HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

12 Des 2011

Yuk Kenal Al Quran dan Keistimewaannya

Simak 14 Keistimewaan Al Quran dan Kenali Al Quran dari ayat-ayat didalamnya


Al-Qur’an adalah Rahmat Allah yang diberikan kepada Umat manusia melalui perantaraan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW. Al Quran adalah petunjuk, pedoman hidup,sumber ilmu dan inspirasi. Al Quran bagai sumber air yang tidak pernah kering bagi pencari kebenaran dan dari petunjuk dan pedoman hidup didalamnya akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Al Quran merupakan rujukan para ahli bahasa, sumber kajian para ahli fuqaha, sumber argumentasi para ahli hukum, sumber kajian para sosiolog,ekonomom dan politisi, menginspirasi penyair dan pujangga, bahkan Al Quran tak tertandingi terhadap ilmu saints dan biologi yang di sinyalir menempati ilmu kastatertinggi.

Keistimewaan Al QURAN

  1. Al-Qur’an merupakan kitab yang syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan lain-lain.
  2. Al-Qur’an diturunkan dengan Bahasa Arab yang fasih, mudah diingat, dihafal serta dipahami, sehingga sejak masa turunnya sampai sekarang tidak ada yang dapat menandingi ketinggian dan keindahannya bahasanya. Dan hanya Al Quran yang mampu di hafal oleh jutaan manusia dimulai sejak turunnya Al Quran hingga hari ini.
  3. Dari segi sejarah, tidak ada kitab suci yang tidak pernah berubah satu huruf pun dalam waktu ratusan tahun. Tiada pertentangan tentang keaslian Al-Qur’an.
  4. Keseimbangan Padanan Kata dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi 77.439 kata, 323.015 huruf yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya. Misalnya kata “Hayat”, yang artinya “hidup” terulang sebanyak 145 kali, sama dengan berulangnya kata “maut” yang artinya “mati”. Kata “akhirat” terulang sama dengan kata “dunia” sebanyak 115 kali. Kata “malaikat” terulang 88 kali, sama dengan terulangnya kata “setan”. Demikian pula kata “yaum” yang artinya “tahun” terulang sebanyak 365 kali, yaitu jumlah hari dalam setahun. Kata “yahr” yang artinya bulan, di ulang sebanyak 12 kali, yakni sama dengan jumlah bulan dalam setahun.
  5. Menembus Seluruh Waktu, Tempat dan Sasaran. Dari segi Waktu, Al-Quran berbicara tentang masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Kisah umat dan nabi jaman dahulu baik itu kesuksesan dan kegagalannya menjadi pelajaran untuk umat sekarang dan masa yang akan datang.
    Lihatlah contoh kisah Fir’aun yang menyombongkan diri lalu mati mengenaskan di laut merah, sedangkan tubuhnya diselamatkan Allah sebagai pelajaran bagi umat sesudahnya. Simaklah ayat berikut:

    Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS Yunus, 10:92).
  6. 6. Dari segi ilmu pengetahuan, Simak beberapa ayat yang menerangkan proses terjadinya manusia sejak dalam kandungan hingga menjadi terlahir dengan sempurna berikut ini:

    وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤)

    12. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

    13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

    14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
  7. Dari segi ruang, Al-Quran berbicara mengenai semua wilayah di daratan, lautan maupun angkasa raya. Yang mendorong para ahli untuk mengeksplorasinnya.
  8. Al-Quran merupakan satu-satunya kitab suci yang paling banyak dibaca orang dalam sejarah kehidupan manusia dari berbagai masa dan bangsa. Dikumandangkan setiap waktu oleh milyaran orang diseluruh dunia dengan bacaan yang teratur dan tertib.
  9. Dari segi materi, Al-Quran berbicara tentang segala segi kehidupan manusia. Seluruh aspek hidup disentuh Al-Qur’an, dan manusia diberi pengarahan dan bimbingan tentang prinsip-prinsip dasar yang dapat dijadikan pijakan utama.
  10. Al-Quran merupakan kitab yang tersusun rapi dan terinci ( 11: 1). Al-Qur’an terjaga dari pertentangan/kontrakdiksi (apa yang ada di dalamnya) sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya". [an-Nisa’: 82]
  11. 11. Al-Qur’an mendatangkan ketenangan dan rahmat bagi siapa saja yang membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majlis kecuali turun pada mereka ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh malaikat dan Allah akan menyebutkan mereka di hadapan para malaikatnya". [HR. Muslim].
  12. Al-Qur’an sebagai penawar (obat) hati dari penyakit syirik, nifak dan yang lainnya. Di dalam al-Qur’an ada sebagian ayat-ayat dan surat-surat (yang berfungsi) untuk mengobati badan seperti surat al-Fatihah, an-Naas dan al-Falaq serta yang lainnya tersebut di dalam sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
    يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
    "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". [Yunus :57] Begitu pula dalam firmanNya:
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
    "Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (ِAl-Israa’:82)
  13. Al-Qur’an membangkitkan ummat, memperbaharui masyarakat, dan menyusun generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah, ia menampilkan orang Arab dari kehidupan sebagai penggembala unta dan kambing menjadi pemimpin bangsa-bangsa, yang dapat menguasai dunia bahkan sampai kepada negeri-negeri yang begitu jauh mengenalnya.
  14. Pemikiran modern dalam berbagai bidang disiplin ilmu dewasa ini telah menetapkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab ilmiah yang menghimpun segala disiplin ilmu dan filsafat. Ilmu itu datang dari Allah SWT, sebagai tanda kemuliaanNya dan ketinggian ilmu-Nya.

Yuk Kita Kaji Al Qur'an menurut Al Qur'an

Lihat Daftar Isi disini

Mengenal Al-Quran

A. Pengertian Al-Quran

B. Keberadaan Kitab-Kitab Sebelum Datangnya Al-Quran

1. Telah Ditahrif Dari Tempat-Tempatnya.

2. Ajaran-Ajarannya Disembunyikan.

3. Ditalbis Dengan Kebatilan.

C. Tiga Elemen Pokok Al-Quran Dan Fungsi-Fungsinya

1. Hudan Linnas

a. Hal-hal pokok yang berhubungan huda linnas

b. Fungsi Hudan

2. Bayyinat Minal Huda

a. Hal-hal Pokok yang Berhubungan Bayyinat

b. Fungsi bayyinat.

3. Al-Furqon.

a. Hal-hal pokok yang berhubungan Furqon

b. Fungsi Furqon

D. Pengikut Al-Quran Dan Akibat-Akibatnya

1. Pengikut Al Quran

2. Akibat Menerima Al Quran

E. Penentang Al-Quran Dan Akibat-Akibatnya

1. Penentang AlQuran

2. Akibat bagi penentang Al Quran

F. Manusia Dan Al-Quran

1. Manusia diciptakan oleh yang Maha Pencipta dan Yang Maha tahu

2. Pertanggung jawaban manusia atas Al Quran

G. Kesimpulan

Bi Ismi Allah al-Rahman al-Rahim
Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesjaheteraan bagi Muslimin Muslimat.
A. Pengertian Al-Quran
Al-Quran berasal dari kata : قَرأ - يقرأ - قرأنا - قراءة  berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara yang diturunkan oleh Allah lewat perantaan Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab, terdiri 30 juz, agar ia menjadi peringatan untuk seluruh manusia.
Sebagaimana firman Allah di bawah ini: 
   فَلا أُقسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجومِ٧٥ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَو تَعلَمونَ عَظيمٌ ٧٦  
      إِنَّهُ لَقُرءانٌ كَريمٌ٧٧ فى كِتٰبٍ مَكنونٍ٧٨
    لا يَمَسُّهُ إِلَّا المُطَهَّرونَ ٧٩ تَنزيلٌ مِن رَبِّ العٰلَمينَ ٨٠
“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang amat mulia, pada kitab yang terpelihara tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam”. (56:75-80).
وَكَذٰلِكَ أَوحَينا إِلَيكَ قُرءانًا عَرَبِيًّا لِتُنذِرَ أُمَّ القُرىٰ وَمَن حَولَها ........ ٧
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Umul Qura dan penduduk-penduduk negeri sekelilingnya ... ”. (42:7).
Adapun secara syar’i, Al-Quran adalah hudallinnas, bayyinat minal huda dan furqon. Sebagaimana firman Allah di bawah ini:
 الَّذى أُنزِلَ فيهِ القُرءانُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ ۚ...... ١٨٥ ......
“...Dia menurunkan Al-Quran di dalam bulan Romadhan, sebagai petunjuk bagi manusia, penerangan dan furqon ...”. (2:185).
Yang dimaksud huda adalah gambaran huruf dan lafadz yang jelas dan tegas yang termaktub di dalam Al-Quran 30 juz, dan bayyinat adalah gambaran huruf alam yang kongrit, yaitu ayat-ayat kauniyah, sedangkan furqon adalah yang memisahkan dua hal yang berbeda sebagai kesimpulan dari makna-makna huda dan bayyinat.
B. Keberadaan Kitab-Kitab Sebelum Datangnya Al-Quran
Sebagaimana kita lihat dalam materi Mengenal Manusia, bahwa Allah SWT telah memberikan potensi huda kepada manusia, yaitu berupa wahyu, untuk membimbing manusia ke jalan-Nya yang lurus. Sebelum Al-Quran, wahyu/kitab-kitab yang Allah turunkan dan kita ketahui namanya, yaitu: Taurat, diturunkan kepada Nabi Musa as.; Zabur, diturunkan kepada Nabi Daud as; dan Injil diturunkan kepada Nabi Isa as. serta Shuhuf Ibrahim dan Musa.
Seorang mu’min wajib mengimani kitab-kitab tersebut. Ia adalah merupakan tuntunan dari Allah SWT untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus dan diridhai-Nya, maka apabila manusia sudi mengikutinya ia akan terbimbing ke jalan yang lurus, sedangkan bila menolaknya ia akan tersesat dari jalan-Nya.
Allah SWT berfirman: 
يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا ءامِنوا بِاللَّهِ وَرَسولِهِ وَالكِتٰبِ الَّذى نَزَّلَ عَلىٰ رَسولِهِ وَالكِتٰبِ الَّذى أَنزَلَ مِن قَبلُ ۚ وَمَن يَكفُر بِاللَّهِ وَمَلٰئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَومِ الءاخِرِ فَقَد ضَلَّ ضَلٰلًا بَعيدًا١٣٦
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatnya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. (4:136).
Namun realisasinya, ajaran-ajaran Al-Kitab itu tidak diamalkan dan hukum-hukumnya tidak ditegakkan di dalam masyarakat, hal ini disebabkan karena nilai-nilai kitab tersebut telah dirusak dan dikaburkan oleh pendeta dan rahib serta "ulama" mereka, sehingga masyarakat tidak mengenal ajaran /nilai-nilai kitabnya secara benar. Akibatnya, secara pasti, mereka keluar dari rel yang digariskan oleh Allah SWT.
Keberadaan Kitab-Kitab Suci Ketika Al-Quran Diturunkan Adalah Sebagai Berikut:
1. Telah Ditahrif Dari Tempat-Tempatnya. 
Sebagaimana Firman Allah SWT di bawah ini:
أَلَم تَرَ إِلَى الَّذينَ أوتوا نَصيبًا مِنَ الكِتٰبِ يَشتَرونَ الضَّلٰلَةَ وَيُريدونَ أَن تَضِلُّوا السَّبيلَ٤٤
وَاللَّهُ أَعلَمُ بِأَعدائِكُم ۚ وَكَفىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفىٰ بِاللَّهِ نَصيرًا ٤٥
مِنَ الَّذينَ هادوا يُحَرِّفونَ الكَلِمَ عَن مَواضِعِهِ وَيَقولونَ سَمِعنا وَعَصَينا وَاسمَع غَيرَ مُسمَعٍ وَرٰعِنا لَيًّا بِأَلسِنَتِهِم وَطَعنًا فِى الدّينِ ۚ وَلَو أَنَّهُم قالوا سَمِعنا وَأَطَعنا وَاسمَع وَانظُرنا لَكانَ خَيرًا لَهُم وَأَقوَمَ وَلٰكِن لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفرِهِم فَلا يُؤمِنونَ إِلّا قَليلًا ٤٦
“Apakah kamu tidak memperhatikan kepada orang-orang yang telah diberi bahagian Al-Kitab (Taurat?) Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk dan mereka bermaksud agar kamu tersesat dari jalan yang benar. Dan Allah lebih mengetahui daripada kamu tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung bagimu. Dan cukuplah Allah menjadi penolong bagimu. Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak menurutinya. ...”. (4:44-46).
Makna kalimat “yuharrifu kalamallahi ’an mawadhi’ihi” (merubah perkataan dari tempat-tempatnya) adalah menta’wilkannya dengan kebatilan, atau menyelewengkan maksud ayat dari konteknya.
2. Ajaran-Ajarannya Disembunyikan. 
Sebagaimana firman Allah di bawah ini:
الَّذينَ ءاتَينٰهُمُ الكِتٰبَ يَعرِفونَهُ كَما يَعرِفونَ أَبناءَهُم ۖ وَإِنَّ فَريقًا مِنهُم لَيَكتُمونَ الحَقَّ وَهُم يَعلَمونَ ١٤٦ 
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab mengetahui Muhammad seperti mereka mengetahui anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (2:146).
Dalam dalam ayat di atas, mereka (pendeta dan rahib) faham benar tentang akan datangnya seorang nabi (yaitu Nabi Muhammad saw) yang tertera dalam kitab sucinya, namun kebenaran itu mereka sembunyikan, sehingga masyarakat tidak memahami kebenaran itu.
3. Ditalbis Dengan Kebatilan. 
Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini: 
يٰأَهلَ الكِتٰبِ لِمَ تَكفُرونَ بِـٔايٰتِ اللَّهِ وَأَنتُم تَشهَدونَ ٧٠
يٰأَهلَ الكِتٰبِ لِمَ تَلبِسونَ الحَقَّ بِالبٰطِلِ وَتَكتُمونَ الحَقَّ وَأَنتُم تَعلَمونَ٧١
“Wahai ahli kitab, kenapa kamu kafir kepada ayat-ayat Allah, padahal kamu menyaksikan. Wahai ahli kitab, kenapa kamu campur adukkan antara hak dan batil dan engkau sembunyikan yang hak, padahal kamu mengetahui?”. (3:70-71).
Karena Keberadaan Al-Kitab yang beredar dimasarakat tidak bisa dipertanggung jawabkan keberanan dan kemurniannya akibat perbuatan pendeta dan rahib itu, maka Allah menurunkan Al Quran untuk membenarkan dan meluruskan kembali ajaran-ajaran yang telah diselewengkan. 
Sebagaimana firman Allah:
وَأَنزَلنا إِلَيكَ الكِتٰبَ بِالحَقِّ مُصَدِّقًا لِما بَينَ يَدَيهِ مِنَ الكِتٰبِ وَمُهَيمِنًا عَلَيهِ ۖ....... ٤٨
“... Dan Kami telah turunkan al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan batu uji bagi kitab-kitab yang lain itu...”. (5:48).
C. Tiga Elemen Pokok Al-Quran Dan Fungsi-Fungsinya
Al-Quran memiliki elemen pokok, yaitu huda linnas, bayyinat minal huda dan furqon. Ketiga elemen ini memiliki fungsi-fungsi yang lebih spisifik dalam penerapannya. Oleh karena itu, kita harus memahami dengan benar ketiga elememen itu dan fungsi-fungsinya, sehingga kita dapat mengambil manfaat dari Al-Quran sebesar-besarnya.
Tentang ketiga elemen itu, Allah berfirman:
شَهرُ رَمَضانَ الَّذى أُنزِلَ فيهِ القُرءانُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ ۚ .... ١٨٥
“Dia menurunkan AlQuran di dalam bulan Romadhan, sebagai petunjuk bagi manusia, penerangan dan furqon." (2:185).
1. Hudan Linnas
Makna Hudan Linnas adalah petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, Al-Quran sebagai huda linnas menjelaskan tentang konsep dan tata cara hidup yang lurus. Al-Quran menjelaskan dengan gamblang tentang konsep hidup, baik konsep hidupnya orang-orang yang telah diberi nikmat yang harus diikuti, dan konsep hidupnya orang-orang yang dimurkai Allah serta konsep hidupnya orang-orang yang sesat yang harus dijauhi. Sehingga dengan penjelasan ini manusia dapat menempuh jalan hidup yang benar-benar diridhai oleh Allah Swt, yaitu Sirotol Mustaqim.
إِنَّ هٰذَا القُرءانَ يَهدى لِلَّتى هِىَ أَقوَمُ وَيُبَشِّرُ المُؤمِنينَ الَّذينَ يَعمَلونَ الصّٰلِحٰتِ أَنَّ لَهُم أَجرًا كَبيرًا ٩ 
“Sesungguhnya Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shaleh bagi mereka ada pahala yang besar”.(17:9).
a. Hal-hal pokok yang berhubungan huda linnas 
Hal-hal pokok yang dikaitkan dengan huda lillas adalah: Shirotol Mustaqim, Iqomatul kitab, Muhtadi dan Mudlilu, dan Pertanggung jawaban.
Untuk itu marilah kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini: 
اهدِنَا الصِّرٰطَ المُستَقيمَ ٦
صِرٰطَ الَّذينَ أَنعَمتَ عَلَيهِم غَيرِ المَغضوبِ عَلَيهِم وَلَا الضّالّينَ٧
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepadanya, bukannya jalan orang2 yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang sesat”. (1:6-7).
قُل يٰأَهلَ الكِتٰبِ لَستُم عَلىٰ شَيءٍ حَتّىٰ تُقيمُوا التَّورىٰةَ وَالإِنجيلَ وَما أُنزِلَ إِلَيكُم مِن رَبِّكُم ۗ وَلَيَزيدَنَّ كَثيرًا مِنهُم ما أُنزِلَ إِلَيكَ مِن رَبِّكَ طُغيٰنًا وَكُفرًا ۖ فَلا تَأسَ عَلَى القَومِ الكٰفِرينَ٦٨
“Katakanlah:”Hai Ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sehingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” Sesungguhnya apa yang diturunkan dari Tuhanmu dari Tuhanmu itu." (5:68). 
أَلَيسَ اللَّهُ بِكافٍ عَبدَهُ ۖ وَيُخَوِّفونَكَ بِالَّذينَ مِن دونِهِ ۚ وَمَن يُضلِلِ اللَّهُ فَما لَهُ مِن هادٍ ٣٦
وَمَن يَهدِ اللَّهُ فَما لَهُ مِن مُضِلٍّ ۗ أَلَيسَ اللَّهُ بِعَزيزٍ ذِى انتِقامٍ ٣٧ 
“Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan sesembahan-sesembahan selain Allah? Dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai kekuasaan untuk mengazab?”. (Qs. 39:36-37).
فَاستَمسِك بِالَّذى أوحِىَ إِلَيكَ ۖ إِنَّكَ عَلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ ﴿٤٣﴾وَإِنَّهُ لَذِكرٌ لَكَ وَلِقَومِكَ ۖ وَسَوفَ تُسـَٔلونَ ﴿٤٤﴾“Maka perpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dimintai pertanggung jawaban”. (Qs. 43:43-44).
Huda dikaitkan dengan shiroth al-Mustaqim, yaitu sistem hidup yang lurus kebalikan dari mahgdhub dan dhallin, ini menegaskan perbedaan sistem dan pola hidup yang ditempuh manusia. Orang yang beriman kepada Al-Quran pasti akan bersistem berpola hidup Qurani sedangkan orang-orang yang kafir pasti akan bersistem dan perpola hidup bertentangan dengan Quran. Oleh karena itu, dapat ditegaskan bila ada orang yang katanya beriman kepada Al-Quran, tetapi mereka tidak bersistem dan berpola hidup Qurani maka ia belum mendapat huda dari Al-Quran.
Hudan juga dikaitkan dengan iqomat al-Kitab, artinya orang yang mengimani Al-Quran pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menegakkan Al-Kitab, sehingga hukum syariahnya berlaku bagi manusia.
Hudan juga dikaitkan dengan Muhtadi dan Mudillun, ini artinya orang yang menjadikannya Al-Quran sebagai kitab sucinya pasti akan mengikuti petunjuk Al-Quran dengan mengamalkannya dalam kehidupan ini. Adapun dikaitkan dengan pertanggung jawaban, maka menunjukkan bahwa orang-orang yang mengimaninya pasti akan menjaga dengan sebenar-benar ajaran-ajaran Al-Quran, karena ia merupakan amanat Allah yang akan diminta pertanggung jawaban.
b. Fungsi Hudan
Adapun fungsi hudan yaitu memberi tahukan bahwa dalam kehidupan ini ada dua jalan/sistem hidup, yaitu jalan/sistem hidup Islami dan jalan/sistem hidup Jahili. Jalan/sistem Islami yaitu jalan/sistem hidup yang ditempuh oleh orang mu’min dan jalan/sistem hidup yang bengkok yaitu jalan/sistem yang ditempuh ditempuh oleh orang kafir dan munafik.
Tentang adanya dua sistem hidup itu sebagaimana firman Allah di bawah ini:
وَهَدَينٰهُ النَّجدَينِ ﴿١٠﴾
“Dan Kami menunjukinya dua jalan". (90:10)
Dengan demikian, kita sebagai orang yang mengimani Al-Quran, harus memfungsikannya sebagaai huda, dengan aplikasinya menempuh sistem hidup yang lurus yaitu sirotol Mustaqim.
Sebagaiman firman Allah di bawah ini:
وَكَذٰلِكَ أَوحَينا إِلَيكَ روحًا مِن أَمرِنا ۚ ما كُنتَ تَدرى مَا الكِتٰبُ وَلَا الإيمٰنُ وَلٰكِن جَعَلنٰهُ نورًا نَهدى بِهِ مَن نَشاءُ مِن عِبادِنا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهدى إِلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ ﴿٥٢﴾
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadaku ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelummya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (AlQuran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan AlQuran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus”. (42:52).
2. Bayyinat Minal Huda
Makna bayyinat minal huda yaitu menerangkan tentang rincian huda, yaitu berupa rincian tentang realitas dan hukum-hukum praktis, untuk menyelesaikan perkara-perkara diantara manusia. 
Marilah kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
كانَ النّاسُ أُمَّةً وٰحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيّۦنَ مُبَشِّرينَ وَمُنذِرينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الكِتٰبَ بِالحَقِّ لِيَحكُمَ بَينَ النّاسِ فيمَا اختَلَفوا فيهِ ۚ وَمَا اختَلَفَ فيهِ إِلَّا الَّذينَ أوتوهُ مِن بَعدِ ما جاءَتهُمُ البَيِّنٰتُ بَغيًا بَينَهُم ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذينَ ءامَنوا لِمَا اختَلَفوا فيهِ مِنَ الحَقِّ بِإِذنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهدى مَن يَشاءُ إِلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ ﴿٢١٣﴾“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara mereka tentang perselisihan yang mereka perselisihan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan mereka yang telah didatangkan Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di atara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. (2:213).
سورَةٌ أَنزَلنٰها وَفَرَضنٰها وَأَنزَلنا فيها ءايٰتٍ بَيِّنٰتٍ لَعَلَّكُم تَذَكَّرونَ﴿١﴾
“Ini adalah suatu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya”. (24:1)
لَقَد أَرسَلنا رُسُلَنا بِالبَيِّنٰتِ وَأَنزَلنا مَعَهُمُ الكِتٰبَ وَالميزانَ لِيَقومَ النّاسُ بِالقِسطِ ۖ وَأَنزَلنَا الحَديدَ فيهِ بَأسٌ شَديدٌ وَمَنٰفِعُ لِلنّاسِ وَلِيَعلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالغَيبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِىٌّ عَزيزٌ﴿٢٥﴾“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan ...”. (57:25).
a. Hal-hal Pokok yang Berhubungan Bayyinat
Hal-hal pokok yang berhubungan dengan Bayyinal minl huda adalah: Al-Kitab dan maa ikhtalafu, Al-Hikmah, Al-dzikr, Al-ayat.
Sebagai mana kita lihat dalam ayat-ayat di bawah ini: 
وَما أَنزَلنا عَلَيكَ الكِتٰبَ إِلّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اختَلَفوا فيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحمَةً لِقَومٍ يُؤمِنونَ ﴿٦٤﴾“Dan kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab kecuali agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (16:64).
وَلَمّا جاءَ عيسىٰ بِالبَيِّنٰتِ قالَ قَد جِئتُكُم بِالحِكمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُم بَعضَ الَّذى تَختَلِفونَ فيهِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطيعونِ ﴿٦٣﴾“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan ia berkata: “Sesungguhnya aku datang keadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwallah kepada Allah dan taatlah kepadaku”. (43:63).
بِالبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلنا إِلَيكَ الذِّكرَ لِتُبَيِّنَ لِلنّاسِ ما نُزِّلَ إِلَيهِم وَلَعَلَّهُم يَتَفَكَّرونَ ﴿٤٤﴾“Dan Kami turunkan kepadamu adzkir (Al Quran) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (16:44).
وَقالَ الَّذينَ لا يَعلَمونَ لَولا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَو تَأتينا ءايَةٌ ۗ كَذٰلِكَ قالَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم مِثلَ قَولِهِم ۘ تَشٰبَهَت قُلوبُهُم ۗ قَد بَيَّنَّا الءايٰتِ لِقَومٍ يوقِنونَ﴿١١٨﴾
“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak langsung berbicara dengan Kami atau datang ayat (tanda-tanda) kekuasaan-Nya kepada kami?”. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”. (2:118).
Secara realitas kehidupan di alam ini adalah penjelasan lain dari wahyu Allah. Oleh karena itu alam merupakan bukti kebenaran Al-Quran.
b. Fungsi bayyinat.
Fungsi dari bayyinat adalah menjelaskan hukum praktis, meluruskan ajaran wahyu sebelum Al Quran, menggambarkan amtsal kehidupan dan menjelaskan segala sesuatu.
Marilah kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini.
أُحِلَّ لَكُم لَيلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلىٰ نِسائِكُم ۚ هُنَّ لِباسٌ لَكُم وَأَنتُم لِباسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُم كُنتُم تَختانونَ أَنفُسَكُم فَتابَ عَلَيكُم وَعَفا عَنكُم ۖ فَالـٰٔنَ بٰشِروهُنَّ وَابتَغوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُم ۚ وَكُلوا وَاشرَبوا حَتّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيطُ الأَبيَضُ مِنَ الخَيطِ الأَسوَدِ مِنَ الفَجرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيامَ إِلَى الَّيلِ ۚ وَلا تُبٰشِروهُنَّ وَأَنتُم عٰكِفونَ فِى المَسٰجِدِ ۗ تِلكَ حُدودُ اللَّهِ فَلا تَقرَبوها ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ ءايٰتِهِ لِلنّاسِ لَعَلَّهُم يَتَّقونَ ﴿١٨٧﴾“Dihalalkan bagi kamu pada malan hari bulan puasa bercampur dengan sitri-istri kamu; mereka dalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu banang putih dan benang hitam, yaitu fajar.Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa”. (2:187).
يَسـَٔلونَكَ عَنِ الخَمرِ وَالمَيسِرِ ۖ قُل فيهِما إِثمٌ كَبيرٌ وَمَنٰفِعُ لِلنّاسِ وَإِثمُهُما أَكبَرُ مِن نَفعِهِما ۗ وَيَسـَٔلونَكَ ماذا يُنفِقونَ قُلِ العَفوَ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الءايٰتِ لَعَلَّكُم تَتَفَكَّرونَ ﴿٢١٩﴾
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa bagi keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu tentang yang dinafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamuberfikir”. (2:219). 
بِالبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلنا إِلَيكَ الذِّكرَ لِتُبَيِّنَ لِلنّاسِ ما نُزِّلَ إِلَيهِم وَلَعَلَّهُم يَتَفَكَّرونَ ﴿٤٤﴾“Dan Kami turunkan kepadamu adzkir (Al Quran) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (16:44). 
أَيَوَدُّ أَحَدُكُم أَن تَكونَ لَهُ جَنَّةٌ مِن نَخيلٍ وَأَعنابٍ تَجرى مِن تَحتِهَا الأَنهٰرُ لَهُ فيها مِن كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَأَصابَهُ الكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفاءُ فَأَصابَها إِعصارٌ فيهِ نارٌ فَاحتَرَقَت ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الءايٰتِ لَعَلَّكُم تَتَفَكَّرونَ ﴿٢٦٦﴾“Apakah ada salah seorang di antara kamu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dia mempunyai di dalam ladangnya itu bermacam-macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada pada orang itu, sedang ia mempunyai keturunan yang lemah-lemah. Maka kebun itu diterjang angin keras yang mengandung api lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya supaya kamu memikirkan”. (2:266).
 ......وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتٰبَ تِبيٰنًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ ﴿٨٩﴾
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab, untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (16:89).
3. Al-Furqon.
Al-Furqon artinya pembeda/pemisah, yaitu yang membedakan/ memisahkan antara hak dan batil, sehingga antara hak dan batil itu tidak bercampur aduk. Al-Quran sebagai Al-Furqon, maka ia memisahkan kelompok orang-orang yang beriman dan kelompok orang-orang yang kafir, sehingga kedua kelompok itu tidak bercampur aduk. hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya.
يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجعَل لَكُم فُرقانًا وَيُكَفِّر عَنكُم سَيِّـٔاتِكُم وَيَغفِر لَكُم ۗ وَاللَّهُ ذُو الفَضلِ العَظيمِ ﴿٢٩﴾“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kami furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (8:29).
a. Hal-hal pokok yang berhubungan Furqon
Mari kita perhatikan firman Allah di bawah ini:
..... إِن كُنتُم ءامَنتُم بِاللَّهِ وَما أَنزَلنا عَلىٰ عَبدِنا يَومَ الفُرقانِ يَومَ التَقَى الجَمعانِ ۗ...﴿٤١﴾“...Dan jika kamu beriman kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari bertemunya dua jamaah”. (8:41).
استَحوَذَ عَلَيهِمُ الشَّيطٰنُ فَأَنسىٰهُم ذِكرَ اللَّهِ ۚ أُولٰئِكَ حِزبُ الشَّيطٰنِ ۚ أَلا إِنَّ حِزبَ الشَّيطٰنِ هُمُ الخٰسِرونَ ﴿١٩﴾"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itu hizbus-syaithan. Ketahuilah, bahwa hizbus-syaithan itu, itulah golongan yang rugi”. (58:19).
لا تَجِدُ قَومًا يُؤمِنونَ بِاللَّهِ وَاليَومِ الءاخِرِ يُوادّونَ مَن حادَّ اللَّهَ وَرَسولَهُ وَلَو كانوا ءاباءَهُم أَو أَبناءَهُم أَو إِخوٰنَهُم أَو عَشيرَتَهُم ۚ أُولٰئِكَ كَتَبَ فى قُلوبِهِمُ الإيمٰنَ وَأَيَّدَهُم بِروحٍ مِنهُ ۖ وَيُدخِلُهُم جَنّٰتٍ تَجرى مِن تَحتِهَا الأَنهٰرُ خٰلِدينَ فيها ۚ رَضِىَ اللَّهُ عَنهُم وَرَضوا عَنهُ ۚ أُولٰئِكَ حِزبُ اللَّهِ ۚ أَلا إِنَّ حِزبَ اللَّهِ هُمُ المُفلِحونَ ﴿٢٢﴾“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saling berkasih sayang terhadap orang-orang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun puas terhadap limpahan rahmat-Nya. Mereka itulah Hizbullah (Partai Allah). Ketahuilah bahwa Partai Allah itulah yang akan menang”. (58:22).
Sebagaimana kita lihat dalam ayat di atas, hal yang berhubungan dengan furqon yaitu, yaumal taqol jam’an (hari bertemunya dua jamaah). Hal ini menegaskan bahwa dengan Al-Quran sebagai furqon, maka manusia akan terbelahmejadi dua kelompok besar, yaitu kelompok orang-orang yang beriman dan kelompok orang-orang kafir, hizbullah dan hizbus syaithan, partai Allah dan partai syaithan. Al-Quran sebagai Al-Furqon, pasti memisahkan antara al-hak dan al-batil, sehingga tidak bercampur aduk lagi. 
b. Fungsi Furqon
Dengan Al-Quran sebagai furqon, maka akan mempertegas kelompok yang menerima Al Quran dan kelompok orang yang menentang Al-Quran. Orang-orang yang menerima Al-Quran (petunjuk Allah) mereka pasti akan keluar dari sistem jahiliyah dengan hijrah kemudian membentuk sistem sendiri, sehingga terbagilah masyarakat ke dalam dua kelompok yaitu amanat thoifah dan kafarot thoifah, Jamaah muslimin dan jamaah kafirin, negara Islam dan negara kafir (sekuler) (Qs;61;14). 
Tidak bisa bersatunya antara sistem Islam dan jahiliyah, serta keharaman orang yang berideologikan Islam bergabung/bertempat tinggal di dalam kalangan jahiliyah itu, sebagaimana diterangkan dalam ayat di bawah ini:
إِنَّ الَّذينَ تَوَفّىٰهُمُ المَلٰئِكَةُ ظالِمى أَنفُسِهِم قالوا فيمَ كُنتُم ۖ قالوا كُنّا مُستَضعَفينَ فِى الأَرضِ ۚ قالوا أَلَم تَكُن أَرضُ اللَّهِ وٰسِعَةً فَتُهاجِروا فيها ۚ فَأُولٰئِكَ مَأوىٰهُم جَهَنَّمُ ۖ وَساءَت مَصيرًا﴿٩٧﴾“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan dzalim (tidak mau berhijrah), ditanyakan kepada mereka: “Dalam keadaan bagaimana kamu itu?”. Mereka menjawab: “kami adalah orang-orang yang lemah yang tertindas muka bumi”. Malaikat berkata kepada mereka: “Bukankah bumi Allah itu luas, yang kamu dapat berhijrah kepadanya?”. Mereka itu tempatnya neraka jahannam dan jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat”. (4:97).
Ayat di atas diturunkan berkaitan dengan adanya beberapa orang mu’min yang tidak mau ikut berhijrah ke Madinah dan tetap tinggal Mekah, sehingga ketika Mekah mengerahkan pasukan untuk menyerang Madinah, orang-orang ini dipaksa ikut memerangi Madinah, kemudian mereka terbunuh semua oleh pasukan Islam. Allah menyamakan mereka dengan orang kafir dan melemparkan mereka ke dalam api neraka. 
Dalam ayat lain diterangkan, bagi orang-orang yang beriman tetapi tidak mau melepaskan diri dengan pemerintahan kafir, maka tidak ada tanggung jawab sedikitpun bagi pemimpin Islam untuk menolong mereka. Sebagaimana ayat di bawah ini:
إِنَّ الَّذينَ ءامَنوا وَهاجَروا وَجٰهَدوا بِأَموٰلِهِم وَأَنفُسِهِم فى سَبيلِ اللَّهِ وَالَّذينَ ءاوَوا وَنَصَروا أُولٰئِكَ بَعضُهُم أَولِياءُ بَعضٍ ۚ وَالَّذينَ ءامَنوا وَلَم يُهاجِروا ما لَكُم مِن وَلٰيَتِهِم مِن شَيءٍ حَتّىٰ يُهاجِروا ۚ وَإِنِ استَنصَروكُم فِى الدّينِ فَعَلَيكُمُ النَّصرُ إِلّا عَلىٰ قَومٍ بَينَكُم وَبَينَهُم ميثٰقٌ ۗ وَاللَّهُ بِما تَعمَلونَ بَصيرٌ ﴿٧٢﴾وَالَّذينَ كَفَروا بَعضُهُم أَولِياءُ بَعضٍ ۚ إِلّا تَفعَلوهُ تَكُن فِتنَةٌ فِى الأَرضِ وَفَسادٌ كَبيرٌ ﴿٧٣﴾وَالَّذينَ ءامَنوا وَهاجَروا وَجٰهَدوا فى سَبيلِ اللَّهِ وَالَّذينَ ءاوَوا وَنَصَروا أُولٰئِكَ هُمُ المُؤمِنونَ حَقًّا ۚ لَهُم مَغفِرَةٌ وَرِزقٌ كَريمٌ﴿٧٤﴾“Sesungguhya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan pertolongan kepada muhajirin, satu terhadap yang lain adalah saling pimpin memimpin. Dan kepada orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali kepada kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan antara mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang kafir satu dengan yang lainnya saling pimpin-memimpin, kalau kamu tidak berbuat yang demikian maka kamu akan ditimpa fitnah di muka bumi dan akan mendapat kerusakan yang besar. Dan orang-orang yang beriman, berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi pertolongan (kepada kaum muhajirin) mereka itulah orang-orang yang mu’min sebenarnya. bagi mereka ampunan Allah dan rizki yang mulia”. (8:72-74).
D. Pengikut Al-Quran Dan Akibat-Akibatnya
Allah berfirman:
وَاتَّبِعوا أَحسَنَ ما أُنزِلَ إِلَيكُم مِن رَبِّكُم مِن قَبلِ أَن يَأتِيَكُمُ العَذابُ بَغتَةً وَأَنتُم لا تَشعُرونَ﴿٥٥﴾“Dan ikutilah sebaik-baik kepada apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu, sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. (39:55).
Allah telah memerintahkan kepada seluruh hamba-hamba-Nya agar mengikuti ajaran-ajaran Al-Quran dan jangan sekali-kali mengikuti jalan selain Al-Quran, karena selain Al-Quran itu akan menceraiberaikan manusia dan menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Dalam menanggapi seruan Allah itu, manusia terbagi menjadi dua, ada yang memenuhi seruan itu dengan mengikuti ajaran-ajarannya dan yang menolaknya dengan mengingakri ajaran-ajarannya. 
1. Pengikut Al Quran.
Orang-orang yang mengikuti Al-Quran, menjadikannya sebagai undang hidupnya adalah: Muttaqin, Ulil Albab/Ulil Absor, dan man yakhsya.
ذٰلِكَ الكِتٰبُ لا رَيبَ ۛ فيهِ ۛ هُدًى لِلمُتَّقينَ ﴿٢﴾الَّذينَ يُؤمِنونَ بِالغَيبِ وَيُقيمونَ الصَّلوٰةَ وَمِمّا رَزَقنٰهُم يُنفِقونَ﴿٣﴾وَالَّذينَ يُؤمِنونَ بِما أُنزِلَ إِلَيكَ وَما أُنزِلَ مِن قَبلِكَ وَبِالءاخِرَةِ هُم يوقِنونَ ﴿٤﴾أُولٰئِكَ عَلىٰ هُدًى مِن رَبِّهِم ۖ وَأُولٰئِكَ هُمُ المُفلِحونَ ﴿٥﴾“Inilah al-Kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menginfaqkan sebagian rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya. dan mereka beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan kehidupan akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (2:2-5). 
فَمَن أَظلَمُ مِمَّن كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدقِ إِذ جاءَهُ ۚ أَلَيسَ فى جَهَنَّمَ مَثوًى لِلكٰفِرينَ﴿٣٢﴾وَالَّذى جاءَ بِالصِّدقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولٰئِكَ هُمُ المُتَّقونَ ﴿٣٣﴾“Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat dusta kepada Allah dan mendusatakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di neraka jahanam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (39:32;33).
وَالَّذينَ اجتَنَبُوا الطّٰغوتَ أَن يَعبُدوها وَأَنابوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ البُشرىٰ ۚ فَبَشِّر عِبادِ ﴿١٧﴾الَّذينَ يَستَمِعونَ القَولَ فَيَتَّبِعونَ أَحسَنَهُ ۚ أُولٰئِكَ الَّذينَ هَدىٰهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولٰئِكَ هُم أُولُوا الأَلبٰبِ﴿١٨﴾“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut dengan tidak menyembahnya, dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal”. (39:17-18).
 طه ﴿١﴾ما أَنزَلنا عَلَيكَ القُرءانَ لِتَشقىٰ ﴿٢ 
إِلّا تَذكِرَةً لِمَن يَخشىٰ ﴿٣تَنزيلًا مِمَّن خَلَقَ الأَرضَ وَالسَّمٰوٰتِ العُلَى ﴿٤  الرَّحمٰنُ عَلَى العَرشِ استَوىٰ ﴿٥﴾“Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Quran ini, agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu Tuhan yang Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy”. (20:1-5). 
سَنُقرِئُكَ فَلا تَنسىٰ ﴿٦﴾إِلّا ما شاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعلَمُ الجَهرَ وَما يَخفىٰ ﴿٧﴾وَنُيَسِّرُكَ لِليُسرىٰ ﴿٨﴾فَذَكِّر إِن نَفَعَتِ الذِّكرىٰ ﴿٩﴾سَيَذَّكَّرُ مَن يَخشىٰ ﴿١٠﴾وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشقَى ﴿١١﴾“Kami akan membacakan kepadamu Al-Quran, maka kamu tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memberimu taufiq kepada jalan yang mudah, oleh karena itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang-orang yang takut kepada Allah akan mengambil pelajaran, orang-orang yang kafir akan menjauhinya”. (87:6-11). 
2. Akibat Menerima Al Quran
Bagi orang-orang yang menerimaal-Quran sebagai tuntunan dan undang-undang hidupnya, maka Allah memberikan balasan kepada mereka, berupa ketenangan hidup (tidak ada rasa takut dan khawatir serta tidak bersedih hati ) dan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sebagaimana Firman Allah di bawah ini:
قُلنَا اهبِطوا مِنها جَميعًا ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُداىَ فَلا خَوفٌ عَلَيهِم وَلا هُم يَحزَنونَ ﴿٣٨﴾
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudia jika datang petunjuk kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekkawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati”. (2:38).
قالَ اهبِطا مِنها جَميعًا ۖ بَعضُكُم لِبَعضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّى هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُداىَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشقىٰ ﴿١٢٣﴾“Maka jika datang kepadamu petunjuk-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (20:123).
E. Penentang Al-Quran Dan Akibat-Akibatnya
1. Penentang AlQuran 
Orang yang menentang Al-Quran dan tidak mau menjadikannya sebagai tuntunan dan undang-undang hidupnya, mereka adalah orang-orang yang sombong dan menutup hatinya, orang yang dengki yang lebih mencintai dunia daripada akhirat.
Sebagaimana Firman Allah SWT di bawah ini:
وَلَقَد ءاتَينا موسَى الكِتٰبَ وَقَفَّينا مِن بَعدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَءاتَينا عيسَى ابنَ مَريَمَ البَيِّنٰتِ وَأَيَّدنٰهُ بِروحِ القُدُسِ ۗ أَفَكُلَّما جاءَكُم رَسولٌ بِما لا تَهوىٰ أَنفُسُكُمُ استَكبَرتُم فَفَريقًا كَذَّبتُم وَفَريقًا تَقتُلونَ ﴿٨٧﴾وَقالوا قُلوبُنا غُلفٌ ۚ بَل لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفرِهِم فَقَليلًا ما يُؤمِنونَ﴿٨٨﴾وَلَمّا جاءَهُم كِتٰبٌ مِن عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِما مَعَهُم وَكانوا مِن قَبلُ يَستَفتِحونَ عَلَى الَّذينَ كَفَروا فَلَمّا جاءَهُم ما عَرَفوا كَفَروا بِهِ ۚ فَلَعنَةُ اللَّهِ عَلَى الكٰفِرينَ ﴿٨٩﴾“Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’mizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu pelajaran yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang kamu dustakan dan beberapa orang kamu bunuh? Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allahlah atas orang-orang yang ingkar itu”. (2:87-89).
وَقالوا قُلوبُنا فى أَكِنَّةٍ مِمّا تَدعونا إِلَيهِ وَفى ءاذانِنا وَقرٌ وَمِن بَينِنا وَبَينِكَ حِجابٌ فَاعمَل إِنَّنا عٰمِلونَ ﴿٥﴾“Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan, apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kami; sesungguhnya kami bekerja pula" (41:5).
.....كَبُرَ عَلَى المُشرِكينَ ما تَدعوهُم إِلَيهِ ۚ اللَّهُ يَجتَبى إِلَيهِ مَن يَشاءُ وَيَهدى إِلَيهِ مَن يُنيبُ﴿١٣﴾وَما تَفَرَّقوا إِلّا مِن بَعدِ ما جاءَهُمُ العِلمُ بَغيًا بَينَهُم ۚ وَلَولا كَلِمَةٌ سَبَقَت مِن رَبِّكَ إِلىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِىَ بَينَهُم ۚ وَإِنَّ الَّذينَ أورِثُوا الكِتٰبَ مِن بَعدِهِم لَفى شَكٍّ مِنهُ مُريبٍ ﴿١٤﴾
“Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru meereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada agama-Nya orang-orang yang kembali. Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian sesama mereka. Kalau tidak kerena ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai pada waktu yang ditentukan, pastilah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan AlKitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu”. (42:13-14).
إِنَّ الَّذينَ لا يُؤمِنونَ بِـٔايٰتِ اللَّهِ لا يَهديهِمُ اللَّهُ وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ﴿١٠٤﴾إِنَّما يَفتَرِى الكَذِبَ الَّذينَ لا يُؤمِنونَ بِـٔايٰتِ اللَّهِ ۖ وَأُولٰئِكَ هُمُ الكٰذِبونَ﴿١٠٥﴾مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعدِ إيمٰنِهِ إِلّا مَن أُكرِهَ وَقَلبُهُ مُطمَئِنٌّ بِالإيمٰنِ وَلٰكِن مَن شَرَحَ بِالكُفرِ صَدرًا فَعَلَيهِم غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُم عَذابٌ عَظيمٌ ﴿١٠٦﴾ذٰلِكَ بِأَنَّهُمُ استَحَبُّوا الحَيوٰةَ الدُّنيا عَلَى الءاخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهدِى القَومَ الكٰفِرينَ ﴿١٠٧﴾“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (AlQuran) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. Sesungguhnya yang mengadakan-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. Barang siapa kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan), kecuali orang orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman; akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan kerana sesungguhnya mereka merncintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”. (16:104-107). 
2. Akibat bagi penentang Al Quran.
Balasan bagi orang-orang yang menentang al-Quran, yang tidak mau menjadikannya sebagai tuntunan dan undang-undang hidupnya, yaitu: Allah menutup hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka merugi. Allah memalingkan hati mereka dari kebenaran, Allah menambah penyakit hati mereka dan membiarkan terombang ambing dalam kesesatan.
Marilah kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini: 
إِنَّ الَّذينَ كَفَروا سَواءٌ عَلَيهِم ءَأَنذَرتَهُم أَم لَم تُنذِرهُم لا يُؤمِنونَ﴿٦﴾خَتَمَ اللَّهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَعَلىٰ سَمعِهِم ۖ وَعَلىٰ أَبصٰرِهِم غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُم عَذابٌ عَظيمٌ ﴿٧﴾“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka di tutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. (2:6-7).
أُولٰئِكَ الَّذينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلىٰ قُلوبِهِم وَسَمعِهِم وَأَبصٰرِهِم ۖ وَأُولٰئِكَ هُمُ الغٰفِلونَ ﴿١٠٨﴾لا جَرَمَ أَنَّهُم فِى الءاخِرَةِ هُمُ الخٰسِرونَ ﴿١٠٩﴾“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi”. (16:108-109).
وَإِذ قالَ موسىٰ لِقَومِهِ يٰقَومِ لِمَ تُؤذونَنى وَقَد تَعلَمونَ أَنّى رَسولُ اللَّهِ إِلَيكُم ۖ فَلَمّا زاغوا أَزاغَ اللَّهُ قُلوبَهُم ۚ وَاللَّهُ لا يَهدِى القَومَ الفٰسِقينَ﴿٥﴾“... Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (61:5).
وَمِنَ النّاسِ مَن يَقولُ ءامَنّا بِاللَّهِ وَبِاليَومِ الءاخِرِ وَما هُم بِمُؤمِنينَ﴿٨﴾يُخٰدِعونَ اللَّهَ وَالَّذينَ ءامَنوا وَما يَخدَعونَ إِلّا أَنفُسَهُم وَما يَشعُرونَ﴿٩﴾فى قُلوبِهِم مَرَضٌ فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ بِما كانوا يَكذِبونَ ﴿١٠﴾وَإِذا قيلَ لَهُم لا تُفسِدوا فِى الأَرضِ قالوا إِنَّما نَحنُ مُصلِحونَ﴿١١﴾أَلا إِنَّهُم هُمُ المُفسِدونَ وَلٰكِن لا يَشعُرونَ ﴿١٢﴾وَإِذا قيلَ لَهُم ءامِنوا كَما ءامَنَ النّاسُ قالوا أَنُؤمِنُ كَما ءامَنَ السُّفَهاءُ ۗ أَلا إِنَّهُم هُمُ السُّفَهاءُ وَلٰكِن لا يَعلَمونَ ﴿١٣﴾وَإِذا لَقُوا الَّذينَ ءامَنوا قالوا ءامَنّا وَإِذا خَلَوا إِلىٰ شَيٰطينِهِم قالوا إِنّا مَعَكُم إِنَّما نَحنُ مُستَهزِءونَ ﴿١٤﴾اللَّهُ يَستَهزِئُ بِهِم وَيَمُدُّهُم فى طُغيٰنِهِم يَعمَهونَ ﴿١٥﴾“Di antara manusia ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman; padahal mereka hanya menipu diri mereka sendisedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu di tambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang membuat perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang yang telah beriman: “Mereka menjawab: “Akan berimankan kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak sadar. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Allah akan membalas olok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka”. (2:8-15).
F. Manusia Dan Al-Quran
Al Quran merupakan fitrah Allah yang diciptakan selaras dengan fitrah manusia, sehingga apabila manusia ber-Quran, ia akan dapat mempertahakan eksistensi dirinya sebagai ahsana taqwim. Sedangkan bila tidak berQuran, maka ia telah keluar dari fitrahnya dan jatuh ke lembah asfala safilin.
Allah berfirman:
فَأَقِم وَجهَكَ لِلدّينِ حَنيفًا ۚ فِطرَتَ اللَّهِ الَّتى فَطَرَ النّاسَ عَلَيها ۚ لا تَبديلَ لِخَلقِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ الدّينُ القَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكثَرَ النّاسِ لا يَعلَمونَ ﴿٣٠﴾“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang lurus; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (30:30).
1. Manusia diciptakan oleh yang Maha Pencipta dan Yang Maha tahu
Allah adalah Rabb yang Maha ‘Alim dan Maha Khalik. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
هُوَ اللَّهُ الَّذى لا إِلٰهَ إِلّا هُوَ ۖ عٰلِمُ الغَيبِ وَالشَّهٰدَةِ ۖ هُوَ الرَّحمٰنُ الرَّحيمُ﴿٢٢﴾هُوَ اللَّهُ الَّذى لا إِلٰهَ إِلّا هُوَ المَلِكُ القُدّوسُ السَّلٰمُ المُؤمِنُ المُهَيمِنُ العَزيزُ الجَبّارُ المُتَكَبِّرُ ۚ سُبحٰنَ اللَّهِ عَمّا يُشرِكونَ ﴿٢٣﴾هُوَ اللَّهُ الخٰلِقُ البارِئُ المُصَوِّرُ ۖ لَهُ الأَسماءُ الحُسنىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ما فِى السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ ۖ وَهُوَ العَزيزُ الحَكيمُ ﴿٢٤﴾“Dia-lah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang mengetahui alam ghaib dan alam nyata, dan Dia adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah yang Maha Menciptakan, Yang mengadakan,Yang Membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (59:22-24). 
Al-Quran adalah ilmu Allah, merupakan wujud dari ke Maha ‘Aliman Allah. Sedangkan manusia dan alam raya (bumi) adalah ciptaan Allah, merupakan wujud dari ke Maha Khaliqan Allah. Manusia, bumi dan Al-Quran berasal dari satu sumber, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, antara manusia, bumi dan al-Quran tidak bisa dipisahkan untuk selama-lamanya. Manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang hidup di bumi Allah harus berilmu dengan ilmu Allah, yaitu Al-Quran, karena Allah telah mengajarkannya setelah Ia menciptakannya.
Di dalam Surah Ar-Rahman Allah berfirman:
الرَّحمٰنُ  ﴿١ عَلَّمَ القُرءانَ ﴿ ٢           
خَلَقَ الإِنسٰنَ ﴿ ٣﴾  عَلَّمَهُ البَيانَ ﴿ ٤  
“Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah).Yang telah mengajarkan Al-Quran, Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara”. (55:1-4). 
2. Pertanggung jawaban manusia atas Al Quran
Akhirnya kita faham bahwa, Al-Quran adalah amanat Allah yang dipikulkan kepada manusia, supaya ajarannya diamalkan dan disebar luaskan serta hukum-hukumnya ditegakkan di muka bumi, sehingga dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. 
Setiap manusia akan ditanya bagaimana ia memberlakukan AlQuran, apakah telah menegakkannya atau tidak. Untuk menghadapi pertanggung jawaban ini, hanya satu jalan yaitu, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, sehingga selamat dari tuntutan Allah SWT.
Allah berfirman:
فَاستَمسِك بِالَّذى أوحِىَ إِلَيكَ ۖ إِنَّكَ عَلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ ﴿٤٣﴾وَإِنَّهُ لَذِكرٌ لَكَ وَلِقَومِكَ ۖ وَسَوفَ تُسـَٔلونَ ﴿٤٤﴾“Maka perpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dimintai pertanggung jawaban”. (43:43-44). 
G. Kesimpulan
1. Al-Quran secara bahasa berarti bacaan, secara difinisi adalah kalamullah yang mulia dan terpelihara yang diturunkan oleh Allah lewat perantaraan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab, terdiri dari 30 juz, untuk menjadi peringatan bagi manusia.
2. Kitab sebelumnya adalah Taurat, Zabur dan Injil. Setiap muslim wajib mengimaninya. Namun keberadaan kitab-kitab tersebut telah banyak ditahrif, ditalbis dan disembunyikan oleh para ahli kitab.
3. Turunnya Al-Quran adalah untuk meluruskan yang diselewengkan, membongkar yang disembunyikan dan memurnikan yang dicampuradukkan.
4. Pokok kandungan Al-Quran terdiri dari tiga hal, yaitu: Huda, Bayyinat minal huda dan Furqon yang masing-masing memiliki sepisifikasi dan sasaran masing-masing. 
5. Orang-orang yang mengikuti Al-Quran mendapat maqom di sisi Allah sebagai Muttaqin, Ulil Albab, Ulil Absor dan man yakhsyallah. Dan balasannya adalah ketenangan dan keselamatan hidup serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang menentang Al-Quran adalah orang-orang kafir yang berhati sombong, dengki dan lebih mencintai dunia daripada akhirat. Balasan untuk orang-orang ini adalah hidupnya terombang-ambing dalam kesesatan dan di akhirat disiksa di neraka.
6. Al-Quran adalah amanat Allah SWT kepada manusia, supaya ia memikul dan mengamalkannya dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas amanat ini, apakah ia menjaganya atau tidak.
al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin.


by: Studi Komprehensif Islam http://www.facebook.com/groups/265538080123749/
Lanjutkan Membaca ...

Koridor XI >> Juni 2012 Koridor XII Transjakarta Busway Update Info

Koridor XI akan diresmikan pada 28 Desember 2011 ≡ Busway Koridor XII (Pulo Gebang - Tanjung Priok) Dibangun Mulai Juni 2012


Koridor XI Transjakarta saat ini sedang dalam proses penyelesaian, Jalur Busway ini rencananya akan mulai diresmikan pada tanggal 28 Desember 2011 oleh Gubernur DKI Fauzi Bowo. Rencananya Busway Koridor XI akan berakhir pada Halte Pulo Gebang, namun saat ini belum tampak pembangunan jalur menuju ke Halte Pulo Gebang dan saat ini Koridor XI baru sebatas dari Walikota Jakarta Timur sampai dengan Terminal Kampung Melayu. Artikel ini adalah artikel kedua tentang informasi Koridor XI, Dapatkan beberapa informasi pada artikel sebelumnya, Klik disini. Post artikel lain tentang Semua Koridor dan nama-nama halte dari setiap koridor, bisa anda dapatkan pada artikel Rute Busway DKI.

Erna Yuni, Kepala Seksi Fasilitasi Pendukung Dinas Perhubungan DKI, mengatakan pada saat peresmian tersebut sudah terpenuhi 15 halte yang terdiri dari halte layang dan halte tingkat sepanjang 11,7 meter.

"Di halte kantor Walikota Jakarta Timur, akan dibangun dua toilet. Satu untuk umum dan satu lagi untuk penyandang cacat," ujar Erna, Minggu (11/12/2011).

Halte di depan Kantor Walikota Jakarta Timur terbesar berukuran 16 x 27 meter dan halte terkecil 1,7 meter, masing-masing dengan panjang 40 meter.


Di sepanjang koridor XI, dibangun 15 halte busway yang seluruhnya terdapat fasilitas untuk penyandang tuna netra. Yaitu berupa ubin dengan gambar timbul, sehingga memudahkan para tuna netra yang masuk dan keluar dari bus menuju halte pada saat bepergian menggunakan bus Transjakarta.

“Sehingga mereka dengan mudah bisa masuk ke halte, masuk ke bus transjakarta dan keluarnya pun mudah. Di bus Transjakarta pun, sudah disediakan tempat duduk khusus bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik tersebut,” tambah Erna Yuni.

Kembali dijelaskannya, hal tersebut dilakukan dalam rangka menerapkan Perda nomor 10 tahun 2011 yang didalamnya menyebutkan setiap bangunan fasilitas publik dilengkapi sarana aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Busway Transjakarta koridor XII (Pulo Gebang - Tanjung Priok)

Perluasan jaringan moda angkutan massal terus dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Setelah koridor XI (Kp. Melayu - Pulogebang), pada 2012, pembangunan busway koridor XII (Pulgebang-Tj. Priok) siap dilakukan pada pertengahan tahun yang sama.

Menurut Kepala Seksi Fasilitas Pendukung Dishub DKI Jakarta, Erna Yuni, pembangunan koridor ini rencananya akan dimulai pada Juni 2012. Sehingga ditargetkan dapat selesai pada akhir tahun depan. Ia menjelaskan koridor ini nantinya akan memiliki panjang mencapai 20 kilometer yang dilengkapi 20 halte. meski demikian Erna mengaku belum mengetahui anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan busway di koridor ini. Dirinya juga belum mengetahui berapa banyak armada yang akan melayani koridor XII ini. Yang jelas, diungkapkan Erna, pihaknya pada tahun depan akan menambah sebanyak 202 bus gandeng yang akan melengkapi 524 armada bus Transjakarta yang sudah sebelumnya.

Penambahannya sendiri dilakukan bertahap yakni di kuartal ketiga 2012 ada 66 bus gandeng, 76 bus gandeng di bulan Desember serta ditambah 60 armada cadangan.

“Saya belum mengetahuinya. Nanti dialokasikan di APBD DKI Jakarta 2012,” ujar Erna
Lanjutkan Membaca ...

11 Des 2011

Jawaban Tuduhan Pernikahan Aisah RA

5 Bukti bahwa Aisyah RA menikah dalam usia Dewasa


Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah. Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.

Nabi merupakan manusia tauladan. Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimanapun, kebanyakan orang di Islam, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua. Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata.

Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya. Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.

Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

Bukti 1: Pengujian Terhadap Sumber

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercatat di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, di samping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak men­ceritakan hal ini.

Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal di sana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua. Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : “Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq“

(Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al- ‘asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50). Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

Kesimpulan: Berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

Bukti 2: Turunnya Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda ketika Surah Al-Qamar diturunkan” (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

Surat 54 dari Quran (Al-Qamar) diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon).

Jadi, Aisyah, telah menjadi gadis mudah bukan bayi, jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

Kesimpulan: Riwayat ini juga mengcounter riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

Bukti 3: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah adalah jariyah. Bikr di sisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.

Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist di atas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan. Oleh karena itu, Aisyah RA adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

Bukti 4. Text Qur’an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 9 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk :
  • Memberi makan mereka,
  • Memberi pakaian,
  • Mendidik mereka, dan
  • Menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Di sini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 9 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 9 tahun dalam pengelolaan keuangan, gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri.

Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Qur’an. Oleh karena itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 9 tahun adalah mitos semata.

Bukti 5: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Z.ahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992). Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]“ (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, > Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow). Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun. ketika hijrah pada tahun dimana Aisyah berumah tangga.

Kronologi : Adalah perlu untuk mencatat dan mengingat beberapa tahun penting dalam sejarah Islam:
pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medinah
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah
Berdasarkan bukti-bukti yang saya uraikan diatas dapat kita simpulkan bahwa, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran karena berkontradisksi dengan riwayat-riwayat lain.

Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tersebut dan lebih layak disebut sebagai mitos semata.

Semoga bermanfaat

(Sumber : www.islam-online.com)
Lanjutkan Membaca ...