HATI-HATI 10 HAL PEMBATAL SYAHADAT

Allah telah mewajibkan bagi seluruh hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang darinya....

Mengenal dan Memahami Manusia dalam ISLAM

Inilah hal pertama yang harus kita pelajari dalam islam yaitu mengenal manusia, mengenal diri kita. Jika ada anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya,....

Trading Forex Modal Gratis 15$

Anda mudah dalam Membuka Account Live untuk transaksi real, tidak terbatas membuka akun demo sebagai sarana untuk menguji atau latian, berbagai jenis account forex...

Mengenal Al-Quran.

Al-Quran berasal dari kata : ?َ?? - ???? - ????? - ????? berarti bacaan. Al-Quran adalah Kalamullah yang mulia dan terpelihara

Mengenal Allah

Mengenal Allah SWT, adalah suatu bagian terpenting bagi seorang yang mendeklarasikan dirinya seorang Muslim. Manalah mungkin ia bisa mengatakan dengan lantang bahwa dirinya muslim, sementara ia tidak mengenal dan memahami Allah yang menjadi sembahannya.

Skenario Global Kehidupan Manusia

Kehidupan dibumi telah dilalui pada suatu masa yang penuh dengan kegelapan. Tidak ada toleransi dan persamaan hak diantara mereka. Pertumpahan darah dan permusuhan berlangsung sebagai suatu hal yang biasa.

Makna Dien-ul-Islam

Sesungghnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak.

4 Sep 2012

Antara Idealita dan Realita

Ide dalam bahasa Islam dapat diartikan dengan i'tiqad, sebuah kata yang merupakan pentashrifan dari kata 'aqdun yang bermakna ikatan. Tambahan huruf hamzah didepan 'ain (fa fi'l) dan huruf ta di tengah-tengah antara 'ain dan qaaf ('ain fi'l) merubah makna dasar 'aqada yang bermakna mengikat menjadi i'taqada yang bermakna upaya mengikat yang dilakukan dengan lebih sungguh-sungguh. Yang dimaksud dengan mengikat disini adalah mencetuskan sebuah gagasan tentang sesuatu hal yang kemudian berkomitmen kuat akan gagasan tersebut. pencetusan gagasan ini dilakukan dalam ranah perencanaan dan konsep, dan ketika gagasan ini telah diiqrarkan maka akan mengikat pencetusnya untuk menjadikannya sebagai bekal dalam sikap dan gerak laku perbuatannya. Dalam istilah lain, dapat pula disamakan dengan kata 'azam.

Idealita Islam.

Ide dasar dalam konsep Islam adalah sebuah gagasan sederhana namun teramat sakti, yaitu sebuah kalimat "LA ILAAHA ILLA ALLAH". Kalimat inilah yang menjadi ikatan manusia beriman yang telah berkomitmen kuat untuk menerapkannya dalam hidup. Karena kalimat ini harus dipahami dan dipelajari (fa'lam annahu), maka ide dasar ini dirumuskan menjadi sebuah ideo-logi yang lebih dikenal dengan istilah "Ideologi Tauhidullah" atau bahasa resminya yaitu 'Aqidah Tauhidullah. Ide dasar ini harus dinyatakan dengan lisan agar menjadi syahadah (kenyataan). Pernyataan ini tentu saja hanya mungkin dilakukan oleh manusia yang telah memahami dan menyadari betul akan makna yang terkandung didalamnya, dalam artian seluruh ilmu yang berkaitan dengan ide ini telah merasuki relung hatinya. Karena jika tidak memahaminya, maka bukan pernyataan namanya tapi hanya sebuah kicauan burung dipagi hari atau gonggongan anjing di malam hari.

Dalam perjalanannya pasca pernyataan ini, manusia haruslah terus mengencangkan ikatan tersebut. Caranya adalah dengan terus menerus berupaya membuat ide yang tertambat dalam dada itu agar keluar menjadi realitas dalam kesehariannya. Realisasi dari ide inilah yang dalam bahasa Islam dikenal dengan istilah "amal shalih" (perbuatan yang sesuai).

Jika sudah begitu, layaklah ia disebut sebagai "syuhada" (realisator ide). Inilah "Manusia Ideal", yaitu manusia yang realitas kesehariannya berkesuaian dengan idealitanya. Manusia seperti ini yang dalam istilah politik disebut "Kader Ideologis", atau dalam bahasa sejarah disebut "Ulu l 'Azmi".

Bagaimana dengan realitas kehidupan masyarakat manusia secara global hari ini, sudahkah berkesesuaian dengan idealita Islam? Atau dengan kata lain, sudahkah idealita-idealita Al Quran itu terkonversikan menjadi realitas (wujud)?

"Ketika kamu lihat realitas kehidupan manusia tidak berkesesuaian dengan idealita Al Quran (munkar), maka rubahlah realitas itu dengan tanganmu. Jika tak mampu, maka berupayalah agar mampu. Dan rubahlah dengan lisanmu, jika tak mampu maka berupayalah agar mampu. Dan rubahlah dengan hatimu (saja), jika kau puas dengan lemahnya imanmu. Diluar area itu, yang justru merubah idealita agar tak "ketinggalan zaman" maka dia berada diluar area mu'minun."

Karena lawan kata dari munkar adalah ma'ruf. Dan Ma'ruf adalah ketika realitas bertemu dan matching dengan idealita Al Quran. Namun, realitanya hari ini banyak orang mengatakan bahwa kemunkaran itu identik dengan perbuatan-perbuatan keji seperti berzina, berjudi, mabok, dan sebagainya. Padahal kalau dikaji, idealita tentang kemunkaran adalah sebuah keadaan dimana idealita-idealita Al Quran tidak diwujudkan dalam realitas kehidupan manusia, jadi bukan hanya berbicara perbuatan-perbuatan keji seperti diatas, tapi justru lebih luas dari itu.

Dalam konteks kehidupan kemasyarakatan dalam negara kita, bukan saja idealita-idealita Al Quran itu tidak diterapkan, tapi yang terjadi adalah lebih dari itu, idealita Al Quran itu bahkan sudah mulai dirubah-rubah mengikuti realita hidup. Maka tidak heran jika di negara kita, Islam hanya diartikan sebagai ritualisme pendulang pahala tiket ke surga.

Kondisi kehidupan seperti ini dimana idealita Al Quran (nur) tidak diterapkan dalam realitas kehidupan manusia disebut dengan "zhulumat" dan pelakunya disebut "zhalim". Ketika idealitas Al Quran tidak diterapkan, maka realitas kehidupan yang terbangun adalah realitas yang berdiri diatas idealitas-idealitas yang tidak jelas juntrungannya. Oleh karena ketidak jelasan itulah maka disebut munkar. Yang paling mungkin dikatakan sebagai sumber dari idealitas-idealitas itu adalah hawa (pola pikir) manusia. Seperti hari ini dimana setiap orang berpijak kepada idealitasnya masing-masing sehingga terciptalah kehidupan yang terpecah belah (tafarruq).

Diantara idealitas-idealitas itu adalah nasionalisme, komunisme, materialisme, liberalisme, kapitalisme, dan lain-lain.

Idealita Nasionalisme.

Nasionalisme merupakan gabungan dari dua kata, yaitu nasional dan isme. Kata nasional berasal dari kata natie/natal yang merupakan bahasa latin bermakna kelahiran. Ide dasar Nasionalisme adalah sebuah ide tentang hidup yang didasari oleh kelahiran, tempat lahir, waktu lahir, orang yang melahirkan, orang yang dilahirkan, garis kelahiran, dan lain-lain.

Dari ide dasar ini, lahirlah ide-ide turunan sebagai aplikasinya. Diantaranya:

- bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh waktu kelahirannya. Lantas dikaitkan dengan kondisi alam ketika manusia dilahirkan, maka lahirlah yang namanya zodiak, weton, shio, hari pasaran, dan lain-lain.

- ada lagi ide tentang tempat lahir. Bahwa karakter manusia itu ditentukan oleh karakter bumi dimana ia dilahirkan (tanah tumpah darah). Bahkan jauh dari pada itu, dikatakan bahwa manusia adalah anak dari tanah dan air tempat kelahiran (ibu pertiwi). Maka berdasarkan ide ini, manusia haruslah berbakti kepada bumi, mencintai dan menjaganya, memberikan persembahan untuknya, dan berbagai-bagai ritual untuk menghormati bumi. Lahirlah apa yang dinamakan bumiputera, pribumi, dan lain lain.

- ada lagi ide tentang persatuan. Bahwa untuk membina hidup bersama antar manusia, perlulah adanya upaya untuk mengikat manusia sehingga bisa bersatu untuk mencapai tujuan bersama. Ide dasar nasionalisme dalam hal ini melahirkan ide turunan bahwa ikatan persatuan itu haruslah didasari oleh garis kelahiran, maka lahirlah yang namanya suku. Adalagi yang didasari tempat kelahiran, maka lahirlah yang namanya bangsa.

Dari kata dasar natie, natal, kemudian muncullah kata nation yang diartikan bangsa. Bangsa sendiri dipahami sebagai suatu azas-akal yang terdiri dari dua hal:

(1) Rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu riwayat;

(2) Rakyat itu sekarang harus memiliki kemauan, keinginan hidup menjadi satu. Bukan jenis (ras), bukan bahasa, bukan agama, bukan persamaan butuh, bukan pula batas-batas negeri yang menjadikan bangsa itu (Ernest Renan). Dan, bangsa itu adalah suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal ihwal yang dijalani oleh rakyat itu ( Otto Bauer ).

Dalam pandangan Frederick Hertz, yang menjadi pokok dan fundamen dari nasionalisme itu adalah national consiousness atau kesadaran nasional. Karena itu dapat dikatakan, nasionalisme adalah formalisasi dari kesadaran nasional. Selanjutnya kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional.

Nasionalisme merupakan suatu gerakan sosial, suatu aliran natie yang membangkitkan masa kedalam keadaan sosial dan politik. Nasionalisme adalah suatu faham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Nasionalisme sebagai pencetusan kesadaran nasional mengandung cita-cita yang mendorong dan merangsang suatu bangsa. Aliran nasionalisme ini berkembang pula di Indonesia.

Ide dasar Nasionalisme melahirkan ide turunan dalam bidang ideologi/hukum. Dan aliran nasionalisme di Indonesia memiliki ideologi pancasila. Dalam sejarah kelahiran pancasila dapat secara singkat kita natijahkan bahwa pancasila digali dari nilai-nilai leluhur. Tidak banyak dijelaskan siapa leluhur yang dimaksud. Tetapi bila dilihat dari kaca mata sejarah Indonesia kuno, dahulu di tanah Indonesia ini berkembang secara massif suatu budaya yang dikenal dengan linggayoni.

Budaya linggayoni ini memiliki nilai-nilai yang dijadikan pandangan hidupnya berupa:

1. kepercayaan terhadap dewa-dewa yang memiliki struktur keyakinan dan penganutnya masing-masing;
2. nilai-nilai keadilan yang harus diterapkan oleh ma...syarakat demi ketinggian derajat;
3. saling menghormati antar individu demi terjaganya keselarasan yang menghasilkan persatuan masyarakat yang utuh;
4. menganut paham yang menjunjung kesepakatan bersama dalam memecahkan masalah; dan
5. dalam bidang ekonomi menganut sistem pemerataan bagi penduduknya.

Budaya linggayoni ini sebagaimana budaya-budaya lainnya memiliki simbol-simbol khusus untuk menggambarkan dasar world view (pandangan hidup) yang menjadi sumber inspirasi dan tujuan bagi segala sistem kehidupan. Simbol tersebut adalah berupa monumen yang dibuat dari batu dengan bentuk alat kelamin manusia baik laki-laki maupun wanita, sebagaimana namanya yaitu lingga dan yoni.

Uraian di atas akan mendapatkan korelasinya bila dihubungkan dengan aliran nasionalisme di Indonesia. Pancasila sebagai ideologi nasionalisme memiliki kesamaan nilai-nilai substansial dengan nilai-nilai yang dianut oleh budaya linggayoni. Bahkan bukan hanya menyerap dalam tataran konseptual, aliran nasionalisme ini pula menyerap simbol-simbol yang digunakan budaya linggayoni, sebagaimana terlihat pada tugu monumen nasional yang identik dengan bentuk alat kelamin laki-laki dan gedung MPR/DPR bentuknya menyerupai alat kelamin wanita.

Lingga adalah sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang umat Hindu. Kata lingga ini biasanya singkatan daripada Siwalingga dan merupakan sebuah objek tegak, tinggi yang melambangkan falus (penis) atau kemaluan Batara Siwa. Objek ini merupakan lambang kesuburan. Sedangkan yoni adalah kata yang mempunyai arti bagian/tempat (kandungan) untuk melahirkan. Kata ini mempunyai banyak arti, di antaranya adalah sumber, asal, sarang, rumah, tempat duduk, kandang, tempat istirahat, tempat penampungan air, dan lain-lain. Dalam buku Kama Sutra dan dalam kaitannya dengan batu candi, yoni berarti pasangan lingga yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Pasangan lingam-yoni dalam arti ini juga dikenal pada situs sejarah warisan dunia Mohenjo-daro di Pakistan. Di beberapa daerah di Indonesia yoni disebut juga lesung batu karena menyerupai sebuah lesung yang terbuat dari batu.

Idealita Komunisme.

Komunisme merupakan gabungan dua kata yaitu komun dan Isme. Komun berasal dari kata bahasa latin yaitu communal, communis, diserap ke bahasa inggris menjadi community yang artinya sama. Ide dasar komunisme adalah sebuah ide tentang hidup yang didasari oleh semangat persamaan dalam segala hal.

Komunisme sebagai sebuah ideologi berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.

Dari ide dasar ini melahirkan ide2 turunan, diantaranya dalam bidang politik yaitu bahwa manusia itu sama dalam kelas dan harkat serta martabat, oleh karenanya tidak boleh ada satu atau lebih pihak yang menguasai satu atau lebih pihak yang lainnya. dari pemahaman seperti ini lahirlah apa yang disebut "the ungovernment ideology", yaitu sebuah ide bahwa seharusnya manusia tidak perlu membentuk atau mendirikan sebuah badan pemerintahan dan kepemimpinan. inilah sebenarnya misi utama idealita ini, adapun ulah mereka mendirikan negara hanyalah sebagai alat untuk menyebarkan ideologinya, dan ketika semua manusia sudah tergerakkan oleh idealita mereka maka negara dan semua bentuk pemerintahan akan dihapuskannya.

Dalam bukunya yang berjudul "Dasar-Dasar Ilmu Politik", Miriam Budiarjo menulis bagaimana pandangan Karl Marx tentang apa yang disebut Negara.

"Marx memiliki pandangan negatif terhadap negara, karena dimana-mana dihadapkan dengan aparatur kenegaraan yang dianggap menghalangi cita-citanya. Negara dianggapnya sebagai suatu alat pemaksa yang akhirnya akan melenyap sendiri dengan munculnya masyarakat komunis. Karenanya, negara dimata Marx hanyalah mesin yang dipakai oleh satu kelas untuk menindas kelas lain. Negara hanya merupakan suatu lembaga transisi yang dipakai dalam perjuangan untuk menindas lawan-lawan dengan kekerasan, dalam hal ini kaum proletar akan menghancurkan kelompok borjuis. Dengan anggapan negara seperti di atas, maka semua alat kenegaraan seperti polisi, kejaksaan dipakai untuk diabdikan kepada tercapainya komunisme. Ini mengakibatkan suatu campur tangan negara yang sangat luas dan mendalam di bidang politik, sosial, dan budaya. Di bidang hukum hal ini berarti bahwa hukum tidak dipandang sebagai a good in itself tetapi dianggap sebagai alat revolusi untuk mencapai masyarakat komunis."

Lalu mengenai pandangan idealis komunisme ini (Marx) terhadap apa yang disebut agama, H.O.S. Tjokroaminoto dalam bukunya yang berjudul "Islam dan Sosialisme" menulis:

"Karl Marx menyatakan bahwa De Godsdienst is de opium des volks (agama merupakan candu bagi rakyat), bahkan Engels disamping mengutarakan hal yang sama dengan Marx bahwa religion is the opiate of the people (agama adalah candu bagi rakyat), juga Engels mengatakan bahwa every religious manifestation, every religious organization must be prohibited (setiap pernyataan agama dan setiap organisasi keagamaan harus dilarang). Sedangkan Marx dengan teori historisch materialismenya mengajarkan juga uit de stof, door de stof, tot de stof zijn alle dingen (segala sesuatu dari benda, oleh benda, dan kembali kepada benda). Sehingga dari teori dasarnya ini dapatlah dikatakan komunisme sebagai atheis (meniadakan Allah) dan tidak beragama. Dengan demikian kebenaran bagi komunisme bukanlah berasal dari agama, melainkan hasil dari berlakunya teori dialektika materialisme, yaitu terus bergulirnya pertentangan-pertentangan tesis-anti tesis-sintesa sehingga menjadi sebuah proses perubahan terus menerus yang hanya akan berakhir pada terciptanya sebuah masyarakat komunis ideal yang dengan sendirinya tidak memerlukan negara lagi. Postulat ini berpengaruh pada sistem politik komunisme yang menganut diktatur proletariat (organisasi pelopor dari orang-orang yang ditindas, sebagai kelas utama untuk menghancurkan kaum penindas). Sedangkan dalam sistem sosial hal itu terwujud dengan pertentangan kelas dari unsur masyarakat, antara borjuis (pemegang modal/orang kaya) dengan proletar (kaum buruh/orang miskin) sehingga berimbas pada sistem ekonomi yang menganut sistem kesamaan hak semua orang yang harus diatur terlebih dulu oleh negara, yang menurut rumusan Stalin harus berpegang pada prinsip ekonomi ‘distribusi menurut kebutuhan’, sistem ini pada gilirannya akan menghilangkan hak perseorangan. Dalam bidang hukum komunisme hanya menganggapnya sebagai alat revolusi untuk mencapai masyarakat komunis, hukum tidak dipandang sebagai a good in itself.

Penutup.

Semua kita adalah "Manusia Ideal", yaitu manusia yang dalam realitas kesehariannya sesuai dengan idealita-idealita yang diyakininya. Masalahnya adalah, idealita apakah yang kita yakini? lalu sudah sejauh manakah kita memahami idealita tersebut. Seseorang yang melakukan perzinahan sebenarnya ia sedang merealisasikan idealita yang tertambat dalam dadanya, begitu pula ketika seseorang mencuri, berdusta, membunuh, bergunjing, memamerkan 'aurat, berjudi, meminum minuman keras, korupsi, menipu, sebenarnya mereka adalah seorang yang sedang merealisasikan idealita yang dianutnya. Maka teramat aneh ketika mereka yang melakukan itu tetap menganggap dirinya sebagai ber'aqidah Islam, karena tak ada satupun idealita Al Quran yang mengajarkan hal-hal itu.


Sumber : Studi Komprehensif Islam
Lanjutkan Membaca ...

Koridor X Transjakarta Tambah 16 Bus Gandeng

Koridor X (sepuluh) jurusan Cililitan-Tanjung Priok yang di operasikan oleh Trans Mayapada (TMP), mulai bulan september ini menambah armada sebanyak 16 bus gandeng baru. Setiap bus gandeng ini akan mampu mengangkut maksimal 180 penumpang.

Pengadaan 16 Bus gandeng untuk koridor X tersebut sebenarnya telah di lakukan sejak 2011, tapi disimpan, sebagaimana di sampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono. Bus baru ini dioperasikan bulan ini (september 2012( karena proses administrasi yang panjang. Trans Mayapada meminta penyesuaian harga rupiah per kilometer, sehingga sempat terjadi pembicaraan alot.

Muhammad Akbar, Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta, menyebutkan, secara keseluruhan, tahun ini Transjakarta bakal memiliki 102 bus baru. BLU bertanggung jawab dalam pengadaan 66 bus. Sekarang, baru satu unit yang tersedia dari target 66. Sisanya, "Perkiraan kami, 22 bus bulan Oktober, 22 bus pada Novermber, dan 21 bus pada Desember." tahun ini Transjakarta bakal memiliki 102 bus baru. BLU bertanggung jawab dalam pengadaan 66 bus. Sekarang, baru satu unit yang tersedia dari target 66. Sisanya, "Perkiraan kami, 22 bus bulan Oktober, 22 bus pada Novermber, dan 21 bus pada Desember."

Sumber: Tempo
Lanjutkan Membaca ...

2 Sep 2012

Kisah Perjalanan Fuad - Fuk Meng - menjadi Muallaf

Nama Islamnya kini adalah Fuad Qawwam dan raihan gelar Lc pada belakang namanya, menunjukkan bahwa beliau kini adalah seorang sarjana agama Islam lulusan mesir. Fuad Qawwam bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga muslim, beliau adalah seorang keturunan china yang menganut konfuchu (kong hu cu), dan bernama asli Fuk Meng dan biasa dipanggil dengan sebutan AFU. Afu lahir di kecamatan Wajo, Makassar, anak ke lima dari 7 bersaudara dan anak laki-laki satu-satunya dari kelurga tersebut.

Awal afu mengenal Islam adalah saat ia mengenal seorang temannya yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan sebagaimana teman afu yang lain lakukan. Berikut ini adalah cerita lengkap kisah perjalanannya menjadi muallaf dan konsistensinya dalam mengimani Islam sebagaimana di sajikan dalam blog fuadbatam.blogspot.com.

Nama saya Fuk Meng dan nama panggilan Afu, lahir di Makassar tepatnya di jalan Buru kecamatan Wajo (kemudian selalu berpindah-pindah) pada tanggal 21 juli 1977 dari orang tua yang mengikuti aliran konfuchu. Kami 7 bersaudara dengan saya sebagai anak kelima dan anak tunggal laki-laki. Keadaan saya persis seperti yang beliau saw sabdakan “Setiap anak lahir diatas fitrahnya, tetapi dua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau nashrani atu majusi”. 
Hari-hari kecil hampir seharian terisi dengan kegiatan bermain di luar rumah disebabkan kesibukan bapak menjahit dan ibu jaga toko, mereka bukan dari keluarga yang memperhatikan dunia pendidikan, sedangkan teman-teman ada yang dari keluarga muslim dan mayoritas dari keluarga non muslim. 
Memasuki umur 6 tahun saya disekolahkan di SDN Irian, Makassar. Untuk pelajaran agama saya mengikuti ajaran agama budha sebagaimana orang-orang china lainnya, karena konfuchu tidak diakui di Indonesia sebagai agama dan karena keserupaan antara dua kepercayaan ini. 
Lalu saat kelas 5 SD kami pindah ke jalan Sibula Dalam kecamatan Bontoala di lingkungan yang mayoritas muslim namun masih perlu banyak perbaikan dalam amalan keislaman. 
Setelah tamat dari SD saya masuk ke SMP Hang Tuah bersama dengan pindahan lagi walau di jalan yang sama, lalu karena bidang studi agama yang tersedia di Hang Tuah hanya Islam dan nashrani maka saya mengikuti pelajaran agama nashrani supaya tetap mendapatkan nilai, juga karena tidak adanya pengingkaran berarti dari pendeta terhadap aliran orang tua saya. 
Selama tinggal di jalan Sibula Dalam saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak muslim, apalagi di usia SMP, namun mereka masih jauh dari nilai-nilai keislaman; jarang shalat, terbiasa berjudi, minum khamar, senang berkelahi,……. bahkan pernah mencuri ayam saya (teman mereka sendiri) lalu setelah itu mereka bayar. 

Awal Hidayah 

Di usia remaja ini pergaulan saya boleh dikatakan dengan anak-anak nakal, namun alhamdulillah saya dikenal mereka dengan seorang yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan yang mereka lakukan. 
Base champ kami di sebuah tempat pencucian mobil berjarak 5 rumah dari rumah saya. Tempat pencucian mobil ini sekaligus menjadi lahan mendapatkan kebutuhan ma’isyah teman-teman. Ia milik seorang bapak haji yang selalu shalat di awal waktu, lalu khusus ba’da zhuhur ia duduk mendengarkan siaran radio ceramah KH. Zainuddin MZ yang saat itu baru populer. 
Semuanya berjalan tanpa sengaja, keadaan ini memberikan bias pada jiwa saya.
Setelah bias cahaya itu semakin membesar saya pun sering mencari gelombang siaran dakwah lewat radio itu dan mendengarnya di rumah, bapak-ibu setengah heran dengan apa yang saya buat, tapi mereka tidak menanggapi dengan serius karena bagi mereka asalkan tidak masuk Islam saja. 

Tapi tidak lama waktu berlalu, secara diam-diam saya mempelajari Islam lewat buku dan saya sering memperhatikan Pesantren An Nahdlah yang tidak jauh dari tempat kami. 
Di kelas III SMP menjelang ebtanas Allah memudahkan lisanku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di kamar yang hanya Dia-lah menjadi saksinya. 
Kemudian untuk formalnya saya mendatangi rumah Pimpinan Pesantren itu (Drs. KH. Muh. Haritsah AS) menyatakan mau dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Kiyai takjub dengan usiaku saat itu yang baru 14 tahun lantas berani mengambil keputusan sendiri. Setelah menanyakan kepadaku beberapa hal, maka beliau pun menuntunku mengucapkan kalimat kunci keislaman lalu membuatkan surat pernyataan masuk Islam dengan saksi Bapak Abdul Majid Abdullah yang selain telah lama mengenaliku dengan nama Afu juga beliau salah seorang guru di pesantren tersebut. 

Mendengar beliau memanggilku Afu maka Pimpinan Pesantren memberikan nama Islamku: Fuad. Cukup dengan membalikkan nama yang sudah ada seiring telah berbalikku dari agama kafir kepada keimanan.

Kisahku Mengerjakan shalat 

Sebagaimana yang lalu saya ceritakan bahwa sebelum datang ke Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar saya telah mengucapkan dua kalimat syahadat sendiri dengan Allah Al Ahad (Yang Maha Esa) sebagai saksinya. Ini saya lakukan dengan membaca lafazh latin dari syahadatain dari buku tuntunan shalat. Buku itu saya sembunyikan di lemari diantara pakaian milikku. 
Saya pun senantiasa menelaah buku tersebut secara bersembunyi, sampai saya mengetahui bahwasanya hukum shalat lima waktu adalah wajib, berpahala bagi yang melakukannya dan berdosa / mengundang murka Allah bagi siapa yang meninggalkannya, shalat mempunyai syarat sah, rukun, wajib, dan sunnah. Saya pun mengetahui melalui melihat kebiasaan kaum muslimin dan melalui buku ini bahwa sebelum mengerjakan shalat kita diwajibkan berwudhu sebagai syarat sah shalat, demikian juga wajib sucinya pakaian dan tempat sebagai syarat sah shalat.
Waktu shalat tiba, saya berwudhu di rumah orang tua tanpa sepengetahuan mereka, saya sangat menjaga diri dari najis, khususnya bekas-bekas babi yang merupakan makanan istimewa orang tua yang tiada pekan tanpa makan babi. Setelah berwudhu saya masuk kamar kakak sebab saya sendiri tidak punya kamar khusus, menguncinya lalu mengerjakan shalat. Saya shalat sesekali dengan membaca tulisan latin dari bahasa arabnya, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, membaca terjemahan yang ada dibawah bacaan arabnya. 

Diganggu jin 

Hal yang baru pertama kali menjadi pengalaman hidupku, saat saya sedang shalat dalam kamar badan saya dibelokkan dari arah kiblat, itu di semua posisi shalat selain rukuk dan sujud. Saya ingin mengembalikan ke posisi yang benar tetapi tulang dalam tubuh terasa sakit, semakin saya berusaha untuk mengembalikan ke arah kiblat semakin sakit. Sedangkan saya mengetahui bahwa diantara syarat sah shalat harus menghadap kiblat. Mendapatkan keadaan begitu saya selalu mengulangi shalat karena anggapan shalat saya tidak sah sebab tidak menghadap kiblat, baik saat berdiri baca Al Fatihah (terjemahan), I’tidal, duduk diantara dua sujud, maupun tasyahhud. 
Terus saya ulangi, sampai saya berkeyakinan bahwasanya Allah Maha Pemurah tidak akan membebaniku lebih dari kemampuanku. Sejak saat itu jikalau dalam shalat terjadi hal yang sama, bahkan seringkali dalam posisi tasyahhud badan berputar 80 derajat, tapi saya tetap teruskan. 
Keadaanku ini saat itu tidak saya ceritakan kepada siapapun karena khawatir ketahuan masuk Islam. 
Beberapa hari kemudian, seringkali ketika sedang berkumpul dengan teman-teman tiba-tiba saya menjadi pincang dalam berjalan, terutama menjelang maghrib, lalu normal kembali. Kalau saya sampaikan kepada seseorang yang saya harapkan bisa mengobati, malah leher saya dipermainkan oleh jin. Keadaan ini saya alami dua pekan sampai akhirnya berlalu dengan seizin Allah. 

Awal terlihat sholat oleh manusia 

Teman-teman yang muslim mengetahui saya shalat berawal dari saya membaca dari buku yang sama hukum shalat jum’at yang fardhu ‘ain dan hukuman Allah mengunci hati siapa yang meninggalkannya. Ini berarti orang lain akan tahu kalau saya mengerjakan shalat. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa harus mengambil resiko dibandingkan celaka di kehidupan yang kekal nanti. Sebisa mungkin saya memilih teman yang nampak taat melakukan shalat jum’at dan sekiranya bisa menjaga rahasia ini. Namun sesuai taqdir Allah sangat mudah ketahuan, karena teman ini membawa sajadah membonceng saya dengan motornya. Akhirnya pembicaraan dari mulut ke mulut mulai beredar. 

Ketahuan Orang Tua 

Seiring perjalanan waktu sesuai dengan taqdir Allah tanpa saya sadari ternyata orang tua sudah mulai curiga, mengawasi, sehingga akhirnya menangkap basah saya yang sedang shalat di kamar dengan mereka manjat dan mengintip dari lobang angin kemudian meneriakiku. 
Saat itu masa-masa pertikaian antara saya dengan keluarga. Setelah sempat beberapa hari meninggalkan rumah orang tua menyuruh balik, namun keadaan sulit menghindari najis di rumah sangat berat maka saya memilih lebih banyak di masjid. 

Mendapatkan kawan di masjid 

Selama 1 tahun saya makan, minum, dan tidur tanpa menentu. Sesuai dengan rencana Allah saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik di masjid; Muhammad Nur Maulana (sekarang aktif di kajian subuh TransTV), Burhanuddin, dan Amir Arafah. Muhammad Nur sempat mengajariku Iqra kira-kira 3 hari, sedangkan bersama Amir dan Burhanuddin saya sering bermalam di masjid. 

Was-was Akibat Ketidak-fahaman 

Saya telah membaca di buku itu tentang pentingnya niat sebagai penentu shalat, niat bentuknya kalimat yang dilafazhkan dalam hati, serta niat adalah rukun shalat. Dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan di tengah jama’ah shalat di masjid seringkali saya mengulangi takbiratul ihram sampai dalam jumlah yang tidak terhitung lagi bahkan beberapa shalat saya melakukan takbiratul ihram dari awal waktu masuknya shalat sampai dengan masuk waktu shalat berikutnya masih saja saya ulang-ulangi. 
Sebabnya karena rasa takut yang begitu extreme akan kesalahan hati dalam melafazhkan niat menyebabkan was-was atau keraguan yang begitu besar dalam hatiku, saya selalu ragu apakah lafazhnya sudah sempurna atau belum, saya takut rukun niat ini tidak terpenuhi maka akibatnya shalat tidak sah dan akibatnya berbahaya di akherat. 
Was-was senantiasa berbisik kepadaku bahwa kebenaran niat meragukan, selanjutnya bisikan ragu apakah melanjutkan shalat atau mengulangi takbiratul ihram, selanjutnya keraguan ini digambarkan kepadaku sebagai keinginan untuk membatalkan shalat dengan mengulanginya, sedangkan telah diketahui bahwa niat membatalkan shalat termasuk pembatal shalat. 
Was-was ini telah membawaku kepada kebodohan yang sangat memalukan. Namun akhirnya Allah menyelamatkanku dari was-was ini, diantaranya dengan pengetahuan bahwasanya niat itu bukanlah berbentuk lafazh layaknya kalimat yang disebutkan oleh lisan. 

Perkembangan Keilmuan Islam-ku 

Sudah kusebutkan bahwa masuk Islamku menjelang ebtanas SMP. Di masa libur panjang itu saya belajar Iqra sekitar 1 minggu dengan dua guru (Muh. Nur Maulana dan Sangkala) setelah itu saya belajar sendiri sampai akhirnya bisa dan menghafal Al Qur’an yang saya hadapkan juz-juz awal kepada Ust. Yahya, Ust. Abdul Aziz, dan KH. Utsman Arif (semoga Allah merahmati mereka semua).
Pengalaman yang begitu indah ketika Allah memberi saya kesempatan menghafal juz I hanya dalam 3 hari dan juz II dalam 4 hari dengan hafalan yang matang, lalu semakin bertambah hafalan semakin membutuhkan waktu yang panjang demi memuraja'ah yang sudah terhafal agar tetap terjaga. 
Ketika tiba masa pendaftaran sekolah, Allah pun mentaqdirkan saya bertemu dengan bagian tata usaha Pesantren An Nahdlah (Ir. Kadir Kasse) sampai beliau menyuruhku mendaftar tanpa biaya pendaftaran maupun spp. 
Ringkasnya, saya masuk tingkat aliyah. Masa awal yang membuat saya setiap hari terliputi rasa malu, karena bahkan bacaan Al Qur’an saya masih terputus-putus sedangkan di pesantren sangat banyak pelajaran yang menggunakan bahasa Arab. 
Akhirnya semester I tiba dan hasil ujian semester keluar dengan saya mendapatkan rangking 2 dari belakang (23 dari 24 siswa). Namun alhamdulillah Allah senantiasa membimbingku, di semester II saya mendapatkan peringkat 18 dari 24 siswa. 
Di kelas 2 aliyah, sesuai taqdir Allah di jalan setapak masjid tempat kegiatan belajar mengajar Pesantren An Nahdlah saya bertemu dengan pimpinan pesantrennya, beliau menanyakan makan, minum, dan tidurku, setelah mengetahui keadaanku maka beliau menyuruhku tinggal di rumahnya. Saya pun tinggal di rumah beliau sekitar 4 tahun. Jasa sangat besar yang tidak sanggup saya balas dan hanya Allah yang kuasa membalasnya, semoga Allah membalasi kebajikan beliau dengan sempurna. 
Saya kembali, di kelas 2 aliyah, semester I saya di peringkat 12 dari 24 siswa, semester II di peringkat 8. Prestasi belajarku terus menanjak. Ada santri yang mengaku bahwa dirinya ditugaskan salah seorang guru untuk memantau saya dalam ujian apakah nyontek buku, tapi katanya ternyata tidak. Naik kelas 3 aliyah, semester I saya mendapatkan rangking 5, di semester terakhir mendapatkan rangking 2. 
Selesai dari pesantren dengan ijazah MAN itu tahun 1995 saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar atas saran KH. Muh. Haritsah yang sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Satu tahun kuliah di fakultas Tafsir-Hadits kemudian saya ikut tes untuk mendapatkan beasiswa Universitas Al Azhar Cairo tahun 1996. Untuk wilayah propinsi Sul-Sel tes diadakan di IAIN Alauddin Makassar dengan jumlah peserta 80 orang.
Ringkasnya, setelah berlalu beberapa lama saya mendapatkan info kalau pengumuman hasil tes sudah keluar, saya ke IAIN dengan Drs. Amirullah Amri. Masuk ke ruang Tata Usaha IAIN saya pun bertanya, “Hasil tes sudah keluar?” Katanya, “Siapa namamu?” Jawab saya, “Fuk Meng”, kata dia, “Yang benar! Kok tidak putih?!”…….. Sambil sedikit mencandai akhirnya dia pun memberitahukan kelulusanku dengan nilai rata-rata 9,5 untuk 5 materi tes, menduduki rangking 1 diantara 10 orang yang dinyatakan lulus. Berita ini jadi heboh sampai ke tingkat kanwil, karena untuk pertama kalinya ada nama ‘aneh’ yang lulus bahkan di urutan 1. 
Hatiku sangat senang Allah membukakan jalan thalabul ilmi, namun kemudian saya harus mendapatkan masalah besar karena status saya masih sebagai WNA (warga Negara asing) maka saya tidak diberikan pasport walau segala usaha yang kira-kira mampu saya lakukan telah saya tempuh. Saya sangat sedih, tapi tidak berputus asa. Saya urus kewarga-negaraan hingga akhirnya berhasil, tetapi telah terlambat 1 minggu dari tutupnya pendaftaran di Cairo. 
Atas kemudahan dari Allah dan bantuan yang sangat besar dari Prof. DR. Abdurrahman Basalamah (Ketua Yayasan UMI, semoga Allah merahmati dan mensucikan rohnya) di tahun 1997 saya diizinkan ikut rombongan mahasiswa utusan ke Cairo tanpa tes lagi. 

Aktifitas Menuntut ilmuku selama di Mesir 

Secara formal saya kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah, sedangkan thalabul ilmi non formal saya lakukan dengan menimba ilmu dari Syaikh Usamah Al Qushi, Majdi Arafah, dan para syaikh Ansharussunnah Mesir. Mereka murid-murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Bin Baz, Al Albani, maupun Muqbil, semoga Allah merahmati mereka semua. 
Kebiasaan saya setelah muqarrar (diktat) yang ditentukan dosen setiap materi telah keluar, saya membelinya, meringkas tidak lebih dari 10 halaman, kemudian lebih mengarahkan aktifitas kepada materi-materi lain di luar mata pelajaran kuliah. Sampai ujian tiba saya tidak tegang sebagaimana teman-teman, saya cukup menelaah kembali ringkasan yang dulu saya buat. 
Alhamdulillah, setiap tahun saya naik ke tingkat selanjutnya. Di tingkat terakhir saya mengalami tashfiyah, yaitu harus mengulangi 2 materi, disebabkan jawaban saya menyelisihi pendapat dosen. Tapi alhamdulillah ujian susulan bisa saya selesaikan dengan baik. Saya lulus dari S1 Al Azhar dengan nilai jayyid pada tahun 2002. 

Aktifitas setelah pulang ke Indonesia 

Disebabkan kondisi, awal pulang dari Mesir saya sempat mengajar di beberapa tempat di Makassar dalam waktu yang hanya sebentar. Kemudian saya ke kampung isteri (Magelang) lalu mengajar di pondok pesantren/ma’had Darul Atsar Kedu Temanggung selama 3 tahun (alhamdulillah angkatan mereka saat ini telah menjadi para pengajar baik di pondok Darul Atsar sendiri maupun lainnya). Sambil mengajar di ma'had dengan jadwal yang cukup padat alhamdulillah Allah memudahkanku menerjemahkan sekitar 30 judul kitab berbahasa Arab yang diterbitkan oleh beberapa penerbit Salafiyyah. 
Sekarang sudah lebih 4 tahun saya berada di Batam, selain aktifitas dakwah, berupa ceramah dan khutbah di masjid-masjid, saya membina yayasan Fursanul Haq yang memiliki kegiatan Home Schooling untuk setingkat TK, Tahfizhul Qur’an untuk remaja (insya Allah segera akan diasramakan diatas rumah saya), dan Pengkaderan Dai untuk dewasa. Semuanya ini saya dan keluarga tercinta jalankan di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami yang sederhana dengan ukuran hanya 102 m2.

Keluargaku

Isteri : Endang Widyastutik (STAN, Mengajar TK dan Tahfizh)
Anak-anak :
Aisyah (14 tahun, hafal 20 juz, ngajar ngaji dan TK)
Fatimah (11 tahun, hafal 10 juz, ngajar ngaji dan TK)
Ismail (8 tahun, hafal 3 ½ juz), Nafisah (5 tahun), dan Mulaikah (2 tahun). 

Penutup 

Alhamdulillah yang telah memberikan kita hidayah, tanpa hidayah-Nya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alhamdulillah yang semata dengan nikmat-Nya amal shaleh bisa sempurna. 
Saya berterima kasih kepada semua yang telah berjasa padaku, khususnya orang tua saya (Chan Kok Ang dan Tjie A Beng), Drs. KH. Muhammad Haritsah beserta keluarga, Prof. DR. Abd. Rahman Basalamah, dan para syaikh Ahlussunnah. Semoga Allah memberikan hidayah Islam untuk dua orang tuaku dan kaum kerabatku yang hampir semuanya masih mempersekutukan Allah dengan aliran konfuchunya. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan para guruku, mengumpulkan kami di surganya yang tertinggi bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Semoga Allah merahmati kaum muslimin seluruhnya dan mengangkat kembali kaum muslimin dari keterjatuhannya.
Lanjutkan Membaca ...

1 Sep 2012

Anthony Grant Vance - Marinir AS memeluk Islam di Iraq

Anthony Grant Vance adalah putra dari orang tua campuran amerika dan Panama, Lahir di Panama dan besar di Amerika dan dalam asuhan Katolik. Meski demikian, semenjak masa kanak-kanak di Kansas, ia telah mempelajari dengan serius tentang ajaran Islam, dan ia memiliki 2 orang teman keturunan afghan.
Sumber :  http://longislandwins.com

Anthony Grant Vance resmi menjadi seorang muslim sunni dan ber sahadat saat ia bertugas sebagai marinir di Iraq. Setelah ia menyatakan sahadat nya, ia pun berganti nama menjadi Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed. Dengan sahadat nya tersebut, maka ia termasuk bagian kecil tentara yang bertempur di Irak dan kembali dengan iman yang baru.

Kedua orang tua Ibrahim telah bercerai semenjak ia menginjak remaca dan ayahnya menjadi seorang kristen sekte Saksi Jehovah. Konversi ayahnya dari Katolik menjadi kristen Saksi Jehovah membawanya untuk pensiun dari 13 tahun karir militernya. Suatu waktu ayahnya mengatakan kepada Ibrahim bahwa ia memutuskan untuk menjadi "pengikut Tuhan", ""Anda tidak berjanji setia kepada negara, tetapi Anda berjanji setia kepada Tuhan."

Sumber :  http://longislandwins.com

Ibrahim Abdel-Wahed Mohamed pertama-kali melihat Islamic Center Long Island di Westbury yaitu pada saat ia bekerja pada pangkalan militer di Garden City. Ia selalu tertarik kepada masjid yang ada di Islamic Center tersebut. "Kami melalui masjid beberapa kali dan saya semakin tertarik untuk ingin tahu". Setelah beberapa tahun di Long Island, Ia kemudian di kirim bertugas di Iraq pada tahun 2008.

Dua tahun telah berlalu sejak Ibrahim memeluk Islam. Sekarang ia tinggal di Westbury, menghadiri Islamic Center Long Island dan sedang terus mempelajari dalam pendidikan di Post CW.
Sumber :  http://longislandwins.com

Lanjutkan Membaca ...

17 Agu 2012

Yuk Kenal Masjid Niujie di Beijing China

Masjid Niujie telah berumur ratusan tahun, dan menjadi perkembangan peradaban islam di Beijing. Tokoh asal Arab bernama Nasaruddin, mengawali pembangunan pada tahun 996 M dan direkonstruksi dan dibesarkan pada masa kaisar Dinasti Kangxi (r. 1661-1722). Masjid Niujie ini selain yang tertua juga menjadi masjid terbesar di Beijing.

Menurut detik.com, Masjid Niujie berada di kompleks seluas 10 ribu meter persegi. Di dalam kompleks terdapat aula atau ruang utama masjid, dua prasasti di kanan dan kiri, menara yang tingginya hanya 8 meter, tempat mengaji, ruangan dokumentasi, dan lain-lain.



Keindahan bangunan masjid ini menjadikannya juga sebagai tempat wisata selain selain fungsi pokoknya yaitu tempat beribadah. Interior dari bangunan ini sangat menarik, seperti umumnya tempat-tempat peribadatan Tionghoa, masjid ini dihiasi dengan ornamen-ornamen dan relief seperti relief naga, patung, dan lain sebagainya. Namun di bangunan masjid ini tidak ada ornamen hewan atau manusia yang menempel di dinding maupun atap dari masjid. Justru banyak kaligrafi tulisan arab yang menghiasi dinding masjid ini. Kaligrafi tersebut ditulis dengan gaya khas Tiongkok, dengan model dan warna yang unik. Warnanya bervariasi, namun mayoritas adalah kuning cerah.

Pada pintu masuk masjid ini dihiasi dengan dinding yang beralaskan marmer putih yang mengkilap. Lantai pada masjid ini juga terbuat dari marmer putih, yang memiliki luas 1600 meter persegi. Di dalam areal masjid juga terdapat sebuah menara setinggi 33 meter, yang beralaskan marmer, dan atapnya dari emas. Menara ini digunakan untuk mengamati posisi bulan, yang dinamakan Menara Pengamat Bulan. Tak hanya itu, menara ini juga digunakan sebagai alat penyeru ketika azan dikumandangkan. Di dalam masjid ini, terdapat sebuah mimbar yang berwarna kuning, dengan gaya arsitektur Arab-Cina. Kapasitas untuk masjid ini 1000 orang jamaah. Ruangan tempat shalat juga memiliki keunikan, shafnya ditata dengan kain putih yang menghadap Ka’bah.

Masjid ini selain menawarkan keunikan gaya arsitektur Tiongkok, juga dapat menambah wawasan kita tentang islam. Tak ada salahnya jika anda berkunjung ke Beijing dan mampir ke Masjid Niujie ini. Anda dapat beribadah di sini dengan mengamati keunikan bangunan dan interiornya jika anda seorang muslim. Atau bagi anda yang non muslim, anda juga dapat menikmati keindahan bangunan masjid ini, namun disarankan agar saat masuk ke dalam masjid menggunakan pakaian yang sopan. Masjid ini dibuka untuk wisata mulai pukul 8 pagi hingga 4 sore waktu setempat. Harga tiket masuk untuk masjid ini 10 Yuan.



Cara menuju lokasi : naik subway jalur 2 turun di Stasiun Changchun, keluar dari pintu C1, kemudian berjalan kaki sekitar 1,5 km ke arah selatan, lalu naik bus 10 dan berhenti di depan masjid.


Menara masjid Niujie yang digunakan untuk mengamati posisi bulan


Sumber: http://cina.panduanwisata.com , detik.com
Lanjutkan Membaca ...

16 Agu 2012

MENGENAL MAKNA - TUGAS RASUL DAN TUJANNYA DIUTUS

Tugas para Rasulullah adalah Iqomatud-Dien (42:13) sampai terealisir (idzhar / 61:9) dan Dien itu hanya untuk Allah saja (8:39). Tentu saja dengan diawali permakluman kepada Masyarakat bahwa dirinya adalah Rasulullah yang diutus kepada manusia agar men-Tauhid-kan-Nya, karena Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilaah selain Dia dan Dia-lah pembuat kehidupan (7:158)

Bi Ismi Allah, al-Rahman al-Rahiim.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan atas Muslimin Muslimat.

MUQADDIMAH

QS : 42:13-15,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ وَمَا تَفَرَّقُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِيشَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

"Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, Karena kedengkian di antara mereka. kalau tidaklah Karena sesuatu ketetapan yang Telah ada dari Rabb-mu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, Pastilah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu."

MAKNA RASUL

a. Rasul dari akar kata Rosala – Yarsulu – Rosalan.

Artinya: melepaskan, penggunaan kata ini terdapat dalam Al Quran surat 12:63, 12:66 dan 7:105.

12:63,

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Maka tatkala mereka Telah kembali kepada ayah mereka (Ya'qub) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu lepaskanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan Sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".

12:66,

قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

"Ya'qub berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya'qub berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)".

7:105,

حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

"Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang Haq. Sesungguhnya Aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku".

b. Dari akar kata Arsala – Yursilu – Irsaalan.

Artinya : mengutus atau mengirim pesuruh, penggunaan kata ini terdapat dalam Al Quran surat 35:9, 27:35, 35:1, 61:9.

35:9,

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ

"Dan Allah, dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, Maka kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu."
27:35,

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

"Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu".

35:1,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

61:9,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Diin yang Haq agar dia memenangkannya di atas segala diin-diin yang lain meskipun orang musyrik membenci."

Kata tentang Rasul pada ayat-ayat diatas adalah setiap pihak yang diutus membawa sesuatu (amanah) yang sangat penting, dari manusia atau dari Allah swt. Adapun sesuatu itu bia berupa angin yang dikirim untuk menggerakkan awan (27:35), bisa juga seorang kurir yang mengirim surat atau hadiah (27:35), bisa juga malaikat yang menurunkan wahyu (35:1), atau bisa juga seorang Rasulullah (utusan Allah) yang bertugas menyampaikan risalah da’wah (61:9).

Bila dua arti kata (a dan b) diatas kita padukan, maka dapat diambil pengertian Rasul yang kita maksud (dalam pembahasan ini) adalah “seorang (laki-laki) pilihan Allah (22:75) dengan membawa misi risalah untuk membebaskan manusia dari perbudakan antar sesama manusia dan agar manusia hanya meng-abdi kepada Allah saja.

ASAL STRATA SOSIAL PARA RASULULLAH

Rasul yang diutus berasal dari berbagai strata (tingkatan/lapisan masyarakat) sosial. Mulai dari masyarakat yang ummi (tidak mengenal Kitab) ada pula dari golongan masyarakat biasa dan ada pula yang dari keturunan raja.

Allah mengajarkan kepada kita agar tidak bersifat diskriminatif. Bukan garis keturunan, suku atau status sosial lainnya, akan tetapi taqwa-lah yang membuat seseorang menjadi mulia (49:13). Sedangkan masyarakat membuat kelas-kelas untuk mereka jadikan pemimpin untuk mereka dengar dan taati, seperti diterangkan dalam ayat berikut :

17:94-95,
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولا 94 . قُلْ لَوْ كَانَ فِي الأرْضِ مَلائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولا

"Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi Rasul"

a. Rasul yang Ummi

Artinya : Tidak mengenal kitab-kitab Allah.

7:157.
"(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung."

b. Rasul sebagai manusia biasa

Artinya : hidupnya sebagaimana layaknya kebanyakan manusia lainnya.

34:34-36.

"Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: "Sesungguhnya Robb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".

c. Rasul dari keturunan raja

Artinya : yang mewarisi kerajaan, seperti Nabi Sulaiman yang mewarisi kerajaan Nabi Daud.

27:16,
"Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".

KONDISI MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA RASUL

a. Masyarakat yang menyimpang dan Masyarakat yang Ummi (buta dari wahyu)

Kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) telah menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah dalam al-Kitab (Taurat dan Injil) dan merubahnya. Disamping itu, sebagian besar masyarakat ada yang sama sekali tidak mengenal wahyu.

2:75-79,

"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:" kamipun Telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang Telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Robb-mu; Tidakkah kamu mengerti?". Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan diantara mereka ada yang ummi (buta dari wahyu), tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan."

b. Para penguasa dan rakyatnya senantiasa berbuat kedzaliman

4:75,
"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".
21:11,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah kami binasakan, dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya)."
Ingat, bagaimana kedzaliman Firaun yang membunuh setiap bayi laki-laki, juga kedzaliman Mekkah yang membunuh setiap bayi perempuan. Hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil atau yang dianggap sebagai lawannya, rakyat kecil tak ubahnya seperti sapi perah.

c. Masyarakat yang sesat (dhollal)

3:164,
"Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
6:74,
"Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai ilaah-ilaah? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

Masyarakat yang sesat adalah masyarakat yang tak berpetunjuk (huda), termasuk mengenal Allah pun tanpa peunjuk. Adanya Allah mereka percaya, namun yang di abdi malah berhala. Ketika ditanya, “mengapa kamu mengabdi kepada berhala?” mereka menjawab, “berhala itu hanya sebagai perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.” Begitu nyata kedustaan dan keingkaran yang mereka lakukan.

39:2-3
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah diin yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak mengabdi mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar."

TUJUAN DIUTUSNYA RASUL-RASUL ALLAH

Allah Rabb-ul-‘Alamin mengutus kemuka bumi seorang rasul untuk tugas yang sangat mulia dan besar, yaitu menyampaikan jalan hidup yang benar kepada seluruh manusia tanpa kecuali, juga termasuk untuk memakmurkan bumi, untuk kesejahteraan ummat manusia.

21:107,
"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Untuk mewujudkan tujuan agar menjadi Rahmatan lil ‘Alamin dibutuhkan tahapan-tahapan kerja serta solusi-solusi dalam mengatasi kendala-kendala di lapangan. Secara global seperti yang diterangkan dalam Al Quran surat 9:20,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."
Tanpa tegaknya seluruh perintah Allah, dalam seluruh tatanan masyarakat, serta sirnanya seluruh penghalang, tujuan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam tak akan tercapai. Jadi, tak boleh dibatasi oleh batas negara dan suku bangsa.

TUGAS RASUL-RASUL ALLAH

39:32-33,
"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa."

a. Meng-idzhar-kan atau Iqomatud-Diinullah diatas diin yang lain

9:33,
"Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang haq untuk dimenangkanNya atas segala diin yang lain, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."
42:13,
"Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad-Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada Ad-Diin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (diin)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

b. Menyelenggarakan khilafah dan mentegakkan keadilan

38:26,
"Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, Maka berilah Keputusan (hukum) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan."

FUNGSI DAN PERANAN RASUL-RASUL ALLAH

33:45-46,
"Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada diin Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi."

a. Mengoperasionalkan Wahyu

59:7,
"Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."
3:31-32,
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

b. Sebagai Ulil Amri

4:83,
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)."
Para Rasul juga berperan sebagai Ulil Amri, hal ini dibuktikan dalam prakteknya dengan memimpin ummat, sebagai hakim yang memutuskan perkara hukum, menetapkan perang dan damai sekaligus sebagai panglima perangnya, serta sebagai da’i pendidik ummat.

b1. Pemimpin

2:124,
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

b2. Hakim

4:64-65,
"Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
3:23,
"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang Telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)."
42:15,
"Maka Karena itu Serulah (mereka kepada diin ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Robb kami dan Robb kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".

b3. Panglima Perang

8:65,
"Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti."

b4. Da’i, Syahidan, Mubasyiron dan Nadziron

Rasul berperan sebagai Da’i. Peran ini merupakan peran paling awal dan paling penting sebelum yang lainnya. Sebagai juru da’wah Rasul menjadi saksi atas ke-taslim-an para shahabatnya. Para shahabat yang menerima da’wah dan istiqomah mendapat kabar gembira. Sedangkan mereka yang menolak da’wah dan tidak istiqomah mendapat peringatan akan api neraka.

42:15,
"Maka Karena itu Serulah (mereka kepada diin ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Robb kami dan Robb kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".
Da’wah dan penerangan haruslah menjadi proses yang berkesinambungan. Banyak hal yang harus diterangkan setelah da’wah diterima, dalam aspek aqidah, syariah dan akhlaq. Agar seorang muslim dapat istiqomah dan tidak berpijak kepada hawa nafsu sebagaimana ahli kitab yang berpaling dari kitab yang ada ditangannya.

3:23,
"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang Telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)."
Penerangan yang disampaikan untuk membangun sikap mental sehingga apa saja hukum yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya selalu dijawab “sami’na wa atho’na”

24:51,
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung."
Da’wah adalah amanah Allah pada setiap Rasul sampai mereka menerima dan mentegakkan Kitabullah. Demikian setiap Rasul dalam da’wahnya untuk menyalakan nur (cahaya penerangan) ditengah kegelapan. Penentang terdepan bagi da’wah para Rasul adalah para pembesar masyarakat (tokoh) dan penerima da’wah para Rasul adalah kelompok yang dipandang lemah.

7:73-79,
73. Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada ilaah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya Telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Robb-mu. unta betina Allah Ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih."
74. Dan ingatlah olehmu di waktu Robb menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.
75. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya Berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang Telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Robb-nya?". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya".
76. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu".
77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Robb. dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)".
78. Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.
79. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku Sesungguhnya Aku Telah menyampaikan kepadamu amanat Robb-ku, dan Aku Telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat".
Terhadap mereka yang menerima seruan da’wah, Rasul menjadi saksi atas ke-Islam-an para shahabatnya. Peran ini direalisasikan dengan cara bertanggung jawab terhadap ke-Islam-an para shahabat (ummat Islam), selanjutnya dibina, diarahkan, dilindungi dan diselamatka dari bahaya dien dan dunianya.

2:142,
"Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
4:41,
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)."
Mu’min yang istiqomah dalam mengikuti jejak Rasul berhaq mendapat kabar gembira. Karena Rasul sebagai pembawa kabar gembira (Mubasyiron). Kabar gembira berupa surga di akhirat dan kehidupan yang mulia di dunia. Bagi mereka yang beriman dan berjuang bersama Rasul, mereka yang mentauhidkan Allah dan menjadi Anshorullah, kabar gembira berupa Daarussalam.

9:112,
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu."

61:13,
"Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman."

Rasulpun juga bertindak sebagai pemberi peringatan (Nadziron). Memperingatkan agar tidak menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingkar dan menentang aturan / hukum Allah dan ingkar kepada perjuangan mentegakkan misi Rasul di muka bumi, akan dijebloskan ke dalam neraka, dan sepanjang hidupnya akan berada dalam kehinaan.

14:44-45,
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, Maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Robb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul". (kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu Telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? Dan kamu Telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan Telah nyata bagimu bagaimana kami Telah berbuat terhadap mereka dan Telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".

c. Sebagai Uswatun Hasanah

33:21,
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Rasul ummat ini yaitu Muhammad saw, Allah menetapkan beliau sebagai Uswatun Hasanah. Rasul dapat dijadikan suri tauladan dalam segala masalah, dari masalah rumah tangga sampai masalah negara. Karena Al Quran itu menjelaskan segala sesuatu dan contoh praktek yang paling ideal adalah Rasul dan para shahabatnya.

TEMAN SEJATI RASUL-RASUL ALLAH

9:16,
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

a. Mu’min Sejati (mu’min haq)

8:74-75,
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
b. Ribbiyun

3:146-147,
"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Ribbiyyun adalah orang yang memiliki mental yang prima, bebas dari penyakit al-wahn, tidak merasa lemas, terus aktif, tidak diam berpangku tangan, pantang menyerah.

c. Hizbullah

Hizbullah adalah anggota partainya Allah, setia dan loyal kepada Allah da Rasul-Nya.

58:22,
"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung."

MUSUH BESAR RASUL-RASUL ALLAH

Sebaik apapun Rasul Allah yang diutus, pasti ada yang memusuhi, mereka yang memusuhi adalah yang tidak suka jika aturan Allah itu tegak.

60:1,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Robb-mu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus."

a. Mujrimin (Penguasa Dzalim Penentang Al Haq)

25:31,
"Dan Demikianlah kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang Telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana dia menempatkan tugas kerasulan. orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya."

b. Mutrofin (Orang Kaya yang Dzolim Penentang Al Haq)

Mutrofin dalam istilah kini adalah konglomerat, bekerja sama dengan musuh Islam lainnya dalam mendanai segala gerakan anti Islam, termasuk mendanai segala pengawasan dan penangkapan aktivis da’i Islam. Contoh di masa Nabi Musa as adalah Qorun.

43:23-25,
"Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu diin dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun Aku membawa untukmu (diin) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari diin yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka kami binasakan mereka Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."

c. Musyrikin, Yahudi dan Nashrani.

Alasan orang musyrik mengapa mereka tetap menyembah berhala, “kami dapati bapak-bapak (nenek moyang) kami melakukan yang demikian itu” (cek, 2:170, 5:104), dengan datangnya Islam terjadi pro dan kontra di masyarakat, Islam dicap sebagai pengacau, memecah belah persatuan bangsa, maka Islam dimusuhi. Paham semacam ini dewasa ini telah berkembang menjadi paham nasionalisme.

5:82,
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri."
Karena mereka memusuhi Islam, maka perlakukanlah mereka sebagai musuh.

2:120,
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."

d. Munafiqin

4:61,
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu."
4:145,
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka."
Munafiq adalah orang yang menampakkan keimanan secara lahir namun hatinya kafir. Menentang ditegakkannya hukum Islam. Banyak kaum Muslimin yang tertipu dengan tutur katanya (62:1-3), yang sesungguhnya mereka berpihak kepada barisan musyrikin dan ahli kitab (2:14-15, 9:107). Jadilah mereka para infiltran yang menyusup di berbagai lapisan ummat Islam (4:81), inilah musuh yang sesungguhnya dan paling berbahaya (63:4).

e. Syaithan dari Golongan Jin dan Manusia (Hizbusyaiythan)

6:112,
"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan."
Syaithan dari golongan jin dan manusia bekerja sama untuk menyesatkan manusia. Sebagaimana yang terjadi dalam perang badar.

8:48,
"Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya Ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu Telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah". dan Allah sangat keras siksa-Nya."
58:19,
"Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi."

POLA PERJUANGAN RASUL-RASUL ALLAH

35:42-43,
"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan Karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang Telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu."

Ada beberapa pola perjuangan yang dilakukan oleh para Rasul, yaitu:

a. Berpola Hijrah

Rasulullah bersikap tegas terhadap ajakan kompromi dari pihak pendukung berhalaisme, terdapat garis yang jelas, untuk mengatasi ancaman pengusiran bagi beliau adalah hijrah.

17:73-77,
73. Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.
74. Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,
75. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia Ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.
76. Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.
77. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul kami yang kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan kami itu.
2:218,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
8:74,
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia."
9:20,
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."

b. Radikal

Radikal artinya membongkar kekafiran itu sampai ke akar-akarnya, serta bersikap keras (syidda’), pola ini lebih menitik beratkan kepada paham ideologinya.

74:5,
"Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,"
109:1-6,
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan mengabdi apa yang kamu abdi.
3. Dan kamu bukan pengabdi apa yang aku abdi.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi pengabdi apa yang kamu abdi,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi pengabdi apa yang Aku abdi.
6. Untukmu diin-mu, dan untukkulah, diin-ku."

c. Revolusioner

Sebuah perjuangan untuk membalik semua kemusyrikan (kekafiran) untuk dirubah total menjadi sistem Islam bukan tambal sulam. Dalam langkahnya dibutuhkan konsep gerakan atau operasional gerakannya.

9:33,
"Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan diin yang benar untuk dimenangkanNya atas segala diin, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."
Dalam da’wahnya, Islam sealu diperangi, sehingga Rasul harus bersikap tegas kepada penghalang misi risalah.

9:36,
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) diin yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

2:193,
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim."

KEWAJIBAN MANUSIA SAAT HADIRNYA KERASULAN DAN PASCA KERASULAN

7:158,
"Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilaah (yang berhak diibadahi) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".
60:4,
"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Robb kami Hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan Hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan Hanya kepada Engkaulah kami kembali."

a. Menyertai, Memuliakan, Menolong dan Mengikutinya

7:157,
"(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung."

b. Mentaatinya


4:64,
"Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

c. Menjadikannya Pemutus Perkara Hidup

4:65,
"Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

d. Mencontohnya

33:21,
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

e. Melanjutkan Risalahnya

3:144,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

PARA PEWARIS DAN PELANJUT MISI KERASULAN

a. Ulil Amri

Ulil Amri adalah istilah lain bagi lembaga kekhalifahan, sebuah lembaga kepemimpinan bagi ummat Islam.

4:59,
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
4:83,
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)."

b. Hamba Allah (Sabiqun bil Khayrat)

35:32,
"Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar."
c. Ibaadushalihin

7:128,
"Musa Berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

21:105,
"Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh."

Al-Hamdu li Allah, Robb al-'Alamin.

Sumber : SKI
Lanjutkan Membaca ...

15 Agu 2012

Mutiara Ramadhan - Bag 3 - Puasa - Pembebasan Menuju Kemenangan.

Mutiara Ramadhan - Bagian ke 3 - Puasa Pembebasan Menuju Kemenangan adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu artikel Ketika Ramadhan Tak Suci Lagi - Bagian 2 yang di post pada tanggal 03 Agustus 2012. Silahkan mengunjungi dan membaca artikel pada link tersebut untuk mendapatkan gambaran utuh dari tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tersambung kepada Rasulullah, kesejahteraan semoga terlimpah atas muslimin dan muslimat.

Tulisan ini adalah seri ketiga dari serial Kultum Ramadhan SKI. Pada seri pertama kita telah bersama membahas tentang apa sih yang harus dijadikan misi utama kita pada bulan ini?. Dan telah sama-sama kita temukan jawabannya dari Al Quran, yaitu "menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup". Cara untuk mencapainya adalah dengan berpuasa, yakni mensucikan jiwa kita dari kotoran-kotoran jiwa seperti syirk, nifaq dan ketergantungan kepada selain Allah, karena hanya jiwa yang suci sajalah yang akan bisa menyentuh ajaran Al Quran - laa yamassu-hu illa l muthahharuun. Pada seri kedua kita telah membahas keterkaitan antara Al Quran dan ketaqwaan, yang mana ketaqwaan adalah target dari puasa. Disamping itu juga kita telah ketahui bersama bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, baik fardiyah maupun jam'iyah, baik 'ain maupun kifayah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah, individual dan sosial.

Untuk lebih menguatkan pemahaman kita tentang hal ini, ada baiknya kita melirik kepada uswah kita yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana beliau menyelenggarakan Ramadhan bersama rakyatnya?

Perintah berpuasa pada bulan Ramadhan, yakni surat Al Baqarah ayat 183 diturunkan pada 10 Sya’ban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Yatsrib dan membangun Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekah.

QS. Al Baqarah (2): 144.
قَد نَرىٰ تَقَلُّبَ وَجهِكَ فِى السَّماءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبلَةً تَرضىٰها ۚ فَوَلِّ وَجهَكَ شَطرَ المَسجِدِ الحَرامِ ۚ وَحَيثُ ما كُنتُم فَوَلّوا وُجوهَكُم شَطرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ لَيَعلَمونَ أَنَّهُ الحَقُّ مِن رَبِّهِم ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا يَعمَلونَ ﴿١٤٤


Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah "wajahmu" ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah "wajahmu" ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

Pengalihan kiblat dari Darussalam (Palestina) ke Masjidi l Haram (Mekkah) oleh sebagian kalangan hanya dipahami sebagai pengalihan arah menghadap ketika shalat (ritual). Pemahaman ini benar, tapi belum cukup mewakili makna yang sebenarnya. Kiblat (serapan bahasa Indonesia dari bahasa Al Quran QIBLAT) adalah sebuah tempat dimana seluruh umat menghadapkan wajahnya kesana untuk mengadukan setiap persoalan. Dimana seluruh umat menjadikannya sebagai sentral kegiatan pelaksanaan ibadah, mereka thawaf (berjalan dalam ikatan orbit pemimpinnya), mereka wukuf (menerima arahan pemimpinnya), mereka i'tikaf (fokus melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai umat), dan lain-lain. Intinya, kiblat adalah sebuah tempat yang dijadikan pusat pemerintahan dalam sebuah komunitas kehidupan dari komunitas terkecil yaitu nafsi sampai komunitas terbesar seluruh bumi yaitu khilafah fil ardh. Kiblat bagi nafsi adalah qalbu, dimana disitu bersemayam ruh Allah. Kiblat bagi keluarga adalah rumah, dimana ke tempat itulah seluruh anggota keluarga pulang. Kiblat bagi sebuah desa adalah kantor kelurahan, kecamatan adalah kantor camat, negara adalah istana negara, dan seterusnya.

QS. Yunus (10): 87.
وَأَوحَينا إِلىٰ موسىٰ وَأَخيهِ أَن تَبَوَّءا لِقَومِكُما بِمِصرَ بُيوتًا وَاجعَلوا بُيوتَكُم قِبلَةً وَأَقيمُوا الصَّلوٰةَ ۗ وَبَشِّرِ المُؤمِنينَ 
Artinya: "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu kiblat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman."

Pasca tegaknya Madinah di tanah Yatsrib, Rasulullah amat dirisaukan dengan kenyataan bahwa tempat yang akan dijadikan pusat pemerintahan jika Madinah sudah berhasil mendirikan khilafah fil ardh (kepemimpinan Islam seluruh dunia) adalah Yerusalem. Rasulullah menginginkan jika nanti khilafah fil ardh itu ber-ibukota ke Masjidi l Haram yang merupakan warisan dari "the founding father" Islam, Nabi Ibrahim AS.

Disamping itu, naluri kaum musliminpun berbicara, yakni nostalgia - rindu kampung halaman, kampung halaman tempat mereka dilahirkan, tempat mereka dibesarkan. Dengan bumi ini, dengan tanahnya yang lapang, gunungnya, airnya, dengan semua itulah pertama kali mereka bicara, pertama kali mereka bersahabat. Diatas secercah tanah inilah mereka dipupuk tatkala mereka masih kecil dan di sana pula tempat-tinggal mereka sesudah mereka besar. Kesana hati orang dan perasaannya terikat, dan untuk itu pula dengan segala kekuatan dan hartanya ia pertahankan. Dikorbankannya semua tenaga dan hidupnya. Sesudah mati, di tempat itu harapannya akan dikuburkan. Ia mau kembali kedalam tanah tempat ia dijadikan itu.

Naluri inilah yang lebih keras mendorong hati kaum Muhajirin daripada motif-motif lain. Selalu terpikir oleh mereka bagaimana seharusnya sikap mereka itu menghadapi Quraisy. Tetapi yang sudah terang, sikap itu bukanlah sikap menyerah atau sikap menghambakan diri. Sudah cukup sabar mereka selama tiga belas tahun terus-menerus menanggung penderitaan. Islam tidak membenarkan adanya sikap lemah, putus asa atau menyerah bagi mereka yang sudah menanggung penderitaan dan sampai hijrah karenanya.

Apabila sikap permusuhan itu memang dibenci dan tidak dibenarkan, sebaliknya yang diperkuat dan dianjurkan adalah sikap persaudaraan, tapi di samping itu yang juga diharuskan ialah membela diri, membela kehormatan, membela kebebasan ber-dien dan membela tanah air. Untuk membela inilah Muhammad mengadakan Ikrar 'Aqaba yang kedua dengan penduduk Yathrib. Tetapi bagaimanakah kaum Muhajirin itu akan menunaikan kewajibannya kepada Allah, tanggung jawab kepada "Rumah Suci" warisan Ibrahim, kepada tanah air, Mekah yang mereka cintai itu? Kearah inilah politik Muhammad dan kaum Muslimin itu ditujukan, sampai selesai ia kelak menaklukkan Mekah, dan Dien Allah serta seruan kebenaranpun akan terjunjung tinggi.

Maka dengan turunnya ayat tentang pemindahan kiblat ke Masjidi l Haram menjadi jelaslah visi dan misi perjuangan Rasulullah ke depan, yaitu Pembebasan Mekkah dari kekuasaan Jahiliyyah suku Quraisy. Tidak mengherankan jika selanjutnya program-program yang dicanangkan dalam perjuangan Rasulullah adalah menuju kepada satu titik yaitu merebut kembali Masjidi l Haram dari orang-orang kafir Quraisy.

QS. Al Tawbah (9):17.
ما كانَ لِلمُشرِكينَ أَن يَعمُروا مَسٰجِدَ اللَّهِ شٰهِدينَ عَلىٰ أَنفُسِهِم بِالكُفرِ ۚ أُولٰئِكَ حَبِطَت أَعمٰلُهُم وَفِى النّارِ هُم خٰلِدونَ 
Artinya: "Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka."

Usaha untuk "mengusir" kafir Quraisy dari Masjidi l Haram inipun dimulai, yang pertama adalah upaya pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan. Peristiwa pencegatan inilah yang mengawali terjadinya perang badr.

Tapi, modal apa yang harus disiapkan untuk menghadapi negara kaya seperti Mekah, suku yang kuat seperti Quraisy? Sementara keadaan kaum muslimin di Yatsrib juga belumlah bisa dikatakan stabil. Umat Islam masih dijerat banyak persoalan, diantaranya persoalan ekonomi. Bagaimana bisa mengalahkan Mekah? Bagaimana caranya menandingi kekuatan ekonomi Mekah? Bagaimana pula caranya menandingi semangat juang tentara Mekah yang berjumlah ribuan orang. Belum lagi tantangan dari internal Madinah sendiri, tingkah polah Yahudi dan Munafiqin amat mengganggu stabilitas Madinah. Realitas-realitas inilah yang membuat seolah-olah cita-cita mengalahkan Mekah hanya akan menjadi tamanny (harapan kosong) belaka.

Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan yang meragukan itulah, maka turun perintah Allah kepada Umat Islam untuk berpuasa. Ya, puasa Ramadhan, sebuah Pembebasan Diri.

Bagaimana bisa membebaskan Mekah, kalau diri sendiri saja masih terpenjara oleh ketergantungan kepada selain Allah. Dengan puasa inilah mentalitas Umat Islam dipupuk, bahwa kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir itu haruslah diraih jika kita menghendaki sebuah kemenangan melawan musuh-musuh Islam. Bagaimana bisa menang dalam medan pertempuran kalau kemauannya untuk totalitas menyerahkan semua kepada Allah masih terbelenggu? Bagaimana bisa mengalahkan musuh-musuh yang kuat kalau pikirannya masih terkuras oleh persoalan-persoalan pribadi berkaitan tentang masalah ekonomi? Untuk bisa mengalahkan kekuatan yang besar, maka yang harus dilakukan adalah feel free, tanpa beban. Lepaskan semua jeratan-jeratan duniawi dalam pikiran kita, serahkan semua kepada Allah.

Lalu, apa hubungannya puasa dengan pembebasan kemauan dan pembebasan berpikir? Mari kita simak uraian berikut ini:

Kalau tujuan puasa itu supaya tubuh tidak terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma kita jangan terlalu menekan sifat kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah itu hanyut dalam berpuas-puas dalam kesenangan, berarti ia sudah mengalihkan tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam memuaskan diri itu sudah sangat merusak, apalagi kalau orang berpuasa, sepanjang hari ia menahan diri dari segala makanan, minuman dan segala kesenangan, dan bilamana sudah lewat waktunya ia lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang di waktu siang ia tak dapat menikmatinya!

Kalau begitu Allah jugalah yang menyaksikan, bahwa puasanya bukan untuk membersihkan diri, mempertinggi sifat kemanusiaannya, juga ia berpuasa bukan atas kehendak sendiri karena percaya bahwa puasa itu memberi faedah kedalam rohaninya, tapi ia puasa karena menunaikan suatu kewajiban, tidak disadari oleh pikirannya sendiri akan perlunya puasa itu. Ia melihatnya sebagai suatu kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia adalah suatu tanggapan yang salah samasekali, yang akhirnya akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya tempat lagi. Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang sebenarnya kepada Allah.

Seolah tampak aneh apa yang saya katakan itu, bahwa dengan puasa kita dapat memperoleh kembali kebebasan kemauan dan kebebasan berpikir. Ini memang tampak aneh, karena dalam bayangan kita bentuk kebebasan ini telah dirusak oleh pikiran modern, bilamana batas-batas rohani dan mental itu dihancurkan, kemudian batas-batas kebendaannya dipertahankan, yang oleh seorang prajurit dapat dilaksanakan dengan pedang undang-undang. Menurut pikiran modern, manusia tidak bebas dalam hal ia melanda harta atau pribadi orang lain. Akan tetapi ia bebas terhadap dirinya sendiri sekalipun hal ini sudah melampaui batas-batas segala yang dapat diterima akal atau dibenarkan oleh kaidah-kaidah moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukanlah demikian.

Kenyataannya, manusia adalah budak kebiasaannya. Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu sore. Kalau dikatakan kepadanya: "makan pagi dan sore sajalah", maka ini akan dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Orang yang sudah biasa merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya itu, lalu dikatakan kepadanya: "sehari ini kamu jangan merokok", maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya. Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu tertentu lalu dikatakan kepadanya: "gantilah waktu-waktu itu dengan waktu yang lain", maka pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan, merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya yang sesungguhnya.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh kesadaran bahwa perintah Allah tak mungkin bertentangan dengan cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap dirinya sendiri - dengan kehendak Allah - mengenai batas-batas rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat iman yang paling tinggi itu.

Maka hasil dari pelaksanaan puasa ini adalah Kemenangan. Kemenangan Diri karena telah berhasil membebaskannya dari segala bentuk lekatan-lekatan duniawi. Kemenangan diri adalah modal bagi Kemenangan Ekonomi, karena dengan puasa Umat Islam akhirnya memiliki pandangan berbeda tentang harta, bahwa harta bukanlah segala-galanya dan amat sangat tidak pantas untuk diagungkan dan dipikirkan terus menerus. Alirkan saja harta itu untuk membangun kekuatan Islam, kekuatan Madinah sebagai modal mengalahkan kekuatan musuh-musuh Allah, Mekah.

Dan puncak dari rentetan kemenangan ini adalah Kemenangan Islam. Siapa juga yang mampu mengalahkan orang yang sudah siap untuk meninggalkan raga ini? Siapa juga yang akan mampu membendung jiwa-jiwa yang suci yang sudah sangat merindukan bertemu dengan Sang Maha Suci? Siapa juga yang sanggup merobohkan benteng-benteng hati yang sudah membaca dengan pembakaran yang sempurna? Tak ada yang mampu mengalahkan mereka. Mereka yang sudah ikhlash tentang apapun yang akan terjadi, mereka sudah mengatakan TERSERAH ALLAH.

bersambung...

Al Hamdu li Allah, Rabb Al 'Alamin.
Lanjutkan Membaca ...