27 Des 2010

Perkampungan Industri Kecil Penggilingan


Seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik, tingkat produktivitas dan perpasaran di kota Jakarta juga berkembang dengan baik. Sayangnya, selama ini keberadaan home industri yang juga berperan dalam hal ini justru terabaikan. Betapa tidak? Sejauh ini sebagian besar warga Jakarta belum tahu bahwa di DKI Jakarta terdapat pusat home industri di wilayah Jakarta Timur. Padahal, produk-produk hand made yang disajikan, kualitasnya juga tak kalah dengan barang-barang yang dipamerkan di pasar-pasar modern.


Sejak dibangun pada tahun 1983, kawasan home industri yang diberinama perkampungan industri kecil (PIK) ini terus berkembang dengan baik. Bahkan, saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998, mereka mampu bertahan. Saat ini, perkampungan industri yang berada di Jl PIK Kelurahan Penggilingan itu sudah menampung sekitar 500 usaha kecil. Padahal, pada tahun-tahun pertama sesudah dibangun, hanya ada sekitar 100 usaha kecil.


Kawasan yang akrab disebut PIK Pulogadung ini, awalnya merupakan tempat relokasi home industri yang berasal dari Kelurahan Palmerah dan home industri dari kawasan Pluit. Menurut Ujang, Kepala Produk Konveksi di Blok B, PIK dibangun atas kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semasa pemerintahan Gubernur Cokropranolo. Dengan adanya pemusatan lokasi home industri ini diharapkan tata ruang industri di DKI Jakarta dapat tertata dengan baik. Maksudnya, produk home industri tidak lagi diproduksi di tengah-tengah pemukiman.


Sayangnya, sambung Ujang, kini pengelompokan usaha di PIK sudah tidak lagi tertata dengan baik. Sebab, jumlah usaha kecil yang menempati PIK semakin banyak. "Saat dibangun pada tahun 1983, PIK Pulogadung belum banyak penghuninya. Hanya sekitar 100 orang yang terbagi dalam 7 blok. Saat itu setiap blok terdiri dari satu macam usaha saja, tapi kini satu blok terdiri dari bermacam-macam usaha. Sekarang penghuni sudah hampir mencapai 500 pengusaha di PIK yang berasal dari seluruh wilayah di Jakarta,".


Kendati demikian, sampai saat ini produk-produk home industri dari PIK masih dapat bersaing dengan produk-produk lain yang dijual di pasar modern. Sebab, harganya terbilang murah dan beragam jenisnya. Bahkan, boleh dikatakan segala produk (hand made) tersedia di kawasan PIK ini, mulai dari pakaian jadi, mebel, aksesoris, konveksi, sepatu, hingga produk yang terbuat dari logam. Karenanya, tak heran jika kawasan PIK di wilayah Penggilingan ini bisa disebut surga bagi para pelancong yang ingin mencari produk murah di DKI Jakarta.


Tapi patut diketahui, saat ini masyarakat yang hendak mencari barang harus benar-benar mau "berburu". Sebab, produk-produk home industri tersebut tersebar di berbagai blok. Misalnya di blok A, blok ini sejatinya diperuntukan bagi usaha jenis logam, kini di blok A juga terdapat penjual produk-produk konveksi dan usaha kulit.


Sementara bicara soal harga, tentu para pengunjung PIK tidak perlu khawatir. Sebab, harga produk lokal asli buatan warga Jakarta ini sangat bersaing. Seperti yang terlihat di Amigo Colection. Asmi, pemilik usaha, menuturkan, tempat usaha ini menyajikan berbagai jenis pakaian jadi seperti jaket, celana, kaos, dan kemeja. Untuk harga satu kemeja, di patok sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Begitu juga dengan harga kaos, hanya dipatok mulai Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. "Kalau jaket tergantung bahannya mas. Untuk parasut harganya berkisar Rp 50 ribu dan jaket bahan model jas berkisar Rp 100 ribu. Kalau di mal atau supermarket bisa Rp 75 ribu atau mungkin sampai Rp 200 ribuan," kata Asmi.


Meski dijual dengan harga murah, namun wanita yang sudah berusaha sejak tahun 1996 itu mengaku omzet penjualan per bulan mencapai 30 sampai 35 juta per bulan. Jumlah tersebut merupakan omzet yang lumayan besar bagi sebuah industri rumahan seperti Amigo Collection.


Sementara itu, Iqbal salah satu pengusaha baju muslim di blok B, mengaku, selain melayani eceran, ia juga melayani pembelian grosir. Produk-produk ini juga didistribusikan ke sejumlah pedagang di pasar tradisional di DKI Jakarta. Bahkan, ia juga mengaku memiliki pelanggan tetap dari berbagai daerah dari luar Jawa seperti Banjarmasin dan Banjarbaru. Karenanya, dalam satu bulan ia mengaku mampu memproduksi lebih dari 50 kodi.


Bagi para pengunjung yang berminat datang ke PIK di Jakarta Timur ini tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan barang yang diinginkanya. Sebab, tempat usaha di kawasan ini sebagian besar buka setiap hari tanpa mengenal hari libur. Kalau pun ada, kita bisa menemukan produk di tempat usaha lain di kawasan tersebut. Tak hanya itu, masyarakat yang ingin berkunjung ke PIK juga sangat mudah. Caranya, saat memasuki wilayah Kelurahan Penggilingan, kita tinggal bertanya saja di mana lokasi PIK, warga sekitar akan menunjukkan di mana letaknya.




Sumber :
http://timur.jakarta.go.id/pariwisata/?page=Obyek.Wisata&id=19



Ping your blog, website, or RSS feed for Free Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar