belajarku terus menanjak. Ada santri yang mengaku bahwa dirinya ditugaskan salah seorang guru untuk memantau saya dalam ujian apakah nyontek buku, tapi katanya ternyata tidak. Naik kelas 3 aliyah, semester I saya mendapatkan rangking 5, di semester terakhir mendapatkan rangking 2. 
Selesai dari pesantren dengan ijazah MAN itu tahun 1995 saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar atas saran KH. Muh. Haritsah yang sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Satu tahun kuliah di fakultas Tafsir-Hadits kemudian saya ikut tes untuk mendapatkan beasiswa Universitas Al Azhar Cairo tahun 1996. Untuk wilayah propinsi Sul-Sel tes diadakan di IAIN Alauddin Makassar dengan jumlah peserta 80 orang.
Ringkasnya, setelah berlalu beberapa lama saya mendapatkan info kalau pengumuman hasil tes sudah keluar, saya ke IAIN dengan Drs. Amirullah Amri. Masuk ke ruang Tata Usaha IAIN saya pun bertanya, “Hasil tes sudah keluar?” Katanya, “Siapa namamu?” Jawab saya, “Fuk Meng”, kata dia, “Yang benar! Kok tidak putih?!”…….. Sambil sedikit mencandai akhirnya dia pun memberitahukan kelulusanku dengan nilai rata-rata 9,5 untuk 5 materi tes, menduduki rangking 1 diantara 10 orang yang dinyatakan lulus. Berita ini jadi heboh sampai ke tingkat kanwil, karena untuk pertama kalinya ada nama ‘aneh’ yang lulus bahkan di urutan 1. 
Hatiku sangat senang Allah membukakan jalan thalabul ilmi, namun kemudian saya harus mendapatkan masalah besar karena status saya masih sebagai WNA (warga Negara asing) maka saya tidak diberikan pasport walau segala usaha yang kira-kira mampu saya lakukan telah saya tempuh. Saya sangat sedih, tapi tidak berputus asa. Saya urus kewarga-negaraan hingga akhirnya berhasil, tetapi telah terlambat 1 minggu dari tutupnya pendaftaran di Cairo. 
Atas kemudahan dari Allah dan bantuan yang sangat besar dari Prof. DR. Abdurrahman Basalamah (Ketua Yayasan UMI, semoga Allah merahmati dan mensucikan rohnya) di tahun 1997 saya diizinkan ikut rombongan mahasiswa utusan ke Cairo tanpa tes lagi. 

Aktifitas Menuntut ilmuku selama di Mesir 

Secara formal saya kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah, sedangkan thalabul ilmi non formal saya lakukan dengan menimba ilmu dari Syaikh Usamah Al Qushi, Majdi Arafah, dan para syaikh Ansharussunnah Mesir. Mereka murid-murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Bin Baz, Al Albani, maupun Muqbil, semoga Allah merahmati mereka semua. 
Kebiasaan saya setelah muqarrar (diktat) yang ditentukan dosen setiap materi telah keluar, saya membelinya, meringkas tidak lebih dari 10 halaman, kemudian lebih mengarahkan aktifitas kepada materi-materi lain di luar mata pelajaran kuliah. Sampai ujian tiba saya tidak tegang sebagaimana teman-teman, saya cukup menelaah kembali ringkasan yang dulu saya buat. 
Alhamdulillah, setiap tahun saya naik ke tingkat selanjutnya. Di tingkat terakhir saya mengalami tashfiyah, yaitu harus mengulangi 2 materi, disebabkan jawaban saya menyelisihi pendapat dosen. Tapi alhamdulillah ujian susulan bisa saya selesaikan dengan baik. Saya lulus dari S1 Al Azhar dengan nilai jayyid pada tahun 2002. 

Aktifitas setelah pulang ke Indonesia 

Disebabkan kondisi, awal pulang dari Mesir saya sempat mengajar di beberapa tempat di Makassar dalam waktu yang hanya sebentar. Kemudian saya ke kampung isteri (Magelang) lalu mengajar di pondok pesantren/ma’had Darul Atsar Kedu Temanggung selama 3 tahun (alhamdulillah angkatan mereka saat ini telah menjadi para pengajar baik di pondok Darul Atsar sendiri maupun lainnya). Sambil mengajar di ma'had dengan jadwal yang cukup padat alhamdulillah Allah memudahkanku menerjemahkan sekitar 30 judul kitab berbahasa Arab yang diterbitkan oleh beberapa penerbit Salafiyyah. 
Sekarang sudah lebih 4 tahun saya berada di Batam, selain aktifitas dakwah, berupa ceramah dan khutbah di masjid-masjid, saya membina yayasan Fursanul Haq yang memiliki kegiatan Home Schooling untuk setingkat TK, Tahfizhul Qur’an untuk remaja (insya Allah segera akan diasramakan diatas rumah saya), dan Pengkaderan Dai untuk dewasa. Semuanya ini saya dan keluarga tercinta jalankan di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami yang sederhana dengan ukuran hanya 102 m2.

Keluargaku

Isteri : Endang Widyastutik (STAN, Mengajar TK dan Tahfizh)
Anak-anak :
Aisyah (14 tahun, hafal 20 juz, ngajar ngaji dan TK)
Fatimah (11 tahun, hafal 10 juz, ngajar ngaji dan TK)
Ismail (8 tahun, hafal 3 ½ juz), Nafisah (5 tahun), dan Mulaikah (2 tahun). 

Penutup 

Alhamdulillah yang telah memberikan kita hidayah, tanpa hidayah-Nya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alhamdulillah yang semata dengan nikmat-Nya amal shaleh bisa sempurna. 
Saya berterima kasih kepada semua yang telah berjasa padaku, khususnya orang tua saya (Chan Kok Ang dan Tjie A Beng), Drs. KH. Muhammad Haritsah beserta keluarga, Prof. DR. Abd. Rahman Basalamah, dan para syaikh Ahlussunnah. Semoga Allah memberikan hidayah Islam untuk dua orang tuaku dan kaum kerabatku yang hampir semuanya masih mempersekutukan Allah dengan aliran konfuchunya. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan para guruku, mengumpulkan kami di surganya yang tertinggi bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Semoga Allah merahmati kaum muslimin seluruhnya dan mengangkat kembali kaum muslimin dari keterjatuhannya.
Lanjutkan Membaca ...

1 Sep 2012

Anthony Grant Vance - Marinir AS memeluk Islam di Iraq

Anthony Grant Vance adalah putra dari orang tua campuran amerika dan Panama, Lahir di Panama dan besar di Amerika dan dalam asuhan Katolik. Meski demikian, semenjak masa kanak-kanak di Kansas, ia telah mempelajari dengan serius tentang ajaran Islam, dan ia memiliki 2 orang teman keturunan afghan.
Sumber :  http://longislandwins.com

Anthony Grant Vance resmi menjadi seorang muslim sunni dan ber sahadat saat ia bertugas sebagai marinir di Iraq. Setelah ia menyatakan sahadat nya, ia pun berganti nama menjadi Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed. Dengan sahadat nya tersebut, maka ia termasuk bagian kecil tentara yang bertempur di Irak dan kembali dengan iman yang baru.

Kedua orang tua Ibrahim telah bercerai semenjak ia menginjak remaca dan ayahnya menjadi seorang kristen sekte Saksi Jehovah. Konversi ayahnya dari Katolik menjadi kristen Saksi Jehovah membawanya untuk pensiun dari 13 tahun karir militernya. Suatu waktu ayahnya mengatakan kepada Ibrahim bahwa ia memutuskan untuk menjadi "pengikut Tuhan", ""Anda tidak berjanji setia kepada negara, tetapi Anda berjanji setia kepada Tuhan."

Sumber :  http://longislandwins.com

Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed pertama-kali melihat Islamic Center Long Island di Westbury yaitu pada saat ia bekerja pada pangkalan militer di Garden City. Ia selalu tertarik kepada masjid yang ada di Islamic Center tersebut. "Kami melalui masjid beberapa kali dan saya semakin tertarik untuk ingin tahu". Setelah beberapa tahun di Long Island, Ia kemudian di kirim bertugas di Iraq pada tahun 2008.

Dua tahun telah berlalu sejak Ibrahim memeluk Islam. Sekarang ia tinggal di Westbury, menghadiri Islamic Center Long Island dan sedang terus mempelajari dalam pendidikan di Post CW.
Sumber :  http://longislandwins.com

Lanjutkan Membaca ...

3 Jan 2012

Kisah Jung Chuang ~Lo Lo ~ wanita muallaf dari Taiwan berusia 24 tahun ~ Kenal Islam saat di Suriah

Jung Chuang, ia seorang wanita muallaf dari Taiwan berusia 24 tahun dariTaiwan. Sis Jung Chuang (nama panggilan akrab Lo 'Lo') berkisah, ia mengenal Islam ketika berbaur dengan teman-teman muslim di Suriah, Ia selalu penasaran untuk melihat bagaimana Muslim mengamati ritual ke-agama-an mereka terutama shalat setiap hari di masjid dan keyakinan mereka Satu Allah. Dia terkesan dengan cara muslim berdoa kepada Allah. Baginya, praktek tersebut sangat sederhana dan merasa bahwa sesuatu dalam pikirannya membimbingnya menuju jalan yang benar dan percaya dalam Satu Tuhan. Setelah itu dia mulai belajar tentang Islam dan mendiskusikan berbagai hal dengan teman-teman. Baginya, teman-teman Muslim dan literatur Islam adalah sumber inspirasi baginya untuk percaya pada Tauhidullah. Dengan karunia Allah (SWT) dan pikiran yang kuat, dia membuat keputusan untuk memeluk Islam dan menyatakan dirinya seorang Muslimah. Ia semula bingung namun bersemangat di awal kehidupannya sebagai seorang Muslimah, tapi segera dia bisa menghadapi situasi baru dan perdamaian ditemukan di terakhir.

Kembali Ia ke rumahnya di Taipei, Taiwan, ia menjelaskan berbagai hal kepada orang tuanya yang non-Muslim dengan hormat dan cinta. Orangtuanya menerima penjelasan-penjelasan dan dihormati keputusannya dalam memilih keyakinan agama sendiri dan cara hidup. Mereka dapat hidup saling menghormati sebagai sebuah keluarga bahagia.


Kisah ini di sampaikan ketika diundang RISEAP (Regional Islamic Da'wah Council of Southeast Asia and Pacific) untuk menghadiri berbagai kursus Islam yang diselenggarakan di International Islamic University Malaysia (IIUM). Diantara peserta yang ambil bagian dalam kursus ini, adalah Sis Jung Chuang, lebih dikenal sebagai Lo 'Lo', seorang muslimah dari Republik Cina. Dia adalah konversi langka muslimah dari Taiwan untuk bergabung kursus.

Selama kursus satu bulan, diadakan pada bulan Oktober, Sis Lo 'Lo', 24, lulusan bahasa Arab dari National Chengchi University, Taipei, datang ke Malaysia dengan komitmen penuh untuk mempelajari lebih lanjut tentang ajaran Islam, terutama belajar membaca Al Qur'an, Shalat dan do'a harian, puasa dan keilmuan tentang haji. Dia juga tertarik pada hewan disembelih seperti yang ditentukan oleh Islam. Dia adalah peserta yang luar biasa dengan kepercayaan diri, pandai berceria dan tentu saja rajin dalam belajar. Dia tertarik untuk mempelajari tentang Al Qur'an dan hadits lebih lanjut.

Sangat menarik untuk dicatat di sini bahwa sementara ia masih menjadi mahasiswa tahun ketiga di universitas, Sis Lo 'Lo' meluangkan waktu untuk menghadiri kursus bahasa Arab satu tahun di Suriah, ketika ditanya mengapa, ia mengatakan bahwa itu adalah cara untuk sampai penguasaan bahasa Arab lebih cepat dan lebih efektif bila Anda belajar dari penutur asli. Setelah satu tahun di Suriah, ia kembali ke Taiwan untuk melanjutkan tahun terakhir dan tentu saja dia melakukannya dengan baik dengan hasil yang sangat baik dalam pengujian. Prestasinya mengejutkan teman-teman sekelasnya.

Sebagai Muslmah, dia terus belajar dan melakukan penelitian tentang Islam terutama pada Tauhid, Hadis, Fikih, Membaca Alquran membaca dan sejarah Islam. Dia berjanji untuk menghadiri kursus RISEAP lagi di masa mendatang, jika diundang, Insya Allah.

Sumber : http://huijiao-macma.blogspot.com/2011/12/muslimah-sister-jung-chuang-from-taiwan.html


Lanjutkan Membaca ...

10 Des 2011

Kisah Jessica Fay - Wanita Muallaf Kolumbia

Selama dua tahun terakhir, Fay telah mengambil langkah kecil untuk menjadi seorang Muslimah

Jessica Fay Wanita Muallaf Kolumbia ini memakai jilbab, jilbab yang menutupi rambut wanita. Dia mengatakan ada banyak alasan dia suka mengenakan jilbab, yang diwajibkan oleh Al-Quran, kitab suci umat Islam. Jilbab ini digunakan dengan aturan berpakaian tertentu yang biasanya menjadi tertutup dari kepala sampai kaki, dengan sebagian besar lengan tertutup juga. Ia Butuh beberapa tahun untuk memutuskan memakai jilbab. Dia bilang dia gugup akan penilaian orang lain saat dia mulai mengenakannya. Kepergiannya untuk beribadah Haji telah membantunya memutuskan untuk berjilbab sekembalinya ke Amerika.


"Ini menyenangkan karena ketika saya berjalan menyusuri jalan, aku tidak melihat (pria) mengamati saat melihat tubuh saya - mereka menatap lurus ke arahku, "kata Fay. "Saya merasa lebih dihormati dan bermartabat dari itu, mengetahui aku tidak harus menunjukkan dadaku untuk mendapatkan rasa hormat dari seorang pria."

Beberapa orang menyebut proses ini adalah konversi, tetapi Fay menyebutnya sebagai "kembalik."

"Dalam Islam, mereka meyakini bahwa semua bayi dilahirkan muslim," kata Fay. "Jika keluarga mereka bukan Muslim, mereka belajar agama yang berbeda atau apa pun. Mereka menyebutnya sebagai kembali (reversi) karena Anda kembali kepada Islam."

Menjadi muslim membutuhkan komitmen dan bisa sulit bagi mereka yang tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim atau latar belakang Arab. Islam, yang mewajibkan shalat lima kali sehari, melarang alkohol dan beberapa makanan lain. Tapi itu tidak masalah karena ia sudah melewati transisi kaku dalam hidupnya, saat ia mulai lulusan sekolah tahun ini.

Banyak teman-teman sarjananya telah meninggalkan Kolumbia, dan ia memiliki kesulitan menjaga kontak dengan yang masih tinggal, ujarnya . "Sulit untuk menemukan teman Anda yang tidak menajak anda kembali untuk terlibat degan Alkohol, " Kata Fay. "Namun kemudian, Saya berfikir tentang : Saya memakai jilbab dan saya tidak ingin salah merepresentasi keyakinan saya, dan orang berfikir, "oh it's ok".

Fay tidak berwajah Arab, yang menyebabkan beberapa orang ingin tahu tentang dirinya, seperti ketika dia berusaha untuk mendapatkan meja di restoran atau di supermarket. Dia mengatakan kadang-kadang orang lebih terbuka untuk berdiskusi tentang Islam dengannya karena warna kulitnya.

"Orang sedikit penasaran dibanding jika ia tampak seperti orang Arab. Kemudian mereka akan berkata seperti, 'Oh, itu yang diharapkan, saya tidak perlu bertanya padanya kenapa." . Fay mengatakan ia berharap dengan penampilannya akan membawa mereka yang tidak memahami Islam untuk mengajukan pertanyaan.

"Saya harap untuk mengajari mereka dengan cara ini, untuk menunjukkan bahwa Aku tidak tertindas
oleh jilbab saya, "kata Fay. "Aku pergi ke tempat olahraga dan saya bekerja keluar. Aku akan berlari 5K. Saya juga orang yang pemalu, tapi aku berbicara lebih banyak di kelas. Saya ingin mendidik, tapi aku tanpa ada tekanan. "

Lanjutkan Membaca ...

1 Des 2011

Famous Cricketer Wayne Parnell Menjadi Muallaf

Famous Cricketer Wayne Parnell asal Afrika selatan telah menjadi muallaf pada tanggal 28 Juli 2011 di usia 22 tahun dan menyandang nama muslim sebagai "Waleed". Dia juga mengatakan, nama "Waleed" ini akan dipertahankan dan digunakan sebagai nama tengah (middle name). Dari beberapa referensi web, namanya cukup terkenal sebagai pemain kriket dari afrika Selatan. Mungkin cabang olah raga ini sedikit asing bagi orang indonesia karena memang olah raga ini tidak populer di masyarakat.

Namun, Tribun News Pakistan melaporkan bahwa pemain kriket ini telah memeluk Islam sejak Januari 2011, setelah melalui proses pembelajaran. Saat ini ia membela klub kriket yang disponsori oleh perusahaan Minuman beralkohol, dan ia menyikapi untuk tetap mendukung tim ini.

Tribun News Pakistan juga memberitakan bahwa keputusannya memeluk Islam tidak dipengaruhi oleh beberapa rekan se-TIM-nya yang merupakan muslim dari Pakistan. Mereka adalah Hashim Amla dan Imran Tahir, dan Mohammad Moosajee yang menjadi manager di TIM tersebut.

Tribune reported that Parnell confirmed that his team-mates Hashim Amla and Imran Tahir along with team manager Mohammad Moosajee had no influence over his decision to convert to Islam.


Video Pertandingan Kriket Afrika Selatan


Tentang Pemberitaan Parnell menjadi Muallaf


Video Lainnya

Lanjutkan Membaca ...

Kisah Muallaf mantan Model Playboy

Kisah menarik muallafnya seorang mantan model majalah Playboy dalam dua file video yang diunggah ke Youtube. Sayangnya saya belum mendapatkan artikel tertulis tentang kisah ini. Jika suatu hari kedepan, saya mendapatkan artikel tersebut, maka halaman ini akan saya Update.

Kisah Muallaf Mantan Model Playboy 1



Kisah Muallaf Mantan Model Playboy 2

Lanjutkan Membaca ...

29 Nov 2011

Viviana~Gadis Cerdas dari Ekuador

Viviana Espin tumbuh sebagai gadis cerdas Ekuador dan akhirnya memutuskan menjadi muallaf pada usia 21 tahun, setelah sebelumnya, pada usia 17 atau 18 tahun ia sempat mengutarakan kepada ibunya, bahwa ia berkeinginan untuk menjadi muslimah dan sempat belajar pada Islamic Center. Namun karena besarnya tekanan keluarga, niat ini akhirnya tertunda. Sebelum akhirnya menerima Islam, Ia pernah pula pindah keyakinan dari Katholik sebagai keyakinan awal menjadi seorang Evangelis. Dan akhirnya ia mendapatkan momentum yang tepat untuk kembali meyakinkan ibu nya tentang kesungguhannya menjadi seorang muslimah, mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari Sabtu, 30 Agustus 2009 , pada saat ia berusia 21 tahun dan saat itu sudah menjadi seorang evangelis.

Tumbuh dari keluarga yang tergolong tidak harmonis, kesulitan ekonomi dalam keluarga, ayah yang tempramental dan ibu yang selalu menuruti kehendak suaminya. Namun demikian, Pengaruh Ibunya masih dominan dalam dirinya , selalu memimbing banyak hal.

Viviana sudah mulai sekolah pada usia 4 tahun di sebuah sekolah Katolik. Ibu mengirimnya ke sekolah itu karena ia ingin Espin menjadi anak yang taat pada ajaran agamanya, percaya pada Tuhan, juga mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang baik. Ibunya selalu membanggakan di mana Espin sekolah di depan teman-temannya. Dengan usianya itu, Di sekolah, Espin menjadi siswa yang paling muda usianya, sehingga sering menjadi sasaran perlakuan nakal teman sekelasnya.

“Mereka menempelkan permen karet di rambut saya, mengambil barang-barang milik saya, melempar sepatu saya ke tempat sampah dan masih banyak lagi …,” tutur Espin mengenang masa kecilnya.



Keadaan ini membuat kepala sekolah memutuskan untuk memperlakukannya dengan spesial. Ia diberi kesempatan untuk banyak menghabiskan waktu di ruang kepala sekolah atau sekretaris sekolah ketika sedang jam istirahat. Karena itu merupakan sekolah Katolik, hampir semua guru, kepala sekolah, dan direktur adalah biarawati.

“Jadi ketika istirahat, aku tidak bermain di halaman dengan anak-anak lain,” ujar dia.

Sejak saat itu Espin sangat dekat dengan guru-gurunya. “Mereka mulai untuk membiarkan saya tinggal bersama mereka di rumah mereka," kata Espin. Rumah para guru masih berada di samping tanah sekolah

Pada usia 8 tahun, ia harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya. Dampak dari perceraian itu membuat ibunya menjadi lebih religiu. Padahal ketika itu Espin baru saja mengalami peristiwa yang paling traumatis selama hidupnya, Namun ia tidak bersedia mengungkapkan tentang apa. Permasalahan-permasalahan ini membuat Espin jadi lebih suka menyendiri di tempat tertutup dan ia mulai memikirkan hal-hal yang kadang ia tidak temukan jawabannya.

Salah satu tempat favoritnya adalah di halaman sekolah. Ia merasakan banyak kedamaian ketika menyendiri.

“Berbaring di halaman sekolah, menikmati melihat langit dan merasakan angin. Hal ini terasa begitu damai,” ujar Espin. Ia juga menikmati saat-saat ‘curhat’ dengan para biarawati.

Pada usia 12 tahun, Espin mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin tinggal di seminari bersama para biarawati dan menjadi salah satu dari mereka. Tapi ibunya tidak setuju dan marah mendengar keinginan Espin menjadi biarawati.

“Ibu bilang ia senang aku dekat dengan Tuhan. Tapi ia ingin aku memberikan cucu-cucunya kelak, sehingga dia tidak membiarkan aku bergabung dengan biarawati,” kata Espin.

Espin makin mendekatkan diri pada Tuhan dan lebih sering membaca Alkitab. Semakin jauh ia baca, semakin banyak hal dalam Alkitab yang menurut Espin tidak masuk akal, banyak kontradiksi dan ada ide-ide yang tidak lengkap dan tidak jelas. Espin lalu banyak membaca buku-buku tentang agama, sampai menelusuri dunia maya.

"Itu mendorong aku untuk perlu tahu di mana sisanya agar bagian itu menjadi lengkap. Dalam pandanganku semuanya serba tidak jelas dan tak logis,” kata dia.

“Saya membaca tentang Yudaisme, Budha, agnostisisme, Hindu dan Kekristenan serta berbagai sekte dalam keagamaan. Semuanya tidak memuaskan akal sehatnya. Saya tidak tertarik membaca tentang Islam karena semua yang saya dengar tentang Islam cenderung negatif. Tapi akhirnya saya mencari-cari informasi tentang Islam sebagai opsi terakhir saya untuk berusaha menemukan jawaban yang logis dari pertanyaan-pertanyaan saya,” papar Espin.

Begitu ia mulai mempelajari, ia menemukan sesuatu yang benar-benar berbeda. Islam baginya sangat masuk akal. “Islam bisa menjawab pertanyaan tentang ‘berapa banyak Tuhan yang ada’,” kata Espin. Jawaban ‘hanya satu’ kemudian menjawab pertanyaanya tentang Yesus yang ada di Alkitab. Saat itu, ia sadar bahwa Alkitab telah berubah. Ia lantas membaca riwayat hidup Nabi Muhammad SAW.

“Aku jadi tahu bahwa Ia sangat dekat dengan Musa. Kenapa aku tidak percaya pada utusan terakhir dari Allah? Padahal semua nabi datang dengan pesan yang sama,” katanya. Semua itu membuatnya yakin ia akhirnya telah menemukan agama yang benar.

Penentangan Masuk Islam

Pada usia 17 atau 18 , Espin memberitahu ibunya ingin berubah agama menjadi muslim. Espin mengatakan pada ibunya bahwa ia sering pergi ke Islamic Center di kota dan belajar lebih banyak.

"Saya tidak ingat, umur 17 tahun atau 18 tahun ketika saya bilang ke ibu bahwa saya ingin pindah agama dan menjadi seorang Muslim, bahwa saya ingin pergi ke Islamic Center dan belajar di sana. Ibu saya marah dan mengatakan bahwa hanya orang Kristen yang boleh tinggal di rumah dan jika saya serius ingin pindah agama, saya harus keluar rumah. Maka saya bilang kalau saya cuma bercanda agar ibu tidak membahas hal itu," tutur Espin.

Melihat keseriusan Espin, sang ibu kembali marah. Tak tanggung-tanggung, kali ini ibu mengancam jika Espin berubah agama, ia harus meninggalkan rumah.

“Jadi aku mengatakan kepadanya bahwa aku hanya bercanda untuk membuatnya melupakan masalah ini,” kata dia.

"Ibu juga mengontak bibi saya yang kemudian membawa sebuah buku anti-Islam. Buku itu membuat saya takut dan ragu sehingga saya tidak memikirkan lagi ingin menjdi seorang Muslim. Tapi saya juga tidak mau kembali memeluk Kristen karena saya merasa tidak nyaman agama itu," sambung Espin.

Waktu pun berlalu. Ibu Espin berpindah agama menjadi seorang Evangelis setelah salah seorang paman Espin >>kakak lelaki ibunya<< yang menderita kanker mampu bertahan hidup hingga dua tahun padahal dokter memvonis usianya ketika itu tinggal satu minggu atau satu bulan lagi.

Menjadi Muslimah

"Di hari ketika ibu saya memutuskan pindah keyakinan menjadi seorang Evangelis, saya berusaha bicara lagi padanya tentang Islam dan memintanya ikut saya ke Islamic Center untuk mendiskusikan tentang keraguan dan ketakutan dalam buku yang diberikan oleh bibi saya tentang Islam. Tak diduga, ibu lebih bersikap terbuka dan mau menerima ajakan saya. Tapi itu cuma sementara. Malamnya, ibu saya kembali menjadi seorang Evangelis yang fanatik dan rasanya sulit bagi saya untuk bicara Islam lagi padanya," keluh Espin.

Espin akhirnya bertemu dengan seorang lelaki Muslim asal Arab Saudi Beberapa bulan kemudian. Mereka saling jatuh cinta. Espin memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Mesir untuk menemui lelaki itu dan menikah dengannya. Pergi ke Mesir dan menikah dengan lelaki yang baik dan mencintainya adalah dua mimpi besar Espin.

Saat sampai ke Mesir, ia masih belum yakin akan berubah menjadi muslim karena pengaruh buku yang pernah dibacanya.

“Setelah sampai di Mesir, aku masih tidak yakin,” katanya.

Sang suami kemudian mengenalkamya dengan seorang wnaita yang pengetahuan agamanya luas. Namanya Raya, ia taat dan kaya ilmu agamanya. Raya membantu Espin untuk mengklarifikasi dan menjernihkan semua keraguan dan kesalahpahaman tentang Islam.

"Akhirnya saya mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari Sabtu, 30 Agustus 2009. Saya mengucapkan syahadat karena saya yakin akan ke-esa-an Tuhan dan Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir. Tapi saya bilang bahwa saya akan mulai mempraktekkan Islam ketika saya merasa sudah siap. Mereka setuju," ujar Espin.

Tapi pada hari Senin, semuanya berubah dengan cepat. Saya melakukan kesalahan yang membuat saya pada posisi yang sangat sulit.

"Kami masuk dalam situasi yang buruk. Semua itu karena kesalahan saya, Suami saya menceraikan saya dan saya merasa dunia saya hancur luluh," kenang Espin.

“Raya mengatakan bahwa manusia tidak pernah belajar sampai hal buruk terjadi,” ujar dia. Hal itu bagi Espin sangat benar. Segala masalah yang menimpanya membuat ia merasa perlu untuk bersandar kepada Allah.

Sejak itu Espin bertekad untuk berubah, berdoa kepada Allah dan minta pengampunan. Iapun mulai mengubah cara berpakaian.

“Saya ingin mengubah hidup saya menjadi orang baru,” ujar dia.

"Alhamdulillah, suami saya memberikan harapan bahwa kami bisa bersama lagi. Saya ingin memperkuat iman dan memafkan diri saya sendiri. Mudah-mudahan di akhir tahun ini, Allah memberi saya kekuatan untuk menerima apa saja yang telah ditakdirkanNya untuk saya. Pengalaman hidup ini betul-betul membuat saya belajar," tegas Espin.


Lanjutkan Membaca ...

26 Nov 2011

Mike Tyson ~ Kisah dan aktivitasnya sebagai Muslim

Simak Video tentang Mike Tyson tentang kisah dan aktivitasnya sebagai muslim. Ada dua istilah / pendapat tentang bagaimana sikap muallaf terhadap bagaimana ia menerima Islam. Ada yang menyebut dengan istilah Convert = Pindah keyakinan, dan yang kedua adalah Revert = Kembali menganut keyakinan yang seharusnya.







Mike tyson saat Umrah




Pendapat-pendapat Mike Tyson Tentang Islam




Mike Tyson saat berdo'a




Mike Tyson Muslim Power




Mike Tyson tentang Muslim dan Islam

Lanjutkan Membaca ...

Muallaf akibat cari jodoh di Internet

Awalnya Ingin Cari Jodoh Lewat Internet, Ethel Malah Temukan Islam dan menjadi Muallaf. Dua puluh sembilan bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang untuk menemukan suatu agama. Percaya atau tidak, Ethel Mae Blizzard mengalami hal itu. Hampir tiga dekade ia mencari apa yang kini ia sebut sebagai kebenaan hakiki, Islam.


Wanita yang tinggal di San Diego, California menjadi jamaat gerja Mormon sejak umur 12 tahun. Selama empat tahun, ia cukup aktif di gereja pada hari Minggu. Ia sempat dibabtis dalam kepercayaan Mormon. Namun, saat usianya menginjak 18 tahun ia tidak percaya lagi dengan agama Mormon.


Ia tidak memungkiri adanya Tuhan, namun ia benar-benar tidak yakin dengan agama Mormon yang dianutnya. Selama 29 tahun sejak saat itu, ia selalu mencari agama yang menurutnya benar. Ia belajar tentang Yudaisme, Saksi Yehuwa, Kristen. Ia hampir menyerah karena tak kunjung menemukan hakikat ketuhanan.


Suatu hari ia memutuskan untuk mencari pasangan hidup melalui situs perjodohan online. Ia mengikuti Arab Match.com. Peristiwa ini yang perlahan mengenalkannya pada Islam. Seorang wanita mengirim pesan kepada Ethel dan berfikir mungkin Ethel cocok untuk salah seorang temannya. Sebulan kemudian Ethel bertemu dengan pria itu. Sempat menjalin hubungan selama tiga bulan, sang pria mengajaknya menikah di masjid."Aku tidak yakin dengan hal ini, biar bagaimananpun aku seorang Kristen," katanya. Ia memutuskan mencari tahu soal masjid dan pernihakan.


Ethel kemudian menanyakan kepada salah seorang temannya dari Turki. "Dia memberitahuku tentang Masjid Abu Bakar," ujarnya. Ia pergi ke masjid itu, hendak menemui imam masjid namun sebenarnya ia sendiri tak tahu persis apa yang sedang ia lakukan.


Ethel hanya menunggu di luar sampai akhirnya ia ditanya apakah sedang memberlukan bantuan."Ya, saya perlu bertemu dengan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya," jawab Ether. Seketika imam masjid bernama Taha datang padanya. Namun karena Ethel datang ketika menjelang waktu shalat, imam Thaha memintaanya untuk menunggu. Sempat banyak bertanya, Imam Thaha menyuruhnya kembali jika masih ingin berdiskusi lebih banyak lagi.


Beberapa hari kemudian ia menemui kawanya yang dari Turki. "Aku menayakan tentang muslim dan agama muslim," katanya. Sang teman mejelaskan bahwa muslim bukanlah nama agama. Islam adalah nama agama pagi penganutnya yang biasa disebut muslim.


Banyak berdiskusi, Ethel mananyakan tentang Allah. "Allah adalah Tuhan," kata temannya. Dari situ, ia mengambil kesimpulan bahwa ternyata orang Islam juga percaya Tuhan. "Saya baru tahu orang Islam juga bercaya Tuhan," kata dia.


"Lalu aku bertanya kepadanya apa yang Muslim yakini dan apa arti Islam. Ia menjelaskan padaku bahwa Islam adalah agama yang damai, tak seperti apa yang banyak diberitakan oleh media," jelas Ethel. Namun saat Ethel bertanya apakah kawannya itu muslim, Ether sangat terkejut. Kawannya mengaku muslim tapi tidak menggunakan jilbab atau pakaian muslim. "Teman saya lalu memberikan saya nomor telpon salah satu masjid dan memberi saya saran untuk bertemu Sheikh Saad.


Menggigil Saat Membaca Kisah Rasulullah


Ketika ingin menemui Sheikh Saad, tanpa diduga Ethel mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya ditabrak. Ia harus menunda beberapa saat sampai salah seorang tetangganya, Julie, bersedia mengantarnya menemui Sheikh Saad. "Julie bertanya mengapa saya ingin menemui Sheikh Saad. Saya jelaskan bahwa saya ingin menemuinya sebagaimana orang Kristen ingin menemui pastur. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Islam dan pernikahan," kata Ethel.


Julie terlihat tak senang mendengar jawaban Ethel. Beberapa kali Julie membatalkan janji dan tak bisa dihubungi di waktu yang ditentukan. Julie terlihat seperti menghindar hingga akhirnya Ethel memohon padanya bahwa menemui Sheikh Saad adalah hal yang sangat penting.


Julie akhirnya mengantar Ethel menemui Sheikh Saad di masjid Al Ribat. Saat mendekati masjid Ethel merasakan sesuatu yang aneh. Sheikh Saad keluar dan memintanya untuk melepaskan sepatu. Sebuah hal yang menurutnya tak biasa. "Tapi karena saya hendak menemuinya, maka saya harus melepaskan sepatu," kata Ethel.


Keduanya mengobrol mengenai beebrapa hal. Sheikh Saad membernya beberapa buku untuk dibaca Ethel. Saat itu ia menerima Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, buku Agama Kebenaran, Sebuah Panduan bergambar Singkat untuk Memahami Islam dan buku-buku lain.


Setelah waktu berdiskusi dengan Syekh Saad telah selesai, betapa terkejutnya Ethel ketika sang ustadz menolak berjabat tangan. Menurutnya itu tidak sopan. Lalu Sheikh menjelaskan padanya bahwa tidak diperbolehkan menyentuh seseorang yang bukan makhromnya. "Dan saya bisa menerima hal itu,” ujar dia.


Pencarian Ether terhadap Imam Thaha dan Sheikh Saad memang tak mengantarnya pada pernikahan, seperti tujuan awal Ethel mencari kedua orang ini. Namun pertemuannya membuat dia mengenal Islam lebih jauh. “Saya pikir alasan saya menemui Imam Taha dan Sheikh Saad seperti yang telah saya lakukan adalah bagian dari proses pencarian agama. Terlalu rumit untuk menikah dengan pria ini. Dia ada di Arab sementara saya ada di Amerika. Jadi saya memutuskan untuk menyerahkah jodoh saya kepada Allah," kata Ethel.


Selama beberapa minggu berikutnya setelah pertemuan dengan Sheikh Saad, Ethel mulai membaca buku Agama Kebenaran dan membaca tentang Nabi Muhammad. Saat 8 Juni 2007, tanpa disadari, Ethel merkaca-kaca. Badannya menggigil sekujur tubuh. "Di halaman 20 saya menuliskan 'saya beriman' pada 8 Juni 2007,” kata dia.


Ia mulai berfikir bagaimana caranya berpindah agama. Dalam waktu seminggu, ia mengurus asuransi mobil. Ia sudah bertekad bahwa tempat pertama yang akan didatanginya ketika semua urusan telah beres yaitu masjid untuk menemui Sheikh Saad.


Tanggal 23 Juni 2007, Ethel mendatangi masjid. Ia sempat bertemu dengan beberapa mantan orang Kristen yang telah menjadi Islam. Ia bercerita ingin menjadi seorang muslim. Ethel lantas mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan para jamaah.


Namun sayang, di hari itu keislamannya tak sempat disaksikan oleh Sheikh Saad. Sheikh Saad sudah tiada.


Saat memleuk Islam, Ethel sudah tak memiliki keluarga lagi. Ibu, ayah,nenek dan kakek telah meninggal dunia. Ia hanya memiliki kakak beserta tiga orang anaknya dan seorang paman serta satu sepupu. Betapa terkejutnya saya ketika paman bisa menerima apapun yang menjadi kepercayaan Ethel.


Namun sepepunya dan bebrapa kawan teman memutuskan komunikasi ketika mengetahui Ethel menjadi muslim. Seorang tetangganya bahkan pernah mencoret coret mobilnya dengan lipstik ketika Ethel mulai mengenakan jilbab. Tapi Ethel bergeming, ia tetap memilih memeluk Islam, hingga kini.
Lanjutkan Membaca ...