7 Des 2011

Sejarah Imam Ali : Rumah Tangga Serasi


Imam Ali RA memiliki Kehidupan Rumah Tangga yang serasi dengan menikahi Sitti Fatimah Azzahra RA yang merupakan putri tersayang Nabi Muhammad SAW. Pernikahan ini menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah SAW. Demikian besar rasa cinta Nabi Muhammad SAW kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Nabi Muhammad SAW berkata kepada Imam Ali RA. demikian: "Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…" .

Rasulullah SAW, Imam Ali RA dan Sitti Fatimah RA, ketiganya merupakan tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.

Demikian sekilas tentang isi BAB II dari Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA Karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini yang dimuat dalam web Sahabat-nabi.blogspot.com. Berikut , silahkan Simak Keseluruhan isi dari BAB III buku tersebut dibawah.

Bab III : RUMAH TANGGA SERASI


Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun sebelum bi'tsah.

Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys terhadap keluarga Bani Hasyim.

Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih sayang ibu.

Puteri Kesayangan


Rasul Allah SAW. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra RA. adalah puteri bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah SAW. Nabi Muhammad SAW. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling dekat disisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Rasul Allah SAW. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah SAW. berkata kepada Imam Ali RA. demikian: "Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku…"

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya, bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah ummatnya.

Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra RA menyaksikan sendiri cobaan yang dialami oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman, hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra RA dan memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra RA hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah SAW tatkala ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra RA menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah RA segera membersihkan kepala dan tubuh ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad SAW Guna menguatkan hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad SAW, sambil membelai-belai kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah SAW menanamkan daya-juang tinggi ke dalam jiwa Sitti Fatimah RA, dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya.

Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah RA menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke punggung Rasul Allah SAW itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.

Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah RA segera membersihkannya dengan air sambil menangis. Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan.

Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.: "Ya Allah celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"

Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan.

Hijrah ke Madinah Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk membunuh Rasul Allah SAW, Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s. Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW termasuk puteri kesayangan beliau, Sitti Fatimah RA dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil, yaitu Imam Ali RA yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau.

Imam Ali RA sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus: berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak membunuh beliau. Sebelum Imam Ali RA melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi Muhammad SAW agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah SAW, segera menyusul berhijrah.

Imam Ali RA membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah SAW terdiri dari keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali RA Di dalam rombongan Imam Ali RA ini termasuk Sitti Fatimah RA, Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali RA), Fatimah binti Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Imam Ali RA berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali RA segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik matahari.

Imam Ali RA, sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap berlawan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali RA berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebih-lebih karena rombongan Imam Ali RA berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali RA yang semacam itu sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk mengejar Imam Ali RA dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati rombongan Imam Ali RA

Setelah Imam Ali RA mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya.

Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan pedang terhunus. Rupanya Imam Ali RA hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali RA mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu?

Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi."

Imam Ali RA dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"

"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali RA menghalangi usaha mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul Imam Ali RA dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman pedang Imam Ali RA telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua, sehingga pedang Imam Ali RA sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali RA berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali RA untuk menyarungkan kembali pedangnya. Imam Ali RA dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul saudaraku, putera pamanku, Rasulullah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali RA beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman (ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali RA Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan harinya rombongan Imam Ali RA beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan.

Imam Ali RA sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasulullah SAW Waktu itu Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash Shiddiq RA sudah tiba dekat kota Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan
rombongan Imam Ali RA Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasulullah SAW memberitahu, bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali RA tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kaki telanjang menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak.

Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasulullah SAW menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW melihat Imam Ali RA tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu.

Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali RA Konon sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali RA tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasulullah SAW dan tak terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.

Ijab-Kabul Pernikahan


Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq RA, Umar Ibnul Khatab RA dan Sa'ad bin Mu'adz bersama-sama Rasulullah SAW duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulullah SAW Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq RA: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib?"

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali RA Sewaktu Imam Ali RA melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq RA dengan tergopoh-gopoh dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq RA segera menjelaskan persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasulullah SAW Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah SWT Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."

Mendengar perkataan Abu Bakar RA mata Imam Ali RA berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Imam Ali RA berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar RA terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Imam Ali RA, Abu Bakar RA berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!"

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar RA berhasil mendorong keberanian Imam Ali RA untuk melamar puteri Rasulullah SAW

Beberapa waktu kemudian, Imam Ali RA datang menghadap Rasulullah SAW yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salmah bertanya kepada Rasulullah SAW: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasulullah SAW menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"

Jawaban Nabi Muhammad SAW itu belum memuaskan Ummu Salmah RA Ia bertanya lagi: "Ya, tetapi siapakah dia itu?"

"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad SAW

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan
pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali RA kepada Nabi Muhammad SAW itu: "Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah SAW Ia dipersilakan duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.

Rasulullah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!"

Mendengar kata-kata Rasulullah SAW yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasulullah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya Rasulullah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan dia?"

Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin?'' .

"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah SAW menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib, "engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat yang diceritakan Ummu Salmah RA

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah SAW mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: "Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."

"Ya, Rasulullah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib RA dalam pernikahan itu. Rumah Tangga Sederhana Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar RA untuk diatur penggunaannya. Dengan persetujuan Rasulullah SAW, Abu Bakar RA menyerahkan 66 dirham kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk membeli perkakas dan peralatan rumah tangga.

-sehelai baju kasar perempuan;
-sehelai kudung;
-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam;
-sebuah balai-balai;.
-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah bulu kambing);
-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir);
-kain tabir tipis terbuat dari bulu;
-sebuah tikar buatan Hijr;
-sebuah gilingan tepung;
-sebuah ember tembaga;
-kantong kulit tempat air minum;
-sebuah mangkuk susu;
-sebuah mangkuk air;
-sebuah wadah air untuk sesuci;
-sebuah kendi berwarna hijau;
-sebuah kuali tembikar;
-beberapa lembar kulit kambing;
-sehelai 'aba-ah (semacam jubah);
-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.

Sejalan dengan itu Imam Ali RA mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah rumah kediaman Imam Ali RA yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah Azzahra RA

Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah RA masih tetap di rumahnya yang lama. Imam Ali RA merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasulullah SAW supaya puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali RA menghadap Rasulullah SAW Lebih dulu mereka menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad SAW Kepada Ummu Aiman, Imam Ali RA menyampaikan keinginannya.

Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah RA guna menyampaikan apa yang menjadi keinginan Imam Ali RA Sesudah Ummu Salmah RA mendengar persoalan tersebut, ia terus pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.

Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah RA, para isteri Nabi Muhammad SAW berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasulullah SAW Ternyata beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali RA


Suami-Isteri Yang Serasi


Sitti Fatimah RA dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya kehidupan ini. Rasulullah SAW telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah.

Imam Ali RA bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Duaduanya selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari, bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasulullah SAW, tetapi juga isteri seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah RA) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad SAW

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah RA menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tenaga sendiri.

Rasulullah SAW. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali RA ikut menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Sitti Fatimah RA

Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga Imam Ali RA Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasulullah SAW. berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah RA Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasulullah SAW. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak"

Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. datang menjenguk Sitti Fatimah RA, tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?"

"Fatimah! " Jawab Imam Ali RA Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Imam Ali RA Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan rumah-tangga Imam Ali RA Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan Sitti Fatimah RA dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah RA sehari-hari mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari Rasulullah SAW. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari.

Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasulullah SAW. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan: "Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!"

Mendengar keterangan Bilal itu Rasulullah SAW. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!"

Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotongroyong.

Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidah-kaidah agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasululllah SAW, Imam Ali RA dan Sitti Fatimah RA, ketiganya merupakan tauladan bagi kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.

Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasululllah SAW sendiri mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau?

Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benar-benar terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang, tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masing-masing supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang baik akan lebih terjamin keberhasilannya.

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali RA sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasululllah SAW Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah RA Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasululllah SAW datang, beliau diberitahu oleh Aisyah RA tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasululllah SAW kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Sambutan Nabi Muhammad SAW atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasululllah SAW dan dipraktekan dalam kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali RA Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.

Putera-puteri Imam Ali RA


Sitti Fatimah RA melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya bernama Al Hasan RA dan Al Husein RA Sedang puteri-puterinya bernama Zainab RA dan Ummu Kalsum RA Rasulullah SAW dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.

Al Hasan RA dan Al Husein RA mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad SAW menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan RA dan Al Husein RA Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Al Hasan RA dan Al Husein RA meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam. Al Husein RA gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah.

Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein RA merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Puteri beliau yang bernama Zainab RA merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein RA Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein RA beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein RA gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.

Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah RA meninggal dunia dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah RA, Imam Ali RA beristerikan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali RA menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.


Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.


Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali RA sepeninggal Siti Fatimah RA ialah Umamah binti Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad SAW, kakak perempuan Sitti Fatimah RA Pernikahan dengan Umamah RA ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah RA kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. Kepada putera-puterinya.

Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah

Setelah nikah dengan Umamah RA, Imam Ali RA nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali RA yang keenam patut disebut secara khusus, karena ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah RA Asma inilah yang mendampingi Sitti Fatimah RA dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Isteri-isteri Imam Ali RA yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah RA, Imam Ali RA mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah.

Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali RA semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam Ali RA dari isterinya yang pertama.


Artikel Sebelumnya Sejarah Imam Ali : BAB II - Lingkungan Keluarga Imam Ali

Artikel Selanjutnya Sejarah Imam Ali : BAB IV - Peran Kepahlawanan Imam Ali RA

Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar