HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

7 Des 2011

Sejarah Imam Ali | Lingkungan Keluarga

Imam Ali dan keluarganya adalah Lingkungan terdekat dan pembela utama Rasulullah SAW. Abu Thalib yang merupakan ayah dari Ali dan Ja'far. Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab, ibunda Imam Ali sangat Rasulullah cintai termasuk yang paling dini memeluk agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri. Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) kakek dari Imam Ali yang juga kakek dari Muhammad SAW adalah seorang yang mempunyai type cemerlang. Sukar ditemukan bandingannya. Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasabesarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Demikian sekilas tentang isi BAB II dari Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA Karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini yang dimuat dalam web Sahabat-nabi.blogspot.com. Berikut , silahkan Simak Keseluruhan isi dari BAB III buku tersebut dibawah.

Bab II : Lingkungan Keluarga


Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali RA, yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad SAW Jadi, Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali RA sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah SAW maupun Imam Ali RA, dua-duanya termasuk keluarga Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan "Bani Abdul Mutthalib".

Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin terkemuka Bani Hasyim.

Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan Abdullah. Nabi Muhammad SAW, manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenapummat manusia. Sedang Imam Ali RA, seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.

Imam Ali RA mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi Muhammad SAW dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului saudara-saudaranya.

Ibunda


Nama lengkap ibunda Imam Ali RA ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.

Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad SAW bersembahyang untuk jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad SAW turun sendiri ke liang lahad dan setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping jenazahnya.

Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah, kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!"

"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad SAW dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."

Ayahanda


Ayahanda Imam Ali RA adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai, dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar, kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.

Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri ia memikul beban membela Nabi Muhammad SAW dari tantangantantangan dan perlawanan orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga atau kerabat Nabi Muhammad SAW yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad SAW dari segala bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya yang tak terpatahkan.

Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali RA, secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah SAW Diamatinya putera yang masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW Diperhatikan pula puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya.

Malahan Imam Ali RA setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku bertekad hendak mengikuti jejaknya!"

Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata: "Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!"

Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad SAW yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!"

Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys: "…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu (Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan.

Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur binasa karena dzalim...!

"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar, dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati…

Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…! "Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!

"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia datang membawa missi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakanakan dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terluntalunta, dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya, membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!

"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya."

"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!"

"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan menirnpanya…"

Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad SAW dan sejauh mana pandangan dan fikirannya terhadap Islam.

Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke jalan yang benar.

Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad SAW., tetapi juga mengenal pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanak-kanak sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad SAW. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Hatinya pedih dan kesal menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu, yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah SAW. Ketika orang-orang kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi Muhammad SAW., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah SAW., maka tokoh-tokoh mereka mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.

Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit).

Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan.

Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar. Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.

Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara syair-syair tersebut :
"Sadarlah kalian, sadarlah,
sebelum banyak liang digali orang,
dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.
Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq
untuk memutuskan tali persahabatan
dan persaudaraan dengan kita.
Demi Tuhan Penguasa Ka'bah,
Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya
yang dirajut orang-orana penentang zaman,
sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,
dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!"

Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar-benar keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera bungsunya, Imam Ali RA, bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali RA!

Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad SAW. bukan disebabkan karena beliau putera saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad SAW. seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri, Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.

Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada suatu hari Rasul Allah SAW. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah."

Setelah mendengar keterangan Rasul Allah SAW., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur.

Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad, hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia akan kuserahkan kepada kalian!"

Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi Muhammad SAW. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung pada dinding Ka'bah.

Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad SAW., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW. Tokoh-tokoh kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.

Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah SWT tentang benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah SAW. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan datang dari seorang famili yang harus diikuti.

Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata: "Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…"

Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi Muhammad SAW., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab: "Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah."

Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah SAW. kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah SAW. segera menyampaikan persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah SAW. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad SAW. sedang sujud bermunajat kehadirat Allah SWT

Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad SAW., ia berangkat mendatangi gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad SAW. Setiba di depan gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu.

Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi
Muhammad SAW. akan datang kembali bersama pamannya.

Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya dengan pedang ini!" Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd SAW. dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan sekali kekerdilan gerombolan itu.

Dalam membela dan melindungi Rasul Allah SAW. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya sendiri:

Janganlah kalian sulut api pengobar perang,
Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!
Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan
Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.
Kenalkah kalian siapa Hasyim,
Ksatria yang pernah berpesan,
Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?
Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,
Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang!
Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,
Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya,
Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,
Karena ia manusia kesayanganku sendiri,
Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,
Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!
Hai Abu Ya'la,
Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,
Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,
Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,
Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,
Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,
Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan,
Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan,
Katakanlah: Muhammad bukan si tukang sihir!


DATUKANDA (KAKEK)


Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.

Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi.

"Galilah barrah!".


Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya.
Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi.


Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur itu merupakan kurnia Allah SWT. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya.

Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang. Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di pegunungan!"

Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasabesarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku dating kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil."

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.

Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan, bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.

Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung sembahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana dan mantapnya doa seperti itu.

Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burung-burung Ababil, Allah SWT. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.
Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan. Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa, Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin, sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang sangat polos, indah dan murni.

Melalui Abdul Mutthalib Allah SWT. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib.

Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah, menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan."

Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap langkah yang berhasil ditempuhnya.

Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad SAW., segera diemban dan dibawa masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:
"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku,
seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,
selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.
Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa
sampai kusaksikan masa dewasanya."

Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena itu ia mencintai Nabi Muhammad SAW. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada siapapun.

Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik, kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad SAW., sambil berkata: "Hai Abu Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baik-baik.

Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!"

Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya.

Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd SAW., juga datukanda Imam Ali RA. Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali RA. sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq utama dan darah mulia.

Lanjutkan Membaca ...

Sejarah Imam Ali | Masa Asuhan

Ketika di bawah asuhan Rasul Allah SAW, Imam Ali Ra pernah diberi julukan "Abu Turab", yang artinya "Si Tanah". Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali RA Ia sangat bangga bila dipanggil dengan nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali RA Mereka mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah SAW merupakan buktitentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya. Ketika Imam Ali RA menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat. Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.

Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad SAW. menyadari betapa beratnya beban yang dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Dengan tujuan untuk meringankan beban Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Nabi Muhammad SAW berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun akan mengambil seorang." Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad SAW. Setetah melalui perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib RA diasuh oleh Nabi Muhammad SAW.

Bab I : Masa Asuhan


Dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal tokok-tokoh pembela kebenaran dan keadilan: yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, tanpa pamrih dan bersedia mengorbankan diri untuk membela keyakinan yang dirasa benar dan adil.

Juga dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal orang-orang yang senantiasa memusuhi kebenaran dan keadilan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dan hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperdulikan halal atau haramnya sesuatu.

Dua macam sifat atau watak seperti di atas, tidak mungkin mendadak lahir setelah dewasa saja. Sifat tersebut lahir melalui proses. Hal ini juga berlaku bagi Imam Ali RA

Untuk mengetahui bagaimana proses Imam Ali bin Abi Thalib RA menjadi seorang pahlawan Islam yang tangguh, hingga dijadikan suri-tauladan oleh para pejuang Islam, marilah kita ikuti sejak kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan kemudian setelah dewasa.

Putera Ka'bah


Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di tangan Allah SWT

Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan tercapai, Allah SWT yang menentukan.

Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali RA? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu Thalib atau di tempat lain?

Tentang tempat kelahiran Imam Ali RA, A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman 483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali, bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.

Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan tawafnya.

Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap: "Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu untuk dimudahkan kelahirannya".

Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra keempat dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya saja.

Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad SAW. Bayi ini saudara misan beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke rumah Abu Thalib.

Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia besar yang dilimpahkan Allah SWT kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali" berarti "luhur".

Nama dan Gelarnya


Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama "Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti "Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu, yang juga berarti "Singa".

Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang
Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian ibunya sendiri.

Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara Imam Ali RA melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali RA segera menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama Haidarah oleh ibuku!"

Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib.

Ketika di bawah asuhan Rasul Allah SAW., Imam Ali RA pernah diberi julukan "Abu Turab", yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya Imam Ali RA di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi Muhammad SAW. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad SAW. membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!"

Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali RA Ia sangat bangga bila dipanggil dengan nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali RA Mereka mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah SAW. merupakan buktitentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya.

Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali RA juga terkenal dengan panggilan Abul Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di atas; Imam Ali RA banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah "Imam".

Di bawah Naungan Wahyu


Ketika Imam Ali RA menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat. Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.

Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad SAW. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah binti Khuwalid RA Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan penghidupannya.

Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad SAW. menyadari betapa beratnya beban yang dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya.

Nabi Muhammad SAW. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau, adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad SAW berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun akan mengambil seorang."

Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad SAW. Setetah melalui perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib RA diasuh oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejak itu Imam Ali RA diasuh oleh Nabi Muhammad SAW. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti Khuwailid RA Bagi Imam Ali RA sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad SAW. dengan Sitti Khadijah binti Khuwalid RA, juga Abu Thalib.

Bagi Nabi Muhammad SAW., Imam Ali RA bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad SAW. sering mengajak Imam Ali RA menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada kalanya Imam Ali RA diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan Allah SWT

Sejak usia muda Imam Ali RA sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.

Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah SAW. dalam
kehidupannya. Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali RA dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam kehidupan Imam Ali RA adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad SAW. menerima wahyu pertama dari Allah SWT Imam Ali RA mendapat kesempatan yang paling baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad SAW. sedang dipersiapkan Allah SWT untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.

Imam Ali RA menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah ketika itu. Imam Ali RA menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata kepala sendiri Imam Ali RA menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi Muhammad SAW.

Semua warisan yang telah diterima Imam Ali RA dari para orangtuanya, kini berkembang mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali RA dengan Allah SWT.

Masa Kanak-kanak



Tentang usia Imam Ali r.a. ketika Rasul Allah s.a.w. mulai melakukan da'wah risalah, terdapat riwayat yang berlainan. Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. pada waktu itu masih berusia 10 tahun. Sementara ahli sejarah lain mengatakan, Imam Ali r.a. ketika itu telah berusia 13 tahun. Yang terakhir ini antara lain ditegaskan oleh Syeikh Abul Qasyim Al Balakhiy.

Masalah usia Imam Ali r.a. ini banyak dipersoalkan oleh penulis sejarah, karena ada kaitannya dengan penilaian: apakah Imam Ali memeluk agama Islam di masa kanak-kanak ataukah setelah akil baligh. Tampaknya riwayat yang lebih kuat mengatakan bahwa Imam Ali r.a. telah berusia 13 tahun pada waktu Rasul Allah s.a.w. memulai da'wahnya.

Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w. menerima tugas da'wah Ilahiyah, Imam Ali r.a. menyambutnya tanpa bimbang dan ragu. Hal itu dimungkinkan karena lama sebelumnya ia telah langsung hidup di bawah naungan Rasul Allah s.a.w. Bila ada hal yang ketika itu tidak mudah difahami Imam Ali r.a. hanyalah mengenai cara-cara pelaksanaan risalah dan beban tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai orang beriman.

Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya melakukan da'wah secara terbuka dan terang-terangan, Imam Ali r.a. ikut ambil bagian sebagai pembantu. Imam Ali r.a. antara lain menyampaikan seruan-seruan Rasul Allah s.a.w. kepada sejumlah orang tertentu dikalangan anggota-anggota keluarganya.

Tentang hal yang terakhir ini, ibnu Hisyam dalam riwayatnya mengemukakan, bahwa Imam Ali r.a. pernah mengatakan dengan jelas, bahwa Rasul Allah s.a.w. secara rahasia memberi tahu kepada siapa saja yang mau menerima dari kalangan anggota-anggota keluarga dan familinya, mengenai nikmat kenabian yang dilimpahkan Allah kepada beliau dan kepada umat manusia melalui beliau.

Untuk itu Rasul Allah s.a.w. menyampaikan da'wahnya lebih dahulu kepada anggota-anggota keluarga yang paling dekat, yaitu isterinya sendiri Sitti Khadijah r.a. dan saudara misan asuhannya, Imam Ali r.a. Setelah kepada dua orang itu, barulah kepada Zaid bin Haritsah, putera angkatnya.

Imam Ali r.a. sendiri sebagai orang yang paling dini melakukan tugas da'wah membantu Rasul Allah s.a.w. pernah menerangkan, bahwa pada masa itu tidak ada satu rumah pun yang menghimpun anggota-anggota keluarga dalam agama Islam, selain rumah-tangga Rasul Allah s.a.w. dan Khadijah r.a. "Dan akulah orang ketiga dalam rumah itu. Aku menyaksikan langsung cahaya wahyu dan risalah serta mencium semerbaknya bau kenabian" demikian kata Imam Ali r.a.

Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Ali r.a., melalui sebuah riwayat memberitahukan kapan datuknya mulai memeluk agama Islam. Ia mengatakan: "Ia berimankepada Allah dan Rasul-Nya tiga tahun lebih dulu sebelum orang lain."



Masa Remaja



Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w., tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.

Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut: "Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."

"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40 orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makandan minum sebanyak yang kuhidangkan."

"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"

"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku?"

"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada AbuThalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"

Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".

Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin, tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia hidup damai di bawah pemerintahan Islam.

Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.


Artikel Sebelumnaya :
Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib R.A. >> MUQADiMAH

Lanjutkan Membaca ...

Sejarah Imam Ali | Daftar Isi dan Muqaddimah Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib R.A.

Sejarah kehidupan Ali Bin Abi Thalib R.A. membuktikan karakter sebagai orang pertama yang mewarisi banyak keagungan yang kita kenal dari Rasulullah SAW. Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya diperkuat oleh keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah SAW dan ketaqwaannya pada Allah SWT. Kepribadian dan watak Imam Ali Ra mengembangkan pendapat ekstrim tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali RA akhirnya secara sadar atau tidak sadar golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah SAW . Sebaliknya yang membenci Imam Ali r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya. Mulai Artikel ini, secara bertahap saya akan dokumentasikan kisah sejarah beliau dalam blog ini.

Basis sejarah ini adalah berdasar pada karya berikut ini :



Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA

Oleh
H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit:
Lembaga Penyelidikan Islam
Jl. Blora 29, Jakarta
Oktober 1981

Sumber Web : Sahabat-Nabi.Blogspot.com

Sejarah Imam Ali: Daftar Isi



1. M u q a d d i m a h-
2. Bab I : Masa Asuhan-
3. Bab II : Lingkungan Keluarga-
4. Bab III : Rumah Tangga Serasi-
5. Bab IV : Peranan Kepahlawanan-
6. Bab IV-1 : Perang Badr-
7. Bab IV-2 : Perang Uhud-
8. Bab IV-3 : Perang Ahzab (Kandhaq)-
9. Bab IV-4 : Perang Khaibar-
10. Bab IV-5 : Perang Hunain2
11. Bab V : Wafatnya Rasul Allah S.A.W.-
12. Bab VI : Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq-
13. Bab VII : Khalifah Umar Ibnul Khattab R.A.-
14. Bab VIII : Khalifah Utsman Bin Affan R.A.-
15. Bab IX : Delapan Hari Tanpa Khalifah-
16. Bab X : Benih-Benih Peperangan Saudara-
17. Bab XI : Perang Shiffin-
18. Bab XII : Gerakan Khawarij-
19. Bab XIII : Wafatnya Imam Ali R.A.-
20. Bab XIV : Keutamaan Imam Ali R.A.-
21. Bab XV : Pintu Ilmu-
22. Sebuah Kenangan-
23. Penutup-


M u q a d d i m a h-



Semoga artikel ini bisa menjadi hikmah dan membawa manfaat buat saudara-saudara semua seiman. Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir, sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid, bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah. Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.

Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda itu. Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hamper secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu terdekat Rasul Allah s.a.w. dan telah banyak membantu memajukan budaya islam serta penyebaran ajaran / dalil dari kitab suci Al-qur'an Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w. melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan
merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam. Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a. sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik.

Peringatan itu sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka. Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru: "Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan
Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk, bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai "Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan, bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan, direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a. identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya, peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah kenangan.

Lanjutkan Membaca ...

6 Des 2011

Universitas Illinois Mendaftarkan Nama Domain .XXX

Universitas Illinois Mendaftarkan Nama Domain .XXX , berita unik ini dilakukan oleh para pengurus universitas yang berlokasi di Chicago Amerika serikat ini. Mereka berinisiatif dan beralasan hal ini dilakukan untuk mencegah penggunaan nama alamat domain .xxx digunakan oleh situs-situs porno

Berdasar laporan dari Chicago Tribune, Universitas Northwestern, Universitas Chicago, Chicago State University dan Illinois State University , semuanya menyatakan mereka telah membeli nama-nama domain .xxx termasuk dengan nama universitas mereka pada masa-masa awal pendaftaran domain untuk mencegah para pelaku pornography dari penggunaan alamat web tersebut sebelum tersedia di masyarakat.

"Kami tidak memiliki niat untuk menciptakan sebuah situs yang akan berada pada domain tersebut," kata juru bicara Alan Cubbage Northwestern, yang mengatakan pembelian merupakan cara untuk "melindungi nama baik Northwestern."

Juru bicara Universitas Chicago State, Debora Douglas mengatakan csu.xxx dan chicagostateuniversity.xxx didaftarkan oleh sekolah sebagai "manuver defensif."

"Saya pikir Anda dapat melihat fenomena dan angka 'Girls Gone Wild' [situs Webdewasa] mungkin membidik demografis usia perguruan tinggi," katanya. "Kita perlu melindungi integritas dari siswa kami dan merek kami Porno dan parasit, Anda dapat menempatkan mereka dalam kalimat yang sama.."



Sumber : http://www.upi.com/Odd_News/2011/12/06/Schools-register-xxx-domain-names/UPI-91781323203935/#ixzz1fp7NZUyx
Lanjutkan Membaca ...

Hubungan SHALAWAT dan SHALAT.

Secara bahasa shalat berasal dari kata sha-la-ya yang berdasarkan kaidah i'lal (lafadz yang mengandung huruf 'illat) berubah menjadi sha-laa. Sha-laa artinya adalah menghubungkan, berarti shalat adalah segala aktifitas manusia yang setiap detak jantungnya dan hembusan nafasnya selalu terhubung (online) kepada ALLAH dengan TALI Rasul-Nya.

PEMBAHASAN

Apa yang dimaksud terhubung disini adalah DZIKR (online),

Al Quran Surat Tha-Ha(20):14,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilaah (yang hak) selain Aku, maka Ibadahlah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk Dzikr kepada-Ku.

Dengan selalu online kepada ALLAH maka dapat dipastikan bahwa manusia akan terhindar dari berbuat keji dan munkar.

Al Quran Surat Al-Ankabut(29):45,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Konektivitas (Dzikrullah) memerlukan TALI PENGHUBUNG. Tali itu dalam surat 2:256 di sebut dengan istilah "Al-Urwah Al-Wutsqa" dan dalam surat 3:103, disebut dengan istilah "Hablillah".

Al Quran Surat Al Baqarah (2):255,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

coba kita urai,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ,

- Tak ada KEBENCIAN dalam AL-DIEN.
- ikroha (إِكْرَاهَ) diartikan kebencian karena merujuk kepada 9:33, 61:9
- Kariha (كْرَهَ) dalam ayat 9:33 dan 61:9 artinya BENCI.
- Kebencian kepada Dien adalah bentuk KEMUSYRIKAN (baca 9:33 dan 61:9 nya ya).
- Bentuk kalimat ini berupa khobariyah (kalimat berita) namun bermakna AMR (perintah).
- Perintah bagi siapa saja yang IMAN untuk menghapus kemusyrikan dari muka bumi.

قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

- Sungguh telah DIJELASKAN apa itu RUSYDU dan apa itu GHAYYI.
- Cara menghapuskan kemusyrikan dari muka bumi adalah dengan DAKWAH dalam rangka menjelaskan kepada manusia APA itu RUSYDU dan apa itu GHAYYI.
- sekali lagi ini menunjukkan bahwa ada kaitan erat dengan 9:33 dan 61:9.
- dalam 9:33 dan 61:9 dijelaskan misi diutusnya Rasul adalah untuk memenangkan Dien Islam sehingga tak ada lagi kemusyrikan di bumi ini (kroscek dengan 8:39).
- Apa itu Rusydu dan apa itu Ghayyi?

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ

Maka, siapa yang KAFIR kepada THAGHUT dan IMAN kpd ALLAH.

- Nah, disini jawabannya, RUSYDU itu adalah MENGKAFIRKAN THAGHUT dan MENGIMANI ALLAH, sebaliknya GHAYYI adalah MENGIMANI THAGHUT dan MENGKAFIRKAN ALLAH.
- dua sisi ini otomatis, artinya jika kita tak beriman kepada ALLAH maka otomatis kita IMAN kepada THAGHUT dan sebaliknya (sadar atau tidak sadar).
- Jika kita mengaku beriman kepada ALLAH, tapi disisi lain kita tidak mengkafirkan THOGHUT maka itulah yang disebut dengan MUSYRIK (IKROHA FID DIEN).
- THAGHUT adalah segala sesuatu yang menetapkan HUKUM selain hukum ALLAH (4:60-63), THAGHUT juga adalah PEMIMPIN (2:256).

فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


  • Maka sungguh ia telah berpegang kepada Al-'Urwah Al-Wutsqa.
  • Yang tdk akan putus.
  • dan Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.


Inilah inti pembahasan, orang yang berpegang teguh kepada TALI PENGHUBUNG sebagai WASILAH untuk DZIKRULLAH (aktivitas sholat) adalah:

  • Mereka yang komitmen untuk menegakkan Al-Dien Al-Haq, seperti apa yang telah dilakukan oleh Rasul2 Allah (9:33 dan 61:9)
  • Tujuan akhir dari penegakkan Al-Dien Al-Haq adalah agar tidak ada lagi kemusyrikan (Tanha 'Anil Fakhsya wal Munkar, nyambung dengan tujuan inti Sholat dalam surat An-Nisa diatas).


Demikian teoritisnya dari sudut pandang Al-'UrwahAl-Wutsqa (2:255), bagaimana kalau kita melihat dari sudut pandang Hablillah (3:103). Mari kita lanjut kepada praktisnya dulu dari Al-Urwah Al-Wutsqa...!

Telah dijelaskan diatas, bahwa Al-'Urwah Al-Wutsqa kaitannya adalah kepada penegakkan Al-Dien Al-Haq seperti misinya para Rasul2 Allah (9:33 dan 61:9), untuk mengetahui bagaimana praktisnya mari kita ungkap saja ayatnya.

‎Al Quran Surat Surat At-Taubah(9):33,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Al Quran Surat As-Shaaf(61):9,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Mukjizat Al-Quran, ternyata 2 ayat ini sama persis, gak ada secuil hurufpun yang berbeda. Ada apa ini? Ternyata ini menunjukkan praktisnya proses berpegang teguh kepada Al-'Urwah Al-Wutsqa (aktivitas sholat) itu sendiri, coba perhatikan:

Al-Taubah (9) = Taubat = Kembali = Baro'ah (nama lainnya).

Al-Shaff (61) = Barisan = Jama'ah.

Inilah praktek konkretnya, dimulai dengan bertaubat kepada Allah kemudian berpegang teguh kepada-Nya dalam barisan orang2 yang mau menegakkan Dien-Nya.

Taubah (kembali mengikatkan diri kepada Allah)= Baro'ah (berlepas diri dari ikatan kepada selain-Nya.

Al-Shaff = Barisan = Jama'ah, sebagai syarat pokok untuk kita berpegang teguh kepada HABLILLAH. Subhanallah, ternyata nyambung dengan HABLILLAH (yang tadi kita singgung diatas).

‎Al Quran Surat Ali-Imron(3):103,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu kepada tali Allah (Hablillah) secara berjama'ah (جَمِيعًا), dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka (masa sebelum berjama'ah), lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya (dengan memasukkannya kepada jama'ah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Redaksi ayat yang sangat indah, bikin kulit merinding kalau kita baca dengan qalbu yang salim.

Coba kita urai...

وَاعْتَصِمُوا = berpeganglah kalian semua,

بِحَبْلِ اللَّهِ = kepada HABLILLAH (TALI ALLAH)

- kaitkan dengan 2:255 hablillah sama dengan al-'Urwah al-Wutsqa,
- kaitkan juga dengan Al-Taubah (taubat, kembali kepada ikatan dengan Allah)

جَمِيعًا = secara ber-jama'ah (bersama2 dalam satu barisan)

- kaitkan dengan Al-Shaff (barisan)

وَلا تَفَرَّقُوا = dan jangan berpecah belah (tafarruq).

- kaitkan dengan 30:30-32, tafarruq sama dengan musyrik.
- musyrik adalah target yang akan dihilangkan dengan aktivitas penegakkan Dien ini (9:33 dan 61:9 dikaitkan dengan 8:39).

"dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka (masa sebelum berjama'ah), lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya (dengan memasukkannya kepada jama'ah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

Dalam jama'ah inilah kita sesama orang yang komit untuk melaksanakan 9:33 dan 61:9 (aktifitas berpegang kpd TALI ALLAH atau SHOLAT) kita dikatakan sebagai SAUDARA. sekali lagi ini menunjukkan mukjizat Al-Quran, bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan kepingan puzzle2, ternyata ini nyambung dengan inti surat Al-Shaff yaitu ayat 4.

Al Quran Surat As-Shaff(61):4,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Bangunan yang tersusun kokoh = Saudara.

Kesimpulan,

Sholat (dalam bentuk tunggal) atau Sholawat (dalam bentuk jama') adalah aktivitas manusia untuk selalu terhubung kepada Allah. Terhubung kepada Allah dalam artian selalu dalam keadaan dzikrullah. Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk mencegah fakhsya dan munkar berupa kemusyrikan.

Hubungan sudah pasti membutuhkan alat penghubung, alat itulah yang disebut dengan Hablillah atau Al-Urwah Al-Wutsqa. Hablillah atau Al-Urwah Al-Wutsqa adalah kumpulan manusia2 yang telah berlepas diri dari ikatan kepada selain Allah untuk kemudian kembali berpegang kepada ikatan dengan Allah. Mereka berperang dijalan Allah untuk memenangkan Dien Al-Haq sehingga tak ada lagi kemusyrikan di muka bumi ini. Dalam istilah resminya, inilah yang disebut dengan Jama'ah, kelompok manusia2 yang diselamatkan oleh Allah dari api neraka.

Di dalam jama'ah yang program intinya adalah penegakkan Dien Al-Haq sesuai dengan misi diutusnya Rasul2 Allah, manusia2 melaksanakan aktivitas sholatnya kepada Allah.

Al Quran Surat Al Ahzab(33):56,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan Malaikatnya MENGHUBUNGKAN DIRINYA kepada Nabi (dengan menurunkan Dien Al-Haq untuk ditegakkan), Wahai orang-orang yang beriman, HUBUNGKANLAH DIRIMU kepadanya (Nabi, untuk bersama2 menolongnya dalam penegakkan Dien itu), dan tunduk patuh berserah dirilah kamu kepadanya dengan penyerahan diri yang sebenar-benarnya.

Dalam jama'ah itulah aktivitas sholat (pelaksanaan penegakkan Dien) dapat dilakukan dengan khusyu'. Khusyu' artinya fokus. Khusyu' juga diartikan oleh Nabi dengan istilah Ihsan, yaitu sholat seakan2 kita melihat Allah dan Allah melihat kita.

Aktivitas saling melihat ini hanya bisa diwujudkan dalam jama'ah. dimana diantara sesamanya selalu saling mengawasi, saksi menyaksikan, lihat melihat, nasihat menasihati.

Al Quran Surat At-Taubah (9):105,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu (aktivitas sholat), maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (sebagai wujud nyata dari Ihsan), dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

Inilah ujung dari pelaksanaan sholat sebagai mi'rajnya orang2 yang beriman, yaitu dengan penegakkan Dien Islam sehingga tercipta suatu sistem yang akan menjadi bingkai seluruh aktifitas hidup kita. Allah melalui talinya yaitu Rasul dan orang2 yang beriman akan selalu melihat kita dalam setiap gerak langkah kita. Dan kita melalui orang2 yang beriman dan Rasul-Nya datang menghadap kepada Allah dengan penuh ketundukkan.

Saat itulah yang disebut sebagai Hari Qiyamat (Qiyam = tegak, Tegaknya Dien di muka bumi). Dimana wujud Allah akan terlihat nyata dalam kehidupan manusia, Allah nyata MENYAKSIKAN dan nyata MENGESAHKAN aktivitas ibadah kita kepada-Nya.

Inilah akhir dari perjalanan perjuangan penegakkan Dien Al-Haq, Dien Al-Islam.

Al Quran Surat Al Fath(48):28,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien Al-Haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua dien yang lain. Dan cukuplah Allah sebagai SAKSI.


Sumber = Studi Komprehensif Islam
Lanjutkan Membaca ...

Pengintai Tanpa Awak RQ-8A Fire Scout

RQ-8A Fire Scout, adalah Helikopter tanpa awak yang diadopsi dari jenis helikopter ringan Schweizer Model 330SP. Pesawat ini dibuat oleh Northrop Grumman Corporation, sebuah Perusahaan yang CEO nya adalah Wesley G. Bush, untuk kepentingan Angkatan Udara Amerika Serikat. Fire Scout dilengkapi dengan sistem navigasi berbasis GPS dan mampu beroperasi secara otonom. Karena mampu beroperasi secara otonom, pusat kendali dapat mengendalikan tiga helikopter tak berawak ini secara simultan. Sea Scout, kembangan dari helikopter tak berawak ini, bahkan mampu mengangkut rudal udara-darat (air-to-surface missiles) untuk misi pengeboman. Helikopter ini dapat beroperasi selama empat jam lebih dengan jarak 120 mil dari pusat kendali.

RQ-8A Fire Scout digunakan oleh U.S. Navy dalam misi pengintaian, Telaah situasi, Pendukung ketepatan pentargetan baik untuk angkatan Darat, Laut dan Udara.


FOTO DAN VIDEO











Lanjutkan Membaca ...

5 Des 2011

Intisari Sejarah Rasululullah SAW

Sejarah / Sunnah Rasul adalah bukti konkret didalam gerak langkah atau perjalanannya untuk merealisasikan Al-Qur’an yang diamanahkan Allah kepadanya. Darinya ada ke ilmuan bagi manusia tentang bagaimana menerapkan Islam dalam Kehidupan. Artikel ini saya ambil dari salah satu dokumen group facebook Studi Komprehensif Islam.

Fungsi Sejarah

Sebagai Ibroh / Pelajaran, 12/111.

Sebagai Mau’idzah / Nasehat / Pengajaran, 4/58.

Sebagai Nakala / Peringatan, 2/66.

Sebagai Dzikra / Peringatan, 12/109, 47/10.

Sebagai Hudan / Petunjuk, 12/111.

1. Apa tugas Rasul? -> 9/33. 61/9. 48/28 -> Utusan Allah yang membawa Huda dan Dienul Haq untuk dimenangkan mengungguli semua Dien yang lain walaupun musyrik membencinya.

2. Kenapa “Dien” yang haq harus dimenangkan? -> 9/32. 61/8.

3. Langkah apa yang diambil oleh Rasul? ->42/13, “Aqiim-ud-Dien” / Tegakkan Dien.

4. Dien yang mana? -> Dienulhaq / dienullah / dienulislam. 3/19.

  • Hadits Rosul : “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya”.
  • Menegakkan dienulhaq inilah uswah yang hasanah.

5. Siapa figur yang baik bagi seorang mu’min? -> 33/21.

Sejarah perjalanan Rasul dalam rangka menegakkan “Dien” dimulai dari turunnya wahyu pertama yaitu “Iqra” s/d “Al-Yauma”. Perjalanan ini selama 23 tahun, 12 tahun 6 bulan 22 hari adalah fase mekkah dan sisanya adalah fase madinah.
Kondisi Mekkah
  1. Pemerintahan yang berdasarkan ideologi “Aba-ana”, 2/170.
  2. Eksekutif : Pimpinan tertinggi Abu Jahal dengan nama asli Abu Amr bin Hisyam Al-Hakam.
  3. Legislatif : Lembaga tertinggi Dar-un-Nadwah.
  4. Yudikatif : Hukum Jahiliyah, 5/50.
  5. Birokrasi : Masyarakat.
  6. Fungsi Dar-un-Nadwah : Tempat Musyawarah, Tempat Menetapkan Undang-undang, Tempat Mengatur Roda Pemerintahan.
  7. Dasar untuk menetapkan Undang-undang : Hawa Nafsu / Pola Pikir, 5/49.

6. Bagimana keadaan masyarakat Mekkah?, masih adakah masyarakat Muslim?

  • Kaum Yahudi : percaya kpd Allah, Kitabnya Taurat, Tempat beribadahnya Sinagoge.
  • Kaum Nashrani : percaya kpd Allah, Kitabnya Injil, Tempat beribadahnya Gereja.
  • Kaum Ibrahim : Percaya kpd Allah, Kitabnya Suhuf Ibrahim, Tempat biribadahnya Ka’bah.
  • Golongan Quraisy : Percaya kpd Allah, Pengabdian mereka lebih cenderung kpd ajaran nenek moyang.
  • Ditambah lagi 360 faham / aliran. Termasuk organisasi yang bernama “Hilful Fudhul” yang motor penggeraknya adalah Muhammad bin Abdullah.
  • Kalau kita perhatikan masyarakat mekkah ketika itu adalah muslim, 22/78. 10/31.

7. Akan tetapi, apakah masyarakat tersebut sudah beriman? ->49/14-15.

8. Kenapa belum beriman? -> Karena Iman itu belum melekat dan belum sepenuhnya kpd Allah.

9. Kalau begitu apa yang mereka imani? ->4/51

  • Orang yang merasa beriman kpd Allah, kemudian beriman pula kpd Thogut mereka itulah orang-orang fasiq, 5/49.
  • Dan dengan kefasiqannya mereka mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, 3/71.
    Akibat Ahli kitab menyembunyikan yang haq, maka fungsi wahyu hanya: diseminarkan, didiskusikan, dibaca, diMTQ-kan dan hanya sebatas ilmu/wacana.
  • Apabila ahli kitab bersikap demikian, maka Allah katakan mereka sebagai keledai pembawa kitab, 62/5.
  • Kitab adalah ketetapan / undang-undang / Hukum Allah, sehingga Allah menegur manusia, 4/60.
    Kitab / ketetapan / undang-undang / Hukum yang digunakan bukan hukum Allah, sehingga masyarakat menjadi masyarakat Jahiliyyah, 5/50.

10. Jadi kalau hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, bagaimana keadaan masyarakatnya?

  • 5/44, 5/45, 5/47.
  • Akibat mereka tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka akan terjadi : 29/67 (rampok-merampok), 5/80 (kerjasama dengan orang kafir).
  • Dengan adanya ahli kitab bekerjasama dengan orang kafir maka terjadilah sistem, dan sistem yang berlaku adalah sistem Fir’aun, 28/4.
  • Karakteristik sistem Fir’aun : sewenang-wenang, memecah belah, menindas, membunuh dan berbuat kerusakan.
  • Dengan kata lain duplikat masyarakat rusak, masyarakat jahiliyyah yang penuh dengan tahyul, bid’ah, khurafat.

11. Bagaimana kondisi Muhammad bin Abdullah saat itu?

  • Aktif dalam Ormas (Hilf-ul-Fudhul) yang disahkan oleh pemerintahan Abu Jahal.
  • Dijuluki “Al-Amin” karena telah membantu serta aktif dalam memperjuangkan Dar-un-Nadwah.
  • Meskipun begitu Allah menganggap bahwa Muhammad bin Abdullah adalah sesat 93/7.
  • Jadi apapun yang diusahakan Muhammad, Allah menilainya 0 (nol).
  • Baru pada usia 37 tahun Muhammad sadar akan kesesatan masyarakatnya dan berlepas diri dari masyarakatnya untuk kemudian mencari kebenaran dengan ber”Tahannuts” di gua Hira, 42/52.
  • Sehingga pada usia 40 tahun turunlah wahyu pertama yaitu 96/1-5, sekaligus merupakan SK pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah.

12. Iqra’! (bacalah!), apa yang harus dibaca?

  • Membaca tentang persoalan kondisi, berarti membaca persoalan yang ada pada masyarakat, sistem, birokrasi, hukum, tatanan kehidupan Ipoleksosbud dan lain-lain.
  • Jadi persoalan Iqra’ adalah persoalan berat?, kenapa?, karena pasti akan menghadapi musuh-musuh yang berat, 25/31, 6/112.
  • Dimanakah musuh-musuh itu berada? -> 6/123.

13. Siapa musuh yang berat bagi Muhammad pada saat itu?

  • Rezim mekkah -> Nasional.
  • Romawi (Blok barat) dan Persia (Blok Timur) -> Internasional.

14. Bagaimana keadaan Muhammad setelah menerima tugas yang berat ini?
  • Bergetar dan terasa amat berat mendengar perintah itu, maka isterinya menyelimutinya yang artinya adalah menutupi / merahasiakannya untuk tidak diketahui orang lain.
  • Karena Iqra’ Muhammad ingin merubah sistem yang berlaku dan yang diberlakukan oleh Abu Jahal.
  • Sehingga Muhammad sering menyendiri dan masyarakat yang mengetahui menganggapnya gila, 15/6, 51/52.
  • Turunlah wahyu kedua 68/2. Sekaligus sebagai bantahan dari Allah bahwa orang yang menggunakan Al-Qur’an bukanlah orang gila.
  • Kemudian turun wahyu ketiga 73/1-3, yang memerintahkan Muhammad untuk berda’wah pada kondisi malam / dzulumat / wahyu belum mengatur kehidupan.
  • Kemudian turun wahyu keempat 74/1-4, yang memerintahkan Muhammad untuk mengagungkan Robb-nya (lebarkan sayap / ekspansi).
  • Selain itu ayat ini memerintahkan muhammad untuk membersihkan pakaiannya, artinya adalah 60/4 : Putus hubungan, mengingkari program kerjanya, menyatakan musuh, benci selama-lamanya sampai mereka beriman kpd Allah, 109/1-6, jadi ukuran bersih disini adalah adanya garis batas yang jelas (furqon/pembeda).

15. Bagaimana teknis da’wah Rasul pada kondisi Mekkah?
  • 73/10, 18/16.
  • Dengan melalui jalur da’wah lewat keluarga dan sahabat maka terbentuklah “Dar-ul-Arqam” yang beranggotakan 39 orang, inilah orang-orang yang pertama-tama mengabdikan diri kpd Allah dengan sepenuhnya, dinamakan sebagai pelopor muslim (6/163).
  • Fungsi Dar-ul-Arqam : Pusat kegiatan aqidah berdasarkan Al-Qur’an, pengkaderan, pengembangan da’wah.
  • Maka Dar-ul-Arqam adalah mulkiyyah Allah, dan mulkiyyah Allah bercirikan: tidak kooperatif / kerjasama, tidak minta legalitas lembaga kafir (“wa kafa bi-llahi syahida” / 48:28), tidak berjuang melalui lembaga kafir Mekkah.

16. Bagaimana sikap kafir Mekkah terhadap gerakan Muhammad (Dar-ul-Arqam)?.
  • Dikatakan gila 15/6, 51/52.
  • Terjadi penangkapan terhadap pihak Muhammad, seperti Bilal bin Rabbah, Abdullah bin Mas’ud, Amr bin Yasir.
  • Bilal bin Rabbah disiksa dengan dijemur diterik matahari dan ditimpa batu besar hanya untuk menyatakan eksisitensi berhala-berhala mereka.
  • Amr bin yasir juga disiksa dan dipaksa kafir tetapi hatinya menolak, kemudian setelah bebas Amr menghadap Rasul untuk meminta hukuman atas orang yang dipaksa kafir tetapi hatinya menolak, maka turunlah ayat 16/106.

17. Bagaimana langkah Rasul dalam menghadapi keadaan sepeti ini?
  • Pada tahun 5-6 kenabian, Rosul menghijrahkan angkatan pertama terdiri dari 15 orang dan angkatan kedua 100 orang sahabat ke Habsyi dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.
  • Pada tahun ini juga terjadi penawaran dari pihak Mekkah kepada Rosul agar menghentikan da’wahnya, Mekkah menawarkan kpd Rosul melalui Abu Thalib 3 Ta (tahta, harta, wanita)
  • Apa jawaban Rosul terhadap penawaran itu?, -> “wahai paman, meskipun mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, dengan maksud agar Aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku atau Aku binasa karenanya”. 109/1-6.

18. Langkah apalagi yang dilakukan oleh pihak Mekkah untuk menghentikan gerakan Rasul?.
  • Pada tahun ke 7 – 10 kenabian, Abu Jahal cs mengadakan Boikot / Embargo sosial ekonomi kpd pihak Rasul selama kurang lebih 3 tahun dilembah Syi’ib.
  • Isinya adalah : Tidak boleh mengadakan hubungan dagang dengan pihak Muhammad, tidak boleh berkomunikasi, tidak boleh menjalin hubungan perkawinan, tidak boleh mengirim bahan makanan.
  • Bagaimana kondisi pihak Muhammad dengan terjadinya pemboikotan ini?, 2/214, 2/155. Sampai akhirnya piagam pemboikotan yang digantungkan di Ka’bah habis dimakan rayap.
  • Namun apakah Rasul berhenti?, Tidak!, Rasul tetap istiqomah, 3/146.
  • Bagaimana langkah Rasul selanjutnya?, da’wah ke Tha’if, meskipun terjadi penolakan oleh penduduknya yang melempari batu dan kotoran.
  • Ditahun ini pula Siti Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia, namun apakah hal ini menghentikan perjuangan Rasul?, Tidak!.

19. Lantas bagaimana langkah Rasul selanjutnya?.
  • Selanjutnya Rasul memutar haluannya ke Yatsrib dengan mengutus beberapa sahabatnya untuk menda’wahi orang-orang Yatsrib.
  • Pada tahun 11 kenabian, 6 orang Yatsrib menyatakan masuk Islam dan kembali ke Yatsrib untuk menda’wahkan Islam.
  • Pada tahun ke 12 awal, Rasul menerima 13 orang terdiri dari 12 laki-laki dan 1 orang wanita, maka terjadilah pelaksanaan Bai’at dibukit Aqabah yang disebut “Bai’at Aqabah Ula”.
  • Pada tahun ke 12 akhir, Rasul menerima 75 orang lagi masuk Islam.
  • Dengan bertambahnya kekuatan, maka Rasul secara diam-diam (tanpa diketahui pihak musuh) membentuk struktur pemerintahan dengan dibentuknya 12 departemen, dan sebagai duta petama di Yatsrib Rasul mengutus Mus’ab bin Umair.

20. Mengetahui pergerakan Rasul sudah sampai kearah itu, bagaimana langkah pihak musuh (Abu Jahal cs.)?.
  • 8/30, mengadakan rapat di Dar-un-Nadwah dengan tujuan untuk menangkap, memenjarakan, membunuh atau mengusir Muhammad.
  • Bahkan Abu Jahal berjanji memberikan 100 ekor unta bagi siapa yang berhasil menangkap Muhammad, hidup atau mati. Tujuannya adalah jangan sampai Rosul berhasil hijrah ke Yatsrib.

21. Bagaimana drama hijrah ini terjadi?
  • Sebelum Rasul hijrah, Rasul memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Rasul, Tujuannya adalah untuk mengelabui musuh.
  • Kemudian Rasul pergi secara diam-diam bersama Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur selama 3 hari untuk menghilangkan jejak, 9/40.
  • Jadi sejarah mencatat perjuangan Muhammad ditandai secara simbolik yaitu dari masuk gua keluar gua (gua Hira – gua Tsur), 17/80.
  • Pada hari ke 8 Rasul sampai di Quba untuk memantau persiapan.
  • Pada hari ke 12 Rasul masuk ke Yatsrib, dan mendapat sambutan yang sangat meriah dari orang-orang yang merindukan Rasul, yaitu kalangan Muhajirin dan Anshor.

22. Apa langkah pertama yang dilakukan Rasul sesampainya di Yatsrib?
  • Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Madinah, 7/158.
  • Mengganti nama Yatsrib menjadi Madinat-ur-Rasul / Madinat-un-Nabi atau lebih dikenal dengan nama Madinah.

23. Kenapa Rasul memproklamasikan Negara di Yatsrib?, apakah sah menurut hukum internasional?

  • Terjadi perang segitiga di Yatsrib antara Suku Aus – Suku Yahudi – Suku Khazraz yang sudah berlangsung selama 120 tahun.
  • Dengan perang tersebut maka Yatsrib vakum kepemimpinan, berarti kekosongan pemerintahan / kepemimpinan.
  • Proklamasi Negara Islam Madinah tidak diperjuangkan melalui kerjasama dengan orang-orang kafir.
  • Dengan adanya Proklamasi Negara Islam Madinah maka tercetuslah Piagam Madinah yang ringkasannyanya adalah sebagai berikut:
    • Madinah adalah tempat suci, harus ditaati dan dihormati serta dipertahankan dari serangan luar dengan biaya sendiri.
    • Apabila terjadi serangan dari luar, harus dipertahankan secara bersama-sama.
    • Masyarakat Yahudi dapat tinggal dengan aman, dijaga keselamatan harta dan jiwanya, dan sebagai tanda tunduk harus membayar jizyah, 9/23.
    • Masyarakat yahudi dapat beribadah menurut tata caranya, tetapi hukum yang berlaku adalah hukum Allah dan Rosul-Nya.
  • Jadi syarat tegaknya Madinah adalah:
    • Harus ada Proklamasi, 7/158.
    • Proklamasi dalam keadaan vacum of the power / vakum kepemimpinan.
    • Tidak melalui kerjasama dengan lembaga kafir.
      • Bagaimana pandangan Allah terhadap tegaknya Negara Islam Madinah? -> 3/19, 3/85, 10/25.
      • Maka dengan adanya Proklamasi Madinah, terbentuklah 2 Negara yaitu Negara Kafir Mekkah dan Negara Islam Madinah, 26/63.
      • Ciri-cirinya
        Mekkah Madinah

        Menafkahkan harta bukan dijalan Allah, 4/38-39
        Tempat kebinasaan, 14/28
        Tentara Iblis, 26/95
        Dzolim, 4/97
        Perang di jalan Syetan, 4/76

        Menafkahkan harta di jalan Allah, 2/273
        Tempat Keselamatan, 10/25
        Tentara Allah, 48/7
        Syuhada, 4/69
        Perang di jalan Allah, 4/76
24. Bagaimana sikap kafir Mekkah terhadap tegaknya Madinah?
  • Mekkah mempersiapkan angkatan perang untuk menyerang madinah, termasuk orang Islam yang tidak ikut hijrah, terkena wajib militer oleh Mekkah.
  • Rasulpun mempersiapkan angkatan perang, 8/60, 22/39, 22/40, 2/216.
25. Pada tahun ke 2 Hijrah terjadilah perang pertama antara Mekkah vs Madinah, yaitu perang Badar.
  • Kekuatan Mekkah 1000 vs Kekuatan Madinah 331 Mujahid.
  • Mekkah dipimpin oleh Abu Jahal vs Madinah dipimpin oleh Muhammad Rasulullah.
  • Dimenangkan oleh pihak Madinah, karena 8/9, 8/17, dan pada perang ini Abu Jahal mati, diganti oleh Abu Sufyan (Abu Jahal II).
  • Orang Islam yang ikut berperang membela Mekkah matinya kafir, karena tidak ikut hijrah padahal sebelumnya telah diperingatkan oleh Allah, 61/10, 4/100, 4/140.
26. Pada tahun ke 3 Hijrah terjadilah perang Uhud.
  • Kekuatan Mekkah 3000 vs Kekuatan Madinah 1000 mujahid.
  • Mekkah dipimpin oleh Khalid bin Walid vs Madinah dipimpin oleh Muhammad Rasulullah.
  • Hari pertama dimenangkan oleh Madinah, hari kedua Madinah kalah.
  • Kenapa kalah?, -> 3/152, 3/165, 3/140, 3/166, 9/81, 9/38, 9/120.
  • Bagaimana sikap Rasul setelah kembali ke Madinah?, -> 3/159, 9/11.
27. Pada tahun ke 5 Hijrah terjadilah perang Khandaq (Parit).
  • Perang ini juga dinamakan perang sekutu (Al-Ahzab), karena pihak musuh merupakan persekutuan antara golongan Quraisy, ahli kitab Yahudi yang terusir dari Madinah karena melanggar dan kabilah Ghatafan.
  • Kekuatan Sekutu 10.000 tentara vs Madinah 3.000 Mujahid.
  • Dimenangkan oleh Madinah, strategi Madinah sangat menguntungkan karena adanya parit / Khandaq, 33/9,22,23,25.
28. Pada tahun ke 6 Hijrah.
  • Pelaksanaan Haji dan Umrah bersama 1.000 sahabat, dipimpin oleh Utsman bin ‘Affan.
  • Utsman diutus untuk memasuki Mekkah dan tatkala mendengar berita bahwa Utsman terbunuh, maka Rasul mengambil sikap dengan para sahabat untuk memerangi Mekkah.
  • Diadakanlah perjanjian antara Rasul dan para sahabat, perjanjian tersebut dinamakan “Bai’at-ur-Ridhwan”, 48/18,10.
  • Setelah mengadakan perjanjian tersebut ternyata Utsman tidak dibunuh, malah selanjutnya Utsman membuat strategi di Mekkah.
  • Abu Sufyan melihat pasukan Rasul, mereka merasa gentar sehingga diadakanlah perjanjian Hudaibiyah.
29. Perjanjian Hudaibiyah
  • Abu Sufyan mengutus Suhail bin Amr untuk menemui Rasul dalam rangka perjanjian Hudaibiyah.
  • Isi perjanjian Hudaibiyah:
    1. a. Tidak diawali dengan ‘basmalah’ dan Muhammad tanpa gelar Rasulullah
    2. b. Pelaksanaan Haji-Umrah pada tahun depan selama 3 hari.
    3. c. Gencatan senjata selama 10 tahun.
    4. d. Orang Mekkah yang masuk Madinah harus dikembalikan ke Mekkah.
    5. e. Orang Madinah yang masuk Mekkah tidak dikembalikan.
  • Dengan adanya perjanjian tersebut banyak para sahabat yang tidak menerima, dianggap perjanjian tersebut menguntungkan pihak Mekkah.
  • Maka para sahabat diberitahukannya tentang strategi yang telah diatur Rosul, sehingga dengan adanya perjanjian tersebut Madinah sangat beruntung.
  • Terbukti dengan strategi tersebut masuklah dua oarang panglima Mekkah Khalid bin Walid dan Amr bin ‘Ash kedalam Islam (Madinah), kemudian keduanya dikembalikan ke Mekkah untuk berda’wah menyelamatkan umat, 105/5.
  • Ternyata banyak warga Mekkah yang menjadi warga Madinah.
  • Maka Rasul senantiasa mengadakan perjanjian / Bai’at kepada orang-orang yang menyatakan hijrah ke Madinah, 9/12,13.
30. Pada tahun ke 7 Hijrah Rasul membuat program.
  • Program jangka pendek adalah Futuh Mekkah.
  • Program jangka panjang mengirim surat-sirat kepada Raja-raja.
  • Raja Heraclius – Romawi oleh Dihja bin Khalifah Alkabi.
  • Raja Chosru II – Persia oleh Abdullah bin Khudzafah.
  • Raja Muqauqis – Mesir oleh Khatib bin Abi Balta’ah.
  • Raja Al-Harits bin Abi Samar – Syam oleh Syuhya bin Wahab Al-Asady.
  • Raja Negus – Habsyi oleh Amr bin Umaiyah.
  • Raja Bazan – Yaman oleh Muhajir bin Umaiyah.
  • Pengiriman surat-surat ini adalah sebagai ekspansi.
31. Pada tahun 8 Hijrah.
  • Terjadi perang Mu’tah
  • Dilatar belakangi oleh pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Syam kepada utusan Rasul.
  • Tentara Kafir yang tak terhitung jumlahnya vs Madinah 3.000 Mujahid.
  • Pada penyerangan ke Syam, madinah kalah karena kekuata yang tidak seimbang.
  • Dalam perang tersebut gugurlah 3 orang panglima Madinah sebagai Syuhada’, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah. Dan pasukan yang masih tersisa ditarik ke Madinah oleh Panglima Khalid bin Walid.
32. Pada tahun ke 9 Hijrah
  • Pasukan ‘berani mati’ (Jaisul Usron) dengan kekuatan 4.000 Mujahid yang dipimpin oleh Rasul bermaksud untuk menyerang Syam, namun penyerangan tidak dilanjutkan.
  • Rasul memutar haluan untuk menyerang Mekkah dan menghancurkan Mekkah dengan sehabis-habisnya.
  • Pasukan bertambah lagi menjadi 10.000 Mijahid.
  • Sebelum menyerang Mekkah Rasul membuat strategi dulu di lembah Gudaid, strateginya adalah strategi Ibrahim (memasuki Mekkah dari 4 Penjuru), 2/260, 105/1-5.
  • Bagian Barat dipimpin oleh Saad bin Abi Waqash.
  • Bagian Timur dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah.
  • Bagian Selatan dipimpin oleh Khalid bin Walid.
  • Bagian Utara dipimpin oleh Zubair bin Awwam.
  • Kemudian Rasul memperhitungkan bahwa Islam akan menang Insya Allah dalam keadaan aman, 48/27.
  • Sebelum menghancurkan Mekkah Abu Sufyan menyatakan untuk masuk Islam (Madinah), dan siap melaksanakan Dien-ul-Islam.
  • Rasulullah menginstruksikan kepada semua orang-orang mu’min untuk masuk rumah-rumahnya, pos-posnya, masjid-masjidnya. Strategi ini memakai pola (strategi) Sulaiman AS, 27/18.
  • Strategi Rasul berhasil mamasuki Mekkah, maka Rasul langsung menginstruksikan agar semua menyerbu Mekkah.
  • Menghancurkan semua berhala-berhala dan programnya.
  • Menghancurkan struktur Mekkah dengan sehabis-habisnya,17/7.
  • Kenapa harus dihancurkan sehabis-habisnya?, karena 9/17,18.
  • Menyerbu Mekkah sambil meneriakkan 17/81.
  • Dengan hancurnya struktur Mekkah, maka Rasul mengangkat Muadz bin Jabal sebagai duta Madinah di Mekkah.
  • Inilah yang dikatakan “Yaum-ul-Akhir”.
33. Pada tahun ke 10 Hijrah
  • Pelaksanaan haji wada’ (persiapan) dengan jumlah mu’min atau pasukan sebanyak 140.000 jama’ah berkumpul di ‘Arafah.
  • Maka pada saat itu pula Allah menurunkan 5/3.
  • Pada Khutbahnya Rasul berpesan kepada kita untuk berpegang kepada Kitabillah dan Sunnah Rasul-Nya.
34. Pada tahun ke 11 Hijrah
  • Rasul wafat pada tanggal 8 Juni 634 M / 12 Rabi’ul Awal.
  • Maka Madinah dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.
  • Dan program selanjutnya adalah ekspansi ke seluruh dunia / Khalifah fil Ardh.

Kesimpulan

  1. Tugas setiap Rosul adalah untuk menegakkan Dien Allah secara Kaffah, 48/28, 42/13, 33/62.
  2. Sunnah / Sejarah Rosul adalah aktifitas yang dinamakan langkah / perjuangan dalam menegakkan Dien Allah yang dimulai dari Iqra’ – Alyauma, Mekkah – Madinah.
  3. Kapan saja dimana saja menegakkan Dien harus berpola pada Sunnah jika tidak bukan ibadah namanya.
  4. Demikian sejarah perjuangan Islam pada masa Rasul, bagaimana dengan sejarah perjuangan Islam di Indonesia?


Sumber : Studi Komprehensif Islam
Lanjutkan Membaca ...

4 Des 2011

Rute dan Jadwal KRL berlaku mulai 5 Desember

Menurut rencana pada 5 Desember 2011, rerouting jalur Kereta Rel Listrik (KRL)resmi diberlakukan setelah beberapa hari proses ujicoba sejak 1 Desember hingga 4 Desember. Makmur Syaheran, Sekretaris PT KCJ menjelaskan bahwa di Stasiun Manggarai, yang digunakan untuk transit hanya peron tinggi. "Nanti kami pasang rambu," .

Nantinya, Stasiun Manggarai yang akan dijadikan stasiun transit utama juga sudah diperbaiki. "Itu maksimum yang bisa kami capai. Siap atau tidak, kami siap di level itu," kata Makmur .

Makmur mengungkapkan, untuk mempermudah penumpang, pihaknya akan menempatkan announcer di dekat peron. Selain itu petugas juga ditambah untuk mengurangi kerawanan saat berlangsungnya transit.

Dalam perubahan ini, PT KCJ memangkas 37 rute yang ada menjadi enam rute. rerouting dilakukan supaya tidak terjadi lagi crossing (persilangan) di stasiun besar, sehingga mengakibatkan antrean yang memakan waktu cukup lama.

Adapun enam rute yang efektif beroperasi yaitu :

Rute 1 melintas Bogor-Manggarai-Tanah Abang-Duri-Jakarta Kota-Jatinegara.
Rute 2 melintas Parung-Panjang-Serpong-Tanah Abang. Kemudian
Rute 3 melewati Tangerang-Duri.
Rute 4 melintas Tanjung Priok-Jakarta Kota.
Rute 5 melintas Bekasi-Jatinegara-Manggarai-Jakarta Kota, dan
Rute 6 Bogor- Manggarai-Jakarta Kota. "Rute untuk lintas Bogor ditambah mengingat penumpang untuk jurusan ini paling besar," terang dia.

Kereta tujuan stasiun Kota hanya berhenti di stasiun Manggarai. Setelah itu penumpang yang ingin menuju Kota, Tanah Abang, Bekasi dan lainnya berganti kereta. "Tapi khusus untuk KRL Bogor, penumpang tidak perlu transit karena kereta langsung menuju Jakarta atau Tanah Abang," ucap Makmur.

Keterangan Nama Stasiun
Boo = Bogor Jak = Jakarta Kota Bks = Bekasi Tng = Tangerang

Peta Rute KRL Looplinkg



Jadwal KRL Bogor / Depok Tujuan Jakarta / Jatinegara



Jadwal KRL Bogor / Depok Tujuan Jakarta / Jatinegara



Jadwal KRL Jakarta / Jatinegara Tujuan Bogor / Depok 



Jadwal KRL Jakarta / Jatinegara Tujuan  Depok / Bogor



Jadwal KRL Bekasi Tujuan Jakarta Kota



Jadwal KRL Jakarta Kota Tujuan Bekasi



Jadwal KRL Parung-Panjang/Serpong Tujuan Tanah Abang



Jadwal KRL Parung-Panjang/Serpong Tujuan Tanah Abang



Jadwal KRL Parung-Panjang/Serpong Tujuan Tanah Abang


Lanjutkan Membaca ...