8 Des 2011

Sejarah Imam Ali | Peran Kepahlawanannya


Imam Ali RA beriman kepada Allah dan Rasul-Nya paling dini sebagaimana Nabi Muhammad SAW menegaskan dan disaksikan oleh para sahabat dekat dan terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq RA, Umar Ibnul Khattab RA dan Abu Ubaidah r.a. Hal itu tercantum dalam Kitab "Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu Abbas.



Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu dengan Rasul Allah s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar, kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman, seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita."



Imam Ali RA ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin.



Ketika perang Badr mulai berkobar, Imam Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali RA berkibar panji perang Rasul Allah SAW. Laksana singa lapar Imam Ali RA meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang Rasulullah. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali RA dengan Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al Walid mati di ujung pedang Imam Ali RA. Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya mati di ujung pedang Imam Ali RA.



Pada perang Uhud Imam Ali RA dan para sahabat lainnya melindungi Rasulullah SAW Dengan segenap kekuatan yang ada mereka menangkis tiap serangan yang datang, guna menyelamatkan Rasulullah SAW Semua sudah bertekad hendak mati syahid, lebih-lebih setelah melihat Rasul Allah s.a.w. terkena lemparan batu besar yang dicampakkan oleh 'Utbah bin Abi Waqqash. Akibat lemparan batu itu geraham Rasul Allah s.a.w. patah, wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah, dan dua buah kepingan rantai topi besi yang melindungi wajah beliau menembus pipinya.



Demikian sekilas tentang isi BAB IV dari Buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA Karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini yang dimuat dalam web Sahabat-nabi.blogspot.com. Berikut , silahkan Simak Keseluruhan isi dari BAB IV buku tersebut dibawah.




Bab IV : Peranan Kepahlawanan



Masih ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai dalih dan alasan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.



Sebagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum berlaku baginya, karena ketika ia memeluk Islam usianya masih sangat muda, malahan dikatakan "masih kanak-kanak".



Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang berusia 13 tahun, bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa akil baligh. Dalam usia akil baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan keterangan-keterangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya pun sudah berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang menyenangkan atau menyedihkan, mana yang mengagumkan dan mana yang memuakkan, mana yang masuk akal dan mana yang tidak.



Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun langsung diasuh, dibimbing dan dididik oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan modern, tingkat usia 6 tahun itu justru yang paling tepat bagi seseorang anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama 6 tahun. Dari usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah mendapat "pendidikan dasar" dari seorang guru yang paling bijaksana.



Selama periode "pendidikkan dasar" itu, Imam Ali r.a. telah dipersiapkan oleh gurunya untuk menyongsong datangnya masa pancaroba yang akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 13 tahun, terjadilah bi'tsah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, yang akan menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa hidayah. Masa "pendidikkan dasar" dan persiapan yang sangat tepat waktunya itulah, yang kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam Ali r.a. sebagai orang yang teguh imannya kepada Allah dan Rasul-Nya.



Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan orang-orang kafir Qureiys terhadap semua keluarga Bani Hasyim, Imam Ali r.a. ikut langsung menghayati kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta tauladan Rasul Allah s.a.w. beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam Ali r.a. ikut berjuang mempertahankan dan membela da'wah Islam.



Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi'ib, Imam Ali r.a. memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima pendidikan tauhid dan ilmu-ilmu Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w. Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh orang mukmin manapun. Dalam keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan dengan tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla.



Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menegaskannya. Penegasan itu disaksikan oleh para sahabat dekat dan terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal itu tercantum dalam Kitab "Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu Abbas.



Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu dengan Rasul Allah s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar, kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman, seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita."




Membela Kebenaran



Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali RA. juga terkenal sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung raksasa dan kesetiaannya yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.



Imam Ali RA. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam. Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh dan mantap, Imam Ali RA. benar-benar mempunyai syarat fisik-materiil dan mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap perjuangan yang serba berat.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Imam Ali RA selalu tampil memainkan peranan menentukan. Selama hidup ia tak pernah mengalami hidup santai. Sejak muda remaja sampai akhir hayatnya, ia keluar masuk dari kesulitan ke kesulitan lain, dan dari pengorbanan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak pernah menyesali nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, ia senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya pamrih yang menjadi pemikirannya siang dan malam hanya ingin memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup duniawi baginya bukan apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan keadilan.



berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasulullah SAW Tiap kali diuji, tiap kali itu juga lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang maha berat ialah yang terjadi pada saat Rasulullah SAW menerima perintah Allah SWT supaya berhijrah ke Madinah.



Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplotan kafir Qureiys mengepung

kediaman Rasulullah SAW dengan tujuan hendak membunuh beliau, bilamana beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali RA memainkan peranan besar: Ia diminta oleh Rasulullah SAW supaya tidur di atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-menawar Imam Ali RA menyanggupinya. Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia khawatir atas keselamatan Rasulullah SAW yang saat itu berkemas-kemas hendak hijrah meninggalkan kampung halaman.



Melihat Imam Ali menangis, maka Rasulullah bertanya: "Apa sebab engkau menangis, Apakah engkau takut mati?".



Imam Ali RA dengan tegas menjawab: "Tidak, ya Rasulullah! Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri anda. Apakah anda akan selamat, ya Rasulullah?"



"Ya," jawab Nabi Muhammad SAW dengan tidak ragu-ragu.



Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasulullah SAW, Imam Ali RA terus berkata: "Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya Rasulullah!"



Imam Ali RA segera menghampiri pembaringan Rasulullah SAW Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu orang-orang kafir Qureiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasulullah SAW dan mengepungnya dari segala jurusan.



Dengan perlindungan Allah SWT dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Qureiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad SAW Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Qureiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad SAW dengan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas.



Imam Ali RA mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Qureiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasulullah SAW Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah SWT Ia yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya.



Menjelang subuh, Imam Ali RA bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke dalam rumah.



Dengan suara membentak mereka bertanya: "Mana Muhammad? Mana Muhammad?"



"Aku tak tahu di mana Muhammad berada!" jawab Imam Ali RA dengan tenang. Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: "Kemana ia pergi?" Dalam suasana gaduh Imam Ali RA bertanya: "Apa maksud kalian?"

"Mana, Muhammad? Mana Muhammad?" mereka mengulang-ulang pertanyaan semula.



"Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?" ujar Imam Ali RA dengan nada memperolok-olok. "Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? Sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!"



Ucapan Imam Ali RA sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya.



Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Qureiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Imam Ali RA, entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu.



Keesokan harinya, Imam Ali RA berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti Fatimah RA, menyusul perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam hijrahnya ke Madinah.



Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali RA berangkat secara terang-terangan di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak konfrontasi bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin.



Imam Ali RA yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin.





Perang Badr



Perang Badr merupakan perang pertama yang terpaksa diarungi oleh kaum muslimin menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Perang ini merupakan demonstrasi pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Qureiys. Untuk pertama kalinya panji perang Rasulullah SAW berkibar di medan laga. Dan yang diberi kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah SWT itu, ialah Imam Ali bin Abi Thalib RA



Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut. Perlengkapan dan persenjataan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang nol. Pasukan berkuda dan penunggang unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan "modern" pada masa itu, praktis tidak dipunyai oleh kaum muslimin. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah pasukan yang ada, sampai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Miqdad bin Al Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan "kavaleri" Rasulullah SAW di dalam perang Badr.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai persenjataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu kepemimpinan Rasulullah SAW dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Allahu Akbar.



Perang Badr sebenarnya terjadi di luar rencana. Pada mulanya kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW bermaksud hendak mencegat kafilah Abu Sufyan bin Harb yang telah meninggalkan Makkah berangkat menuju negeri Syam, dan akan kembali ke Makkah lewat sebuah tempat bernama 'Usyaira. Di tempat itulah kaum muslimin siap menghadang, tetapi ternyata kafilah Abu Sufyan sudah lolos lebih dulu.



Ketika peperangan mulai berkobar, Imam Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali RA berkibar panji perang Rasulullah SAW Ia terjun ke medan laga menerjang pasukan musuh yang jauh lebih besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimat "Allahu Akbar" berkumandang membajakan tekad pasukan muslimin.



Saat itu terdengar suara musuh menantang: "Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang berwibawa dari asal Qureiys supaya tampil!"



Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Imam Ali RA meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang-nantang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali RA dengan Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al Walid mati di ujung pedang Imam Ali RA



Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya mati di ujung pedang Imam Ali RA Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil ditawan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandai pesatnya kemajuan agama Allah SWT





Perang Uhud



Dalam peperangan yang kedua ini, Rasulullah SAW menyerahkan panji kaum muhajirin kepada Imam Ali RA Sedangkan panji kum Anshar diserahkan kepada salah seorang di antara mereka sendiri. Peperangan Uhud terkenal dalam sejarah sebagai peperangan yang amat gawat. 700 pasukan muslimin harus berhadapan dengan 3.000 pasukan kafir Qureiys yang dipersiapkan dengan perbekalan dan persenjataan serba lengkap. Kecuali itu diperkuat pula dengan pasukan wanita di bawah pimpinan Hindun binti 'Utbah, isteri Abu Sufyan bin Harb, guna memberikan dorongan moril, agar orang-orang kafir Qureiys jangan sampai lari meninggalkan medan tempur.



Untuk menghadapi kaum musyrikin yang sudah memusatkan kekuatan di Uhud, pasukan muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW menuju ke tempat itu, dengan memotong jalan sedemikian rupa, sehingga gunung Uhud berada di belakang mereka. Kemudian Rasulullah SAW mulai mengatur barisan. 50 orang pasukan pemanah ditempatkan pada sebuah lembah di antara dua bukit. Kepada mereka diperintahkan supaya menjaga pasukan yang ada di belakang mereka. Ditekankan jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga. Sebab hanya dengan senjata panah sajalah serbuan pasukan berkuda musuh dari belakang dapat ditahan.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Perang Uhud mulai berkobar dengan tampilnya Imam Ali RA ke depan melayani tantangan Thalhah bin Abi Thalhah yang berkoar menantang-nantang: "Siapakah yang akan maju berduel?"



Seperti api disiram minyak semangat Imam Ali RA membara. Dengan ayunan langkah tegap dan tenang, serta sambil mengeretakkan gigi, ia maju dengan pedang terhunus. Baru saja Thalhah bin Abi Thalhah menggerakan tangan hendak mengayun pedang, secepat kilat pedang Imam Ali RA "Dzul Fikar" menyambarnya hingga terbelah dua. Betapa bangga Rasulullah SAW menyaksikan ketangkasan putera pamannya itu. Ketika itu kaum muslimin yang menyaksikan kesigapan Imam Ali RA, mengumandangkan takbir berulang-ulang.



Dengan tewasnya Thalhah bin Ahi Thalhah, pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. Sekarang Abu Dujanah tampil dengan memakai pita maut di kepala dan pedang terhunus di tangan kanan yang baru saja diserahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Ia seorang yang sangat berani. Laksana harimau keluar dari semak belukar ia maju menyerang musuh dan membunuh siapa saja dari kaum musyrikin yang berani mendekatinya. Bersama Abu Dujanah, Imam Ali RA mengobrak-abrik barisan musuh.



Dalam pertempuran ini Hamzah bin Abdul Mutthalib tidak kalah semangat dibanding dengan putera saudaranya sendiri, Imam Ali RA, dan Abu Dujanah. Hamzah demikian lincah dan tangkas melabrak pasukan musyrikin dan menewaskan tiap orang yang berani mendekat. Ia terkenal sebagai pahlawan besar dalam menghadapi musuh. Sama seperti dalam perang Badr, dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya.



Dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita saksikan kejantanan trio Imam Ali RA, Hamzah dan Abu Dujanah. Mereka merupakan tauladan dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan Qureiys menderita kehancuran mental, mundur dan surut.



Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu. Thalhah bin Abi Thalhah kepalanya dibelah dua oleh Imam Ali RA Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin Qureiys yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari batang tubuhnya oleh Imam Ali RA Sembilan orang pemegang panji musyrikin Qureiys tewas berturut-turut di ujung pedang Imam Ali RA, Hamzah dan Abu Dujanah.



Mental pasukan Qureiys sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit. Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, sekarang sudah jatuh terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan.



Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa daratan. Fikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk mengangkuti barang-barang rampasan. Melihat barang-barang sedemikian banyaknya, mereka tak dapat lagi menahan air liur. Bahkan khawatir kalau-kalau tak akan mendapat bagian!



Sebagian besar pasukan pemanah itu turun meninggalkan lereng gunung untuk ikut ambil bagian dalam kesibukan mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Pesan Rasulullah SAW mereka lupakan. Apalagi yang harus dikerjakan, tokh peperangan sudah kita menangkan?



Begitulah fikir mereka. Pada saat itulah Khalid bin Al Walid, seorang komandan pasukan berkuda Qureiys, mengambil kesempatan untuk menyerbu dari belakang kaum muslimin yang sedang memperebutkan barang rampasan. Khalid bin Al Walid melancarkan serangan sengit. Bencana berbalik menimpa kaum muslimin.



Setelah melihat situasi berubah, orang-orang kafir Qureiys yang lari kembali lagi dan melakukan serangan dahsyat, hingga pasukan muslimin terpaksa melemparkan barang-barang dan senjata rampasan yang baru dikumpulkan. Mau tidak mau kaum muslimin sekarang harus menghunus pedang guna menangkis.



Sayang seribu sayang. Mereka hanya berjuang untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut. Iman mereka menjadi kendor, barisan tercerai-berai, terpisah dari pimpinan Rasulullah SAW Keadaan mereka sudah sedemikian kacau dirangsek oleh serangan musuh, sehingga tak aneh kalau sampai terjadi pedang seorang muslim tanpa disengaja mengenai saudaranya sendiri.



Di saat-saat yang genting seperti itu, Imam Ali RA dan para sahabat lainnya segera melindungi Rasulullah SAW Dengan segenap kekuatan yang ada mereka menangkis tiap serangan yang datang, guna menyelamatkan Rasulullah SAW Semua sudah bertekad hendak mati syahid, lebih-lebih setelah melihat Rasulullah SAW terkena lemparan batu besar yang dicampakkan oleh 'Utbah bin Abi Waqqash. Akibat lemparan batu itu geraham Rasulullah SAW patah, wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah, dan dua buah kepingan rantai topi besi yang melindungi wajah beliau menembus pipinya.



Setelah dapat menguasai diri kembali, Rasulullah SAW berjalan perlahan-lahan dikelilingi oleh sejumlah sahabat. Tiba-tiba beliau terperosok ke dalam sebuah liang yang sengaja digali oleh Abu 'Amir untuk menjebak pasukan muslimin. Imam Ali RA bersama beberapa orang sahabat lainnya cepat-cepat mengangkat beliau. Kemudian dibawa naik ke gunung Uhud untuk diselamatkan dari pengejaran musuh. Di celah-celah bukit, Imam Ali RA mengambil air untuk membasuh wajah Rasulullah SAW dan menyirami kepala beliau. Dua buah kepingan rantai besi yang menancap dan menembus pipi beliau dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan giginya, sampai dua buah gigi-serinya tanggal.



Kaum musyrikin Quxeiys dengan kemenangan itu merasa sudah sungguh-sungguh berhasil menebus kekalahan dalam perang Badr. Seperti yang dikatakan oleh Abu Sufyan: "Yang sekarang ini untuk menebus peristiwa perang Badr. Sampai jumpa lagi tahun depan!"



Akan tetapi isterinya yang bernama Hindun binti 'Utbah belum merasa cukup dengan kemenangan itu. Dan belum puas kalau hanya mendengar berita tentang tewasnya Hamzah bin Abdul Mutthalib, yang telah membunuh seorang saudaranya dalam perang Badr. Bersama beberapa orang wanita lain ia mencari-cari mayat kaum muslimin. Mereka memotongi telinga dan hidung mayat-mayat itu dan dijadikan barang mainan. Tidak itu saja, mayat Hamzah dibedah perutnya, dikeluarkan jantungnya (hatinya), lalu dikunyah-kunyah, tetapi ia tak sampai dapat menelannya. Demikian kejam dan sadisnya Hindun itu, yang kemudian ditiru oleh teman-temannya, bahkan tidak sedikit pula orang lelaki musyrikin Qureiys meniru sadisme Hindun.



Dari sangat kejinya perbuatan mereka itu, sampai pemimpin mereka, yakni suaminya Hindun, yaitu Abu Sufyan tidak mau bertanggung-jawab dan berusaha mencuci-tangan. Meskipun Abu Sufyan telah mencuci-tangan, namun kekotoran dirinya tak dapat disembunyikan. Inilah kata-kata Abu Sufyan: "Mayat-mayat kalian mengalami penganiayaan. Aku sungguh tidak senang, tetapi juga tidak benci. Aku tidak memerintahkan, tetapi juga tidak melarang."



Perang Uhud benar-benar memberi pelajaran berharga kepada kaum muslimin. Daya tarik keduniaan hampir saja menghancurkan kaum muslimin yang masih pada awal pertumbuhannya.





Perang Ahzab (Kandhaq)



Perang ini menjadi abadi dan masyhur dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan turunnya firman Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab). Untuk pertama kalinya dalam usia yang masih muda, kaum muslimin di Madinah dikepung oleh kurang lebih 10.000 orang pasukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku dan qabilah. Pasukan itu diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati perjanjian perdamaian dengan Rasulullah SAW Mereka ini bergabung dengan pasukan musyrikin Qureiys yang membeludak dari Makkah guna mengepung kota Madinah.



Peperangan tersebut dinamakan juga perang Khandaq (Parit), karena untuk menanggulangi penyerbuan kaum musyrikin Qureiys atas usul dan prakarsa Salman Al Farisi, dengan persetujuan Rasulullah SAW, kaum muslimin menggali parit-parit yang cukup lebar dan dalam di sekitar pinggiran kota Madinah Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Imam Ali RA juga teruji dalam perang tanding melawan seorang pendekar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu 'Amr bin Abdu Wudd Al'Amiri. 'Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Dengan congkak dan sombong 'Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: "Hai . . . Apakah tak seorang pun yang berani keluar untuk bertanding?"



Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan muslimin. Kaum muslimin banyak yang mengenal siapa 'Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya sebagai pendekar yang mahir berperang tanding.



Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang menanggapi tantangan 'Amr, Imam Ali RA tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, biarlah saya yang menandingi dia!"



Rasulullah SAW yang mengetahui benar ' Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan "garam" perang tanding, beranggapan, bahwa 'Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: "Duduk sajalah engkau, dia adalah 'Amr!"



Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, mak 'Amr yang beringas itu berkoar lagi: "Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!"



Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka tetap diam. Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepundan, Imam Ali RA tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasulullah SAW: "Biarlah saya yang menghadapinya; ya Rasulullah!"



Tetapi Rasulullah SAW kembali memerintahkan supaya Imam Ali RA duduk dan tenang, sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar dan dengan nada gemas, Imam Ali RA berusaha meyakinkan Rasulullah SAW bahwa ia sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: "Biar 'Amr sekalipun ya Rasulullah!"



Mengingat tekad Imam Ali RA yang begitu bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasulullah SAW memberi izin dan restu kepada Imam Ali RA untuk tampil ke depan. Imam Ali RA dengan hangat menyambut persetujuan dan izin Rasulullah SAW Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama "Dzul Fiqar", Imam Ali RA maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Rasulullah SAW: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang sebaik-baiknya."



Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Imam Ali RA

bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?"



"Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh.



"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam", kata Imam Ali RA melanjutkan.



Kata-kata Imam Ali RA ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-hadapan.



'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya.



Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan. Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.



Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak membutuhkan itu!"



"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Imam Ali RA sambil siaga menghadapi gerakan 'Amr. Akan tetapi tantangan Imam Ali RA yang serius itu diremehkan saja oleh 'Amr: "Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!"



Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Imam Ali RA dengan perasaan tak sabar lagi berucap: "Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!"



Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih.

Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu juga Imam Ali RA diserang. Demikian gesit dan tangkasnya 'Amr mengayunkan pedang dengan dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali RA tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak refleksinya.



'Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali RA Kesempatan yang meleset itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali RA Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam gerak beruntun secara kilat. Pada saat 'Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali RA menyambar bahu kanan 'Amr sampai terbelah dua.



Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan debu. Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Imam Ali RA yang "masih hijau" itu akan "dibelah dua" oleh pedang 'Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali RA menyerukan takbir, kaum muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar ...Allaahu Akbar.... !



Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali RA kemudian menuju ke tempat Rasulullah SAW Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasulullah SAW mengeluarkan pernyataan singkat: "Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib melawan 'Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku sampai hari kiyamat."



Akan tetapi terbunuhnya jagoan Qureiys belum menyelesaikan jalannya perang Khandaq. Namun terbunuhnya tokoh Qureiys itu menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk dapat menerobos parit makin tipis.



Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut dan hujan deras diiringi suara petir sambar-menyambar. Kemah-kemah dan perkakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda angin kencang. Kubu pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara mereka yang tak tahan menghadapi tekanan udara dingin.



Di tengah-tengah hembusan angin puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini bertindak selaku rimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: "Saudara-saudara, kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang sudah binasa.



Bani Quraidah sudah tak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah lagi kita menghadapi angin kencang begini ributnya. Maka itu lebih baik kita pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!"



Di tengah-tengah angin puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara bergelombang meninggalkan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada lagi seorang Qureiys atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh meninggalkan parit.



Rasulullah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang kembali ke tempat kediaman masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur sedalam-dalamnya kepada Allah s.w.t. yang telah menghindarkan mereka dari marabahaya.





Perjanjian Hudaibiyah



Beberapa waktu sesudah perang Ahzab (Khandaq), Rasulullah SAW berangkat membawa kaum muslimin kurang lebih 1500 orang. Beliau berangkat ke Makkah bukan dengan maksud untuk berperang, melainkan untuk menunaikan ibadah haji. Tak ada sebilah pedang yang terhunus.



Berita tentang keberangkatan Rasulullah SAW ini sampai juga kepada kaum Qureiys. Mendengar berita itu kaum Qureiys segera membikin persiapan. Mereka khawatir kalau-kalau keberangkatan Rasulullah SAW itu hanya merupakan tipu muslihat untuk menyerbu Makkah.



Khalid bin Al Walid dan pasukannya menghadang kaum muslimin di tempat beberapa mil jauhnya di luar kota Makkah.



Rasulullah SAW setelah mendengar berita gerak-gerik pasukan Qureiys itu tetap melanjutkan perjalanan. Untuk menghindari konflik senjata beliau dengan sejumlah sahabat menempuh jalan lain, meskipun jalan itu agak sulit dilewati. Akhirnya beliau tiba di sebuah tempat bernama Hudaibiyah.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Mengetahui perkembangan baru yang ditempuh oleh rombongan Rasulullah SAW. Khalid bin Al Walid dan pasukannya segera kembali ke Makkah untuk mempertahankan kota. Ketika itu semua orang Qureiys sudah dihinggapi kegelisahan dan khawatir menghadapi kaum muslimin.



Walaupun begitu mereka tetap bertekad hendak mencegah masuknya rombongan Rasulullah SAW. dengan cara apa saja. Selang beberapa hari, fihak Qureiys mengirim utusan kepada Nabi Muhammad SAW. guna mengetahui benar-benar apa yang sesungguhnya menjadi maksud kedatangan beliau dan rombongan. Setelah melakukan dialog seperlunya, perutusan itupun kembali. Mereka percaya, bahwa kedatangan kaum muslimin benar-benar hendak menunaikan ibadah haji. Sewaktu hal itu dilaporkan, kaum musyrikin Qureiys tak mempercayainya. Malahan perutusan itu dituduh berkhianat hendak membantu Rasulullah SAW.



Kaum musyrikin mengirim utusan lagi dipimpin seorang gembong terkemuka. Hasilnya sama saja dengan perutusan yang pertama: Kaum musyrikin Qureiys masih tak percaya. Kini dikirim utusan seorang saja, yaitu 'Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqafiy. Sekembalinya dari perundingan dengan Nabi Muhammad SAW., 'Urwah mengemukakan kepada kaum musyrikin Qureiys, bahwa "Rasulullah SAW. menawarkan satu rencana yang baik, oleh sebab itu terimalah!"



Sejalan dengan itu Rasulullah sendiri kemudian mengirim seorang utusan, yaitu Kharrasiy Al Khuza'iy guna menemui orang Qureiys. Musyrikin Qureiys tidak mau menerima utusan itu.



Bahkan unta kendaraannya dibantai dan hampir saja ia dibunuh, kalau tidak dicegah oleh salah seorang gembong Qureiys.



Rasulullah SAW. berusaha terus. Kali ini yang dikirim Utsman bin Affan RA Ia baru masuk Makkah setelah ada jaminan dari anak pamannya, Aban bin Sa'id Al Ash. Dalam pertemuannya dengan orang-orang Qureiys, Utsman bin Affan menjelaskan maksud kedatangan Rasulullah SAW. dan rombongan tidak lain hanya ingin menunaikan ibadah haji.



Kaum musyrikin Qureiys memang kepala batu. Utsman bin Affan mereka tahan selama 3 hari. Di kalangan kaum muslimin terdengar desas-desus bahwa Utsman bin Affan telah mati dibunuh.



Untuk menghadapi kemungkinan Utsman bin Affan RA benar-benar dibunuh oleh orang-orang Qureiys, Nabi Muhammad berseru kepada para sahabatnya supaya menyatakan janji setia (bai'at) guna melancarkan serangan menuntut bela melawan penghianatan Qureiys. Kaum muslimin berlomba-lomba menyambut seruan beliau. Mereka siap memanggul senjata untuk berperang melawan Qureiys.



Janji setia kaum muslimin kepada Rasulullah SAW. yang bersejarah itu dilakukan oleh mereka di bawah sebatang pohon. Peristiwa itu dikenal dengan nama "Bai'atur Ridhwan" (janji setia yang diridhoi Allah). Satu peristiwa yang dipuji Allah s.w.t., seperti yang termuat dalam S. Al Fath:l8 (Al Qur'an).



Mendengarkan kebulatan tekad kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW. itu, kaum musyrikin Qureiys merasa gentar. Mereka sudah mengenal betapa gigihnya kaum muslimin berperang, seperti yang telah dibuktikan pada masa-masa yang lalu. Musyrikin Qureiys mengirim utusan yang dipimpin oleh Suhail bin Amr. Setelah perutusan itu mengadakan perundingan dengan Rasulullah SAW., dua belah fihak sepakat untuk menanda-tangani sebuah perjanjian gencatan senjata.



Nabi Muhammad SAW. memerintahkan Imam Ali RA supaya menuliskan nashah perjanjian yang akan ditanda-tangani oleh kedua belah fihak. Sedangkan beliau sendiri mendiktekan syaratsyarat yang telah disetujui bersama. Pertama-tama beliau berkata: "Tulislah: "Bismillaahi ar-Rahman ar-Rahim . . ."



Mendengar kalimat itu Suhail menukas: "Berhenti dulu. Aku tidak mengerti apa ar-Rahman ar-Rahim" itu! Tulis saja "Dengan nama-Mu, ya Allah. . ."



Tanpa menyangkal lagi Rasulullah SAW. memerintahkan Imam Ali RA supaya menulis apa yang diminta oleh Suhail. Kemudian beliau meneruskan, "Tulislah: 'Inilah perjanjian yang diadakan oleh Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin 'Amr'…"



Suhail memotong "Berhenti dulu. Kalau aku percaya engkau Rasulullah, tentu aku tidak akan memerangimu. Tuliskan saja namamu dan nama ayahmu...!"



Rasulullah menuruti apa yang diminta oleh Suhail. Beliau memerintahkan Imam Ali RA supaya menuliskan kalimat: "Inilah perjanjian yang telah disepakati Muhammad bin Abdullah..." dst.



Kemudian dilanjutkan dengan penulisan teks syarat-syarat perjanjian yang terdiri dari empat pokok:

1. Perjanjian gencatan senjata antara kedua belah fihak berlaku selama masa 10 tahun.

2. Jika ada orang dari fihak Qureiys memeluk Islam kemudian bergabung dengan Rasulullah SAW. tanpa seizin Qureiys, orang itu akan dikembalikan oleh Rasulullah kepada Qureiys. Sebaliknya jika ada orang dari fihak Rasulullah yang murtad dan kembali ke fihak Qureiys, orang itu oleh Qureiys tidak akan dikembalikan kepada Rasulullah.

3. Jika ada orang Arab ingin bersekutu dengan Rasulullah, dibolehkan. Dan apabila ada orangorang Arab lain ingin bersekutu dengan kaum Qureiys, ia bebas berbuat demikian.

4. Rasulullah dengan para pengikutnya harus pulang meninggalkan Makkah. Mereka berhak untuk kembali lagi ke Makkah pada musim haji yang akan datang untuk berziarah ke Baitul Haram, dengan syarat: mereka hanya akan tinggal di Makkah selama 3 hari, dan tidak akan mengeluarkan pedang dari sarungnya.



Tidak lama setelah "Perjanjian Hudaibiyah" itu ditandatangani, Banu Khuza'ah segera menyatakan bersekutu dengan Rasulullah SAW. Sedangkan Banu Bakr menyatakan bersekutu dengan fihak Qureiys.



Dengan perjanjian tersebut kaum muslimin memperoleh kesempatan leluasa untuk menyiarkan agama Islam kepada orang-orang Arab di luar kaum musyrikin Qureiys, dan memperoleh waktu yang cukup untuk membangun dan memperkuat negeri.



Walaupun Rasulullah SAW telah mengadakan perjanjian perdamaian dengan musyrikin Qureiys (Perjanjian Hudaibiyah), namun beliau berfikir, bahwa keamanan dan keselamatan kaum muslimin belum terjamin, selama masih ada kekuatan-kekuatan anti Islam yang bercokol di utara Madinah. Kekuatan itu ialah kaum Yahudi yang mempunyai beberapa benteng di Khaibar.



Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, orang-orang Yahudi memang tidak dapat dipercaya kejujurannya dalam melaksanakan perjanjian perdamaian. Peristiwa pengkhianatan itu telah terjadi beberapa kali dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Banu Quraidah, Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir.



Sekarang tibalah saatnya untuk mematahkan kekuatan terakhir kaum Yahudi, yang selama ini dirasakan sebagai duri di dalam daging. Tanpa membuang-buang waktu, Rasulullah mempersiapkan pasukan sebanyak 1600 orang dan 100 pasukan berkuda guna diberangkatkan ke Khaibar. Setelah berjalan tiga hari tibalah pasukan muslimin di depan perbentengan Khaibar.





Mereka telah berada di depan benteng Natat. (Perang Khaibar)



Esok paginya pertempuran mati-matian mulai berkobar. 50 orang dari pasukan muslimin gugur dan dari fihak Yahudi lebih banyak lagi, termasuk pemimpin Yahudi Khaibar, yaitu Salam bin Misykam. Setelah Salam terbunuh pimpinan Yahudi dipegang oleh Harits bin Abi Zainab. Ia keluar dari benteng Na'im bersama sejumlah pasukan dengan maksud hendak menggempur kaum muslimin.



Pasukan Muslimin yang terdiri dari orang-orang Khazraj berhasil memukul mundur pasukan Harits sampai mereka masuk ke dalam benteng. Pasukan muslimin makin memperketat pengepungan atas beberapa benteng Khaibar. Pihak Yahudi bertahan mati-matian. Bagi mereka, jika kali ini kalah, berarti penumpasan terakhir Bani Israil di negeri Arab.



Pengepungan itu berlangsung selama beberapa hari. Untuk melancarkan serangan, Rasulullah SAW menyerahkan panji peperangan kepada Abu Bakar As Shiddiq RA Dengan tugas supaya menyerbu dan merebut benteng Na'im. Setelah terjadi pertempuran, Abu bakar RA kembali tanpa berhasil mendobrak benteng tersebut. Keesokan harinya, Rasulullah SAW menugaskan Umar Ibnul Khattab RA Iapun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq RA



Sekarang Imam Ali RA dipanggil oleh Rasulullah SAW seraya berkata: "Pegang panji ini dan bawa terus sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu!"



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Imam Ali RA berangkat membawa panji Rasulullah SAW Setibanya dekat benteng, penghuni benteng itu keluar serentak menghadapinya. Ketika itu juga terjadi pertempuran. Salah seorang Yahudi berhasil memukul Imam Ali RA sampai perisai yang ada di tangannya terpental.



Tetapi dengan gerakan kilat Imam Ali RA segera menjebol salah sebuah daun pintu yang ada di benteng dan dengan berperisaikan daun pintu itu terus menerjang dan menggempur. Akhirnya benteng itu dapat didobrak, dan daun pintu yang dipegangnya dijadikan jembatan. Dengan jembatan itu kaum muslimin menyeberang serentak dan menyerbu ke dalam benteng.



Kaum Yahudi bertahan mati-matian. Benteng Na'im itu baru jatuh sepenuhnya, setelah komandan pasukan Yahudi, Harits bin Abi Zainab mati terbunuh. Peristiwa pertempuran itu menunjukkan betapa uletnya kaum Yahudi bertahan, dan menunjukan pula tingginya semangat juang kaum muslimin dalam perang Khaibar. Dengan jatuhnva benteng Na'im, praktis tidak banyak lagi kesukaran bagi kaum muslimin untuk menjebol dan mengobrak-abrik benteng-benteng Khaibar lainnya yang masih tinggal, seperti benteng Qamus, benteng Sha'b dan lain-lain yang tidak seberapa kokoh.



Dengan jatuhnya semua benteng Yahudi di Khaibar, perasaan putus asa merayap di dalam hati mereka, kemudian mereka minta damai. Semua harta benda yang ada di dalam perbentengan diserahkan kepada Rasulullah SAW sebagai barang ghanimah, dengan syarat mereka diselamatkan. Rasulullah SAW menerima usul dan menyetujui permintaan mereka itu.



Mereka dibiarkan tetap tinggal di kampung-halaman mereka, mengerjakan tanah yang kini menjadi milik kaum muslimin. Sebagai imbalan mereka mendapat upah separuh dari hasil tanaman.





Jatuhnya Makkah



Belum sampai setahun Perjanjian Hudaibiyah berlaku, terjadi bentrokan senjata antara Bani Khuza'ah yang bersekutu dengan Rasulullah SAW dan Banu Bakr yang bersekutu dengan fihak Qureiys. Bentrokan itu terjadi akibat adanya seorang dari Banu Bakr yang mengejek-ejek Rasulullah SAW di depan seorang dari Banu Khuza'ah. Oleh orang dari Banu Khuza'ah, orang dari Banu Bakr itu dipukul. Gara-gara pemukulan itu, bergeraklah orang-orang Banu Bakr menyerang orang-orang Banu Khuza'ah. Permusuhan lama di antara dua qabilah itu memang sudah ada.



Dalam serangan itu, Banu Bakr dibantu langsung oleh musyrikin Qureiys, hingga jatuh korban tidak sedikit di kalangan Banu Khuza'ah. Untuk menanggulangi serangan Banu Bakr yang mendapat bantuan Qureiys, Banu Khuza'ah minta bantuan Rasulullah SAW Beliau menyatakan kesediaannya untuk membantu Banu Khuza'ah.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Mendengar ketegasan sikap Rasulullah SAW yang akan membantu Banu Khuza'ah, orang-orang Qureiys di Makkah cemas dan takut. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk menghadap Rasulullah SAW Tujuan Abu Sufyan ialah untuk memperbaiki keadaan dan mengokohkan perjanjian Hudaibiyah.



Waktu Abu Sufyan menyampaikan permintaan untuk memperkokoh dan memperpanjang waktu berlaku perjanjian, Rasulullah SAW menolak. Abu Sufyan belum putus harapan. Ia menemui Abu Bakar RA, kemudian Umar RA Dua-duanya juga menolak untuk membantu Abu Sufyan.



Abu Sufyan mencoba membujuk anak perempuannya sendiri, yang sudah menjadi isteri Nabi Muhammad SAW Baru saja Abu Sufyan masuk dan belum sempat duduk, tikar segera digulung oleh Ummu Habibah, sambil berkata: "Ini tikar kepunyaan Rasulullah. Ayah tidak boleh duduk di atasnya, sebab ayah orang musyrik dan kotor…"



Abu Sufyan belum putus asa. Dicobanya menemui Sitti Fatimah RA, isteri Imam Ali RA Sitti Fatimah RA juga menolak untuk membantu Abu Sufyan. Persoalan datangnya Abu Sufyan itu disampaikan Sitti Fatimah RA kepada suaminya. Waktu bertemu dengan Abu Sufyan, Imam Ali RA berkata: "Mengenai persoalan itu Rasulullah sudah mengambil pendirian tegas. Kami tidak dapat mengajaknya berbicara tentang itu..." Sekarang habislah harapan Abu Sufyan. Ia pulang ke Makkah dengan tangan kosong.



Di Madinah, Rasulullah SAW mempersiapkan kaum muslimin untuk siaga menghadapi peperangan. Setelah semua persiapan selesai, beliau berangkat memimpin pasukan muslimin berkekuatan 10.000 orang. Setibanya dekat Makkah kaum muslimin diperintahkan supaya setiap orang menyalakan obor, sehingga waktu malam di tengah gurun pasir terang benderang seperti siang.



Pada malam itu juga Abu Sufyan bersama sejumlah orang Qureiys berangkat ke luar kota Makkah untuk mencari informasi tentang keadaan kaum muslimin. Sejak beberapa waktu yang lalu ia tidak mendengarnya lagi, karena Rasulullah SAW dan para sahabatnya benar-benar merahasiakan rencana keberangkatan, agar jangan sampai diketahui oleh Qureiys sebelum tiba di Makkah.



Melihat ribuan obor menyala-nyala dari kejauhan, Abu Sufyan ketakutan. Ia berniat hendak kembali masuk kota sambil mempercakapkan ribuan obor dengan teman-temannya. Mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya.



Pada malam hari itu juga Abbas bin Abdul Mutthalib keluar dari pemusatan pasukan muslimin mencari orang-orang dari kaum musyrikin Qureiys, untuk diberi tahu tentang kedatangan kaum muslimin dengan kekuatan yang besar. Dengan cara itu Abbas bermaksud hendak menekan kaum musyrikin Qureiys supaya menyerah sebelum kaum muslimin masuk ke dalam kota Makkah.



Waktu itu dari kejauhan Abbas mendengar sayup-sayup suara Abu Sufyan sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya tentang obor yang ribuan jumlahnya. Ia mengenal baik suara Abu Sufyan. Dengan teriakan keras sekali Abbas memanggil-manggil: "Hai Abu Handhalah !"



Terdengar suara Abu Sufyan menyahut dengan teriakan bertanya: "Abu Fadhl…?"



"Ya," jawab Abbas.



"Demi ayah dan ibuku...., ada kabar apa? Tanya Abu Sufyan yang tampak agak terkejut

bercampur takut.



"Inilah Rasulullah datang membawa pasukan yang tak mungkin dapat kalian hadapi!" Jawab Abbas menakut-nakuti Abu Sufyan.



"Lantas apa yang kau perintahkan kepadaku ...?" Abu Sufyan bertanya untuk mencari tahu apa yang diinginkan kaum muslimin. "Ayolah turut naik untaku!" teriak Abbas menghimbau.



Terdorong oleh ketakutannya, tanpa banyak berfikir lagi Abu Sufyan segera mendekati Abbas, lalu naik ke atas unta, duduk di belakang Abbas. Setibanya di depan Rasulullah SAW, Abbas minta supaya beliau memberi jaminan keselamatan Abu Sufyan. Nabi Muhammad menjawab: "Pergilah. Dia kujamin keselamatannya sampai datang lagi besok pagi!"



Pagi-pagi Abbas datang rnembawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah. Kepada Abu Sufyan beliau bertanya setengah menegor dengan tandas: "Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apakah belum juga engkau mengerti bahwa tidak ada tuhan selain Allah!"



"Demi ayah-ibuku", jawab Abu Sufyan. " Itu samasekali tidak ada dalam fikiranku!"

Mendengar jawaban seperti itu Abbas membentak Abu Sufyan: "Celaka sekali engkau! Ucapkan syahadat sebelum lehermu dipenggal!"



Melihat sikap Abbas sekeras itu barulah Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat pada saat kaum musyrikin Qureiys tidak berdaya lagi melawan kaum muslimin. Ucapan yang keluar dari hati yang tidak tulus.



Meskipun begitu Rasulullah SAW tetap bijaksana. Beliau memerintahkan Abbas pergi

membawa Abu Sufyan, dan ditahan di sebuah lembah yang akan dilalui pasukan muslimin dalam gerakan memasuki kota Makkah.



Gelombang demi gelombang, kelompok demi kelompok pasukan muslimin bergerak masuk ke Makkah. Dengan suara gemuruh mereka mengumandangkan takbir, bertahlil dan bersyukur ke hadirat Allah Tabaraka wa Ta'ala. Waktu Abu Sufyan melihat pasukan yang langsung dipimpin Nabi Muhammad SAW lewat, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, ia bertanya kepada Abbas tentang kelompok itu. Abbas menjelaskan: "Itu kelompok pasukan Rasulullah..... Itulah beliau, Rasulullah s.a.w… dan itulah mereka kaum Muhajirin dan Anshar…!"



"Hai Abu Fadl", kata Abu Sufyan yang nampak kagum terhadap kelompok pasukan itu, "putera saudaramu sudah menjadi raja yang hebat sekali!"



"Itu kenabian ....bukan kerajaan!" bentak Abbas menjelaskan.



"Oh . . . ya", sahut Abu Sufyan.

Pada saat itu ada dua orang dari kaum musyrikin Qureiys, Hakim bin Hizam dan Badil bin Warqa, datang menjumpai Rasulullah SAW untuk menyatakan diri masuk Islam. Kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau.



Pada saat mulai masuk kota Makkah, Rasulullah SAW mengeluarkan pernyataan yang berisi jaminan keselamatan bagi kaum Qureiys. Antara lain dikatakan: "Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan (terletak di bagian atas kota Makkah), ia terjamin keselamatannya! Barang siapa masuk ke rumah Hakim bin Hizam (terletak di bagian bawah kota Makkah), ia terjamin keselamatannya. Barang siapa menutup pintu rumahnya dan tidak mengangkat senjata, ia terjamin keselamatannya…!"



Untuk menyebar-luaskan pernyataan itu kepada orang-orang Qureiys, Rasulullah mengutus Abu Sufyan dan Hakim.



Setelah itu Rasulullah SAW masuk ke dalam kota Makkah. Semua pasukan muslimin yang datang melalui berbagai jurusan dipusatkan dalam kota, guna menghindari terjadinya konflik senjata dengan kelompok-kelompok musyrikin. Rasulullah SAW bertekad keras untuk jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir. Oleh karena itu beliau cepat-cepat memberhentikan Sa'ad bin Ubadah dari jabatannya sebagai komandan pasukan karena diketahui Sa'ad telah mengeluarkan pernyataan hendak menumpas orang-orang Qureiys; "Hari ini hari pertarungan. Hari ini wanita-wanita Qureiys boleh dirampas dan diperbudak!"



Sebagai gantinya, Rasulullah SAW mengangkat Imam Ali RA menjadi komandan pasukan. Setibanya dekat Ka'bah Rasulullah SAW berdiri di depan pintu sambil berseru kepada orang orang Qureiys: "Tiada Tuhan selain Allah tanpa sekutu apa pun juga. Dia telah memenuhi janji-Nya. Dia telah memenangkan hamba-Nya, dan Dia sendirilah yang telah mengalahkan pasukan Ahzab.



Ketahuilah, bahwa kemuliaan keturunan dan kekayaan terletak di bawah telapak kakiku.

Demikian pula pengurusan Ka'bah dan penyediaan air untuk jema'ah haji!"



"Hai orang Qureiys", kata Nabi Muhammad SAW selanjutnya, "sesungguhnya Allah hendak menghapuskan adat jahiliyah dari kalian termasuk kebiasaan mengagung-agungkan nenek moyang.



Semua manusia berasal dari Adam dan Adam terbuat dari tanah."



"Hai manusia, Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, kemudian kalian Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling kenal-mengenal.



Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal…" (S. Alhujurat: 13).



Selesai mengucapkan ayat tersebut, Rasulullah SAW bertanya: "Hai orang-orang Qureiys, apakah yang hendak kalian katakan? Apa yang kalian duga akan kuperbuat?"

Mereka menjawab serentak: "Kami harap kebaikan akan diperbuat oleh saudara yang mulia, putera dari saudara yang mulia."



Menanggapi jawaban mereka, Rasulullah SAW berkata lagi: "Yang kukatakan sama seperti yang dikatakan oleh saudaraku, Yusuf a.s.: Tak ada marabahaya menimpa kalian. Semoga Allah megampuni kalian, karena Dia adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Pergilah, kalian semua bebas merdeka!"



Dengan kebijaksanaan seperti itu Rasulullah SAW mengetuk hati manusia untuk berbondongbondong memeluk agama Islam.



Kemudian Nabi Muhammad SAW menghancurkan berhala-berhala, dan menghapuskan dua buah gambar yang ada pada dinding Ka'bah dengan baju beliau sendiri. Kepada orang-orang Qureiys yang ada di sekitar tempat itu, beliau memerintahkan supaya menghancurkan berhala mereka masing-masing. Saat itu beliau mengucapkan sebuah ayat Al Qur'an, yang artinya: "Bilamana kebenaran telah tiba, musnahlah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti musnah." (S. Al Isra:81).



Dalam pekerjaan menghancurkan berhala-berhala itu, Imam Ali RA menyertai beliau. Ketika melihat sebuah berhala milik Banu Khuza'ah masih terletak di atas Ka'bah, Rasulullah SAW memerintahkan Imam Ali RA supaya menghancurkannya. Untuk dapat naik ke atas, Imam Ali RA beliau angkat. Kemudian berhala tersebut oleh Imam Ali RA dijebol dan dibanting ke tanah sampai hancur berkeping-keping.



Tengah hari berbondong-bondong kaum pria dan wanita Qureiys menghadap Rasulullah SAW untuk menyatakan diri memeluk Islam, dan berjanji akan taat dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya.



Dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan Rasulullah SAW, berarti hancurlah sudah benteng terkuat kaum musyrikin. Benteng yang paling keras dan paling gigih melancarkan seranganserangan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Dengan jatuhnya Makkah, kini kota itu telah masuk ke dalam pangkuan kaum muslimin.



Di Makkah, Rasul Ailah SAW tinggal selama 15 hari untuk mengatur urusan pemerintahan setempat. Beliau mengangkat Hubairah bin Asy Syibl sebagai kepala daerah Makkah. Sedangkan Mu'adz bin Jabal ditugaskan mengajarkan A1 Qur'an dan hukumhukum Islam. Setelah selesai semuanya, beliau bersama pasukan menuju ke Taif untuk menghabisi kantong terakhir pertahanan kaum Musyrikin.







Perang Hunain



Perang ini merupakan salah satu peperangan terbesar dan terpenting bagi kaum muslimin. Setelah berhasil menguasai kota Makkah, pasukan muslimin yang sekarang sudah menjadi sangat kuat, masih harus menyelesaikan tugas besar. Yaitu menghancurkan pasukan Malik bin Auf yang terdiri dari qabilah Hawazin dan Tsaqif.



Untuk menumpas perlawanan Malik dan kawan-kawannya, Rasulullah SAW memimpin pasukan terdiri dari 12.000 orang. 2000 diantaranya adalah orang-orang Qureiys yang baru masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah. Pasukan ini merupakan pasukan terbesar yang pernah dikerahkan oleh Rasulullah SAW ke medan perang. Di antara komandan-komandan pasukan banyak yang baru saja memeluk agama lslam, termasuk Khalid bin Al-Walid.



Untuk menghadapi serangan kaum muslimin, Malik bin Auf menempatkan pasukannya pada posisi yang sangat strategis, yaitu di lambung kiri dan kanan lembah Hunain yang merupakan jalur lalu lintas sempit. Pada waktu pasukan Muslimin lewat lembah tersebut pasukan Malik akan menghujani mereka dengan anak panah. Siasat itu nampak berhasil baik.



Baca Lanjutannya dengan klik tombol lihat dibawah



Di kala fajar mulai menyingsing, pasukan Islam yang berada di baris depan, di bawah komando Khalid bin Al-Walid, benar-benar masuk perangkap Malik bin Auf. Dengan gencar dan tak henti-hentinya pasukan Malik menghujani pasukan muslimin dengan anak panah dan tombak. Karena kalah posisi dan diserang secara mendadak dan besar-besaran, pasukan muslimin menjadi kacau balau. Mereka lari terbirit-birit dan mundur tanpa teratur.



Rasulullah SAW sendiri yang waktu itu masih berada di barisan belakang tidak dapat mencegah pasukan yang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Jerih payah Rasulullah SAW yang selama ini dicurahkan untuk membina pasukan muslimin, hampir saja hancur berantakan di lembah Hunain ini. Orang-orang munafik sejenis Abu Sufyan bin Harb, yang secara resmi sudaah memeluk Islam dan bergabung dalam pasukan Rasulullah SAW bersorak-sorai kegirangan menyaksikan pasukan muslimin kocar-kacir. Demikian juga Syaibah bin Utsman.



Pasukan Malik bergerak terus mengejar pasukan muslimin yang lari mundur dalam keadaan kacau dan berpencar-pencar. Keadaan menjadi gawat dan mengkhawatirkan. Rasulullah SAW merasa sukar sekali mengendalikan pasukan yang sudah kehilangan pamor sama sekali. Namun beliau tetap tenang dan tabah mengenderai kuda baghalnya yang berwarna putih. Orang-orang yang tetap mantap menyertai beliau antara lain terdapat Imam Ali RA, Abbas bin Abdul Mutthalib RA, Abu Bakar RA dan Umar RA



Berkat kegigihan dan ketangguhan para sahabat, berkat keberanian Imam Ali RA dan para sahabat lainnya dalam memukul tiap serangan yang ditujukan terhadap Rasulullah SAW, akhirnya kaum muslimin dapat dikendalikan dan diarahkan untuk melancarkan serangan balasan. Berangsur-angsur situasi berubah dan berbalik, sehingga kemenangan yang sangat mengesankan akhirnya dapat diraih oleh kaum muslimin.



Dari peristiwa-peristiwa di atas dapat dilihat dengan jelas peranan kepahlawanan Imam Ali RA Tiap keadaan gawat dan genting ia selalu berada di samping Rasulullah SAW







Artikel Sebelumnya Sejarah Imam Ali : BAB III - Rumah Tangga Serasi

Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar