HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

29 Nov 2011

Kisah Khalifah Umar dan Ibu Pemasak Batu

Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, bahkan beliau hidup bersama rakyat dalam kesehariannya. Beliau juga sering berjalan melihat kondisi rakyatnya saat malam hari, kadang sendiri dan kadang ditemani oleh sahabat yang lain. Berikut ini adalah penggalan kisahnya yang bertemu dengan seorang Ibu yang memasak batu demi menenangkan hati anaknya.

Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku.

Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika

waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk

membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
Lanjutkan Membaca ...

27 Nov 2011

Umar Ibn Khattab ~ Sahabat dan Khalifah Kedua (13H - 23 H)

Umar ibn Khattab memeluk Islam pada tahun ke 6 kenabian ketika berumur 27 tahun. Tindakannnya ini mengemparkan masyarakat Quraisy dan memberi berita gembira kepada umat Islam bahwa Islam akan menjadi kuat. Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW memberikan gelar "Al-Faruq" karena dapat membedakan antara hal yang benar dan bathil. Dengan islamnya Umar, maka umat Islam yang sebelum itu selalu ketakutan menjadi kuat. Mereka telah berani shalat secara terang-terangan di Baitullah khususnya setelah peristiwa di atas. Di samping itu juga, orang Quraisy juga tidak berani menganggu orang Islam yang sedang beribadah karena takut kepada Umar. Saat beliau menjadi khalifah, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab. Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah. Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Muhammad, Umar dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas. Saat sebelum memeluk Islam, beliau juga merupakan duta untuk kaumnya terutama untuk mengadakan negosiasi antara kabilah yang bermusuhan. Beliau salah seorang yang dijamin surga oleh Rasulullah SAW.

Sifat pribadi Umar

Ubaidullah bin Umar menceritakan bahwa suatu hari para sahabat melihat Umar memikul tempat air di bahunya. Lalu mereka bertanya: "Wahai Amirul Mukminin! Mengapa tuan sendiri yang memikul air ini?" Jawab Umar: "Saya merasakan bahwa diri saya telah takabur, lalu saya mengangkat air ini untuk menundukkannya"

Kata Aslam beberapa orang berbicara dengan Abdurrahman bin Auf. Kata mereka: "Umar telah menimbulkan rasa takut kami sehingga mata kami tidak berani bertentangan mata dengannya". Hal ini diadukan oleh Abdurrahman bin Auf. Lalu Umar berkata: "Benarkah mereka mengatakan demikian?" "Demi Allah, saya telah mencoba melunakkannya, sehingga lantaran lunak saya itu saya takut dimarahi Allah. Saya mencoba pula dengan sikap keras sehingga saya takut Allah marah kepada saya. Bagaimana lagi? Bagaimana nasib saya yang berbeda dengan mereka?"

Diriwayatkan oleh Umar bin Murrah bahwa seorang pria bertemu dengan Umar dan berkata: "Bersikap lunaklah kepada kami, sebab kami sangat gentar melihatmu!" Umar menjawab: "Apakah saya berbuat sesuatu yang zhalim?" Jawab pria itu: "Tidak" Kata Umar lagi: "Kalau begitu, biarlah Allah menambahkan rasa takut dalam hatimu terhadapku"

Menurut Barrak bin Makrur: "Pada suatu hari Umar naik ke mimbar untuk memberikan tazkirah, tiba-tiba dia merasa sakit. Menurut para jamaah, obatnya adalah madu dan di Baitulmal banyak tersimpan madu" Kata beliau: "Kalau tuan-tuan izinkan, saya akan gunakan, tetapi kalau tidak diizinkan haram atas saya mengambilnya.

keluarga

Umar menikah dengan total sembilan perempuan dalam hidupnya dan memiliki empat belas anak, sepuluh putra dan empat putri. Rincian adalah sebagai berikut:
Istri: Zainab binti Mazh'un (pada saat jahiliyah [Hari Ketidaktahuan])
Anak: Abdullah bin Umar
Anak: Abdulrahman bin Umar (The Lama)
Anak: Abdulrahman bin Umar
Putri: Hafsah binti Umar
Anak: Zaid bin 'Umar [55]

Istri: Abi Umayyah binti Quraybah al-Makhzumi (bercerai, menikah dengan Abdulrehman bin Abu Bakar)

Istri: Umm Hakim binti al-Harits bin Hisyam (setelah suaminya, mantan sekutu 'Umar dan pendamping Ikrimah bin Abi Jahl-tewas dalam Pertempuran Yarmouk, kemudian bercerai tetapi al-Madaini mengatakan ia tidak menceraikannya)
Putri: Fathimah binti 'Umar

Istri: Jamilah binti Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah (dari suku Aws)
Anak: Asim bin Umar

Istri: Atikah binti Zaid bin Amr bin Nifayl (sepupu dari Umar dan mantan istri Abdullah bin Abu Bakar menikah 'Umar dalam dua belas tahun dan setelah AH Umar dibunuh, dia menikah dengan az-Zubair bin al-Awwam)
Anak: Iyaad bin Umar

Istri: Luhyah (seorang wanita dari Yaman (Yaman) siapa yang status kawin dengan 'Umar diperselisihkan, al-Waqidi mengatakan bahwa dia adalah Umm Walad, berarti seorang budak wanita)
Anak: Abdulrahman bin Umar (yang Abdulrehman termuda sementara beberapa mengatakan Abdulrehman menengah dari Luhyah)

Istri: Fukayhah (sebagai Ummu Walad)
Putri: Zainab binti Umar (anak terkecil dari 'Umar dari Fukayhah)

Istri: Ummu Kultsum binti Ali
Anak: Zaid bin Umar
Putri: roqayya binti Umar
Anak lain, az-Zubair bin Bakkar, disebut Abu Shahmah, meskipun dari yang tidak diketahui istrinya.

Keislaman Umar

Beliau memeluk Islam pada tahun ke 6 kenabian ketika berumur 27 tahun. tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam. Tindakannnya ini mengemparkan masyarakat Quraisy dan memberi berita gembira kepada umat Islam bahwa Islam akan menjadi kuat.

Rasulullah SAW pernah berdoa; "Ya Allah kuatkan Islam dengan Umar Al-Khatab atau Abu Jahal b. Hisyam" Hadtih riwayat At-Thabarani

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Thabarani bahwa Rasulullah SAW juga pernah berdoa: "Ya Allah kuatkan Islam dengan Umar Al-Khatab"

Pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- "Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy." Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur'an bukan syair), lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau kemana wahai Umar?" Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu." Tetapi lelaki tadi menimpali, "Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang membicarakan apa-apa." Umar bin Khattab menimpali, "Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?" Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, "Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, 'Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.' Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa." Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?" Mereka menjawab, 'Umar (datang)!" Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "... Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab." Dan dalam riwayat lain: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas'ud berkomentar, "Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam."

Sebuah hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah SAW berkata: "Bila Umar masuk Islam, Jibrilpun datang dan berkata:" Ya Muhammad, sesungguhnya seluruh makhluk langit bergembira dengan islamnya Umar "

Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW memberi gelar Al-Faruq karena dapat membedakan antara hal yang benar dan bathil. Ketika ditanya oleh para sahabat bagaimana dia mendapat gelar tersebut, Umar menjawab: "Pada suatu hari, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW:" Ya Rasulullah, apakah kita dalam kebenaran? "

Jawab Rasulullah SAW: "Benar"

Aku berkata lagi: "Mengapa kita beribadah secara sembunyi?"

Kemudian kami masuk ke Masjidil Haram membuat dua syaf, satu saya dan satu lagi Saidina Hamzah (berjamaah). Maka semua orang KAFFIR Quraisy melihat ke arah kami berdua dengan perasaan yang sangat marah yang tidak pernah mereka terjadi sebelum ini, lalu Rasulullah SAW menyebut aku Al-Faruq!

Dengan islamnya Umar, maka umat Islam yang sebelum itu selalu ketakutan menjadi kuat. Mereka telah berani shalat secara terang-terangan di Baitullah khususnya setelah peristiwa di atas. Di samping itu juga, orang Quraisy juga tidak berani menganggu orang Islam yang sedang beribadah karena takut kepada Umar.

Pendapat Sahabat tentang Umar bin Khattab

Peristiwa yang menarik perhatian kafir Quraisy Makkah adalah ketika Umar Al-Khattab mengambil langkah untuk berhijrah secara terang-terangan, berbeda dengan pendirian para sahabat yang lain yang terpaksa hijrah secara rahasia.

Umar Al-Khattab terkenal sebagai seorang yang berani saat kafir dan bertambah berani sesudah beriman. Pada detik-detik terakhir sebelum meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah, Ali RA yang menyaksikan peristiwa tersebut, meriwayatkan: Setelah Umar memutuskan untuk berhijrah, beliau mengambil sebilah pedang disandang di sisi pinggangnya, kemudian dicapainya busar panah lalu disangkut bahunya, sebatang anak panah tergenggam ditangannya dan melangkahkan kaki menuju ke Kaa'bah. Ketika itu tokoh-tokoh Quraisy sedang bersantai di sisi Ka'bah menyaksikan kehadiran Umar.

Umar melakukan thawaf tujuh kali dengan penuh semangat tetapi tenang, tanpa menghiraukan tokoh-tokoh kafir Quraisy yang memperhatikannya. Setelah selesai melakukan tawaf, beliau menuju ke Maqam Ibrahim dan mendirikan shalat.

Selesai shalat, Umar berdiri di sisi Maqam Ibrahim sambil mengeluarkan kata-kata yang keras dan pedas terhadap kelompok kuffar Quraisy. kata Umar: "Sesungguhnya Allah SWT tidak akan membinasakan wajah manusia di dunia ini, kecuali wajah suku-suku jahannam yang memusuhi agama Allah."

Kata Umar lagi: "Barangsiapa yang sanggup membuat ibunya sendirian karena kematian anak, menempatkan anak-anak mereka menjadi yatim piatu karena kematian ayah, sanggup membuat istri kesayangannya menjadi janda karena kematian suami, marilah kita adu senjata di balik bukit ini."

Tantangan Umar terhadap tokoh-tokoh Quraisy yang menyaksikan kehadiran Umar dengan pedang terhunus itu, ternyata menimbulkan efek ketakutan di dalam hati mereka. Pertama kali mereka mendengar tantangan yang begitu hebat dari Umar, mereka tertegun tanpa seorangpun yang berani menyahut tantangan Umar berlawan senjata.

Dari sudut psikologi, cara Umar menantang suku Quraisy dengan gaya seorang pahlawan yang siap untuk mati, menjadikan suku Quraisy lemah. Mereka membisu tanpa reaksi, sekalipun Umar mengutuk mereka sebagai kelompok yang bakal dibinasakan Allah SWT. Dalam kondisi suku Quraisy lemah, Umar mengajaknya adu senjata.

Ali r.a. yang juga mendengar kata-kata Umar itu berkata: Sesudah itu Umar melangkahkan kaki meninggalkan kota Makkah dengan tenang, tanpa dilacak oleh suku-suku Quraisy. Namun peristiwa itu memberi seribu rahmat kepada kaum muslimin yang letih lesu, dari kalangan orang-orang tua, orang-orang sakit yang tidak mampu meninggalkan kota Makkah tanpa teman. Mereka semua mengambil kesempatan untuk hijrah ke Madinah bersama Umar Al-Khattab, dengan aman tanpa gangguan.

Menyusul dari peristiwa itu, maka kaum muslimin Makkah telah menyahut seruan hijrah. Sehingga tidak lagi para pendukung Nabi s.a.w. yang tinggal di Makkah, kecuali Nabi saw, Abu Bakar As-Siddiq. Ali bin Abi Thalib, selain itu orang-orang yang sakit, mereka yang tidak kendaraan dan kemampuan berhijrah dan mereka yang dikenakan tahanan oleh pihak Quraisy, akibat tindakan mereka menyahut seruan Islam.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Hadits tentang Umar

  1. Saat tidur, aku bermimpi bahwa aku berada dalam surga. aku lihat seorang perempuan sedang berwudhu dekat istana. Aku bertanya untuk siapa istana ini. Katanya: Untuk Umar "Hadist riwayat Shiekhaini (Bukhari dan Muslim)
  2. Sesungguhnya Allah menjadikan lidah dan hati Umar itu pada kebenaran. Hadits riwayat At-Turmizi
  3. Jika setelah aku ada nabi, sudah pasti Umarlah orangnya. Hadits riwayat At-Turmizi
  4. Sesungguhnya aku melihat setan-setan dari kalangan jin dan manusia lari lintang pukang dari Umar. Hadits riwayat At-Turmizi
  5. Umar cahaya untuk penduduk surga.
  6. Semua malaikat di langit menyayangi Umar dan semua setan di dunia lari dari Umar
  7. Sesungguhnya ada seseorang di antara umat sebelum kamu yang menjadi sebutan ramai (karena kebaikannya), jika hal ini terjadi dalam umat Islam, sudah tentu Umarlah orangnya. Hadits riwayat Bukhari.
  8. Tidak ada sesuatu hal yang dikatakan oleh orang banyak dan kemudian dikatakan oleh Umar, niscaya turunlah al-Quran sebagaimana yang dilafazkan oleh mulut Umar. (Kata-kata Abdullah bin Umar).

Umar Sebagai Orang Yang Pertama


1. Pertama digelar Amirul Mukminin
2. Pertama menggunakan Hijrah sebagai kalender Islam
3. Pertama mengenakan pukulan 80 kali ke atas peminum arak
4. Pertama mengharamkan nikah mut'ah
5. Pertama mewajibkan zakat atas kuda
6. Pertama mendirikan departemen-departemen
7. Pertama sunatkan Qiyyam Ramadhan
8. Pertama mengarahkan shalat Jenazah berjamaah dengan 4 takbir
9. Pertama memperkenalkan Al-'Aul dalam masalah Faraid (harta pusaka)

Umar Dan Al-Quran


Umar Al-Khattab memiliki pemikiran yang sangat hebat. Beberapa pendapatnya merupakan sebab turunnya al-Quran. Di antara ayat-ayat al-Quran yang diturunkan sempena pendapat beliau adalah:

1) Kisah tawanan Badar - ayat 28 Surah Al-Anfal
2) Ayat Menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat - Ayat 125 Surah Al-Baqarah
3) Ayat Hijab - Ayat 53 Surah Al-Ahzab
4) Ayat tentang asal-usul kejadian manusia - Ayat 12 Surah Al-Mukminun
5) Ayat tentang arak - Ayat 219 Surah Al-Baqarah dan Ayat 43 Surah An-Nisa '
6) Ayat Larangan Mensolati Jenazah Orang Munafiq - Ayat 84 Surah At Taubah
7) Kisah orang Munafiq - Ayat 6 Surat Al-Munafiqun
8) Ayat 5 Surat Al-Anfal
9) Ayat 16 Surah An-Nur
10) Ayat tentang penghalalan jima 'di malam bulan Ramadhan - Ayat 187 Surah Al-Baqarah
11) Ayat 97 Surah Al-Baqarah
12) Ayat 65 Surah An-Nisa '
13) ayat 13 Surah Al-Waqiah

Umar dan Penyusunan Mushaf Al-Quran

Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari’ (penghafal Al-Qur’an) dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab ra. merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar ra. dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari’.

Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat-tempat lain akan membunuh banyak qari’ pula, sehingga Al-Qur’an akan hilang dan musnah, awalnya Abu Bakar ra. menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar ra. tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar ra. untuk menerima usulan tersebut, kemudian Abu Bakar ra. memerintahkan Zaid bin Sabit ra, mengingat kedudukannya dalam masalah qiraat, kemampuan dalam masalah penulisan, pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar ra. menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid ra. menolak seperti halnya Abu Bakar ra. sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid ra. dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-Qur’an itu.

Zaid ra. melalui tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qari’ dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan di tangan Abu Bakar ra. Zaid ra. berkata,”Abu Bakar ra. memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata: ‘Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan penghafal Al-Qur’an dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para penghafal Al-Qur’an itu juga akan terjadi di tempat-tempat lain, sehingga sebagain besar Al-Qur’an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Maka aku katakan kepadanya,”Bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?.” Tetapi Umar menjawab dan bersumpah,”Demi Allah, perbuatan tersebut baik.” Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.”

Zaid ra. berkata lagi,”Abu Bakar berkata kepadaku,”Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemampuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah.”

“Demi Allah”, Kata Zaid lebih lanjut”, “Sekiranya mereka memintaku untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkan Al-Qur’an. Karena itu aku menjawab,”Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?.”

Abu Bakar menjawab,”Demi Allah itu baik.” Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar ra. dan Umar ra. Maka aku pun mulai mencari Al-Qur’an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu dan dari hafalan para penghafal, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah At-Taubah berada pada Abu Huzaimah Al-Anshari, yang tidak kudapatkan pada orang lain, yang berbunyi Sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri… hingga akhir surah.

Lembaran-lembaran (hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar ra. hingga wafatnya. Sesudah itu berpindah ke tangan Umar ra. sewaktu masih hidup dan selanjutnya berada di tangan Hafsah binti Umar ra.

Zaid bin Sabit ra. bertindak sangat teliti dan hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan di atas,”Dan aku dapatkan akhir surah At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak aku dapatkan pada orang lain”, tidaklah menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah At-Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Sedangkan Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya.

Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.

Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan,”Umar datang lalu berkata,”Barang siapa menerima dari Rasulullah SAW sesuatu dari Al-Qur’an, hendaklah ia menyampaikannya.”

Mereka menuliskan Al-Qur’an itu pada lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid ra. tidak mau menerima dari seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid ra. tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran langsung dari Rasulullah SAW, sekalipun Zaid ra. sendiri hafal. Beliau bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati.

Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid, “Duduklah kamu berdua di pintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah.”

Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, sekalipun hadits tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan, “Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.”

As-Sakhawi menyebutkan dalam kitab Jamalul Qurra’, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah. Atau dua orang saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Al-Qur’an diturunkan.

Abu Syamah berkata,”Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan Al-Qur’an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah At-Taubah,”Aku tidak mendapatkannya pada orang lain”, sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.”

Kita sudah mengetahui bahwa Qur’an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur’an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali ra, Ubai dan Ibn Mas’ud ra. Tetapi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma’ sebagaimana mushaf Abu Bakar.

Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunan Al-Qur’an yang dikerjakan Abu Bakar. Para ulama berpendapat bahwa penamaan Al-Qur’an dengan ‘mushaf’ itu baru muncul sejak saat itu, yaitu saat Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an. Ali ra. berkata,”Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar ra. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar ra. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.”

Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah

Memang diakui oleh seluruh sejarawan bahwa Rasulullah yang wafat tahun 11 H, tidak meninggalkan wasiat tentang orang yang akan menggantikannya. Oleh karena itu, setelah rasulullah SAW wafat para sahabat segera berkumpul untuk bermusyawarah di suatu tempat yaitu Tsaqifah Bani Sa’idah guna memilih pengganti Rasulullah (Khalifah) memimpin ummat Islam. Musyawarah itu secara spontanitas diprakarsai oleh kaum Anshor. Sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka lebih memiliki kesadaran politik dari pada yang lain, dalam memikirkan siapa pengganti Rasulullah dalam memimpin umat Islam.

Dalam pertemuan itu mereka mengalami kesulitan bahkan hampir terjadi perpecahan
diantara golongan, karena masing-masing kaum mengajukan calon pemimpin dari
golongannya sendiri-sendiri. Pihak Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubaidah, dengan alasan mereka yang menolong Nabi ketika keadaan di Makkah genting. Kaum Muhajirin menginginkan supaya pengganti Nabi SAW dipilih dari kelompok mereka, sebab muhajirinlah yang telah merasakan pahit getirnya perjuangan dalam Islam sejak awal mula Islam. Sedang dipihak lain terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali Bin Abi Thalib, karena jasa-jasa dan kedudukannya selaku menantu Rasulullah SAW. Hingga peristiwa tersebut diketahui Umar. Ia kemudian pergi ke kediaman nabi dan mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar. Kemudian keduanya berangkat dan diperjalanan bertemu dengan Ubaidah bin Jarroh. Setibanya di balai Bani Sa’idah, mereka mendapatkan dua golongan besar kaum Anshor dan Muhajirin bersitegang.

Dengan tenang Abu Bakar berdiri di tengah-tengah mereka, kemudian berpidato yang isinya merinci kembali jasa kaum Anshor bagi tujuan Islam. Disisi lain ia menekankan pula anugrah dari Allah yang memberi keistimewaan kepada kaum Muhajirin yang telah mengikuti Muhammad sebagai Nabi dan menerima Islam lebih awal dan rela hidup menderita bersama Nabi. Tetapi pidato Abu Bakar itu tidak dapat meredam situasi yang sedang tegang. Kedua kelompok masih tetap pada pendiriannya. Kemudian Abu Ubaidah mengajak kaum Anshor agar bersikap toleransi, begitu juga Basyir bin Sa’ad dari Khazraj (Anshor) agar kita tidak memperpanjang perselisihan ini. Akhirnya situasi dapat sedikit terkendali.

Disela-sela ketegangan itu kaum Anshor masih menyarankan bahwa harus ada dua kelompok. Hal itu berarti kepecahan kesatuan Islam, akhirnya dengan resiko apapun Abu Bakar tampil ke depan dan berkata “Saya akan menyetujui salah seorang yang kalian pilih diantara kedua orang ini” yakni tidak bisa lebih mengutamakan kami sendiri dari pada anda dalam hal ini”, situasi menjadi lebih kacau lagi, kemudian Umar berbicara untuk mendukung Abu Bakar dan mengangkat setia kepadanya.

Dia tidak memerlukan waktu lama untuk menyakinkan kaum Anshor dan yang lain, bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling patut di Madinah untuk menjadi penerus pertama dari Nabi Muhammad SAW. Sesudah argumentasi demi argumentasi dilontarkan, musyawarah secara bulat menunjuk Abu Bakar untuk menjabat Khalifah dengan gelar “Amirul Mu’minin”.

Dengan semangat Islamiyyah terpilihlah Abu Bakar. Dia adalah orang yang ideal, karena sejak mula pertama Islam diturunkan menjadi pendamping Nabi, dialah sahabat yang paling memahami risalah Rasul. Disamping itu beliau juga pernah menggantikan Rasulullah sebagai imam pada saat Rasulullah sakit.

Setelah mereka sepakat dengan gagasan Umar, sekelompok demi sekelompok maju kedepan dan bersama-sama membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Baiat tersebut dinamakan baiat tsaqifah karena bertempat di balai Tsaqifah Bani Sa’idah. Pertemuan politik itu berlagsung hangat, terbuka dan demokratis (Pulungan, 1994:102-105).

Pertemuan politik itu merupakan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam. Sesuatu yang megikat mereka tetap dalam satu kepemimpinan pemerintahan. Dan terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah pertama, menjadi dasar terbentuknya sistem pemerintahan Khalifah dalam Islam (Hasjmy,1973 :117).

Khalifah Umar dan Penaklukan

Khalifah Umar bin al Khattab ra memulai masa pemerintahannya dengan serangkaian penaklukaan yang sebelumnya telah dirintis oleh Abu Bakar RA. Umar bin al Khattab RA berhasil menyelesaikan semua tanggung jawab itu dengan amat gemilang. Berkat rahmat Allah ta’ala serta dukungan para negarawan Islam pada saat itu, Umar bin al Khattab berhasil membangun Negara yang amat luas dalam waktu yang relative singkat jika dibandingkan dengan waktu yang sebelumnya dibutuhkan oleh para kaisar dan penguasa untuk meluaskan kekuasaan mereka.

Namun demikian, misi dan cara yang dilakukan oleh khalifah Umar bin al Khattab jauh berbeda dengan tujuan para peguasa tersebut. Umar bin al Khattab ra menegakkan Negara yang dipimpinnya diatas dasar yang kokoh berupa keimanan kepada Allah ta’ala dan penegakan keadilan yang didukung pula oleh rasa cinta yang tulus, akhlak yang baik, dan tradisi Islam yang luhur. Jadi, wajar saja jika sejarah menulis nama Umar bin al Khattab sebagai seorang penakluk paling besar dalam sejarah manusia. Sebab, semua penaklukan yang dilakukan oleh Umar bin al Khattab selalu memberikan dampak yang positif bagi bangsa-bangsa yang mendiami wilayah taklukannya.

Allah ta’ala berfirman:

Ù‡ُÙˆَ الَّذِÙŠ Ø£َرْسَÙ„َ رَسُولَÙ‡ُ بِالْÙ‡ُدَÙ‰ Ùˆَدِينِ الْØ­َÙ‚ِّ Ù„ِÙŠُظْÙ‡ِرَÙ‡ُ عَÙ„َÙ‰ الدِّينِ ÙƒُÙ„ِّÙ‡ِ ÙˆَÙ„َÙˆْ ÙƒَرِÙ‡َ الْÙ…ُØ´ْرِÙƒُونَ

Artinya: “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”(QS. at Taubah: 33)

Suatu ketika, datanglah seorang lelaki kepada Umar bin al Khattab dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bawalah diriku untuk berjihad!” mendengar itu, Umar bin Khattab pun berkata kepada seorang lelaki lain:
“Ajaklah ia masuk ke baitul mal dan biarkan dia mengambil apapun sekehendak hatinya!” maka lelaki itu pun masuk ke baitul mal yang ternyata di dalamnya banyak terdapat emas dan perak, Lelaki itu berkata:
“Aku sama sekali tidak membutuhkan hal ini, yang kubutuhkan hanya bekal dan kuda tunggangan!” maka lelaki itupun dibawa menghadap Umar bin al Khattab.
Setelah dikabari ikhwal ucapan lelaki tersebut, Umar bin al Khattab langsung meminta bawahannya agar memberikan bekal dan kuda tunggangan kepada lelaki tersebut. Lantas Umar bin al Khattab sendiri yang menuntun lelaki itu atas kudanya. Setelah berada di atas kuda, lelaki itu pun melangkahkan kudanya seraya menengadahkan tangan memuji Allah ta’ala atas apa yang dianugerahkan kepadanya. Dan Umar bin al Khattab terus mengikuti lelaki itu sambil berharap agar ia juga di doakan olehnya. Setelah doa itu, dia kembali berdoa dengan berucap: “Ya Allah ta’ala, limpakanlah kebaikan kepada Umar bin al Khattab!”

Itulah khalifah Umar bin al Khattab al Faruq, dia sangat cerdas dan tahu cara memilih orang yang tepat sebagai pasukannya, yang mengutamakan harta dari din Allah ta’ala, Umar bin al Khattab selalu memberikan wasiat terbaik dan menjaga setiap perkara terpuji untuk disampaikan kepada semua panglima peranganya. Ini bertujuan agar mereka terus menghidupkan hakikat keimanan yang selalu ia sampaikan kepada mereka. Suatu ketika Umar bin al Khattab pernah berkata: “Demi dzat yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, seandainya ada seekor onta saja yang binasa sia-sia di tepian sungai Eufrat, aku khawatir karena hal itu semua keluarga al Khattab di mintai pertanggung jawaban oleh Allah ta’ala.”

Sebelum terjadinya berbagai macam penaklukan Islam, sejarah mencatat berbagai perang yang berkobar dimana-mana yang dilakukan oleh bangsa Sumeria, Babylon, para Firaun, bangsa Yunani, Romawi, Persia, dan bangsa-bangsa lainnya. Setelah masa penaklukan Islam berlalu, sejarah kembali mencatat berkobarnya perang dimana-mana yang dilakukan oleh Jenghis Khan, Hulagu Khan, Timur Leng, dan penjajahan kaum salib sejak zaman pertengahan hingga sekarang ini. Semua peperangan tersebut jelas tidak pernah terjadi melainkan hanya untuk mengejar ambisi jangka pendek dan sebagai bentuk penindasan yang busuk. Semua peperangan itu tentu saja berbeda dengan penaklukan oleh umat Islam yang dilakukan untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan sesama manusia dan mengubahnya menjadi penghambaan kepada Allah
SWT semata.

Penaklukan saat pemerintahan khalifah Umar bin Khattab sesuai urutan tahun:
  • Tahun 14 hijriyah:
    1. Penaklukan Damaskus
    2. Penaklukan Himsh
    3. Penaklukan Baklabakka
    4. Bashrah
    5. Ablah
  • Tahun 15 hijriyah:
    1. Yordania
    2. Thabariyyah
    3. Perang Yarmuk
    4. Perang Qadisiyah
  • Tahun 16 hijriyah:
    1. Penaklukan al Mada’in
    2. Penaklukan al Ahwaz
    3. Perang Jalula’
    4. Pembukaan Baitul Maqdis
    5. Pembukaan Qinnasrin
    6. Pembukaan Saruj
    7. Penaklukan Halb
    8. Penaklukan Anthakiyah
    9. Penaklukan Manbaj
    10. Penaklukan Qarqaisya’
  • Tahun 17 hijriyah:
    1. Penaklukan Ahwaz.
  • Tahun 18 hijriyah:
    1. Penaklukan Jundisabur
    2. Penaklukan Halwan
    3. Penaklukan Raha’
    4. Penaklukan Simsath
    5. Penaklukan Haran Nasibhin
    6. Penaklukan Maosul
  • Tahun 20 hijriyah:
    1. Penaklukan Mesir
    2. Penaklukan Tustar
    3. Pengusiran orang-orang yahudi dari Khaibar dan Najran
  • Tahun 21 hijriyah:
    1. Penaklukan Iskandariyah
    2. Penaklukan Nahawand
    3. Penaklukan Barqah
  • Tahun 22 hijriyah:
    1. Penaklukan Azerbaijan
    2. Penaklukan kota Daynawar
    3. Penaklukan kota Mabdzan
    4. Penaklukan kota Hamdzan
    5. Penaklukan kota Tripoli
    6. Penaklukan kota Ray
    7. Penaklukan kota Askar
    8. Penaklukan kota Qaumas
  • Tahun 23 hijriyah:
    1. Pembukaan kota Karman
    2. Pembukaan kota Sajistan
    3. Pembukaan Makran
    4. Pembukaan Asfahan

Penaklukan Besar masa Khalifah Umar

1.Penaklukan Damaskus

Damaskus merupakan kota yang amat istimewa dengan permukaan tanahnya yang hijau, tanamannya subur, kebun-kebunnya yang banyak menghasilkan buah, airnya yang jernih, dan berbagai keindahan lainnya, pasukan Islam berhasil menaklukkan kota ini di bawah pimpinan Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, Khalid bin Walid, Amr bin al Ash, Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin abi Sufyan ra. Sebelum kota ini ditaklukan, telah terjadi serangkaian pertempuran antara pasukan Islam dan pasukan Romawi di gerbang-gerbang kota.

Ketika itu pertempuran terjadi begitu sengit, pasukan penakluk terus berusaha memasuki gerbang kota, sementara itu, disekeliling Damaskus juga terjadi pertempuran antara pasukan peyerang dan pasukan yang bertahan. Lalu orang-orang Romawi berusaha meminta perlindungan kepada penguasa Tuma seraya berkata: “Apakah kami harus berdamai dengan orang-orang Islam, atau engkau akan memberi jalan keluar untuk kami?” lalu penguasa Tuma pun berjanji untuk memerangi pasukan Islam.

Dia menyiagakan pasukan di depan pintu-pintu gerbang untuk menyergap pasukan Islam, mereka bergerak menyerang pada malam hari, tapi pasukan Islam sanggup bertahan sehingga terjadilah pertempuran besar-besaran di seluruh pintu gerbang, pertempuran di gerbang Tuma menjadi peperangan paling dahsyat ketika itu, sangat banyak pasukan Romawi yang terbunuh sehingga yang masih hidup terpaksa mundur meninggalkan ribuan teman-teman mereka yang telah tewas.

Setelah dilakukan pengepungan selama tujuh puluh hari, akhirnya Khalid bin Walid bisa menyeberangi parit menggunakan sampan. Pasukan Islam naik ke benteng musuh dengan menggunakan rantai yang dilempar lalu disangkutkan ke atas benteng. Selain itu mereka mengaitkan beberapa buhul tali untuk digunakan seluruh pasukan Islam menaiki benteng. Setelah pasukan Islam berhasil naik ke atas benteng, mereka turun membuka pintu gerbang ke sebelah timur dengan mudah. Sesaat kemudian, pertempuran pun kembali pecah

Ketika pasukan Romawi yang berada di dekat gerbang al Jabiyah mengetahui peristiwa di gerbang timur, mereka segera mengirim utusan untuk menemui Abu Ubaidah, mereka menawarkan akan menyerahkan Damaskus dengan cara damai, Abu Ubaidah menerima tawaran itu tanpa mengetahui apa yang sedang dilakukan Kholid bin Walid di gerbang timur. Setelah dilakukan penyerahan, Abu Ubaidah pun masuk ke dalam kota, di tengah kota dekat gereja Maria, beberapa orang pasukan Khalid bertemu dengan utusan Abu Ubaidah yang telah menerima penyerahan kota dari tangan musuh. Setelah Abu Ubaidah menaklukkan kota lewat jalan damai, pasukan Islam pun menguasai seluruh Damaskus.

2. Penaklukan Mada’in

Ketika Sa’ad mengumuman pemberangkatan pasukan ke al Mada’in ia berkata kepada pasukannya: “Ucapkanlah nastainu billahi wa natawakkalu alaihi hasbunallah ta’ala wa ni’mal wakil la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim”

Ketika pasukan Islam sampai di dekat kota al Mada’in, pasukan Persia segera mengangkat perahu dan rakit dari sungai Tigris, kemudian mereka membakar semua jembatan yang terhubung ke kota bagian timur. Namun ternyata Sa’ad berhasil menggunakan perahu-perahu yang baru dibuat oleh penduduk setempat yang kemudian dia gunakan bersama pasukannya untuk mencapai al Mada’in. Setelah banyak musuh yang terbunuh dan pasukan Islam semakin mendekati al Mada’in, sebagian besar pasukan musuh melarikan diri dan masih ada sebagian mereka yang terus bertempur untuk mempertahankan al Mada’in.

Kala itu pasukan Islam harus menghadapi perlawanan sengit selama beberapa waktu. Akhirnya pihak musuh menyerah setelah tak mampu bertahan mengadapi kepungan pasukan Islam di sekeliling kota al Mada’in

Dengan penyerahan diri tersebut, maka takluklah salah satu kota terpenting di Persia. Penaklukan al Mada’in ini menjadi titik tolak penaklukan yang di lakukan pasukan Islam terhadap kota-kota Persia lainnya.

3. Penaklukan Baitul Maqdis


Dari al Jabiyah, khalifah Umar bin al Khattab ra lalu bergerak menuju Baitul Maqdis untuk melakukan perjanjian damai dengan kaum nashrani. Kala itu Umar bin al Khattab ra mengajukan syarat agar semua elemen kekuasaan Romawi segera meninggalkan Baitul Maqdis dalam waktu tiga hari, sebelum Umar bin al Khattab masuk ke Masjidil Aqsa lewat pintu yang dimasuki Rasulullah saw pada malam isra’. Umar bin al Khattab ra lalu melakukan shalat tahiyatul masjid yang dilanjutkan dengan shalat subuh bersama umat Islam lainnya.

Pada rakaat pertama Umar bin al Khattab membaca surah shad yang di dalamnya terdapat ayat sajdah, dan pada rakaat kedua Umar bin al Khattab memaca surah al Isra’, seusai shalat Umar bin al Khattab bertanya kepada Ka’ab bin al Ahbar tentang letak Shakhrah, dan Ka’ab bin Ahbar lalu langsung menunjukkan batu istimewa itu. Umar bin al Khattab ra bertanya demikian karena telah terjadi pertikaian panjang dan amat sengit antara kaum yahudi dan nashrani, setiap kali kaum yahudi menang, kaum nashrani berusaha menghilangkan tempat Shakhrah itu dengan menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Bahkan amat lazim bagi kaum perempuan nashrani membuang pembalut mereka ke tempat tersebut. Semua tindakan itu dilakukan oleh kaum nashrani karena shakhrah merupakan kiblat bagi kaum yahudi, sementara itu bagian yang digunakan oleh kaum nashrani sebagai tempat pembuangan sampah adalah dari tempat shakhrah sampai mihrab Dawud.

Jadi pada saat itu Umar bin al Khattab memang tidak dapat mengetahui letak Shakhrah karena batu istimewa itu telah tertimbun sampah dan kotoran, Umar bin al Khattab lalu memerintahkan orang-orang yang berasal dari Yordania untuk membersihkan semua kotoran dan sampah yang menimbun Shakhrah

Dari shakhrah, Umar bin al Khattab melangkahkan kakinya menuju gereja Makam Suci yang ditemani oleh Patriak agung Sefronius. Ketika Umar bin al Khattab sedang berbincang-bincang mengenai perjanjian damai dengan Sefronius, datanglah waktu shalat, Umar bin al Khattab pun langsung bertanya kepada patriak agung agar menunjukkan tempat yang bisa digunakan untuk shalat, serta merta Sefronius mengizinkan Umar bin al Khattab untuk mengerjakan shalat di dalam gereja itu, namun Umar bin al Khattab menolak hal itu seraya mengatakan bahwa jika dirinya shalat di dalam gereja bersejarah itu, ia khawatir akan memberi legitimasi kepada umat Islam untuk mengubah gereja tersebut menjadi masjid hanya karena alasan bahwa Umar bin al Khattab pernah shalat di dalamnya

Kekhawatiran inilah yang juga membuat Umar bin al Khattab selalu menolak melaksanakan shalat di semua gereja lainnya, sehingga kaum nashrani pada saat itu benar-benar yakin bahwa Umar bin al Khattab dan umat Islam pasti menepati semua opsi perjanjian damai yang mereka lakukan dengan kaum nashrani. Kemudian Umar bin al Khattab melanjutkan perjalanannya dengan Sefronius menuju ke gereja tempat kelahiran yesus di Bethlehem, lagi-lagi tiba waktu shalat ketika ia berada di gereja tersebut, Umar bin al Khattab pun langsung mengerjakan shalat di tempat tersebut, namun seusai shalat, kekhawatiran Umar bin al Khattab kembali muncul, ia lalu menambahkan point dalam perjanjian damai untuk tidak mengubah gereja kelahirn yesus menjadi masjid hanya karena ia mengerjakan sholat di dalam gereja tersebut

Menurut Dr. Muhammad Sayyid Wakil, tindakan Umar bin al Khattab yang bersedia sholat di dalam gereja tempat kelahiran yesus namun menolak melakukan shalat di gereja Makam Suci dan gereja Konstantin adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa bagi umat Islam, seluruh muka bumi adalah masjid, selain itu untuk menghilangkan kesan yang mungkin muncul dalam hati Sefronius bahwa Umar bin al Khattab membenci gereja karena sesuatu yang tidak ia utarakan

Penaklukan Elia terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 16 H. akan tetapi al Baladzuri berpendapat bahwa perisiwa penting itu terjadi pada tahun 17 H. sementara itu mayoritas ahli sejarah justru sering menempatkan peristiwa penaklukan Elia dalam rangkaian kejadian penting yang terjadi tahun 15 H. di al Quds khalifah Umar bin al Khattab tinggal selama sepuluh hari, Umar bin al Khattab menggunakan waku tersebu untuk menghapus kekuatan bersenjata atas wilayah al Quds seperti yang lazim dilakukan terhadap daerah yang telah melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin, Umar bin al Khattab juga membagi wilayah kekuasaannya untuk mempermudah jalannya pemerintahan, sekaligus menunjuk penguasa bagi tiap-tiap daerah tersebut. Setelah selesai melakukan semua itu, Umar bin al Khattab kembali ke Madinah.

Peranan Umar Bin Khattab terhadap Penaklukan

Setelah kita lihat betapa cepat dan pesat perluasan wilayah kekuasaan islam pada masa khalifah Umar bin al Khattab ra tersebut, setidaknya dapat kita simpulkan bahwa ada beberapa factor yang menjadi pemicuya:
  1. Tujuan utama Umar bin al Khattab ra dalam melakukan penaklukan adalah untuk menyebarkan dakwah tauhid, dan membantu kaum yang tertindas dari kedzaliman tirani-tirani, sehingga tidak jarang penduduk tempat yang ditaklukkan malah membantu pasukan Islam.
  2. Kepiawaian Umar bin al Khattab dalam mengatur strategi penaklukan, dan mengatur daerah yang telah ditaklukkan, yaitu jika menaklukkan suatu daerah, maka ia akan melucuti persenjataan daerah tersebut, Umar bin al Khattab juga berhasil menemukan satu system militer yang tidak pernah dilakukan siapapun pada saat itu. Ibnu Jarir menyatakan bahwa Umar mengirim surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqas sesaat sebelum terjadinya pertempuran Qadisiyah yang isinya berbunyi, “Jika engkau sudah menerima suratku ini maka pecahlah pasukanmu menjadi satuan-saatuan yang lebih kecil. Jelaskan kepada mereka tentang tindakan itu, angkatlah pemimpin untuk tiap-tiap pasukan, berilah perintah pemimpin-pemimpin itu di depan semua pasukan, hormati mereka di depan anak buah mereka, dan serahkan panji-panji pasukan pada prajurit yang paling cepat memacu kudanya.”
    Isi surat inilah yang diterapkan Khalid bin walid ketika menjadi panglima tunggal dalam perang Yarmuk terhadap pasukan Islam setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan para panglima pasukan penaklukna di Syam, pada saat itu Khalid memecah pasukannya menjadi 36 battalion, dan setiap battalion terdiri dari seribu orang prajurit.
  3. Kemuliaan hati, keluhuran akhlak, dan kebijaksanaan Umar bin al Khattab yang membuat musuh percaya dan kagum terhadapnya, sebab semua penaklukan yang dilakukan oleh Umar bin al Khattab selalu memberikan dampak yang positif bagi bangsa-bangsa yang mendiami wilayah taklukannya.
  4. Bukti kepiawaian Umar bin al Khattab dalam bidang strategi militer: Setelah pertempuran Nahawand, semua kawasan Persia siap ditaklukkan oleh pasukan Islam, mereka akan dengan mudah menaklukan daerah-daerah yang berada di sebelah timur sungai Tigris, apalagi setelah pasukan Islam berhasil menaklukkan Irak dan semua wilayah yang berada di sebelah selatan Teluk Arab, terlebih setelah kita tahu bahwa Khuzestan (al Ahwaz) telah ditaklukkan dan pemimpinnya, Hurmuzan mau memeluk Islam.
  5. Bidang militer: Pasukan Islam berhasil mendayagunakan kekuatan mereka, demi melanjutkan kemenangan yang telah dicapai, khalifah Umar bin al Khattab memutuskan untuk membagi pasukan menjadi beberapa kelompok pasukan yang lebih kecil, masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang panglima menuju kawasan-kawasan dalam wilayah kerajaan Persia.
  6. Pasukan yang dipilih oleh Umar bin al Khattab adalah pasukan yang benar-benar ikhlas dalam berjihad demi mendapatkan ridho Allah ta’ala
Lanjutkan Membaca ...

Abu Bakar Al Siddiq - Sahabat dan Khalifah Pertama (11-13 H)

Abu Bakar Al Siddiq adalah Sahabat yang pertama kali dan selalu membenarkan Rasulullah dan Da'wahnya, dan karena ini pula ia mendapat gelar/panggilan Al Shiddiq. Nama Abu Bakar Al Siddiq lebih akrab di telinga kita dibanding nama aslinya yaitu Abdullah Bin Qahafah. Peristiwa Tsaqifah yang fundamental terhadap kelanjutan persatuan dan kesatuan antara kaum Muhajirin dan Anshar, telah menghantarkan beliau menjadi khalifah pertama dari risalah Rasulullah S.A.W.

Nama Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah tidak asing lagi bagi sekelian ummat Islam, baik dahulu mahupun sekarang. Dialah manusia yang dianggap paling teragung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah S.A.W. Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat, ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika berkuasa serta tutur bahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya baik dahulu mahupun sekarang. Dialah tokoh sahabat terbilang yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah S.A.W.

Nama sebenar Abu Bakar Al-Siddiq adalah Abdullah Bin Qahafah. Sebelum Islam, beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya serta datangnya dari keluarga bangsawan yang sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam lagi, Abu Bakar telah terkenal sebagai seorang pembesar Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah minum arak sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh pembesar-pembesar Quraisy yang lain.

Dan segi umur, Abu Bakar R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah S.A.W. dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang dianggap paling banyak sekali berkorban harta benda untuk menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W. Karena besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah S.A.W. pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Abu Bakar R.A. Adapun gelar Al-Siddiq yang diberikan kepadanya itu adalah Karena sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud yang dicenitakan sendiri kepadanya oleh Abu Bakar, tentang bagaimana Abu Bakar R.A. memeluk agama Islam.

Kata Abu Bakar R.A. ketika menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak murid. Dia berkata kepadaku:

"Aku kira tuan datang dari Tanah Haram.

"Benar, “jawabku.

"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?”

"Benar,” ujarku lagi.

"Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?”

"Benarlah begitu,” tambahku selanjutnya.

Orang tua itu terus menyambung, katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, yaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?

Maka pada ketika itu aku pun berkata, "Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.

Maka ujar orang tua itu, "Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua orang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separoh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam segala kesusahan. Sementara yang separoh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.

Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, "Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!

Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, "Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?

"Boleh sahaja, “jawabku.

Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, "Apakah yang terjadi itu?

Jawab mereka, "Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.

Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dari kepercayaan nenek moyang kita.

Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!

Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa buktinya?

Jawabnya, "Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.

Aku menambah lagi, "Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan Karena ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?

Baginda menyambung, "Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!

Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?

Maka ujar baginda, "Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.

Akhirnya aku berkata, "Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.

Demikianlah kisah indah yang meriwayatkan bagaimana Islamnya Abu Bakar Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki yang pertama yang beriman kepada Rasulullah S.A.W.

Keislaman Abu Bakar Al-Siddiq R.A. telah membawa pengaruh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy Karena dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda bangsawan Quraisy seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Abu Bakar R.A. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W. Sebagai memperlihatkan kecintaan baginda terhadap Abu Bakar R.A., dapat kita ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat Rasulullah S.A.W. pernah suatu hari menanyakan Rasul, "Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayangi? Baginda menjawab, "Siti Aisyah, dan kalau laki-laki adalah bapanya.

Selain daripada itu Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seorang sahabat yang terkenal Karena keteguhan imannya, cerdas akal, tinggi akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W. pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, "Jika ditimbang iman Abu Bakar Al-Siddiq dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakar. Demikian teguhnya iman Abu Bakar R.A. demi apakala kita memperhatikan pengertian yang terkandung pada sabda Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya itu. Gelaran AlSiddiq yang dibenikan orang terhadap diri Abu Bakar R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya yang teguh dalam membenarkan serta membela diri Rasulullah S.A.W. Andainya sekelian ummat manusia akan mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A. akan pasti pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.

Tidak beberapa lama setelah memeluk agama Islam, Abu Bakar yang terkenal sebagai saudagar yang kaya itu telah meninggalkan perdagangannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan penjuangan menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad S.A.W. sehingga oleh Karena kegiatannya maka Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan itu. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah.

Tatkala Nabi Muhammad selesai melakukan Isra' dan Mikraj segolongan orang yang kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W. telah pergi menemui Abu Bakar R.A. untuk mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad S.A.W. itu. Tujuan kedatangan mereka mendapatkan Abu Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka tentunya Abu Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan itu disampaikan kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun berkata, "Adakah Muhammad berkata begitu? Sahut mereka, "Benar! Maka ujar Abu Bakar R.A. "Jika Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu. Lalu mereka pun terus menyambung, "Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhammad sampai ke tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam semalam tadi? Maka sahut Abu Bakar sungguh-sungguh, "Benar! Aku percaya! Malah lebih dari itu aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita dari langit yg diberitakannya baik pada waktu siang mahupun di waktu malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling utama itu. Karena tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang dibawa oleh Muhammad dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq, entinya yang benar.

Dan memanglah tidak menghairankan sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah kenal akan Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu berkata benar, tak pernah bohong; orang amin. Mustahil baginda akan khianat kepada pengikutnya yang pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya itu Pesuruh Allah Yang Maha Kuasa, menerima wahyu danipada Tuhannya. Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepada sahabatnya itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.

Tatkala keadaan kekejaman orang-orang musynikin Quraisy terhadap kaum Muslimin yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di rumah Abu Bakar R.A. untuk mencari jalan keluar daripada kesulitan yang sedang dihadapi oleh pihak kaum Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W. menjelaskan kepada Abu Bakar R.A. bahawa Allah S.W.T. telah memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke Madinah serta meminta Abu Bakar R.A. supaya menemaninya dalam peristiwa hijrah tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Abu Bakar R.A. menyambut permintaan Rasulullah S.A.W.

Dari pintu belakang rumah Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W. bersama-sama Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi di gua yang diberi nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat kritis, Abu Bakar R.A. diserang rasa kegelisahan dan cemas Karena khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang bensembunyi, maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah Taubah yang isinya memuji Abu Bakar Al-Siddiq, sebagai orang kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur. Dalam pada itu Rasulullah S.A.W. pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh Karenanya Rasul berkata, "Apakah yang menggelisahkanmu, bukankah Allah menemani kita?

Kemudian Rasulullah S.A.W., diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan kebimbangan Abu Bakar, "Kiranya mereka masuk juga ke dalam gua ini kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu, ujar Rasul sambil menunjukkan ke belakang mereka. Abu Bakar R.A. pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di dalam gua itu bukanlah Karena takutkan nyawanya akan diragut oleh pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa baginda Rasul. Beliau pernah berkata, "Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang akan hancur ialah satu cita-cita yang suci murni. Yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tegak pula ialah kezaliman.

Ucapan antara dua orang sahabat tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al Quran dalam Surah Al Baqarah ayat 40: "Kalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, Di kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar): Jangan engkau berdukacita; sesungguhnya Tuhan bersama kita. Tuhan menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang yang kafir itu paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana.

Demikian satu lagi keistimewaan Abu Bakar AL Siddiq sebagai seorang sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam. Abu Bakar R.A. tidak bercerai jauh dengan baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan seluruh kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk kepentingan penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah tergolong orang yang paling murah hati dan dermawan sekali.

Dalam Perang Tabuk misalnya, Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar R.A. membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata kepadanya:

"Hal sahabatku yang budiman, kalau sudah semua harta bendamu kau korbankan apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?

Pertanyaan Rasulullah S.A.W. itu dijawab oleh Abu Bakar Al-Siddiq dengan tenang sambil tersenyum, ujarnya. "Saya tinggalkan buat mereka Allah dan RasulNya.

Demikianlah kehebatan jiwa Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya Agama Islam itu adalah lantaran hanta benda Siti Khadijah dan juga Abu Bakar Al-Siddiq. Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya iman seluruh ummat ditimbang bersama iman Abu Bakar R.A. maka berat lagi iman Abu Bakar R.A. Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya yang telah ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab Rasulullah s.a.w

Pada suatu ketika di saat Rasulullah membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan... Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu, kenana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksud dalam isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Abu Bakar R.A. di- banding dengan para sahabat yang lain Karena beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir dekat.

Keunggulan beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di kala mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar Saiyidina Umar Al Khattab sendiri telah diselubungi kekacauan fikiran dan tampil ke muka umum sambil mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani mengatakan baginda telah wafat. Ujar Umar r.a., "Rasulullah tidak wafat, dia hanya pergi menghadap Allah sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian pulang semula kepada kaumnya setelah diheboh-hebohkan wafatnya.

Ketika kegawatan itu berlaku Abu Bakar sedang berada di suatu kampung Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Di sana beliau dapati ramai orang sedang benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al Khattab tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Abu Bakar terus ke rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau dapati tubuh Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah dan mengucupkannya, sambil benkata, "Wahai, betapa cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika mati! Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada yang keras:

"Wahai kaum Muslimin! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati. Seraya menyambung membacakan sepotong ayat dari Al Qur'an:

"Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu berundur ke belakang. Sesiapa yang surut ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.

Sejurus sahaja mendengar ayat itu, Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah hingga barulah beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Kaum Muslimin tentunya telah pernah dengar ayat ini sebelumnya, Karena ayat itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami oleh Abu Bakar R.A. Ini jelas membuktikan kecerdasan Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami Islam.

Ketika Rasulullah S.A.W. wafat, baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang siapa yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat Islam. Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin dengan suara ramai memilih Saiydina Abu Bakar Al-Siddiq sebagai Khalifah setelah namanya itu dicalunkan oleh Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah tepat sekali Karena pada pandangan kaum Muslimin memang beliaulah yang paling layak sekali memegang kedudukan itu memandangkan kelebihan-kelebihannya dari para sahabat yang lain. Apatah lagi beliaulah yang pernah ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala baginda sedang uzur.

Setelah dipilih oleh sebahagian besar ummat ketika itu Abu Bakar Al-Siddiq pun memberikan ucapannya yang terkenal yang antara lainnya baginda berkata:

"Wahai sekelian ummat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika pemerintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat pada sisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat di antara kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus mengambil hak orang lain yang berada di sisi nya, untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu sekelian tak harus lagi patuh kepadaku.

Aku dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. sungguh aku tidak dapat memperkenankannya, Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia wahyu dari Tuhan, Karena itu baginda terpelihara dari kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorangpun juga di antara kamu.

Ini adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh rakyat jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia barat dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi manifesto politiknya. Baginda hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan. Adalah diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang memanggilnya, "Ya Khalifah Allah! Baginda dengan segera memintas cakap orang itu dengan katanya:

"Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah RasulNya!

Adalah diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya yaitu sehari setelah baginda terpilih sebagai Khalifah, Abu Bakar R.A. kelihatan membawa barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu mendekati baginda, di antaranya Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar itu mendekati baginda seraya berkata, "Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya, "Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku? Demikian sedihnya nasib yang menimpa Abu Bakar R.A. sebab walaupun kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi ketetapan untuk bagi seseorang kepala pemenintah Islam memperolehi gaji dari harta kerajaan.

Keadaan ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan tunjangan secukupnya buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan usaha perniagaannya Karena hendak memusatkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam baginda hanya menerima peruntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun yaitu kira-kira lebih kurang 1,200 dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum wafatnya baginda telah memerntahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.

Kebijaksanaan Abu Bakar R.A. juga ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak dipisahkan oleh jurang-jurang perbezaan yang jauh agar tidak lahir satu golongan yang mendapat kedudukan yang lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain. Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar keperluan-keperluan asasi buat diri dan keluarganya.

Sebelum baginda wafat, kepada Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah mewasiatkan agar jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda pulang ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim bala tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang sedang bertempur di Iraq itu. Abu Bakar R.A. tidak lupa mengingatkan Saiyidina Umar R.A. apa yang dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah baginda yang suci itu tidak mengabaikannya dan melaksanakan kewajipan biarpun yang demikian itu amat berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:

"Dengarlah hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahari terbit pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala hantuan kepada Al Muthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besarnya dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah melihat apa yang telah ku lakukan tatkala Rasulullah wafat sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah ini telah jadi lautan api.

Dalam masa pemerintahannya yang singkat Abu Bakar Al-Siddiq yang memerintah hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan asas pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh dan kuat setelah berjaya mengatasi berbagai macam masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembaran-lembaran yang abadi.

Sungguh kehidupan Abu Bakar Al-Siddiq adalah penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum Muslimin dan bagi memelihara keagungan Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri riwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian daripada negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid Madinah. Semoga riwayat serta penjuangan baginda menjadi contoh ibadat yang murni bagi sekelian kaum Muslimin.
Lanjutkan Membaca ...

Jembatan KUKAR ~ Kutai Kartanegara ~ Runtuh

Jembatan yang menghubungkan Kutai dan Karta Negara (KUKAR) ini runtuh, Pada tanggal 26 November 2011 pukul 16.20 WITA. Jembatan yang melintasi sungai Mahakam ini menelan Puluhan kendaraan yang berada di atas jalan jembatan tersebut. Dilaporkan 4 orang tewas dan puluhan luka-luka akibat peristiwa ini. Penyebab runtuhnya jembatan ini ditengarai akibat adanya perbaikan pada saat jembatan dalam situasi ramai. Jembatan yang dibangun sekitar 11 tahun lalu ini sedang dalam perbaikan dengan pengenduran dan pengencangan baut. Runtuhnya jembatan diperkirakan hanya sebentar tak lebih dari 30 detik. Kesalahan fatal tersebut diakibatkan karena arus kendaraan tidak dialihkan pada saat terjadinya perbaikan jembatan Sehingga ketika jembatan ambruk, banyak kendaraan bermotor yang ikut tercebur ke dalam Sungai Mahakam. Pada pertengahan Februari 2011, jembatan ini sudah mengalami pergeseran sekitar 15 cm ke arah dalam sehingga saat itu masyarakat mengkhawatirkan akan ambruk.

Sejauh ini belum ada kepastian jumlah sepeda motor dan mobil yang ikut terjatuh ke Sungai Mahakam. Pasalnya, belum ada petugas yang dapat dihubungi. Namun, Tim SAR sudah berada di lokasi untuk mencari para korban.

Dengan ambruknya jembatan Kukar tersebut, masyarakat terpaksa memutar cukup jauh, dan memakan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai dan melintasi sungai mahakam dengan menggunakan jembatan Mahakam yang usianya cukup tua dan dibangun pada masa pemerintahan Soeharto. Meski jembatan tersebut agak kecil dan karena tidak ada alternatif yang bisa dilalui lagi, terpaksa masyarakat harus melewati jembatan ini.

Berdasarkan data wikipedia, Jembatan Kutai Kartanegara adalah jembatan yang melintas di atas sungai Mahakam dan merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Bentang bebasnya, atau area yang tergantung tanpa penyangga, mencapai 270 meter, dari total panjang jembatan yang mencapai 710 meter.

Jembatan ini merupakan sarana penghubung antara Kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju ke Kota Samarinda. Jembatan ini dibangun menyerupai Jembatan Golden Gate yang terdapat di San Fransisco.

Jembatan Kartanegara merupakan jembatan kedua yang dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah Jembatan Mahakam di Samarinda dan dikenal sebagai Golden Gate-nya Kalimantan karena menyerupai jembatan di San Fransisco, Amerika Serikat. Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1995 dan selesai pada 2001 dengan kontraktor PT Hutama Karya yang menangani proyek pembangunan jembatan tersebut.

Jembatan ini juga merupakan akses menuju Samarinda ataupun sebaliknya yang dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit. Melewati Jembatan Kutai Kartanegara ada pemandangan menarik yang dapat disaksikan, yaitu hamparan sebuah pulau kecil yang memisahkan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang, yaitu Pulau Kumala, sebuah pulau yang telah disulap menjadi Kawasan Wisata Rekreasi yang banyak diminati oleh wisatawan Nusantara karena merupakan kawasan rekreasi keluarga yang hampir mirip dengan Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta.

Jembatan KUKAR Dalam Kenangan

Lanjutkan Membaca ...

BPOM >> BKO Pada 22 Kopi Kemasan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM / Badan POM) menemukan kandungan BKO (Bahan Kimia Obat) berupa sildenafil dan tadalafil pada 22 merk kopi kemasan. Pada prinsipnya penambahan BKO dalam pangan adalah dilarang dan dapat menyebabkan sakit kepala, muka merah, pusing, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, infark myocard, nyeri dada, denyut cepat (palpitasi), kehilangan potensi seks secara permanen dan kematian.

Dari hasil pengujian sample terhadap 56 produk kopi dalam kemasan, terdapat 22 produk yang mengandung sildenafil dan tadalafil, dan produk tersebut tidak terdaftar BPOM, ujar Kepala BPOM Kustantinah di Jakarta, Jumat (25/11/2011).

"Kopi ini ada yang mengadung bahan kimia obat sildenafil dan tadalafil serta zat aktif Viagra. BKO ini biasanya digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi," Kustatinah menambahkan

"BKO ini termasuk dalam kelompok obat keras dan perlu resep dokter. Kalau pun digunakan harus ada ketentuan yang jelas tentang takaran dan dosisnya," tandasnya.

Menindaklanjuti temuan ini, BPOM mengimbau masyarakat agar mewaspadai dan tidak mengonsumsi kopi yang mengandung bahan kimia obat karena dapat membahayakan kesehatan.

"Kita sudah buat surat edaran pada Balai Besar POM di seluruh Indonesia untuk melakukan operasi pasar. Untuk produk yang sudah ditemukan, kita akan lakukan pemusnahan dan menyampaikan surat rekomendaasi pada Dinas Kesehatan setempat untuk mencabut ijin edar produk kopi tersebut," tandasnya.

Kepada masyarakat diminta tidak membeli dan mengonsumsi produk kopi tersebut. Kemudian bila menemukan produksi atau peredaran kopi mengandung bahan kimia obat tersebut agar melaporkan kepada :
Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM RI di Jakarta,
nomor telepon: 021-4263333 dan 021-32199000 atau
email ulpk@pom.go.id atau
melalui Layanan Informasi Konsumen di Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

22 Merek Kopi Berbahaya

1. 39 Sa Kao 3 in 1 Kopi Mix Plus Ektrak Jahe (Depkes RI PIRT No. 210317594151/Kota Jakarta Utara)  

2. 39 Sa Kao Kopi Mix Ginseng Korea 3 in 1 (PIRT 210317505151/Kota Jakarta Utara)

3. Bel-Bel Kopi Susu Extra (PT. Mandala Cahaya Sentosa/PIRT 610331502001)

4. Black Borneo Platinum Coffee (PT Victoabel Food Industry/P-IRT 6103515401564)

5. Dream Coffee (PT. Mandala Cahaya Sentosa – Sidoarjo/PIRT 6103515271564), ( PT. International Green Natural, P-IRT 6103515271564), PIRT. 6103515271564 Kab. Sidoarjo)

6. Dynamic Coffee/Dynamic Coffee Nusantara/Dynamic Tribulus Coffee (PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411), (PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411), (PT Aimfood Indonesia, PIRT 210360301411), (PT Aimfood Indonesia, PIRT 210360301309), PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411)

7. Golden Life (P-IRT 6103515121399 Kab. Sidoarjo)

8. Good Coffee Premium/Good Coffee (PT. Putra Gudti Indonesia PIRT No. 6103271011147 Kota Bogor), (CV. Bin Halim untuk PT. Putra PIRT. 6103271011147, Kota Bogor), (PT. Putra Gudti Indonesia, PIRT No. 6103271011147, Kota Bogor)

9. Herba Max Coffee (Distributor PT Solusky P-IRT 6103515311564 Kab. Sidoarjo)

10. Jahe Mix Barokah (PIRT 213317518151 Kota Jakarta Utara)

11. Jomoon Instan Coffee (Green Nirmala PIRT. 6103515131399 Kab. Sidoarjo), (PT. Green Nirmala - Sidoarjo PIRT. 610351531399 Kab. Sidoarjo)

12. Joss-Fly Coffee Plus Panax Ginseng (PT. Mandala Cahaya Sentosa PIRT 610331502001 Kab. Grobogan)

13. Kopi Cleng - Sehat, Nikmat, Berstamina (CV. Jamu Moro Sehat, Banjarnegara, Depkes RI TR 147/11-10/2005)

14. Kopi KPH/Kopi Kuat (PIRT. 6103515331564 Kab. Sidoarjo)

15. Kopi Mahabbah (Depkes RI PIRT No. 6103515321564 Kab. Sidoarjo), PT. Mandala CS P-IRT No 6103515321564 Kab. Sidoarjo), (Mahabbah Group P-IRT No 6103515321564 Kab. Sidoarjo), (Mahabbah Group PIRT No. 6103515321564 Kab. Sidoarjo),

16. Kopi Pasutri (Al Jazira Herbal, Bekasi PIRT 610351533564 Kab. Sidoarjo).

17. Kopi Strong 234 (PT. Hamiegi Bandung PIRT. 81032730203771 Kota Bandung)

18. Maca-Tekh (PT. Wootekh Jakarta Indonesia PIRT 210360303411)

19. Matador Coffee

20. Mawaddah Coffee (PIRT. 212320207429 Kab. Sukabumi)

21. On Coffee

22. Premium Energy Coffee (Dinkes PIRT No. 210360314309 Kab. Tangerang).

Download file Pdf dari BPOM >> DISINI <<
Lanjutkan Membaca ...