24 Jul 2011

Mengenal Allah - Part Two -


Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya, http://jabotabekinfo.blogspot.com/2011/07/mengenal-allah-part-one.html .
================
Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.


Pembahasan sebelumnya kita telah sampai kepada pemahaman tauhid, yaitu tauhid teoritis. sekarang mari kita masuk pada pembahasan selanjutnya yaitu tauhid praktis.


B. Tauhid Praktis

Tauhid praktis ini akan menuntun pembaca untuk menelusuri bagaimana tauhid diterapkan dalam kehidupan manusia. Tauhid terapan menguraikan bagaimana tauhid itu menjadi nyata dan bentuknya dapat dilihat lebih transaparan dan riil.


Berangkat dari ke-Maha Besar-an Allah yang telah mewahyukan Al-Quran dengan paripurna, lengkap dan penuh pelajaran dan mengandung pelajaran mental spiritual bagi yang mengkajinya, maka pembahasan tauhid praktis ini akan mengacu pada keunggulan dan keutamaan surah pertama dan terakhir mushaf Al-Quran yang tauqi’fi. Kedua surat ini masing-masing akan dikaji dan ditelusuri isi dan suasana makna yang terkandung dalam kalimat -kalimatnya.


Firman Allah SWT dalam surah Al-Fatihah dab Surah An-Nas: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang. Sebaga puji bagi Allah Rabb semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Malik hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau Kami mohon pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dab bukan (pula jalan) meereka yang sesat”. (1:1-7).
“Katakanlah: “Aku berlindung pada Rabb manusia. Malik manusia. manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan-syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jenis jin dan manusia”. (114:1-6). 


Kedua surat ini secara keseluruhan ditampilkan dalam bentuk do’a. Di dalamnya mengajarkan tatacara berdo’a, yaitu do’a harus didahului dengan pujian kepada Allah SWT. Ayat ke 1 sampai ke 5 surat Al-Fatihah berisikan pujian dan ayat sisanya berisi do’a. Begitu pula dalam surat An-Naas, ayat ke 1 sampai ke 3 selain permohonan perlindungan juga berisi pujian dan penyebutan nama Allah keseluruhannya merupakan permohonan/do’a. Sedangkan doa merupakan muhhul ibadah (otak/hati ibadah), sedang ibadah merupakan tugas hidup yang mesti direalisasikan dalam praktek. Ajaran ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang bersifat lebih kecil atau makhluk harus mengetahui tentang keberadaan Yang Maha Besar sebelum si kecil melakukan pengabdian kepada-Nya. Sebab, salah-salah, yang dianggapnya Maha Besar tidak diketahui secara riil seperti apa dan bagaimana kebesaran dari Yang Maha Besar tersebut. Niat beribadah kepada Allah SWT, bisa jadi salah kaprah, justru yang diibadahi adalah kebesaran dirinya dalam mempersepsikan (dugaan) tentang Tuhannya.


Bagian pertama kedua surat ini, berisikan pujian kepada-Nya, yaitu, dalam ayat ke 1 sampai ke 5 durat Al-Fatihah dan ayat ke 1 sampai ke 3 surat An-Nas. Di dalamnya menyebutkan tiga pokok kata Allah SWT. yaitu, Rabb, Malik dan Ilah. Ketiga pokok kata sifat Allah SWT ini, tersusun di dalam kedua surat ini secara berurutan Rabb di urutan pertama, Malik diurutan kedua dan diurutan ketiganya kata Ma’bud/Ilah. 



  1. Rabb.
    Kata rabb dalam surat Al-Fatihah diikuti dengan kata al-’Alamin yang berarti seluruh alam. Dan Rabb dalam surat An-Nas diikuti dengan kata an-Nas yang berarti manusia. Al-Quran sendiri banyak memberikan arti dalam kata Rabb di antaranya dalam syrat Al-A’raf (7) ayat 54 dan surat Ali Imran (3) ayat 64, dengan arti pencipta, pemelihara, pengatur. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Tuhan kami ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsyi. Dia menutupkan malam ke dalam siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam”. (Qs. 7:54).

    “Katakanlah: “Hai al-Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesutau apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah )”. (3:64).

    Ayat pertama terdapat kata Rabbukum berarti yang menciptakan. Dia pencipta dan pemegang perintah segala sesuatu.

    Ayat kedua terdapat kata Arbaban, yang berarti yang mengatur. Asbab nuzul ayat ini, menceritakan bahwa Bani Israil telah menjadikan para rahib mereka menjadi pembuat hukum dan undang-undang yang mereka taati selayaknya tuhan. Jadi, Allah Rabbul-‘alamin dan Rabbun berarti adalah Allah Pengatur alam semesta dan Pengatur manusia. Secara praktis dapat difahami bahwa sebagai pemelihara dan pengatur, Allah SWT sudah pasti memiliki aturan, yaitu wahyu. Secara manusiawi terlihat dalam sejarah umat manusia, bahwa peradaban tertinggi manusia dapat dicapai dengan keteraturan dalam segala bidang. Ini menunjukkan bahwa dengan adanya aturan masyarakat akan mampu mencapai peradaban tertingginya. Dalam hal ini, Allah telah mengatur manusia (Qs. 114;2), alam semesta (Qs. 26;23-28) dan ‘Arsy (Qs. 23;116). Dus, Allah adalah pengatur segala sesuatu (Qs. 6:164).

    Penjelasan selanjutnya, Allah rabbul ‘Alamin telah mengatur seluruh alam dengan ilmunya yaitu menata seluruh alam raya ini, sehingga tertata rapih, kokoh, seimbang dan karena sangat pastinya aturan ini, tidak ada seorangpun atau apapun yang mempu merubahnya. Ilmu Allah untuk alam ini dapat diketahui oleh manusia melalui mempelajari hukum-hukum alam yang berjalan tanpa perubahan, merumuskannya dan memanfaatkannya, sesuai dengan peruntukannya dami kelangsungan kehidupan manusia (Qs. 35;43-44).

    Demikianlah Allah mengatur alam, yang berbeda ketika Allah mengatur manusia. Jika aturan bagi alam melekat dalam dirinya, bersifat pasti dan tetap, mengikutinya baik rela maupun terpaksa, maka aturan bagi manusia selain dalam dirinya, juga diberikan suatu aturan yang sama pastinya dengan hukum alam, yaitu wahyu. Dalam hal ini manusia diberi kebebasan untuk mengikutinya atau menolaknya. Yang jelas, kedua aturan tersebut (aturan alam dan manusia) kedua-duanya memiliki kepastian yag sama, artinya manusia tidak akan sanggup merubah hukum dan konsekuensi hukuman bagi yang melanggarnya. Contoh, jika hukum alam mengatakan bahwa air dapat mendidih dengan 90 derajat Celcius, maka manusia tidak akan pernah mampu mendidihkan air dengan 89,9 derajat Celcius. Hal ini sama dengan manusia tidak akan pernah hidup dalam keadilan tanpa memenuhi syarat-syarat keadilan yang harus diwujudkan sesuai dengan atuarn Al-Quran. Contoh riil, zina selamanya akan menjadi jalan terburuk bagi kelangsungan hidup manusia, dan tidak ada menusia yang mampu merubah jalan zina ini menjadi jalan baik.

    Berdasarkan hal ini, maka nyatalah bahwa Allah adalah Rabbul ‘Alamin dan Rabbin-Nas. Oleh karena itu, pengakuan manuisa terhadap Allah sebagai pangtur dirinya, harus mengakui Al-Quran sebagai wahyu dari-Nya, sebagai satu-satunya aturan yang hanya boleh mengatur dirinya. (Qs. 16:89, 6;38). Inilah makna pengakuan tauhid Laa Rabba Illallah. Artinya, ia harus menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk hukum, ideologi, perundang-undangan dan adat-istiadat yang tidak dibangun berdasarkan wahyu Allah.

    Kesimpulan, wujud nyata Allah sebagai Rabb adalah adanya Rububiyatullah, yaitu hukum alam dan wahyu Allah (Al-Quran).
  2. Malik.Dalam Al-Quran kata Malik diartikan dengan pemilik seperti terlihat dalam surat Ali Imran (3) ayat 26, dan diartikan Raja seperti terlihat dalam surat Al-Fatihah (1):3, An-Nas (114):2, Yusuf (12) ayat 76, sebagai berikut:

    “Katakanlah : “Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (3:26).

    "Tidak patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja”. (12:76).

    Dalam ayat pertama terdapat kata malikul mulki yang artinya pemilik kerajaan dan dalam ayat kedua terdapat kata Dienul Malik yang artinya undang-undang raja, Kesimpulan kata Malik, Pemilik dan Raja. Sudah barang tentu seorang raja pasti memiliki kerajaan dan pemilik kerajaan sudah pasti adalam seorang raja. Allah adalah Maliki Yaumidin. Artinya Dia-lah Allah yang merajai dan memiliki hari pembalasan karena setiap manusia diminta mempertanggung-jawabkan dien Allan yang telah Dia ajarkan kepada manusia.

    Allah adalah Malikin-Naas. Artinya, Dia-lah yang merajai dan memiliki manusia. Tidak ada yanpatut menjadi raja dan memperbudak manusai kecuali Allah SWT. Dia adalah raja langit dan bumi (Qs. 62;1). Demikianlah Allah SWT, Dia adalah Raja di dunia dan juga raja di akhirat. Manusia di hadapan Allah SWT, secara umum adalah hamba dan secara khusus adalah khalifah-Nya tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, manusia tidak lebih dari sekedar pembawa amanat dari Allah (khalifatullah) untuk memimpin manusia menjadi hamba-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, membimbing kearah ridla-Nya dan menegakkan keadilan-Nya (Qs.33;72). Berdasarkan hal ini, maka secara riil bahwa manusia harus mewujudkan kekhalifahan Allah (Qs. 24;55) dan menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk kekuasaan, kerajaan, pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak ditegakkan atas kehendak Allah.

    Allah telah nyata-nyata menggariskan:

    “Sesungguhnya Wali (pimpinan; penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalah, menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (Qs. 5;55).

    Siapapun dalam kepemimpinannya tidak satu jalur denagn tersebut di atas, maka ia adalah batil. Inilah wujud kongrit dari Tauhid Laa Malika Illallah.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Malik adalah adanya Mulkiyatullah, yaitu kerajaan Allah dan Khilafah Islamiyah.
  3. Ilah.
    Kalimat Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in adalah kalimat ubudiyah yang ditujukan kepada Allah sebagai Ma’bud. Ma’bud sama maknanya dengan ilah, yaitu yang diibadahi. Ilah atau Ma’bud maknanya meliputi: Yang dicintai seperti terdapat dalam surat Al-Bqarah ayat 165, Yang diibadahi seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 138:

    “Dan sebagian manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintai tunah-tuhan tandingan sama seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman itu harus lebih tinggi cintanya kepada Allah”. (2;165).

    “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kamu menyembah”. (2:138).

    Makna ilah dalam ayat tersebut, memuat rasa cinta, dan penghambaan. Cinta mampu membawa manusia pada penghambaan dan rasa aman yang luar biasa. Jika manusia telah terikat dengan rasa cinta, segala potensinya akan mampu merubah apa saja demi tercapainya penghambaan kepada yang dicintainya, sampai merasa tentram karena pengakuannya. Oleh karena itu, apa saja dilakukannya demi yang dicintainya sepanjang hal tersebut memenuhi tuntutan dan ridla-Nya.

    Cinta didahului oleh tahu, artinya dengan ilmu. Cinta yang dilandasai oleh ilmu, tumbuh dan berkembang dengan ksadaran. Mencintai berarti tahu tentang keunggulan yang patut dicintai. Mencintai berarti ia telah mengambil risiko untuk meridlai apa yang diridla-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Inilah makna penghambaan kepada Ilah. Seorang pencinta tidak akan merasa tentram sebelum melakukan penghambaan dan berbuat sesuai dengan ridla yang dicintainya.

    Selanjutnya, segala sesuatu yang dicintai menimbulkan keterikatan, kecanduan, kecenderuangan dan ketakutan akan tidak mendapat atau kehilangan ridlonya, maka sesuatu itu menjadi tuhan. Dalam hal ini, rakyat, demokrasi, nasionalisme-kebangsaan, leluhur, sejarah, kekuasaan, pangkat, jabatan, pimpinan, harta benda, suami-istri, anak dan segala bentuk ketergantungan yang menghambat cinta, penghambaan kepada Allah SWT, maka ia telah menjadi saingan-Nya (Andad-Nya).

    Jika hal ini mewujud dalam perasaan, pikiran, sikap dan tindakan apapun dalam diri seseorang, maka ia telah mengangkat ilah selain Allah. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sudah nyata bahwa ilah sangat tergantung pada perasaan, pikiran, sikap dan tindakan yang mengilahkannya. Jadi wujud kongrit adanya penghambaan kepada Allah SWT adalah adanya hamba Allah yang senantiasa mencintai, menyerahkan penghambaan kepada-Nya dan merasa tentram karena ridla-Nya. Dus, bentuk nyata Tauhid Laa Ilaha Illallah adalah mewujdnya hamba-hamba Allah dalam masyarakat manusia. Manusia atau masyarakat Tauhid adalah manusia atau masyarakat yang menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk perasaan, pikiran, sikap dan perilaku manusia atau masyarakat yang tidak menghambakan diri kepada Allah SWT.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Ilah bagi manusia adalah adanya Uluhiyatullah, yaitu terwujudnya manusia dan masyarakat yang mengabdi kepada-Nya.

    Demikianlah gambaran tentang Rabb, Malik dan Ilah dalam pembahsan Tauhid Praktis. Kesimpulannya, Allah sebgai rabb nampak dalam Al-Quran sebagai wahyu-Nya. Allah sebagai Malik nampak dalam kekhalifahan dan kepemimpinan orang-orang yang beriman. Allah sebagai Ilah nampak dalam masyarakat yang menjunjung tinggi penghambaan kepada Allah, yaitu masyarakat Islam. Selain hal tersebut, dapat diungkapkan pula bahwa dalam surat An-Naas kara Rabb, Malik dan Ilah ini tersusun berurutan tanpa penghalang apapun (tanpa huruf washal) ini menunjukkan adanya kesinambungan, satu kesatuan dan integral tak terpisahkan satu sama lain.

    Hal ini pula, tiga kata tersebut tersusun secara berurutan dalam dua surat, menunjukkan bahwa baik teori maupun dalam praktek (kehidupan nyata) harus difahami sebagai urut-urutan yang pasti. Artinya Rabb harus didahulukan, diikuti oleh Malik yang akhirnya Ilah. Di sini dapat dilukiskan, manusia atau masyarakat tauhid tidak akan muncul tanpa terlebih dahulu menegakkan khalifatullah atau pemerintahan Islam, dan pemerintahan Islam tidak akan pernah terwujud jika ideologi atau perundang-undangan pemerintahan tersebut bukan wahyu Allah SWT. Inilah urutan berfikir yag diisyaratkn oleh Al-Quran dalam mewujdkan manusia atau masyarakat tauhid. Ini adalah ilmu pasti dan sunnah yang akan terus berjalan sepanjang masa.



al-Hamdu li Allah al-Rabb al-'Alamin Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar