HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

3 Agu 2012

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2

Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi yang di post pada tanggal 26 juli 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Pada tulisan sebelumnya, kita telah sama-sama mengurai bahwa kesucian Ramadhan adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) Al Quran. Maka yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita dalam bulan ini adalah menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita. Tapi karena Al Quran itu adalah ajaran yang suci dari Allah Yang Maha Suci, maka untuk menyentuhnya pun diharuskan dengan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran, apa lagi menjadikannya sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jiwa kita harus disucikan, harus dibersihkan dari segala macam-macam kotoran jiwa. Proses pensucian jiwa itulah yang dinamakan dengan puasa (shaum). Dan proses ini tidak hanya dilakukan pada bulan ke 9 pada hitungan tahun hijriyah saja. Akan tetapi Ramadhan itu hendaknya dihadirkan setiap saat dalam kehidupan kita. Puasa itu hendaknya dilakukan setiap saat dimanapun kapanpun kita berada. Sehingga benar-benar kita bisa memasukkan nilai-nilai kebenaran Al Quran kedalam jiwa kita, dan merealisasikannya dalam setiap gerak langkah kita sehari-hari. Bukankah "wadah" sebenarnya bagi Al Quran itu adalah "diri" kita, bukannya kertas atau mushhaf.

Pada tulisan ini, mari kita urai lebih dalam lagi tentang makna Ramadhan.

Ramadhan berasal dari kata ar-ramdhu yang berarti bakar, membakar, pembakaran, jadi makna Ramadhan merupakan bulan yang membakar kotoran-kotoran jiwa. Jika jiwa kita diibaratkan seperti besi, maka kotoran-kotoran jiwa itu adalah karat-karatnya. Besi yang penuh dengan karat akan susah dibentuk dan diwarnai, ia hanya akan menjadi sampah dipojokan gudang, dan secara perlahan akan merapuh dan hancur menjadi debu.

Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Hanya saja, yang dimaksud sekadar menahan makan dan minum, tidak melakukan judi, tidak bertengkar, tidak menggunjing, atau aktivitas lain yang sifatnya moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian, berarti telah terjadi penyempitan makna dari pengertian menundukkan hawa nafsu itu sendiri, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat-ayat berikut :

Al Najm (53) : 3-4,

Artinya: "Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya"

Al Anbiya (21) : 45,

Artinya: "Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya Aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.”

Dalam ayat di atas, Allah secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu adalah saling bertolak belakang. Artinya, hawa nafsu bertentangan dengan wahyu. Kalau wahyu diartikan sebagai segala sesuatu yang datang dari Allah, maka hawa nafsu adalah sebaliknya, yaitu segala sesuatu yang datang dari manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas yang salah saja, tetapi juga seluruh aktivitas yang keliru yang bersumber dari diri manusia sendiri.

Karena itu, ketika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan menundukkan hawa nafsu, maka yang seharusnya terbayang dalam benak kita adalah kita menundukkan hawa nafsu kita pada kehendak wahyu sehingga kita tidak akan melakukan seluruh aktivitas (bukan sekadar aspek moralitas semata) yang dilarang oleh wahyu (Al Quran dan Sunnah Rasul). Artinya, selain kita meninggalkan judi, kita juga harus meninggalkan aktivitas menghalang-halangi atau bahkan menekan dakwah Islam. Selain kita meninggalkan mengunjing orang lain, kita juga harus meninggalkan upaya mempropagandakan sekularisme, nasionalisme, paham kebebasan, penyamaan agama, kapitalisme, sosialisme, komunisme, demokrasi, dan pahampaham sesat lainnya yang bertentangan dengan paham Islam. Kita pun berusaha untuk tidak melakukan praktik riba, bermuamalah ekonomi secara kapitalis, berpolitik secara machiavelis, bernegara tanpa undang-undang Al Quran dan Al Hadits, mempertahankan hukum kufur, berinteraksi dalam masyarakat tanpa patokan-patokan sistem sosial kemasyarakatan secara islami, serta menjalani seluruh kehidupan tanpa berdasarkan syariat Islam.

Ali 'Imran (3): 85,

Artinya: "Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dien (sistem penataan hidup, keyakinan, ideologi) maka tidak akan diterima apa pun darinya dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi"

Al Maidah (5): 50,

Artinya: "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah?"

Dari dua ayat di atas, tampak jelas bahwa kita diminta untuk berhukum hanya pada apa yang telah diwahyukan oleh Allah seluruhnya, bukan sepotong-sepotong. Itulah hakikat sebenarnya dari upaya menundukkan hawa nafsu.

Apabila kita telah melaksanakan aktivitas tersebut, insya Allah kita akan terkategori sebagai manusia yang benar-benar bertaqwa sebagaimana firman Allah:

Al Baqarah (2): 183,

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa"

Hubungan Ketaqwaan dengan Al Quran

Bulan Ramadhan adalah bulan taqwa dan bulan turunnya Al Quran. Siapa pun yang mengkaji Al Quran dengan baik akan menyimpulkan bahwa orang yang bertaqwa hidupnya akan senantiasa dipimpin oleh syariat Allah (Al Quran). Allah berfirman:

Al Baqarah (2): 1-2,

Artinya: "Alif lam mim. Inilah Kitab (Al Quran), tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"

Berdasarkan ayat ini, orang yang bertaqwa akan selalu menjadikan Al Quran sebagai cahaya dan way of life (petunjuk hidup) dalam menyelesaikan problematika hidupnya dan manusia sekitarnya.

Dalam ayat lain, Allah mewahyukan:

Al An’am (6): 155,

Artinya: "Al Quran itu adalah kitab yang diberkati yang Kami turunkan. Karena itu, ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat"

Dalam ayat di atas, Allah lebih mempertegas penjelasannya, betapa mereka yang bertaqwa akan senantiasa mengikuti apa saja yang diwahyukan oleh Allah dalam Al Quran maupun Sunnah Rasul-Nya.

Bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.
Lanjutkan Membaca ...

2 Agu 2012

Herbal Teh Daun Jati Cina untuk Tubuh Langsing Ideal - Mengatasi Sembelit - ambeien - rematik - Regenerasi Sel - Anti bengkak - Detoksifikasi

Artikel HERBAL TEH DAUN JATI CINA adalah berita gembira bagi anda yang ingin tetap menjaga atau menginginkan tubuh yang langsing dan ideal. DAUN JATI CINA adalah herbal yang efektif untuk meluruhkan lemak membandel dan membantu memperlancar metabolisme tubuh. Herbal ini sangat efektif melangsingkan tubuh dengan cepat dan dapat menyusutkan perut antara 2-4 kg/minggu tanpa efek lemas atau jantung berdebar, dan tentunya tanpa efek samping. Selain itu Daun Jati China juga dapat mengobati kolesterol dan rematik.

Sebagaimana di ungkap pada web TribunNews, yang mengutip berita dari FoxNews yang menyebutkan bahwa 16 persen dari 320 wanita berumur 25 tahun mengaku rela mengurangi umur mereka satu tahun demi bentuk tubuh ideal. Sedangkan 10 persen lainnya rela mengurangi dua sampai lima tahun umur mereka.

Mengapa penyusutan 2-4 kg/minggu dapat terjadi tanpa efek lemas ? Hal ini karena pola kerja Daun Jati Cina bersifat MENGIKAT LEMAK, sehingga apabila diminum, yang keluar dari tubuh adalah murni lemak dan bukan cairan tubuh sebagaimana cara kerja zat pelangsing lainnya.

Reaksi Tubuh Terhadap Teh Daun Jati Cina

Setelah beberapa menit menkonsumsi Teh Daun Jati Cina, badan terasa panas dan berkeringat, hal itu menandakan sedang terjadi pembakaran dalam tubuh. Lemak yang terikat oleh cairan teh daun jati cina akan dibuang saat buang air kecil atau besar (BAB yang berminyak/BAK yang frekuensinya meningkat) dan juga melalui keringat. Seminggu awal setelah mengkonsumsi biasanya frekuensi pembuangan akan meningkat drastis, dan setelah itu terlewati tubuh akan terasa enteng dan frekuensi BAB/BAK akan kembali normal. Hal tersebut disebabkan kadar lemak sudah
cenderung seimbang dan tubuh beradaptasi dengan baik. Lemak yang lebih dahulu hilang adalah pada bagian pinggang samping, belakang, dan secara bertahap kebagian tubuh lainnya.

Cara Konsumsi Teh Daun Jati Cina

  • Konsumsi 1 sendok teh daun jati cina, masukkan ke dalam gelas 200 ml dan tuangkan air panas.
  • Larutkan selama 15 menit hingga air menjadi kecoklatan. Bisa juga dilakukan dengan perebusan dengan air 500 ml hingga mendidih dan biarkan air hingga tersisa 250 ml
  • Saring dan airnya siap diminum.
  • Pada seminggu awal, cukup mengkonsumsi 1x sehari. Pada minggu selanjutnya dosis bisa ditingkatkan 2 kali sehari.
  • Untuk mempercepat proses, kurangi makanan berlemak dan rajin berolah-raga, sehingga hasilnya bisa optimal.

Teh Daun Jati Cina dan Keamanan bagi Tubuh

  1. Bagi penderita masalah pencernaan sebaiknya meminum teh ini 2 hari sekali saja.
  2. Bila sedang menstruasi / haid, disarankan untuk tidak meminum teh daun jati cina, alasannya kebanyakan wanita mengalami PMS syndrom dengan perut kembung, otot perut terasa kencang, apabila anda minum teh daun jati cina akan menambah ketidaknyamanan anda dalam masa menstruasi.
  3. Untuk konsumsi awal atau belum pernah minum teh daun jati cina, jangan di seduh terlalu kental. Teh diseduh dengan air panas 400ml karena biasanya lemak akan luntur bersama air seni sebelum BAB. Karena reaksi tiap orang berbeda,apabila kurang bereaksi maka penyajiannya teh bisa dikentalkan.
  4. Umumnya teh daun jati cina ini bereaksi setelah 7 jam, jadi sebaiknya diminum malam hari sebelum tidur sehingga pada pagi hari anda lancar BAB, dan tidak mengganggu aktifitas anda.
  5. Hentikan atau kurangi dosis pemakaian apabila anda mengalami BAB yang berlebihan.

Asal-Usul Daun Jati Cina

Daun jati cina berasal dari Afrika, Timur Tengah (khususnya Sudan dan Mesir), dan nama aslinya adalah Senna, . Efek Medis dari daun in pertama kali di ketahui pada abad ke-9oleh ahli medis Arab, Serapion dan Sesue . Daun Jati Cina memiliki nama latin Tectona Grandis F. Linn. Senna Alexandrina/Cassia senna diekspor dari Mesir melalui Kairo dan Laut Merah. Diberi nama Senna Alexandria dan Senna Mesir karena pada saat itu pelabuhan perdagangan utama di Mesir bernama Alexandria. Buah dan daun diperdagangkan melalui jalur dari Nubia dan Sudan dan tempat lain ke Alexandria dan dari situ diseberangkan melalui Laut Mediterania ke Eropa dan perbatasan Asia. Cassia angustifolia dari India diseberangkan dari India melaui Madras. Tahun 1640 dikembangbiakkan dan dimanfaatkan di Inggris karena kandungan pencaharnya.

Manfaat Daun Jati Cina secara medis

  • Pencahar untuk mengatasi sembelit/konstipasi, ambeien, setelah operasi rectal anal, pengosongan lambung sebelum foto rontgent,
  • Anti inflammatory (anti bengkak)
  • Regenerasi Sel
  • Obat cuci perut (colon cleansing)
  • Detoksifikas

Seperti apa Gambar bentuk Daun Jati Cina

Daun Jati Cina siap di jadikan Teh
Daun Jati Cina Kering

Teh Daun Jati Cina mempunyai nilai ekonomis yang lumayan sehingga tak jarang ada oknum yang mencampur daun jati cina/daun senna 2:1 dengan daun sengon laut dimana ciri-ciri daun sengon laut hampir mirip dengan teh daun jati cina hanya daun sengon laut sedikit lebih besar ukurannya dan ujungnya oval serta sedikit lebih tebal.

Penyimpanan Teh Daun Jati Cina


Agar Teh Daun Jati Cina tidak menjadi lembab, jangan di taruh dalam wadah tertutup rapat seperti toples. Lebih baik ditempatkan dalam kantung plastik yang dilubangi kecil-kecil agar ada sirkulasi udara untuk melepas partikel-partikel air dari daun tersebut, setelah itu letakkan di tempat yang kering. Jika Teh Daun Jati Cina dalam keadaan lembab, maka daun teh tersebut menjadi berjamur.
Lanjutkan Membaca ...

26 Jul 2012

QALBUN SALIM

Al Qur'an Surat Ibrahim (37):83-84,

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لإبْرَاهِيمَ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan Nuh. Ingatlah, ketika ia datang kepada Rabb-nya dengan Qalbun Salim.

QALBUN SALIM

Qalb, orang menterjemahkannya dengan Hati, tapi jangan salah paham, Qalb itu bukan liver, dan juga bukan otak. Hal ini mengacu kepada Al Quran, Al Hadits, dan data-data empiris. Bahwa ternyata ‘hati’ (Qalb) memiliki definisi sebagai: segumpal daging, yang berada di dalam dada, dan bisa bergetar-getar ketika dikenai perubahan perasaan.

22:46, "… Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI (Qalb) yang ada di dalam DADA."

8:2, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah BERGETARLAH hati (Qalb) mereka…"

HR. Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir, "Ketahuilah, di dalam jasad ada SEGUMPAL DAGING (mudghah) yang jika baik daging itu maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek daging itu maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah daging itu adalah hati (Qalb).’’

Dengan mengambil tiga acuan diatas kita bisa mendefinsikannya dengan tegas, bahwa hati (Qalb) adalah jantung. Tentu saja, Anda boleh berbeda pendapat dengan saya. Cuma, sebaiknya dengan landasan alias dalil ayat Al Quran, atau Al Hadits, atau data-data empiris ilmu pengetahuan yang sesuai. Jika tidak, dengan sendirinya, kesimpulannya menjadi lemah. Karena, hanya berupa pendapat pribadi yang sangat subyektif.

Maka, Hati yang diistilahkan Qalb adalah hati yang bersemayam di dalam dada, dan lebih spesifik lagi bersemayam di organ jantung. Hati yang Qalb adalah sebuah radar yang bisa mendeteksi dan sekaligus memancarkan getaran perasaan seseorang. Getaran sedih dan gembira akan terpancar dengan frekuensi yang berbeda. Getaran marah dan sabar juga terpancar dengan frekuensi yang berbeda.

Ini adalah sebuah pancaran gelombang yang benar-benar bisa diukur dengan menggunakan alat perekam gelombang jantung, ECG (Electro Cardio Graph). Meskipun penelitian dalam bidang ini masih sedang berjalan, tetapi sudah diketahui bahwa pola gelombang yang terekam dalam ECG itu sesungguhnya memiliki informasi yang sangat banyak. Diantaranya adalah ’problem mekanis’ alias kerusakan organ tersebut, sekaligus tentang ’problem psikologis’ alias kualitas perasaan si pemilik jantung.

Sebenarnya, secara awam, hal ini sudah bisa kita rasakan sendiri. Cobalah rasakan dan cermati, bagaimanakah pola getaran jantung Anda ketika sedang marah, sedang sedih, sedang takut, sedang terharu, sedang gembira, dan lain sebagainya? Tentu saja, semuanya berbeda sesuai dengan getaran perasaan yang menyertainya.

Frekuensi dan pola gelombang jantung itu ternyata merupakan ’kepanjangan tangan’ dari sesuatu yang lebih abstrak, yakni ’hati dalam’. Jantung adalah ’hati luar’, yang fungsinya hanya sebagai alat sensor khusus, semacam radar. Tetapi berfungsi timbal balik. Bukan hanya receiver alias penerima getaran, melainkan juga transmitter alias pemancar getaran. Maka, jantung bisa disebut sebagai indra transceiver, yang bekerja secara radiasi gelombang elektromagnetik. Bukan sekedar dipengaruhi oleh kinerja neurotransmitter dan hormon dalam darah yang membuatnya berdegup lebih kencang.

Sehingga, Al Quran menyetarakan organ jantung itu dengan mata dan telinga sebagai ’alat pelihat’ dan ’alat pendengar’. Dan bukan pada tataran ’persepsi melihat’ dan ’persepsi mendengar’. Perhatikanlah ayat berikut ini.

7:179, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (Qalb), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."

Jadi, Qalb disetarakan dengan mata, bukan ’melihat’. Juga disetarakan dengan telinga, bukan ’mendengar’. Karena ’melihat’ dan ’mendengar’ itu memang tidak terjadi di mata dan telinga, melainkan di OTAK, yakni di pusat penglihatan dan pusat pendengaran. Meskipun mata dan telinganya sehat, tetapi jika pusatnya di otak bermasalah, atau pun saraf penghubungnya yang bermasalah, kita tidak akan bisa melihat atau mendengar. Melek tetapi tidak melihat, tidak tuli tetapi tidak bisa mendengar.Maka, demikianlah, getaran jantung itu menjadi transceiver yang lantas mem-feed-back kembali pola getaran tersebut ke pusat hati yang ada di otak. Dalam istilah Al Quran disebut sebagai Fu`ad, yakni ’Pusat Kecerdasan Hati’.

Qalbun salim adalah hati yang sudah melakukan pembuktian-pembuktian secara ilmiah dalam proses ber-Islam, sehingga memperoleh perasaan yang menggetarkan, dalam bentuk penyerahan diri kepada Allah. Dalam istilah lain bisa dikatakan dengan ‘rasio yang emosional’ atau ‘emosi yang rasional’. Yakni, penggabungan fungsi Hipocampus dan Amygdala dalam kinerja Sistem Limbik yang seimbang (dalam bahasa biologinya seperti itu). Dalam bahasa awam dapatlah dikatakan sebagai "kemampuan untuk menyeimbangkan antara pikiran (rasio) dan perasaan (emosi)".

Rasionalitas Ibrahim

21:62-63,

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ 62 قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".

Emosionalitas Ibrahim

9:114,

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

Tarekat Menuju Maqam Ma'rifatullah

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat beserta salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga tercurah atas muslimin dan muslimat.

A. Apa Arti Tarekat ?

Tarekat, demikian serapan bahasa Indonesia-nya dari kata bahasa Arab "Thariqat" ( طرىقه ). Kata ini dalam kamus Al Munawwir diterjemahkan sebagai jalan, cara atau metode yang ditempuh dalam mencapai tempat yang dituju. Belakangan istilah ini lebih dikenal sebagai jalan bagi calon sufi untuk mencapai maqam ma'rifatullah. Penggunaan istilah ini tidak sepenuhnya benar, banyak kesalahpahaman yang terjadi dalam memaknai arti kata ini. Demi meng-eliminasi kesalahpahaman itu hendaklah kita merujuk kepada Al Quran, bagaimana Allah "menterjemahkan" kata ini.

Berikut ayat-ayat Al Quran yang menerangkan tentang "Thariqat":

1. QS Al-Jinn/ 72:16

Artinya: "Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu ( الطَّرِيقَةِ ), benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya "jalan kebena­ran dan keadilan". (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XVI, hal. 5950).

2. QS Al-Ahqaaf/ 46:30

Artinya: "Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami men­dengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus ( طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ )."

Kata "thariqin" dalam ayat ini artinya ialah "Dien Al Islam" (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XV hal. 94).

3. QS An-Nisaa/ 4:168-169

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan ( طَرِيقًا ) kepada mereka. Kecuali jalan ( طَرِيقَ ) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah".

Kata "thariqon" dalam 168 artinya ialah "satu jalan menuju surga". Sedangkan dalam ayat 169 artinya ialah "jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam" (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).

4. QS Thaha/ 20:104

Artinya: "Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya ( طَرِيقَةً ) di antara mereka!" Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan sehari saja."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini artinya ialah "jalan" (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan "jalan yang lurus" di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

5. QS Thaha/ 20:77

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka bikinlah untuk mereka jalan ( طَرِيقًا ) yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)."

Kata "thoriqon" dalam ayat ini berarti "Allah menger­ingkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).

6. QS Thaha/ 20:63

Artinya: "Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu ( بِطَرِيقَتِكُمُ ) yang utama."

Kata "thoriqoh" dalam ayat ini ada yang mengartikannya dengan "keyakinan (agama)" (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan "Bani Israel". (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).

7. QS Al-Mu'minuun/ 23:17

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan ( طَرَائِقَ ); dan Kami tidaklah lengah terha­dap ciptaan (Kami)".

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "lan­git", thoroiq kata jama' dari thoriqoh, karena dia adalah jalan-jalan malaikat." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).

8. QS Al-Jinn/ 72:11

Artinya: "Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan ( طَرَائِقَ ) yang berbeda-beda."

Kata "thoroiq" dalam ayat ini artinya "Golongan yang berbeda pendapat di kalangan muslimin dan kafir." (ibid, hal. 240).

Demikian firman Allah menyinggung makna thariqat. Dari rangkaian ayat-ayat diatas, dapat kita ambil kesimpulan makna thariqat sebagai berikut:"Sebuah jalan yang merupakan metode pencapaian tujuan yang didalamnya berisi konsep integral yang mencakup paradigma, sikap, perkataan maupun tindakan, lahir dan barthin.

B. Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam

Thariqat yang dilalui oleh manusia secara global terbagi menjadi dua, yaitu Thariq Al Mustaqim dan Thariqa Jahannam. Thariq Al Mustaqim adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan kepada Allah, yaitu jalan yang lurus yang sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah. Sedangkan Thariqa Jahannam adalah jalan yang dilalui oleh orang-orang yang bertujuan tidak kepada Allah, yaitu jalan yang menyimpang yang tidak sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Al Sunnah.

Pada hakekatnya, semua manusia menginginkan yang terbaik sebagai tujuan akhir hidupnya, tapi dikarenakan keengganannya untuk mempelajari apa yang benar-benar baik buat dirinya maka dengan sendirinya ia menjadi salah paham, apa yang disangkanya baik ternyata tidak baik. Sehingga banyak manusia yang tanpa sadar telah menapaki Thariqa Jahannam, tetapi merasa sedang menapaki Thariq Al Mustaqim. Selain keterbatasan ilmu karena enggan belajar, hal ini juga bisa terjadi dikarenakan ketidakberdayaannya dalam melawan hawa nafsu.

C. Tarekat = Syare'at + Hakekat

Jalan untuk sampai kepada Allah haruslah mengikuti rute yang ditentukan, dan untuk mengetahui detail tentang rute itu haruslah memahami petunjuknya, dan petunjuk jalan itu tidak lain adalah Al Quran. Perjalanan mengikuti petunjuk Al Quran sebenarnya mudah sekali, mengapa saya katakan mudah? dikarenakan sebelum kita sudah ada orang yang menapaki jalan itu dan telah sampai ke tujuan, dialah Rasulullah Muhammad SAW. Maka ikutilah panduan Al Quran dengan melihat jejak langkah Rasulullah dalam menelusuri rute yang diarahkan oleh Al Quran, Insya Allah kita tidak akan tersesat.

Dalam setiap perjalanan pasti ada aturan mainnya, rambu-rambunya. Aturan ini meliputi seluruh aspek kehidupan, bersifat lahir maupun bathin. Aturan yang dimaksud adalah Syare'at, demikian orang Indonesia menyebutnya yang merupakan serapan dari bahasa Arab, Syari'at (pakai huruf i) ( شرىعه ). Allah sebagai pemilik jalan telah menetapkan aturan bagi siapa saja yang hendak menapaki jalan menuju-Nya. Dan aturan (syari'at) itu sendiri juga tercantum lengkap di dalam Al Quran yang merupakan petunjuk dalam perjalanan.

QS. Asy-Syura/ 42:13

Artinya: "Dia telah men-syari'at-kan untuk kamu bagian dari Al Dien, yaitu apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Al Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik Al Dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Al Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

Manna al-Qathan (ahli fiqih dari Mesir) mendefinisikan syari'at sebagai segala ketentuan Allah SWT bagi hamba-Nya yang meliputi masalah 'aqidah, ibadah, akhlak dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

QS. Al Jatsiyah/ 45:18

Artinya: "Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari'at dari setiap urusan. Maka ikutilah ia dan jangan mengikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui."

Ibnu Abbas berkata, "Makna mengikuti syari'at pada ayat di atas maksudnya mengikuti petunjuk dan tuntunan dalam Al Dien."

Qatadah berkata, "Yang dimaksud dengan syar'iat adalah perintah dan larangan, serta sejumlah hukum dan kewajiban."

Jadi, syari'at adalah sejumlah perintah dan ketentuan ilahi yang menata kehidupan setiap muslim dalam seluruh aspek. Selain mencakup hukum yang bersifat pribadi ('ain), ia juga berisi kaidah politik, hukum, ekonomi, budaya etika, adab, dan perilaku sehari-hari (kifayah).

Di dalam syari'at tersimpan hakekat. Hakekat (demikian serapan bahasa Indonesia dari kata bahasa Arab Haqiqat / حقىقه) artinya kebenaran atau fakta. Kata Haqiqat sendiri merupakan salah satu dari asma Allah yaitu Al Haqq yang artinya "the absolute one" atau Yang Maha Mutlak Kebenarannya.

Dalam Al Quran, banyak sekali disebut kata ini, diantaranya dalam ayat berikut:

QS. Al Baqarah (2):42

Artinya: "Dan janganlah kamu campur adukkan yang Al Haq dengan yang Al Bathil dan janganlah kamu sembunyikan Al Haq itu, sedang kamu mengetahui"

Dalam ayat diatas, kata Al Haq adalah antonim dari kata Al Bathil. Maka kalau Al Bathil itu artinya hilang, rugi, rusak, sia-sia, berarti Al Haq adalah sesuatu yang tidak akan hilang, tidak akan rusak, dan tidak akan percuma namun pasti bermanfaat.

QS. Ali 'Imraan (3):60

Artinya: "Al Haq adalah yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu."

Dalam ayat ini jelas disebutkan dalam kalimat yang tegas bahwa Al Haq adalah yang datangnya dari Allah sebagai Rabb kita. Dengan penyebutan “predikat” Allah sebagai Rabb ini maka pengertian Al Haq dalam ayat ini merujuk kepada Rububiyatullah yang tak lain adalah Al Quran. Al Quran adalah kalamullah yang berisi ajaran Allah tentang haqiqat kehidupan manusia.

Kalam yang merupakan sesuatu yang abstrak itu membutuhkan “wadah” agar ia bisa “terakses” oleh ‘aqal manusia yang juga merupakan wadah. ‘Aqal yang terdiri dari mata, telinga, hati dan otak adalah wadah bagi sifat melihat, mendengar, merasakan (memahami) dan memikirkan, yang mana sifat-sifat tersebut hakikatnya adalah sifat Ilahiyah (ruh) yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini:

QS. Al Sajdah (32):9

Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya sebagian dari ruh-Nya (مِنْ رُوحِهِ ) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan af`idah (perasaan dan pemikiran), tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (membuka pendengaran, penglihatan, perasaan dan pemikiran itu / open mind)”

Hal ini sejalan dengan Al Quran, ia hakikatnya adalah Ruh Allah (QS. 42:52) yang berisi nilai-nilai kebenaran yang mutlak (Al Haq), yang dengannya manusia akan dapat memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya. Namun, Ruh agar bisa mewujud dalam realitas kehidupan manusia, maka ia mengharuskan adanya wadah. Wadah tersebut adalah ‘Aqal manusia. Manusia diharuskan memasukkan Ruh Allah (Al Quran) itu kedalam ‘Aqalnya sehingga pandangannya adalah pandangan Al Quran, pendengarannya adalah pendengaran Al Quran, pemikirannya adalah pemikiran Al Quran, perasaannya (pemahamannya) adalah perasaan Al Quran. Meski secara wujud ia adalah manusia, tapi hakikatnya ia adalah Al Quran.

Pertanyaannya, apakah semua manusia bisa seperti itu? Jawabannya, BISA, karena dalam diri manusia telah tertanam sesuatu yang disebut fitrah, fitrah itu adalah kecenderungan jiwa (nafsi) manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya Rabb dalam kehidupannya. Kecenderungan ini disebabkan karena nafsi pernah mengikat janji setia dengan Allah ketika nafsi belum terlahir ke dunia, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah berikut ini:

QS. Al A’raaf (7):172

Artinya: “Dan ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (nafsi) mereka: "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka (nafsi-nafsi itu) menjawab: "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)".

Dengan janji itu maka nafsi manusia menjadi terikat dengan Allah, terikat untuk selalu menerima setiap ketentuan Allah, dan terikat untuk mengisi nafsinya dengan Ruh Allah (nilai-nilai kebenaran Al Quran). Namun, kecenderungan ini bisa juga dikalahkan oleh kecenderungan lain yang juga ada dalam nafsi manusia, yaitu kecenderungan kepada keindahan dunia yang amat terasa nikmat dan membuat tubuh manusia kecanduan untuk selalu melahapnya. Inilah dua sisi manusia, kecenderungan nafsi kepada Ruh Allah yang akan membawanya kepada derajat kesucian, dan kecenderungan nafsi mengikuti hawa yang akan membawanya kepada derajat kekotoran.

QS. Al Syams (91):7-10

Artinya: “dan nafsi (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Ini dilemanya, tubuh manusia secara fakta butuh akan dunia, ia butuh makan, butuh minum, butuh energi, butuh seks, butuh berkembang biak, butuh sehat, butuh berhias, butuh mendapat perlindungan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan inilah yang terkadang membuat manusia terlupa akan bagian lain dalam dirinya yaitu nafsi (jiwa) yang juga punya kebutuhan, yaitu kebutuhan kepada Ruh Allah. Jiwa akan cenderung digerakkan kepada hawa, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh dan lupa akan kebutuhannya sendiri terhadap Ruh Allah. Keadaan ini yang berbahaya, jiwa tidak akan sampai kepada derajat suci malah justru sebaliknya kepada derajat kotor.

Maka, Allah yang Maha Penyayang membuatkan solusi atas dilema ini, Dia dengan Ilmu-Nya menciptakan sebuah cara agar manusia tetap bisa memenuhi kebutuhan tubuhnya akan dunia, tapi sekaligus juga dapat memenuhi kebutuhan jiwanya akan Ruh Allah (Al Quran). Solusi tersebut adalah diturunkannya Syari’at. Dalam pemenuhan kebutuhan tubuh, syari’at mengaturnya sedemikian rupa, sehingga tidak sampai membuat tubuh menjadi serakah akan dunia. Maka haqiqat-nya, syari’at adalah kasih sayang Allah yang diturunkan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri.

Tubuh akan cenderung malas dan berleha-leha menikmati irama waktu yang terus berjalan, maka untuk melatihnya agar disiplin, Allah men-syari’atkan kepada tubuh untuk shalat 5 waktu sehari semalam. Tubuh akan menjadi serakah dan tak akan pernah puas dalam bergelimang harta benda, mata silau ketika melihat warna-warni uang, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa mata itu harus diarahkan untuk melihat ayat-ayat Allah. Telinga akan terlena mendengar gemercik perhiasan, sehingga membuat jiwanya lupa bahwa telinga itu harus diarahkan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Hati kita akan mabuk kepayang dan otak kita pun melayang-layang membayangkan senyum manis seonggok tubuh sang kekasih pujaan hati, sehingga membuat jiwa kita lupa bahwa seharusnya hati dan otak kita diarahkan untuk merasakan dan memikirkan ayat-ayat Allah. Untuk melatih tubuh kita agar tidak jatuh cinta kepada harta dunia, maka Allah mensyari’atkan kepada tubuh untuk berzakat. Telinga kita terbiasa mendengar bisik-bisik tetangga, mulut kita terbiasa menghisap rokok, lidah kita terbiasa mengecap kopi, sampai-sampai kebiasaan itu memperbudaknya. Maka agar manusia tidak terjebak menjadi budak kebiasaan, Allah mensyari’atkan puasa. Kalau tidak disyari’atkan hudud, tangan kita ini latah mengambil barang milik orang lain. Kalau tidak disyari’atkan qishash, kaki kita akan main tending saja bokong orang. Kalau tidak disyari’atkan rajam (jild), kemaluan kita ini akan masuk kemana saja ia suka. Kalau tidak disyari’atkan hukum waris, tawuran sekeluarga akan sering terjadi. Kalau tudak disyari’atkan hukuman bagi riba, akan semakin banyak orang yang bertindak sewenang-wenang. Kalau tidak disyari’atkan ini, maka akan itu, begini, begitu, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya.

Syari’at adalah hal yang tidak boleh terpisahkan dari Haqiqat, karena jiwa kita sedang berjalan menempuh THARIQAT MENUJU MA’RIFATLLAH, maka tidak mungkin ia mampu berjalan tanpa kendaraan, kendaraan itu ialah tubuh. Setelah ada kendarannya, tak mungkin ia bisa sampai kepada tujuan tanpa petunjuk jalan, petunjuk jalan itu ialah Ruh Allah (Al Quran). Tubuh diberi bahan bakar berupa SYARI’AT dan Ruh Allah dibaca dengan HAQIQAT.

Demikian tulisan yang serba singkat ini, semoga memberi manfaat kepada kita semua. Penjelasan tambahan bisa kita uraikan lebih lanjut dalam komentar.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin.


Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

Mutiara Romadhon - Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambungkan kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas Muslimin dan Muslimat.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Artinya: "Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)"

Sedari kecil mungkin kita sudah dikenalkan dengan istilah "bulan suci" yang dijadikan istilah resmi bagi bulan Ramadhan. Namun apakah kita memahami, apa sih yang membuat bulan ini dikatakan sebagai "bulan suci"? Nah, pada kesempatan ini mari kita coba urai bersama-sama agar kita bisa mengambil pelajaran daripadanya.

Untuk mengawalinya, mari kita lirik firman Allah berikut ini:

Al Baqarah (2) : 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya : "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Maka, siapa saja di antara kamu menyaksikan datangnya bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..."

Ternyata, hal yang menjadi penyebab bulan Ramadhan dikatakan "bulan suci" adalah karena pada bulan ini diturunkannya (permulaan) "kitab suci" yaitu Al Quran. Jadi, kalau kita mengharapkan mendapat manfaat dengan kehadiran kita pada bulan ini, maka terimalah Al Quran itu menjadi petunjuk dalam hidup kita, penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika tidak seperti itu, maka sia-sialah kehadiran kita pada bulan ini. Dengan kata lain, kesucian Ramadhan tidak menular kepada jiwa kita.

Ini yang harus dijadikan misi utama kehadiran kita pada bulan ini. Jadi, harus ada paradigma yang dirubah. Kalau selama ini, yang ada di benak kita ketika menyambut Ramadhan adalah berpuasa, maka hari ini itu harus dirubah, yang harus kita jadikan misi utama dalam bulan ini adalah "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup kita".

Lalu, apakah puasa tidak penting lagi, jika masih penting dimanakah letak urgensitas puasa pada bulan ini? Perhatikan ayat berikut ini:

Al Waaqi'ah (56) : 77-80,

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِيكِتَابٍ مَكْنُونٍ لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : "Sesungguhnya ini adalah Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta alam."

Al Quran adalah kitab suci, maka untuk menyentuhnya juga diharuskan jiwa yang suci, jiwa yang kotor tidak akan bisa menyentuh Al Quran. Jadi, bagaimana mau menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, menyentuhnya saja tidak bisa. Maka mau tidak mau jika kita berharap ingin menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup, maka kita harus mau mensucikan jiwa kita. Orang yang tidak mau mensucikan jiwanya berarti ia merasa sudah suci, dan Allah melarang kita sok suci.

Al Najm (53) : 32,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: "Yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."

Lalu, bagaimana caranya kita mensucikan jiwa kita? Ya, seperti kita mensucikan baju aja sih, yaitu dengan cara membuang semua kotoran-kotoran yang menempel padanya, maka begitu juga jika kita ingin mensucikan jiwa kita, buang semua kotoran-kotoran jiwa yang menempel. Apa sajakah kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan itu?

Yang pertama adalah syirk. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 28,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis..."

Yang kedua adalah nifaq. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Taubah (9) : 95,

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: "...Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka (merujuk ke ayat-ayat sebelumnya, mereka yang dimaksud adalah munafiqin) itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

Yang ketiga adalah perbudakan kepada selain Allah (berhala), sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat berikut:

Al Hajj (22) : 30,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الأنْعَامُ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Artinya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."

Itulah diantara sebagian diantara kotoran-kotoran jiwa yang harus dihilangkan, disamping masih banyak kotoran-kotoran jiwa lainnya yang juga harus dihilangkan, diantaranya hasad, riya, takabbur, sum'ah, 'ujub, dan lain-lain.

Nah, puasa adalah media pelatihan bagi kita untuk menghilangkan kotoran-kotoran jiwa itu. Bagaimana penjelasannya, bukti konkretnya, atau aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dikatakan bahwa puasa adalah media pensucian jiwa?

Perhatikan, ketika kita berpuasa kita dilarang makan, minum, berhubungan badan dengan pasangan. Apa hubungannya makan minum dengan syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala? Ketika kita makan minum apa yang kita jadikan motivasi, apakah Allah atau hawa nafsu kita? Jika yang kita jadikan motivasi makan minum kita adalah Allah tentunya kita hanya akan makan ketika kita lapar dan hanya akan minum ketika kita haus. Karena makan minum kita adalah semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan tubuh akan energi agar dapat digunakan secara optimal untuk mengabdi kepada Allah. Dan jika energi yang dibutuhkan itu sudah masuk kedalam tubuh, maka ia akan berhenti tanpa menunggu sampai bener-bener kenyang.

Sebaliknya, makan minum yang hanya dengan motivasi menyenangkan hawa nafsu dan "tidak disebut nama Allah" didalamnya cenderung tidak beraturan, mau lapar atau tidak kalau lidah sudah ngiler karena aroma soto ayam, pasti langsung dilahap. Bahkan ada yang pikirannya sampai terkuras memikirkan, "nanti sore enaknya makan apa ya?" Ada juga yang sampai melalaikan diri dari mengingat Allah demi memenuhi kebutuhan perutnya. Bahkan ada yang dengan sengaja melabrak batas-batas (hukum) yang Allah tentukan karena takut tidak makan. Kalau sudah begitu, maka hakikatnya bukan saja syirk, nifaq atau pengabdian kepada berhala, tapi ketiga-tiganya sudah layak disematkan kedalam jiwanya. Na'udzubillah min dzalik.

Maka, dengan puasa inilah kita melatih jiwa kita agar terhindar dari hal-hal pengotor jiwa. Yang adalah pengotor jiwa itu sebenarnya merupakan dinding yang akan menutupi jiwa kita dari Al Quran, sehingga ajaran-ajaran Allah yang suci didalam Al Quran tidak sampai masuk kerelung jiwa dan mewujud kedalam sikap, ucap dan tindak sehari-hari. Dengan puasa inilah kita diperintahkan membuka lebar-lebar jiwa kita untuk menerima wahyu Allah yaitu Al Quran, dan menutupnya rapat-rapat dari bisikan syethan terkutuk.

Al Isra (17) : 45,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

Artinya: "Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat (wujud kekafiran kepada hari akhir adalah dengan membiarkan dirinya terkungkung dalam lembah syirk, nifaq dan pengabdian kepada berhala), suatu dinding yang tertutup."

bersambung...

Alhamdu lillahi Rabbi l 'Aalamiin.


Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

27 Jan 2012

AQIQAH : MAKNA ~ HUKUM ~ PELAKSANAAN ~ DOA

Artikel tentang AQIQAH : Makna ~ Hukum ~ Kapan Pelaksanaan ~ Do'a dan hal-hal yang terkait apa yang harus dilakukan setelah bayi lahir. Artikel ini saya ambil dari sebuah grup facebook yang nampaknya bersumber dari sebuah milis di yahoogroup. Pengertian Aqiqah dalam kitab Nailul Authaar NA:224 dijelaskan bahwa: “Aqiqah ialah hewan yang disembelih karena bayi yang dilahirkan”.

1-MAKNA AQIQAH


Aqiqah adalah, menyembelih kambing untuk anak yang baru lahir, dicukur dan diberi nama akan anak itu, pada hari ketujuh setelah kelahirannya. sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan.


2-HUKUM AQIQAH


A. Hukum aqiqah adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w. baik bagi bayi laki-laki maupun bayi perempuan.

B. Dalil Aqiqah didasarkan kepada Hadits-hadits yang shahih sebagai berikut:

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu tergadai dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhari (HSB). No.1637

Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah s.a.w. perintahkan mereka (sahabat-sahabat) supaya di-aqiqahkan buat anak laki-laki dua kambing yang bersamaan (umurnya) dan buat anak perempuan satu kambing. Diriwayatkan dia oleh Tirmizi dan ia sahkan dia. Hadits Bulughul Maram. (HBM).No.1383

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya Nabi s.a.w. ‘aqiqahkan buat Hasan dan Husain, masing-masing satu kibasy. Hadis Bulughul Maram (HBM). No.1381

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w., telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan “Empat”, dan disahkan dia oleh Tirmizi. Hadits Bulughul Maram (HBM).No. 1385

Hadits dari Ali r.a.Rasulullah s.a.w.menyembelih ‘aqiqah Hasan se-ekor domba dan bersabda: “Hai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya, maka timbangannya sama dengan satu dirham atau setengah dirham”.

KETERANGAN:Dari Hadis HBM.No.1383 dan Hadits-hadits lain-lainnya bisa difahami bahwa ‘aqiqah buat anak yang baru dilahirkan itu, satu perintah sunnah muakkad lantaran:

(a)-Ada Hadits yang Rasulullh s.a.w., bersabda padanya: “Barangsiapa mau ‘aqiqahkan anaknya, bolehlah ia berbuat” berarti ‘aqiqah itu diserahkan kepada kemauan seseorang; jadi tidak wajib. (Sunnah muakkad hukumnya).

(b)-Ada Hadis yang menerangkan bahwa ketika seorang bertanya: Adakah lain dari zakat itu sesuatu kewajiban harta atas saya? Rasulullah s.a.w. jawab: “Tidak ada”; ini berarti bahwa ‘aqiqah itu jika wajib tentu Rasulullah s.a.w. terangkan kepadanya. Berarti hukumnya Sunnah.

C. SIAPAKAH AQIQAH ITU?

Kewajiban mengaqiqahi bagi si anak yang baru lahir adalah tanggung jawab orang tua bayi yang baru dilahirkan, yang memikul nafkah si anak. Namun demikian dapat ditunaikan oleh orang lain atas kehendaknya sendiri. (Kakeknya, atau neneknya, atau pamannya, atau buliknya, atau keluarga yang terdekat dengan dasar atas kemauan sendiri dan ikhlas).

DASAR HUKUMNYA MENGACU KEPADA:“Rasulullah s.a.w. menyembelih ‘aqiqah untuk Hasan dan Husen (cucunya Rasulullah s.a.w.), masing-masing dua ekor Kibasy / Domba”. Hadits Riwayat Nasa’i.

4.-KAPAN PELAKSANAANNYA AQIQAH?


Pelaksanaannya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi.

Dari Samurah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Tiap-tiap seorang anak laki-laki tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih (Aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan cukur dia dan dinamakan dia”. Diriwatkan dia oleh Ahmad dan “Empat” dan disahkan dia oleh Tirmidzi. Hadits Bulughul Maram No.1385

Pelaksanaannya sebaiknya, sunnahnya, utamanya dilakukan sendiri oleh orang tua si bayi, apabila mampu..

5-JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN ‘AQIQAH.


Syarat hewan yang boleh disembelih sebagai Aqiqah sama dengan syarat hewan qurban. Jelasnya jika hewan tersebut boleh dan sah dijadikan Qurban maka sah pulalah dijadikan Aqiqah; syarat itu adalah bahwa tidak boleh disembelih hewan cacat, yang kurus, yang sakit, dan yang patah kakinya atau yang cacat..

Mengenai jenisnya apakah jantan ataukah betina? . . .jangan memberatkan apakah domba itu jantan atau betina”. Hadits Riwayat Ahmad.

6-AQIQAH TIDAK BOLEH DIGANTIKAN DENGAN UANG.


Aqiqah atau qurban, yang menjadi tujuan utamanya adalah ibadah sembelihan itu sendiri dan menumpahkan darahnya, bukan membagi-bagikan daging tersebut kepada fakir-miskin. Karena hampir dalam setiap agama ada yang namanya ibadah sembelihan.

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Setiap milah atau agama memiliki ibadah shalat dan sesembelihan tersendiri, yang tidak dapat digantikan dengan hal-hal lainnya. Oleh karena itu kalau seseorang membayar Dam haji Tamattu’ atau Haji Qiran dengan nilai uang yang berlipat-lipat jumlahnya, hal tersebut tidak akan dapat menggantikannya. Demikian pula halnya sembelihan yang lainnya seperti Qurban dan Aqiqah” (Ath-Thiflu Wa Ahkamuhu 193).

7.-PENYEMBELIHAN DAN JUMLAH KAMBING YANG AKAN DISEMBELIH.


Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan. Yang lebih utama adalah menyembelih dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing bagi bayi perempuan.

Dari Ummi Kurz Al-Ka’biyyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (HR. Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516)

Catatan:
Seandainya tidak sanggup menyembelih dua ekor domba / kambing untuk anak laki-laki (benar-benar tidak sanggup), maka dibolehkan menyembelih ‘aqiqah dengan seekor domba / kambing saja.

8.-DOA YANG HARUS DIUCAPKAN KETIKA MENYEMBELIH KAMBING UNTUK AQIQAH.


Dalam riwayat Imam Baihaqy disebutkan bahwa orang yang akan melaksanakan aqiqah disunakan membaca do’a ketika akan menyembelih kambing aqiqah. Adapun lafadz do’anya adalah: “Allahumma minka wa ilaika aqiiqoh fulan bin fulan” artinya “Ya Allah dari-Mu dan kembali pada-Mu aqiqah si fulan bin fulan (sebutkan nama anak yang di-aqiqahi).

Dan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah melaksanakan aqiqah bagi Hasan dab Husain. Dan beliau pun bersabda: “katakanlah oleh kalian “Bismillahi Allahumma laka wa ilaika ‘aqiiqatu fullan bin fulan”

9-PEMBAGIAN DAGING AQIQAH.


Daging aqiqah itu dapat dibagi tiga: (1)-Dimakan sendiri, (2)-Disedekahkan kepada fakir miskin, (3)-Dihadiahkan kepada jiran / tetangga, kerabat, sanak saudara dan sebagainya.

Catatan:
Sebaiknya daging aqiqah / kambing dipotong-potong, dimasak dahulu, setelah masak dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, anak-anak yatim, kaum kerabat, tetangga terdekat yang muslim, dimasak dahulu dengan maksud untuk mempermudah membagi-bagikannya.

Mengirim daging aqiqah yang sudah dimasak kepada fakir miskin itu, lebih baik daripada kita mengundang mereka datang makan dan minum ke rumah kita, karena lebih menjaga kehormatan mereka, dan tidak menimbulkan unsur Riya’. Kecuali kita undang mereka dengan tujuan supaya mereka mendengarkan nasehat ceramah agama.

Akan tetapi, sebagaimana sunah Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetanga baik itu yang miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang melaksanakannya, serta mudah-mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut.. (At-thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad bin Ahmad Al-‘Isawiy, hal 197).

Secara ketentuan, daging aqiqah disunnah dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap. Sedangkan daging hewan qurban disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah.

10.-MENCUKUR RAMBUT


Mencukur rambut bayi merupakan sunnah, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan yang pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. Hal tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Dari Salman bin ‘Amir al-Dhobbi r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Anak itu dengan ‘aqiqah. Karena itu adakanlah sembelihan untuknya, dan bersihkanlah ia dari segala kotoran”. Diriwayatkan dia oleh Abu Dawud dan disahkan dia oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnul-Jarud dan ‘Abdul-Haq, tetapi Abu Hatim tarjihkan kemursalannya. Hadis Shahih Bukhary (HSB). No.1637

Mengenai faedah dari mencukur rambut bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi” (Athiflu Wa Ahkamuhu, hal 203-204)

Kemudian rambut yang telah dipotong tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak (seharga emas atau perak, seberat timbangan rambut si bayi). sesuai dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW kepada puterinya Fatimah RA: “Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada fakir miskin.” (HR Tirmidzi 1519 dan Al-Hakim 4/237)

Dalam pelaksanaan mencukur rambut, perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz’u, yaitu mecukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhari Muslim). Ada sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz’u tersebut:

(a)-Mencukur rambut secara acak di sana-sini tak beraturan. (b)-Mencukur rambut bagian tengahnya saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya. (c-Mencukur rambut bagian sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya (d)-Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan bagian belakan atau sebaliknya.

Untuk pencukuran disunahkan sampai habis / botak, kalau sulit dikhawatirkan melukai kulit si bayi yang masih lembut, boleh ditipiskan saja. Disunahkan mencukurnya dimulai dari sisi kanan, karena setiap pekerjaan baik hendaknya dimulai dari kanan.

11.- PEMBERIAN NAMA


Kapan pemberian nama yang tepat kepada si bayi?

Berkaitan dengan kapan sa’at yang tepat untuk pemberian nama bagi bari yang baru lahir, para ulama menyatakan hal tersebut sebaiknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah dan pencukuran rambut. Namun juga pemberian nama tersebut boleh dilakukan sebelumnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Nama bagi seseorang sangatlah penting. Ia bukan hanya merupakan indentitas pribadi dirinya di dalam sebuah masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. RasulullAh SAW menegaskan bahwa suatu nama (al-ism) sangatlah identik dengan orang yang diberinama (al-musamma)

Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhari 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadis di bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merubah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya” (HR. Bukhari 5836) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-‘Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak kita. Antara lain:

Dari Ibnu Umar r.a ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim 2132)

Dari Jabir r.a dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku.” (HR. Bukhari 2014 dan Muslim 2133)

Anak hendaknya diberi nama yang baik sesuai sabda Rasulullah s.a.w. Memberikan nama yang baik diharapkan akan mempengaruhi kepada yang punya nama. “Sesungguhnya kamu akan dipanggil nanti” di hari kiamat dengan namamu dan nama bapakmu, sebab itu baguskanlah namanya. HR.Ahmad dan Abu Daud.

Contoh nama yang baik seperti nama-nama yang mempunyai hubungan dengan Allah, seperti Abdul Malik, Abdul Latif, dsb. Baik juga mengambil nama-nama dari Al Qur’an yang sesuai dengan kebaikan yang kita inginkan.

Perlu dicatat, Nama menjadi indentitas diri, karena itu gunakan nama yang mencerminkan indentitas Islam dengan jelas. Karena diharapkan dengan mengenal namanya saja, orang sudah mengetahui dan maklum bahwa orang itu adalah muslim / muslimah..

Sebaiknya jangan memberi nama dengan nama asing, aneh dan tidak dikenal dengan pasti apakah muslim atau non muslim.

Pemberian nama sebelum domba aqiqah disembelih, karena dalam penyembelihan namanya akan disebut.

12 Syukuran 40 hari / aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40

,

Aqiqah dilaksanakan pada hari ke 40hanya mengikuti adat. Tidak mengikuti Sunnah Rasul.

Berkaitan dengan perayaan 40 hari setelah kelahirann jabang bayi, kami berpendapat bahwa hal tersebut bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebagaimana diatas. Kalau memang ingin memperkenalkan bayi kepada para tetangga, kenapa hal tersebut tidak dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan aqiqah? Berarti tidak mengikuti sunnah Rasul, berarti tidak ada nilai ibadahnya (amal salehnya).

Kami kira, adat atau kebiasaan perayaan tersebut merupakan “warisan masa lalu” yang masih banyak dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat kita. Tentunya ini adalah tugas kita untuk menyampaikan yang sebenarnya kepada mereka berkaitan dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam pelaksanaan aqiqah.

Anda dapat menyampaikan kepada mereka yang masih mengikuti adat bahwa pelaksanaan aqiqah merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah atas kelahiran bayi. Disamping itu, dalam pelaksanaannya kita juga bisa mengundang para tetangga dalam syukuran aqiqahan ini atau membagi-bagikan daging aqiqah yang sudah masak kepada mereka. Dengan sendirinya ini juga merupakan proses memperkenalkan jabang bayi yang baru lahir kepada tetangga.

Ikutilah agama Allah, tinggalkan adat kebiasaan, atau akan diahzab dan dibinasakan oleh Allah. Qs. 26:135-139

Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di "azab". Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Qs.Asy Syu’araa (26): 135 s/d 139

13.-FAEDAHNYA AQIQAH


(a)-Sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang anak dengan melaksanakan salah-satu syi’ar agama.
(b)-Aqiqah merupakan wasilah untuk taqorrub kepada Allah SWT khususnya bagi si anak yang baru lahir ke dunia.

14.-TIDAK BOLEH MENGAQIQAHI DIRI SENDIRI.


Pertanyaan: Saya sewaktu kecil orang tua tidak mampu, sekarang saya sudah bekerja dan mampu mengaqiqahi diri sendiri apa bisa?

Namun demikian Imam Malik dalam At-Tamhid menyatakan bahwa: “Tidak dilaksanakan aqiqah bagi mereka yang sudah dewasa dan tidak dilaksanakan aqiqah bagi bayi yang dilahirkan kecuali pada hari ke tujuh dan jika melebihi hari ketujuh maka tidak perlu dilaksanakan aqiqah” (At-Tamhid 4/312)

Pelaksanaan aqiqah menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang disunnahkan atau tidaknya pelaksanaan aqiqah oleh diri sendiri bagi mereka yang belum sempat diaqiqahi oleh orang tuanya..

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny menyatakan: Jika seseorang belum diaqiqahi, kemudian tumbuh dewasa dan mencari nafkah sendiri maka tidak ada aqiqah baginya.

Imam Ahmad ketika ditanya tentang aqiqah untuk diri sendiri, beliau menjawab: Aqiqah itu kewajiban orang tua dan tidak dibolehkan mengaqiqahi diri sendiri karena sunnahnya dilakukan oleh orang lain.

Sewaktu kecil orang tua tidak mampu meng-aqiqahi anaknya, setelah dewasa anak itu dan sudah mampu meng-aqiqahi dirinya sendiri, maka sunnah muakkad aqiqah gugur, karena orang tua tidak mampu. Sekarang anak itu mampu, hukumnya bukan aqiqah lagi, melainkan disunnahkan “Berqurban”, memotong hewan qurban pada Hari Raya Idhul Adha (Hari Raya Kurban).

15-TIDAK BOLEH MENJUAL DAGING AQIQAH.


Hukum daging aqiqah sama dengan daging qurban, yakni tidak boleh menjual kepada orang lain. Karena syariatnya adalah dengan dibagikan.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" Qs.Al Fushshilat (41): 33

Semoga bermanfaat bagi yang membaca dan yang mengamalkannya.Semoga Allah SWT selalu memberi petunjuk dan hidayah-Nya, kepada saya sekeluarga,dan para pembaca artikel ini semua, amin.


Sumber bacaan:
Al Qur’an dan terjemahnya.
Hadits Shahih Muslim,
Shahih Bukhari,
Bulughul Marom dan H
adits-hadits yang lainnya.

Sumber : Studi Komprehensif Islam
Lanjutkan Membaca ...

25 Jan 2012

Meraih Taqwa berbahan Baku Iman dan Diproses dengan Puasa

Untuk Meraih derajat taqwa, seorang mu'minin harus memproses IMAN sebagai bahan baku dan memprosesnya dengan Puasa. Simak artikel post ini, bagaimana harus men-duduk-kan , mendefinisikan, dan kesinambungan proses Iman sebagai bahan baku dari taqwa dan bagaimana peranan "PUASA" sebagai suatu proses penghasil keTAQWAan yang bersumber dari ke-imanan. Untuk dapat memahami pembahasan ini, perlu bagi anda untuk merubah "PARADIGMA" anda. Sumber artikel ini saya ambil dari sebuah page di facebook http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=217240628367171&id=211239248967309 . Semoga bermanfaat

Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahiim

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin muslimat.

Al-Baqarah : 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Ayat diatas mengandung rumus pasti matematis dan logis, yaitu:

IMAN + PUASA = TAQWA

IMAN (BAHAN BAKU) + PUASA (PROSES) = TAQWA (HASIL)
Benarkah rumus tersebut? pada realitas kehidupan masyarakat muslim khususnya di indonesia, rumus tersebut agaknya tidak selalu benar. Banyak yang telah melewatkan ramadhan dengan berpuasa selama satu bulan penuh namun pada bulan syawal ternyata derajat muttaqin itu tak menempel di dadanya. Lalu, apanya yang salah? apakah rumusnya yang salah atau apanya? mari kita kaji lebih jauh lagi.

Berdasarkan rumus diatas, TAQWA merupakan produk dari proses produksi PUASA dengan bahan bakunya yaitu IMAN. Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka diperlukan bahan baku yang baik pula, namun bahan baku yang baik jika tidak diproses dengan baik maka hasilnyapun tak akan baik. Jadi, antara bahan baku dan proses produksi harus sama-sama baik, demi mendapat hasil produksi yang baik pula. Untuk memulainya, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memilih bahan baku terbaik diantara yang terbaik.

IMAN

Definisi Iman Menurut Bahasa

ايمان adalah isim mashdar (kata benda bentukan) dari kata kerja آمَنُ (alif panjang satu harkat). آمَنُ dengan alif panjang satu harkat merupakan pentashrifan dari kata امن (alif normal). امن memiliki arti aman, percaya. آمَنُ (alif panjang satu harkat) memiliki arti mengupayakan aman, mengupayakan percaya.

امن = aman, percaya.

آمَنُ = mengupayakan aman, mengupayakan percaya.

ايمان = upaya menjaga keamanan, upaya menjaga kepercayaan.

Pak Mu'min memiliki usaha garmen dengan asset lebih dari 2 trilyun rupiah, dengan usahanya itu Pak Mu'min berhasil memiliki 5 rumah dengan nilai total 10 milyar, 3 mobil dengan nilai total 3 milyar. Dengan assetnya yang begitu banyak, pak Mu'min hidup dengan penuh tekanan karena selalu terpikirkan bagaimana mengamankan kekayaannya tersebut. Tekanan pikiran ini selalu dirasakan oleh pak Mu'min sampai suatu hari dia menemukan sebuah perusahaan asuransi yang sangat terpercaya. Perusahaan asuransi tersebut bernama PT. Al-Amin. Akhirnya setelah mempelajari dengan begitu seksama, pak Mu'min mengambil keputusan untuk mengasuransikan semua kekayaannya kepada perusahaan asuransi Al-Amin tersebut. Dan sejak saat itu akhirnya pak Mu'min terbebas dari tekanan pikiran yang selama ini dideritanya. Pak Mu'min sudah bisa tertidur pulas, karena meskipun kekayaannya hilang maka perusahaan asuransi siap menggantinya. Kepercayaan Pak Mu'min kepada PT. Al-Amin menghasilkan rasa aman didalam dirinya. Kredibilitas PT. Al-Amin berhasil menarik hati pak Mu'min untuk mempercayainya.

Definisi Iman Menurut Terminologi Al-Quran

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 2 الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 3 أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." Al-Anfaal : 2-3.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. " Al-Hujuraat : 15.

Sebetulnya banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menerangkan tentang Iman, namun pada bahasan ini kiranya ayat-ayat diatas dapat kita jadikan rujukan tentang apa itu Iman.

Berdasarkan ayat diatas, Iman adalah kepercayaan yang sungguh-sungguh telah merasuk kedalam qalbu, tak ada keraguan sedikitpun, dan dengan kepercayaannya yang begitu dalam maka ia menyerahkan semuanya kepada Allah, dan berjuang sengan segenap daya upaya dengan harta dan jiwa untuk menjaga kepercayaannya itu.

Definisi Iman Menurut Terminologi Al-Hadits

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :

“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] [1]

Definisi Iman Menurut Terminologi Ulama

Iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, mengamalkan dengan perbuatan.

Kesimpulan Definisi Iman

Definisi Iman adalah keyakinan yang teguh yang tak ada keraguan sedikitpun kepada Allah dan segenap kekuasaan-Nya, Lantas dengan keyakinannya itu dia mengikrarkan janji setia untuk menyerahkan semuanya kepada Allah, Dan dengan mentaati semua prosedurnya dia mendapatkan rasa aman dalam keyakinannya itu.

Keimanan yang benar adalah keimanan yang berdasarkan ilmu, artinya dia telah membuktikan dengan pengetahuannya bahwa hanya Allah saja yang dapat dipercaya untuk menjaga hidupnya.

Orang yang beriman kepada Allah berarti ia telah yakin dengan sepenuhnya bahwa hanya Allah saja yang pantas untuk ia bergantung kepada-Nya, Hanya Allah saja yang pantas ia berlindung dibawah kekuasaan-Nya, Hanya Allah saja yang pantas ia mengabdi kepada-Nya.

Dengan keteguhan keyakinannya itu maka ia serahkan semua yang ada padanya kepada Allah, maka berarti orang yang beriman adalah orang yang sudah tidak merasa memiliki apa yang ada padanya dan menganggap bahwa semua yang ada padanya adalah amanah dari Allah untuk ia jaga dan ia gunakan sesuai dengan kehendak yang pemberi amanah yaitu Allah.

PUASA

Banyak yang beranggapan bahwa puasa adalah menahan atau mengekang diri dari kebebasan hawa nafsu, anggapan ini kiranya masih perlu kita kaji lagi tentang kebenarannya. Karena jika puasa diartikan sebagai pengekangan dari kebebasan maka begitu kebebasan itu berakhir pada malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia adalah suatu tanggapan yang salah sama-sekali, yang akhirnya akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya tempat lagi.

Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang sebenarnya kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah berikut ini:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Beberapa hari sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan, maka dapat diperhitungkan pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang sangat berat menjalankannya, hendaknya ia membayar fid-yah dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat dia; dan bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu,kalau kamu mengerti." (al-Baqarah(2): 184)

Puasa adalah pembebasan diri dari segala bentuk perbudakan. Kenyataannya manusia adalah budak kebiasaannya. Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore sajalah, maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya, kalau benar ungkapan demikian ini. Orang yang sudah biasa merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok, maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu tertentu lalu dikatakan kepadanya: gantilah waktu-waktu itu dengan waktu yang lain, maka pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan, merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya yang sesungguhnya.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh kesadaran bahwa perintah Allah tak mungkin bertentangan dengan cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap dirinya sendiri - dengan kehendak Allah - mengenai batas-batas rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam iman belum dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa.

TAQWA

Definisi Taqwa Menurut Bahasa

Sulit sekali mendefinisikan taqwa, karena padanan kata taqwa dalam bahasa lain tidak ditemukan. Taqwa tidak ada padanan katanya dalam bahasa inggris, juga bahasa indonesia. Namun ada satu ilmu yang merupakan cabang dari ilmu nahwu dan sharraf yaitu ilmu qawa'id-ul-i'lal (kaidah-kaidah kata yang mengandung huruf 'illat).

Berdasarkan ilmu qawa'id-ul-i'laal, kata taqwa berasal dari kata dasar yaitu Qowaya (قوي) yang memiliki makna dasar yaitu kuat dan terjaga. Bahasan ini sebetulnya adalah bahasan ilmiyah yang mengatakan bahwa sesuatu akan menjadi kuat jika ia terjaga dari segala bentuk penyakit.

Definisi Taqwa Menurut Terminologi Al-Quran

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ 2 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 3 وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ 4 أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." Al-Baqarah : 2 - 5.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 133 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 134 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 135 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 136 أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." Ali 'Imraan : 133 - 136.

Taqwa adalah keimanan yang kuat yang telah terjaga dari penyakit pengotor jiwa, terjaga dari masuknya penyakit karena ia hanya mengkonsumsi nutrisi yang sehat yaitu al-Quran, terjaga dari sifat malas, lalai, dan perbuatan yang tidak berguna karena ia selalu online kepada mengingat Allah dengan shalat, terjaga dari sifat sombong, dengki, dan dendam karena ia selalu memaafkan kesalahan orang lain dan dapat mengelola amarahnya, terjaga dari bergelimang dosa karena ia segera memohon ampun dan tak mengulanginya lagi.

Definisi Taqwa Menurut Terminologi Ulama

Taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.

IMAN (BAHAN BAKU) + PUASA (PROSES) = TAQWA (HASIL)


Keimananan kepada Allah harus selalu di update agar selalu tumbuh dan berkembang menjadi keimanan yang kuat yang takkan tergoyahkan lagi, Keimanan seperti inilah yang dimiliki oleh pribadi Muttaqin. Update keimanan ini dilakukan dengan selalu memberikan nutrisi yang sehat berupa ayat-ayat Allah. Namun keimanan kepada Allah juga dapat melemah bahkan menjadi hilang dikarenakan masuknya penyakit berupa kotoran-kotoran jiwa seperti kemusyrikan, kemunafikan dan ketergantungan kepada selain Allah.

Puasa adalah proses pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran sumber penyakit. Dengan berpuasa maka seseorang sedang berupaya segenap jiwanya untuk membebaskan dirinya dari kotoran-kotoran jiwa tersebut. Dengan jiwa yang bersih dan terbebas dari penyakit maka update keimanan akan berjalan dengan mulus sehingga keimanan semakin kuat dan tak tergoyahkan lagi. Derajat keimanan inilah yang disebut dengan taqwa.

Demikianlah, kiranya benarlah rumus yang Allah jelaskan diatas. Shodaq-Allahu-l-'Adziim, Maha Benar Allah dan Maha Agung.

Terima kasih, al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...

24 Jan 2012

Transportasi Umum Non Busway | Terminal Kampung Rambutan

Posting ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya tentang Transportasi Umum Non Busway dari Terminal Blok M, Semoga informasi transportasi umum mobil/bus non TRANSJAKARTA/BUSWAY yang berasal dari Terminal Kampung Rambutan maupun yang hanya melewati terminal ini bermanfaat untuk anda. Anda dapat mencocokkan tujuan anda berdasarkan wilayah tujuan seperti tujuan ke Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta selatan, Jakarta Timur, Bekasi, Cikarang, Depok, Bogor, dan Tangerang.

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Utara


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
MUARA ANGKE
MAYASARI
P 6B
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo – UKI Cawang - Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Jl. S. Parman - Latumeten - Jembatan 2 - Jembatan 3 - Pluit Putra - Pluit Indah - Muara Karang – Muara Angke
KAMPUNG RAMBUTAN –
MUARA ANGKE
PPD AC
PAC 13
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. DR. Latumeten – Jembatan 2 – Jembatan 3 – Pluit Putra - Jl. Muara Karang - Muara Angke 
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
MAYASARI
P 17
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - Ahmad Yani - Suprapto - Galur - Kemayoran - Gunung Sahari - Pangeran Jayakarta - Pintu Besar Utara - Jl.Bank - Pintu Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
MAYASARI
P 17A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani - Suprapto - Senen Raya - DR. Wahidin - Gunung Sahari - Mangga Dua Raya - Jembatan Batu - Kali Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 2
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Dewi Sartika - Otista Raya - Matraman Raya - Salemba Raya - Kramat Raya - Senen Raya - Pejambon - Merdeka Timur - Merdeka Utara - Gajah Mada - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 3
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Dewi Sartika - Otista - Jatinegara Barat - Matraman Raya - Salemba Raya - Kramat Raya - Senen Raya - DR. Wahidin - Gunung Sahari – Kampung Bandan - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 11
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi - Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Jl. MT. Haryono - Gatot Subroto - HR. Rasuna Said - Imam Bonjol - MH. Thamrin - Majapahit - Gajah Mada - Jl. Kunir - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD
P 41
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – ?? - Jl. DR. Sahardjo - Sultan Agung - Cik Ditiro - Menteng Raya - Merdeka Timur - Merdeka Utara - Majapahit - Gajah Mada - Pintu Besar Selatan - Kali Besar Selatan - Kali Besar Timur - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD AC
PAC 09
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Pramuka - Salemba Raya - Kramat Raya - Pejambon - Majapahit - Gajah Mada - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
KOTA
PPD AC
PAC 79
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – MT. Haryono - Tol Dalam Kota - Rasuna Said - Imam Bonjol - Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Gajah Mada - Pintu Besar Selatan - Pintu Besar Utara - Kota
KAMPUNG RAMBUTAN –
ANCOL
PPD
P 31
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani - Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano - Jl. RE. Martadinata - Ancol
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
P 8
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano – Terminal Tanjung Priok
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
P 8A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan – Jl. Ahmad Yani – Jl. Yos Sudarso – Jl. Enggano - Terminal Tanjung Priok
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANJUNG PRIOK
MAYASARI
AC PAC 07
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – DI. Panjaitan - Ahmad Yani - Yos Sudarso - Jl. Enggano – Terminal Tanjung Priok

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Pusat


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
KOPAJA
T 502
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi - Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Dewi Sartika - Otista - Matraman Raya - Matraman Dalam - Pegangsaan Timur - Moh. Yamin - Ridwan Rais - Merdeka Selatan - Kebon Sirih – Fachrudin – Tanah Abang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
MAYASARI
P 16
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto - Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. MH. Thamrin – Jl. Kebon Sirih – Jl. Fachrudin – Jl. Kebon Jati – Tanah Abang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANAH ABANG
MAYASARI
AC PAC 70
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. MH. Thamrin – Jl. Kebon Sirih – Jl. Jatibaru – Jl. Fachrudin – Tanah Abang

Angkutan Umum Tujuan Jakarta Barat dan Tangerang


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
PPD
BIS JEPANG
46
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Semanggi - Bunderan Slipi – Jl. S. Parman - Slipi Jaya – Tomang – Citraland – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
MAYASARI
P 6
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Tol Kota – Semanggi - Bunderan Slipi – Jl. S. Parman - Slipi Jaya – Tomang – Citraland – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
PPD AC
PAC 10A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Tol TMII - Tol Dalam Kota – Jl. Gatot Subroto - Semanggi - Jl. Sudirman – JL. MH. Thamrin - Merdeka Barat – Jl. Gajah Mada – Jl. Hasyim Ashari – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
GROGOL
MAYASARI
AC PAC 43
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. Kyai Tapa – Terminal Grogol
KAMPUNG
RAMBUTAN –
KALIDERES
MAYASARI
P 6A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi – Jl. S. Parman – Jl. Daan Mogot – Terminal Kalideres
KAMPUNG
RAMBUTAN –
KALIDERES
MAYASARI
AC PAC 02
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Bunderan Slipi - Jl. S. Parman – Jl. Daan Mogot – Terminal Kalideres
KAMPUNG
RAMBUTAN - CIPUTAT
KOANTAS BIMA
510
Terminal Kampung Rambutan - Ciputat
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIPUTAT?
PPD AC
PAC14
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Jl. Tendean - Wolter Monginsidi - Trunojoyo - Panglima Polim - Raya Fatmawati - Raya Lebak Bulus - Ciputat Raya
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIPUTAT
MAYASARI
P 15A
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Semanggi - Jl. Sudirman – Jl. Sisimangaraja – Jl. Kyai Maja - Velbak – Jl. Arteri Pondok Indah – Terminal Lebak Bulus – Jl. Ciputat Raya – Terminal Ciputat
KAMPUNG RAMBUTAN –
CILEDUG?
MAYASARI P19B Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto - Jl. Tendean - Wolter Monginsidi - Trunojoyo - Kyai Maja - Gandaria - Arteri Pondok Pinang - Kebayoran Lama - Jl. Raya Ciledug
KAMPUNG RAMBUTAN –
CILEDUG
MAYASARI
AC PAC 73
Terminal Kampung Rambutan - Jl. TB. Simatupang - Pondok Indah - Arteri Pondok Indah - Kebayoran Lama – Jl. Raya Ciledug – Terminal Ciledug
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANGERANG/ CIMONE
PPD AC
PAC 74
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Raya Pondok Gede - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono - Tol Dalam Kota – Bunderan Slipi - Jl. S. Parman - Tol Tangerang/Karawaci - Terminal Poris Tangerang
KAMPUNG RAMBUTAN –
TANGERANG/
PPD AC
AC 74A
Terminal Kampung Rambutan - Tol Kebon Nanas - Terminal Poris Tangerang

TUJUAN JAKARTA SELATAN


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
METROMINI
S 76
Terminal Kampung Rambutan - TB. Simatupang – Jl. Fatmawati - RS. Fatmawati - Cipete - Jl. Panglima Polim - Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
KOPAJA
S 605
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang - Cilandak - Ampera Raya - Jl. Bangka Raya - Jl. A. Tolib - Jl. H. A. Majid - RS. Fatmawati – Jl. Fatmawati – Cipete - Jl. Panglima Polim – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
KOPAJA
S 57
Terminal Kampung Rambutan - Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Terminal Cililitan - PGC - Jl. Dewi Sartika – Jl. Kalibata - Jl. Pahlawan Kalibata – Jl. Pasar Minggu Raya – Jl. Duren Tiga – Jl. Mampang Prapatan – Jl. Kapten Tendean – Jl. Wolter Monginsidi – Jl. Hassanudin – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M
PPD
BIS JEPANG
45
(Terminal Kampung Rambutan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Jl. Sutoyo) - PGC - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Pancoran – Jl. Gatot Subroto – Jl. Kapten Tendean – Jl. Wolter Monginsidi – Jl. Hassanudin - Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M?
PPD AC
PAC 80
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. MT. Haryono – Tol Dalam Kota - Semanggi – Jl. Sudirman – Jl. Sisimangaraja – Jl. Kyai Maja – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN
BLOK M?
STEADY SAFE
P 129
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Dewi Sartika - Kalibata – Jl. Raya Pasar Minggu - Gatot Subroto - Jl. Kapten Tendean - Wolter Monginsidi – Jl. Kyai Maja – Terminal Blok M
KAMPUNG RAMBUTAN –
SENAYAN
PPD AC
PAC 10
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – JL. MT. Haryono – Pancoran - Jl. Gatot Subroto – Balai Sidang Senayan - Gerbang Pemuda - Asia Afrika - Gelora Senayan - Plaza Senayan - Bunderan Senayan – Jl. Sudirman
KAMPUNG
RAMBUTAN - LEBAK BULUS
KOANTAS BIMA
509
Kampung Rambutan - TB. Simatupang - CIlandak - Fatmawati - Lebak Bulus

TUJUAN JAKARTA Timur, Bekasi dan Cikarang


TRAYEK ANGKUTAN RUTE
KAMPUNG RAMBUTAN –
KAMPUNG MELAYU
METROMINI
T 53
Terminal Kampung Rambutan - TB. Simatupang – Jl. Raya Condet - Dewi Sartika - Otista - Jatinegara Timur - Matraman Raya - Jatinegara Barat – Terminal Kampung Melayu
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULO GEBANG
KOPAJA
T 48
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Kramat Jati – Jl. Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - Cipinang Besar - Cipinang Muara - Pahlawan Revolusi - Jl. SS - Perum Klender - Kantor Walikota Jakarta Timur
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULOGADUNG
KOPAJA
T 501
Terminal Kampung Rambutan –  Jl. TB. Simatupang – Jl. Bogor Raya - Kramat Jati – Jl. Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. DI. Panjaitan - RS. Persahabatan - Balap Sepeda – Jl. Perintis Kemerdekaan – Terminal Pulogadung
KAMPUNG RAMBUTAN –
PULOGADUNG
MAYASARI
P 98
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Jl. Raya Pondok Gede - Tol TMII - Tol Layang - Turun Pintu Tol Rawamangun - Pemuda – Jl. Raya Bekasi – Terminal Pulogadung
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 06
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang - Kampung Serdang - Kampung Tengah – Jl. Bogor Raya – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 08
Terminal Kampung Rambutan – Jl. TB. Simatupang – Kampung Duku – Jl. Bogor Raya – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN – 
CILILITAN
APK/KWK
T 12
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Manunggal - Jl. Bungur - Jl. Pengantin Ali – Ciracas – Jl. H. Baping – Jl. Suci – Jl. Bogor Raya – Kramat Jati – Terminal Cililitan
KAMPUNG RAMBUTAN –
BULAK RINGIN
APK/KWK
T 18
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Manunggal - Jl. Bungur - Jl. Pengantin Ali – Jl. Muhidin – Kelapa Dua Wetan – Cibubur I II III – SMP 258 - Bulak Dukuh – Bulak Ringin
KAMPUNG RAMBUTAN –
CIKARANG
MAYASARI
P 9B
Terminal Kampung Rambutan – Jl. Lingkar Luar Selatan - Jl. Bogor Raya – Kramat Jati - Cililitan – Jl. Sutoyo - UKI Cawang - Tol Cawang - Bekasi - Tol Cibitung – Cikarang

Transportasi Umum yang Melewati Terminal Kampung Rambutan

TRAYEK ANGKUTAN RUTE
UJUNG ASPAL – TERMINAL CILILITAN APK/KWK
T 04
Jl. Raya Hankam - Pagularang - Bambu Apus - Mabes Hankam - Terminal Kampung Rambutan - Tol Jagorawi – Jl. Sutoyo - UKI Cawang – Jl. Cililitan - Terminal Cililitan

Sumber : Transportasiumum.com
Lanjutkan Membaca ...