4 Jan 2012

Sejarah Imam Ali : Perannya Selama Masa Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq RA


Ketika kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah SAW, kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah, memperbincangkan penerus kepemimpinan pasca Rasulullah SAW, Ikut serta bersama mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah. Peristiwa ini tergolong penting bagi kaum Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah, yang dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan tersebut. Pertemuan ini juga menjadi kisah krusial dan digunakan musuh Islam sebagai senjata perpecahan.

Pertemuan yang termasuk Ilegal dan memicu perpecahan Muhajirin dan Anshar ini, memaksa Umar bin Khattab RA untuk terlibat dalam pertemuan tersebut setelah di desak oleh Ma'an bin Adiy. Umar bin Khattab juga akhirnya mengajak / memaksa Abu Bakar Ash Shiddiq RA untuk ikut ke Pertemuan Saqifah yang di lakukan sepihak oleh Kaum Anshar. Selepas perdebatan antara Abu Bakar RA, Umar RA terhadap beberapa pemimpin Anshar yang menghendaki kepemimpinan dibawah salah satu pemimpin Anshar, pada akhirnya di sepakati untuk mem bai'at Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Pengganti (Khalifah) Rasulullah SAW.

Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq RA sebagai Khalifah untuk meneruskan kepemimpinan Rasulullah SAW atas ummat Islam, Imam Ali RA tidak ikut terlibat di dalamnya, beliau sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW.

Demikian sekelumit isi BAB VI dari Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA Karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini yang dimuat dalam web Sahabat-nabi.blogspot.com. Berikut , silahkan Simak Keseluruhan isi dari BAB VI buku tersebut dibawah ini.

Bab VI : Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq RA


Di saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah SAW, sejumlah kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk memperbincangkan masalah penerus kepemimpinan Rasulullah SAW Ikut serta bersama mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah.

Di dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis Al-Jauhary mengetengahkan riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan) Bani Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah, dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Karena tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin Sa'ad, supaya meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara lantang Qeis meneruskan kata-kata ayahnya: "Kalian termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya dimiliki oleh satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah dan meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang beriman kepada beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasulullah SAW Mereka tidak mampu memperkokoh agama Allah . Tidak mampu membela beliau dari serangan musuhmusuhnya.

"Kemudian Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan kemuliaan kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah melimpahkan nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang melawan musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi siapa pun juga yang menentang Rasulullah SAW Kalian juga merupakan orang-orang yang lebih ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan Allah, suka atau tidak suka.

"Dan orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam, sampai tiba saatnya Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab di bawah pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad SAW keharibaan-Nya dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling afdhal untuk memegang urusan itu!"

Kata-kata Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir memenuhi Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu memperoleh dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak mereka hampir serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami merasa puas terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!"

Setelah menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan pendapat-pendapat tentang kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah yang harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak atas kepemimpinan ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasulullah dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai kerabat Nabi dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian menentang kami memegang kepemimpinan sepeninggal Rasulullah? Bagaimana kalau timbul problema seperti itu?

Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul pertanyaan-pertanyaan seperti itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan menyarankan: Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga dan merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah yang melindungi dan membela Rasulullah SAW Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama bernaung di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat menghitung-hitung jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk mengungkit-ungkit mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan mereka pun mempunyai pemimpin sendiri!"

"Inilah awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah mendengar usul kompromi dari kaumnya. Nyata sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin 'Ubadah sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasulullah SAW Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab RA Konon yang menyampaikan berita tentang hal itu kepada Umar RA ialah seorang yang bernama Ma'an bin 'Addiy. Ketika itu Umar RA sedang berada di rumah Rasulullah SAW

Pada mulanya Umar RA menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari orang banyak yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasulullah SAW Tetapi karena Ma'an terus mendesak, akhirnya Umar RA menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab RA Ma'an memberitahukan segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar RA Akhirnya ia bertanya: "Coba, bagaimana pendapat anda?"

Tanpa menunggu jawaban Umar RA yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih lanjut: "Sampaikan saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian pilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah sudah ternganga. Semoga Allah akan segera menutupnya."

Umar RA sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar berita itu. Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu Bakar Ash Shiddiq RA yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah Rasulullah SAW Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar RA menjawab: "Aku sedang sibuk. Rasulullah belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?"

Umar RA terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar RA ia berkata: "Tidak boleh tidak, engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a tidak dapat mengelak dan menuruti ajakan Umar RA

Abu Bakar RA & Umar RA ke Saqifah

Sambil berjalan Umar Ibnul Khattab RA menceritakan semua yang didengar tentang pertemuan yang sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar RA merasa cemas dengan terjadinya perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk bersama-sama berangkat menuju Saqifah Bani Sa'idah.

Setibanya di Saqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di tengah-tengah mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang sakit. Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar RA yang terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar RA yang sudah mengenal tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Dengarkan dulu apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar RA Umar RA diam, tak jadi bicara. Abu Bakar Ash Shiddiq RA dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara. Setelah mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata dengan tegas dan lemah lembut.

"...Allah Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang benar. Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah membukakan hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita semua, kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.

Barulah kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita.

"Kami orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasulullah SAW Kami adalah orang-orang Arab dari keturunan yang tidak berat sebelah.

"Kalian (kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam agama dan selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang paling kami cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima takdir Allah, dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian kaum Muhajirin. Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati terhadap mereka. Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka dalam keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam tidak sampai mengalami kerusakan."

Demikian Abu Bakar RA menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12. Orang-orang Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri hati terhadap kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang yang lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi dengan syarat, apa bila ia sudah tiada lagi karena meninggal dunia atau lainnya tiba giliran kami untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila ia sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin dari kaum Muhajirin. Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada.

"Itu merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai menyeleweng sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan menjaga diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang Anshar."

Mendengar pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar RA tampil lagi berbicara: "Pada waktu Rasulullah SAW datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak meninggalkan agama nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah mentakdirkan kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan beriman kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasulullah dan bersama beliau dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya sendiri.

"Mereka tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah manusia-manusia pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah. Merekapun orang-orang pertama yang beriman kepada Rasulullah. Mereka adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan sepeninggal beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang dzalim."

"Sesudah kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk Islam selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi pemimpin-pemimpin dan kalian menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan mengistimewakan orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa kalian."

Mendengar penjelasan Abu Bakar RA tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir bersitegang-leher. Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa yang ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah orang-orang yang berada di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia menjalankan sesuatu, selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan membela Rasulullah SAW Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan Iman.

Demi Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah kalian dan di negeri kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di masjid-masjid kalian. Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang kalian. Oleh karena itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah dari kita seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!"

Sekarang tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab RA berbicara. Dengan nada keras tertahan-tahan ia berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin berada dalam satu sarung! Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka bukan berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan diserahkan kepada golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka.

"Itulah alasan kami," kata Umar RA selanjutnya, "yang sangat jelas bagi orang-orang yang tidak sependapat dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang menentang pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai kepemimpinan Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah bahwa kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah orang-orang yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka sajalah orang-orang yang celaka!"

Hubab bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar, jangan kalian dengarkan perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika mereka tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari negeri kalian, dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah orang-orang yang paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan persoalan ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku sering berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup pengalaman dan pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah, jika masih ada orang yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan pedang ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya.


Abu Bakar RA di Bai'at


Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah Bani Sa'idah itu sebagai berikut: "Pada waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat mengangkat Sa'ad bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang dari qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah.

Berkatalah Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini memeluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak berteletele, dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi.

Muhammad Rasulullah SAW adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah, Allah SWT tidak memperlihatkan alasan kepadaku untuk menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Janganlah kalian menentang atau membelakangkan mereka!"

Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar RA berkata lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!"

Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar RA menyahut dengan tegas: "Demi Allah, kami berdua tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasulullah di dalam gua, dan engkau jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau sakit.

Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau kubai'at."
Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar RA segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu – yakni Umar RA dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar RA sebagai tanda membai'at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar RA dan Aba Ubaidah.

Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau memecah belah!

Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu," yakni

Sa'ad bin 'Ubadah.

Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar RA, seorang terkemuka dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut menyatakan bai'atnya kepada Abu Bakar RA Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari qabilah Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar RA dan Sa'ad bin Ubadah terbaring tak mereka hiraukan.

Sampai hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at kepada Abu Bakar RA Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab RA Umar RA berusaha hendak menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar RA bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau menyatakan bai'atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar RA: "Kalau sampai Sa'ad mati terbunuh, anggota-anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan berpangku tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang Khazraj."


Pendapat Imam Ali RA

Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq RA sebagai Khalifah untuk meneruskan kepemimpinan Rasulullah SAW atas ummat Islam, Imam Ali RA tidak ikut terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW

Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali RA pada waktu mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar RA secara mendadak sebagai Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali RA, puteri Rasulullah SAW yang selalu bersikap terus terang, sukar menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar RA sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra RA berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus kepemimpinan Rasulullah SAW hanyalah suaminya.

Pendirian Sitti Fatimah RA didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali RA adalah satusatunya kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasulullah SAW lebih berhak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali RA juga sangat dekat hubungannya dengan Rasulullah SAW, baik dilihat dari sudut hubungan kekeluargaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasulullah SAW kepadanya. Itu merupakan syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah SAW atas ummatnya.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Dengan gigih Sitti Fatimah RA memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at Abu Bakar RA guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi tuntutan Sitti Fatimah RA dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasulullah SAW, pembai'atan Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam Ali RA) datang kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang lain."

Imam Ali RA: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar RA hanya mengatakan: "Patutkah aku meninggalkan Rasulullah SAW sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…, hanya untuk mendapat kekuasaan?"

Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk antara Imam Ali RA dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar RA dan Umar RA di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah RA dan Abu Bakar RA tidak lagi pernah berlangsung secara baik.

Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali RA tidak meyakini tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu Bakar RA Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang diterimanya dari Rasulullah SAW

Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam kelestarian dan kesentosaan ummat.

Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya
perpecahan, akhirnya Imam Ali RA secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama dengan khalifah Abu Bakar RA Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali RA yang seperti itu tercermin dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain: "Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama Muhammad SAW Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"

Sejak saat itu suara Imam Ali RA berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin, terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar RA

Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah), maupun judikatif (qadha'iyyah).

Dialog Abu Bakar RA dengan Abbas RA


Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar RA sebagai Khalifah.

Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar
simpatinya kepada Bani Hasyim.

"Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib. "Pada waktu Rasulullah SAW mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil.

Padahal waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasulullah SAW Aku ragu-ragu menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasulullah SAW Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orang-orang Qureiys."

"Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu.

Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai Khalifah."

"Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al- Jarrah dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar sebagai tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.

"Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar oleh Abu Bakar dan Umar."
"Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu Bakar berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad SAW sebagai Nabi kepada kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul.

Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya."

"Rasulullah SAW meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa yang akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Pilihan mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak ada taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal, kepada-Nya jualah aku akan kembali."

"Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya. Orang itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak mereka."

"Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami tahu bahwa anda adalah paman Rasulullah SAW Demikian juga semua kaum muslimin mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasulullah SAW Oleh karena itu mereka pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orang-orang Bani Hasyim, sebab Rasulullah dari kami dan dari kalian juga."

Menurut Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnu Khattab menukas perkataan Abu Bakar RA. dengan cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar RA berkata kepada Abbas: "Kami dating bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersama-sama kaum muslimin."

Menanggapi ucapan Abu Bakar RA. serta Umar RA. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu itu Abbas menjawab: "…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad SAW sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya. Rasulullah SAW telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa nafsu.

"Jika atas nama Rasulullah SAW anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian, sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum muslimin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka."

"Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya persoalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya."

"Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda katakana kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri.

Namun jika hal itu menjadi hak kami, kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan penjelasan."

"Adapun ucapan anda yang mengatakan 'Rasulullah dari kami dan dari kalian juga', maka beliau sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian adalah tetangga-tetangganya."

"Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak kalian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan."


Kekhalifahan Abu Bakar RA.


Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq RA. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang singkat itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan perkembangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja kehilangan pemimpin agungnya.

Dekat menjelang wafatnya, Rasulullah SAW merencanakan sebuah pasukan ekspedisi untuk melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasulullah wafat.

Setelah Abu Bakar RA. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasulullah dilanjutkan.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan
pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih ingusan. Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula merebut kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke tangan orang-orang Persia.

Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar RA. berpegang teguh pada amanat Rasulullah SAW Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya kebijaksanaan Rasulullah SAW, Imam Ali RA. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya Usamah bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara.

Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.

Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula keselamatan ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi". Muncul pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta berbalik haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasulullah masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau wafat, mereka memperlihatkan belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.

Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai peluang untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.

Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang mereka ini Khalifah Abu Bakar RA. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.

Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap takut kepada Allah…"

Berkat kepemimpinan Abu Bakar RA., serta berkat bantuan para sahabat Rasulullah SAW, seperti Umar Ibnul Khattab RA., Imam Ali RA., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar RA. yang demokratis,dan kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti Imam Ali RA., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad SAW

Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar RA. berhasil mengkonsolidasi persatuan ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.

Abu Bakar Ash Shiddiq RA. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar. Sungguhpun demikian, jika sudah menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu. Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba.

Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya Abu Bakar RA. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh, tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar RA. wafat pada usia 63 tahun.

Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar