HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

24 Jul 2011

Viagra dapat menyebabkan Tuli

Viagra mungkin menjadi teman baik bagi beberapa pria. Namun, pil kecil ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran atau yang biasa dikenal dengan sebutan tuli. Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari Rumah Sakit Charing Cross, Stoke Mandeville dan Rumah Sakit Royal Marsden.


Para peneliti menemukan 47 kasus gangguan pendengaran di Eropa, Amerika, Asia Timur dan Australia. Mereka diduga menderita kehilangan pendengaran sensorineural pada atau atau kedua telinga mereka. Dalam kasus ini, kebanyakan dari mereka yang menderita tuli akibat viagra berusia 57 tahun ke atas. Hanya dua di antaranya yang berusia 37 tahun.


Belum diketahui berapa lama efek tuli yang ditimbulkan oleh viagra akan bertahan. Namun, kehilangan pendengaran tipe sensorineural biasanya meninggalkan efek permanen dalam beberapa kasus. Karena efek brutalnya itulah, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyarankan mereka yang menggunakan viagra dan merasakan penurunan fungsi pendengaran untuk menghentikan penggunaannya.


"Para praktisi medis yang memasukkan viagra dalam resep obat perlu waspada terhadap efek sampingnya," kata Dr Afroze Shah Khan dari Rumah Sakit Charing Cross.(Zeenews/ADO)


Sumber : liputan6.com
Lanjutkan Membaca ...

Stop Vaksin, Selamatkan Anak Indonesia!

Aksi Sharia4Indonesia di Bunderan HI : Stop Vaksin, Selamatkan Anak Indonesia!

Stop vaksin, selamatkan anak Indonesia, sekarang juga! Demikian tuntutan dalam aksi & orasi yang dilakukan oleh Sharia4Indonesia-Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan-di Bunderan HI, Sabtu (23/07/2011). Dalam aksi tersebut, masyarakat dibukakan matanya bahwa ternyata vaksin atau imunisasi yang selama ini dijalankan untuk menyehatkan anak Indonesia telah gagal. Untuk itu, stop vaksin, selamatkan anak Indonesia, sekarang juga!

Vaksin gagal sehatkan bangsa, ganti sekarang juga!

Pagi itu, Sabtu (23/07/2011) Bunderan HI, telah ramai dikunjungi para peserta aksi & orasi yang diselenggarakan oleh Sharia4Indonesia-Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan. Para peserta yang berpakaian hitam putih ini membawa pelbagai spanduk dan atribut aksi yang sangat simpatik, seperti bendera Islam (Al Liwa dan Ar Raya) juga bendera masing-masing ormas.
Sekitar pukul 08.30 aksi dan orasi dimulai dengan sambutan dari Sharia4Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadz M Fachry. Dalam sambutannya disampaikan rasa syukur, Alhamdulillah, serta terima kasih kepada semua pihak yang telah bersinergis untuk menyampaikan kebenaran bahaya vaksin dan perlunya umat Islam khususnya dan bangsa ini pada umumnya untuk kembali kepada vaksin atau imunisasi khas Islam, yakni dengan kembali kepada pengobatan ala Rosulullah SAW (Thibbun Nabawy).
Acara selanjutnya dipandu oleh Ustadz Abu Shofi, juga dari Sharia4Indonesia yang langsung mempersilahkan satu persatu orator untuk naik ke ‘panggung’ menyampaikan pandangannya tentang bahaya vaksin.
Tampil dengan sangat meyakinkan Ustadz Alfian Tanjung, Ketua Umum Taruna Muslim. Beliau menyampaikan bahwa kewajiban stop vaksin sudah tidak dapat ditunda lagi alias harus dilakukan sekarang juga. Menurut beliau, vaksin adalah skandal sadis konspirasi medis. Untuk itu, beliau menyerukan agar umat Islam mengutuk konspirasi vaksin yang merupakan kejahatan dalam bidang kesehatan.
Di sela-sela orasi, para peserta yang terus berdatangan tampil bersemangat dengan meneriakkan yel-yel stop vaksin. Ketika orator meneriakkan kata “vaksin”, maka serentak para peserta menyambut dengan kata “go to hell”. Ketika orator menyebutkan kata tahnik, ASI, bekam, dan herbal sebagai solusi vaksin, maka para peserta lagsung menyambut dengan kata “yes”.

Semua ingin vaksin dihentikan, kembali ke pengobatan ala Nabi SAW

Umat Islam sepakat untuk stop vaksin. Berbagai komponen umat yang hadir dalam aksi & orasi stop vaksin di Bunderan HI kemarin, Sabtu (23/07/2011) menyerukan kata yang sama, yakni stop vaksin, selamatkan anak Indonesia, sekarang juga.
Front Pembela Islam (FPI), disamping turun dengan sejumlah massa, mereka secara khusus juga menurunkan para muslimahnya yang tergabung dalam Mujahidah Pembela Islam (MPI). Dengan penuh semangat, para ummahat ini membentangkan spanduk dan berorasi stop vaksin. Diantara bunyi spanduk tersebut adalah : “Ayo selamatkan bayi Indonesia dari vaksin babi, anjing, dan monyet” juga “Vaksin Halal, Yes…Vaksin Haram, No”.
Setelah itu, secara bergantian para orator, baik dari kalangan ustadz, ustadzah, maupun praktisi dan ahli Pengobatan ala Rosul (Thibbun Nabawy) memberika orasi. Ada Ustadz Abdul Malik SH, MBA (IPN), Ustadz Sulaiman (PTDI), dr. Henny Zenial, Drh. Susintawati (S4i), Ustadzah Usroh (MPI), Ustadzah Jenny Biki (Persis), Ustadz Beni Muchtar Biki, Ustadzah Ummu Salamah SH, Hajjam (S4i), Ustadz Abdullah (MM), dan Ustadz Purwo Uwo (HPA), Ustadz M Hakimuddin (ABI).
Dari kalangan muda tampil sebagai orator Akh Deny dari Fos Armi, Bogor. Tidak mau ketinggalan, dari kalangan sepuh tampil habib Shibab Anggawi dari Front Pembela Islam (FPI) juga ikut menjadi orator dan membakar semangat para peserta untuk bersatu stop vaksin dan menggantinya dengan imunisasi ala nabi, yakni dengan tanhik dan ASI untuk bayi, serta bekam dan herbal untuk remaja dan dewasa.
Di sesi akhir, Ustadz M Al Khatthath, sekjen FUI ikut memberikan orasi yang juga menyerukan stop vaksin dan kembali kepada syariat Islam, yakni pengobatan ala Nabi SAW., jika umat Islam sebagai komponen terbesar bangsa ini mau maju.
Aksi dan orasi stop vaksin, selamatkan anak Indonesia ditutup oleh pernyataan sikap atau pres rilis oleh Ustadz Ahmad dari Sharia4Indonesia-Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan, yang dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Ustadz Alfian Tanjung. Semoga umat Islam segera sadar akan bahaya vaksin dengan menyetopnya sekarang juga, agar anak Indonesia bisa selamat dan jaya di kemudian hari. Insya Allah!


Wallahu’alam bis showab!


Sumber : Arrahmah
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal Allah - Part Three - Completed

Artikel ketiga atau terkahir dari seri artikel mengenal Allah adalah kelanjutan dari artikel http://jabotabekinfo.blogspot.com/2011/07/mengenal-allah-part-two.html . Silahkan di simak semoga bermanfaat.
==================
Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.
Untuk lebih memudahkan kita untuk memahami makna Tauhid yang merupakan inti dari Ajaran Islam, maka mari kita arahkan pembahasan kita kepada Amtsal Tauhid. Bagian ini adalah bagian terakhir dari pembahasan Mengenal Allah.


C. Amtsal Tauhid
Dalam Al-Quran tidak saja berisi kumpulan-kumpulan cerita, hukum, nasihat dan aturan-aturan dasar memahami alam semesta, namun juga memuat teori dan logika yang sangat valid. Allah SWT dalam hal ini tidak segan-segan membuat perumpamaan dalam setiap perkara besar, sekalipun perumpamaan tersebut seekor lalat. Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan tersebut, sampai manusia memahami apa kehendak-Nya (Qs. 2;26). Tak terkecuali, masalah tauhid yang dalam studi agama adalah masalah-masalah ketuhanan adalah masalah pokok sebelum memahami unsur lainnya. Untuk masalah tauhid ini, Allah membuat perunpamaan seperti yang tertuang dalam surat Ibrahim (14) ayat 24-25 di bawah ini:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap, musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (14:24-25).
Pelajaran pertama yang harus diungkap adalah bahwa Allah SWT sangat memahami dan mempermudah manusia. Mengumpamakan sesuatu yang sangat penting dalam urusan agama, Allah mencontohkannya dengan sebuah pohon. Siapa manusia yang tidak kenal pohon dan siapa manusia yang tidak mengenal tiga unsur pohon tersebut, yaitu akar, batang dan buah.
Semua pasti tahu. Disinilah ke Maha Besar-an Allah dan kesucian Al-Quran dalam mengajarkan kebenaran. Ia sangat dekat dengan manusia dan segala pengalanamnya. Setiap manusia yang berfikir akan mengetahui keberadaan dan fungsi masing-masing unsur pohon tersebut. Manusia tahu tidak akan pernah ada pohon yang tidak memiliki keberadaan dan fungsi tiga unsur pohon tersebut. Keberadaan pohon diawali tumbuhnya akar, lalu batang dan setelah kedua unsur ini berproses pada fungsinya masing-masing, maka menghasilkan buah. Pohon tidak pernah hidup tanpa akar dan akar tidak pernah menghasilkan buah tanpa ada batang. Ini adalah pelajaran yang harus terus diingat selama-lamanya oleh siapa saja.
Demikian gambaran singkat tentang pohon. Yang penting, bahwa pohon ini akan menjadi barometer untuk mengukur faliditas konsep tauhid yang diangkat dari Al-Quran, tentang kalimat Thayyibah yang diilustrasikan dalam kalimat Laa Ilalah Illallah atau kalimah tauhid. Inti tentang kalimah tauhid adalah memahami Allah SWT. Pemahaman tentang Allah SWT ini, telah diuraikan dalam tulisan ini dimuka. Oleh karena itu, penyebutan untuk Allah SWT, sebagai Rabb, Malik dan Ilah, wujud kongritnya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan fungsinya, perannnya, namanya seperti akar, batang dan buah.
Untuk mempermudah memahami perumpamaan ini, dapat menggunakan metrik, yang hasilnya sebagai berikut:




Perumpamaan Syajarah Thayyibah Amtsal Tauhid/
Kalimat Thoyyibah
Wujud Kongkrit
Ashlun/
Akar
Rabb /
Rububiyah
Al-Quran /
Sunatullah
Far'un /
Batang
Malik /
Mulkiyah
Kerajaan /
Khilafah Islamiyah
Ukulun /
Buah
Ilah /
Uluhiyatullah
Manusia /
Masyarakat Tauhid


Selanjutnya, akan diuraikan perbandingan setiap unsur dari keduanya, sebagai berikut:
  1. Perbandingan akar dengan Rabb atau Rububiyatullah
    Akar bagi pohon mewujud di awal kehidupan dan berfungsi sebagai dasar dan sumber kehidupan bagi kelangsungan hidup pohon. Jika akar mati, maka pohon akan mati.
    Rububiyatullah atau Rububiyah (aturan hidup) bagi manusia mewujud atau hadir dalam kehidupan manusia sebelum manusia mampu menata kehidupannya (ingat manusia diciptakan oleh Allah setelah Allah menciptakan alam raya ini dengan segala hukum-hukumnya) dan berfungsi sebagai sumber dari segala sumber kehidupan manusia, sebab manusia tidak akan pernah sampai pada kemapanan kebudayaan dan peradaban, tanpa adanya sebuah aturan yang dijunjung tinggi. Manusia tanpa aturan akan menjadi masyarakat tak beradab; hidup tanpa aturan sehingga tidak tahu mana hak mana kewajiban dan lainnya. Uraian ini menunjukkan bahwa, kedua-duanya ada dan berada pada awal kehidupan dan berfungsi sebagai sumber kehidupan.
  2. Perbandinagn batang dengan Malik atau Mulkiyatullah
    Batang bagi pohon ada dan mewujud untuk memproses suplai makanan dari akar ke tunas dan dengan proses yang terus menerus menjadi batang yang kokoh dan dengan memproses makanan yang bersumber dari akar, sehingga munculnya buah.
    Mulkiyatullah atau Mulkiyah (kerajaan, kekuasaan, kepemimpinan) bagi manusia ada dan mewujud sebagai proses kelanjutan dari implikasi dan pengejawantahan Rububiyah. Sebab tidak ada kekausaan atau pemerintahan yang tidak menganut suatu ideologi (rububiyah), dan adanya kekuasaan diciptakan dari sentimen dan berlandasan pada ideologi yang dianut. Negera Liberal tidak pernah ada jika tidak muncul ideologi leberalisme dan lain sebagainya. Fungsinya, selain sebagai proses dan jaminan atas pelaksanaan hukum dan perundang-undangan, juga sebagai tempat atau wadah yang nyata menata dan menciptakan masyarakat ideal.
    Uraian di atas menunjukkan, keduanya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan sekaligus fungsinya, yaitu sebagai tempat memproses dari hal yang mendasar menjadi hasil yang muncul dipermukaan.
  3. Perbandingan buah dengan Ilah atau Uluhiyatullah
    Buah bagi pohon adalah hasil dari sebuah proses suplai makanan dari akar yang diproses oleh batang. Ia selain sebagai bukti keberhasilan dari sebuah proses berkesinambungan antara akar dan batang serta tujuan dari sebuah proses penanaman sebuah pohon, juga berfungsi sebagai pelanjut keturunan dan perkembangan genetika sebuah pohon. Di dalamnya ada benih yang merupakan inti dari kehidupan pohon. Di dalamnya ada cikal bakal akar, batang dan buah.
    Uluhiayah (pengabdian/Ibadah atau terbentuknya manusia dan masyarakat tauhid) bagi manusia dalah hasil dari pelaksanaan Rubiyatullah di dalam Mulkiyatullah. Manusia tauhid atau masyarakat tauhid mewujud selain sebagai bukti berjalannya proses tersebut di atas, juga merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Ingat! Bahwa tujuan akhir dari seluruh proses lehidupan manusia adalah ibadah. Artinya, masyarakat manusia harus berupaya menciptakan suatu kondisi yang mengantarkan dan menjaga manusia agar tetap beribadah.
    Jika buah yang diharapkan oleh petani ketika menanam pohon, maka Allah menerima ibadah manusia bila dilakukan dengan berlandaskan Rububiyah-Nya dan dilaksanakan dalam Mulkiyah-Nya. Dan sesuailah tujuan tujuan Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Qs. 51;56). Kloplah sudah perumpamaan ini. maha Suci Allah yang telah menciptakan perumpamaan ini dengan sejelas-jelasnya.
    Selanjutnya, pelajaran yang dapat ditarik dipermukaan dari perumapamaan tersebut, yaitu bahwa ketiga unsur pohon itu, memiliki hukum pasti yang mengajarkan bahwa buah mangga misalnya, akan dihasilkan dari akar dan batang buah mangga dan tidak mungkin dari akar dan batang durian. Begitu juga, batang buah tidak akan muncul dari akar durian.
    Pelajaran ini jika diterapkan dalam kehidupan manusia, masyarakat Islami hanya akan muncul dari sebuah negara atau pemerintahan Islam, dan tidak pernah muncul dari negara atau pemerintahan non Islam. Begitu pula, negara Islami tidak akan pernah ada dari ideologi atau ajaran bukan Islam. Ini peringatan dari Allah SWT, semoga Allah SWT memudahkan manusia dalam mencerap ajaran ini.
    Untuk selanjutnya, pembaca boleh membandingkan dengan isi sari surat An-Nuur ayat 35-37. Setelah memahami ayat ini, kiranya perlu membuka satu kenyataan lagi, bahwa tiga unsur ini berlaku bagi kehidupan manapun. Jika ideologo komunisme dianut oleh suatu bangsa, maka sudah pasti bangsa tersebut akan menjadi negara komunis, selanjutnya akan menata danm embentuk masyarakat komunis yang dicita-citakan. Begitu pula bagi Liberalisme, kapitalisme atau nasionalisme. Dalam setiap kasus tersebut tidak terlepas dari tiga unsur tersebut. Ini adalah pandangan dunia tauhid. Pandangan dunia yang sesungguhnya, pandangan yang murni dan benar.
D. Syirik


1. Syirik Lawan Tauhid


Dalam kehidupan manusia, hidup senantiasa berpasangan. Baik yang bersanding saling mengisi atau justru pasangan tersebut saling bertentangan. Contoh yang bersanding dan saling mengisi seperti suami istri, siang dan mala, dan contoh yang justru saling bermusuhan adalah hak dan bathil, Allah dan Syaitan, atau juga antara Tauhid dan Syirik.
Perlu dijelaskan di sini bahwa makna tauhid artinya satu, menyatukan, tunggal, tidak terbagi, tidak terpilah, lengkap dan sempurna. Yang lebih oprosional, tauhid sebagai suatu yang tidak membenarkan kesempatan kepada pihak manapun mencampuri yang satu tersebut. Oleh karena itu, ia mampu menjamin danm enjaga kesempurnaan dan kemapanan. Syirik berarti mencampur adukkan, menandingi, menyaingi dan mengisi kesempurnaan dengan yang lainnya.
Jika unsur tauhid sudah gamblang dijelaskan di muka, maka syirik berlawanan dengan tauhid, maka memiliki unsur yang sama. Jadi, ada syirik Rububiyah, syirik Mulkiyah dan syirik Uluhiyah.
Syirik Rububiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi Rububiyah-Nya. Jadi siapapunyang tidak menafikan segela bentuk rububiyah selain Rububiyatullah adalah musyrik. (72;1-2, 18;26).
Syirik Mulkiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi Mulkiyah-Nya. Jadi siapapun yang tidak menafikan segala bentuk mulkiyah selain mulkiyatullah adalah musyrik. (Lih Qs. 17;111, 25;2).
Syirik Uluhiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi uluhiyah-Nya. Jadi siapapun yang tidak menafikan segala bentuk pengabdian, cita-cita pembentukan masyarakat selaian pengabdian dan cita-cita pembentukan masyarakat tauhid adalah musyrik. (Lih Qs. 18;110).

2. Akibat-akibat yang menimpa Musyrikin

Untuk menjelaskan apa akibat orang yang mensekutukan Allah, akan terlihat dalam ayat-ayat sebagai berikut:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu; Jika kamu menpersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah termasuk orang-orang yang merugi”. (39:65).
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Qs. 4;48).
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (4:116).
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: :Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam’, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Qs. 5;72).
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah), adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. 31;13).


Ayat-ayat tersebut di atas telah gamblang memberikan penjelasan tentang akibat apa yang diperoleh oleh orang yang mensekutukan Allah. Kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain:
1. Mensekutukan Allah akan mengakibatkan ditolaknya seluruh amal, sehingga merugi.2. Dosa syirik tidak terampuni dan syirik adalah dosa besar, serta siapa yang mensekutukan Allah, ia telah sesat dengan sesesat-sesatnya.3. Orang yang mensekutukan Allah haram masuk surga dan tempatnya di neraka.4. Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar


al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal Allah - Part Two -

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya, http://jabotabekinfo.blogspot.com/2011/07/mengenal-allah-part-one.html .
================
Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahim
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.


Pembahasan sebelumnya kita telah sampai kepada pemahaman tauhid, yaitu tauhid teoritis. sekarang mari kita masuk pada pembahasan selanjutnya yaitu tauhid praktis.


B. Tauhid Praktis

Tauhid praktis ini akan menuntun pembaca untuk menelusuri bagaimana tauhid diterapkan dalam kehidupan manusia. Tauhid terapan menguraikan bagaimana tauhid itu menjadi nyata dan bentuknya dapat dilihat lebih transaparan dan riil.


Berangkat dari ke-Maha Besar-an Allah yang telah mewahyukan Al-Quran dengan paripurna, lengkap dan penuh pelajaran dan mengandung pelajaran mental spiritual bagi yang mengkajinya, maka pembahasan tauhid praktis ini akan mengacu pada keunggulan dan keutamaan surah pertama dan terakhir mushaf Al-Quran yang tauqi’fi. Kedua surat ini masing-masing akan dikaji dan ditelusuri isi dan suasana makna yang terkandung dalam kalimat -kalimatnya.


Firman Allah SWT dalam surah Al-Fatihah dab Surah An-Nas: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang. Sebaga puji bagi Allah Rabb semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Malik hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau Kami mohon pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dab bukan (pula jalan) meereka yang sesat”. (1:1-7).
“Katakanlah: “Aku berlindung pada Rabb manusia. Malik manusia. manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan-syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jenis jin dan manusia”. (114:1-6). 


Kedua surat ini secara keseluruhan ditampilkan dalam bentuk do’a. Di dalamnya mengajarkan tatacara berdo’a, yaitu do’a harus didahului dengan pujian kepada Allah SWT. Ayat ke 1 sampai ke 5 surat Al-Fatihah berisikan pujian dan ayat sisanya berisi do’a. Begitu pula dalam surat An-Naas, ayat ke 1 sampai ke 3 selain permohonan perlindungan juga berisi pujian dan penyebutan nama Allah keseluruhannya merupakan permohonan/do’a. Sedangkan doa merupakan muhhul ibadah (otak/hati ibadah), sedang ibadah merupakan tugas hidup yang mesti direalisasikan dalam praktek. Ajaran ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang bersifat lebih kecil atau makhluk harus mengetahui tentang keberadaan Yang Maha Besar sebelum si kecil melakukan pengabdian kepada-Nya. Sebab, salah-salah, yang dianggapnya Maha Besar tidak diketahui secara riil seperti apa dan bagaimana kebesaran dari Yang Maha Besar tersebut. Niat beribadah kepada Allah SWT, bisa jadi salah kaprah, justru yang diibadahi adalah kebesaran dirinya dalam mempersepsikan (dugaan) tentang Tuhannya.


Bagian pertama kedua surat ini, berisikan pujian kepada-Nya, yaitu, dalam ayat ke 1 sampai ke 5 durat Al-Fatihah dan ayat ke 1 sampai ke 3 surat An-Nas. Di dalamnya menyebutkan tiga pokok kata Allah SWT. yaitu, Rabb, Malik dan Ilah. Ketiga pokok kata sifat Allah SWT ini, tersusun di dalam kedua surat ini secara berurutan Rabb di urutan pertama, Malik diurutan kedua dan diurutan ketiganya kata Ma’bud/Ilah. 



  1. Rabb.
    Kata rabb dalam surat Al-Fatihah diikuti dengan kata al-’Alamin yang berarti seluruh alam. Dan Rabb dalam surat An-Nas diikuti dengan kata an-Nas yang berarti manusia. Al-Quran sendiri banyak memberikan arti dalam kata Rabb di antaranya dalam syrat Al-A’raf (7) ayat 54 dan surat Ali Imran (3) ayat 64, dengan arti pencipta, pemelihara, pengatur. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Tuhan kami ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsyi. Dia menutupkan malam ke dalam siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam”. (Qs. 7:54).

    “Katakanlah: “Hai al-Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesutau apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah )”. (3:64).

    Ayat pertama terdapat kata Rabbukum berarti yang menciptakan. Dia pencipta dan pemegang perintah segala sesuatu.

    Ayat kedua terdapat kata Arbaban, yang berarti yang mengatur. Asbab nuzul ayat ini, menceritakan bahwa Bani Israil telah menjadikan para rahib mereka menjadi pembuat hukum dan undang-undang yang mereka taati selayaknya tuhan. Jadi, Allah Rabbul-‘alamin dan Rabbun berarti adalah Allah Pengatur alam semesta dan Pengatur manusia. Secara praktis dapat difahami bahwa sebagai pemelihara dan pengatur, Allah SWT sudah pasti memiliki aturan, yaitu wahyu. Secara manusiawi terlihat dalam sejarah umat manusia, bahwa peradaban tertinggi manusia dapat dicapai dengan keteraturan dalam segala bidang. Ini menunjukkan bahwa dengan adanya aturan masyarakat akan mampu mencapai peradaban tertingginya. Dalam hal ini, Allah telah mengatur manusia (Qs. 114;2), alam semesta (Qs. 26;23-28) dan ‘Arsy (Qs. 23;116). Dus, Allah adalah pengatur segala sesuatu (Qs. 6:164).

    Penjelasan selanjutnya, Allah rabbul ‘Alamin telah mengatur seluruh alam dengan ilmunya yaitu menata seluruh alam raya ini, sehingga tertata rapih, kokoh, seimbang dan karena sangat pastinya aturan ini, tidak ada seorangpun atau apapun yang mempu merubahnya. Ilmu Allah untuk alam ini dapat diketahui oleh manusia melalui mempelajari hukum-hukum alam yang berjalan tanpa perubahan, merumuskannya dan memanfaatkannya, sesuai dengan peruntukannya dami kelangsungan kehidupan manusia (Qs. 35;43-44).

    Demikianlah Allah mengatur alam, yang berbeda ketika Allah mengatur manusia. Jika aturan bagi alam melekat dalam dirinya, bersifat pasti dan tetap, mengikutinya baik rela maupun terpaksa, maka aturan bagi manusia selain dalam dirinya, juga diberikan suatu aturan yang sama pastinya dengan hukum alam, yaitu wahyu. Dalam hal ini manusia diberi kebebasan untuk mengikutinya atau menolaknya. Yang jelas, kedua aturan tersebut (aturan alam dan manusia) kedua-duanya memiliki kepastian yag sama, artinya manusia tidak akan sanggup merubah hukum dan konsekuensi hukuman bagi yang melanggarnya. Contoh, jika hukum alam mengatakan bahwa air dapat mendidih dengan 90 derajat Celcius, maka manusia tidak akan pernah mampu mendidihkan air dengan 89,9 derajat Celcius. Hal ini sama dengan manusia tidak akan pernah hidup dalam keadilan tanpa memenuhi syarat-syarat keadilan yang harus diwujudkan sesuai dengan atuarn Al-Quran. Contoh riil, zina selamanya akan menjadi jalan terburuk bagi kelangsungan hidup manusia, dan tidak ada menusia yang mampu merubah jalan zina ini menjadi jalan baik.

    Berdasarkan hal ini, maka nyatalah bahwa Allah adalah Rabbul ‘Alamin dan Rabbin-Nas. Oleh karena itu, pengakuan manuisa terhadap Allah sebagai pangtur dirinya, harus mengakui Al-Quran sebagai wahyu dari-Nya, sebagai satu-satunya aturan yang hanya boleh mengatur dirinya. (Qs. 16:89, 6;38). Inilah makna pengakuan tauhid Laa Rabba Illallah. Artinya, ia harus menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk hukum, ideologi, perundang-undangan dan adat-istiadat yang tidak dibangun berdasarkan wahyu Allah.

    Kesimpulan, wujud nyata Allah sebagai Rabb adalah adanya Rububiyatullah, yaitu hukum alam dan wahyu Allah (Al-Quran).
  2. Malik.Dalam Al-Quran kata Malik diartikan dengan pemilik seperti terlihat dalam surat Ali Imran (3) ayat 26, dan diartikan Raja seperti terlihat dalam surat Al-Fatihah (1):3, An-Nas (114):2, Yusuf (12) ayat 76, sebagai berikut:

    “Katakanlah : “Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (3:26).

    "Tidak patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja”. (12:76).

    Dalam ayat pertama terdapat kata malikul mulki yang artinya pemilik kerajaan dan dalam ayat kedua terdapat kata Dienul Malik yang artinya undang-undang raja, Kesimpulan kata Malik, Pemilik dan Raja. Sudah barang tentu seorang raja pasti memiliki kerajaan dan pemilik kerajaan sudah pasti adalam seorang raja. Allah adalah Maliki Yaumidin. Artinya Dia-lah Allah yang merajai dan memiliki hari pembalasan karena setiap manusia diminta mempertanggung-jawabkan dien Allan yang telah Dia ajarkan kepada manusia.

    Allah adalah Malikin-Naas. Artinya, Dia-lah yang merajai dan memiliki manusia. Tidak ada yanpatut menjadi raja dan memperbudak manusai kecuali Allah SWT. Dia adalah raja langit dan bumi (Qs. 62;1). Demikianlah Allah SWT, Dia adalah Raja di dunia dan juga raja di akhirat. Manusia di hadapan Allah SWT, secara umum adalah hamba dan secara khusus adalah khalifah-Nya tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, manusia tidak lebih dari sekedar pembawa amanat dari Allah (khalifatullah) untuk memimpin manusia menjadi hamba-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, membimbing kearah ridla-Nya dan menegakkan keadilan-Nya (Qs.33;72). Berdasarkan hal ini, maka secara riil bahwa manusia harus mewujudkan kekhalifahan Allah (Qs. 24;55) dan menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk kekuasaan, kerajaan, pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak ditegakkan atas kehendak Allah.

    Allah telah nyata-nyata menggariskan:

    “Sesungguhnya Wali (pimpinan; penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalah, menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (Qs. 5;55).

    Siapapun dalam kepemimpinannya tidak satu jalur denagn tersebut di atas, maka ia adalah batil. Inilah wujud kongrit dari Tauhid Laa Malika Illallah.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Malik adalah adanya Mulkiyatullah, yaitu kerajaan Allah dan Khilafah Islamiyah.
  3. Ilah.
    Kalimat Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in adalah kalimat ubudiyah yang ditujukan kepada Allah sebagai Ma’bud. Ma’bud sama maknanya dengan ilah, yaitu yang diibadahi. Ilah atau Ma’bud maknanya meliputi: Yang dicintai seperti terdapat dalam surat Al-Bqarah ayat 165, Yang diibadahi seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 138:

    “Dan sebagian manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintai tunah-tuhan tandingan sama seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman itu harus lebih tinggi cintanya kepada Allah”. (2;165).

    “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kamu menyembah”. (2:138).

    Makna ilah dalam ayat tersebut, memuat rasa cinta, dan penghambaan. Cinta mampu membawa manusia pada penghambaan dan rasa aman yang luar biasa. Jika manusia telah terikat dengan rasa cinta, segala potensinya akan mampu merubah apa saja demi tercapainya penghambaan kepada yang dicintainya, sampai merasa tentram karena pengakuannya. Oleh karena itu, apa saja dilakukannya demi yang dicintainya sepanjang hal tersebut memenuhi tuntutan dan ridla-Nya.

    Cinta didahului oleh tahu, artinya dengan ilmu. Cinta yang dilandasai oleh ilmu, tumbuh dan berkembang dengan ksadaran. Mencintai berarti tahu tentang keunggulan yang patut dicintai. Mencintai berarti ia telah mengambil risiko untuk meridlai apa yang diridla-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Inilah makna penghambaan kepada Ilah. Seorang pencinta tidak akan merasa tentram sebelum melakukan penghambaan dan berbuat sesuai dengan ridla yang dicintainya.

    Selanjutnya, segala sesuatu yang dicintai menimbulkan keterikatan, kecanduan, kecenderuangan dan ketakutan akan tidak mendapat atau kehilangan ridlonya, maka sesuatu itu menjadi tuhan. Dalam hal ini, rakyat, demokrasi, nasionalisme-kebangsaan, leluhur, sejarah, kekuasaan, pangkat, jabatan, pimpinan, harta benda, suami-istri, anak dan segala bentuk ketergantungan yang menghambat cinta, penghambaan kepada Allah SWT, maka ia telah menjadi saingan-Nya (Andad-Nya).

    Jika hal ini mewujud dalam perasaan, pikiran, sikap dan tindakan apapun dalam diri seseorang, maka ia telah mengangkat ilah selain Allah. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sudah nyata bahwa ilah sangat tergantung pada perasaan, pikiran, sikap dan tindakan yang mengilahkannya. Jadi wujud kongrit adanya penghambaan kepada Allah SWT adalah adanya hamba Allah yang senantiasa mencintai, menyerahkan penghambaan kepada-Nya dan merasa tentram karena ridla-Nya. Dus, bentuk nyata Tauhid Laa Ilaha Illallah adalah mewujdnya hamba-hamba Allah dalam masyarakat manusia. Manusia atau masyarakat Tauhid adalah manusia atau masyarakat yang menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk perasaan, pikiran, sikap dan perilaku manusia atau masyarakat yang tidak menghambakan diri kepada Allah SWT.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Ilah bagi manusia adalah adanya Uluhiyatullah, yaitu terwujudnya manusia dan masyarakat yang mengabdi kepada-Nya.

    Demikianlah gambaran tentang Rabb, Malik dan Ilah dalam pembahsan Tauhid Praktis. Kesimpulannya, Allah sebgai rabb nampak dalam Al-Quran sebagai wahyu-Nya. Allah sebagai Malik nampak dalam kekhalifahan dan kepemimpinan orang-orang yang beriman. Allah sebagai Ilah nampak dalam masyarakat yang menjunjung tinggi penghambaan kepada Allah, yaitu masyarakat Islam. Selain hal tersebut, dapat diungkapkan pula bahwa dalam surat An-Naas kara Rabb, Malik dan Ilah ini tersusun berurutan tanpa penghalang apapun (tanpa huruf washal) ini menunjukkan adanya kesinambungan, satu kesatuan dan integral tak terpisahkan satu sama lain.

    Hal ini pula, tiga kata tersebut tersusun secara berurutan dalam dua surat, menunjukkan bahwa baik teori maupun dalam praktek (kehidupan nyata) harus difahami sebagai urut-urutan yang pasti. Artinya Rabb harus didahulukan, diikuti oleh Malik yang akhirnya Ilah. Di sini dapat dilukiskan, manusia atau masyarakat tauhid tidak akan muncul tanpa terlebih dahulu menegakkan khalifatullah atau pemerintahan Islam, dan pemerintahan Islam tidak akan pernah terwujud jika ideologi atau perundang-undangan pemerintahan tersebut bukan wahyu Allah SWT. Inilah urutan berfikir yag diisyaratkn oleh Al-Quran dalam mewujdkan manusia atau masyarakat tauhid. Ini adalah ilmu pasti dan sunnah yang akan terus berjalan sepanjang masa.



al-Hamdu li Allah al-Rabb al-'Alamin
Lanjutkan Membaca ...

Mengenal Allah - Part One -

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya. Nah secara kebetulan, saya menemukan artikel yang menarik untuk menjadi referrensi. Artikel tersebut saya ambil dari http://studikomprehensifislam.blogspot.com/2011/07/mengenal-allah-bagian-1.html . Silahkan di baca semoga artikel ini memberikan pencerahan untuk anda.


=================================================================



Bismillahirrahmanirrahim


Segala Puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.

"maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilaah melainkan Allah", 47:19.

"katakanlah: "dialah Allah Yang Ahad", 112:1.

Dua ayat diatas adalah perintah untuk mengetahui Allah dan memberitahukan tentang Allah. Selain menunjukan wajibnya perintah, ayat ini juga memuat materi apa yang harus diketahui tentang Allah.

Mengetahui Allah atau memberitahukan tentang Allah terletak pada kalimat "la ilaah illa Allah" dan "Huwa Allah Ahad", dua kalimat ini lebih kita kenal dengan kalimat tauhid atau kalimat thayyibah. Jadi, untuk dapat memahami tentang Allah, maka kita harus memahami tentang konsep Tauhid.


TAUHID TEORITIS DAN TAUHID PRAKTIS

A. Tauhid Teoritis



Tauhid teoritis dimaksudkan untuk me-pedoman-i secara mendalam tentang makna yang terkandung dalam kata 'ahad'. Sebagai langkah awal, kata 'ahad' dapat dimaknai sebagai suatu keyakinan yang integral, tidak terbagi tetapi tunggal.

Selanjutnya Allah memberikan penjelasan tentang kata 'ahad' (tauhid) ini dalam surat al-ikhlash.


  1. Allah al-Shamad.Yaitu, Allah adalah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Artinya, segala sesuatu bergantung dan tergantung atas kehendak dan keinginan Allah. Tergantung atas aturan, ilmu, hukum dan sunnah Allah. Segala sesuatu tidak akan pernah berlepas dari pada-Nya. Manusia tidak akan pernah menahan rasa lapar, menahan berkurangnya umur, menempatkan kaki berfungsi sebagai tangan atau sebaliknya, dan lebih jauh lagi manusia tidak akan pernah mampu merubah hukum alam yang lain, seperti hukum mendidih dan membeku air dan membalik gaya grafitasi bumi.

    Dus, siapapun tidak akan mampu berbuat apa-apa kecuali tunduk patuh kepada yang telah digariskan, disunnahkan, diatur, dan ditaqdirkan oleh-Nya, baik rela maupun terpaksa (3:83), "dzalika taqdir al-'aziz al-'alim" itulah taqdir dari Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.
    Intinya, Allah adalah Rabb al-'Alamin, dimana segala sesuatu telah diatur, dipelihara dan diawasi-Nya dengan seksama, sistematis dan kokoh, sehingga tidak suatu apapun atau siapapun mampu merusak tatanan-Nya. Tidak ada yang harus dilakukan oleh makhluq-Nya kecuali tunduk patuh atau bergantung kepada-Nya.
    Konsekuensi dari pemahaman ini secara teoritis adalah Allah tempat bergantung, Allah tempat sandaran, Allah tempat merujuk kebenaran, Allah tempat kembali bagi segala pikiran, harapan, keinginan, cita-cita dan keadilan. Berdasarkan teori ini, sangat logis jika manusia memilih Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Laa Shamada illa Allah.
  2. Lam Yalid wa Lam Yulad
    Yaitu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Allah ada dan mewujud tidak disebabkan oleh hukum sebab-akibat. Allah ada dan mengada-Nya hanya Allah saja yang mengetahuinya. Manusia hanya diberitahu bahwa Allah ada dan mengada bukan melalui proses dilahirkan dan juga Allah tidak melahirkan. Jadi, Allah itu Ahad/tunggal mutlak. Demikian juga kekuasaan-Nya pun betul-betul mutlak. Berbeda jika Allah mempunyai bapau atau anak, maka kekuasaannya tidak mutlak. Karena kekuasaan tersebut, bisa jadi didukung atau dilemahkan oleh keduanya.

    Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan penuh. Dia tidak mempunyai anak dan sekutu dalam kerajaan-Nya (17:111). Tidak ditekan atau menekan siapapun. Dia adalah yang tidak menerima jasa dan pamrih dari siapapun. Dia Suci dan tersucikan, sehingga Dia Laa Malika illa Allah.

    Konsekuensi pemahaman seperti ini secara teoritis adalah bahwa menjadikan Allah sebagai satu-satunya raja. Maha Raja abadi dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Berdasarkan teori ini, maka sangat logis jika manusia menjadi Khalifah(duta)-Nya dan melaksanakan kekhalifahan-Nya (wahyu).
  3. Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad
    Yaitu, tidak ada apapun dan siapapun yang setara/sama dengan Dia. Allah Maha Unggul. Sudah menjadi fitrah manusia, memilih yang lebih cantik, lebih baik, lebih pintar, lebih adil, lebih bijaksana. Kepada yang unggul ini, manusia akan mampu memberikan segala cinta, kepatuhan, ketundukan, keridhoan untuk berbuat apa saja demi yang unggul tersebut. Oleh karena itu, secara teoritis, jika Allah adalah unggul dari segala-galanya (2:255), maka tidak ada yang patut untuk ditaati, dipatuhi dan diibadahi kecuali Allah. Sangat logis, jika manusia hanya mengangkat dan menjadikan Allah saja yang diibadahi, ditaati dan dipatuhi seumur hidupnya. Sebab tidak ada yang lebih unggul kecuali Allah. Laa Kafiya illa Allah.


B. Tauhid Praktis


Tauhid praktis ini akan menuntun pembaca untuk menelusuri bagaimana tauhid diterapkan dalam kehidupan manusia. Tauhid terapan menguraikan bagaimana tauhid itu menjadi nyata dan bentuknya dapat dilihat lebih transaparan dan riil.


Berangkat dari ke-Maha Besar-an Allah yang telah mewahyukan Al-Quran dengan paripurna, lengkap dan penuh pelajaran dan mengandung pelajaran mental spiritual bagi yang mengkajinya, maka pembahasan tauhid praktis ini akan mengacu pada keunggulan dan keutamaan surah pertama dan terakhir mushaf Al-Quran yang tauqi’fi. Kedua surat ini masing-masing akan dikaji dan ditelusuri isi dan suasana makna yang terkandung dalam kalimat -kalimatnya.


Firman Allah SWT dalam surah Al-Fatihah dab Surah An-Nas: “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang. Sebaga puji bagi Allah Rabb semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Malik hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau Kami mohon pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dab bukan (pula jalan) meereka yang sesat”. (1:1-7).
“Katakanlah: “Aku berlindung pada Rabb manusia. Malik manusia. manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan-syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jenis jin dan manusia”. (114:1-6). 


Kedua surat ini secara keseluruhan ditampilkan dalam bentuk do’a. Di dalamnya mengajarkan tatacara berdo’a, yaitu do’a harus didahului dengan pujian kepada Allah SWT. Ayat ke 1 sampai ke 5 surat Al-Fatihah berisikan pujian dan ayat sisanya berisi do’a. Begitu pula dalam surat An-Naas, ayat ke 1 sampai ke 3 selain permohonan perlindungan juga berisi pujian dan penyebutan nama Allah keseluruhannya merupakan permohonan/do’a. Sedangkan doa merupakan muhhul ibadah (otak/hati ibadah), sedang ibadah merupakan tugas hidup yang mesti direalisasikan dalam praktek. Ajaran ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang bersifat lebih kecil atau makhluk harus mengetahui tentang keberadaan Yang Maha Besar sebelum si kecil melakukan pengabdian kepada-Nya. Sebab, salah-salah, yang dianggapnya Maha Besar tidak diketahui secara riil seperti apa dan bagaimana kebesaran dari Yang Maha Besar tersebut. Niat beribadah kepada Allah SWT, bisa jadi salah kaprah, justru yang diibadahi adalah kebesaran dirinya dalam mempersepsikan (dugaan) tentang Tuhannya.


Bagian pertama kedua surat ini, berisikan pujian kepada-Nya, yaitu, dalam ayat ke 1 sampai ke 5 durat Al-Fatihah dan ayat ke 1 sampai ke 3 surat An-Nas. Di dalamnya menyebutkan tiga pokok kata Allah SWT. yaitu, Rabb, Malik dan Ilah. Ketiga pokok kata sifat Allah SWT ini, tersusun di dalam kedua surat ini secara berurutan Rabb di urutan pertama, Malik diurutan kedua dan diurutan ketiganya kata Ma’bud/Ilah. 

  1. Rabb.
    Kata rabb dalam surat Al-Fatihah diikuti dengan kata al-’Alamin yang berarti seluruh alam. Dan Rabb dalam surat An-Nas diikuti dengan kata an-Nas yang berarti manusia. Al-Quran sendiri banyak memberikan arti dalam kata Rabb di antaranya dalam syrat Al-A’raf (7) ayat 54 dan surat Ali Imran (3) ayat 64, dengan arti pencipta, pemelihara, pengatur. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya:

    “Sesungguhnya Tuhan kami ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsyi. Dia menutupkan malam ke dalam siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam”. (Qs. 7:54).

    “Katakanlah: “Hai al-Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesutau apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah )”. (3:64).

    Ayat pertama terdapat kata Rabbukum berarti yang menciptakan. Dia pencipta dan pemegang perintah segala sesuatu.

    Ayat kedua terdapat kata Arbaban, yang berarti yang mengatur. Asbab nuzul ayat ini, menceritakan bahwa Bani Israil telah menjadikan para rahib mereka menjadi pembuat hukum dan undang-undang yang mereka taati selayaknya tuhan. Jadi, Allah Rabbul-‘alamin dan Rabbun berarti adalah Allah Pengatur alam semesta dan Pengatur manusia. Secara praktis dapat difahami bahwa sebagai pemelihara dan pengatur, Allah SWT sudah pasti memiliki aturan, yaitu wahyu. Secara manusiawi terlihat dalam sejarah umat manusia, bahwa peradaban tertinggi manusia dapat dicapai dengan keteraturan dalam segala bidang. Ini menunjukkan bahwa dengan adanya aturan masyarakat akan mampu mencapai peradaban tertingginya. Dalam hal ini, Allah telah mengatur manusia (Qs. 114;2), alam semesta (Qs. 26;23-28) dan ‘Arsy (Qs. 23;116). Dus, Allah adalah pengatur segala sesuatu (Qs. 6:164).

    Penjelasan selanjutnya, Allah rabbul ‘Alamin telah mengatur seluruh alam dengan ilmunya yaitu menata seluruh alam raya ini, sehingga tertata rapih, kokoh, seimbang dan karena sangat pastinya aturan ini, tidak ada seorangpun atau apapun yang mempu merubahnya. Ilmu Allah untuk alam ini dapat diketahui oleh manusia melalui mempelajari hukum-hukum alam yang berjalan tanpa perubahan, merumuskannya dan memanfaatkannya, sesuai dengan peruntukannya dami kelangsungan kehidupan manusia (Qs. 35;43-44).

    Demikianlah Allah mengatur alam, yang berbeda ketika Allah mengatur manusia. Jika aturan bagi alam melekat dalam dirinya, bersifat pasti dan tetap, mengikutinya baik rela maupun terpaksa, maka aturan bagi manusia selain dalam dirinya, juga diberikan suatu aturan yang sama pastinya dengan hukum alam, yaitu wahyu. Dalam hal ini manusia diberi kebebasan untuk mengikutinya atau menolaknya. Yang jelas, kedua aturan tersebut (aturan alam dan manusia) kedua-duanya memiliki kepastian yag sama, artinya manusia tidak akan sanggup merubah hukum dan konsekuensi hukuman bagi yang melanggarnya. Contoh, jika hukum alam mengatakan bahwa air dapat mendidih dengan 90 derajat Celcius, maka manusia tidak akan pernah mampu mendidihkan air dengan 89,9 derajat Celcius. Hal ini sama dengan manusia tidak akan pernah hidup dalam keadilan tanpa memenuhi syarat-syarat keadilan yang harus diwujudkan sesuai dengan atuarn Al-Quran. Contoh riil, zina selamanya akan menjadi jalan terburuk bagi kelangsungan hidup manusia, dan tidak ada menusia yang mampu merubah jalan zina ini menjadi jalan baik.

    Berdasarkan hal ini, maka nyatalah bahwa Allah adalah Rabbul ‘Alamin dan Rabbin-Nas. Oleh karena itu, pengakuan manuisa terhadap Allah sebagai pangtur dirinya, harus mengakui Al-Quran sebagai wahyu dari-Nya, sebagai satu-satunya aturan yang hanya boleh mengatur dirinya. (Qs. 16:89, 6;38). Inilah makna pengakuan tauhid Laa Rabba Illallah. Artinya, ia harus menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk hukum, ideologi, perundang-undangan dan adat-istiadat yang tidak dibangun berdasarkan wahyu Allah.

    Kesimpulan, wujud nyata Allah sebagai Rabb adalah adanya Rububiyatullah, yaitu hukum alam dan wahyu Allah (Al-Quran).
  2. Malik.Dalam Al-Quran kata Malik diartikan dengan pemilik seperti terlihat dalam surat Ali Imran (3) ayat 26, dan diartikan Raja seperti terlihat dalam surat Al-Fatihah (1):3, An-Nas (114):2, Yusuf (12) ayat 76, sebagai berikut:

    “Katakanlah : “Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (3:26).

    "Tidak patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja”. (12:76).

    Dalam ayat pertama terdapat kata malikul mulki yang artinya pemilik kerajaan dan dalam ayat kedua terdapat kata Dienul Malik yang artinya undang-undang raja, Kesimpulan kata Malik, Pemilik dan Raja. Sudah barang tentu seorang raja pasti memiliki kerajaan dan pemilik kerajaan sudah pasti adalam seorang raja. Allah adalah Maliki Yaumidin. Artinya Dia-lah Allah yang merajai dan memiliki hari pembalasan karena setiap manusia diminta mempertanggung-jawabkan dien Allan yang telah Dia ajarkan kepada manusia.

    Allah adalah Malikin-Naas. Artinya, Dia-lah yang merajai dan memiliki manusia. Tidak ada yanpatut menjadi raja dan memperbudak manusai kecuali Allah SWT. Dia adalah raja langit dan bumi (Qs. 62;1). Demikianlah Allah SWT, Dia adalah Raja di dunia dan juga raja di akhirat. Manusia di hadapan Allah SWT, secara umum adalah hamba dan secara khusus adalah khalifah-Nya tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, manusia tidak lebih dari sekedar pembawa amanat dari Allah (khalifatullah) untuk memimpin manusia menjadi hamba-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, membimbing kearah ridla-Nya dan menegakkan keadilan-Nya (Qs.33;72). Berdasarkan hal ini, maka secara riil bahwa manusia harus mewujudkan kekhalifahan Allah (Qs. 24;55) dan menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk kekuasaan, kerajaan, pemerintahan dan kepemimpinan yang tidak ditegakkan atas kehendak Allah.

    Allah telah nyata-nyata menggariskan:

    “Sesungguhnya Wali (pimpinan; penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalah, menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah)”. (Qs. 5;55).

    Siapapun dalam kepemimpinannya tidak satu jalur denagn tersebut di atas, maka ia adalah batil. Inilah wujud kongrit dari Tauhid Laa Malika Illallah.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Malik adalah adanya Mulkiyatullah, yaitu kerajaan Allah dan Khilafah Islamiyah.
  3. Ilah.
    Kalimat Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in adalah kalimat ubudiyah yang ditujukan kepada Allah sebagai Ma’bud. Ma’bud sama maknanya dengan ilah, yaitu yang diibadahi. Ilah atau Ma’bud maknanya meliputi: Yang dicintai seperti terdapat dalam surat Al-Bqarah ayat 165, Yang diibadahi seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 138:

    “Dan sebagian manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintai tunah-tuhan tandingan sama seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman itu harus lebih tinggi cintanya kepada Allah”. (2;165).

    “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kamu menyembah”. (2:138).

    Makna ilah dalam ayat tersebut, memuat rasa cinta, dan penghambaan. Cinta mampu membawa manusia pada penghambaan dan rasa aman yang luar biasa. Jika manusia telah terikat dengan rasa cinta, segala potensinya akan mampu merubah apa saja demi tercapainya penghambaan kepada yang dicintainya, sampai merasa tentram karena pengakuannya. Oleh karena itu, apa saja dilakukannya demi yang dicintainya sepanjang hal tersebut memenuhi tuntutan dan ridla-Nya.

    Cinta didahului oleh tahu, artinya dengan ilmu. Cinta yang dilandasai oleh ilmu, tumbuh dan berkembang dengan ksadaran. Mencintai berarti tahu tentang keunggulan yang patut dicintai. Mencintai berarti ia telah mengambil risiko untuk meridlai apa yang diridla-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Inilah makna penghambaan kepada Ilah. Seorang pencinta tidak akan merasa tentram sebelum melakukan penghambaan dan berbuat sesuai dengan ridla yang dicintainya.

    Selanjutnya, segala sesuatu yang dicintai menimbulkan keterikatan, kecanduan, kecenderuangan dan ketakutan akan tidak mendapat atau kehilangan ridlonya, maka sesuatu itu menjadi tuhan. Dalam hal ini, rakyat, demokrasi, nasionalisme-kebangsaan, leluhur, sejarah, kekuasaan, pangkat, jabatan, pimpinan, harta benda, suami-istri, anak dan segala bentuk ketergantungan yang menghambat cinta, penghambaan kepada Allah SWT, maka ia telah menjadi saingan-Nya (Andad-Nya).

    Jika hal ini mewujud dalam perasaan, pikiran, sikap dan tindakan apapun dalam diri seseorang, maka ia telah mengangkat ilah selain Allah. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sudah nyata bahwa ilah sangat tergantung pada perasaan, pikiran, sikap dan tindakan yang mengilahkannya. Jadi wujud kongrit adanya penghambaan kepada Allah SWT adalah adanya hamba Allah yang senantiasa mencintai, menyerahkan penghambaan kepada-Nya dan merasa tentram karena ridla-Nya. Dus, bentuk nyata Tauhid Laa Ilaha Illallah adalah mewujdnya hamba-hamba Allah dalam masyarakat manusia. Manusia atau masyarakat Tauhid adalah manusia atau masyarakat yang menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk perasaan, pikiran, sikap dan perilaku manusia atau masyarakat yang tidak menghambakan diri kepada Allah SWT.

    Kesimpulannya, Wujud nyata Allah sebagai Ilah bagi manusia adalah adanya Uluhiyatullah, yaitu terwujudnya manusia dan masyarakat yang mengabdi kepada-Nya.

    Demikianlah gambaran tentang Rabb, Malik dan Ilah dalam pembahsan Tauhid Praktis. Kesimpulannya, Allah sebgai rabb nampak dalam Al-Quran sebagai wahyu-Nya. Allah sebagai Malik nampak dalam kekhalifahan dan kepemimpinan orang-orang yang beriman. Allah sebagai Ilah nampak dalam masyarakat yang menjunjung tinggi penghambaan kepada Allah, yaitu masyarakat Islam. Selain hal tersebut, dapat diungkapkan pula bahwa dalam surat An-Naas kara Rabb, Malik dan Ilah ini tersusun berurutan tanpa penghalang apapun (tanpa huruf washal) ini menunjukkan adanya kesinambungan, satu kesatuan dan integral tak terpisahkan satu sama lain.

    Hal ini pula, tiga kata tersebut tersusun secara berurutan dalam dua surat, menunjukkan bahwa baik teori maupun dalam praktek (kehidupan nyata) harus difahami sebagai urut-urutan yang pasti. Artinya Rabb harus didahulukan, diikuti oleh Malik yang akhirnya Ilah. Di sini dapat dilukiskan, manusia atau masyarakat tauhid tidak akan muncul tanpa terlebih dahulu menegakkan khalifatullah atau pemerintahan Islam, dan pemerintahan Islam tidak akan pernah terwujud jika ideologi atau perundang-undangan pemerintahan tersebut bukan wahyu Allah SWT. Inilah urutan berfikir yag diisyaratkn oleh Al-Quran dalam mewujdkan manusia atau masyarakat tauhid. Ini adalah ilmu pasti dan sunnah yang akan terus berjalan sepanjang masa.





C. Amtsal Tauhid


Untuk lebih memudahkan kita untuk memahami makna Tauhid yang merupakan inti dari Ajaran Islam, maka mari kita arahkan pembahasan kita kepada Amtsal Tauhid. Bagian ini adalah bagian terakhir dari pembahasan Mengenal Allah.


C. Amtsal Tauhid
Dalam Al-Quran tidak saja berisi kumpulan-kumpulan cerita, hukum, nasihat dan aturan-aturan dasar memahami alam semesta, namun juga memuat teori dan logika yang sangat valid. Allah SWT dalam hal ini tidak segan-segan membuat perumpamaan dalam setiap perkara besar, sekalipun perumpamaan tersebut seekor lalat. Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan tersebut, sampai manusia memahami apa kehendak-Nya (Qs. 2;26). Tak terkecuali, masalah tauhid yang dalam studi agama adalah masalah-masalah ketuhanan adalah masalah pokok sebelum memahami unsur lainnya. Untuk masalah tauhid ini, Allah membuat perunpamaan seperti yang tertuang dalam surat Ibrahim (14) ayat 24-25 di bawah ini:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap, musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (14:24-25).
Pelajaran pertama yang harus diungkap adalah bahwa Allah SWT sangat memahami dan mempermudah manusia. Mengumpamakan sesuatu yang sangat penting dalam urusan agama, Allah mencontohkannya dengan sebuah pohon. Siapa manusia yang tidak kenal pohon dan siapa manusia yang tidak mengenal tiga unsur pohon tersebut, yaitu akar, batang dan buah.
Semua pasti tahu. Disinilah ke Maha Besar-an Allah dan kesucian Al-Quran dalam mengajarkan kebenaran. Ia sangat dekat dengan manusia dan segala pengalanamnya. Setiap manusia yang berfikir akan mengetahui keberadaan dan fungsi masing-masing unsur pohon tersebut. Manusia tahu tidak akan pernah ada pohon yang tidak memiliki keberadaan dan fungsi tiga unsur pohon tersebut. Keberadaan pohon diawali tumbuhnya akar, lalu batang dan setelah kedua unsur ini berproses pada fungsinya masing-masing, maka menghasilkan buah. Pohon tidak pernah hidup tanpa akar dan akar tidak pernah menghasilkan buah tanpa ada batang. Ini adalah pelajaran yang harus terus diingat selama-lamanya oleh siapa saja.
Demikian gambaran singkat tentang pohon. Yang penting, bahwa pohon ini akan menjadi barometer untuk mengukur faliditas konsep tauhid yang diangkat dari Al-Quran, tentang kalimat Thayyibah yang diilustrasikan dalam kalimat Laa Ilalah Illallah atau kalimah tauhid. Inti tentang kalimah tauhid adalah memahami Allah SWT. Pemahaman tentang Allah SWT ini, telah diuraikan dalam tulisan ini dimuka. Oleh karena itu, penyebutan untuk Allah SWT, sebagai Rabb, Malik dan Ilah, wujud kongritnya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan fungsinya, perannnya, namanya seperti akar, batang dan buah.
Untuk mempermudah memahami perumpamaan ini, dapat menggunakan metrik, yang hasilnya sebagai berikut:



Perumpamaan Syajarah Thayyibah Amtsal Tauhid/
Kalimat Thoyyibah
Wujud Kongkrit
Ashlun/
Akar
Rabb /
Rububiyah
Al-Quran /
Sunatullah
Far'un /
Batang
Malik /
Mulkiyah
Kerajaan /
Khilafah Islamiyah
Ukulun /
Buah
Ilah /
Uluhiyatullah
Manusia /
Masyarakat Tauhid


Selanjutnya, akan diuraikan perbandingan setiap unsur dari keduanya, sebagai berikut:
  1. Perbandingan akar dengan Rabb atau Rububiyatullah
    Akar bagi pohon mewujud di awal kehidupan dan berfungsi sebagai dasar dan sumber kehidupan bagi kelangsungan hidup pohon. Jika akar mati, maka pohon akan mati.
    Rububiyatullah atau Rububiyah (aturan hidup) bagi manusia mewujud atau hadir dalam kehidupan manusia sebelum manusia mampu menata kehidupannya (ingat manusia diciptakan oleh Allah setelah Allah menciptakan alam raya ini dengan segala hukum-hukumnya) dan berfungsi sebagai sumber dari segala sumber kehidupan manusia, sebab manusia tidak akan pernah sampai pada kemapanan kebudayaan dan peradaban, tanpa adanya sebuah aturan yang dijunjung tinggi. Manusia tanpa aturan akan menjadi masyarakat tak beradab; hidup tanpa aturan sehingga tidak tahu mana hak mana kewajiban dan lainnya. Uraian ini menunjukkan bahwa, kedua-duanya ada dan berada pada awal kehidupan dan berfungsi sebagai sumber kehidupan.
  2. Perbandinagn batang dengan Malik atau Mulkiyatullah
    Batang bagi pohon ada dan mewujud untuk memproses suplai makanan dari akar ke tunas dan dengan proses yang terus menerus menjadi batang yang kokoh dan dengan memproses makanan yang bersumber dari akar, sehingga munculnya buah.
    Mulkiyatullah atau Mulkiyah (kerajaan, kekuasaan, kepemimpinan) bagi manusia ada dan mewujud sebagai proses kelanjutan dari implikasi dan pengejawantahan Rububiyah. Sebab tidak ada kekausaan atau pemerintahan yang tidak menganut suatu ideologi (rububiyah), dan adanya kekuasaan diciptakan dari sentimen dan berlandasan pada ideologi yang dianut. Negera Liberal tidak pernah ada jika tidak muncul ideologi leberalisme dan lain sebagainya. Fungsinya, selain sebagai proses dan jaminan atas pelaksanaan hukum dan perundang-undangan, juga sebagai tempat atau wadah yang nyata menata dan menciptakan masyarakat ideal.
    Uraian di atas menunjukkan, keduanya memiliki kesamaan dalam keberadaan dan sekaligus fungsinya, yaitu sebagai tempat memproses dari hal yang mendasar menjadi hasil yang muncul dipermukaan.
  3. Perbandingan buah dengan Ilah atau Uluhiyatullah
    Buah bagi pohon adalah hasil dari sebuah proses suplai makanan dari akar yang diproses oleh batang. Ia selain sebagai bukti keberhasilan dari sebuah proses berkesinambungan antara akar dan batang serta tujuan dari sebuah proses penanaman sebuah pohon, juga berfungsi sebagai pelanjut keturunan dan perkembangan genetika sebuah pohon. Di dalamnya ada benih yang merupakan inti dari kehidupan pohon. Di dalamnya ada cikal bakal akar, batang dan buah.
    Uluhiayah (pengabdian/Ibadah atau terbentuknya manusia dan masyarakat tauhid) bagi manusia dalah hasil dari pelaksanaan Rubiyatullah di dalam Mulkiyatullah. Manusia tauhid atau masyarakat tauhid mewujud selain sebagai bukti berjalannya proses tersebut di atas, juga merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Ingat! Bahwa tujuan akhir dari seluruh proses lehidupan manusia adalah ibadah. Artinya, masyarakat manusia harus berupaya menciptakan suatu kondisi yang mengantarkan dan menjaga manusia agar tetap beribadah.
    Jika buah yang diharapkan oleh petani ketika menanam pohon, maka Allah menerima ibadah manusia bila dilakukan dengan berlandaskan Rububiyah-Nya dan dilaksanakan dalam Mulkiyah-Nya. Dan sesuailah tujuan tujuan Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Qs. 51;56). Kloplah sudah perumpamaan ini. maha Suci Allah yang telah menciptakan perumpamaan ini dengan sejelas-jelasnya.
    Selanjutnya, pelajaran yang dapat ditarik dipermukaan dari perumapamaan tersebut, yaitu bahwa ketiga unsur pohon itu, memiliki hukum pasti yang mengajarkan bahwa buah mangga misalnya, akan dihasilkan dari akar dan batang buah mangga dan tidak mungkin dari akar dan batang durian. Begitu juga, batang buah tidak akan muncul dari akar durian.
    Pelajaran ini jika diterapkan dalam kehidupan manusia, masyarakat Islami hanya akan muncul dari sebuah negara atau pemerintahan Islam, dan tidak pernah muncul dari negara atau pemerintahan non Islam. Begitu pula, negara Islami tidak akan pernah ada dari ideologi atau ajaran bukan Islam. Ini peringatan dari Allah SWT, semoga Allah SWT memudahkan manusia dalam mencerap ajaran ini.
    Untuk selanjutnya, pembaca boleh membandingkan dengan isi sari surat An-Nuur ayat 35-37. Setelah memahami ayat ini, kiranya perlu membuka satu kenyataan lagi, bahwa tiga unsur ini berlaku bagi kehidupan manapun. Jika ideologo komunisme dianut oleh suatu bangsa, maka sudah pasti bangsa tersebut akan menjadi negara komunis, selanjutnya akan menata danm embentuk masyarakat komunis yang dicita-citakan. Begitu pula bagi Liberalisme, kapitalisme atau nasionalisme. Dalam setiap kasus tersebut tidak terlepas dari tiga unsur tersebut. Ini adalah pandangan dunia tauhid. Pandangan dunia yang sesungguhnya, pandangan yang murni dan benar.
D. Syirik


1. Syirik Lawan Tauhid


Dalam kehidupan manusia, hidup senantiasa berpasangan. Baik yang bersanding saling mengisi atau justru pasangan tersebut saling bertentangan. Contoh yang bersanding dan saling mengisi seperti suami istri, siang dan mala, dan contoh yang justru saling bermusuhan adalah hak dan bathil, Allah dan Syaitan, atau juga antara Tauhid dan Syirik.
Perlu dijelaskan di sini bahwa makna tauhid artinya satu, menyatukan, tunggal, tidak terbagi, tidak terpilah, lengkap dan sempurna. Yang lebih oprosional, tauhid sebagai suatu yang tidak membenarkan kesempatan kepada pihak manapun mencampuri yang satu tersebut. Oleh karena itu, ia mampu menjamin danm enjaga kesempurnaan dan kemapanan. Syirik berarti mencampur adukkan, menandingi, menyaingi dan mengisi kesempurnaan dengan yang lainnya.
Jika unsur tauhid sudah gamblang dijelaskan di muka, maka syirik berlawanan dengan tauhid, maka memiliki unsur yang sama. Jadi, ada syirik Rububiyah, syirik Mulkiyah dan syirik Uluhiyah.
Syirik Rububiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi Rububiyah-Nya. Jadi siapapunyang tidak menafikan segela bentuk rububiyah selain Rububiyatullah adalah musyrik. (72;1-2, 18;26).
Syirik Mulkiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi Mulkiyah-Nya. Jadi siapapun yang tidak menafikan segala bentuk mulkiyah selain mulkiyatullah adalah musyrik. (Lih Qs. 17;111, 25;2).
Syirik Uluhiyah ialah mensekutukan Allah dari sisi uluhiyah-Nya. Jadi siapapun yang tidak menafikan segala bentuk pengabdian, cita-cita pembentukan masyarakat selaian pengabdian dan cita-cita pembentukan masyarakat tauhid adalah musyrik. (Lih Qs. 18;110).

2. Akibat-akibat yang menimpa Musyrikin

Untuk menjelaskan apa akibat orang yang mensekutukan Allah, akan terlihat dalam ayat-ayat sebagai berikut:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu; Jika kamu menpersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah termasuk orang-orang yang merugi”. (39:65).
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Qs. 4;48).
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (4:116).
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: :Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam’, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Qs. 5;72).
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah), adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. 31;13).


Ayat-ayat tersebut di atas telah gamblang memberikan penjelasan tentang akibat apa yang diperoleh oleh orang yang mensekutukan Allah. Kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain:
1. Mensekutukan Allah akan mengakibatkan ditolaknya seluruh amal, sehingga merugi.2. Dosa syirik tidak terampuni dan syirik adalah dosa besar, serta siapa yang mensekutukan Allah, ia telah sesat dengan sesesat-sesatnya.3. Orang yang mensekutukan Allah haram masuk surga dan tempatnya di neraka.4. Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar


al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

18 Mei 2011

Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order

Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order



Setiap muslim yang cukup rajin belajar agama, atau yang terlibat dengan pergerakan Islam, umumnya mengenal istilah Khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah merupakan lembaga politik kenegaraan milik ummat Islam yang telah eksis belasan abad sejak Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم memimpinnya pertama kali berbasis di kota Madinah Al-Munawwarah hingga runtuhnya secara resmi khilafah terakhir berupa Kesultanan Utsmani Turki yang bubar pada tahun 1924 atau 1342 hijriyyah.

Dewasa ini dunia Islam terpecah-belah menjadi aneka nation-states (negara berdasarkan kebangsaan) tidak seperti Khilafah Islamiyyah yang menyatukan kaum muslimin dari berbagai bangsa dan wilayah berdasarkan ikatan aqidah kalimat Tauhid لا اله الا الله dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Sebenarnya realitas ummat Islam selama belasan abad di bawah naungan Khilafah tidaklah sepenuhnya konstan dalam kebaikan. Ada gradasi yang -perlahan tapi pasti- memperlihatkan suatu dekadensi hingga senanglah kaum kuffar menyaksikan runtuhnya Khilafah dan tercerai-berainya kaum muslimin seperti dewasa ini. Hal ini telah diprediksikan oleh rasulullah صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً
فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي
تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ
Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah simpul hukum dan yang paling akhir adalah simpul sholat." (AHMAD - 21139)

Penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى telah mengalami dekadensi dari masa ke masa. Pada babak paling awal penegakkan hukum berlangsung prima karena baik person pemimpin maupun konstitusi Daulah Islamiyyah langsung di tangani oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم , teladan utama orang-orang beriman. Kemudian pada babak berikutnya ummat Islam menyaksikan penegakkan hukum yang masih tetap baik –walau tentunya tidak se-prima di masa Nabi صلى الله عليه و سلم - di bawah person pemimpin yang dijuluki al-Khulafa ar-Rasyidun dan konstitusi Khilafah Islamiyyah, terdiri dari para sahabat utama Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.
Lalu pada babak selanjutnya penegakkan hukum mulai mengalami masalah karena antara person pemimpin dan konstitusi Khilafah Islamiyyah tidak selalu sinkron. Person pemimpin terdiri dari para khalifah yang dijuluki Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit). Namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih baik karena secara formal tetap berlandaskan Islam di mana berbagai urusan dirujuk kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah). Dalam sejarah dikenal sebagai era berbagai kerajaan Islam, terutama tiga di antaranya yang sangat menonjol yaitu Dinasti Bani Ummayyah, Dinasti Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Turki Utsmani. Pada masa yang berlangsung hampir 13 abad itu person pemimpinnya bermasalah, namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih relatif cukup Islami.

Namun sesudah itu masuklah ummat Islam ke dalam babak yang paling kelam dalam sejarahnya di mana baik person pemimpin maupun konstitusi lembaga kenegaraan sungguh bermasalah. Inilah era yang oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم disebut era kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Dan inilah era di mana dunia modern ini berada. Dunia Islam tercabik-cabik ke dalam berbagai nation-states. Tidak ada satu wilayah tunggal ummat Islam yang memberlakukan hukum Allah سبحانه و تعالى . Tidak ada satu blok tunggal kekuatan ummat Islam yang memelihara izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sedangkan kepemimpin dunia justeru berpindah gilirannya ke tangan kaum kuffar yakni the western civilization, dengan kekuatan kaum yahudi-nasrani sebagai komandannya. Oleh karenanya seringkali disebut juga sebagai the judeo-christian civilization.

Pada babak yang kelam ini dunia berjalan menuju kegelapan karena komandannya tidak memiliki cahaya penerang apapun untuk menunjuki jalan manusia ke arah tujuan semestinya. Malah para pemimpinnya justeru mengajak ummat manusia –termasuk ummat Islam- memasuki lubang biawak kebinasaan di dunia apalagi di akhirat. Persis sebagaimana diprediksikan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ
لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Kamu akan mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HR Bukhary 3197)

Tetapi ada suatu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan. Mengapa ummat Islam
mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup kaum yahudi dan nasrani? Sesungguhnya dekadensi di bidang penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri. Ia tidak hanya berkenaan dengan hadir-tidaknya person pemimpin yang bermasalah serta berlaku tidaknya konstitusi Khilafah Islamiyyah di dalam tubuh kaum muslimin. Tetapi ia sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan mental kaum muslimin secara keseluruhannya yang telah dijangkiti suatu penyakit kronis yang telah disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Penyakit itu bernama al-wahan. Artinya cinta dunia dan takut menghadapi kematian. Dan penyakit ini bukan hanya muncul di tengah kaum muslimin sesudah runtuhnya secara resmi Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924. Tetapi bibit-bibit penyakit ini telah hadir sejak lama sebelum hal itu terjadi. Runtuhnya khilafah hanyalah merupakan faktor pemicu yang menyebabkan kian ganasnya virus penyakit al-wahan berkembang di dalam tubuh kaum muslimin seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ
أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ
وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ
بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ
مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ
وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ
فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ
قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Bersabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)
Fihak kaum kuffar pada hakekatnya tidak akan pernah sanggup melakukan apapun terhadap ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) andaikan ummat ini benar-benar beriman dan yakin akan janji Allah سبحانه و تعالى berupa ihdal-husnayain (meraih salah satu dari dua kebaikan) yakni ‘isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah atau menggapai mati syahid).
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا
إِلا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali ihdal-husnayain (salah satu dari dua kebaikan).” (QS At-Taubah 51-52)

Dalam kitab tafsir Fathul Qadir dikatakan bahwa makna salah satu dari dua kebaikan ialah:
إما النصرة أو الشهادة
“Atau kemenangan atau mati syahid”.


Sepanjang sejarah Islam fihak musuh senantiasa berusaha menghilangkan gairah kaum 
muslimin untuk meraih salah satu dari dua kebaikan di atas. Mereka melakukan segala upaya untuk memadamkan semangat perjuangan kaum muslimin. Bayangkan, mereka sampai perlu melansir perang Salib selama dua abad (dua ratus tahun)! Namun ummat Islam semakin diperangi semakin menjadi-jadi semangat berperangnya (baca: hubbul-jihad wa asy-syahadah/ cinta jihad dan mati syahid). Kalimat legendaris yang diucapkan Panglima Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan Islam yang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada pasukan Romawi telah menginspirasi pasukan Islam sepanjang zaman:
جئت بأناس يحبون
الموت كما تحبون الحياة
“Aku datang dengan sejumlah manusia yang mencintai kematian melebihi kalian (hai kaum Romawi) dalam mencintai kehidupan...!”


Akhirnya kaum yahudi-nasrani merubah strategi mereka menghadapi kaum muslimin. Mulailah era al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) diterapkan menghadapi kaum muslimin. Mulailah mereka meracuni hati dan fikiran kaum muslimin melalui harta, wanita dan perebutan tahta antara sesama muslimin. Mulailah politik belah bambu alias devide et empera diterapkan. Mulailah berbagai ideologi asing buatan kaum kuffar diperkenalkan dan dipromosikan oleh para orientalis yang belajar Islam untuk dijadikan pembungkus kebusukan berbagai ideologi menyesatkan tersebut. Mulailah mereka memperkenalkan makna-makna baru lagi sesat terhadap berbagai istilah Islam yang sudah lama disepakati pemahamannya oleh kaum muslimin sejak dahulu kala. Akhirnya tersebarlah di tengah ummat Islam makna-makna asing lagi menyesatkan terhadap kata-kata seperti al-jihad fi sabilillah, rahmatan lil ‘aalamiin, dien, ‘ibadah, rabb dan ilah.

Alhasil dekadensi di dalam tubuh ummat Islam tidak hanya terjadi pada bab penegakkan hukum semata. Tetapi dekadensi di berbagai bidang lainnya turut menyempurnakan keruntuhan ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sehingga kaum kuffarpun akhirnya menikmati buah ketidak-loyalan kaum muslimin terhadap agama Allah سبحانه و تعالى dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Maka mulailah babak paling kelam dalam sejarah Islam berlangsung.


Di babak ini kaum yahudi dan kaum nasrani (yang telah ter-yahudi-kan) sangat ingin memastikan bahwa ummat manusia –apalagi ummat Islam- tidak pernah lagi boleh menengok ke belakang. Ummat Islam harus diharamkan berfikir menghidupkan kembali ide Khilafah Islamiyyah. Sebab ia telah menjadi sejarah dan harus tetap tersimpan dalam lembaran sejarah semata. Sementara itu kaum kuffar selanjutnya leluasa mempersiapkan dunia dengan sebuah grand-design yang sudah lama mereka rencanakan berupa ide pembentukan sebuah sistem global tunggal bernama Novus Ordo Seclorum alias the New World Order (tatanan dunia baru). Bahkan secara lebih spesifik namun tersamar kaum yahudi telah mencanangkan bahwa NOS sesungguhnya dibangun dalam rangka menyambut kehadiran sang pemimpin yang mereka nanti-nantikan sejak lama yaitu si mata tunggal alias Ad-Dajjal. Oleh karenanya kita temukan beberapa statement dari para pemimpin mereka seperti misalnya:


Henry Kissinger: "…apa yang dinamakan terorisme di Amerika, tapi sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia secular, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan."
Pada tanggal 5 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke menyampaikan pidato tentang Perang Melawan Terorisme di The Heritage Foundation (sebuah pusat kajian neo konservatif di Washington DC ). Dimana dia menyatakan:
"Apa yang mendorong orang-orang itu adalah ide-ide. Dan berbeda dengan gerakan kebebasan di era pasca Perang Dunia II di banyak belahan dunia, ide-ide itu bukanlah untuk menggapai ide-ide politik seperti kemerdekaan nasional dari penjajahan, atau persamaan bagi semua penduduk tanpa membedakan suku dan keyakinan, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan totaliter. Ambisi-ambisi itu adalah, paling tidak secara prinsip, bisa dirundingkan dan dalam banyak hal telah dimusyawarahkan. Namun, tidak ada perundingan bagi pendirian kembali Khilafah; tidak ada perundingan bagi penerapan Hukum Syariah; dan tidak ada perundingan tentang penindasan atas persamaan antara laki-laki dan perempuan; tidak ada perundingan untuk mengakhiri kebebasan berbicara. Nilai-nilai itu adalah sangat fundamental bagi peradaban kami dan tidak dimungkinkan adanya perundingan."
Dalam pidatonya di awal bulan November 2005 George Bush Jr menyatakan bahwa kaum militant sedang berusaha untuk mendirikan sebuah "kekaisaran Islam radikal":
"Ide membunuh dari kaum Islam radikal adalah tantangan yang besar di abad baru kita. Sama seperti ideology komunisme, musuh kita yang baru ini mengajarkan bahwa individu yang tidak berdosa bisa dikorbankan untuk bisa menjalankan visi politik. Kaum militan percaya bahwa mereka dapat menyatukan kaum muslimin dengan cara menguasai Negara, sehingga dengan cara itu mereka menumbangkan semua pemerintahan moderat di wilayah dan mendirikan sebuah kekaisaran Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia."
Sedangkan berkenaan dengan NOS, kita temukan suatu pernyataan dari Bush Senior di tahun 1991 yang ternyata dibuktikan sebaliknya pada dekade berikutnya. Pernyataannya di antaranya sebagai berikut:
“Until now, the world we’ve known has been a world divided – a world of barbed wire and concrete block, conflict and cold war.
Now, we can see a new world coming into view. A world in which there is the very real prospect of a new world order. In the words of Winston Churchill, a "world order" in which "the principles of justice and fair play ... protect the weak against the strong ..." A world where the United Nations, freed from cold war stalemate, is poised to fulfil the historic vision of its founders. A world in which freedom and respect for human rights find a home among all nations.
The Gulf war put this new world to its first test, and, my fellow Americans, we passed that test.”

Jelaslah bahwa para pendukung the New World Order memiliki agenda yang sangat berbeda –bertentangan lebih tepatnya- dengan kaum muslimin yang faham dan bangga akan sejarahnya. Tidak ada muslim-mukmin yang bisa melupakan masa lalunya. Sebab kendati Khilafah Islamiyyah sudah tiada, namun karena ia telah berlangsung belasan abad sulit untuk begitu saja dilupakan. Sedangkan hegemoni Novus Ordo Seclorum alias Sistem Dajjal belum ada seabad. Dan para pengusung sistem batil ini masih berjuang keras memastikan dan memuluskan eksistensinya. Mereka sangat khawatir jika sebelum pemimpin mereka datang, yakni Ad-Dajjal, ummat Islam keburu bangun kembali dari tidur mereka dan bergerak bangkit mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah yang diyakini berlandaskan Kitabullah Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Bagi muslim-mukmin yang sadar, maka urusan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah bukanlah sekedar mengenang kembali nostalgia masa lalu. Urusan ini berkaitan erat dengan iman dan keyakinan akan janji Allah سبحانه و تعالى yang tidak pernah berdusta serta prediksi Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengenai skenario Akhir Zaman yang tidak pernah meleset. Betapapun tampak digdayanya kekuatan kaum kuffar barat, kaum yahudi-nasrani serta para antek kaki-tangan mereka dari sebagian kaum musyrikin dan munafikin yang telah berhasil mereka rekrut dengan kebijakan stick and carrot.

Urusan siapa yang Allah سبحانه و تعالى izinkan memimpin dunia adalah urusan giliran. Ada kalanya Allah سبحانه و تعالى percayakan kepada kaum beriman dan ada kalanya dipercayakan kepada kaum kuffar. Dewasa ini giliran sedang Allah سبحانه و تعالى serahkan kepada kaum kuffar. Ummat Islam wajib bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Kesabaran untuk terus menyempurnakan persiapan diri, keluarga dan ummat di berbagai bidang, sejak dari bina al-iman wa at-tauhid hingga bina ad-da’wah wa al-jihad. Kesabaran untuk tidak mudah tergoda oleh rayuan pengusung NOS yang membujuk ummat Islam untuk memandang baik berkompromi dan kerja-sama dengan NOS guna memelihara nilai-nilai Sistem Dajjal. Kesabaran untuk tidak terjerembab ke dalam berbagai fitnah zaman yang telah meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Fitnah yang telah meliputi aspek ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, militer, pendidikan, hukum, kesehatan, informasi dan lain-lainnya.

Babak ini boleh jadi merupakan babak di mana ummat Islam sedang babak belur, tetapi ia bukan alasan untuk membiarkan diri mengembangkan defeated mentality (mental pecundang) sehingga kemenangan kaum kuffar sedemikian menyilaukan sehingga seorang muslim menggunakan kaedah if you can’t beat them, then you join them (jika kamu tidak dapat mengalahkan mereka, maka bergabung sajalah dengan mereka). Sehingga kita mendengar mereka yang sedemikian rupa tersilaukan melihat kedigdayaan kaum kuffar tega secara terang-terangan mengungkapkan hilangnya kepercayaan diri terhadap perlunya institusi Khilafah Islamiyyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun. Padahal Rasulullah صلى الله عليه و سلم dengan jelas menyatakan bahwa sesudah babak yang penuh fitnah ini, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan izinkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj Kenabian.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ
مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ
ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا
فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً
فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
”Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung khilafah menurut manhaj kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali khilafah menurut manhaj kenabian. Kemudian beliau berhenti”. (AHMAD - 17680)

Boleh jadi Allah سبحانه و تعالى tidak izinkan kita mengalami hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Yang paling penting ialah memastikan diri dan keluarga kita menjadi bagian dari ummat islam yang dipercaya Allah سبحانه و تعالى untuk turut serta mempersiapkan dan memperjuangkannya di atas jalan yang lurus dan benar. Bukan malah menjadi bagian dari mereka yang justeru turut melestarikan dan memandang final The New World Order yang sejatinya merupakan Sistem Dajjal dalam rangka menyambut kedatangan si puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal. Wa na’udzu billaahi min dzaalika...!


Sumber : eramuslim.com


Lanjutkan Membaca ...