29 Nov 2011

Viviana~Gadis Cerdas dari Ekuador


Viviana Espin tumbuh sebagai gadis cerdas Ekuador dan akhirnya memutuskan menjadi muallaf pada usia 21 tahun, setelah sebelumnya, pada usia 17 atau 18 tahun ia sempat mengutarakan kepada ibunya, bahwa ia berkeinginan untuk menjadi muslimah dan sempat belajar pada Islamic Center. Namun karena besarnya tekanan keluarga, niat ini akhirnya tertunda. Sebelum akhirnya menerima Islam, Ia pernah pula pindah keyakinan dari Katholik sebagai keyakinan awal menjadi seorang Evangelis. Dan akhirnya ia mendapatkan momentum yang tepat untuk kembali meyakinkan ibu nya tentang kesungguhannya menjadi seorang muslimah, mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari Sabtu, 30 Agustus 2009 , pada saat ia berusia 21 tahun dan saat itu sudah menjadi seorang evangelis.

Tumbuh dari keluarga yang tergolong tidak harmonis, kesulitan ekonomi dalam keluarga, ayah yang tempramental dan ibu yang selalu menuruti kehendak suaminya. Namun demikian, Pengaruh Ibunya masih dominan dalam dirinya , selalu memimbing banyak hal.

Viviana sudah mulai sekolah pada usia 4 tahun di sebuah sekolah Katolik. Ibu mengirimnya ke sekolah itu karena ia ingin Espin menjadi anak yang taat pada ajaran agamanya, percaya pada Tuhan, juga mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang baik. Ibunya selalu membanggakan di mana Espin sekolah di depan teman-temannya. Dengan usianya itu, Di sekolah, Espin menjadi siswa yang paling muda usianya, sehingga sering menjadi sasaran perlakuan nakal teman sekelasnya.

“Mereka menempelkan permen karet di rambut saya, mengambil barang-barang milik saya, melempar sepatu saya ke tempat sampah dan masih banyak lagi …,” tutur Espin mengenang masa kecilnya.



Keadaan ini membuat kepala sekolah memutuskan untuk memperlakukannya dengan spesial. Ia diberi kesempatan untuk banyak menghabiskan waktu di ruang kepala sekolah atau sekretaris sekolah ketika sedang jam istirahat. Karena itu merupakan sekolah Katolik, hampir semua guru, kepala sekolah, dan direktur adalah biarawati.

“Jadi ketika istirahat, aku tidak bermain di halaman dengan anak-anak lain,” ujar dia.

Sejak saat itu Espin sangat dekat dengan guru-gurunya. “Mereka mulai untuk membiarkan saya tinggal bersama mereka di rumah mereka," kata Espin. Rumah para guru masih berada di samping tanah sekolah

Pada usia 8 tahun, ia harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya. Dampak dari perceraian itu membuat ibunya menjadi lebih religiu. Padahal ketika itu Espin baru saja mengalami peristiwa yang paling traumatis selama hidupnya, Namun ia tidak bersedia mengungkapkan tentang apa. Permasalahan-permasalahan ini membuat Espin jadi lebih suka menyendiri di tempat tertutup dan ia mulai memikirkan hal-hal yang kadang ia tidak temukan jawabannya.

Salah satu tempat favoritnya adalah di halaman sekolah. Ia merasakan banyak kedamaian ketika menyendiri.

“Berbaring di halaman sekolah, menikmati melihat langit dan merasakan angin. Hal ini terasa begitu damai,” ujar Espin. Ia juga menikmati saat-saat ‘curhat’ dengan para biarawati.

Pada usia 12 tahun, Espin mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin tinggal di seminari bersama para biarawati dan menjadi salah satu dari mereka. Tapi ibunya tidak setuju dan marah mendengar keinginan Espin menjadi biarawati.

“Ibu bilang ia senang aku dekat dengan Tuhan. Tapi ia ingin aku memberikan cucu-cucunya kelak, sehingga dia tidak membiarkan aku bergabung dengan biarawati,” kata Espin.

Espin makin mendekatkan diri pada Tuhan dan lebih sering membaca Alkitab. Semakin jauh ia baca, semakin banyak hal dalam Alkitab yang menurut Espin tidak masuk akal, banyak kontradiksi dan ada ide-ide yang tidak lengkap dan tidak jelas. Espin lalu banyak membaca buku-buku tentang agama, sampai menelusuri dunia maya.

"Itu mendorong aku untuk perlu tahu di mana sisanya agar bagian itu menjadi lengkap. Dalam pandanganku semuanya serba tidak jelas dan tak logis,” kata dia.

“Saya membaca tentang Yudaisme, Budha, agnostisisme, Hindu dan Kekristenan serta berbagai sekte dalam keagamaan. Semuanya tidak memuaskan akal sehatnya. Saya tidak tertarik membaca tentang Islam karena semua yang saya dengar tentang Islam cenderung negatif. Tapi akhirnya saya mencari-cari informasi tentang Islam sebagai opsi terakhir saya untuk berusaha menemukan jawaban yang logis dari pertanyaan-pertanyaan saya,” papar Espin.

Begitu ia mulai mempelajari, ia menemukan sesuatu yang benar-benar berbeda. Islam baginya sangat masuk akal. “Islam bisa menjawab pertanyaan tentang ‘berapa banyak Tuhan yang ada’,” kata Espin. Jawaban ‘hanya satu’ kemudian menjawab pertanyaanya tentang Yesus yang ada di Alkitab. Saat itu, ia sadar bahwa Alkitab telah berubah. Ia lantas membaca riwayat hidup Nabi Muhammad SAW.

“Aku jadi tahu bahwa Ia sangat dekat dengan Musa. Kenapa aku tidak percaya pada utusan terakhir dari Allah? Padahal semua nabi datang dengan pesan yang sama,” katanya. Semua itu membuatnya yakin ia akhirnya telah menemukan agama yang benar.

Penentangan Masuk Islam

Pada usia 17 atau 18 , Espin memberitahu ibunya ingin berubah agama menjadi muslim. Espin mengatakan pada ibunya bahwa ia sering pergi ke Islamic Center di kota dan belajar lebih banyak.

"Saya tidak ingat, umur 17 tahun atau 18 tahun ketika saya bilang ke ibu bahwa saya ingin pindah agama dan menjadi seorang Muslim, bahwa saya ingin pergi ke Islamic Center dan belajar di sana. Ibu saya marah dan mengatakan bahwa hanya orang Kristen yang boleh tinggal di rumah dan jika saya serius ingin pindah agama, saya harus keluar rumah. Maka saya bilang kalau saya cuma bercanda agar ibu tidak membahas hal itu," tutur Espin.

Melihat keseriusan Espin, sang ibu kembali marah. Tak tanggung-tanggung, kali ini ibu mengancam jika Espin berubah agama, ia harus meninggalkan rumah.

“Jadi aku mengatakan kepadanya bahwa aku hanya bercanda untuk membuatnya melupakan masalah ini,” kata dia.

"Ibu juga mengontak bibi saya yang kemudian membawa sebuah buku anti-Islam. Buku itu membuat saya takut dan ragu sehingga saya tidak memikirkan lagi ingin menjdi seorang Muslim. Tapi saya juga tidak mau kembali memeluk Kristen karena saya merasa tidak nyaman agama itu," sambung Espin.

Waktu pun berlalu. Ibu Espin berpindah agama menjadi seorang Evangelis setelah salah seorang paman Espin >>kakak lelaki ibunya<< yang menderita kanker mampu bertahan hidup hingga dua tahun padahal dokter memvonis usianya ketika itu tinggal satu minggu atau satu bulan lagi.

Menjadi Muslimah

"Di hari ketika ibu saya memutuskan pindah keyakinan menjadi seorang Evangelis, saya berusaha bicara lagi padanya tentang Islam dan memintanya ikut saya ke Islamic Center untuk mendiskusikan tentang keraguan dan ketakutan dalam buku yang diberikan oleh bibi saya tentang Islam. Tak diduga, ibu lebih bersikap terbuka dan mau menerima ajakan saya. Tapi itu cuma sementara. Malamnya, ibu saya kembali menjadi seorang Evangelis yang fanatik dan rasanya sulit bagi saya untuk bicara Islam lagi padanya," keluh Espin.

Espin akhirnya bertemu dengan seorang lelaki Muslim asal Arab Saudi Beberapa bulan kemudian. Mereka saling jatuh cinta. Espin memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Mesir untuk menemui lelaki itu dan menikah dengannya. Pergi ke Mesir dan menikah dengan lelaki yang baik dan mencintainya adalah dua mimpi besar Espin.

Saat sampai ke Mesir, ia masih belum yakin akan berubah menjadi muslim karena pengaruh buku yang pernah dibacanya.

“Setelah sampai di Mesir, aku masih tidak yakin,” katanya.

Sang suami kemudian mengenalkamya dengan seorang wnaita yang pengetahuan agamanya luas. Namanya Raya, ia taat dan kaya ilmu agamanya. Raya membantu Espin untuk mengklarifikasi dan menjernihkan semua keraguan dan kesalahpahaman tentang Islam.

"Akhirnya saya mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari Sabtu, 30 Agustus 2009. Saya mengucapkan syahadat karena saya yakin akan ke-esa-an Tuhan dan Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir. Tapi saya bilang bahwa saya akan mulai mempraktekkan Islam ketika saya merasa sudah siap. Mereka setuju," ujar Espin.

Tapi pada hari Senin, semuanya berubah dengan cepat. Saya melakukan kesalahan yang membuat saya pada posisi yang sangat sulit.

"Kami masuk dalam situasi yang buruk. Semua itu karena kesalahan saya, Suami saya menceraikan saya dan saya merasa dunia saya hancur luluh," kenang Espin.

“Raya mengatakan bahwa manusia tidak pernah belajar sampai hal buruk terjadi,” ujar dia. Hal itu bagi Espin sangat benar. Segala masalah yang menimpanya membuat ia merasa perlu untuk bersandar kepada Allah.

Sejak itu Espin bertekad untuk berubah, berdoa kepada Allah dan minta pengampunan. Iapun mulai mengubah cara berpakaian.

“Saya ingin mengubah hidup saya menjadi orang baru,” ujar dia.

"Alhamdulillah, suami saya memberikan harapan bahwa kami bisa bersama lagi. Saya ingin memperkuat iman dan memafkan diri saya sendiri. Mudah-mudahan di akhir tahun ini, Allah memberi saya kekuatan untuk menerima apa saja yang telah ditakdirkanNya untuk saya. Pengalaman hidup ini betul-betul membuat saya belajar," tegas Espin.


Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar