22 Agt 2011

MALIK BIN ANAS - IMAM DAR AL-HIJRAH


Imam Malik bagaikan bintang bagi ulama-ulama hadits, pewaris ilmu Nabi dan penjaga sunan yang ada di Madinah. Imam Adz-Dzahabi berkata, "Imam Malik merupakan pimpinan orang-orang salaf dan tokoh ulama yang mempunyai sifat-sifat menonjol seperti rasa malu, berparas tampan, hamba yang giat, rumah tangganya membanggakan, banyak dikaruniai nikmat dan mempunyai derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Imam Malik mau menerima hadiah, memakan makanan yang halal dan mengerjakan pekerjaan yang baik."'

Abu Mush'ab berkata, "Pada suatu hari orang-orang berdesak-desakan di pintu rumah Malik, karena banyaknya orang, mereka saling dorong-mendorong. Sedang kami bersamanya dan dia tidak berbicara sesuatu apapun atau menoleh ke suatu arah tertentu. Orang-orang mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Malik, menanyakan sesuatu kepadanya dan mendengarkan pembicaraannya. Dan dia hanya menjawab, "Tidak atau ya." Meski begitu, tidak ada seorang pun yang menanyakan dasar jawabannya itu."

Mempelajari biografi Imam Malik akan mengetahui sebab-sebab yang menjadikannya orang besar dan terhormat, sebagaimana dari serial sejarah biografi ulama-ulama salaf yang lain.

Sesungguhnya Malik sangat menghormati hadits, jika dia ingin membicarakannya, maka dia mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian, merapikan jenggotnya, duduk dengan baik, dan dia tidak akan berhenti berbicara kecuali pembahasannya telah selesai.

Benarlah ucapan yang mengatakan, "Barangsiapa memuliakan agama Allah, maka Dia akan memuliakannya, dan barangsiapa menolong agama Allah maka Dia akan menolongnya." Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya." (Al-Hajj: 40)

Karena ayat di atas inilah, maka Malik sangat giat dalam menolong Sunnah dan memerangi orang-orang yang menuruti hawa nafsunya dan berbuat bid'ah.

Dan karena ayat di atas, dia juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Malik tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang bisa dipercaya dan orang yang sudah dikenal dengan periwayatannya bahwa dia adalah ahli hadits.

Malik pernah berkata, "Tidak akan diterima ilmu yang berasal dari empat orang, yaitu orang yang suka menumpahkan darah dan dia merasa bangga dengan tindakannya itu, meskipun banyak orang yang meriwayatkan darinya; orang yang berlaku bid'ah dan mengajak kepada orang lain; dari orang yang mendustakan hadits kepada orang-orang; dan dari orang yang saleh yang banyak melakukan ibadah dan mempunyai kehormatan, namun dia tidak hafal terhadap hadits yang dibicarakan."

Ibnu Abi Hatim berkata, "Malik adalah orang pertama yang membersihkan ulama-ulama fikih yang ada di Madinah dari berbagai celaan. Malik juga menunjukan orang-orang yang tidak bisa dipercaya dalam meriwayatkan hadits. Dia tidak meriwayatkan hadits kecuali hadits shahih dan tidak mau membicarakan hadits kecuali hadits itu diriwayatkan dari perawi yang bisa dipercaya, mempunyai pengetahuan ilmu fikih, pandai ilmu agama, mulia dan taat beribadah."

Dari sinilah diketahui bahwa sanad yang paling shahih adalah sanad dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar. Dan kitab yang paling shahih dalam meriwayatkan hadits pada zamannya adalah Al-Muwaththa' karangan Imam Malik, sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafi'i sebelum munculnya kitab Shahihain.

Semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kita semua dan memasukan ke dalam surga-Nya yang tinggi. Amin.

1. Nama, Kelahiran dan Sifat-sifatnya

Nama Lengkapnya: Adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Al-Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin Al-Harits Al-Ashbahi Al-Humairi, Abu Abdillah Al-Madani dan merupakan Imam Dar Al-Hijrah. Nenek moyang mereka berasal dari Bani Tamim bin Murrah dari suku Quraisy. Malik adalah sahabat Utsman bin Ubaidillah At-Taimi, saudara Thalhah bin Ubaidillah."

Kelahirannya: Adz-Dzahabi berkata, "Menurut pendapat yang lebih shahih, Imam Malik lahir pada tahun 93 Hijriyah, yaitu pada tahun dimana Anas bin Malik, pembantu Rasulullah, meninggal. Malik tumbuh di dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan."

Sifat-sifatnya: Dari Mathraf bin Abdillah, dia berkata, "Malik bin Anas mempunyai perawakan tinggi, ukuran kepalanya besar dan botak, rambut kepala dan jenggotnya putih, sedang kulitnya sangat putih hingga kelihatan agak pirang."

Dari Isa bin Umar Al-Madani, dia berkata, "Aku tidak pernah melihat ada orang yang mempunyai kulit putih dan mempunyai wajah yang kemerah-merahan, sebagus yang dimiliki Malik, dan aku tidak melihat pakaian yang lebih putih dari pakaian yang dikenakan Malik."

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata, "Aku tidak melihat ada orang yang lebih mulia dari Malik, dan aku tidak melihat ada orang yang lebih sempurna akal dan ketakwaannya dari Malik."

2. Mulai Menuntut Ilmu dan Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Adz-Dzahabi berkata, "Malik mulai menuntut ilmu ketika umurnya menginjak belasan tahun, sedang Malik mulai memberikan fatwa dan memberikan keterangan tentang hukum ketika umurnya 21 tahun. Dan, orang-orang telah mengambil hadits darinya di saat dia masih muda belia. Orang-orang dari berbagai penjuru sudah mulai menuntut ilmu kepadanya sejak pada akhir kekuasaan Abu Ja'far Al-Manshur. Dan orang-orang mulai ramai menuntut ilmu kepadanya ketika pada zaman khalifah Ar-Rasyid sampai Malik meninggal."

Dari Abdullah bin Al-Mubarak, dia berkata, "Aku tidak melihat ada orang yang mempunyai perawakan tinggi seperti Malik bin Anas, dia tidak banyak melakukan shalat dan puasa, namun dia mempunyai jiwa yang luhur."

Abdullah bin Ahmad berkata, "Aku bertanya kepada Ayahku, "Di antara sahabat-sahabat Az-Zuhri, siapakah yang paling shahih haditsnya?" Ayahku menjawab "Malik lebih shahih dalam semua hal."

Asy-Syafi'i juga berkata "Jika menyebut tentang para ulama, maka Malik adalah bintangnya."

Dari Ibnu 'Uyainah, dia berkata, "Malik adalah cendekiawannya penduduk Hijaz dan hujjah pada zamannya."

Adz-Dzahabi berkata, "Cendekiawan yang ada di Madinah setelah Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah Zaid bin Tsabit, Aisyah, lbnu Umar, Said bin Musayyab, Az-Zuhri, Ubaidillah bin Umar kemudian Malik."

Adz-Dzahabi berkata demikian karena setelah periode generasi Tabi'in, tidak ada orang yang bisa menyamai keunggulan Malik, baik dalam hal ilmu pengetahuan, ilmu fikih, kemuliaan dan kekuatan hafalan.

Padahal, pada periode itu ada orang-orang besar seperti Said bin Musayyib, ulama fikih yang berjumlah tujuh, Qasim, Salim, Ikrimah, Nafi' dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Kemudian ada Zaid bin Aslam, Ibnu Syihab, Abu Az-Zinad, Yahya bin Said, Shafwan bin Sulaim, Rabi'ah bin Abi Abdurrahman dan orang-orang yang sezaman dengannya, namun ketika mereka dipertemukan maka yang akan muncul dan unggul adalah Malik.

Dan di antara mereka juga ada Ibnu Abi Dza'ab, Abdul Aziz bin Al-Majisyun, Fulaih bin Sulaiman, Ad-Darawardi dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya, dan jika mereka semua di pertemukan maka secara mutlak Malik-lah yang lebih unggul."

Ibnu Mahdi berkata, "Tokoh-tokoh ulama pada zamannya ada empat orang, mereka adalah Ats-Tsauri, Malik, Al-Auza'i dan Hammad bin Zaid. Dan aku tidak melihat ada orang yang lebih pandai dari Malik."

Al-Waqidi berkata, "Di rumah Malik tersedia tempat yang biasa digunakan untuk membicarakan hadits, tempat itu bisa digunakan untuk berbaring dan bersandar, tempat itu terbentang luas ke kanan dan ke kiri. Tempat itu merupakan tempat yang nyaman dan tenang.

Dan, Malik seorang yang mulia dan terhormat, tidak ditemukan keraguan dan kesalahan dari ucapan-ucapannya, banyak orang yang bertanya tentang hadits kepadanya silih berganti. Sebagian dari mereka ada yang meminta izin untuk membacakan hadits kepadanya, sedang di samping Malik selalu ada seseorang yang bernama Habib yang selalu menulis hadits darinya dan membacakannya kepada orang-orang yang datang. Dan jika Malik melakukan kesalahan maka orang yang menulis itu akan membukakan untuknya, dan kesalahan yang dilakukan Malik ini sangat jarang terjadi."

Dari Baqiyah, dia telah berkata kepada Malik, "Tidak ada orang yang tinggal di bumi ini yang lebih banyak ilmunya tentang Sunnah yang melebihi kamu, wahai Malik."

3. Kemuliaan Jiwanya dan Penghormatannya Terhadap Hadits

Dari Ibnu Abi Uwais, dia berkata, "Jika Malik ingin menceritakan sebuah hadits, maka dia berwudhu terlebih dahulu, merapikan jenggotnya, duduk dengan tenang dan sopan, kemudian dia baru berbicara.

Seseorang bertanya tentang hal itu kepadanya, Malik menjawab, "Aku ingin memuliakan Hadits Rasulullah, dan aku tidak mau menceritakan suatu hadits kecuali aku dalam keadaan suci dan tenang." Malik tidak suka berbicara di jalan, sedang dia dalam keadaan berdiri atau sedang tergesa-gesa, dia telah berkata, "Aku ingin orang-orang faham terhadap apa yang aku sampaikan tentang hadits dari Rasulullah."

Dari Ma'an bin Isa, dia berkata, "Jika Malik bin Anas ingin menceritakan sebuah hadits maka dia mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian. Dan jika ada orang yang mengeraskan suara pada majelisnya, maka dia akan memarahinya, dia telah berkata, "Allah telah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi dari suara Nabi." (Al-Hujurat: 2)

Maksud dari ayat di atas adalah barangsiapa meninggikan suara ketika hadits Nabi sedang dibacakan, maka dia seperti meninggikan suaranya atas suara Nabi kelika beliau masih hidup."

Dari Umar bin Al-Mihbar Ar-Ra'ini, dia berkata, "Setelah Al-Mahdi datang ke Madinah, dia mengutus seseorang untuk mendatangkan Malik, dan Malik-pun datang memenuhi panggilannya. Al-Mahdi berkata kepada Harun dan Musa, "Perdengarkan suatu hadits dari Malik."

Maka, kedua orang ini mendatangi Malik, namun Malik tidak mau menjawab, namun setelah kedua orang itu memberitahukan kepada Malik tentang siapa jati diri Al-Mahdi, maka Malik berkata kepada Al-Mahdi, "Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu diberikan kepada orang yang sudah ahlinya." Amirul Mukminin berkata, "Telah benar perkataan Malik, ikutilah dia." Mereka pun mengikuti perkataan Malik.

Seorang guru kerajaan berkata kepada Malik, "Bacakanlah suatu hadits untuk kami." Malik menjawab, "Sesungguhnya, di Madinah murid-muridnya yang membacakan kepada gurunya, sebagaimana seorang anak yang belajar membacakan kepada gurunya, jika mereka bersalah maka sang guru akan membenarkannya."

Maka orang-orang meminta pendapat Al-Mahdi, lalu Al-Mahdi mempersilahkan Malik untuk melanjutkan berbicara, Imam Malik berkata, "Aku mendengar Ibnu Syihab berkata, "Kami mengumpulkan ilmu ini kepada sekelompok orang." Malik menambahkan, "Wahai Amirul Mukminin, mereka adalah Said bin Musayyib, Abu Salamah, Urwah, Al-Qasim, Salim, Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yasar, Nafi', Abdurrahman bin Hurmuz, dan orang-orang setelah generasi mereka adalah Abu Az-Zinad, Rabi'ah, Yahya bin Said dan Ibnu Syihab."

Mereka semua membacakan hadits-hadits kepada sebagian yang lain. Amirul Mukminin berkata, "Pada diri mereka terdapat suritauladan, maka bacakan kepadanya", dan mereka pun melakukannya.

Dari Ibnu Qasim, dia berkata, "Ada seseorang berkata kepada Malik, "Kenapa kamu tidak mengambil hadits dari Amr bin Dinar?" Dia menjawab, "Ketika orang-orang datang kepadanya aku menemukan mereka mengambil hadits darinya sementara dia sedang berdiri. Aku menghormati hadits Rasulullah saw dan aku tidak menyukai seseorang yang meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri."

4. Kehati-hatiannya dalam Meriwayatkan Hadits dan Keberaniannya dalam Mengkritik Orang-orang yang Meriwayatkannya

Dari Manshur bin Salamah Al-Khaza'i, dia berkata, "Ketika aku bersama Malik, ada seseorang berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, aku telah mengikuti majelis taklim di rumahmu selama tujuh puluh hari, dan aku telah menulis enam puluh hadits." Malik berkata, "Enam puluh hadits!" Dia kaget, karena merasa bahwa jumlah tersebut sangatlah banyak."

Seseorang berkata kepada Malik, "Ketika di Kufah kami bisa menulis enam puluh hadits." Dia berkata, "Sedang di Irak kamu tidak akan bisa menulis sebanyak itu, karena pada siang hari sibuk mencari rezeki, dan pada malam hari sibuk mencari ilmu."

Dari Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqafi As-Siraj, dia berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Ismail Al-Bukhari tentang sanad yang paling shahih." Dia menjawab, "Sanad yang paling shahih adalah dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar."

Dari Sufyan bin 'Uyainah, dia berkata, "Tidak ada orang yang lebih keras dalam mengkritik perawi-perawi hadits dari Malik, dan dia adalah orang yang paling mengetahui tentang syarat-syarat perawi."

Adz-Dzahabi berkata, "Malik adalah pimpinan orang-orang yang gemar meneliti para perawi, dan dia mempunyai hafalan yang kuat, fasih dalam ucapan dan mempunyai keyakinan tinggi."

Bisyr bin Umar Az-Zahrani berkata, "Aku bertanya kepada Malik tentang seorang perawi, dia tidak menjawab, namun balik bertanya, "Apakah kamu melihat perawi itu ada dalam kitabku?" Aku menjawab, "Tidak.'' Malik berkata, "Jika dia seorang perawi yang bisa dipercaya, maka akan menemukannya dalam kitabku."

Adz Dzahabi berkata, "Perkataan di atas memberikan pengertian bahwa Malik tidak meriwayatkan kecuali dari seorang perawi yang menurut dia dapat dipercaya.

Keterangan ini juga tidak mengharuskan bahwa semua perawi harus dari orang yang dapat dipercaya, dan tidak mengharuskan juga bahwa semua perawi yang meriwayatkan hadits dari Malik adalah perawi yang bisa dipercaya.

Karena, bisa saja menurut pendapat Malik, perawi itu adalah tidak bias dipercaya, namun menurut orang lain perawi itu bisa dipercaya. Terkadang Malik tidak mengetahui keadaan perawi, sedang orang lain mengetahuinya. Namun bagaimanapun Malik adalah orang yang keras dalam mengkritik para perawi."

Dari Utsman bin Kinanah bahwa Malik telah berkata, "Kadang dalam sebuah majelis ada seorang guru yang menerangkan beberapa hadits dengan jelas, namun aku tidak mengambil darinya satu hadits pun, aku tidak menuduhnya terhadap hadits yang dikatakannya, hanya saja dia bukan ahli hadits."

Dari 'Uyainah, dia berkata, "Dalam suatu majelis kami tidak berada di samping Malik, namun kami selalu melihat dan mengikuti setiap geraknya, jika Malik menulis dari guru yang sedang bercerita tentang hadits maka kami ikut menulisnya."

Masih dari Ibnu 'Uyainah, dia berkata, "Malik tidak menyampaikan sebuah hadits kecuali hadits shahih, dia tidak membicarakan suatu hadits kecuali dari orang yang bisa dipercaya. Dan aku tidak menyadari keagungan kota Madinah kecuali setelah meninggalnya Malik bersama ilmu-ilmunya."

Asy-Syafi'i berkata, "Muhammad bin Al-Hasan berkata, "Aku telah bersama Malik selama lebih dari tiga tahun, dan aku mendengar hadits darinya lebih dari 700 hadits." Kemudian Asy-Syafi'i berkata, "Jika Muhammad bin Al-Hasan membicarakan tentang Malik, maka rumahnya menjadi penuh dengan orang-orang yang mau mendengarkan sejarah biografi Malik, dan jika dia membicarakan selain Malik dari ulama-ulama Kufah, maka tidak ada yang datang kecuali hanya sedikit."

Dari Muhammad bin Ar-Rabi' bin Sulaiman, dia berkata, "Aku mendengar Asy-Syafi'i berkata, "Jika hadits itu berasal dari Malik, maka pegang teguhlah."

Dari Muhammad bin Ar-Rabi' dari Asy-Syafi'i, dia berkata, "Jika Malik meragukan terhadap sebuah hadits, maka dia akan membahasnya dengan tuntas."

Dari Habib bin Zuraik, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Malik, "Kenapa kamu tidak menulis hadits dari Shaleh budak At-Tauamah, Hizam bin Utsman dan Umar budak Ghufrah?" Malik menjawab, "Aku telah mengetahui 70 orang dari generasi Tabi'in dalam masjid ini, dan aku tidak mengambil hadits-hadits mereka, kecuali dari orang-orang yang dapat dipercaya."

5. Menjauhkan Diri dari Memberi Fatwa

Dari Malik, dia berkata, "Perisai orang alim adalah "Aku tidak mengetahui", dan jika dia melupakannya maka dia akan terluka."

Dari Al-Haitsam bin Jamil, dia berkata, "Aku mendengar Malik ditanya empat puluh delapan masalah, dan dia menjawab yang tiga puluh dua pertanyaan dengan jawaban "Aku tidak mengetahui"."

Dari Khalid bin Khaddasy, dia berkata, "Aku mengajukan pertanyaan kepada Malik sebanyak empat puluh pertanyaan, dan dia tidak menjawab kecuali hanya lima dari pertanyaan itu."

Dari Malik bahwa dia mendengar Abdullah bin Yazid telah berkata, "Hendaknya seorang guru meninggalkan majelisnya dengan perkataan "Aku tidak mengetahui" sehingga jawaban ini akan menimbulkan kerisauan di hati para murid agar lebih bersungguh-sungguh memperdalam ilmunya."

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata, "Aku melihat seseorang bertanya kepada Malik tentang sesuatu, namun sampai beberapa hari Malik tidak mau menjawab. Orang itu berkata, "Ya Abu Abdullah, aku ingin pergi." Abdurrahman berkata, "Malik menunduk lama kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, "Masyaallah, wahai pertanyaan ini, seandainya aku bisa menjawabnya maka aku akan mendapat kebaikan."

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata, "Ada seseorang bertanya kepada Malik tentang suatu masalah, namun Malik menjawabnya dengan, "Aku tidak bisa menjawabnya dengan baik." Sehingga orang yang bertanya itu berkata kepadanya, "Aku telah datang kepadamu dari tempat yang jauh untuk bertanya kepadamu." Maka Malik berkata kepada orang tersebut, "Jika kamu kembali ke tempatmu, maka katakan kepada mereka bahwa aku telah menjawab pertanyaannya dengan jawaban, "Aku tidak bisa menjawabnya dengan baik."

Dari Said bin Sulaiman, dia berkata, "Setiap aku mendengar Malik memberikan fatwa terhadap suatu masalah, maka aku selalu mendengar dia membacakan ayat, "Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakininya." (Al-Jatsiyah: 32)

Dari Amr bin Yazid, guru besar penduduk Mesir dan teman Malik bin Anas, dia berkata, "Aku telah berkata kepada Malik, "Wahai Abu Abdillah, orang-orang dari berbagai penjuru daerah telah datang, mereka menggunakan kuda dan perbekalan mereka untuk bertanya kepadamu terhadap sesuatu yang Allah telah karuniakan kepadamu, sedang kamu menjawab "Aku tidak mengetahuinya".

Mendengar itu, Malik menjawab, "Wahai Abdullah, telah dating kepadaku orang-orang dari Syam, orang-orang dari Irak dan orang-orang dari Mesir, mereka bertanya kepadaku tentang sesuatu, kadang aku tidak menemukan jawaban yang harus aku katakan kepada mereka, darimana aku mendapatkan jawaban itu?"

Kemudian, Amr bin Yazid berkata, "Aku pun memberitahukan perkataan Malik tersebut kepada Al-Laits bin Sa'ad."

6. Usahanya Menolong Sunnah dan Menentang Ahlul Bid'ah

Dari Mathraf bin Abdillah, dia berkata, "Aku mendengar Malik pernah berkata, "Rasulullah saw telah menjadikan Sunnahnya agar diikuti orang-orang sesudahnya, sedang mengikuti Sunnah adalah perintah dari dari Kitabullah dan bentuk penyempurnaan ketaatan kepada Allah, serta memperkuat agama.

Tidak ada yang berhak merubah dan mengganti Sunnah, dan tidak boleh pula condong kepada suatu yang mengingkarinya. Barangsiapa menjadikan Sunnah sebagai petunjuk, maka dia akan mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa meminta pertolongan kepadanya, maka dia akan mendapat pertolongan.

Sedangkan, barangsiapa meninggalkan Sunnah dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, maka dia berpaling dari apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan, tempat orang yang meninggalkan Sunnah adalah di Neraka Jahanam, dan ini adalah sejelek-jelek tempat kembali."

Dari Yahya bin Khalaf Ath-Tharthusi, dia termasuk perawi yang bisa dipercaya, dia berkata, "Ketika aku bersama Malik, seseorang datang kepadanya dan bertanya, "Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu terhadap orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk?" Malik menjawab, "Dia adalah Kafir, dan bunuhlah dia." Orang itu berkata, "Wahai Abu Abdillah, aku akan menceritakan kepada orang-orang tentang perkataan yang baru saja aku dengar darimu." Malik berkata, "Perkataan ini aku mendengarkan darimu, maka agungkanlah."

Abu Tsur bercerita dari Asy-Syafi'i, dia berkata, "Jika orang-orang yang menuruti hawa nafsunya datang kepada Malik, maka Malik akan berkata kepadanya, "Adapun aku telah berada pada keteguhan agamaku. Sedangkan kamu berada pada keragu-raguan, maka pergilah kepada orang-orang yang ragu-ragu sepertimu." Dan dia memusuhi mereka."

Al-Qadhi 'Iyadh berkata, "Abu Thalib Al-Makki pernah berkata, "Malik adalah orang yang paling membenci golongan Muatakallimin dan termasuk orang yang paling keras mengkritik ulama-ulama dari Irak."

Al-Qadhi 'Iyadh juga pernah berkata, "Sufyan bin 'Uyainah telah mengatakan, "Seseorang bertanya kepada Malik tentang firman Allah, "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy." (Thaha: 5)

Bagaimana Dia bersemanyam?" Malik terdiam, hingga keringat bercucuran keluar dari tubuhnya, kemudian berkata, "Bersemayam sudah maklum, bagaimana Dia bersemayam tidak bisa dinalar, pertanyaan seperti ini adalah bid'ah, iman kepadanya adalah wajib dan aku menduga kamu berada dalam kesesatan, maka keluarlah."

Orang tersebut berkata, "Wahai Abu Abdillah, sungguh, aku telah bertanya tentang permasalahan ini kepada orang-orang dari Bashrah, Kufah dan Irak, maka aku tidak menemukan seorang pun yang setuju dengan apa yang telah kamu katakan."

Dari Said bin Abdil Jabar, dia berkata, "Aku mendengar Malik berkata, "Pendapatku tentang golongan Qodariyah adalah hendaknya mereka diperintahkan untuk bertaubat. Jika mereka membangkang maka bunuhlah mereka."

Utsman bin Shaleh dan Ahmad bin Said Ad-Darami, mereka berkata, "Utsman pernah bercerita, "Seseorang bertanya kepada Malik tentang suatu masalah, maka Malik berkata kepadanya, "Rasulullah saw telah bersabda begini dan begitu!" Orang itu bertanya lagi, "Apa pendapatmu?" Malik berkata, "Allah telah berfirman, "Maka hendakla orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan dan ditimpa azab yang pedih." (An-Nur: 63)

Dari Abu Hafsh, dia berkata, "Aku mendengar Malik bin Anas berkata, "Allah berfirman, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya-lah mereka melihat." (Al-Qiyamah: 22-23)

Orang-orang membenarkan ucapan Malik, namun Malik berkata, "Dustakanlah, tidakkah kalian melihat firman Allah, "Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka." (Al-Muthaffifin: 15)

Malik berkata, "Aku tidak mengetahui ada seseorang yang mencaci sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam pembagian harta fa'i."

Dari Abdullah bin Umar bin Ar-Rammah, dia berkata, "Aku datang kepada Malik dan bertanya, "Wahai Abdullah, apa yang termasuk wajib dan Sunnah dalam shalat?" Malik berkata, "Ini adalah perkataan orang-orang kafir, keluarlah!"

7. Cobaan yang Menimpanya

Muhammad bin Jarir berkata, "Malik telah dicambuk dengan rotan, orang-orang berselisih pendapat tentang sebab kejadian tersebut."

Abbas bin Al-Walid bercerita kepada kami, dari Ibnu Dzikwan dari Marwan Ath-Thathari, dia berkata, "Sesungguhnya Abu Ja'far melarang Malik membicarakan hadits yang berbunyi, "Tidak ada thalak bagi orang yang sedang dipaksa."

Kemudian orang-orang yang bertanya itu menambah-nambahi keterangan dalam hadits tersebut, sehingga membuat penguasa menjadi marah, maka Malik dicambuk dengan rotan."

Dari Al-Fadhl bin Ziyad Al-Qaththan, dia berkata, "Aku bertanya kepada Ahmad bin Hambal, "Siapa yang mencambuk Malik bin Anas?" Dia menjawab, "Orang yang mencambuk Malik adalah seorang penguasa, aku tidak mengetahui siapa dia. Malik dicambuk karena keterangannya tentang thalaknya seseorang yang berada dalam paksaan, dan dia tidak mengakui thalaknya orang yang berada dalam paksaan, karena itulah Malik dicambuk."

Dari Abu Bakar bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyad, dia berkata, "Aku mendengar Abu Dawud berkata, "Ja'far bin Sulaiman mencambuk Malik karena masalah thalak orang yang berada dalam paksaan."

Sebagian sahabat Ibnu Wahab menceritakan, "Setelah Malik bin Anas dicambuk, dia dinaikkan di atas keledai, seseorang berkata kepada Malik, "Tunjukkan dirimu, siapakah kamu?" Malik menjawab, "Ketahuilah, orang-orang yang mengenalku akan mengetahuiku, dan bagi orang yang tidak mengenalku, aku adalah Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi. Aku seperti ini karena aku mengatakan bahwa thalaknya orang yang berada dalam paksaan tidak jatuh." Kemudian orang itu mengetahui bahwa dia adalah Malik, lalu dia berkata kepada kaumnya, "Kenalilah dan turunkan dia dari keledai."

Diriwayatkan dari Ibnu Said dari Al-Waqidi, dia berkata, "Ketika Malik diundang dan diajak bermusyawarah, dan pendapatnya didengar serta diterima, maka ada juga orang yang hasad kepadanya, dan orang itu memfitnah dengan berbagai cara.

Sehingga, ketika Madinah dipegang oleh Ja'far bin Sulaiman, maka orang-orang yang hasad itu datang kepadanya dan mengatakan, "Tidak ada orang yang menjual iman seperti ini (thalak orang yang berada dalam paksaan), dia telah mengambil hadits yang diriwayatkan dari Tsabit bin Al-Ahnaf tentang thalak orang yang berada dalam paksaan atau tekanan, bahwa thalaknya tidak jatuh."

Al-Waqidi berkata, "Maka Ja'far menjadi marah dan mengundang Malik, maka terjadilah apa yang akan membuat derajatnya semakin tinggi. Ja'far memerintahkan untuk mencambuk dan menarik tangan Malik hingga telentang. Dan sungguh, setelah kejadian ini Malik senantiasa masih berada pada posisi yang terhormat dan luhur."

Adz-Dzahabi berkata, "Ini adalah buah dari cobaan yang terpuji, sesungguhnya Allah akan mengangkat hamba-Nya yang beriman, dan Dia akan memberi tempat kepada seseorang sesuai dengan apa yang telah dia kerjakan. Rasulullah saw telah bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Dia akan mengujinya." (HR. Al-Bukhari dan Malik)

Rasulullah saw juga telah bersabda, "Setiap keputusan Allah terhadap orang mukmin adalah kebaikan untuk dirinya." (HR. Muslim)

Allah juga telah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Muhammad: 31)

Dalam ayat yang lain, yaitu ketika terjadi Perang Uhud Allah berfirman, "Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 165)

Allah juga telah berfirman, "Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syura: 30)

Jika orang mukmin ditimpa musibah dan dia bisa bersabar, musibah itu dijadikannya sebagai pelajaran, kemudian mau meminta ampunan kepada Allah, tidak sibuk dengan penyesalan dan mendendam kepada orang yang membuat kegagalan, maka Allah akan memberikan keadilan-Nya. Allah akan memujinya atas kegigihannya dalam mempertahankan agamanya, sedang dia mengetahui bahwa siksa di dunia lebih ringan dari siksa di akhirat."

8. Beberapa Mutiara Perkataannya

Dari Ibnu Wahab, sesungguhnya dia mendengar dari Malik, dia berkata "Jika ada orang memuji dirinya sendiri, maka dia telah kehilangan kehormatannya."

Dari Harmalah dari lbnu Wahab, dia berkata, "Aku mendengar seseorang bertanya kepada Malik, "Apakah menuntut ilmu itu wajib?" Dia menjawab, "Mencari ilmu adalah perbuatan yang terpuji bagi mempunyai rezeki, dia adalah ketentuan dari Allah."

Malik pernah berkata, "Bukan seorang pemimpin jika dia mengatakan semua yang dia dengar."

Malik juga berkata, "Bagi orang yang menuntut ilmu dengan sebenar-benarnya, hendaknya dia merasa tenang, tentram dan takut hanya kepada Allah, dan hendaknya dia mengikuti perilaku ulama-ulama salaf yang saleh."

Al-Farwi berkata, "Aku mendengar Malik telah berkata, "Jika seseorang tidak bisa berlaku baik terhadap dirinya sendiri, maka dia tidak bisa berbuat baik terhadap orang lain."

Dari Ibnu Wahab dari Malik, dia berkata, "Seseorang tidak dikatakan zuhud terhadap masalah duniawi dan bertakwa kepada Allah, kecuali dia sudah mendalami tentang hikmah."

Adz-Dzahabi berkata, "Al-Hafidz bin Abdil Bar dalam kitab At-Tamhid mengatakan, "Buku ini adalah hasil tulisan tangan yang berasal dari ingatanku, tulisan aslinya yang ada padaku telah hilang.

Sesungguhnya Abdullah Al-Umri Al-Abid menulis sepucuk surat kepada Malik yang isinya mendorong untuk menyendiri dan banyak beramal kebaikan.

Maka, Malik membalas surat tersebut sebagai berikut, "Sesungguhnya Allah membagi amal seperti membagi rezeki, kadang dibukakan bagi seseorang untuk banyak melakukan shalat, dan tidak dibukakan baginya banyak melakukan puasa. Sebagian lagi, ada yang gemar mengeluarkan shadaqah, namun dia tidak gemar melakukan puasa, dan ada lagi orang yang suka melakukan jihad. Sesungguhnya menyebarkan ilmu adalah kebaikan yang paling utama. Aku telah rela dengan karunia Allah kepadaku, aku tidak menduga apa yang ada pada diriku tidak ada padamu, semoga kita berada dalam kebaikan."

Dari Khalid bin Nazzar, dia berkata, "Aku mendengar Malik bin Anas berkata kepada seorang pemuda dari suku Quraisy, "Wahai anak saudaraku, belajarlah sopan santun sebelum kamu belajar ilmu."

9. Guru dan Murid-muridnya

An-Nawawi berkata, "Al-Imam Abu Al-Qasim Abdul Malik bin Zaid bin Yasin Ad-Daulaqi dalam kitab Ar-Risalah Al-Mushannafah fi Bayani Subulissunnah Al-Musyarrafah berkata, "Malik mengambil hadits dari sembilan ratus orang guru, yaitu tiga ratus orang dari generasi Tabi'in dan enam ratus orang dari generasi Tabi' Tabi'in.

Guru Malik adalah orang-orang yang dia pilih, dan pilihan Malik didasarkan pada ketaatannya beragama, ilmu fikihnya, cara meriwayatkan hadits, syarat-syarat meriwayatkan dan mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Malik meninggalkan perawi yang banyak mempunyai hutang dan suka mendamaikan yang mana riwayat-riwayat mereka tidak dikenal."

Adz-Dzahabi berkata, "Untuk pertama kalinya Malik mencari ilmu pada tahun 120 Hijriyah, yaitu tahun dimana Hasan Al-Bashri meninggal. Malik mengambil hadits dari Nafi' yaitu orang yang tidak bisa ditinggalkannya dalam periwayatan.

Juga, dari Said Al-Maqburi, Nu'aim Al-Mujammar, Wahab bin Kaisam, Az-Zuhri, lbnu Al-Munkadir, Amir bin Abdillah bin Az-Zubair, Abdullah bin Dinar, Zaid bin Aslam, Shafwan bin Salim, Ishaq bin Abi Thalhah, Muhammad bin Yahya bin Hibban, Yahya bin Said, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Az-Zinad, Rabi'ah bin Abi Abdirrahman dan banyak lagi orang-orang selain mereka dari ulama-ulama Madinah. Malik jarang meriwayatkan hadits dari orang-orang yang berasal dari luar Madinah."

Sedangkan, orang-orang yang meriwayatkan dari Malik dan mereka termasuk guru-gurunya adalah Az-Zuhri, Rabi'ah, Yahya bin Said dan yang lain. Sedangkan, dari orang-orang yang hidup sezaman dengan Malik adalah Al-Auza'i, Ats-Tsauri, Al-Laits dan yang lain.

Selain mereka, orang-orang yang meriwayatkan dari Malik adalah Ibnu Al-Mubarak, Yahya bin Said Al-Qaththan, Muhammad bin Al-Hasan, Ibnu Wahab, Ma'an bin Isa, Asy-Syafi'i, Abdurrahman bin Mahdi, Abu Mashar, Abu 'Ashim, Abdullah bin Yusuf At-Tunisi, Al-Qa'Nabi, Said bin Manshur, Yahya bin Yahya, Yahya bin Yahya Al-Qurthubi, Yahya bin Bakir, An-Nufaili, Mush'ab Az-Zubaidi, Abu Mush'ab Az-Zuhri, Qutaibah bin Said, Hisyam bin Ammar, Suwaid bin Said, 'Utbah bin Abdillah Al-Maruzi, Ismail bin Musa, As-Saddi dan orang-orang lain seperti Ahmad bin Ismail As-Sahmi."

10. Al-Muwaththa` Karangan Imam Malik dan Keunggulannya

Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi berkata, "Al-Muwaththa' adalah dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits, sedang karya Al-Bukhari adalah dasar kedua, dan dari keduanya muncul kitab yang menjadi penyempurna, seperti karya Imam Muslim dan At-Tirmidzi.

Imam Malik mengarang Al-Muwaththa' bertujuan untuk mengumpulkan hadits-hadits shahih yang berasal dari Hijaz, dan di dalamnya disertakan pendapat-pendapat dari para sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in.

Malik telah mengumpulkan hadits-hadits dalam Al-Muwaththa' sebanyak sepuluh ribu hadits. Malik senantiasa meneliti hadits-hadits tersebut setiap tahunnya, dan banyak hadits yang tereliminasi, sehingga hanya tersisa seperti yang ada sekarang.

Ibnu Abdul Bar menceritakan dari Umar bin Abdil Wahid, teman Al-Auza'i, dia berkata, "Aku memperlihatkan Al-Muwaththa' kepada Malik setiap empat puluh hari sekali. Dia pernah berkata, "Kitab ini aku karang selama empat puluh tahun, dan aku mengoreksinya setiap empat puluh hari sekali, tidak ada hadits yang ada di dalamnya yang tidak aku pahami."

Malik juga berkata, "Aku telah memperlihatkan kitabku ini kepada 70 ulama fikih yang ada di Madinah, mereka semua memberikan masukan dan menyetujuinya (watha'a), maka aku menamakannya dengan Al-Muwathaha'."

Al-Jalal As-Suyuthi berkata, "Dalam Al-Muwaththa' tidak ada hadits yang mursal, kecuali ada satu hadits penguat atau bahkan ada beberapa hadits lain sebagai penguat, namun yang benar adalah bahwa hadits-hadits yang ada di kitab Al-Muwaththa' semuanya adalah shahih yang tidak ada cacat di dalamnya."

Ibnu Abdul Bar telah mengarang kitab yang meneliti isi Al-Muwaththa'. Dia menjelaskan hadits-hadits Mursal, Mun'qati' dan Mua'dhal, dia berkata, "Di dalamnya ada redaksi "Ballighni" dan redaksi "'An Tsiqah" yang belum diketahui sanadnya sebanyak 61 hadits, semua sanadnya bukan dari Malik, dan ada empat hadits yang tidak diketahui sanadnya."

Ibnu Shalah telah mengarang satu kitab yang di dalamnya hanya membahas empat hadits tersebut.

Prof. Muhammad Fuad Abdul Baqi' berkata, "Mengherankan, kalau Ibnu Shalah mengatakan bahwa semua hadits yang ada di dalam Al-Muwaththa' sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, sehingga empat hadits yang diutarakan Abdul Bar itu bukan merupakan hadits Mauquf.

Ibnu Shalah juga mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di dalam Al-Muwaththa' adalah hadits shahih dan dia merupakan kitab dasar. Dan, dikatakan bahwa manhaj dan periwayatan yang digunakan dalam Shaihain hampir sama dengan yang digunakan Malik."

Ahmad Syakir berkata, "Sesungguhnya Malik tidak menyebutkan sanad, sebagaimana yang dikatakan Al-Fallani, "Ibnu Shalah mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di Al-Muwaththa' adalah sampai kepada Rasulullah saw. Sesungguhnya bagi orang-orang yang mengetahui ilmu hadits tidak akan mengatakan bahwa hadits-hadits itu adalah sampai kepada Rasulullah saw. Kecuali hadits-hadits itu ada sanadnya, sehingga menjadi jelas apakah hadits ini sampai kepada Nabi atau tidak, apakah hadits ini shahih atau tidak."

11. Meninggalnya

Al-Qa'nabi berkata, "Aku mendengar orang-orang berkata, "Malik berusia 89 tahun, dan dia meninggal pada tahun 179 Hijriyah.''

Ismail bin Abi Uwais berkata, "Malik telah sakit dan meninggal, dan aku bertanya kepada keluarganya tentang apa yang dikatakan Malik ketika dia menghadapi sakaratulmaut. Mereka menjawab, "Malik mengucapkan dua syahadat kemudian dia membaca ayat Al-Qur'an yang artinya, "Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Ar-Rum: 4)

Malik meninggal di waktu Shubuh pada tanggal 14 Rabiul Awwal tahun 179 Hijriyah. Amirul Mukminin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim juga ikut menyalatinya."

Dia dimandikan Ibnu Abi Zanbir, Ibnu Kinanah, Anaknya Yahya, dan sekretaris pribadinya Habib yang menyiramkan air ke jasadnya. Orang-orang telah mengantarkan jenazahnya sampai di kuburnya. Malik meninggalkan wasiat agar dikafani dengan kain putih dan dishalatkan di atas tempat jenazah.

Amirul Mukminin telah menyalatinya, dia berkata, "Bagi penduduk Madinah, Malik adalah pengganti ayahnya, Muhammad." Kemudian dia berjalan di depan jenazahnya dan memberikan kafan kepadanya seharga lima dinar."

Ibnu Al-Qasim berkata, "Malik meninggalkan seratus budak perempuan, belum lagi yang lain."

Ibnu Abi Uwais berkata, "Setelah Malik meninggal, perkakas yang ditinggalkan dijual dan hanya seharga lima ratus dinar."


Sumber : Kitab Min A'lam As-Salaf
Penulis : Syaikh Ahmad Farid
Sumber web : forum.arrahmah.com
Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar