HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

16 Agu 2012

MENGENAL MAKNA - TUGAS RASUL DAN TUJANNYA DIUTUS

Tugas para Rasulullah adalah Iqomatud-Dien (42:13) sampai terealisir (idzhar / 61:9) dan Dien itu hanya untuk Allah saja (8:39). Tentu saja dengan diawali permakluman kepada Masyarakat bahwa dirinya adalah Rasulullah yang diutus kepada manusia agar men-Tauhid-kan-Nya, karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilaah selain Dia dan Dia-lah pembuat kehidupan (7:158)

Bi Ismi Allah, al-Rahman al-Rahiim.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan atas Muslimin Muslimat.

MUQADDIMAH

QS : 42:13-15,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ وَمَا تَفَرَّقُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِيشَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

"Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, Karena kedengkian di antara mereka. kalau tidaklah Karena sesuatu ketetapan yang Telah ada dari Rabb-mu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, Pastilah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu."

MAKNA RASUL

a. Rasul dari akar kata Rosala – Yarsulu – Rosalan.

Artinya: melepaskan, penggunaan kata ini terdapat dalam Al Quran surat 12:63, 12:66 dan 7:105.

12:63,

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Maka tatkala mereka Telah kembali kepada ayah mereka (Ya'qub) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu lepaskanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan Sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".

12:66,

قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

"Ya'qub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya'qub berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)".

7:105,

حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

"Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang Haq. Sesungguhnya Aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku".

b. Dari akar kata Arsala – Yursilu – Irsaalan.

Artinya : mengutus atau mengirim pesuruh, penggunaan kata ini terdapat dalam Al Quran surat 35:9, 27:35, 35:1, 61:9.

35:9,

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ

"Dan Allah, dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, Maka kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu."
27:35,

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

"Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu".

35:1,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

61:9,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Diin yang Haq agar dia memenangkannya di atas segala diin-diin yang lain meskipun orang musyrik membenci."

Kata tentang Rasul pada ayat-ayat diatas adalah setiap pihak yang diutus membawa sesuatu (amanah) yang sangat penting, dari manusia atau dari Allah swt. Adapun sesuatu itu bia berupa angin yang dikirim untuk menggerakkan awan (27:35), bisa juga seorang kurir yang mengirim surat atau hadiah (27:35), bisa juga malaikat yang menurunkan wahyu (35:1), atau bisa juga seorang Rasulullah (utusan Allah) yang bertugas menyampaikan risalah da’wah (61:9).

Bila dua arti kata (a dan b) diatas kita padukan, maka dapat diambil pengertian Rasul yang kita maksud (dalam pembahasan ini) adalah “seorang (laki-laki) pilihan Allah (22:75) dengan membawa misi risalah untuk membebaskan manusia dari perbudakan antar sesama manusia dan agar manusia hanya meng-abdi kepada Allah saja.

ASAL STRATA SOSIAL PARA RASULULLAH

Rasul yang diutus berasal dari berbagai strata (tingkatan/lapisan masyarakat) sosial. Mulai dari masyarakat yang ummi (tidak mengenal Kitab) ada pula dari golongan masyarakat biasa dan ada pula yang dari keturunan raja.

Allah mengajarkan kepada kita agar tidak bersifat diskriminatif. Bukan garis keturunan, suku atau status sosial lainnya, akan tetapi taqwa-lah yang membuat seseorang menjadi mulia (49:13). Sedangkan masyarakat membuat kelas-kelas untuk mereka jadikan pemimpin untuk mereka dengar dan taati, seperti diterangkan dalam ayat berikut :

17:94-95,
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولا 94 . قُلْ لَوْ كَانَ فِي الأرْضِ مَلائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولا

"Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi Rasul"

a. Rasul yang Ummi

Artinya : Tidak mengenal kitab-kitab Allah.

7:157.
"(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung."

b. Rasul sebagai manusia biasa

Artinya : hidupnya sebagaimana layaknya kebanyakan manusia lainnya.

34:34-36.

"Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: "Sesungguhnya Robb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".

c. Rasul dari keturunan raja

Artinya : yang mewarisi kerajaan, seperti Nabi Sulaiman yang mewarisi kerajaan Nabi Daud.

27:16,
"Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".

KONDISI MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA RASUL

a. Masyarakat yang menyimpang dan Masyarakat yang Ummi (buta dari wahyu)

Kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) telah menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah dalam al-Kitab (Taurat dan Injil) dan merubahnya. Disamping itu, sebagian besar masyarakat ada yang sama sekali tidak mengenal wahyu.

2:75-79,

"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:" kamipun Telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang Telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Robb-mu; Tidakkah kamu mengerti?". Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan diantara mereka ada yang ummi (buta dari wahyu), tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan."

b. Para penguasa dan rakyatnya senantiasa berbuat kedzaliman

4:75,
"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".
21:11,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah kami binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya)."
Ingat, bagaimana kedzaliman Firaun yang membunuh setiap bayi laki-laki, juga kedzaliman Mekkah yang membunuh setiap bayi perempuan. Hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil atau yang dianggap sebagai lawannya, rakyat kecil tak ubahnya seperti sapi perah.

c. Masyarakat yang sesat (dhollal)

3:164,
"Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
6:74,
"Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai ilaah-ilaah? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

Masyarakat yang sesat adalah masyarakat yang tak berpetunjuk (huda), termasuk mengenal Allah pun tanpa peunjuk. Adanya Allah mereka percaya, namun yang di abdi malah berhala. Ketika ditanya, “mengapa kamu mengabdi kepada berhala?” mereka menjawab, “berhala itu hanya sebagai perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.” Begitu nyata kedustaan dan keingkaran yang mereka lakukan.

39:2-3
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah diin yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak mengabdi mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar."

TUJUAN DIUTUSNYA RASUL-RASUL ALLAH

Allah Rabb-ul-‘Alamin mengutus kemuka bumi seorang rasul untuk tugas yang sangat mulia dan besar, yaitu menyampaikan jalan hidup yang benar kepada seluruh manusia tanpa kecuali, juga termasuk untuk memakmurkan bumi, untuk kesejahteraan ummat manusia.

21:107,
"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Untuk mewujudkan tujuan agar menjadi Rahmatan lil ‘Alamin dibutuhkan tahapan-tahapan kerja serta solusi-solusi dalam mengatasi kendala-kendala di lapangan. Secara global seperti yang diterangkan dalam Al Quran surat 9:20,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."
Tanpa tegaknya seluruh perintah Allah, dalam seluruh tatanan masyarakat, serta sirnanya seluruh penghalang, tujuan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam tak akan tercapai. Jadi, tak boleh dibatasi oleh batas negara dan suku bangsa.

TUGAS RASUL-RASUL ALLAH

39:32-33,
"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa."

a. Meng-idzhar-kan atau Iqomatud-Diinullah diatas diin yang lain

9:33,
"Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang haq untuk dimenangkanNya atas segala diin yang lain, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."
42:13,
"Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Diin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (diin)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

b. Menyelenggarakan khilafah dan mentegakkan keadilan

38:26,
"Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, Maka berilah Keputusan (hukum) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan."

FUNGSI DAN PERANAN RASUL-RASUL ALLAH

33:45-46,
"Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada diin Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi."

a. Mengoperasionalkan Wahyu

59:7,
"Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."
3:31-32,
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

b. Sebagai Ulil Amri

4:83,
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)."
Para Rasul juga berperan sebagai Ulil Amri, hal ini dibuktikan dalam prakteknya dengan memimpin ummat, sebagai hakim yang memutuskan perkara hukum, menetapkan perang dan damai sekaligus sebagai panglima perangnya, serta sebagai da’i pendidik ummat.

b1. Pemimpin

2:124,
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

b2. Hakim

4:64-65,
"Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
3:23,
"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang Telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)."
42:15,
"Maka Karena itu Serulah (mereka kepada diin ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Robb kami dan Robb kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".

b3. Panglima Perang

8:65,
"Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti."

b4. Da’i, Syahidan, Mubasyiron dan Nadziron

Rasul berperan sebagai Da’i. Peran ini merupakan peran paling awal dan paling penting sebelum yang lainnya. Sebagai juru da’wah Rasul menjadi saksi atas ke-taslim-an para shahabatnya. Para shahabat yang menerima da’wah dan istiqomah mendapat kabar gembira. Sedangkan mereka yang menolak da’wah dan tidak istiqomah mendapat peringatan akan api neraka.

42:15,
"Maka Karena itu Serulah (mereka kepada diin ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Robb kami dan Robb kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".
Da’wah dan penerangan haruslah menjadi proses yang berkesinambungan. Banyak hal yang harus diterangkan setelah da’wah diterima, dalam aspek aqidah, syariah dan akhlaq. Agar seorang muslim dapat istiqomah dan tidak berpijak kepada hawa nafsu sebagaimana ahli kitab yang berpaling dari kitab yang ada ditangannya.

3:23,
"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang Telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)."
Penerangan yang disampaikan untuk membangun sikap mental sehingga apa saja hukum yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya selalu dijawab “sami’na wa atho’na”

24:51,
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung."
Da’wah adalah amanah Allah pada setiap Rasul sampai mereka menerima dan mentegakkan Kitabullah. Demikian setiap Rasul dalam da’wahnya untuk menyalakan nur (cahaya penerangan) ditengah kegelapan. Penentang terdepan bagi da’wah para Rasul adalah para pembesar masyarakat (tokoh) dan penerima da’wah para Rasul adalah kelompok yang dipandang lemah.

7:73-79,
73. Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada ilaah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya Telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Robb-mu. unta betina Allah Ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih."
74. Dan ingatlah olehmu di waktu Robb menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.
75. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya Berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang Telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Robb-nya?". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya".
76. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu".
77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Robb. dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)".
78. Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.
79. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku Sesungguhnya Aku Telah menyampaikan kepadamu amanat Robb-ku, dan Aku Telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat".
Terhadap mereka yang menerima seruan da’wah, Rasul menjadi saksi atas ke-Islam-an para shahabatnya. Peran ini direalisasikan dengan cara bertanggung jawab terhadap ke-Islam-an para shahabat (ummat Islam), selanjutnya dibina, diarahkan, dilindungi dan diselamatka dari bahaya dien dan dunianya.

2:142,
"Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
4:41,
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)."
Mu’min yang istiqomah dalam mengikuti jejak Rasul berhaq mendapat kabar gembira. Karena Rasul sebagai pembawa kabar gembira (Mubasyiron). Kabar gembira berupa surga di akhirat dan kehidupan yang mulia di dunia. Bagi mereka yang beriman dan berjuang bersama Rasul, mereka yang mentauhidkan Allah dan menjadi Anshorullah, kabar gembira berupa Daarussalam.

9:112,
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu."

61:13,
"Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman."

Rasulpun juga bertindak sebagai pemberi peringatan (Nadziron). Memperingatkan agar tidak menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingkar dan menentang aturan / hukum Allah dan ingkar kepada perjuangan mentegakkan misi Rasul di muka bumi, akan dijebloskan ke dalam neraka, dan sepanjang hidupnya akan berada dalam kehinaan.

14:44-45,
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, Maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Robb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul". (kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu Telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? Dan kamu Telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan Telah nyata bagimu bagaimana kami Telah berbuat terhadap mereka dan Telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".

c. Sebagai Uswatun Hasanah

33:21,
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Rasul ummat ini yaitu Muhammad saw, Allah menetapkan beliau sebagai Uswatun Hasanah. Rasul dapat dijadikan suri tauladan dalam segala masalah, dari masalah rumah tangga sampai masalah negara. Karena Al Quran itu menjelaskan segala sesuatu dan contoh praktek yang paling ideal adalah Rasul dan para shahabatnya.

TEMAN SEJATI RASUL-RASUL ALLAH

9:16,
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

a. Mu’min Sejati (mu’min haq)

8:74-75,
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
b. Ribbiyun

3:146-147,
"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Ribbiyyun adalah orang yang memiliki mental yang prima, bebas dari penyakit al-wahn, tidak merasa lemas, terus aktif, tidak diam berpangku tangan, pantang menyerah.

c. Hizbullah

Hizbullah adalah anggota partainya Allah, setia dan loyal kepada Allah da Rasul-Nya.

58:22,
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung."

MUSUH BESAR RASUL-RASUL ALLAH

Sebaik apapun Rasul Allah yang diutus, pasti ada yang memusuhi, mereka yang memusuhi adalah yang tidak suka jika aturan Allah itu tegak.

60:1,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Robb-mu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus."

a. Mujrimin (Penguasa Dzalim Penentang Al Haq)

25:31,
"Dan Demikianlah kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang Telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana dia menempatkan tugas kerasulan. orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya."

b. Mutrofin (Orang Kaya yang Dzolim Penentang Al Haq)

Mutrofin dalam istilah kini adalah konglomerat, bekerja sama dengan musuh Islam lainnya dalam mendanai segala gerakan anti Islam, termasuk mendanai segala pengawasan dan penangkapan aktivis da’i Islam. Contoh di masa Nabi Musa as adalah Qorun.

43:23-25,
"Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu diin dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun Aku membawa untukmu (diin) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari diin yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka kami binasakan mereka Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."

c. Musyrikin, Yahudi dan Nashrani.

Alasan orang musyrik mengapa mereka tetap menyembah berhala, “kami dapati bapak-bapak (nenek moyang) kami melakukan yang demikian itu” (cek, 2:170, 5:104), dengan datangnya Islam terjadi pro dan kontra di masyarakat, Islam dicap sebagai pengacau, memecah belah persatuan bangsa, maka Islam dimusuhi. Paham semacam ini dewasa ini telah berkembang menjadi paham nasionalisme.

5:82,
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri."
Karena mereka memusuhi Islam, maka perlakukanlah mereka sebagai musuh.

2:120,
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."

d. Munafiqin

4:61,
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu."
4:145,
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka."
Munafiq adalah orang yang menampakkan keimanan secara lahir namun hatinya kafir. Menentang ditegakkannya hukum Islam. Banyak kaum Muslimin yang tertipu dengan tutur katanya (62:1-3), yang sesungguhnya mereka berpihak kepada barisan musyrikin dan ahli kitab (2:14-15, 9:107). Jadilah mereka para infiltran yang menyusup di berbagai lapisan ummat Islam (4:81), inilah musuh yang sesungguhnya dan paling berbahaya (63:4).

e. Syaithan dari Golongan Jin dan Manusia (Hizbusyaiythan)

6:112,
"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan."
Syaithan dari golongan jin dan manusia bekerja sama untuk menyesatkan manusia. Sebagaimana yang terjadi dalam perang badar.

8:48,
"Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya Ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu Telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah". dan Allah sangat keras siksa-Nya."
58:19,
"Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi."

POLA PERJUANGAN RASUL-RASUL ALLAH

35:42-43,
"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan Karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang Telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu."

Ada beberapa pola perjuangan yang dilakukan oleh para Rasul, yaitu:

a. Berpola Hijrah

Rasulullah bersikap tegas terhadap ajakan kompromi dari pihak pendukung berhalaisme, terdapat garis yang jelas, untuk mengatasi ancaman pengusiran bagi beliau adalah hijrah.

17:73-77,
73. Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.
74. Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,
75. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia Ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.
76. Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.
77. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul kami yang kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan kami itu.
2:218,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
8:74,
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia."
9:20,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."

b. Radikal

Radikal artinya membongkar kekafiran itu sampai ke akar-akarnya, serta bersikap keras (syidda’), pola ini lebih menitik beratkan kepada paham ideologinya.

74:5,
"Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,"
109:1-6,
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan mengabdi apa yang kamu abdi.
3. Dan kamu bukan pengabdi apa yang aku abdi.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi pengabdi apa yang kamu abdi,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi pengabdi apa yang Aku abdi.
6. Untukmu diin-mu, dan untukkulah, diin-ku."

c. Revolusioner

Sebuah perjuangan untuk membalik semua kemusyrikan (kekafiran) untuk dirubah total menjadi sistem Islam bukan tambal sulam. Dalam langkahnya dibutuhkan konsep gerakan atau operasional gerakannya.

9:33,
"Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang benar untuk dimenangkanNya atas segala diin, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."
Dalam da’wahnya, Islam sealu diperangi, sehingga Rasul harus bersikap tegas kepada penghalang misi risalah.

9:36,
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) diin yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

2:193,
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim."

KEWAJIBAN MANUSIA SAAT HADIRNYA KERASULAN DAN PASCA KERASULAN

7:158,
"Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilaah (yang berhak diibadahi) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".
60:4,
"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Robb kami Hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan Hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan Hanya kepada Engkaulah kami kembali."

a. Menyertai, Memuliakan, Menolong dan Mengikutinya

7:157,
"(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung."

b. Mentaatinya


4:64,
"Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

c. Menjadikannya Pemutus Perkara Hidup

4:65,
"Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

d. Mencontohnya

33:21,
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

e. Melanjutkan Risalahnya

3:144,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

PARA PEWARIS DAN PELANJUT MISI KERASULAN

a. Ulil Amri

Ulil Amri adalah istilah lain bagi lembaga kekhalifahan, sebuah lembaga kepemimpinan bagi ummat Islam.

4:59,
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
4:83,
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)."

b. Hamba Allah (Sabiqun bil Khayrat)

35:32,
"Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar."
c. Ibaadushalihin

7:128,
"Musa Berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

21:105,
"Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."

Al-Hamdu li Allah, Robb al-'Alamin.

Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

15 Agu 2012

Mutiara Ramadhan - Bag 3 - Puasa - Pembebasan Menuju Kemenangan.

Mutiara Ramadhan - Bagian ke 3 - Puasa Pembebasan Menuju Kemenangan adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 yang di post pada tanggal 03 Agustus 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Tulisan ini adalah seri ketiga dari serial Kultum Ramadhan SKI. Pada seri pertama kita telah bersama membahas tentang apa sih yang harus dijadikan misi utama kita pada bulan ini?. Dan telah sama-sama kita temukan jawabannya dari Al Quran, yaitu "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup". Cara untuk mencapainya adalah dengan berpuasa, yakni mensucikan jiwa kita dari kotoran-kotoran jiwa seperti syirk, nifaq dan ketergantungan kepada selain Allah, karena hanya jiwa yang suci sajalah yang akan bisa menyentuh ajaran Al Quran - laa yamassu-hu illa l muthahharuun. Pada seri kedua kita telah membahas keterkaitan antara Al Quran dan ketaqwaan, yang mana ketaqwaan adalah target dari puasa. Disamping itu juga kita telah ketahui bersama bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, baik fardiyah maupun jam'iyah, baik 'ain maupun kifayah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah, individual dan sosial.

Untuk lebih menguatkan pemahaman kita tentang hal ini, ada baiknya kita melirik kepada uswah kita yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana beliau menyelenggarakan Ramadhan bersama rakyatnya?

Perintah berpuasa pada bulan Ramadhan, yakni surat Al Baqarah ayat 183 diturunkan pada 10 Sya’ban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Yatsrib dan membangun Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekah.

QS. Al Baqarah (2): 144.
قَد نَرىٰ تَقَلُّبَ وَجهِكَ فِى السَّماءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبلَةً تَرضىٰها ۚ فَوَلِّ وَجهَكَ شَطرَ المَسجِدِ الحَرامِ ۚ وَحَيثُ ما كُنتُم فَوَلّوا وُجوهَكُم شَطرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ لَيَعلَمونَ أَنَّهُ الحَقُّ مِن رَبِّهِم ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا يَعمَلونَ ﴿١٤٤


Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah "wajahmu" ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah "wajahmu" ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

Pengalihan kiblat dari Darussalam (Palestina) ke Masjidi l Haram (Mekkah) oleh sebagian kalangan hanya dipahami sebagai pengalihan arah menghadap ketika shalat (ritual). Pemahaman ini benar, tapi belum cukup mewakili makna yang sebenarnya. Kiblat (serapan bahasa Indonesia dari bahasa Al Quran QIBLAT) adalah sebuah tempat dimana seluruh umat menghadapkan wajahnya kesana untuk mengadukan setiap persoalan. Dimana seluruh umat menjadikannya sebagai sentral kegiatan pelaksanaan ibadah, mereka thawaf (berjalan dalam ikatan orbit pemimpinnya), mereka wukuf (menerima arahan pemimpinnya), mereka i'tikaf (fokus melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai umat), dan lain-lain. Intinya, kiblat adalah sebuah tempat yang dijadikan pusat pemerintahan dalam sebuah komunitas kehidupan dari komunitas terkecil yaitu nafsi sampai komunitas terbesar seluruh bumi yaitu khilafah fil ardh. Kiblat bagi nafsi adalah qalbu, dimana disitu bersemayam ruh Allah. Kiblat bagi keluarga adalah rumah, dimana ke tempat itulah seluruh anggota keluarga pulang. Kiblat bagi sebuah desa adalah kantor kelurahan, kecamatan adalah kantor camat, negara adalah istana negara, dan seterusnya.

QS. Yunus (10): 87.
وَأَوحَينا إِلىٰ موسىٰ وَأَخيهِ أَن تَبَوَّءا لِقَومِكُما بِمِصرَ بُيوتًا وَاجعَلوا بُيوتَكُم قِبلَةً وَأَقيمُوا الصَّلوٰةَ ۗ وَبَشِّرِ المُؤمِنينَ 
Artinya: "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu kiblat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman."

Pasca tegaknya Madinah di tanah Yatsrib, Rasulullah amat dirisaukan dengan kenyataan bahwa tempat yang akan dijadikan pusat pemerintahan jika Madinah sudah berhasil mendirikan khilafah fil ardh (kepemimpinan Islam seluruh dunia) adalah Yerusalem. Rasulullah menginginkan jika nanti khilafah fil ardh itu ber-ibukota ke Masjidi l Haram yang merupakan warisan dari "the founding father" Islam, Nabi Ibrahim AS.

Disamping itu, naluri kaum musliminpun berbicara, yakni nostalgia - rindu kampung halaman, kampung halaman tempat mereka dilahirkan, tempat mereka dibesarkan. Dengan bumi ini, dengan tanahnya yang lapang, gunungnya, airnya, dengan semua itulah pertama kali mereka bicara, pertama kali mereka bersahabat. Diatas secercah tanah inilah mereka dipupuk tatkala mereka masih kecil dan di sana pula tempat-tinggal mereka sesudah mereka besar. Kesana hati orang dan perasaannya terikat, dan untuk itu pula dengan segala kekuatan dan hartanya ia pertahankan. Dikorbankannya semua tenaga dan hidupnya. Sesudah mati, di tempat itu harapannya akan dikuburkan. Ia mau kembali kedalam tanah tempat ia dijadikan itu.

Naluri inilah yang lebih keras mendorong hati kaum Muhajirin daripada motif-motif lain. Selalu terpikir oleh mereka bagaimana seharusnya sikap mereka itu menghadapi Quraisy. Tetapi yang sudah terang, sikap itu bukanlah sikap menyerah atau sikap menghambakan diri. Sudah cukup sabar mereka selama tiga belas tahun terus-menerus menanggung penderitaan. Islam tidak membenarkan adanya sikap lemah, putus asa atau menyerah bagi mereka yang sudah menanggung penderitaan dan sampai hijrah karenanya.

Apabila sikap permusuhan itu memang dibenci dan tidak dibenarkan, sebaliknya yang diperkuat dan dianjurkan adalah sikap persaudaraan, tapi di samping itu yang juga diharuskan ialah membela diri, membela kehormatan, membela kebebasan ber-dien dan membela tanah air. Untuk membela inilah Muhammad mengadakan Ikrar 'Aqaba yang kedua dengan penduduk Yathrib. Tetapi bagaimanakah kaum Muhajirin itu akan menunaikan kewajibannya kepada Allah, tanggung jawab kepada "Rumah Suci" warisan Ibrahim, kepada tanah air, Mekah yang mereka cintai itu? Kearah inilah politik Muhammad dan kaum Muslimin itu ditujukan, sampai selesai ia kelak menaklukkan Mekah, dan Dien Allah serta seruan kebenaranpun akan terjunjung tinggi.

Maka dengan turunnya ayat tentang pemindahan kiblat ke Masjidi l Haram menjadi jelaslah visi dan misi perjuangan Rasulullah ke depan, yaitu Pembebasan Mekkah dari kekuasaan Jahiliyyah suku Quraisy. Tidak mengherankan jika selanjutnya program-program yang dicanangkan dalam perjuangan Rasulullah adalah menuju kepada satu titik yaitu merebut kembali Masjidi l Haram dari orang-orang kafir Quraisy.

QS. Al Tawbah (9):17.
ما كانَ لِلمُشرِكينَ أَن يَعمُروا مَسٰجِدَ اللَّهِ شٰهِدينَ عَلىٰ أَنفُسِهِم بِالكُفرِ ۚ أُولٰئِكَ حَبِطَت أَعمٰلُهُم وَفِى النّارِ هُم خٰلِدونَ 
Artinya: "Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka."

Usaha untuk "mengusir" kafir Quraisy dari Masjidi l Haram inipun dimulai, yang pertama adalah upaya pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan. Peristiwa pencegatan inilah yang mengawali terjadinya perang badr.

Tapi, modal apa yang harus disiapkan untuk menghadapi negara kaya seperti Mekah, suku yang kuat seperti Quraisy? Sementara keadaan kaum muslimin di Yatsrib juga belumlah bisa dikatakan stabil. Umat Islam masih dijerat banyak persoalan, diantaranya persoalan ekonomi. Bagaimana bisa mengalahkan Mekah? Bagaimana caranya menandingi kekuatan ekonomi Mekah? Bagaimana pula caranya menandingi semangat juang tentara Mekah yang berjumlah ribuan orang. Belum lagi tantangan dari internal Madinah sendiri, tingkah polah Yahudi dan Munafiqin amat mengganggu stabilitas Madinah. Realitas-realitas inilah yang membuat seolah-olah cita-cita mengalahkan Mekah hanya akan menjadi tamanny (harapan kosong) belaka.

Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan yang meragukan itulah, maka turun perintah Allah kepada Umat Islam untuk berpuasa. Ya, puasa Ramadhan, sebuah Pembebasan Diri.

Bagaimana bisa membebaskan Mekah, kalau diri sendiri saja masih terpenjara oleh ketergantungan kepada selain Allah. Dengan puasa inilah mentalitas Umat Islam dipupuk, bahwa kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir itu haruslah diraih jika kita menghendaki sebuah kemenangan melawan musuh-musuh Islam. Bagaimana bisa menang dalam medan pertempuran kalau kemauannya untuk totalitas menyerahkan semua kepada Allah masih terbelenggu? Bagaimana bisa mengalahkan musuh-musuh yang kuat kalau pikirannya masih terkuras oleh persoalan-persoalan pribadi berkaitan tentang masalah ekonomi? Untuk bisa mengalahkan kekuatan yang besar, maka yang harus dilakukan adalah feel free, tanpa beban. Lepaskan semua jeratan-jeratan duniawi dalam pikiran kita, serahkan semua kepada Allah.

Lalu, apa hubungannya puasa dengan pembebasan kemauan dan pembebasan berpikir? Mari kita simak uraian berikut ini:

Kalau tujuan puasa itu supaya tubuh tidak terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma kita jangan terlalu menekan sifat kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah itu hanyut dalam berpuas-puas dalam kesenangan, berarti ia sudah mengalihkan tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam memuaskan diri itu sudah sangat merusak, apalagi kalau orang berpuasa, sepanjang hari ia menahan diri dari segala makanan, minuman dan segala kesenangan, dan bilamana sudah lewat waktunya ia lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang di waktu siang ia tak dapat menikmatinya!

Kalau begitu Allah jugalah yang menyaksikan, bahwa puasanya bukan untuk membersihkan diri, mempertinggi sifat kemanusiaannya, juga ia berpuasa bukan atas kehendak sendiri karena percaya bahwa puasa itu memberi faedah kedalam rohaninya, tapi ia puasa karena menunaikan suatu kewajiban, tidak disadari oleh pikirannya sendiri akan perlunya puasa itu. Ia melihatnya sebagai suatu kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia adalah suatu tanggapan yang salah samasekali, yang akhirnya akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya tempat lagi. Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang sebenarnya kepada Allah.

Seolah tampak aneh apa yang saya katakan itu, bahwa dengan puasa kita dapat memperoleh kembali kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir. Ini memang tampak aneh, karena dalam bayangan kita bentuk kebebasan ini telah dirusak oleh pikiran modern, bilamana batas-batas rohani dan mental itu dihancurkan, kemudian batas-batas kebendaannya dipertahankan, yang oleh seorang prajurit dapat dilaksanakan dengan pedang undang-undang. Menurut pikiran modern, manusia tidak bebas dalam hal ia melanda harta atau pribadi orang lain. Akan tetapi ia bebas terhadap dirinya sendiri sekalipun hal ini sudah melampaui batas-batas segala yang dapat diterima akal atau dibenarkan oleh kaidah-kaidah moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukanlah demikian.

Kenyataannya, manusia adalah budak kebiasaannya. Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu sore. Kalau dikatakan kepadanya: "makan pagi dan sore sajalah", maka ini akan dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Orang yang sudah biasa merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya itu, lalu dikatakan kepadanya: "sehari ini kamu jangan merokok", maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu tertentu lalu dikatakan kepadanya: "gantilah waktu-waktu itu dengan waktu yang lain", maka pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan, merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya yang sesungguhnya.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh kesadaran bahwa perintah Allah tak mungkin bertentangan dengan cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap dirinya sendiri - dengan kehendak Allah - mengenai batas-batas rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat iman yang paling tinggi itu.

Maka hasil dari pelaksanaan puasa ini adalah Kemenangan. Kemenangan Diri karena telah berhasil membebaskannya dari segala bentuk lekatan-lekatan duniawi. Kemenangan diri adalah modal bagi Kemenangan Ekonomi, karena dengan puasa Umat Islam akhirnya memiliki pandangan berbeda tentang harta, bahwa harta bukanlah segala-galanya dan amat sangat tidak pantas untuk diagungkan dan dipikirkan terus menerus. Alirkan saja harta itu untuk membangun kekuatan Islam, kekuatan Madinah sebagai modal mengalahkan kekuatan musuh-musuh Allah, Mekah.

Dan puncak dari rentetan kemenangan ini adalah Kemenangan Islam. Siapa juga yang mampu mengalahkan orang yang sudah siap untuk meninggalkan raga ini? Siapa juga yang akan mampu membendung jiwa-jiwa yang suci yang sudah sangat merindukan bertemu dengan Sang Maha Suci? Siapa juga yang sanggup merobohkan benteng-benteng hati yang sudah membaca dengan pembakaran yang sempurna? Tak ada yang mampu mengalahkan mereka. Mereka yang sudah ikhlash tentang apapun yang akan terjadi, mereka sudah mengatakan TERSERAH ALLAH.

bersambung...

Al Hamdu li Allah, Rabb Al 'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

3 Agu 2012

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi yang di post pada tanggal 26 juli 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Pada tulisan sebelumnya, kita telah sama-sama mengurai bahwa kesucian Ramadhan adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) Al Quran. Maka yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita dalam bulan ini adalah menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita. Tapi karena Al Quran itu adalah ajaran yang suci dari Allah Yang Maha Suci, maka untuk menyentuhnya pun diharuskan dengan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran, apa lagi menjadikannya sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jiwa kita harus disucikan, harus dibersihkan dari segala macam-macam kotoran jiwa. Proses pensucian jiwa itulah yang dinamakan dengan puasa (shaum). Dan proses ini tidak hanya dilakukan pada bulan ke 9 pada hitungan tahun hijriyah saja. Akan tetapi Ramadhan itu hendaknya dihadirkan setiap saat dalam kehidupan kita. Puasa itu hendaknya dilakukan setiap saat dimanapun kapanpun kita berada. Sehingga benar-benar kita bisa memasukkan nilai-nilai kebenaran Al Quran kedalam jiwa kita, dan merealisasikannya dalam setiap gerak langkah kita sehari-hari. Bukankah "wadah" sebenarnya bagi Al Quran itu adalah "diri" kita, bukannya kertas atau mushhaf.

Pada tulisan ini, mari kita urai lebih dalam lagi tentang makna Ramadhan.

Ramadhan berasal dari kata ar-ramdhu yang berarti bakar, membakar, pembakaran, jadi makna Ramadhan merupakan bulan yang membakar kotoran-kotoran jiwa. Jika jiwa kita diibaratkan seperti besi, maka kotoran-kotoran jiwa itu adalah karat-karatnya. Besi yang penuh dengan karat akan susah dibentuk dan diwarnai, ia hanya akan menjadi sampah dipojokan gudang, dan secara perlahan akan merapuh dan hancur menjadi debu.

Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Hanya saja, yang dimaksud sekadar menahan makan dan minum, tidak melakukan judi, tidak bertengkar, tidak menggunjing, atau aktivitas lain yang sifatnya moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian, berarti telah terjadi penyempitan makna dari pengertian menundukkan hawa nafsu itu sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat-ayat berikut :

Al Najm (53) : 3-4,

Artinya: "Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya"

Al Anbiya (21) : 45,

Artinya: "Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya Aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.”

Dalam ayat di atas, Allah secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu adalah saling bertolak belakang. Artinya, hawa nafsu bertentangan dengan wahyu. Kalau wahyu diartikan sebagai segala sesuatu yang datang dari Allah, maka hawa nafsu adalah sebaliknya, yaitu segala sesuatu yang datang dari manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas yang salah saja, tetapi juga seluruh aktivitas yang keliru yang bersumber dari diri manusia sendiri.

Karena itu, ketika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan menundukkan hawa nafsu, maka yang seharusnya terbayang dalam benak kita adalah kita menundukkan hawa nafsu kita pada kehendak wahyu sehingga kita tidak akan melakukan seluruh aktivitas (bukan sekadar aspek moralitas semata) yang dilarang oleh wahyu (Al Quran dan Sunnah Rasul). Artinya, selain kita meninggalkan judi, kita juga harus meninggalkan aktivitas menghalang-halangi atau bahkan menekan dakwah Islam. Selain kita meninggalkan mengunjing orang lain, kita juga harus meninggalkan upaya mempropagandakan sekularisme, nasionalisme, paham kebebasan, penyamaan agama, kapitalisme, sosialisme, komunisme, demokrasi, dan pahampaham sesat lainnya yang bertentangan dengan paham Islam. Kita pun berusaha untuk tidak melakukan praktik riba, bermuamalah ekonomi secara kapitalis, berpolitik secara machiavelis, bernegara tanpa undang-undang Al Quran dan Al Hadits, mempertahankan hukum kufur, berinteraksi dalam masyarakat tanpa patokan-patokan sistem sosial kemasyarakatan secara islami, serta menjalani seluruh kehidupan tanpa berdasarkan syariat Islam.

Ali 'Imran (3): 85,

Artinya: "Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dien (sistem penataan hidup, keyakinan, ideologi) maka tidak akan diterima apa pun darinya dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi"

Al Maidah (5): 50,

Artinya: "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah?"

Dari dua ayat di atas, tampak jelas bahwa kita diminta untuk berhukum hanya pada apa yang telah diwahyukan oleh Allah seluruhnya, bukan sepotong-sepotong. Itulah hakikat sebenarnya dari upaya menundukkan hawa nafsu.

Apabila kita telah melaksanakan aktivitas tersebut, insya Allah kita akan terkategori sebagai manusia yang benar-benar bertaqwa sebagaimana firman Allah:

Al Baqarah (2): 183,

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa"

Hubungan Ketaqwaan dengan Al Quran

Bulan Ramadhan adalah bulan taqwa dan bulan turunnya Al Quran. Siapa pun yang mengkaji Al Quran dengan baik akan menyimpulkan bahwa orang yang bertaqwa hidupnya akan senantiasa dipimpin oleh syariat Allah (Al Quran). Allah berfirman:

Al Baqarah (2): 1-2,

Artinya: "Alif lam mim. Inilah Kitab (Al Quran), tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"

Berdasarkan ayat ini, orang yang bertaqwa akan selalu menjadikan Al Quran sebagai cahaya dan way of life (petunjuk hidup) dalam menyelesaikan problematika hidupnya dan manusia sekitarnya.

Dalam ayat lain, Allah mewahyukan:

Al An’am (6): 155,

Artinya: "Al Quran itu adalah kitab yang diberkati yang Kami turunkan. Karena itu, ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat"

Dalam ayat di atas, Allah lebih mempertegas penjelasannya, betapa mereka yang bertaqwa akan senantiasa mengikuti apa saja yang diwahyukan oleh Allah dalam Al Quran maupun Sunnah Rasul-Nya.

Bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.
Lanjutkan Membaca ...

2 Agu 2012

Herbal Teh Daun Jati Cina untuk Tubuh Langsing Ideal - Mengatasi Sembelit - ambeien - rematik - Regenerasi Sel - Anti bengkak - Detoksifikasi

Artikel HERBAL TEH DAUN JATI CINA adalah berita gembira bagi anda yang ingin tetap menjaga atau menginginkan tubuh yang langsing dan ideal. DAUN JATI CINA adalah herbal yang efektif untuk meluruhkan lemak membandel dan membantu memperlancar metabolisme tubuh. Herbal ini sangat efektif melangsingkan tubuh dengan cepat dan dapat menyusutkan perut antara 2-4 kg/minggu tanpa efek lemas atau jantung berdebar, dan tentunya tanpa efek samping. Selain itu Daun Jati China juga dapat mengobati kolesterol dan rematik.

Sebagaimana di ungkap pada web TribunNews, yang mengutip berita dari FoxNews yang menyebutkan bahwa 16 persen dari 320 wanita berumur 25 tahun mengaku rela mengurangi umur mereka satu tahun demi bentuk tubuh ideal. Sedangkan 10 persen lainnya rela mengurangi dua sampai lima tahun umur mereka.

Mengapa penyusutan 2-4 kg/minggu dapat terjadi tanpa efek lemas ? Hal ini karena pola kerja Daun Jati Cina bersifat MENGIKAT LEMAK, sehingga apabila diminum, yang keluar dari tubuh adalah murni lemak dan bukan cairan tubuh sebagaimana cara kerja zat pelangsing lainnya.

Reaksi Tubuh Terhadap Teh Daun Jati Cina

Setelah beberapa menit menkonsumsi Teh Daun Jati Cina, badan terasa panas dan berkeringat, hal itu menandakan sedang terjadi pembakaran dalam tubuh. Lemak yang terikat oleh cairan teh daun jati cina akan dibuang saat buang air kecil atau besar (BAB yang berminyak/BAK yang frekuensinya meningkat) dan juga melalui keringat. Seminggu awal setelah mengkonsumsi biasanya frekuensi pembuangan akan meningkat drastis, dan setelah itu terlewati tubuh akan terasa enteng dan frekuensi BAB/BAK akan kembali normal. Hal tersebut disebabkan kadar lemak sudah
cenderung seimbang dan tubuh beradaptasi dengan baik. Lemak yang lebih dahulu hilang adalah pada bagian pinggang samping, belakang, dan secara bertahap kebagian tubuh lainnya.

Cara Konsumsi Teh Daun Jati Cina

  • Konsumsi 1 sendok teh daun jati cina, masukkan ke dalam gelas 200 ml dan tuangkan air panas.
  • Larutkan selama 15 menit hingga air menjadi kecoklatan. Bisa juga dilakukan dengan perebusan dengan air 500 ml hingga mendidih dan biarkan air hingga tersisa 250 ml
  • Saring dan airnya siap diminum.
  • Pada seminggu awal, cukup mengkonsumsi 1x sehari. Pada minggu selanjutnya dosis bisa ditingkatkan 2 kali sehari.
  • Untuk mempercepat proses, kurangi makanan berlemak dan rajin berolah-raga, sehingga hasilnya bisa optimal.

Teh Daun Jati Cina dan Keamanan bagi Tubuh

  1. Bagi penderita masalah pencernaan sebaiknya meminum teh ini 2 hari sekali saja.
  2. Bila sedang menstruasi / haid, disarankan untuk tidak meminum teh daun jati cina, alasannya kebanyakan wanita mengalami PMS syndrom dengan perut kembung, otot perut terasa kencang, apabila anda minum teh daun jati cina akan menambah ketidaknyamanan anda dalam masa menstruasi.
  3. Untuk konsumsi awal atau belum pernah minum teh daun jati cina, jangan di seduh terlalu kental. Teh diseduh dengan air panas 400ml karena biasanya lemak akan luntur bersama air seni sebelum BAB. Karena reaksi tiap orang berbeda,apabila kurang bereaksi maka penyajiannya teh bisa dikentalkan.
  4. Umumnya teh daun jati cina ini bereaksi setelah 7 jam, jadi sebaiknya diminum malam hari sebelum tidur sehingga pada pagi hari anda lancar BAB, dan tidak mengganggu aktifitas anda.
  5. Hentikan atau kurangi dosis pemakaian apabila anda mengalami BAB yang berlebihan.

Asal-Usul Daun Jati Cina

Daun jati cina berasal dari Afrika, Timur Tengah (khususnya Sudan dan Mesir), dan nama aslinya adalah Senna, . Efek Medis dari daun in pertama kali di ketahui pada abad ke-9oleh ahli medis Arab, Serapion dan Sesue . Daun Jati Cina memiliki nama latin Tectona Grandis F. Linn. Senna Alexandrina/Cassia senna diekspor dari Mesir melalui Kairo dan Laut Merah. Diberi nama Senna Alexandria dan Senna Mesir karena pada saat itu pelabuhan perdagangan utama di Mesir bernama Alexandria. Buah dan daun diperdagangkan melalui jalur dari Nubia dan Sudan dan tempat lain ke Alexandria dan dari situ diseberangkan melalui Laut Mediterania ke Eropa dan perbatasan Asia. Cassia angustifolia dari India diseberangkan dari India melaui Madras. Tahun 1640 dikembangbiakkan dan dimanfaatkan di Inggris karena kandungan pencaharnya.

Manfaat Daun Jati Cina secara medis

  • Pencahar untuk mengatasi sembelit/konstipasi, ambeien, setelah operasi rectal anal, pengosongan lambung sebelum foto rontgent,
  • Anti inflammatory (anti bengkak)
  • Regenerasi Sel
  • Obat cuci perut (colon cleansing)
  • Detoksifikas

Seperti apa Gambar bentuk Daun Jati Cina

Daun Jati Cina siap di jadikan Teh
Daun Jati Cina Kering

Teh Daun Jati Cina mempunyai nilai ekonomis yang lumayan sehingga tak jarang ada oknum yang mencampur daun jati cina/daun senna 2:1 dengan daun sengon laut dimana ciri-ciri daun sengon laut hampir mirip dengan teh daun jati cina hanya daun sengon laut sedikit lebih besar ukurannya dan ujungnya oval serta sedikit lebih tebal.

Penyimpanan Teh Daun Jati Cina


Agar Teh Daun Jati Cina tidak menjadi lembab, jangan di taruh dalam wadah tertutup rapat seperti toples. Lebih baik ditempatkan dalam kantung plastik yang dilubangi kecil-kecil agar ada sirkulasi udara untuk melepas partikel-partikel air dari daun tersebut, setelah itu letakkan di tempat yang kering. Jika Teh Daun Jati Cina dalam keadaan lembab, maka daun teh tersebut menjadi berjamur.
Lanjutkan Membaca ...

26 Jul 2012

QALBUN SALIM

Al Qur'an Surat Ibrahim (37):83-84,

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لإبْرَاهِيمَ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan Nuh. Ingatlah, ketika ia datang kepada Rabb-nya dengan Qalbun Salim.

QALBUN SALIM

Qalb, orang menterjemahkannya dengan Hati, tapi jangan salah paham, Qalb itu bukan liver, dan juga bukan otak. Hal ini mengacu kepada Al Quran, Al Hadits, dan data-data empiris. Bahwa ternyata ‘hati’ (Qalb) memiliki definisi sebagai: segumpal daging, yang berada di dalam dada, dan bisa bergetar-getar ketika dikenai perubahan perasaan.

22:46, "… Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI (Qalb) yang ada di dalam DADA."

8:2, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah BERGETARLAH hati (Qalb) mereka…"

HR. Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir, "Ketahuilah, di dalam jasad ada SEGUMPAL DAGING (mudghah) yang jika baik daging itu maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek daging itu maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah daging itu adalah hati (Qalb).’’

Dengan mengambil tiga acuan diatas kita bisa mendefinsikannya dengan tegas, bahwa hati (Qalb) adalah jantung. Tentu saja, Anda boleh berbeda pendapat dengan saya. Cuma, sebaiknya dengan landasan alias dalil ayat Al Quran, atau Al Hadits, atau data-data empiris ilmu pengetahuan yang sesuai. Jika tidak, dengan sendirinya, kesimpulannya menjadi lemah. Karena, hanya berupa pendapat pribadi yang sangat subyektif.

Maka, Hati yang diistilahkan Qalb adalah hati yang bersemayam di dalam dada, dan lebih spesifik lagi bersemayam di organ jantung. Hati yang Qalb adalah sebuah radar yang bisa mendeteksi dan sekaligus memancarkan getaran perasaan seseorang. Getaran sedih dan gembira akan terpancar dengan frekuensi yang berbeda. Getaran marah dan sabar juga terpancar dengan frekuensi yang berbeda.

Ini adalah sebuah pancaran gelombang yang benar-benar bisa diukur dengan menggunakan alat perekam gelombang jantung, ECG (Electro Cardio Graph). Meskipun penelitian dalam bidang ini masih sedang berjalan, tetapi sudah diketahui bahwa pola gelombang yang terekam dalam ECG itu sesungguhnya memiliki informasi yang sangat banyak. Diantaranya adalah ’problem mekanis’ alias kerusakan organ tersebut, sekaligus tentang ’problem psikologis’ alias kualitas perasaan si pemilik jantung.

Sebenarnya, secara awam, hal ini sudah bisa kita rasakan sendiri. Cobalah rasakan dan cermati, bagaimanakah pola getaran jantung Anda ketika sedang marah, sedang sedih, sedang takut, sedang terharu, sedang gembira, dan lain sebagainya? Tentu saja, semuanya berbeda sesuai dengan getaran perasaan yang menyertainya.

Frekuensi dan pola gelombang jantung itu ternyata merupakan ’kepanjangan tangan’ dari sesuatu yang lebih abstrak, yakni ’hati dalam’. Jantung adalah ’hati luar’, yang fungsinya hanya sebagai alat sensor khusus, semacam radar. Tetapi berfungsi timbal balik. Bukan hanya receiver alias penerima getaran, melainkan juga transmitter alias pemancar getaran. Maka, jantung bisa disebut sebagai indra transceiver, yang bekerja secara radiasi gelombang elektromagnetik. Bukan sekedar dipengaruhi oleh kinerja neurotransmitter dan hormon dalam darah yang membuatnya berdegup lebih kencang.

Sehingga, Al Quran menyetarakan organ jantung itu dengan mata dan telinga sebagai ’alat pelihat’ dan ’alat pendengar’. Dan bukan pada tataran ’persepsi melihat’ dan ’persepsi mendengar’. Perhatikanlah ayat berikut ini.

7:179, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (Qalb), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."

Jadi, Qalb disetarakan dengan mata, bukan ’melihat’. Juga disetarakan dengan telinga, bukan ’mendengar’. Karena ’melihat’ dan ’mendengar’ itu memang tidak terjadi di mata dan telinga, melainkan di OTAK, yakni di pusat penglihatan dan pusat pendengaran. Meskipun mata dan telinganya sehat, tetapi jika pusatnya di otak bermasalah, atau pun saraf penghubungnya yang bermasalah, kita tidak akan bisa melihat atau mendengar. Melek tetapi tidak melihat, tidak tuli tetapi tidak bisa mendengar.Maka, demikianlah, getaran jantung itu menjadi transceiver yang lantas mem-feed-back kembali pola getaran tersebut ke pusat hati yang ada di otak. Dalam istilah Al Quran disebut sebagai Fu`ad, yakni ’Pusat Kecerdasan Hati’.

Qalbun salim adalah hati yang sudah melakukan pembuktian-pembuktian secara ilmiah dalam proses ber-Islam, sehingga memperoleh perasaan yang menggetarkan, dalam bentuk penyerahan diri kepada Allah. Dalam istilah lain bisa dikatakan dengan ‘rasio yang emosional’ atau ‘emosi yang rasional’. Yakni, penggabungan fungsi Hipocampus dan Amygdala dalam kinerja Sistem Limbik yang seimbang (dalam bahasa biologinya seperti itu). Dalam bahasa awam dapatlah dikatakan sebagai "kemampuan untuk menyeimbangkan antara pikiran (rasio) dan perasaan (emosi)".

Rasionalitas Ibrahim

21:62-63,

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ 62 قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".

Emosionalitas Ibrahim

9:114,

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

Tarekat Menuju Maqam Ma'rifatullah

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat beserta salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga tercurah atas muslimin dan muslimat.

A. Apa Arti Tarekat ?

Tarekat, demikian serapan bahasa Indonesia-nya dari kata bahasa Arab "Thariqat" ( طرىقه ). Kata ini dalam kamus Al Munawwir diterjemahkan sebagai jalan, cara atau metode yang ditempuh dalam mencapai tempat yang dituju. Belakangan istilah ini lebih dikenal sebagai jalan bagi calon sufi untuk mencapai maqam ma'rifatullah. Penggunaan istilah ini tidak sepenuhnya benar, banyak kesalahpahaman yang terjadi dalam memaknai arti kata ini. Demi meng-eliminasi kesalahpahaman itu hendaklah kita merujuk kepada Al Quran, bagaimana Allah "menterjemahkan" kata ini.

Berikut ayat-ayat Al Quran yang menerangkan tentang "Thariqat":

1. QS Al-Jinn/ 72:16

Artinya: "Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( الطَّرِيقَةِ ), benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya "jalan kebena­ran dan keadilan". (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XVI, hal. 5950).

2. QS Al-Ahqaaf/ 46:30

Artinya: "Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami men­dengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus ( طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ )."

Kata "thariqin" dalam ayat ini artinya ialah "Dien Al Islam" (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XV hal. 94).

3. QS An-Nisaa/ 4:168-169

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan ( طَرِيقًا ) kepada mereka. Kecuali jalan ( طَرِيقَ ) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah".

Kata "thariqon" dalam 168 artinya ialah "satu jalan menuju surga". Sedangkan dalam ayat 169 artinya ialah "jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam" (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).

4. QS Thaha/ 20:104

Artinya: "Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya ( طَرِيقَةً ) di antara mereka!" Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan sehari saja."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya ialah "jalan" (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan "jalan yang lurus" di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

5. QS Thaha/ 20:77

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka bikinlah untuk mereka jalan ( طَرِيقًا ) yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)."

Kata "thoriqon" dalam ayat ini berarti "Allah menger­ingkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).

6. QS Thaha/ 20:63

Artinya: "Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu ( بِطَرِيقَتِكُمُ ) yang utama."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini ada yang mengartikannya dengan "keyakinan (agama)" (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan "Bani Israel". (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).

7. QS Al-Mu'minuun/ 23:17

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan ( طَرَائِقَ ); dan Kami tidaklah lengah terha­dap ciptaan (Kami)".

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "lan­git", thoroiq kata jama' dari thoriqoh, karena dia adalah jalan-jalan malaikat." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).

8. QS Al-Jinn/ 72:11

Artinya: "Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan ( طَرَائِقَ ) yang berbeda-beda."

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "Golongan yang berbeda pendapat di kalangan muslimin dan kafir." (ibid, hal. 240).

Demikian firman Allah menyinggung makna thariqat. Dari rangkaian ayat-ayat diatas, dapat kita ambil kesimpulan makna thariqat sebagai berikut:"Sebuah jalan yang merupakan metode pencapaian tujuan yang didalamnya berisi konsep integral yang mencakup paradigma, sikap, perkataan maupun tindakan, lahir dan barthin.

B. Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam

Thariqat yang dilalui oleh manusia secara global terbagi menjadi dua, yaitu Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam. Thariq Al Mustaqim adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan kepada Allah, yaitu jalan yang lurus yang sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah. Sedangkan Thariqa Jahannam adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan tidak kepada Allah, yaitu jalan yang menyimpang yang tidak sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah.

Pada hakekatnya, semua manusia menginginkan yang terbaik sebagai tujuan akhir hidupnya, tapi dikarenakan keengganannya untuk mempelajari apa yang benar-benar baik buat dirinya maka dengan sendirinya ia menjadi salah paham, apa yang disangkanya baik ternyata tidak baik. Sehingga banyak manusia yang tanpa sadar telah menapaki Thariqa Jahannam, tetapi merasa sedang menapaki Thariq Al Mustaqim. Selain keterbatasan ilmu karena enggan belajar, hal ini juga bisa terjadi dikarenakan ketidakberdayaannya dalam melawan hawa nafsu.

C. Tarekat = Syare'at + Hakekat

Jalan untuk sampai kepada Allah haruslah mengikuti rute yang ditentukan, dan untuk mengetahui detail tentang rute itu haruslah memahami petunjuknya, dan petunjuk jalan itu tidak lain adalah Al Quran. Perjalanan mengikuti petunjuk Al Quran sebenarnya mudah sekali, mengapa saya katakan mudah? dikarenakan sebelum kita sudah ada orang yang menapaki jalan itu dan telah sampai ke tujuan, dialah Rasulullah Muhammad SAW. Maka ikutilah panduan Al Quran dengan melihat jejak langkah Rasulullah dalam menelusuri rute yang diarahkan oleh Al Quran, Insya Allah kita tidak akan tersesat.

Dalam setiap perjalanan pasti ada aturan mainnya, rambu-rambunya. Aturan ini meliputi seluruh aspek kehidupan, bersifat lahir maupun bathin. Aturan yang dimaksud adalah Syare'at, demikian orang Indonesia menyebutnya yang merupakan serapan dari bahasa Arab, Syari'at (pakai huruf i) ( شرىعه ). Allah sebagai pemilik jalan telah menetapkan aturan bagi siapa saja yang hendak menapaki jalan menuju-Nya. Dan aturan (syari'at) itu sendiri juga tercantum lengkap di dalam Al Quran yang merupakan petunjuk dalam perjalanan.

QS. Asy-Syura/ 42:13

Artinya: "Dia telah men-syari'at-kan untuk kamu bagian dari Al Dien, yaitu apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Al Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik Al Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Al Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

Manna al-Qathan (ahli fiqih dari Mesir) mendefinisikan syari'at sebagai segala ketentuan Allah SWT bagi hamba-Nya yang meliputi masalah 'aqidah, ibadah, akhlak dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

QS. Al Jatsiyah/ 45:18

Artinya: "Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari'at dari setiap urusan. Maka ikutilah ia dan jangan mengikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui."

Ibnu Abbas berkata, "Makna mengikuti syari'at pada ayat di atas maksudnya mengikuti petunjuk dan tuntunan dalam Al Dien."

Qatadah berkata, "Yang dimaksud dengan syar'iat adalah perintah dan larangan, serta sejumlah hukum dan kewajiban."

Jadi, syari'at adalah sejumlah perintah dan ketentuan ilahi yang menata kehidupan setiap muslim dalam seluruh aspek. Selain mencakup hukum yang bersifat pribadi ('ain), ia juga berisi kaidah politik, hukum, ekonomi, budaya etika, adab, dan perilaku sehari-hari (kifayah).

Di dalam syari'at tersimpan hakekat. Hakekat (demikian serapan bahasa Indonesia dari kata bahasa Arab Haqiqat / حقىقه) artinya kebenaran atau fakta. Kata Haqiqat sendiri merupakan salah satu dari asma Allah yaitu Al Haqq yang artinya "the absolute one" atau Yang Maha Mutlak Kebenarannya.

Dalam Al Quran, banyak sekali disebut kata ini, diantaranya dalam ayat berikut:

QS. Al Baqarah (2):42

Artinya: "Dan janganlah kamu campur adukkan yang Al Haq dengan yang Al Bathil dan janganlah kamu sembunyikan Al Haq itu, sedang kamu mengetahui"

Dalam ayat diatas, kata Al Haq adalah antonim dari kata Al Bathil. Maka kalau Al Bathil itu artinya hilang, rugi, rusak, sia-sia, berarti Al Haq adalah sesuatu yang tidak akan hilang, tidak akan rusak, dan tidak akan percuma namun pasti bermanfaat.

QS. Ali 'Imraan (3):60

Artinya: "Al Haq adalah yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu."

Dalam ayat ini jelas disebutkan dalam kalimat yang tegas bahwa Al Haq adalah yang datangnya dari Allah sebagai Rabb kita. Dengan penyebutan “predikat” Allah sebagai Rabb ini maka pengertian Al Haq dalam ayat ini merujuk kepada Rububiyatullah yang tak lain adalah Al Quran. Al Quran adalah kalamullah yang berisi ajaran Allah tentang haqiqat kehidupan manusia.

Kalam yang merupakan sesuatu yang abstrak itu membutuhkan “wadah” agar ia bisa “terakses” oleh ‘aqal manusia yang juga merupakan wadah. ‘Aqal yang terdiri dari mata, telinga, hati dan otak adalah wadah bagi sifat melihat, mendengar, merasakan (memahami) dan memikirkan, yang mana sifat-sifat tersebut hakikatnya adalah sifat Ilahiyah (ruh) yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini:

QS. Al Sajdah (32):9

Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya sebagian dari ruh-Nya (مِنْ رُوحِهِ ) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan af`idah (perasaan dan pemikiran), tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (membuka pendengaran, penglihatan, perasaan dan pemikiran itu / open mind)”

Hal ini sejalan dengan Al Quran, ia hakikatnya adalah Ruh Allah (QS. 42:52) yang berisi nilai-nilai kebenaran yang mutlak (Al Haq), yang dengannya manusia akan dapat memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya. Namun, Ruh agar bisa mewujud dalam realitas kehidupan manusia, maka ia mengharuskan adanya wadah. Wadah tersebut adalah ‘Aqal manusia. Manusia diharuskan memasukkan Ruh Allah (Al Quran) itu kedalam ‘Aqalnya sehingga pandangannya adalah pandangan Al Quran, pendengarannya adalah pendengaran Al Quran, pemikirannya adalah pemikiran Al Quran, perasaannya (pemahamannya) adalah perasaan Al Quran. Meski secara wujud ia adalah manusia, tapi hakikatnya ia adalah Al Quran.

Pertanyaannya, apakah semua manusia bisa seperti itu? Jawabannya, BISA, karena dalam diri manusia telah tertanam sesuatu yang disebut fitrah, fitrah itu adalah kecenderungan jiwa (nafsi) manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya Rabb dalam kehidupannya. Kecenderungan ini disebabkan karena nafsi pernah mengikat janji setia dengan Allah ketika nafsi belum terlahir ke dunia, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah berikut ini:

QS. Al A’raaf (7):172

Artinya: “Dan ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (nafsi) mereka: "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka (nafsi-nafsi itu) menjawab: "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)".

Dengan janji itu maka nafsi manusia menjadi terikat dengan Allah, terikat untuk selalu menerima setiap ketentuan Allah, dan terikat untuk mengisi nafsinya dengan Ruh Allah (nilai-nilai kebenaran Al Quran). Namun, kecenderungan ini bisa juga dikalahkan oleh kecenderungan lain yang juga ada dalam nafsi manusia, yaitu kecenderungan kepada keindahan dunia yang amat terasa nikmat dan membuat tubuh manusia kecanduan untuk selalu melahapnya. Inilah dua sisi manusia, kecenderungan nafsi kepada Ruh Allah yang akan membawanya kepada derajat kesucian, dan kecenderungan nafsi mengikuti hawa yang akan membawanya kepada derajat kekotoran.

QS. Al Syams (91):7-10

Artinya: “dan nafsi (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Ini dilemanya, tubuh manusia secara fakta butuh akan dunia, ia butuh makan, butuh minum, butuh energi, butuh seks, butuh berkembang biak, butuh sehat, butuh berhias, butuh mendapat perlindungan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan inilah yang terkadang membuat manusia terlupa akan bagian lain dalam dirinya yaitu nafsi (jiwa) yang juga punya kebutuhan, yaitu kebutuhan kepada Ruh Allah. Jiwa akan cenderung digerakkan kepada hawa, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh dan lupa akan kebutuhannya sendiri terhadap Ruh Allah. Keadaan ini yang berbahaya, jiwa tidak akan sampai kepada derajat suci malah justru sebaliknya kepada derajat kotor.

Maka, Allah yang Maha Penyayang membuatkan solusi atas dilema ini, Dia dengan Ilmu-Nya menciptakan sebuah cara agar manusia tetap bisa memenuhi kebutuhan tubuhnya akan dunia, tapi sekaligus juga dapat memenuhi kebutuhan jiwanya akan Ruh Allah (Al Quran). Solusi tersebut adalah diturunkannya Syari’at. Dalam pemenuhan kebutuhan tubuh, syari’at mengaturnya sedemikian rupa, sehingga tidak sampai membuat tubuh menjadi serakah akan dunia. Maka haqiqat-nya, syari’at adalah kasih sayang Allah yang diturunkan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri.

Tubuh akan cenderung malas dan berleha-leha menikmati irama waktu yang terus berjalan, maka untuk melatihnya agar disiplin, Allah men-syari’atkan kepada tubuh untuk shalat 5 waktu sehari semalam. Tubuh akan menjadi serakah dan tak akan pernah puas dalam bergelimang harta benda, mata silau ketika melihat warna-warni uang, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa mata itu harus diarahkan untuk melihat ayat-ayat Allah. Telinga akan terlena mendengar gemercik perhiasan, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa telinga itu harus diarahkan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Hati kita akan mabuk kepayang dan otak kita pun melayang-layang membayangkan senyum manis seonggok tubuh sang kekasih pujaan hati, sehingga membuat jiwa kita lupa bahwa seharusnya hati dan otak kita diarahkan untuk merasakan dan memikirkan ayat-ayat Allah. Untuk melatih tubuh kita agar tidak jatuh cinta kepada harta dunia, maka Allah mensyari’atkan kepada tubuh untuk berzakat. Telinga kita terbiasa mendengar bisik-bisik tetangga, mulut kita terbiasa menghisap rokok, lidah kita terbiasa mengecap kopi, sampai-sampai kebiasaan itu memperbudaknya. Maka agar manusia tidak terjebak menjadi budak kebiasaan, Allah mensyari’atkan puasa. Kalau tidak disyari’atkan hudud, tangan kita ini latah mengambil barang milik orang lain. Kalau tidak disyari’atkan qishash, kaki kita akan main tending saja bokong orang. Kalau tidak disyari’atkan rajam (jild), kemaluan kita ini akan masuk kemana saja ia suka. Kalau tidak disyari’atkan hukum waris, tawuran sekeluarga akan sering terjadi. Kalau tudak disyari’atkan hukuman bagi riba, akan semakin banyak orang yang bertindak sewenang-wenang. Kalau tidak disyari’atkan ini, maka akan itu, begini, begitu, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya.

Syari’at adalah hal yang tidak boleh terpisahkan dari Haqiqat, karena jiwa kita sedang berjalan menempuh THARIQAT MENUJU MA’RIFATLLAH, maka tidak mungkin ia mampu berjalan tanpa kendaraan, kendaraan itu ialah tubuh. Setelah ada kendarannya, tak mungkin ia bisa sampai kepada tujuan tanpa petunjuk jalan, petunjuk jalan itu ialah Ruh Allah (Al Quran). Tubuh diberi bahan bakar berupa SYARI’AT dan Ruh Allah dibaca dengan HAQIQAT.

Demikian tulisan yang serba singkat ini, semoga memberi manfaat kepada kita semua. Penjelasan tambahan bisa kita uraikan lebih lanjut dalam komentar.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin.


Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambungkan kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas Muslimin dan Muslimat.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Artinya: "Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)"

Sedari kecil mungkin kita sudah dikenalkan dengan istilah "bulan suci" yang dijadikan istilah resmi bagi bulan Ramadhan. Namun apakah kita memahami, apa sih yang membuat bulan ini dikatakan sebagai "bulan suci"? Nah, pada kesempatan ini mari kita coba urai bersama-sama agar kita bisa mengambil pelajaran daripadanya.

Untuk mengawalinya, mari kita lirik firman Allah berikut ini:

Al Baqarah (2) : 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Maka, siapa saja di antara kamu menyaksikan datangnya bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..."

Ternyata, hal yang menjadi penyebab bulan Ramadhan dikatakan "bulan suci" adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) "kitab suci" yaitu Al Quran. Jadi, kalau kita mengharapkan mendapat manfaat dengan kehadiran kita pada bulan ini, maka terimalah Al Quran itu menjadi petunjuk dalam hidup kita, penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika tidak seperti itu, maka sia-sialah kehadiran kita pada bulan ini. Dengan kata lain, kesucian Ramadhan tidak menular kepada jiwa kita.

Ini yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita pada bulan ini. Jadi, harus ada paradigma yang dirubah. Kalau selama ini, yang ada di benak kita ketika menyambut Ramadhan adalah berpuasa, maka hari ini itu harus dirubah, yang harus kita jadikan misi utama dalam bulan ini adalah "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita".

Lalu, apakah puasa tidak penting lagi, jika masih penting dimanakah letak urgensitas puasa pada bulan ini? Perhatikan ayat berikut ini:

Al Waaqi'ah (56) : 77-80,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِيكِتَابٍ مَكْنُونٍ لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : "Sesungguhnya ini adalah Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta alam."

Al Quran adalah kitab suci, maka untuk menyentuhnya juga diharuskan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran. Jadi, bagaimana mau menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jika kita berharap ingin menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, maka kita harus mau mensucikan jiwa kita. Orang yang tidak mau mensucikan jiwanya berarti ia merasa sudah suci, dan Allah melarang kita sok suci.

Al Najm (53) : 32,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: "Yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."

Lalu, bagaimana caranya kita mensucikan jiwa kita? Ya, seperti kita mensucikan baju aja sih, yaitu dengan cara membuang semua kotoran-kotoran yang menempel padanya, maka begitu juga jika kita ingin mensucikan jiwa kita, buang semua kotoran-kotoran jiwa yang menempel. Apa sajakah kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan itu?

Yang pertama adalah syirk. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 28,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis..."

Yang kedua adalah nifaq. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 95,

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: "...Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka (merujuk ke ayat-ayat sebelumnya, mereka yang dimaksud adalah munafiqin) itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

Yang ketiga adalah perbudakan kepada selain Allah (berhala), sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Hajj (22) : 30,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."

Itulah diantara sebagian diantara kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan, disamping masih banyak kotoran-kotoran jiwa lainnya yang juga harus dihilangkan, diantaranya hasad, riya, takabbur, sum'ah, 'ujub, dan lain-lain.

Nah, puasa adalah media pelatihan bagi kita untuk menghilangkan kotoran-kotoran jiwa itu. Bagaimana penjelasannya, bukti konkretnya, atau aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dikatakan bahwa puasa adalah media pensucian jiwa?

Perhatikan, ketika kita berpuasa kita dilarang makan, minum, berhubungan badan dengan pasangan. Apa hubungannya makan minum dengan syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala? Ketika kita makan minum apa yang kita jadikan motivasi, apakah Allah atau hawa nafsu kita? Jika yang kita jadikan motivasi makan minum kita adalah Allah tentunya kita hanya akan makan ketika kita lapar dan hanya akan minum ketika kita haus. Karena makan minum kita adalah semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan tubuh akan energi agar dapat digunakan secara optimal untuk mengabdi kepada Allah. Dan jika energi yang dibutuhkan itu sudah masuk kedalam tubuh, maka ia akan berhenti tanpa menunggu sampai bener-bener kenyang.

Sebaliknya, makan minum yang hanya dengan motivasi menyenangkan hawa nafsu dan "tidak disebut nama Allah" didalamnya cenderung tidak beraturan, mau lapar atau tidak kalau lidah sudah ngiler karena aroma soto ayam, pasti langsung dilahap. Bahkan ada yang pikirannya sampai terkuras memikirkan, "nanti sore enaknya makan apa ya?" Ada juga yang sampai melalaikan diri dari mengingat Allah demi memenuhi kebutuhan perutnya. Bahkan ada yang dengan sengaja melabrak batas-batas (hukum) yang Allah tentukan karena takut tidak makan. Kalau sudah begitu, maka hakikatnya bukan saja syirk, nifaq atau pengabdian kepada berhala, tapi ketiga-tiganya sudah layak disematkan kedalam jiwanya. Na'udzubillah min dzalik.

Maka, dengan puasa inilah kita melatih jiwa kita agar terhindar dari hal-hal pengotor jiwa. Yang adalah pengotor jiwa itu sebenarnya merupakan dinding yang akan menutupi jiwa kita dari Al Quran, sehingga ajaran-ajaran Allah yang suci didalam Al Quran tidak sampai masuk kerelung jiwa dan mewujud kedalam sikap, ucap dan tindak sehari-hari. Dengan puasa inilah kita diperintahkan membuka lebar-lebar jiwa kita untuk menerima wahyu Allah yaitu Al Quran, dan menutupnya rapat-rapat dari bisikan syethan terkutuk.

Al Isra (17) : 45,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

Artinya: "Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat (wujud kekafiran kepada hari akhir adalah dengan membiarkan dirinya terkungkung dalam lembah syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala), suatu dinding yang tertutup."

bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.


Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...