27 Jul 2011

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 2)


Post kali ini adalah kelanjutan dari materi pembahasan tentang Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM (bag. 1). Sumber artikel ini berasal dari http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/06/mengenal-manusia-bag-2.html . Semoga post artikel ini dapat mempertebal keimanan para pembacanya.
=================================
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.


Dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang prinsip dan proses penciptaan manusia. Pembahasan itu menggugah kesadaran kita bahwa sebelum kita menjadi seperti sekarang ini dahulunya kita tidak ada dan bukan apa-apa. Maka segala sesuatu yang ada pada kita hari ini adalah pemberian Allah yang patut kita syukuri.


Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang bahan dasar penciptaan manusia. Hal ini kita pelajari agar kita memahami siapa kita dan akan kemana kita.

A. Bahan Dasar (Bentuk Dan Isi) Manusia.

1. Bentuk Dasar.

Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagaimana diterangkan dalam ayat di bawah ini:
"Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)”, Al-Sajdah:7-8.
Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan dan cantik rupawan hanyalah berbahan dasar tanah liat/tanah tembikar yang merupakan bahan terendah yang kurang berharga. Bila kita perhatikan asal kejadian diri kita ini, maka kita tidak akan suka menyombongkan diri menentang dan mendurhakai Allah pencipta kita. Akan tetapi kita akan tunduk merendahkan diri kita kepada Allah, karena hanya atas karunia-Nyalah kita menjadi ada.

2. Isi Dasar

Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut di atas, kemudian Allah mengisinya dengan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh-Nya. Sebagaiamana firman-Nya:
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya ruh ciptaan-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”, al-Sajdah:9.
Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia diberi ruh-Nya. Dari dua asal yang sangat berbeda ini menunjukkan adanya dua hal yang berbeda. Jasad kita yang diciptakan dari bahan dasar tanah maka ia memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada tanah atau segala hal yang berasal dari tanah, sebagaimana firman Allah:
"dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diingini, yaitu: wanita, anak, harta yang melimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan (kendaraan), binatang ternak dan sawah ladang...", Ali Imron:14.
Sedangkan ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah yaitu al-Din, jalan menuju taqwa.
"katakanlah: inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Robb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai". Ali Imron:15.
Dari pemahaman diatas kita dituntut untuk merubah paradigma kita tentang hidup. Berfikir jauh kedepan bahwa kita ini lebih dari hanya sekedar materi yang akan hancur seiring berjalannya waktu. Kita adalah ruh yang diturunkan dari langit yang mengemban suatu amanah besar dari Allah yaitu al-Din al-Islam untuk diterapkan dimuka bumi sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jangan lupa! Amanah tersebut nanti di hari kemudian akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Alhamdulillah Rabb al-'Alamin. Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar