4 Feb 2011

Tiga Skenario Besar Di Mesir


Tiga Skenario Besar Di Mesir

Mesir, bagi jutaan orang Arab yang tengah menonton, berjalan sangat menarik. Tetapi di balik semua harapan untuk perubahan, ada juga bahaya besar. Ini adalah tiga skenario yang mungkin lahir dari peristiwa di Mesir. Inilah skenario pertama.

1. Cut and Run: Mubarak Turun

Rakyat Mesir tak sedikit pun mengurangi aktivitaas protes mereka di jalan-jalan kota-kota Mesir. Tuntutan mereka hanya satu, Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun, segera turun dari kursi kepresiden segera. Bahkan tuntutan yang paling jelas untuk Mubarak sebarnya adalah "irhal", yang berarti dalam bahasa Arab hanya "enyah."


Dalam pidatonya Jumat malam pekan lalu, Mubarak bernegosiasi, namun tidak memberikan indikasi bahwa dia memahami kemarahan rakyatnya. Bagi mereka, ia adalah masalah, bukan pemerintahannya atau fakta bahwa negara itu, sampai dia mengangkat Omar Suleiman, "kekurangan" wakil presiden. Suleiman, seorang pendukung Mubarak, juga dipertanyakan fungsinya: buat apa dalam kondisi seperti sekarang ini?

Dalam skenario ini, tentara akan menjadi institusi kunci yang akan memaksa sang presiden turun karena ia adalah penyebab utama ketidakstabilan negara. Hal ini kemudian akan memudahkan militer mengambil alih negara.

Tapi untuk beberapa orang Mesir, dan tentunya bagi pemerintah Barat dan Israel, menghilangnya Mubarak dengan tiba-tiba merupakan bencana. Ketakutan yang beredar adalah bahwa kekosongan kekuasaan akan menghasilkan jenis kekacauan di mana kelompok-kelompok Islam bersenjata mungkin tumbuh.

Sejauh ini, Mubarak telah memberikan indikasi bahwa ia menolak untuk mundur.

2. Stick To His Gun: Militer Dan Polisi Habisi Para Demonstran

Meskipun tentara dan polisi telah berada di jalan-jalan dalam jumlah besar, dan banyak orang tewas dalam bentrokan, negara belum sepenuhnya melepaskan pasukan keamanan kepada demonstran.

Normalnya, polisi anti huru-haralah yang bertanggung jawab menangani protes dan mereka biasanya sangat efisien dalam penangkapan massal. Mereka biasanya sangat brutal dalam menangani massa dalam kondisi seperti ini. Polisi mungkin bisa jadi telah kewalahan dengan jumlah, tekad dan keberanian para pengunjuk rasa.

Mubarak bisa saja mengeluarkan perintah untuk menghancurkan demonstrasi. Untuk itu, ia membutuhkan tentara.

Tingkat kekerasan yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang banyak dari jalan-jalan hampir pasti akan menyebabkan banyak orang mati.

Washington, sekutu utama Mubarak dari Barat, telah secara eksplisit menyerukan agar Mubarak menahan diri dan mengakhiri kekerasan terhadap demonstran.

Juga tidak jelas apakan tentara akan mengikuti perintah untuk menembak rakyat yang tak bersenjata. Sebuah pernyataan tentara pada hari Senin kemarin menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan terhadap demonstran.

Pihak militer melihat dirinya sebagai non-politik dan penyelamat bangsa. Untuk menyelaraskan dirinya dengan presiden dan bertentangan dengan kehendak rakyat maka hanya akan membuat mereka kehilangan legitimasi dan posisi istimewa dalam masyarakat Mesir.

Keroposnya keamanan juga akan merusak perekonomian Mesir; lupakan wisatawan dan ]pabrik-pabrik pun akan ditutup dalam untuk waktu yang lama. Harga minyak meroket tajam karena Terusan Suez yang terganggu.

Transisi: Berkuasanya Kelompok Oposisi

Dalam skenario ini, kekacauan dan kekerasan harus dihindari, dan Mubarak mundur secara bertahap. Dia akan membuat janji untuk mundur setelah pemilihan presiden bulan September tahun ini.

Opsi ketiga ini akan memungkinkan sistem pemerintahan bertahan hidup, tetapi bukan presiden dan rekan-rekan terdekatnya. Ini yang diinginkan oleh Washington dengan istilah "transisi damai."

Dalam skenario ini, Mohamed ElBaradei bisa muncul sebagai seorang tokoh dalam mengawal proses transisi dan menetapkan aturan baru untuk pemilu, untuk presiden dan parlemen.

Dalam pemilihan yang bebas dan adil, Ikhwan tak diragukan akan memenangkan sebagian besar suara. Ikhwan, walau gaungnya tidak terdengar dan cenderung dibesar-besarkan Barat dan Mubarak sendiri, tak diragukan lagi didukung dan dihormati oleh rakyat Mesir, sebagian besar karena pekerjaan amalnya. Tapi Ikhwan belum teruji dalam pemerintahan dan kurang dipahami, terutama di Barat.

Ikhwan bukan Taliban, tetapi mereka cukup dekat, katakanlah, Partai AKP di Turki. AKP adalah kelompok Islam moderat, dan mempunyau hubungan yang baik dengan Barat. (sa/bbc)

sumber : eramuslim.com
Lihat dalam tampilan PDF

0 comments:

Poskan Komentar