18 Jan 2011

WikiLeaks Sulut Kolaps di Tunisia?


INILAH.COM, Tunis – Pemerintah Tunisia mengalami kolaps, sebagian karena inflasi harga makanan dan pengangguran, tetapi juga karena WikiLeaks. Benarkah?

Salah satu kabel pemerintah AS dirilis oleh WikiLeaks (melalui @ spbaines) memaparkan korupsi keluarga Presiden Tunisia, yang masuk hingga bisnis negara ini, dan kemampuannya dalam mengatasi supremasi hukum.

Keluarga Presiden Ben Ali yang disebut "The Family" terkena kebocoran ini. Meskipun pemerintah sudah berusaha memblokir akses ke WikiLeaks awal bulan ini.

Menurut survei tahunan Transparency International dan observasi kontal Kedutaan, korupsi diTunisia semakin buruk. Entah itu uang, jasa, tanah, properti, bahkan kapal pesiar, keluarga Presiden Ben Ali dikabarkan selalu menginginkannya dan mendapatkan apa yang diinginkan.

Imbas terhadap ekonomi sudah jelas, dimana investor Tunisia, yang kini takut akan campur tangan “The Family” terhadap investasi-investasi terdahulu. Alhasil, tingkat investasi domestik rendah dan pengangguran tinggi. Demikian ungkap kabel kedutaan AS di Tunisia.

Tampaknya setengah komunitas bisnis Tunisia dapat mengklaim, koneksi Ben Ali didapat melalui perkawinan, dan banyak kekisruhan ini juga dibuat sebagian besar keturunan mereka.

Ben Ali memiliki tiga anak-anak dengan istri pertamanya Naima Kefi, yakni Ghaouna, Dorsaf dan Cyrine. Mereka menikah masing-masing dengan Zarrouk Slim, Slim Chiboub, dan Marouane Mabrouk, semua dengan kekuasaan ekonomi yang signifikan.

Masalah yang tidak kalah pelik berasal dari klan Trebelsis, garis keluarga istri keduanya, Leila ben Ali.Disebutkan, Leila adalah simpanan Ben Ali ketika masih menjadi perdana menteri, yang ketika hamil menipu Ben Ali dengan mengatakan bahwa ia mengandung anak laki-laki. Hal yang sangat diinginkan Ben Ali, ayah dari tiga anak perempuan. Tak heran, bila Leila segera dinikahinya.

Keluarga Trebelsi perlahan mulai mengakumulasi kekuasaan begitu banyak sehingga mereka memonopoli perekonomian Tunisia melalui premanisme, intimidasi, pengambilalihan dan pencurian langsung dan beroperasi dengan kekebalan. Ada dugaan korupsi yang dilakukan Trabelsi kerap barbar, akibat rendahnya pendidikan, status sosial yang rendah, dan konsumsi yang mencolok.

Lihat saja aksi Leila di tengah perkembangan real estat dan booming harga tanah. Ia sadar, kepemilikan properti bisa jadi rejeki nomplok atau satu cara pengambilalihan aset. Pada musim panas 2007 lalu, Leila menerima tanah yang diinginkan di Carthage gratis dari pemerintah dalam rangka membangun Carthage International School.

Selain tanah, sekolah menerima 1,8 juta dinar (US $ 1,5 juta) hadiah dari pemerintah. Dan dalam hitungan minggu, pemerintah telah membangun jalan baru dan stoplights untuk memfasilitasi akses sekolah.

Namun dilaporkan, Leila telah menjual Carthage International School untuk investor Belgia, meski Kedutaan Besar Belgia saat ini belum mampu mengkonfirmasi rumor. Bila ini benar, maka Leila mendapat laba yang luar biasa banyak, mengingat semua itu diperoleh tanpa biaya sepeser pun.

Sementara beberapa keluhan tentang klan Trabelsi berasal dari penghinaan untuk kecenderungan sifat orang kaya baru. Tunisia juga berpendapat bahwa Trabelsis dibenci karena penyalahgunaan sistem.Dengan aksi ini, masayarakat Tunisia mengindentifikasi mereka dengan bahasa mafia "The Family".Adapun kepala mafia tersebut adalah BelHassen Trabelsi, yang tidak lulus SMA.

Belhassen adalah anggota keluarga paling terkenal dan dikabarkan telah terlibat dalam berbagai macam skema korupsi, dari Banque de Tunisie hingga pengambilalihan properti dan pemerasan.

Belhassen juga memiliki sebuah maskapai penerbangan, beberapa hotel, salah satu dari dua stasiun radio swasta Tunisia, pabrik perakitan mobil, distribusi Ford, perusahaan pengembangan real estat, dan lainnya.

Namun, Belhassen hanya satu dari sepuluh saudara kandung Leila, masing-masing dengan anak-anak mereka sendiri.

Presiden sering diberikan kemudahan, yang diperkirakan banyak digunakan klan Trabelsi dan Ia dinilai tidak sadar tentang kecurangan mereka. Bahkan seoroang pendukung kuat dalam pemerintahan menyatakan, bahwa masalah bukan pada Ben Ali, tetapi "The Family" yang terlalu jauh melanggar aturan. Namun demikian, sulit untuk percaya Ben Ali tidak sadar tentangnya tumbuhnya masalah korupsi.

Pada 2006, Imed dan Moaz Trabelsi, keponakan Ben Ali, juga dilaporkan mencuri kapal pesiar dari pengusaha Perancis yang mempunyai hubungan baik, Bruno Roger, Ketua Lazard Paris. Pencurian yang banyak diberitakan media Perancis, terungkap ketika sebuah kapal pesiar, baru dicat untuk mengaburkanidentitas, muncul di pelabuhan Sidi Bou Said.

Di sektor perbankan, pebisnis Tunisia mempunyai lelucon, bahwa hubungan terpenting yang dapat dimiliki adalah dengan bankir. Hal ni mencerminkan pentingnya koneksi pribadi ketimbang rencana bisnis yang kuat dalam mengamankan pembiayaan.

Terkait hal ini, perwakilan dari Credit Agricole mengatakan, Marouane Mabrouk, menantu Ben Ali membeli 17% saham dari Banque du Sud,yang saat ini menjadi Attijari Bank, segera sebelum privatisasi bank. 17% saham ini sangat penting untuk memperoleh saham pengendali di bank sejak privatisasi hanya mewakili 35% saham di bank.

Perwakilan Credit Agricole menyatakan bahwa Mabrouk menjual sahamnya ke bank asing dengan harga premium, dimana pemenang tender, Santander-Attijariwafa yang berkebangsaan Spanyol-Maroko membayar premium dari nilai buku ke Mabrouk.

Meskipun hanya korupsi kecil, hal-hal tersebut adalah ekses dari keluarga Presiden Ben Ali yang mengilhami kemarahan rakyat Tunisia. Ketika Tunisia menghadapi inflasi dan pengangguran tinggi, The Family menampilkan kekayaan. Sedangkan rumor tentang korupsi yang disulut WikiLeaks, telah memercikkan api, yang dapat mengubah masyarakat, dan pemerintah sendiri. [mdr] Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar