HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

Tampilkan postingan dengan label Muallaf Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muallaf Amerika. Tampilkan semua postingan

4 Okt 2012

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya

Ayat demi ayat meluruhkan hatinya. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim menguap. "Inilah kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana aku berubah," kata Ibrahim Killington. Ketertarikannya membaca isi Al Quran berawal dari perkenalannya dengan Baba Ali yang santun dan humoris. Ia begitu terkejut, ternyata ada Muslim yang humoris dan santun.

Ia mulai membaca Alquran. Ia pikir, ia telah mendapatkan kesempatan untuk membaca kitab yang menjadi rujukan teroris. Awalnya, ia takut terpengaruh. Nyatanya, ia begitu terkejut dengan isi Alquran.

Ibrahim Killington, Sebelum menjadi Muslim, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, Menenggak minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. "Saya bergaul dengan orang yang sama seperti saya. Dengan harapan, kesenangan dan kebahagian itu tak pernah berakhir," kenang dia.

Pemberitaan negatif baik cetak maupun elektronik yang semakin gencar juga mempengaruhi pandangannya terhadap Islam dan Muslim. Pemberitaan itu menanamkan padanya bahwa setiap Muslim melakukan kekejaman di seluruh dunia. Kebenciannya terhadap Islam dan Muslim mulai tumbuh. Ia merasa negaranya sudah diacak-acak oleh Islam dan Muslim. "Mereka itu penjahat berbahaya di dunia," kata dia.

Satu hari, ia mendengar siaran radio tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dari sebuah program 'Terror Talk'. Radio itu mempertanyakan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan studi banding prilaku terorisme di seluruh dunia. "Saya mulai mempertanyakan apa yang diyakini umat Islam pada waktu itu. Kebetulan saya tengah mencari kebenaran," kata dia. Peristiwa ini juga memicunya untuk mengenal lebih dalam tentang kebenaran dalam Islam baik dari bacaan-bacaan maupun dari dunia maya.

Dengan ayat-ayat Al Qur'an, kebenicannya terhadap Islam terus menguap. Untuk dapat berubah, Pertama yang ia lakukan adalah pergi ke masjid. Ia habiskan waktu sepanjang hari untuk banyak membaca literatur tentang Islam. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia tengah berada di masjid. Mendengar itu, ibunya sontak berteriak. "Tidak, anda tidak bisa berada di masjid. Anda adalah seorang Kristen," kata ibunya.

"Banyak cerita tentang bagaimana kisah orang yang memeluk Islam. Mereka merasa kembali ke rumah setelah sekian lama pergi. Itulah yang aku rasakan," kenang dia.

"Ketika anda ingin mencari tahu tentang Islam dan Muslim, ada baiknya anda pergi ke masjid. Di sana, anda akan mendapatkan informasi sebenar-benarnya. Jangan takut akan apa yang keluarga anda pikirkan. Islam itu lahir untuk kita, umat manusia," paparnya lagi.

Sumber: Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...

22 Sep 2012

Biography Malcolm X mengantarkan Ahmed ke Islam


Biography dari Malcolm X mengubah hidup Ahmed James (nama muslimnya kini)kepada Islam, meski tidak serta-merta membuatnya berkeputusan menjadi muallaf, tapi setidaknya, buku tersebut menjadi berkas sinar yang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya hingga ia teguh untuk mengkonversi agamanya dari Katolik ke Islam.

Sejak SMA, Ahmed membaca banyak bacaan dari berbagai agama-agama untuk memperbandingkan agama sebagaimana yang ditugaskan sekolah. Dari berbagai sumber bacaan ini, saat itu ia belum tertarik untuk mendalami agama tertentu dan hanya sekedar sebagai bahan pembelajara, dan pada saat itu ia belum memfokuskan diri untuk mengenal Islam lebih dalam. Dan rupanya, buku Biography Malcolm X malah benar-benar berarti bagi kehidupannya.

Ahmed James lahir dan besar di Seattle, Washington. Ia tumbuh dalam keluarga yang kurang perduli terhadap agamanya (kristen) sebagaimana keluarga lain di Amerika, tidak benar-benar mempraktekkan keyakinan mereka dan pergi ke gereja hanya beberapa kali dalam setahun. Ahmed tertarik dengan agama sewaktu ia duduk di SMA Katolik.

Sebagaimana perjuangan Malcolm X yang menentang rasisme di Amerika, Ahmed James adalah orang yang yakin bahwa hanya Islam yang dapat menyembuhkan Rasisme dari Amerika. Dan peristiwa kecelakaan tabrakan mobil yang telah membuatnya hampir meninggal sangat membekas, sehingga ia selalu terngiang pertanyaan tentang "Apa yang terjadi ketika aku mati? Apa tujuan hidup?. Jawaban-jawaban tersebut ia dapatkan hanya dalam Al Quran.

Baginya, Al Quran adalah pengingat terhebat, karena Al Quran selalu mengingatkan tentang kematian dan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia ini hanyalah sebuah perjalanan ujian, dan bagi james, pengingat ini adalah sebuah perspektif yang indah. Namun ia juga melihat bahwa banyak muslimin yang telah ditarik menjauh dari Islam dan benar-benar terpikat oleh kehidupan materi (dunia).

Video Kisah Perjalanan Ahmed James menjadi Muallaf.


Lanjutkan Membaca ...

13 Sep 2012

Jamie - Mantan Model : Saya Akhirnya punya Tujuan Hidup

Sebelum saya menjadi muslimah, Saya bukanlah orang yang konservative, saya bukanlah orang yang sangat baik. Saya menjadi model  sekitar 5 tahun dan selama waktu tersebut, Saya menggunakan obat-obatan (drugs) dan  saya berfikir saya dapat menggunakannya dan tidak akan kecanduan sebab saya menggunakannya hanya untuk membantu mengurangi kegemukan. Saya hanya akan mengkonsumsinya saat saya ingin tetap makan banyak makanan.

Begitulahn, Saya pikir saya cukup kuat untuk tidak kecanduan obat-obatan dan pada dasarnya setiap pengguna sebenarnya telah kecanduan.

Saya memulainya dengan perhitungan dan ingin mencobanya beberapa minggu dan kemudian saya benar-benar kecanduan dan saya menggunakannya  setiap hari selama lima tahun. Dan hal itu telah menjatuhkan saya ketempat terbawah. Saya dan suami pada waktu itu menggunakan secara bersama dan dia mulai melakukan kekerasan terhadap diri saya dan saya menakuti kehidupanku sendiri.

Kemudian saya memutuskan untuk keluar, dan tidak menginginkan hal itu kembali terjadi pada kehidupan saya, dan saya katakan kepada suamiku "Saya katakan, saya Ingin berhenti", yang disambut dengan tawaan suamiku dan ia mengatakan "Ya, betul, Kamu tidak akan pernah bisa berhenti" dan saya jawab"Kamu tahu apa, saya akan berhent". Pada hari itu saya benar-benar berhenti dan tidak pernah lagi menolehnya. Saya tidak memiliki waktu untuk rehabilitasi, tidak ada bantuan dari luar ataupun sistem yang mendukung. Saya hanya memiliki tawaan suami dan ia merayu agar saya kembali mengkonsumsi.

Setelah itu saya mengarahkan fokus perubahan hidup pada anak laki kecilku yang membutuhkan ibu yang baik dan saya sangat mencintainya. Saya ingin merubah segalanya untuk fokus kepadanya.


Back in the day, I could do anything I wanted. I was very involved in basically the Hollywood scene that anybody would want to be involved in. A lot of people are surprised that I gave that up in order to become a Muslim, but the funny thing is when I said my shahadah the desire to do all those things was completely taken away from me. I used to drink, did drugs, and all that stuff. I don’t want to do them anymore. It is amazing to me, I really enjoy and feel peaceful in my heart about being a Muslim.

I was born and raised non-denominational charismatic born-again Christian, and I didn’t find answers for what I was looking for, for 31 years as a Christian, I never really felt God. I tried this as hard as I could. I really did and I never felt Him. The whole thing that started leading me to Islam was that I got married to an Iranian man who was a very devout born-again charismatic non-denominational Christian, and he was mentally and emotionally abusive to me, not to mention that fact that he was poisoning me, just so that he could control me, to keep me at home not being able to leave the house just to know where I would be all the times. So I left him, and that kind started me on a whole new journey to see what was really going on in the world.

Researching Islam and Finding Peace

I think the main thing that I liked about Islam was the respect for women
I researched Islam for a while before I chose to convert. Basically, I wanted to know why people hated Muslims so much because I saw what I saw in the news. I saw oppression and violence and I wanted to know what really existed, and if that was the way that Islam was.

So I started researching it, and the more and more I researched it, the deeper I got into it, I saw the truth in it. I think the main thing that I liked about Islam was the respect for women. There is a large amount of respect for women and the things we do as women. Our lives aren’t easy. We have a lot of things that we have to think and worry about; our families, our husbands, our children and we have to bear children. That’s really a very hard thing to go through.

And you know, a lot of us have to cook, clean, raise children and take care of the house and the husband. It’s a difficult job. And the fact that Islam respects women for that, and they separate us at mosques so that the men are not distracted by us because Islam understands the power that we have behind, I guess you could say, our sexuality. The way we look is really powerful to men, and they are affected by it. Islam respects that. Once I realized that, it grabbed the hold of me, and that’s when I knew I wanted to become a Muslim.

Converting to Islam made me feel different. It made me feel absolutely peaceful. I felt unstable before. I felt like a lot of things in my life were just up and down because they hadn’t been decided on. There was no goal in my mind. There was no reasoning for me being here. I didn’t know why I should be here, and converting to Islam gave me that peace and security and the balance that I needed in my life that made everything make sense to me; that made everything real. And it made everything worth being here for, because I finally have a purpose and I understand what it is.

We don’t always have the opportunity to meet people that we essentially need to meet in order to understand them. So I started going to a mosque in order to really get close to the people and understand them. And the more I got involved in the mosque, the more the women just surrounded me and took me in, and they really showed me the kindness that is Islam.

I want to wear Hijab because I want people to know that I’m Muslim
I never ever in my life would have ever thought that I would become a Muslim. Never ever! My perception of Muslims was so misconceived that I didn’t like them because I believed media and I thought they were bad, and never in a million years would I have thought one day I would be one of them. But now that I’m, I’m so proud and happy. I want to wear Hijab because I want people to know that I’m Muslim, even if they hate me, I don’t care. I want to show them that Allah exists in any kind of person, not just Middle Easterners.

I played drums before I was Muslim, and just because I became a Muslim doesn’t mean I have to stop doing the things that I enjoy. I do a lot of sports; snowboarding, water skiing and I still can be a good Muslim and still wear Hijab.

Dad's Reaction

My dad never really knew about my past with the drugs and playboy modeling and all that stuff. He and I didn’t speak for 8 years. He kicked me out of the house when I was 17 years old and I lived under a freeway overpass for a week. I was homeless. And all I had with me was what I could fit in my back bag and my guitar case.

So we didn’t speak for 8 years after that and he didn’t understand I wouldn’t have understood is that these are experiences I needed to have on my own. I needed to have the pain on my own, and I needed to have the recovery on my own.

The only reason why I started speaking to him again was because I got pregnant with my son, and I figured that my son needed a grandfather. When I did come back and started speaking to him again, we had a beautiful conversation together and we discussed what had happened before and we both apologized to each other and promised we will never do it again. So, ... this is my daddy. And he is my best friend in the whole wide world. And it’s something I never thought it was going to happen. But now that it has, I love him so much.

The first time my dad learned about my conversion, I was on my way home from Sacramento. I had just gone to a mosque up there and converted. I was driving home and I was too afraid to call him because I knew he was going to be really mad. So I texted him on the phone and I said “Dad, could you please try to start having an open mind about Muslims? Can you please just stop being so judgmental and believing all you see about Muslims on the news?” He texted me back and said “Why?” So I said “Well, dad, I’m Muslim!”

My father wasn’t too pleased when he found out that I converted to Islam. He was quite unhappy to the point where I feared that I was going to have to leave. We live in the same home. And we work at the same job, and I haven’t gone back to the job since, but living at home has been very tense...

Sumber: http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/457874-jamie-converts-to-islam.html
Lanjutkan Membaca ...

Kisah Melinda Baily Menjadi Muallaf

Hi. namaku adalah Melinda Baily. Saya menjadi muallaf ( memeluk Islam) sejak 3 tahun yang lalu, dan saya ingin menjawab beberapa pertanyaan umum yang diajukan kesaya tentang bagaimana saya menemukan Islam.

Sebenarnya, setelah saya pindah ke South Carolina dari Buffalo, New York, Kakek dan nenek saya telah tinggal disana (South Carolina) dan mereka adalah penganut katolik. Kedua orang tua saya lahir sebagai katolik, ayah saya seorang keturunan Polandia (polish) dan ibu saya adalah keturunan Italia, Namun pada akhirnya kedua orang tua saya pindah keyakinan menjadi seorang Kristen dari gereja non-denominasi di Buffalo dan kemudian kami ke North Carolina sekitar 8 tahun yang lalu.

Kisah Kakakku

Saat itu kami masih pergi ke gereaja dan kemudain kakak saya bertemu seseorang dan dia mengatakan bahw pria tersebut adalah seorang Muslim. Hubungan mereka menjadi hubungan yang serius. Saat itu saya tidak mengerti sedikitpun tentang Islam. Kami sangat mendedikasikan hidup ke Kristen. Kemudian kakak saya mulai mempelajari Islam dan kami menerima pria tersebut dengan hagat dan tangan yang terbuka. Kami sangat serius untuk belajar tentang pandangan-pandangannya, agama nya dan beberapa hal lainnya. Dan kemudian kakak ku akhirnya menikah dengannya.

Dengan pernikahannya, kakak ku ini kemudian memutuskan keinginannnya untuk mempelajari lebih dalam agama sebelum mereka memiliki anak. Dia ingin membuat keputusan bagaimana dia membesarkan anak-anaknya sebab ia tidak ingin mengenalkan anak-anaknya kepada agama yang ia tidak meyakininya. Dia ingin mereka mendukung sesuatu yang dia yakin tentangnya. Dia mempelajari Islam sekitar 2 tahun dan kemudian memutuskan memeluk (konversi) ke Islam, dan dia mengatakan kepada keluarga kami bahwa dia tidak lagi meyakini ajaran trinitas dan mengatakan bahwa ia telah mempelajari banyak hal dalam Islam.  Keputusan ini awalnya menakutkan bagi kami karena banyaknya miskonsepsi tentang Islam dan juga perubahan-perubahan besar pada dirinya; yaitu system keyakinannya, bagaimana dia bertingkah laku dan bagaimana cara dia berpakaian.
Bagi saya saat itu saya tidak begitu tertarik kepada Islam, dan saya hanya ingin melakukan penelitian untuk diri pribadi dan memutuskan apa yang saya yakini dan apa yang menurut saya benar. Namun ternyata hal ini berdampak pada keluarga saya yang akhirnya berhenti mengunjungi gereja meski tetap mempraktekkan dan meyakini ajaran kristen. Saat itu saya masih terlalu muda dan baru saja melalui masa SMA, dan membuat saya menjadi bingung tentang apa yang saya yakini. Orang tua saya mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kakak saya katakan. Hal itulah yang memicu saya untuk mempelajari lebih dalam dan memutuskan apa yang saya yakini dan apa yang menurut saya benar dan tidak hanya sekedar menerima keyakinan yang saya anut sejak lahir. Saya percaya, pencarian saya akan memperkuat saya dalam kristen atau memperkuat saya jika saya beralih ke Islam.  Itulah tujuan dari rencana yang harus saya dapatkan. Then my sister had moved oversees, and every time she came back to visit us like for the summer time she was a lot more religious and a lot more strict in religion. It was very scary to see these changes. Then she introduced me to somebody that was also a Muslim, and I started a relationship with him. Before we got serious, we decided that we were going to separate and not see each other, and that I was really going to research about religion and then decide what I really wanted to believe before I started a serious relationship with this person.

Researching Islam

So then I started to research the religion. My motivation was to decide whether I am going to continue the relationship with this person and have a serious relationship with him because that was a big step. We are having somebody from a different religion in a cross-cultural marriage that is difficult enough as having two people marrying who were practicing different religions. I really wanted to research before I made a decision. When I started researching, the first thing I researched was women’s rights in Islam. The truth is that I had heard a lot of rumors. We used to see a lot of things in the media and I had a lot of misconceptions that I wanted to find out what the religion actually practices. So I had a lot of misconceptions about what the rights of women were in Islam. I thought before that women were forced to cover, they had to walk behind their husband or something out of respect, and they have to sit at the backseat of the car, and such kinds of common misconceptions. When I actually started researching, I found a lot of things that I was really surprised, that there was a lot of rights that I agreed with in the religion, and a lot of rights they had given women. For instance a woman has the right to hold her own property and have her own business, and be in charge of her own money and make business deals and stuff without any male influence from her husband who doesn’t have any right to her money, any right to her inheritance and her father doesn’t. She is able to hold property and make business and stuff on her own. That was something I was really surprised to hear about because they were some of the misconceptions that people normally have. So I kind of agreed with a lot of points. So I continued researching about what the religion was actually saying. One of the big things was what Muslims worshipped. I didn’t really know what they actually believed in. I thought maybe they worshipped Muhammad and they didn’t believe in Jesus and didn’t believe in God. When I actually researched I found out that they do believe in Jesus and they do believe in God, but they don’t believe in the trinity. We have stories about Abraham, Moses and Noah and so many things are exactly the same. But the thing that was different was the trinity Some of the stories in Quran made it very easy to research Islam because I was so used to many of the ideas and many of the stories because there were so many similarities between Christianity and Islam, especially that I was born and raised Christian I used to hear similar stories and they were the same ones. We have the same prophets. We have stories about Abraham, Moses and Noah and so many things are exactly the same. But the thing that was different was the trinity.

Jesus in Islam

Muslims don’t worship Muhammad (peace be upon him) but Muhammad was a prophet and he was the last prophet. Their relationship with Jesus is that they believed he was one of the most well-respected prophets, but didn’t believe he actually is God but believe he is a man and a prophet of God and he told people to worship God as One. A common thing which was a big debate between Muslims and Christians was that the Muslim standpoint is that worshiping Jesus as a God in place of the father is considered as associating partners with God. So when I started to research the ideas of Jesus in Islam, a lot of things made a lot of sense, because when I researched what the trinity really was I realized, personally to me, that it didn’t make 100% sense to me. It was something I was used to practice and believe in but I didn’t really question because I thought it was wrong to question things about my religion. So I had the idea that it was really wrong to look for something else or have any reasons to do so. I was comfortable with my beliefs and practicing Christianity. I found also that they believe in the virgin birth. And a lot of points I was researching like the difference between the points that the Christians made about Jesus is that Jesus is the son of God and that he is God, compared to what the Muslims said that Jesus is a prophet of God but he is not God himself and that you have to worship God and tell people to worship God only and he didn’t ask people to worship him. So researching the whole different points that Muslims had made and points that Christians had made, and doing it open-mindedly and freely. One of the things I had liked about Islam was that it is OK to ask questions and research if something doesn’t make sense, and it should scientifically, historically or logically make sense. That was really one of the things I enjoyed about Islam, that there is a lot of the scientific points in the religion that were proven to be true. There are a lot of common grounds that the most closely related religion to Islam is Christianity. But one of the points when I did my research that really had personally hindered me when I really thought that Muslims had valid points and that this was a good belief system they had, what I heard about in the media and what I heard about from different cultures. There are so many different Muslim countries and each of them have their own cultural influences in their practices, that is not the actual religious practicing. Islam is a religion that’s almost 1500 year old. Countries have been introduced to the religion, but they changed some of its practices through their cultural habits. Then which of the favours of your Lord will ye deny? Qur'an 55:13 Sumber : http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/454836-my-sisters-future-husband-introduced-me-to-islam.html
Lanjutkan Membaca ...

1 Sep 2012

Anthony Grant Vance - Marinir AS memeluk Islam di Iraq

Anthony Grant Vance adalah putra dari orang tua campuran amerika dan Panama, Lahir di Panama dan besar di Amerika dan dalam asuhan Katolik. Meski demikian, semenjak masa kanak-kanak di Kansas, ia telah mempelajari dengan serius tentang ajaran Islam, dan ia memiliki 2 orang teman keturunan afghan.
Sumber :  http://longislandwins.com

Anthony Grant Vance resmi menjadi seorang muslim sunni dan ber sahadat saat ia bertugas sebagai marinir di Iraq. Setelah ia menyatakan sahadat nya, ia pun berganti nama menjadi Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed. Dengan sahadat nya tersebut, maka ia termasuk bagian kecil tentara yang bertempur di Irak dan kembali dengan iman yang baru.

Kedua orang tua Ibrahim telah bercerai semenjak ia menginjak remaca dan ayahnya menjadi seorang kristen sekte Saksi Jehovah. Konversi ayahnya dari Katolik menjadi kristen Saksi Jehovah membawanya untuk pensiun dari 13 tahun karir militernya. Suatu waktu ayahnya mengatakan kepada Ibrahim bahwa ia memutuskan untuk menjadi "pengikut Tuhan", ""Anda tidak berjanji setia kepada negara, tetapi Anda berjanji setia kepada Tuhan."

Sumber :  http://longislandwins.com

Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed pertama-kali melihat Islamic Center Long Island di Westbury yaitu pada saat ia bekerja pada pangkalan militer di Garden City. Ia selalu tertarik kepada masjid yang ada di Islamic Center tersebut. "Kami melalui masjid beberapa kali dan saya semakin tertarik untuk ingin tahu". Setelah beberapa tahun di Long Island, Ia kemudian di kirim bertugas di Iraq pada tahun 2008.

Dua tahun telah berlalu sejak Ibrahim memeluk Islam. Sekarang ia tinggal di Westbury, menghadiri Islamic Center Long Island dan sedang terus mempelajari dalam pendidikan di Post CW.
Sumber :  http://longislandwins.com

Lanjutkan Membaca ...

10 Des 2011

Kisah Jessica Fay - Wanita Muallaf Kolumbia

Selama dua tahun terakhir, Fay telah mengambil langkah kecil untuk menjadi seorang Muslimah

Jessica Fay Wanita Muallaf Kolumbia ini memakai jilbab, jilbab yang menutupi rambut wanita. Dia mengatakan ada banyak alasan dia suka mengenakan jilbab, yang diwajibkan oleh Al-Quran, kitab suci umat Islam. Jilbab ini digunakan dengan aturan berpakaian tertentu yang biasanya menjadi tertutup dari kepala sampai kaki, dengan sebagian besar lengan tertutup juga. Ia Butuh beberapa tahun untuk memutuskan memakai jilbab. Dia bilang dia gugup akan penilaian orang lain saat dia mulai mengenakannya. Kepergiannya untuk beribadah Haji telah membantunya memutuskan untuk berjilbab sekembalinya ke Amerika.


"Ini menyenangkan karena ketika saya berjalan menyusuri jalan, aku tidak melihat (pria) mengamati saat melihat tubuh saya - mereka menatap lurus ke arahku, "kata Fay. "Saya merasa lebih dihormati dan bermartabat dari itu, mengetahui aku tidak harus menunjukkan dadaku untuk mendapatkan rasa hormat dari seorang pria."

Beberapa orang menyebut proses ini adalah konversi, tetapi Fay menyebutnya sebagai "kembalik."

"Dalam Islam, mereka meyakini bahwa semua bayi dilahirkan muslim," kata Fay. "Jika keluarga mereka bukan Muslim, mereka belajar agama yang berbeda atau apa pun. Mereka menyebutnya sebagai kembali (reversi) karena Anda kembali kepada Islam."

Menjadi muslim membutuhkan komitmen dan bisa sulit bagi mereka yang tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim atau latar belakang Arab. Islam, yang mewajibkan shalat lima kali sehari, melarang alkohol dan beberapa makanan lain. Tapi itu tidak masalah karena ia sudah melewati transisi kaku dalam hidupnya, saat ia mulai lulusan sekolah tahun ini.

Banyak teman-teman sarjananya telah meninggalkan Kolumbia, dan ia memiliki kesulitan menjaga kontak dengan yang masih tinggal, ujarnya . "Sulit untuk menemukan teman Anda yang tidak menajak anda kembali untuk terlibat degan Alkohol, " Kata Fay. "Namun kemudian, Saya berfikir tentang : Saya memakai jilbab dan saya tidak ingin salah merepresentasi keyakinan saya, dan orang berfikir, "oh it's ok".

Fay tidak berwajah Arab, yang menyebabkan beberapa orang ingin tahu tentang dirinya, seperti ketika dia berusaha untuk mendapatkan meja di restoran atau di supermarket. Dia mengatakan kadang-kadang orang lebih terbuka untuk berdiskusi tentang Islam dengannya karena warna kulitnya.

"Orang sedikit penasaran dibanding jika ia tampak seperti orang Arab. Kemudian mereka akan berkata seperti, 'Oh, itu yang diharapkan, saya tidak perlu bertanya padanya kenapa." . Fay mengatakan ia berharap dengan penampilannya akan membawa mereka yang tidak memahami Islam untuk mengajukan pertanyaan.

"Saya harap untuk mengajari mereka dengan cara ini, untuk menunjukkan bahwa Aku tidak tertindas
oleh jilbab saya, "kata Fay. "Aku pergi ke tempat olahraga dan saya bekerja keluar. Aku akan berlari 5K. Saya juga orang yang pemalu, tapi aku berbicara lebih banyak di kelas. Saya ingin mendidik, tapi aku tanpa ada tekanan. "

Lanjutkan Membaca ...

1 Des 2011

Kisah Muallaf mantan Model Playboy

Kisah menarik muallafnya seorang mantan model majalah Playboy dalam dua file video yang diunggah ke Youtube. Sayangnya saya belum mendapatkan artikel tertulis tentang kisah ini. Jika suatu hari kedepan, saya mendapatkan artikel tersebut, maka halaman ini akan saya Update.

Kisah Muallaf Mantan Model Playboy 1



Kisah Muallaf Mantan Model Playboy 2

Lanjutkan Membaca ...

26 Nov 2011

Mike Tyson ~ Kisah dan aktivitasnya sebagai Muslim

Simak Video tentang Mike Tyson tentang kisah dan aktivitasnya sebagai muslim. Ada dua istilah / pendapat tentang bagaimana sikap muallaf terhadap bagaimana ia menerima Islam. Ada yang menyebut dengan istilah Convert = Pindah keyakinan, dan yang kedua adalah Revert = Kembali menganut keyakinan yang seharusnya.







Mike tyson saat Umrah




Pendapat-pendapat Mike Tyson Tentang Islam




Mike Tyson saat berdo'a




Mike Tyson Muslim Power




Mike Tyson tentang Muslim dan Islam

Lanjutkan Membaca ...

Muallaf akibat cari jodoh di Internet

Awalnya Ingin Cari Jodoh Lewat Internet, Ethel Malah Temukan Islam dan menjadi Muallaf. Dua puluh sembilan bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang untuk menemukan suatu agama. Percaya atau tidak, Ethel Mae Blizzard mengalami hal itu. Hampir tiga dekade ia mencari apa yang kini ia sebut sebagai kebenaan hakiki, Islam.


Wanita yang tinggal di San Diego, California menjadi jamaat gerja Mormon sejak umur 12 tahun. Selama empat tahun, ia cukup aktif di gereja pada hari Minggu. Ia sempat dibabtis dalam kepercayaan Mormon. Namun, saat usianya menginjak 18 tahun ia tidak percaya lagi dengan agama Mormon.


Ia tidak memungkiri adanya Tuhan, namun ia benar-benar tidak yakin dengan agama Mormon yang dianutnya. Selama 29 tahun sejak saat itu, ia selalu mencari agama yang menurutnya benar. Ia belajar tentang Yudaisme, Saksi Yehuwa, Kristen. Ia hampir menyerah karena tak kunjung menemukan hakikat ketuhanan.


Suatu hari ia memutuskan untuk mencari pasangan hidup melalui situs perjodohan online. Ia mengikuti Arab Match.com. Peristiwa ini yang perlahan mengenalkannya pada Islam. Seorang wanita mengirim pesan kepada Ethel dan berfikir mungkin Ethel cocok untuk salah seorang temannya. Sebulan kemudian Ethel bertemu dengan pria itu. Sempat menjalin hubungan selama tiga bulan, sang pria mengajaknya menikah di masjid."Aku tidak yakin dengan hal ini, biar bagaimananpun aku seorang Kristen," katanya. Ia memutuskan mencari tahu soal masjid dan pernihakan.


Ethel kemudian menanyakan kepada salah seorang temannya dari Turki. "Dia memberitahuku tentang Masjid Abu Bakar," ujarnya. Ia pergi ke masjid itu, hendak menemui imam masjid namun sebenarnya ia sendiri tak tahu persis apa yang sedang ia lakukan.


Ethel hanya menunggu di luar sampai akhirnya ia ditanya apakah sedang memberlukan bantuan."Ya, saya perlu bertemu dengan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya," jawab Ether. Seketika imam masjid bernama Taha datang padanya. Namun karena Ethel datang ketika menjelang waktu shalat, imam Thaha memintaanya untuk menunggu. Sempat banyak bertanya, Imam Thaha menyuruhnya kembali jika masih ingin berdiskusi lebih banyak lagi.


Beberapa hari kemudian ia menemui kawanya yang dari Turki. "Aku menayakan tentang muslim dan agama muslim," katanya. Sang teman mejelaskan bahwa muslim bukanlah nama agama. Islam adalah nama agama pagi penganutnya yang biasa disebut muslim.


Banyak berdiskusi, Ethel mananyakan tentang Allah. "Allah adalah Tuhan," kata temannya. Dari situ, ia mengambil kesimpulan bahwa ternyata orang Islam juga percaya Tuhan. "Saya baru tahu orang Islam juga bercaya Tuhan," kata dia.


"Lalu aku bertanya kepadanya apa yang Muslim yakini dan apa arti Islam. Ia menjelaskan padaku bahwa Islam adalah agama yang damai, tak seperti apa yang banyak diberitakan oleh media," jelas Ethel. Namun saat Ethel bertanya apakah kawannya itu muslim, Ether sangat terkejut. Kawannya mengaku muslim tapi tidak menggunakan jilbab atau pakaian muslim. "Teman saya lalu memberikan saya nomor telpon salah satu masjid dan memberi saya saran untuk bertemu Sheikh Saad.


Menggigil Saat Membaca Kisah Rasulullah


Ketika ingin menemui Sheikh Saad, tanpa diduga Ethel mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya ditabrak. Ia harus menunda beberapa saat sampai salah seorang tetangganya, Julie, bersedia mengantarnya menemui Sheikh Saad. "Julie bertanya mengapa saya ingin menemui Sheikh Saad. Saya jelaskan bahwa saya ingin menemuinya sebagaimana orang Kristen ingin menemui pastur. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Islam dan pernikahan," kata Ethel.


Julie terlihat tak senang mendengar jawaban Ethel. Beberapa kali Julie membatalkan janji dan tak bisa dihubungi di waktu yang ditentukan. Julie terlihat seperti menghindar hingga akhirnya Ethel memohon padanya bahwa menemui Sheikh Saad adalah hal yang sangat penting.


Julie akhirnya mengantar Ethel menemui Sheikh Saad di masjid Al Ribat. Saat mendekati masjid Ethel merasakan sesuatu yang aneh. Sheikh Saad keluar dan memintanya untuk melepaskan sepatu. Sebuah hal yang menurutnya tak biasa. "Tapi karena saya hendak menemuinya, maka saya harus melepaskan sepatu," kata Ethel.


Keduanya mengobrol mengenai beebrapa hal. Sheikh Saad membernya beberapa buku untuk dibaca Ethel. Saat itu ia menerima Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris, buku Agama Kebenaran, Sebuah Panduan bergambar Singkat untuk Memahami Islam dan buku-buku lain.


Setelah waktu berdiskusi dengan Syekh Saad telah selesai, betapa terkejutnya Ethel ketika sang ustadz menolak berjabat tangan. Menurutnya itu tidak sopan. Lalu Sheikh menjelaskan padanya bahwa tidak diperbolehkan menyentuh seseorang yang bukan makhromnya. "Dan saya bisa menerima hal itu,” ujar dia.


Pencarian Ether terhadap Imam Thaha dan Sheikh Saad memang tak mengantarnya pada pernikahan, seperti tujuan awal Ethel mencari kedua orang ini. Namun pertemuannya membuat dia mengenal Islam lebih jauh. “Saya pikir alasan saya menemui Imam Taha dan Sheikh Saad seperti yang telah saya lakukan adalah bagian dari proses pencarian agama. Terlalu rumit untuk menikah dengan pria ini. Dia ada di Arab sementara saya ada di Amerika. Jadi saya memutuskan untuk menyerahkah jodoh saya kepada Allah," kata Ethel.


Selama beberapa minggu berikutnya setelah pertemuan dengan Sheikh Saad, Ethel mulai membaca buku Agama Kebenaran dan membaca tentang Nabi Muhammad. Saat 8 Juni 2007, tanpa disadari, Ethel merkaca-kaca. Badannya menggigil sekujur tubuh. "Di halaman 20 saya menuliskan 'saya beriman' pada 8 Juni 2007,” kata dia.


Ia mulai berfikir bagaimana caranya berpindah agama. Dalam waktu seminggu, ia mengurus asuransi mobil. Ia sudah bertekad bahwa tempat pertama yang akan didatanginya ketika semua urusan telah beres yaitu masjid untuk menemui Sheikh Saad.


Tanggal 23 Juni 2007, Ethel mendatangi masjid. Ia sempat bertemu dengan beberapa mantan orang Kristen yang telah menjadi Islam. Ia bercerita ingin menjadi seorang muslim. Ethel lantas mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan para jamaah.


Namun sayang, di hari itu keislamannya tak sempat disaksikan oleh Sheikh Saad. Sheikh Saad sudah tiada.


Saat memleuk Islam, Ethel sudah tak memiliki keluarga lagi. Ibu, ayah,nenek dan kakek telah meninggal dunia. Ia hanya memiliki kakak beserta tiga orang anaknya dan seorang paman serta satu sepupu. Betapa terkejutnya saya ketika paman bisa menerima apapun yang menjadi kepercayaan Ethel.


Namun sepepunya dan bebrapa kawan teman memutuskan komunikasi ketika mengetahui Ethel menjadi muslim. Seorang tetangganya bahkan pernah mencoret coret mobilnya dengan lipstik ketika Ethel mulai mengenakan jilbab. Tapi Ethel bergeming, ia tetap memilih memeluk Islam, hingga kini.
Lanjutkan Membaca ...

23 Nov 2011

Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan

Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan, Bernama lengkap Melissa Lopez Casanova, ia lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orang tuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukkan di sekolah khusus untuk mempelajari Alkitab.

Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam perjalanan mempelajari Alkitab, Lopez malah menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama terakhirnya.

“Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang religius yang memungkinkanku mempelajari Alkitab. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,“ ujarnya.

Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. “Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.“

Lalu, bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


meski Lopez tumbuh dalam keluarga yang religius, di California, Amerika Serikatia bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa. “Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini dan aku pun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama mana pun,'' ujarnya.

Menurut dia, Kristen nondenominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa, “Jika kamu percaya Kristus, kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apa pun denominasi yang membedakan kita.“

Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. “Aku tidak mengetahui seberapa lama Alkitab telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah."

Namun jauh di lubuk hatinya, Lopez selalu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan.

Ia pertama kali mendengar nama “Allah“ dari pengajarnya di sekolah Alkitab. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.“ Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.

Kuliah di jurusan bisnis internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.

“Temanku beralasan, negara mana pun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,“ katanya.

Saat itu, pada 2006, Lopez mendengar kata “Alquran“ untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.

Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan temanteman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.

Lopez pun mencoba berpuasa, bukan karena tertarik menjadi Muslim, melainkan semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itu pun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari," katanya.

Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping compact disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.“ Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.

Mengkristenkan 55 ribu orang dalam sepekan


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.

Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim," katanya.

Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.

Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, tetapi ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang memercayai Trinitas.

“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,“ kata Lopez.

Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.

Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi serta keti ganya dapat diusut asal muasalnya ingga bertemu dalam silsilah sejarah yang sama.

“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,“ kata Lopez.

Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.“

Perasaan 'aneh' saat mendengar ayat Alquran


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan menggunakan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.

“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya, aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,“ kata Lopez.

Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.

“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen," katanya.

Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya. Lopez akhirnya memutuskan untuk mengenal jauh tentang Islam. Namun, hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari, namun jauh dari-Mu.“

Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil saat menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah membuktikan pilihan yang salah. Namun, ia tiba di tujuan dengan selamat, dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.

Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan," katanya.
Lanjutkan Membaca ...

15 Sep 2011

Peter Casey Muallaf Yang Tak Sungkan Shalat di Kedai Starbucks

Peter Casey seorang mualaf berlatar belakang Yahudi-Kristen. Nama islamnya adalah Abdulmalik, Ke ISLAM annya adalah hasil pencarian spiritual. Pemuda berusia 23 tahun ini bermuara pada Islam pada usia 15 tahun, lulusan Queens College ini memutuskan bersyahadat.


Kini namanya dikenal secara luas baik di negerinya, Amerika Serikat, maupun dunia internasional setelah pengakuannya memilih Islam tersebar luas di jagat maya. Alih-alih takut akan keselamatan nyawanya mengingat fobia Islam kembali mengental di AS menjelang peringatan tragedi 11 September, ia malah rajin menunjukkan keyakinan barunya di depan publik.


Ia misalnya, selalu pergi ke masjid setiap hari dengan 'menumpang' skateboard-nya -- gaya khas anak muda AS. Ia juga jarang berpikir dua kali untuk melakukan ibadah shalat di Starbuck, jika kebetulan ia tengah nongkrong di sana dan waktu shalat telah tiba.


Pria bermata biru ini mengaku pantang menyembunyikan identitas keislamannya. Sebaliknya, ia mengatakan ia berusaha untuk "menantang stereotip dan kesalahpahaman" orang lain di sekitarnya tentang Islam.


Sebagai seorang mualaf yang dibesarkan di pinggiran kota dengan latar belakang Yudeo-Kristen, Casey berada dalam posisi yang sebetulnya 'mustahil' untuk melakukannya. Namun, itulah tekad Casey; membuat orang belajar menerima seorang Muslim apa adanya, mulai dari cara dia berpenampilan, berbicara, dan bertindak.


Casey dibesarkan di pinggiran Long Island oleh ibu yang beragama Yahudi dan ayah Katolik. Ia tumbuh dalam keluarga yang bertolak belakang dalam melihat Yesus. Di satu sisi, kekristenan berbicara tentang Yesus sebagai Allah Putra, Allah Bapa, dan roh Kudus. Di sisi lain, Yudaisme berbicara tentang Yesus sebagai seorang mesias palsu.


"Saya merasa ada dua hal ekstrem di sana, dan saya mempelajari keduanya," kata Casey.


Dan kemudian, pasca-serangan 11 September 2001, pemahaman mulai berubah. Dia baru berusia 13 tahun saat dua menara kembar WTC itu runtuh. Sejak itu, ia rajin berselancar di dunia maya mengorek isi ajaran Islam -- yang pada awalnya dituduhkan berada di balik serangan itu. Ia menemukan doktrin yang lebih masuk akal tentang Yesus: dia seorang nabi, seorang pria yang menyampaikan firman Allah. Tidak lebih, tidak kurang.


"Ketika saya mulai belajar tentang Islam, saya seperti:" Ini dia. Ini adalah agama itu," katanya.


Dua tahun kemudian, pada usia 15 tahun, ia masuk Islam. (Orang tuanya menolak memberikan komentar untuk cerita ini).


Sejak itu, pria yang baru-baru mulai mengajar sejarah di sebuah sekolah Islam di Brooklyn, telah berupaya untuk meluruskan kecurigaan publik AS pada Islam. Tak hanya melalui perbuatan -- seperti bershalat di tempat umum dan ramah pada siapa saja -- ia juga aktif berdakwah melalui blog-nya yang bertajuk 'Dawah Addict'. Tema-tema seperti 'Muhammad dalam Alkitab' dan 'Bagaimana Menjadi Seorang Muslim' diulasnya tanpa canggung.


"Ketika saya pertama kali menjadi Muslim, dan masih terdengar hingga hari ini, orang-orang berkata,'Mengapa tidak ada lebih banyak Muslim yang mengatakan terorisme adalah buruk? Mengapa tidak ada Muslim di luar sana mengatakan tentang Islam yang sebenarnya?'," kata Casey. "Dan saya pikir, yah, saya akan melakukannya jika tidak ada orang lain yang akan melakukannya."


Saluran Casey di YouTube memiliki lebih dari 5.000 pelanggan dan hampir setengah juta pengunjung. Meskipun pendengarnya terus tumbuh, dia juga mengalami hambatan, antara lain berbagai bentuk komentar marah dan sanggahan.


Namun, dia tak surut ke belakang. Alasannya sederhana: "Saya merasa seperti saya memiliki tanggung jawab kepada orang-orang di Amerika," katanya, "Karena ini adalah tempat saya tumbuh dan ini adalah rumah saya, dan saya ingin berbagi apa yang membuat saya sangat bahagia dan telah membawa saya kedamaian begitu banyak."


Sumber : republika . co .id
Lanjutkan Membaca ...

23 Agu 2011

Prof. James D. Frankel: Muallafnya seorang prof. perbandingan Agama

Prof. James D. Frankel
James D. Frankel adalah seorang profesor bidang perbandingan agama dan sekarang mengajar di Universitas Hawai. Di universitas itu, Frankel juga mengajar mata kuliah tentang Islam dan ia sendiri adalah seorang mualaf.

Dari kediamannya di Honolulu, Hawai, Profesor Frankel berbagi cerita tentang perjalanannya menjadi seorang muslim.

Sebelum pindah ke Hawai dua tahun yang lalu, Frankel menetap di New York, kota tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Frankel tumbuh dalam lingkungan keluarga bahagia. Orang tuanya tidak menerapkan ajaran agama tertentu dan hanya menanamkan nilai-nilai moral, meski sebenarnya keluarga Frankel memiliki latar belakang Yahudi.

Satu-satunya koneksi yang pernah menghubungkannya dengan soal agama adalah nenek dari pihak ayahnya, yang masih menjalankan ajaran-ajaran agama Yahudi. Dari neneknya itulah, Frankel belajar sedikit tentang kisah-kisah dalam alkitab dan kisah-kisah nabi.

Orang tua Frankel pernah mengirimnya ke sekolah Yahudi agar Frankel bisa belajar banyak tentang agama Yahudi. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Frankel merasa tidak nyaman di sekolah itu, dan sebenarnya ia dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak bertanya.

"Mungkin itu sudah karakter saya. Sampai sekarang, sebagai seorang muslim dan seorang prfesor, saya tetap jadi orang yang banyak tanya," ujar Frankel.

Jadilah ia tumbuh remaja tanpa basis ajaran agaman apapun. Di usia remaja, Frankel punya dua pengalaman yang menurutnya menjadi pengalaman hidup yang penting. Pada usia 13 tahun, Frankel membaca manifesto Karl Marx dan ketika itu ia memutuskan untuk menjadi seorang komunis. Ia terkesan dengan filosofi komunis yang menurutnya bisa menyejahterakan semua orang.

Pada usia itu juga, Frankel merasa untuk pertama kalinya mulai mendengar tentang agama Islam. Karena sekolah di sekolah internasional, Frankel punya teman dari berbagai negara. Salah satu teman baik Frankel saat itu seorang siswa muslim asal Pakistan. Temannya itu memberikan Al-Quran dan ingin Frankel membacanya.
"Saya tidak mau kamu masuk neraka," ujar Frankel menirukan ucapan temannya saat memberikan Al-Quran.

Frankel mengatakan, selama hidupnya ia tidak pernah memikirkan soal neraka. Ia hanya menerima Al-Quran itu dan menyimpannya di rak buku selama bertahun-tahun. Frankel tidak pernah membuka-bukanya.

Beberapa tahun kemudian, Frankel menjadi ragu dengan komunisme yang dianutnya setelah melihat bagaimana prinsip komunisme di praktekkan di banyak negara. Ia lalu memutuskan untuk tidak lagi menjadi seorang komunis.

Frankel mengungkapkan, sejak kecil sebenarnya ia sudah memikirkan tentang apa makna hidup ini sesungguhnya; mengapa ia ada di dunia ini, kemana ia akan menuju dan mengapa ada orang yang menderita. Tapi pikiran-pikiran hanya mengendap di kepalanya, hingga beranjak dewasa dan kuliah, Frankel hanya memfokuskan aktivitasnya pada belajar. Hingga ia mengalami hal yang akan membawa perubahan padanya, kematian nenek dimana Frankel pernah belajar tentang Alkitab dan kisah nabi-nabi.

Kematian Nenek yang Mendadak

Pengalaman ini menggetarkan hati Frankel. Betapa tidak, sehari sebelum ia menerima kabar kematian sang nenek, Frankel dan neneknya sempat menikmati makam malam. Waktu itu, Frankel masih mahasiswa dan tinggal di Washington DC, ia mendapat kejutan berupa kunjungan nenek, bibi dan seorang sepupunya.

Frankel menghabiskan waktu sepanjang sore berbincang-bincang dengan neneknya. Frankel menceritakan keinginannya untuk pindah kuliah dan memperdalam studi tentang China. Malamnya, Frankel, nenek, bibi dan sepupunya pergi keluar untuk makam malam. Frankel tidak melihat tanda-tanda bahwa itulah malam terakhir ia bertemu dengan neneknya. Setelah makan malam, Frankel diantar pulang ke asrama.

Pagi dinihari, Frankel dikejutkan oleh dering telepon dari sepupunya, mengabarkan bahwa nenek meninggal dunia. Franke kaget dan tak percaya. Sepupunya bilang, nenek terkena serangan jantung saat tidur. Frankel langsung terbayang kembali pertemuan dengan neneknya semalam, ia tak menyangka neneknya akan "pergi" secepat ini.

Frankel pulang ke New York untuk menghadiri pemakaman neneknya. Pemakaman dilakukan dengan tradisi Yahudi. Pada Rabbi yang memimpin pemakaman, Frankel menanyakan tentang tradisi yang dilakukan keluarga Yahudi saat salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Ia menanyakan, mengapa saat pemakaman, Rabbi mengatakan bahwa nenek sudah diambil kembali oleh Tuhan.

"Lalu dimana nenek sekarang? Setelah diambil Tuhan, kemana nenek pergi? kemana kita juga akan pergi, dan mengapa kita ada di dunia ini," tanya Frankel pada Rabbi ketika itu.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, sang Rabbi, ungkap Frankel, melihat jam tangannya dan berkata, "Saya harus pergi" tanpa memedulikan betapa marahnya Frankel mengalami hal semacam itu, pertanyaan-pertanyaannya sama sekali tak dijawab.

Mencari Kebenaran

Frankel mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Saat itu, usia Frankel masih 19 tahun. Ia mengunjungi komunitas Yahudi, tapi jawaban yang diberikan tidak memuaskannya. Orang-orang Yahudi itu mengatakan, Tuhan--yang ingin diketahui Frankel--adalah satu-satunya Tuhan milik orang Yahudi.

Akhirnya, Frankel memutuskan untuk belajar sendiri. Ia mulai membaca isi Alkitab. Saat berkunjung ke Inggris, ia didekati oleh sejumlah orang penganut Kristen Evangelis. Tentu saja orang-orang itu ingin menarik Frankel sebagai penganut Kristen Evangelis, dan Frankel berpikir untuk mencobanya.

Saat membaca Alkitab, Frankel merasakan cinta yang kuat dan penghormatan terhadap Yesus. Tapi yang tidak bisa diterimanya, Alkitab menyuruhnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya. Bagi Frankel, Yesus tidak lebih seperti kakak kesayangan atau seperti seorang guru. Lagi-lagi Frankel merasa tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya tentang ketuhanan.

Frankel kembali mempelajari hal-hal lainnya, mulai dari filosofi agama Budha, filosofi Yunani, Romawi dan sejarah. Tapi semuanya belum menjawab pertanyaan Frankel. Saat kembali ke New York dari Inggris, Frankel bertemu dengan beragam pemuka agama. Ia mencoba berdiskusi dengan mereka soal agama, meski ia sendiri skeptis.

Interaksi dengan Al-Quran dan Menjadi Muslim

Interaksinya pertama Frankel dengan Quran berawal ketika ia bertemu dengan para aktivis Nation of Islam. Salah seorang diantara aktivis itu memberinya salinan Surat Al-Kahf beserta terjemahannya. Frankel membawa salinan salah satu surah dalam Quran itu ke rumah, dan ia teringat akan Al-Quran yang pernah diberikan temannya enam tahun yang lalu.

Frankel mulai membaca isi Al-Quran lembar demi lembar. Frankel merasakan sesuatu yang berbeda dibandingkan ketika ia membaca Alkitab. Membaca Quran, Frankel merasa Tuhan sedang bicara langsung padanya. Di satu titik, Frankel pernah sampai meneteskan air mata, merinding, ia merasa bulu kuduknya berdiri, saat membaca isi Al-Quran.

Januari 1990, Frankel bertemu dengan teman-temannya semasa sekolah menengah. Mereka minum kopi sambil berbincang menanyakan kabar masing-masing. Seorang teman yang tahu bahwa dulu Frankel adalah seorang komunis bertanya, "Apa yang kamu yakini sekarang?" dan spontan Frankel menjawab, "Yah, saya percaya pada Tuhan. Hanya ada satu Tuhan."

Jawaban itu tentu saja membuat teman-temannya terpana. Mereka bertanya, darimana Frankel tahu bahwa Tuhan itu satu. Frankel menjawab, ia tahu dari Al-Quran. Salah seorang temannya yang muslim menanyakan apakah Frankel membaca Quran, dan oleh sebab itu, Frankel pun harus percaya bahwa Quran adalah pesan-pesan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Frankel menjawab "ya", ia percaya Muhammad utusan Allah. Temannya lalu mengatakan, maka Frankel sudah menjadi seorang muslim.

Frankel hanya tertawa mendengar perkataan temannya yang asal Pakistan itu. "Saya seorang muslim? Kamu yang muslim, kamu dari Pakistan. Saya cuma orang yang percaya pada Tuhan," tukas Frankel.

Tapi temannya bersikeras, "Tidak, kamu adalah seorang muslim. Kamu percaya tidak ada Tuhan selain Tuhan yang satu dan percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Maka, kamu adalah seorang muslim."

Frankel syok mendengar perkataan sahabatnya itu.

Selama beberapa hari kemudian, ia memikirkannya. Frankel memutuskan untuk menelpon Mansour, teman yang dulu memberinya Al-Quran. Mansour kuliah di Pennsylvania dan bekerja di Asosiasi Mahasiswa Muslim di sana. Frankel meminta Mansour mengirimkan literatur-literatur tentang Islam dan persyaratan untuk menjadi seorang muslim.
Mansour mengiriminya sekira dua buku.

Dari buku-buku itu, Frankel membaca tentang rukum Islam, bagaimana caranya salat, wudu dan ucapan dua kalimat syahadat.

Frankel mulai mempraktekkan salat diam-diam di kamarnya--karena waktu itu ia sudah tinggal lagi dengan orang tuanya--bahkan untuk pertama kalinya ia ikut berpuasa di bulan Ramadan. Kondisi itu berlangsung hampir 8 bulan, dan itulah kehidupan pertamanya sebagai muslim.

Frankel tak bisa menyembunyikan keinginannya lagi. Ia menceritakan semua pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi seorang muslim. Ibunya bereaksi keras, menangis dan menanyakan mengapa semua ini bisa terjadi.

Hubungan Frankel dengan kedua orang tuanya jadi kaku. Frankel mencoba meyakinkan ayah ibunya bahwa ia menjadi mahasiswa dan manusia yang lebih baik setelah memeluk Islam.

"Alhamdulillah, kedua orang tua saya akhirnya menerima keislaman saya. Buat saya, ini adalah perjalanan selama hampir 20 tahun dan hanya Allah yang tahu, bagaimana dan kemana semua ini akan berakhir," ujar Frankel.

"Maka pesan saya bagi para mualaf maupun mereka yang sudah lama menjadi muslim, untuk selalu bersabar dan lihatlah kejutan yang akan diberikan Allah pada kita, bukan dengan ketakutan tapi dengan cinta dan harapan," tukas Frankel. (kw/oi)


sumber: eramuslim.com
Lanjutkan Membaca ...

12 Agu 2011

Jason Perez Muallaf yang mengislamkan 55 temannya

Jason Perez salah satu rapper negeri mengubah namanya menjadi Hamza Perez setelah masuk Islam. Tayangan The New Muslim Cool sangat menyentuh publik Amerika Serikat. Di dalamnya berisi tentang pengalaman rohani Jason Perez dan pandangannya tentang agama.
Ada satu kutipan satir tapi membuat publik terhenyak tentang betapa SARA di AS mulai memprihatinkan adalah, "Anda seorang ayah tunggal, sekarang Anda menikah lagi, jadi Anda seorang pria yang sudah menikah, Anda muslim, Anda orang Amerika, Anda Puerto Rika, kau dari the hood, Anda seorang seniman, Anda rapper ... terdengar seperti mimpi terburuk Amerika!"


Berikut ini wawancara islamicbulletin.com dengan Jason:


Islamicbulletin [IB]: Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda?


Jason: Saya lahir di Brooklyn, NY. Saya dibesarkan di sebuah proyek perumahan di seberang jalan masjid. Ibu saya membesarkan saya di sana. Setelah saya besar, kami pindah ke Puerto Rico, dan setelah itu kami pindah bolak-balik antara Massachusetts dan Puerto Rico.


[IB]: Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang pendidikan agama Anda?


Jason: Ya, ibu saya Katolik. Tapi, nenek saya di Puerto Rico adalah Pembaptis. Selama sekolah, saya selalu di sekolah Katolik.


[IB]: Bagaimana Anda bisa berpindah menjadi Muslim?


Jason: Saya memiliki seorang teman bernama Louie Ekuador. Kami tumbuh bersama, dan kemudian kami terlibat dalam penjualan narkoba bersama-sama. Saya adalah pencari kebahagiaan sebagai orang muda, tetapi saya tidak pernah menemukannya. Saya mencoba kehidupan jalanan dan obat-obatan tapi itu hanya membuat saya lebih tertekan. Meskipun kita menghasilkan uang, tidak memberi kita rasa atau kepuasan kebahagiaan. Suatu hari, ia berjalan dengan masjid, dan dia duduk di tangga. Seorang Muslim mendekatinya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana dan mulai berbicara kepadanya tentang Islam. Dan dia akhirnya menjadi seorang Muslim. Kami tahu masjid ini karena kami dibesarkan di jalan, tapi, kami tak pernah tahu tentang Muslim dan ajarannya. Satu-satunya hal yang kita tahu tentang mereka adalah bahwa mereka membunuh kambing. Jadi, dalam masyarakat, masjid mereka lebih dikenal sebagai tempat dimana kambing dibunuh. Jadi kita akrab dengan gedung tetapi tidak benar-benar tahu tentang apa yang terjadi di dalamnya. Louise berakhir menjadi Muslim dan sempat menghilang selama 40 hari. Dia pergi dengan Jamaah Tabligh (komunitas guru Islam) menyebarkan Islam.


Namanya pun berubah, menjadi Lukman. Suatu hari Lukman datang berpakaian serba putih dengan seorang syekh bernama Iqbal. Kami sedang bermain dadu, minum, dan merokok saat itu. Tiba-tiba aku melihat sisi berbeda darinya. Ia terlihat lebih bercahaya. Saya bisa melihat perubahan dalam dirinya. Saya pikir, sesuatu yang serius telah terjadi dalam hidupnya. Jadi, saya meninggalkan orang lain yang minum dan merokok dan berjalan ke arah mereka. JDi sana, syekh bertanya apakah aku percaya bahwa hanya ada satu Allah. Aku berkata, "Ya." Dan kemudian dia bertanya apakah saya percaya pada Nabi Muhammad. Terus terang, saya tak pernah tahu tentang Muhammad SAW, tapi saya melihat cahaya dalam karakter dan wajah Luqman teman saya, jadi saya percaya. Saat itu juga saya minta dituntun mengucapkan syahadat, di pinggir jalan. Adik saya yang menyaksikan, ikut pula bersyahadat.


[IB] Bagaimana orangtua Anda bereaksi terhadap Anda yang menerima Islam?


Jason: Keluarga saya awalnya kesal. Tetapi setelah mendapatkan kami bebas dari narkoba dan jauh dari kegiatan berbahaya lainnya, mereka menyukainya. Ibu saya sangat mendukungnya. Dia pikir itu sangat positif. Saya pun menjadi lebih peduli padanya; Saya membantu dalam urusan rumah tangga, dan melakukan apapun yang dimintanya. Dulu sebelum menjadi Muslim, saya tak pernah peduli padanya. Perubahan dalam diri saya membuat kakak saya menjadi Muslim juga. Kemudian salah satu teman saya menjadi Muslim. Lebih dari 55 orang yang kita kenal menjadi Muslim. Kami kembali ke tempat yang sama kita gunakan untuk menjual obat-obatan dan memasang tanda yang mengatakan, "Heroin membunuh kamu dan Allah menyelamatkan Anda!" Jadi, Anda tahu, banyak dari mereka dipengaruhi oleh Lukman. Termasuk saya.


[IB]: Apakah Anda pernah menemukan masalah dengan penerimaan Islam Anda?


Jason: Pada awalnya, karena saya merek baru Muslim, saya pikir saya harus mendengarkan setiap apa yang dikatakan seorang Muslim. Saya benar-benar tidak ada arah. Beberapa orang mengajarkan saya untuk melihat Muslim lain dan mengkritik umat Islam lain yang berjanggut panjang dan 'pakaian aneh' mereka. Sampai kemudian di satu titik: mengkritik orang menjadi lebih sering sementara mengingat Allah menjadi sedikit. Aku mulai kehilangan rasa manis yang saya alami ketika saya pertama kali menjadi Muslim. Kemudian saya melewati sebuah transformasi besar; hanya melihat kesalahan diri dan bukan kesalahan orang.


[IB]: Apakah Anda melihat kesamaan antara Islam dan agama-agama lain?


Jason: Ya, tentu saja. Ini semua terhubung. Saya tahu siapa Yesus, saya melihat gambar yang dikaitkan dengannya, tapi saya tidak benar-benar tahu tentang Yesus selain Natal, dan ayat-ayat yang kita baca diarahkan kepada kita oleh para imam dan pendeta. Kadang-kadang saya merasa kini saya menjadi pengikut Kristus dengan cara yang lebih baik setelah saya menjadi Muslim. Isa adalah Nabi-nya, bukan Tuhan.


[IB]: Apa dampak yang Islam telah pada kehidupan Anda?


Jason: Islam telah membuka mata saya untuk kesalahan saya sendiri. Sebelumnya, saya punya hal yang disebut nafs. Saya tidak tahu tentang nafs. Islam membuat saya sadar bahwa, di jalanan, Anda selalu mencari musuh. Dan Islam mengajarkan saya bahwa, dalam rangka untuk menemukan musuh saya, saya harus melihat di cermin. Musuh saya adalah diri saya sendiri; nafsu saya.





Sumber : Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...

6 Agu 2011

Kisah Revert Angel mantan Kristen USA

Setiap Muslim memiliki cerita tentang perjalanan mereka ke Islam. Masing-masing menarik dan membuat saya penasaran. Tuhan benar-benar meemandu yang Dia inginkan. Saya merasa begitu diberkati telah menjadi salah satu yang dipilih. Berikut ini adalah cerita saya.


Saya selalu percaya pada satu Tuhan. Saya seluruh kehidupan saat kesulitan, Aku meminta Tuhan untuk membantu bahkan ketika saya masih kanak-kanak. Aku ingat menangis di lututku di dapur,
menjerit dan menangis. Aku berdoa kepada Tuhan untuk membuatnya berhenti. Agama di sisi lain
tidak pernah masuk akal. Semakin tua, semakin sedikit yang benar-benar masuk akal bagi saya. Orang-orang berpikir mereka adalah negosiator antara Anda dan Tuhan.


Saya merasakan yang sama tentang yesus. Bagaimana cara kerjanya bahwa pria ini akan menyelamatkan kita semua dari dosa? Mengapa kita memiliki hak untuk berbuat dosa hanya karena dia? Saya menolak Alkitab dalam semua versi nya, mempercayai sesuatu yang telah diterjemahkan dan ditulis ulang berulang kali tidaklah menjadi kata-kata Allah yang sebenarnya. Sekitar usia lima belas aku harus menyerah pada gagasan menemukan Allah.


Tumbuh pada keluarga seperti rata-rata keluarga Amerika. Semua orang yang kukenal punya masalah yang sama ketika tumbuh. Ayahku adalah seorang pekerja keras beralkohol kerah biru. Dengan berjalannya waktu kondisinya memburuk, dan begitu pula penyimpangan nya. Pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan ketakutan membuat jejak di masa kecilku yang akan mencerminkan sisa hidup saya. Dia meninggal ketika aku berada di kelas enam. Orangtuaku bercerai saat itu. Aku adalah anak bungsu dari delapan anak. Ibuku akan pergi bekerja untuk kami, dan aku sendiri banyak di rumah.


Di sinilah saya, salah satu dari anak-anak yang menarik diri dari masyarakat, yang menakut-nakuti orang ketika mereka berjalan ke sebuah ruangan. Saya mulai mengenakan pakaian hitam dan make up gelap. Aku mendengarkan musik gothic dan berkhayal tentang kematian. Kematian sepertinya menjadi kurang ditakuti dan lebih dari solusi untuk masalah. Aku merasa sendirian sepanjang waktu, bahkan ketika disekitar teman-teman. Saya mencoba untuk mengisi kesenjangan dengan rokok, kemudian alkohol, seks, narkoba dan maka apa pun yang akan membawa saya dari pikiran saya. Saya mencoba untuk bunuh diri setidaknya lima belas kali. Tidak peduli apa saya mencoba rasa sakit ini di dalam diri saya sepertinya tidak pernah mereda.


Saya masih kuliah ketika aku hamil putra saya, Aku takut untuk kesehatan anak saya dan
tidak bisa bermimpi membiarkannya pergi. Saya bekerja tanpa henti untuk menyediakan bagi anakku.
Meremas semua rasa sakit dan kemarahan dalam hati saya, saya mengubah hidup saya beberapa kali.
Pada saat itu, saya tidak bisa percaya seorangpun. Tiga tahun kemudian, Aku mulai berkencan lagi. Aku bertunangan. Saya benar-benar ingin memiliki sesuatu yang lebih. Seperti dengan semua pengalaman masa lalu saya, dunia saya kembali runtuh. Saya berumur 25 tahun dan hamil dengan putri saya dan mengakhiri hubungan dengan tunangan saya setelah dia berulang kali menipu dan manyakiti fisik saya. Aku tidak tahu apa yang berikutnya terjadi.


Selama waktu ini saya bekerja untuk seorang pria Pakistan yang Muslim. Saya tidak pernah menonton berita atau bahkan benar-benar peduli apa yang sedang terjadi. Menjadi Muslim bagi saya adalah tidak berbeda daripada agama lain. Waktu berjalan danAku berteman dengan beberapa pria Muslim. Aku mulai memperhatikan suatu perbedaan secara dramatis. Mereka memiliki moral tidak diragukan lagi. Pengabdian kepada Tuhan dengan cara yang mengharuskan mereka untuk berdoa lima kali sehari. Apalagi kenyataan bahwa mereka tidak minum atau obat-obatan. Untuk generasi saya
ini adalah moral pada sekolah tua, mungkin kakek-nenek Anda mungkin telah diikuti.


Ketika putri saya lahir, anda tidak dapat membayangkan betapa terkejutnya saya ketika salah satu dari orang-orang ini datang dan membawa hadiah. Aku terkejut bodoh, dia memeluknya dan berbicara kepadanya Aku belum pernah melihat orang berperilaku seperti ini kepada bayi. Kebaikannya meningkat dengan waktu selama empat bulan ke depan. Aku tidak bisa mengungkapkan kasih yang ditunjukkan kepada kami. Perlahan-lahan minat saya dalam agama mereka menjadi tumbuh. Aku ingin tahu apa agama bisa menanamkan nilai-nilai macam kepada orang-orang.


Saya tinggal bersama dengan tujuh orang dalam satu rumah ketika suatu malam aku memutuskan untuk meminjam komputer teman sekamar saya. Aku terlalu takut untuk menyinggung perasaan teman-teman saya dengan meminta mereka pertanyaan, jadi saya berpaling ke internet. Situs pertama saya membuka adalah http://www.islam-brief-guide.org. Aku menemukan diriku bodoh. Itu jika kain hitam telah terangkat dari tubuh saya, dan saya bersumpah kepada Anda bahwa saya belum pernah merasa begitu dekat dengan Tuhan. Dalam dua puluh empat jam, aku mengambil Syahadah.


Hingga hari ini sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk penelitian. Untuk pertama kalinya dalam hidupku sesuatu telah menghentikan kemarahan, dan rasa sakit. Saya benar-benar merasakan cinta dan takut akan Tuhan. Allah telah menggantikan dalam rasa sakit saya dengan cahaya-Nya, dan keyakinan tentang-Nya. Sejak Konversi saya, Tuhan telah benar-benar memberkati saya.
Tuhan memberi saya kekuatan untuk berhenti merokok, minum dan belum pernah menggunakan obat dalam hampir dua tahun. Saya menikah dengan seorang pria Muslim yang luar biasa. Dia telah mengambil anak saya dan menjadikan bagian dari kami. Aku punya sesuatu yang saya selalu kuinginkan yaitu sebuah keluarga, [segala puji kepada Allah].


Kisah perjalanan menjadi seorang muslimah dari artikel http://www.islamreligion.com/articles/53/
Lanjutkan Membaca ...

17 Mei 2011

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya
REPUBLIKA.CO.ID, Ia meminta dipanggil Jill saja. Menganut Islam beberapa tahun lalu, dia kini mantap menjadi Muslimah. "Insya Allah, Islam akan saya bawa sampai maut menjemput," ujarnya. Berikut kisahnya tentang pilihannya pada Islam: 

"Saat remaja, saya bekerja sampingan di sebuah restoran milik orang Palestina. Ya, pemilik itu seorang Muslim. Ini kali pertama saya, remaja kulit putih kelahiran Amerika, bersinggungan dengan Muslim. Dia shaleh. Dia memperlakukan karyawan dengan "hati". Dia menyambut siapa saja dengan ramah, bersalamaan. Dia sangat berbeda dengan Muslim yang saya kenal. 

Masuk kuliah, saya memutuskan memilih jurusan sejarah timur tengah. Di sini, saya mengenal lebih jauhtentang Islam dari perspektif sejarah. Siapa penyebar ajaran Islam, bagaimana dia, apa isi ajarannya, dan seterusnya. Hati saya makin tertawan pada Islam. Namun saat itu belum memutuskan menganut Islam. 

Pada perjalanannya kemudian, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang mengenalkan saya pada sufisme Islam. Dari pemuda yang di kemudian hari menjadi suami saya ini, saya menyimpulkan satu hal tentang Islam: agama yang logis dan knowledgeble. Satu kata yang selalu saya ingat: "Jill, islam adalah agama yang logis. Dia bukan hanya agama, tapi jalan keluar untuk hidup."

Dan saya membuktikannya. Setiap kali ada masalah, Islam membimbing saya untuk tenang dan keluar dari masalah itu. Ajaran Islam juga bisa diterima akal. Bahkan, misalnya, untuk hal remeh kenapa wanita harus mengenakan jilbabpun, ada alasan logis yang bisa diterima akal. 

Saya memutuskan berislam tidak dengan cara membabi buta. Saya mempelajarinya lebih dulu. Saya orangnya sangat berhati-hati. Betul, calon suami yang mengenalkan saya lebih jauh pada Islam, tapi pendapatnya bukan harga mati bagi saya. Saya tetap mengikuti kelas pendidikan Islam, bertanya pada teman-teman yang lain, dan seterusnya. Intinya, saya terus belajar. 

Menganut Islam adalah hal terindah dalam perjalanan hidup saya. Insya Allah, saya akan membawanya hingga maut menjemput. Berislam, bukan sekadar mengucap syahadat, selesai. Insya Allah, saya akan terus belajar tentang Islam, meningkatkan dan terus menjaga keimanan saya. Insya Allah, semoga Allah selalu membimbing saya."


Sumber: Republika.co.id
Lanjutkan Membaca ...